Di ruang pertemuan keluarga hunter Kagami…

"Jadi, Alex, kenapa kita harus kumpul di sini?" tanya gue bete. Ah, masih banyak PR nih.

"Alex, Alex… panggil gue ketua, Kagami!" bentak Alex.

Memang semenjak ayah, selaku ketua terdahulu sakit, Alex, yang adalah adik ayah dan tante gue tentunya, selalu menggantiikan dia sampai akhirnya ayah meninggal dunia.

"Iya, iya, KETUA." gue menekankan kata 'ketua'. "Kenapa kita harus berkumpul? Apalagi cuma gue, Teppei, dan Riko. Yang lain nggak?"

"Bagaimana kita dengarkan dulu ketua berbicara, Kagami-kun? Kau berisik sekali!" bentak Riko, saudara gue yang satu ini memang cerewet. Dan kemudian disusul tawa renyah Teppei.

"Sudah, hentikan. Begini, aku dengar akhir-akhir ini penyerangan Black semakin meluas dan semakin aktif. Bahkan untuk daerah-daerah tertentu yang biasanya aman pun menjadi rawan diserang mereka." jelas Alex.

"Nah, alasanku untuk memanggil kalian bertiga disini adalah untuk memberikan misi penting." lanjut Alex.

"Penting? Apa itu? Mata-mata? Kereeen!" kata gue seneng. Udah berasa jadi bintang film Mission Impossible gue!

"Bukan, Kagami. Kalian bertugas untuk melindungi sekolah kalian, Seirin high. Untuk daerah lain sudah kupercayakan kepada tim lain, jadi tenang saja."

'Yah, pupus deh harapan gue ngegantiin Tom Cruise…'

"Bukannya Seirin sudah banyak hunter yang menjadi satpam ataupun guru. Bahkan dari pihak vampire pun sudah mengirimkan bantuan berupa guru dan staf lainnya." jelas Riko.

Riko adalah kepala sekolah Seirin, yang tentu aja gue males manggil dia dengan embel-embel 'sensei'. Gue akuin, memang walaupun dia cerewet, tapi dia tegas dan cukup keren.

"Itu benar. Tapi, tadi Kagami melaporkan bahwa dia diserang beberapa vampire Black yang bahkan membawa senjata."

"Ya, ya, benar! Kuroko hampir saja celaka! Huuh, untung ada gue." gue mengiyakan. Ah, kalo inget kejadian itu… gue jadi harus ekstra hati-hati, nih.

"Ah, tadi aku juga ketemu satu vampire. Tapi untungnya sudah kubasmi sebelum Hyuga-sensei sadar." Teppei ikut bicara.

Teppei sih enak. Dia emang jago, walaupun gue nggak mau ngakuin dia lebih jago dari gue. Tapi dengan senjata berupa jarum panjang yang lumayan tebal, dia bisa membidik jantung Vampire dengan tajam dan akurat.

"Bagus, itu dia yang kuingini. Aku juga sudah melaporkan kepada ketua Vampire Pure-blood itu agar terus meningkatkan penjagaan. Pokoknya selama Vampire Black masih terus genjar mengadakan pemberontakan, kalian harus siap menjaga murid, guru dan staf di Seirin." perintah Alex.

"Siap ketua!"

"Siap Alex!"

"SUDAH DIBILANG, PANGGIL GUE KETUA BOCAH!"

"A-ampuuuun!"


.: LE ROUGE EST AMOUR :.

[Red is Love]

Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki

Le Rounge est Amour © SCL Project

Warning : AU, vampire fic, OOC, OC, typo, dll…

Pairing : KagamixKuroko slight AominexKuroko, dll…


[Blood three : Feelings]


SRAK

"Ummm…" Kuroko menggeliat saat merasakan sinar menerpa dirinya.

"Bangun, Kuroko-cchi! Sudah pagi!" kata Kise-san sambil membuka tirai dan jendela kamarku.

Ugh, rasanya malas sekali untuk bangun pagi ini. Ah, iya, sepertinya tadi aku ada di ruangan Akashi-san dan…

Ah, sepertinya aku jangan mengingat semua hal bodoh itu lagi. Entah mengapa, semenjak ketidak hadiran 'dia' dan seringnya melihat darah membuat diriku menjadi lebih 'liar'.

"Aih, lihat! Anak itu sudah menunggu di depan rumah untuk menjemputmu! Haah~ perlu kuusir lagi apa?" bantak Kise-san kesal.

