Disclaimer : GS/GSD punya siapa? Siapa aja boleeeh :b

Catatan : Italic untuk flashback dan gumaman/apa yang sedang dipikirkan/monolog/penekanan kata


Malam itu malam bulan baru, langit gelap gulita tanpa bintang. Malam itu adalah malam saat pertama kali kak Kira mengajariku berburu. Kami baru saja selesai minum ketika kakak menyadari sesosok misterius sedang mengawasi kami dari atap bangunan beberapa puluh meter dari tempat kami berada. Kak Kira memperingatkanku.

"Cagalli!"

Aku tahu dari raut wajahnya. Ayah dan ibu sudah berkali-kali memberi tahu tentang mereka. Hunter. Melihat semburat rasa panik pada wajah kak Kira membuat seluruh tubuhku gemetaran.

"Kak, aku takut…"

Kak Kira mencoba menenangkanku, tapi aku tahu pasti bahwa ia sendiri merasa was-was. Aku tahu kak Kira belum pernah menghadapi hunter sebelumnya. "Tak apa. Kita berpencar, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Jangan bersuara, lari secepat mungkin dan sembunyi di tempat aman. Sekarang!"

Lalu kami berpisah, kak Kira segera melompat keatap rumah terdekat dan aku terus berlari, berlari secepat mungkin. Aku dapat mendengar suara-suara teriakan sebelum akhirnya suara-suara itu semakin menjauh dan hilang karena aku terus berlari. Berlari sejauh mungkin. Namun tiba-tiba aku berhenti. Mereka mengejar kak Kira. Suara-suara teriakan tadi bisa saja berasal dari kak Kira.

Aku mulai menangis, ngeri membayangkan hal-hal buruk yang dapat terjadi pada kak Kira. Aku bisa mendengarkan degup jantungku yang 'mati' serta napasku yang tersengal-sengal.

Ini salahku…

Kalau saja aku tidak merengek pada kak Kira untuk diajari berburu… Kalau saja aku tetap tinggal di rumah dan minum dari kantung darah di kulkas. Kalau saja…

Ini semua gara-gara aku.

"Khh..Gotcha! Kawanmu tak cukup pandai dengan menyuruhmu lari sendiri. Harusnya kalian lari sama-sama sehingga kami nggak perlu susah payah membunuh kalian satu-satu."

Jantungku mencelos… Hunter itu! Dia berhasil mengikutiku! Kak Kira…Bagaimana dengannya?

Aku berlari mati-matian, berharap dapat kabur dari hunter itu. Aku dapat mendengarnya berteriak di kejauhan,"larilah! Kau nggak akan bisa kabur dariku, monster!"

Aku melihat gang kecil di seberang jalan dan tanpa pikir panjang lari ke situ. Kakiku tiba-tiba lemas mendapati bahwa gang itu buntu. Aku terjebak. Jalan ini buntu, aku tak bisa kemana-mana lagi.

Dari kejaukan dapat kudengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Aku takut. Aku… Aku harus mencari tempat sembunyi! Kudapati lubang kecil di sudut gang yang tersembunyi di balik kardus-kardus sampah. Tanpa berpikir lagi aku segera masuk ke dalamnya. Seluruh tubuhku menggigil ketakutan. Aku hanya dapat berdoa huter itu tidak dapat menemukanku.

"Hey…"

Dengan refleks aku menoleh. Seseorang berlutut di dekat tempatku bersembunyi. Matanya yang hijau emerald bersinar dalam kegelapan.

"Kamu kenapa?"

Aku tidak menjawab pertanyaannya, Bisa kudengar langkah kaki lain di kejauhan yang mendekat dengan mantap. Ajalku sebentar lagi akan datang. Air mataku mulai mengalir tak terkendali.

Orang itu (yang aku tak tahu siapa) diam, seakan sedang memikirkan sesuatu. "Sembunyi disini," katanya,"kamu akan aman. Aku akan melindungimu." Dalam kegelapan aku dapat melihatnya tersenyum lembut. Ia berdiri lalu pergi. Kemudian dapat kudengar suaranya.

"Oi, Kugai!" orang itu mengajak bicara orang asing yang baru saja tiba. Hunter?

"Hm. Apa kau lihat seseorang ke sini?"

Aku menahan napas. Aku yakin orang asing yang dia ajak bicara adalah hunter yang mengejarku. "Tidak," jawabnya,"aku nggak lihat siapapun dari tadi." Si hunter diam. Aku dapat merasakan bahwa ia mulai curiga pada orang yang menolongku.

"Kamu kira aku bohong?" tantang orang itu, merasa bahwa si hunter menyangsikannya.

"Tidak," kata si hunter setelah cukup lama diam,"hanya saja kau tak pantas berada di area perburuan macam ini."

"Kenapa memangnya? Toh aku juga sudah resmi jadi anggota. Aku cuma mau lihat kalian berburu."

Hunter itu tertawa kecil,"Kau ini baru saja jadi anggota, jadi belum boleh keluar tahu? Lagipula kau masih empat belas tahun. Masih terlalu muda untuk berburu."