Ya, yang dia maksud pasti Kagami-kun. Maklum Kise-san tidak begitu suka Kagami-kun yang katanya 'anak pembawa masalah'.

"Sudahlah, Kise-san…" dan aku hanya berjalan ke kamar mandi.


-o-o-o-o-o-


"Ah, Kagami-kun." kata Kuroko saat keluar dari rumah.

"Yo, Kuroko!" sapa gue sambil melambaikan tangan. Ah~ Kuroko di pagi hari memang pemandangan yang indah…

'Eh, Kagami! Sadar! Lo bukan orang menyimpang!' kata Kagami pada dirinya sendiri. Yah, kamunya saja yang belum sadar, Kagami…

"Bukannya sudah kubilang, kalau jangan menjemputku seperti ini? Kalau Kise-san tahu, kau pasti dihajarnya lagi." Kuroko mengingatkan gue dengan muka polosnya. Aduh, Kuroko… mau ada tsunami juga gue nggak akan takut, kok!

"Hahaha… gue sih nggak takut. Masa seorang Kagami bisa takut dengan vampire model banci macem dia? Hahaha!" tawa gue, belagu. Ya, gue memang tau kalo Kuroko tinggal 'berdua' bersama Kise, yang memang vampire model terkenal, sebagai walinya. Walaupun gue sendiri nggak tahu apa penyebabnya.

"HEH! Siapa yang kau bilang BANCI, HEH?!" teriak Kise. Buset, ternyata dia sudah sampai di depan pintu.

'Mampus gue! Mampus gue! Mikir alesan Kagami! Ayo!'

"Eh? Siapa? Siapa yang bilang? Duh, tadi kayaknya ada angin… eh, kucing lewat nari balet deh… aha, ha, ha, ha…" kata gue ngeles nggak jelas. Gue udah takut campur keringet dingin. Eh Kuroko dan Kise cuma bisa sweatdrop…

"Huuh, ini bekalmu ketinggalan, Kuroko. Jangan pulang telat ya! Sudah mau musim dingin, loh!" nasihat Kise dan kemudian masuk ke dalam rumah.

'Eh? Cuma gitu? Tumben gue nggak ditendang…'

Yah, walaupun gue merasa aneh, tapi lumayan juga nggak dapet bekal benjol di pagi hari.

"Ayo berangkat, Kagami-kun."

"Yosh!"


-o-o-o-o-o-


"Yo, Kagami, Kuroko!"

Kagami dan Kuroko spontan menengok ke belakang. Berdirilah Teppei sambil memeluk Hyuuga-sensei.

'Kelihatannya dia juga menjemput Hyuuga.' pikir Kagami.

"Pagi Kiyoshi-senpai, Hyuuga-sensei." sapa Kuroko

"Yo, Teppei, Hyuuga. Lo juga jemput Hyuuga ya?"

"Kiyoshi-kun, berat! Ah, pagi, Kuroko-kun… dan kau! Panggil saya dengan 'sensei'!" teriak Hyuuga-sensei.

"Hahaha… iya, dong. Aku kan sayang Hyuuga-sensei, jadi aku harus jemput dia~" kata Teppei manja.

KRIIIIIINGGG~~

"Wah, gawat! Gue duluan yah, Teppei! Eh? Mana Kuroko?" Kagami baru sadar kalau Kuroko sudah tidak ada di sampingnya dan berlari ke arah kelas. "Eh? Tunggu gue Kuroko!"

"Bisa kau lepaskan aku sekarang, Kiyoshi-kun? Aku harus ke ruang guru sekarang." kata Hyuuga-sensei sambil mencoba melepaskan diri dari Teppei.

"Haah~ baiklah~" kata Teppei. "Tapi, sensei tetap berhati-hati…" kata Teppei, raut mukanya berubah menjadi serius.

"I-iya, aku tau…"


-o-o-o-o-o-


Siang hari, Seirin High sayap timur.

"Untung siang ini nggak terlalu panas… ribet juga kalau harus membuang ini panas-panasan. Mana berat lagi!" umpat Hyuga. Dia terlihat membawa box kardus besar yang dibawanya dengan dua tangan.

Kita intip isi box kardus basar itu… majalah bokep, DVD bokep, komik yaoi, komik hentai, doujin R-18, dan lainnya… wuih, sensei, itu sih jangan dibuang! Dijual masih laku tuh!