"Seingatku kamu hanya lebih tua sebulan dariku, Kugai," jawab orang itu sinis.

"Sesukamulah. Ya sudah. Aku harus berburu. Kuberitahu ya, baru saja ada vampire kabur ke sekitar sini. Kalau kau melihatnya, segera bunuh!"

"Oke, oke. Kita berpencar saja…"

"Hm, ya. Sampai jumpa," lalu dapat kudengar hunter itu berlari menjauh. Setelah beberapa saat orang itu, yang ternyata adalah teman si hunter, kembali ke tempat persembunyianku. Aku memejamkan mataku erat-erat, bersiap atas apapun yang akan dilakukan orang itu (dan aku yakin apapun yang akan dilakukannya tidak akan baik).

"Hei," bisiknya.

Orang itu menyingkirkan kardus-kardus yang menutupi keberadaanku. Tubuhku menegang ketika ia membelai rambutku dengan lembut. Merasakan keteganganku, ia segera menarik mundur tangannya. Ia mengambil sesuatu dari saku jubahnya (saat itu aku sadar bahwa setiap hunter pasti memakai jubah) dan meletakkannya di dekat kakiku.

"Anggap saja itu jimat dariku," katanya sambil bangkit berdiri,"jangan mati ya…" kemudian dia pergi.

Setelah aku rasa situasinya cukup aman, aku merangkak keluar dari tempatku sembunyi dan memungut benda yang ditinggalkan si hunter baik hati itu.

Aku berjalan dengan waspada. Kutelusuri kembali jalan menuju tempat aku dan kak Kira berburu sebelumnya. Aku berdoa dalam hati agar kak Kira baik-baik saja.

"Cagalli!" kak Kira tiba-tiba muncul dari balik siluet pepohanan di pinggir jalan.

"Kakak!" serta merta aku berlari ke arahnya,"syukurlah kakak nggak kenapa-napa…"

Kak Kira memelukku dengan erat. Napasnya terengah-engah, aku dapat mendengar detak jantungnya bertalu-talu. "Kamu nggak apa-apa kan? Tidak luka?" kak Kira menanyaiku dengan panik. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menggeleng.

Pipi dan lengan kak Kira luka. Kak Kira menyadari pandangan ngeriku dan menepuk-nepuk pundakku,"Tak apa. Jangan khawatir. Kakak sudah menghipnotis hunter yang mengejar kakak, tapi kakak kehilangan jejak hunter satunya lagi yang sepertinya pergi mengejarmu. Mereka benar-benar menyusahkan. Semakin hari sepertinya jumlah mereka semakin banyak saja." Aku merinding mendengar ucapan kakak.

"Lebih baik kita segera pulang. Kakak takut yang lainnya berhasil menemukan kita lagi…"


"Halloooooo? Ca-ga-lliiii?" Miriallia mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Cagalli. Cagalli mengerjapkan matanya.

"Apa?"

Cagalli dan ketiga kawannya sedang berjalan keluar sekolah. Dan untuk kesekian kalinya dalam hari itu kawan-kawannya mendapatinya sedang melamun.

"Kenapa sih kau? Seharian ini ngelamun terus! Pasti ngelamunin cowok tadi…" wajah Cagalli bersemu merah mendengar perkataan Shiho.

"Eeeeeeeh? Yang benar? Siapa?" tanya Miriallia dan Flay kompak.

Cagalli sudah siap-siap berteriak membantah ketika tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya dan berkata dengan penuh kecurigaan.

"Cowok?"

Cagalli dengan refleks berteriak karena kaget,"Gyaaaaa! Kak.. kak Kira?" Entah sejak kapan Kira dan Lacus diam-diam membuntuti mereka dari belakang.

"Jadi Shiho, siapa cowok yang kamu maksud barusan?" tanya Kira sedikit memaksa.

"Ng… Heine, Heine Westenfluss," jawab Shiho ragu-ragu-terintimidasi oleh tatapan tajam yang dikirim Kira padanya.

"Heine?"

"Anggota klub Sepak Bola?" sambung Lacus, memutuskan untuk turut serta dalam pembicaraan. Miriallia otomatis ber 'oh' ria, Flay kebingungan dan menanyakan siapa yang dimaksud pada Shiho, sementara wajah Cagalli memerah semerah udang rebus.

"Kamu menyukainya?" selidik Kira sambil memicingkan mata. Tindakannya membuat Cagalli semakin salah tingkah.

"Nggak! Kenal aja nggak!"

"Bagus," kata Kira, puas mendengar jawaban Cagalli.

Aku hanya.. tertarik dengan warna matanya saja kok…


Seorang cowok dengan rambut berwarna orange mencolok membanting pintu lockernya dengan frustasi. Setelah menarik napas panjang, ia berbalik dan berjalan kearah tikungan di ujung ruang locker. Ia mendapati seorang gadis sedang diam-diam memperhatikannya. Si gadis dengan otomatis segera mengalihkan pandangannya.

"Kau…" si gadis pura-pura tidak mendengar dan asyik membolak-balik halaman buku yang dibawanya. Si cowok mengerutkan dahi karena kesal,"Sampai kapan mau terus-terusan membuntutiku?"

Si gadis memandangnya dengan takut-takut dan wajah yang bersemu merah. "Tidak kok!" sanggahnya.

"Ini sudah kedua belas kalinya kita berpapasan dengan tidak sengaja hari ini," kata si cowok sembari melipat kedua tangan didepan dadanya.

"Hanya kebetulan…" jawabnya lirih. Setengahnya memang disengaja sih…

Mereka saling pandang dalam diam selama beberapa saat sampai akhirnya si cowok berkata,"Siapa namamu?"

Si gadis terbelalak, seakan si cowok baru saja menanyakan pertanyaan yang tabu untuk ditanyakan. Lalu sepersekian detik kemudian wajahnya berubah warna menjadi semerah tomat.

"Nama. Kau pasti punya kan?" ulang si cowok.

"Eh, ng… Ca.. Ca.. Cagalli Yulla Atha," jawabnya terbata-bata.

"Oh, adiknya Yamato ya?" Cagalli mengangguk. "Hm.. lalu apa yang kau mau dariku sampai-sampai harus mengekorku seminggu belakangan?"

"Anu, sebenarnya ada yang ingin kutanya… Gyaaa!" Cagalli terlonjak kaget ketika si cowok menarik benda yang menggantung di lehernya.

"Darimana kau dapat kalung ini?"

Cagalli menatapnya dengan tak percaya. Si cowok melepaskan kalung Cagalli dari tangannya, tetapi masih mengamatinya dengan seksama. Cagalli baru saja akan menjawab ketika sebuah suara menginterupsinya.

"Heine!"

Heine membalikkan tubuhnya dengan cepat, agak terkejut. Cagalli memperhatikannya yang saling tatap dengan orang yang memanggilnya. Orang itu tampak familier, sepertinya Cagalli pernah melihatnya entah dimana.

"Kau? Kenapa ada disini?"

"Kok kaget? Sudah jelas kan. Aku dipindahkan kesini," orang itu melirik ke samping Heine, matanya bertemu dengan Cagalli. "Siapa gadis disebelahmu itu? Pacarmu?"

Orang itu berjalan mendekati Cagalli. Cagalli menatapnya dengan tak nyaman. Entah kenapa sepertinya perhatian orang itu terpaku pada benda yang tergantung di leher Cagalli.

"Athrun," Heine menahan pundaknya untuk menghalaunya mendekati Cagalli. Menyadari situasi yang tidak nyaman, Cagalli buru-buru mengucapkan permisi pada Heine dan pergi.

"Hm, seleramu bagus juga Heine…" Athrun memandang Cagalli yang berjalan menjauh.

"Mau apa kau?" tanya Heine galak, mengacuhkan komentar Athrun.

"Kan sudah kubilang… Aku pindah kesini. Perintah dari pusat, seperti biasa... Baru saja aku mengurus administrasinya di TU. Baru besok aku mulai sekolah."

"Perintah dari pusat?"

"Ya. Organisasi mengusirku kesini."

Heine mengangkat sebelah alisnya. "Kau kan tidak diperbolehkan berburu."

Athrun mengangguk mengiyakan. "Oh ya, hampir lupa. Shinn, Luna, Auel, dan Sting juga dipindah tugaskan kemari bersamaku."

"Shinn dan Luna? Buat apa organisasi memindahkan tiga orang anggota khusus sekaligus kemari? Kalian menyangsikan aku?" kata Heine dengan suara yang agak meninggi, kentara sekali dia merasa tersinggung.

Athrun diam sejenak, menyadari ketersinggungan Heine. "Hm, gimana ya.. Daerah ini cukup luas dan hanya ada kamu, Orga, Shani, dan si anak baru itu. Siapa namanya? Clotho Buer? Apalagi beberapa bulan belakangan laporan dari Rusty terus-terusan mengecewakan…"

Heine menghela napas, memijit pelipisnya dengan tangannya. "Bicara sih gampang. Mereka berbaur, tahu? Semakin susah untuk membedakan mereka dengan orang kebanyakan. Bahkan yang muda pun tak lagi mudah diburu." Ia terdiam-memberi jeda pada perkataannya. "Jadi kesimpulannya, untuk apa kau kemari? Aku tak butuh bantuan, setidaknya tidak sekarang."

"Memang siapa yang bilang aku dipindah untuk membantumu berburu? Kamu kan tahu aku tidak boleh berburu. Kita berbeda, ingat? Divisiku memintaku untuk mengawasi kalian-dan divisimu bertanggung jawab pada divisiku. Urusan bantu membantu aku serahkan pada Luna dan Shinn, mereka dari divisimu juga kan…" Athrun berjalan mendekati Heine lalu menepuk pelan pundaknya. "Jangan rikuh karena hal sepele ini." Heine memutar bola matanya.

"Ngomong-ngomong kau lihat gadis tadi?" lanjut Heine.

"Uh-huh. Aku salut padamu. Si pirang yang imut."

"Jangan ngawur. Bukan itu maksudku. Aku tau kau juga memperhatikannya."

"Terus? Cemburu? Tenang aja, aku nggak akan merebut incaranmu. Walau sebenarnya aku cukup tertarik…"

"Kau ini, bisa-bisanya bilang gitu padahal sudah punya pacar. Gimana reaksi Meyrin kalau tau coba?"

"Jangan berkata seakan kamu nggak mengenalku. Kamu tau kan, masalah ini dan itu agak membuatku depresi juga.. Makannya sekarang ini aku sedang bingung cari cara buat putus," balas Athrun dengan santai.

"Dasar playboy… Ngelantur kan jadinya. Kembali ke topik! Jawab dengan benar. Kau memperhatikannya kan?"

"Kamu ini, kan sudah kubilang… Dia cantik, kau berselera tinggi."

"Athrun, kuperjelas ya. Maksudku kalungnya! Kau juga memperhatikannya kan?"


Cagalli berjalan dengan terburu-buru keluar gerbang sekolah. Teman-temannya sudah pulang lebih dulu. 'Nggak mungkin!' katanya dalam hati. Apa yang baru saja terjadi membuat perasaannya campur aduk.

"Darimana kau dapat kalung ini?"

Kata-kata Heine terus terngiang di telinganya.

Masa senior benar-benar… Uh, nggak mungkin! Tapi dia mengenali kalungku. Kalung pemberian Red Knight. Itu berarti dia adalah Red Knight kan? Lagipula warna matanya juga sama… Cagalli tersenyum lebar. Akhirnya aku menemukannya!

Lalu tiba-tiba langkah kaki Cagalli terhenti, seakan baru saja menyadari sesuatu hal yang penting. Tunggu dulu… Cowok tadi. Cowok yang menyapa senior sepertinya juga mengenali kalungku. Warna matanya juga hijau.


"Hei, kawan-kawan! Tahu nggak?" tanya Miriallia riang sesaat setelah bel istirahat berbunyi.

"Nggak," jawab Cagalli, Shiho, dan Flay bersamaan. Miriallia merajuk dan menggelembungkan pipinya karena reaksi yang mengecewakan dari ketiga temannya.

"Serius dong!"

"Kami serius kok, kami kan memang nggak tau. Lagipula kau ini kenapa sih. Milly?" kata Flay.

"Kukasih tau ya.. Pagi ini waktu lewat koridor di bagian kelas tiga," Miriallia menghentikan ucapannya untuk memelototi ketiga temannya yang saling membisikkan 'keluyuran di bagian anak kelas tiga, pasti nyari Dearka' kemudian kembali melanjutkan,"aku lihat ada kerumunan cewek-cewek di depan kelas Kira-senpai dan Lacus-senpai. Aku kira kenapa, ternyata ada murid baru."

"Memangnya apanya yang heboh?" celetuk Shiho.

"Jangan bilang kalau ternyata murid baru itu ganteng nggak ketulungan. Cerita lama!" tukas Cagalli.

"Nyatanya memang gitu kok! Pokoknya kata anak-anak cewek dia itu drop dead gorgeous, ganteng nggak ketulungan! Bayangin aja cowok seganteng model-modelnya Armani. Siapa yang nggak tertarik coba?"

"Serius? Aku mau lihat segimana cakepnya dia!" kata Shiho yang langsung berdiri dan menarik lengan Miriallia. Miriallia tersenyum lebar dan mengajak serta Flay dan Cagalli untuk ikut.

"Oy, kulaporkan ke Yzak lho, Shiho!" kata Cagalli, mencoba melepaskan diri dari Miriallia. Shiho menjulurkan lidahnya lalu mengucapkan 'masa bodoh' tanpa suara. Shiho membantu Miriallia menarik Cagalli dan Flay agar mau ikut.

"Hey, terus gimana dengan Tolle, Milly?"

"Dan Dearka?" kata Flay menyambung pertanyaan Cagalli.

"Buang aja dulu! Ayo!" jawab Miriallia asal-asalan. Ia dan Shiho berhasil menyeret Flay dan Cagalli keluar kelas, menuju kelas Kira.


Ketika sampai di depan kelas Kira, mereka kesulitan untuk bisa masuk kedalam kelas karena segerombolan gadis-gadis yang berkerumun di depan pintu kelas, mencoba mengintip dari pintu atau jendela. Setelah berjuang beberapa saat menembus kerumunan, mereka berhasil melenggang masuk ke dalam kelas dan sama sekali tidak merasa canggung untuk masuk kedalam kelas anak kelas tiga karena mereka punya koneksi dengan orang dalam, atau dengan kata lain Kira dan Lacus.

"Kakaaaaak!"

"Caga? Ngapain kemari?"

Cagalli dan ketiga kawannya menyadari sosok lain yang duduk di samping Kira selain Lacus. Si murid baru. Menyadari hal tersebut Kira memutuskan untuk bicara,"Ng, ini Athrun Zala. Murid baru yang baru pindah dari…"

"Kau?"

"Kamu?" ucap Cagalli dan Athrun bersamaan, tak menghiraukan ucapan Kira.

"Kamu pacarnya Heine kan?"

"APA?" seru Kira dan Cagalli bersamaan. Reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh Shiho, Flay, dan Miriallia. Sedangkan Lacus hanya memandangi keseluruhan adegan dengan penuh minat.

"Apa itu benar, Cagalli?" tanya Kira dengan aura dan tatapan mengancam.

"Nggak kak! Sembarangan kau!"

"Apa maksudmu Athrun? Jelaskan padaku!" ucap Kira dengan tidak sabar setelah pulih dari keterkejutan-dan kemarahan-nya.

"Lho, masa kamu nggak tau sih Kira? Kemarin aja….Hmp!" Cagalli segera membungkam mulut Athrun sebelum ia sempat berkata lebih jauh lagi.

"Kalau kau berani bilang aneh-aneh sama kak Kira… aku jamin keluargamu bakal nangis saat ngebaca obituarimu di koran besok pagi! Dan, tentu saja, aku akan mengirimkan karangan bunga paling besar dan paling cantik khusus buatmu setelahnya," ancam Cagalli dengan berbisik di telinga Athrun. Ketiga kawannya yang dapat menebak apa yang dibisikkan Cagalli bergidik ngeri. Ancaman Cagalli tidak pernah kosong.

"Cagalli…" desis Kira, matanya menatap tajam ke arah Cagalli.

Lacus segera mengalihkan perhatian Kira sebelum ia dapat menanyai atau bahkan memarahi Cagalli lebih lanjut. "Um… Kira."

Kira menoleh mendengar panggilan Lacus dan berkata dengan kasar,"apa?" Namun sedetik kemudian ia menyesali perbuatannya. "Maaf. Apa?" katanya dengan nada yang lebih lembut. Cagalli dan ketiga kawannya memutar bola matanya. Lacus ternyata lebih hebat daripada ksatria pembantai naga dalam hal menjinakkan makhluk bernama Kira.

"Kita belum mengenalkan Cagalli-chan dan kawan-kawan kepada Athrun..," jawab Lacus dengan senyuman manisnya yang dapat mengintimidasi Kira.

"Ah. Uhm… iya. Athrun, ini Cagalli adikku." Kira mengenalkan Athrun pada Cagalli sembari memberi Cagalli tatapan 'akan-kutanyai-kau-begitu-sampai-dirumah-pokoknya-tiada-ampun-dan-tidak-boleh-bohong' yang membuat bulu kuduk Cagalli berdiri.

"Athrun Zala. Salam kenal Cagalli-chan."

'Chan?' Cagalli menaikkan sebelah alisnya, memandang Athrun yang tersenyum lebar sambil menyodorkan tangan kearahnya. "Sok akrab sekali kau," jawab Cagalli. Ia tersenyum sinis lalu membalas uluran tangan Athrun dengan menepukkan telapak tangannya ke telapak tangan Athrun. Athrun memandangnya dengan campuran rasa bingung dan heran.

"Ehem!" sela Kira yang sukses membuat Athrun kembali fokus. "Ini Shiho Hahnenfuss pacar Yzak. Ingat kan cowok berambut putih yang saat pelajaran pertama datang ke kelas kita dan ngebagiin selebaran pengumuman OSIS?" Athrun mengangguk lalu bersalaman dengan Shiho dan saling bertukar kata 'salam kenal' dengannya.

"Terus ini Flay Allister. Pacarnya Ssigh ketua kelas dari kelas sebelah. Nanti kukenalkan sama orangnya."

"Kamu sengaja memberitahuku status mereka ke aku ya, Kira?" tanya Athrun sembari tersenyum penuh makna kepada Kira. Kira membalas cengirannya.

"Jaga-jaga aja supaya kamu nggak mengincar pacar orang…"

Athrun berjabat tangan dengan Flay yang mengangkat dagu dengan angkuhnya lalu mengucapkan 'salam kenal' yang hanya dibalas Flay dengan anggukan.

"Oke. Dan ini Miriallia Haww pacarnya Dearka, yang menemani Yzak ngebagiin selebaran tadi pagi. " Senyum lebar Miriallia segera digantikan tatapan mautnya ke Kira karena telah mengatakan kata-kata tabu barusan. Kawan-kawannya, termasuk Lacus, tertawa cekikikan melihat reaksinya.

"Ralat! Dearka bukan dan nggak akan jadi pacarku! Ngomong-ngomong salam kenal," ucap Miriallia antusias lalu menjabat tangan Athrun dengan penuh semangat.


"Ternyata memang ganteng ya. Bau darahnya enak lagi… Dia pasti cocok kalau berbaur dengan kaum kita.. Sayang banget kita cuma bisa ngobrol sebentar. Udah gitu Cagalli terus yang dia ajak ngomong."

"Apaan sih? Kau iri, Milly?" balas Cagalli.

"Bukan iri… Curang aja kalau dia akrab sama kamu tapi nggak sama kita."

"Milly… jangan mulai deh!" tegur Shiho ketus. Miriallia mencibir. "Serius deh Milly, jatuh cintalah pada saat dan orang yang tepat lalu setialah padanya sampai mati! Kadang aku sebal sama hobimu itu."

Cagalli dan Flay saling bertukar pandang dan tersenyum usil. Adu argumen antara Shiho dan Miriallia yang sudah jadi santapan mereka sehari-hari akan segera dimulai.

"Hobi apaan?" balas Miriallia galak.

"Naksir sama semua cowok cakep, ganteng, cute, tampan, dan lain-lainnya yang kau temui!"

"Kata siapa! Aku nggak naksir tahu! Aku kan cuma komentar. Lagipula wajar kan kalau kita kagum sama sesuatu yang indah?"

"Kagum sih kagum. Tapi nggak usah heboh gitu kan?"

"Siapa yang heboh?"

Shiho dan Miriallia terus saja melancarkan perang kata-kata tanpa mempedulikan kedua sahabatnya yang membuntuti mereka di belakang, menyimak dengan seksama sekaligus bertaruh siapa yang akan memenangkan debat. Mereka bahkan masih saja ribut tanpa mempedulikan tatapan aneh orang lain saat duduk di bangku kantin untuk makan siang.

"Oh ya? Asal tau aja ya, kebiasaanmu itu bisa membahayakan dirimu sendiri! Tahu 'aturan' kan?"

"Masa bodoh! Aturan memang aturan, tapi kan gara-gara itu juga malah asyik kalau dilanggar. Memang apa salahnya coba jatuh cinta sama manusia?"

"Kau sudah gila atau gimana sih?"

Flay dan Cagalli yang sedari tadi hanya diam menonton dengan khidmat mulai was-was. Suasana mulai memanas dan sepertinya kedua sahabatnya itu mulai serius. Posisi keduanya yang saling duduk berhadapan pun semakin memperparah keadaan karena memberikan kesempatan bagi keduanya untuk saling memelototi.

"Sembarangan! Aku ini waras sewaras-warasnya tahu! Buktinya aku lebih milih naksir manusia yang ganteng dibanding vampire yang nggak ganteng!" sembur Miriallia dengan kalap namun merendahkan suaranya menjadi bisikan pada bagian 'vampire'.

"Jelas kau nggak waras! Pertama, kamu dengan percaya dirinya bilang mau melanggar aturan. Kedua, fakta bahwa sebagian besar dari jenis kita ini memang dianugrahi tampang berlebih alias tampan dan cantik!"

"Fakta dari mana tuh? Kecantikan dan ketampanan itu relatif-tergantung selera! Lagipula memangnya Yzak ganteng?"

"Selera? Memang kau kira apa? Makanan? Terus bisa nggak, nggak bawa-bawa dia? Dan ya, dia memang ganteng," desis Shiho. Miriallia tertawa mengejek tanpa menghiraukan ketersinggungan Shiho. Sedangkan Cagalli dan Flay berusaha menahan tawa mati-matian karena takut akan memperburuk keadaan. Setelah menarik napas panjang, Shiho melanjutkan.

"Itu fakta! Sekarang coba ngaca. Pasti kau akan memproklamirkan betapa cantiknya dirimu kan? Atau kalau ternyata kau cukup rendah hati untuk mengakui kau nggak cantik, silakan lihat aku atau Cagalli kek! Biar kau sadar kalau jenis kita memang dianugrahi kelebihan macam itu."

"Lho kok malah jadi bawa-bawa aku?" interupsi Cagalli.

"Jahat kamu Shiho! Kok aku nggak disebut?" protes Flay disaat yang bersamaan dengan Cagalli. Tetapi Shiho dan Miriallia tidak menanggapi keduanya.

"Aku paham Shii-chan! Tapi tadi kan kamu sendiri yang bilang 'sebagian besar' dari kita. Berarti ada juga dari jenis kita yang nggak ganteng kan!"

"Oh ya?"

"Ya!"

"Memangnya kau pernah lihat vampire yang nggak ganteng?" tantang Shiho dengan suara yang direndahkan.

"Tentu saja!" jawab Miriallia tanpa ragu-ragu.

"Siapa?"

"Dengar baik-baik ya…." Miriallia diam sejenak untuk memberikan kesan mendramatisir,"Jenis kita yang nggak ganteng nggak lain nggak bukan dan sudah jelas sejelas-jelasnya adalah Dearka Elsman!"

Seketika tawa Shiho, Cagalli, dan Flay pecah. Miriallia memandang Shiho dengan sorot kemenangan sambil menekuk kedua tangannya ke depan dadanya. Namun tawa ketiganya terhenti saat seseorang dengan sengaja berdehem dari balik punggung Miriallia. Familier dengan suara dari balik bahunya, Miriallia membeku di tempatnya. Dearka Elsman.

"Aku dengar lho, Milly-chan."

"Oh, sial…" gumam Miriallia.


"Oh, si Zala itu? Aku tahu. Cowok pindahan yang jadi trending topik di kalangan anak-anak cewek yang kurang kerjaan, kan?"

Dearka dan Yzak yang kebetulan duduk membelakangi Cagalli dan kawan-kawan memutuskan untuk bergabung dan makan bersama mereka setelah dengan 'tidak sengaja' mendengar perkataan Miriallia. Dan Miriallia kehilangan selera makannya karena Dearka.

"Kak Dearka kenal dia?" tanya Flay sembari mengunyah roti isinya.

"Nggak. Tapi Yzak tahu."

Keempat gadis itu serempak menoleh kearah Yzak. "Serius?" tanya Shiho mewakili rasa ingin tahu ketiga sahabatnya.

Yzak menyeruput teh kotaknya, berniat mengacuhkan pertanyaan Shiho. Tetapi setelah beberapa saat ia menjawab juga karena tidak tahan dengan tatapan memelas Shiho.

"Dulu satu SD. Sekelas waktu kelas satu. Sama Yamato juga. Cuma satu semester terus pindah entah kemana."

Keempatnya ber-oh-ria. "Pantas kakak langsung akrab sama dia…," ujar Cagalli sambil manggut-manggut. "Tapi kok aku nggak ingat ya sama dia?"

"Sudah kubilang kan. Dia cuma satu semester terus pindah. Terus kau kan masih TK. Mana ingat?" Cagalli melengos mendengar jawaban Yzak sembari menggumamkan 'maaf saja kalau ingatanku tumpul'.

Flay berdeham, mencoba memulai topik pembicaraan baru. "Kak Dearka dan kak Yzak anggota Aprilius kan? Apa ada berita baru?"

Karena Yzak diam saja maka Dearkalah yang menjawab,"Sejauh ini belum. Kita cuma bawahan, jadi nggak begitu tau banyak. Kenapa nggak tanya Ssigh? Dia termasuk sukarelawan yang paling rajin cari info."

"Dia nggak mau bilang apapun."

"Kalau gitu tanya aja sama kakaknya anak ini," kata Dearka sambil menunjuk ke Cagalli. "Kira kan terpilih jadi kandidat Dewan Aprilius."

"Kalau Ssigh aja nggak mau memberitahu apalagi kak Kira. Ditanya kayak apapun juga kakak tetap akan diam seribu bahasa."

"Hn, wajar sih. Top secret mungkin. Kalian kan bukan anggota, jadi hal-hal yang seperti itu nggak akan sampai ke kalian." Keempatnya mendengus kecewa. "Tenang aja. Sebentar lagi kalian mencapai usia akhil baligh kan? Begitu kalian ulang tahun yang ke tujuh belas, langsung daftar aja jadi sukarelawan. Tapi kuperingatkan ya, resikonya tinggi. Hunter, manusia, hal-hal buruk lain… Ceroboh sama dengan mati. Lagipula ini politik lho, bukan uji nyali. Belum lagi adanya aturan-aturan tambahan sesuai tingkatan di organisasi. Memangnya kalian minat ?"

"Bukan minat atau nggak minat. Ini lebih ke rasa tanggung jawab bersama dan demi kenyamanan jenis kita juga kan. Walaupun kami vampire muda tapi kami juga peduli. Terlebih lagi dengan adanya kabar burung mengenai pemberontakan para vampire non-ras. Kalau Yang Tertua nggak ketemu-ketemu, nggak kebayang kekacauan macam apa yang bakal timbul…"

Dearka tersenyum lebar. Tangannya mengacak-acak rambut Cagalli. "Hebat, hebat. Akan kutunggu partisipasi kalian, adik-adik... Oh ya, ngomong-ngomong kalian ngobrolin apa tadi sampai-sampai bawa namaku segala?" tanya Dearka tiba-tiba, menyebabkan Miriallia tersedak.


Ruangan itu agak gelap namun sangat luas dengan lampu hias raksasa dari abad pertengahan bergeming anggun di pusat ruangan. Jendela-jendela besar di keempat sisinya ditutupi tirai-tirai panjang berwarna merah marun, menghalau cahaya yang masuk dari luar. Sebuah meja panjang dari marmer diletakkan ditengah-tengahnya. Lusinan kursi ditata mengelilinginya.

Seorang pemuda masuk ke dalam ruangan dengan canggung lalu duduk tanpa suara disalah satu bangku kosong di ruangan itu. Kehadirannya disadari orang-orang yang sudah terlebih dahulu berada diruangan tersebut. Seseorang yang duduk di ujung meja berdeham sebelum akhirnya angkat bicara.

"Baiklah, kita lanjutkan topik permasalahan sebelumnya. Nak, tolong jabarkan dengan singkat mengenai kemajuan investigasi Aprilius."

"Ah, um…" si pemuda memulai dengan gugup. "Sejauh ini tak ada kemajuan berarti dalam proses translasi naskah-naskah kuno yang didapat dari Skandinavia dan Rusia. Kami cukup kesulitan dikarenakan kondisi naskah yang sudah termakan usia dan terdapat cukup banyak bagian yang hilang. Belum lagi susunan-susunan kripto yang tidak tepat. Namun baru-baru ini rekan kami dari bagian lapangan menemukan mata rantai yang hilang dari kematian Yang Tertua."

Dengungan rendah memenuhi ruangan. Orang-orang yang berada dalam ruangan itu mulai saling berbisik ketika si pemuda bangkit lalu berjalan menghampiri pria yang duduk di ujung meja untuk menyerahkan sebuah map padanya. Si pemuda kembali ke tempat duduknya semula kemudian melanjutkan.

"Kami belum bisa bicara banyak, hanya saja kami memastikan bahwa kematian Yang Tertua tidaklah terjadi secara alami." Seisi ruangan sunyi, menanti si pemuda untuk melanjutkan.

"Kita semua mengetahui Yang Tertua sempat menghilang selama dua dasawarsa setelah kabar kelahiran penerus baru. Tetapi ternyata tidak benar. Hipotesa kami adalah ia tidak menyembunyikan dirinya sendiri, melainkan disembunyikan. Kami memang belum dapat membuktukannya, tapi kami yakin beliau bersembunyi bukan atas inisiatifnya sendiri-melainkan diasingkan."

"Maksudmu?" tanya pria di ujung meja.

"Ada sesuatu-maksudku seseorang," si pemuda berhenti-mencoba untuk bicara biasa tanpa tergagap-sembari memikirkan kata-kata selanjutnya. Ia tahu, salah bicara berarti mati.

"Kami menemukan surat di Rumah Besar berisi kode. Dan itu, dikirimkan oleh seseorang dari salah satu Rumah Kecil-tapi kami tidak tahu Rumah Kecil yang mana yang mengirimkan surat itu."

Sunyi. Namun si pemuda dapat merasakan perubahan aura dari para vampire lain di ruangan itu.

"Lalu?" lanjut si pria di ujung meja setelah sebelumnya sengaja terbatuk cukup keras untuk menormalkan kembali suasana.

"Kami… belum tahu. Yang Tertua… masih amat muda untuk memasuki fase akhir. Logikanya, hanya ada dua penyebab beliau meninggal."

Si pria di ujung meja mengangguk. "Hanya itu saja laporanmu?"

Si pemuda baru saja akan menjawab ketika si pria memotongnya, "Kalau begitu, kau boleh pergi."

Merasa agak takut, si pemuda buru-buru bangkit dan beranjak keluar ruangan tanpa memberi salam pada vampire-vampire.

Sedetik sebelum pintu mahoni tertutup sempurna dibelakangnya dan memisakan ia dengan para vampire dalam ruangan, ia mendengar si pria berbicara pada vampire lainnya dengan suara dingin, "Rumah Kecil mana yang dalam tiga pertemuan terakhir tidak mengirimkan perwakilannya?"


Author's Note :

Terimakasih untuk para reader yang sudah berkenan untuk membaca.. :D

Thanks to : kamille murasame, Aihsire Atha, eL-ch4n, Ritsu-ken, Sin Heartless Yuuki, uchan, Gunpla, kak Relya schiffer, kak Hiru, Reehive, Rei Nanda, michu. Terimakasih atas reviewnya :D Mohon maaf karena tidak saya balas satu-satu.. (nggak maksud somse suer deh.. m(_._)m saya mohon maaf..)

Special thanks to : Gunpla, sweet miracle 'michu 17', kak Hiru

(dan permohonan maaf buat kak Relya.. ehehehe)

Oh ya.. soal pembatas.. ehehe.. saya memang agak sesat dan hobi (cuma) pakai garis pembatas untuk pemisah scene.. Saya akan berusaha lebih lagi untuk memperkaya deskripsinya supaya nggak bikin bingung :D Terimakasih sarannya uchan :D cinta deh ehehehe

Untuk bahasa percakapan juga.. saya rasa remaja lebih pas kalau pakai bahasa nggak baku.. jadinya ya begitulah Xd saya biarkan mereka bercakap-cakap pakai kata-kata yang nggak jelas. Ahahaha -_-'

Mohon maaf juga untuk keterlambatan update -_-' (sebulan :0 wah.. rekor haha). Maaf juga karena keterangan tentang vampire dkk belum saya jabarkan (sedang menunggu timing yang pas hehe)…

Sekali lagi terimakasih sudah berkenan membaca fic ini.. Juga terimakasih banyak untuk yang telah memberi review :DDD (bahagia nggak kepalang)

Kritik, saran, dll amat saya nanti :DD

Salam, Ofiai.

N.B : Saya tahu dari fic-nya eternalasucaga-san yang berjudul It Just Happened di chapter 11 (terus saya langsung coba cek di forum Mangafoxnya dan ternyata benar! :D). Coba dilihat di fic-nya beliau deh.. ada link langsung video khusus Asucaga dari Fukuda (mungkin dia udah capek didemo pecinta Asucaga gara-gara ending yang tak bertanggung jawab)

Terus soal judul fic ini.. Hehehe.. artinya saya rahasiakan ;9 kalau ada yang bisa nebak saya kasih hadiah :DD