Tapi memang hasil sitaan kali ini banyak banget. Bahkan ia menyita DVD yaoi dan fotonya yang hanya memakai handuk di tas Teppei!

'Sensei~! Kau boleh ambil semuanya, bahkan jiwaku! Tapi jangan foto itu! Aku mendapat foto itu dengan susah payah~!' teriak Teppei sambil nangis bombay.

Hyuuga mengingat perkataan Teppei tadi. Diletakannya box kardus itu di dekat tempat sampah besar. Diambilnya foto dirinya yang ia sita dari sakunya.

"Dasar bocah." katanya sambil tersenyum kecil. Bingung sendiri harus berbuat apa. Jujur saja, semenjak Teppei mendekatinya dan menembaknya, ia jadi melalu memikirkan anak itu. Tadinya mungkin karena anak itu memang anak pintar yang dapat ia banggakan sebagai guru, tapi lama-lama…

'Mungkin, sebenarnya… aku memang…'

BRUK

Eh? Apa itu?

"Si-siapa disana?" teriak Hyuuga. Terkejut karena mendengar ada sesuatu yang jatuh di sekitarnya.

Karena penasaran dia pun melangkah ke arah suara itu berasal.

"Ya ampun…"

Dilihatnya seorang vampire yang memang menjaga sekolah bagian timur ini terbujur kaku dengan banyak luka tembakan dan berlumuran darah. Juga… luka bekas gigitan vampire?

'Aneh… ah! Jangan-jangan…'

"Jadi sensei dan semua staf di sekolah ini dihimbau untuk harus lebih berhati-hati dalam menjaga diri kalian dan murid-murid masing-masing karena pergerakan Vampire Black semakin gencar. Kami mohon kerjasamanya." ucap Riko.

"Tapi, sensei tetap berhati-hati…" kata Teppei, raut mukanya serius.

Ah, Hyuuga pun teringat dengan ucapan Teppei dan perkataan kepala sekolah tadi. 'Sial, bahkan vampire yang cukup kuat pun kalah?'

BRAK

Karena suara yang cukup besar, Hyuuga menoleh ke belakang. Ternyata sudah berdiri satu vampire Black. Penampilanya tidak terawat, tidak membawa senjata pula. Sepertinya vampire kelas rendah.

'Vampire Black kelas rendah? Aneh.' pikir Hyuuga. 'Bukannya vampire penjaga tadi diserang menggunakan pistol?'

"GAAAAAAAAHHHHHH!" teriak vampire Black itu. Dia berlari ke arah Hyuuga dan siap 'menyantap'nya.

"Cih," umpat Hyuuga. Dia berusaha untuk tetap tenang dan langsung berlari ke arah gedung sekolah.

Vampire yang hampir menyerangnya itu ternyata mengarah ke vampire yang sudah mati dan menghisap darahnya. Melihat hal itu, Hyuuga mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Namun kenyataan berpihak lain, vampire Black itu melihat ke arahnya yang sudah ternodai darah vampire.

"Aku… AKU INGIN DARAAAAAH!"

BRAK

"ARGH! Cih, sial!" umpat Hyuuga, ia tersandung batu dan lukanya mengeluarkan darah.

"GAAAAAAAHHHH!"

'Aku harus bagaimana…?' Hyuuga terus memejamkan mata, mencoba berfikir. 'Ayo, berpikir! Ayo!'

"Sensei, kalau ada vampire Black, tusukan saja ini." kata Teppei sambil memberikan jarum miliknya.

"Apa ini efektif?"

"Tentu saja! Aku selalu memakainya saat urusan mendesak! Jadi sensei pakai saja!"

"Oh, terima kasih…"

"Waaah, sensei bilang terima kasih~ aduh, makin sayang deh sama sensei~!" Teppei langsung memeluk Hyuuga.

"Ka-kau ini! Lepas!"

'Ah!'

Hyuuga yang teringat percakapan tadi pagi pun membuka matanya kembali dan mengeluarkan jarum itu dari saku celananya. Ia berdiri sambil memegang erat jarum pemberian Teppei di tangan kanannya. Sementara si vampire berlari dengan cepat ke arahnya.

'Ki-Kiyoshi… Kiyoshi-kun…!'


-o-o-o-o-o-


'Kiyoshi-kun…!'

'!' Kiyoshi tersentak dari lamunannya. 'Sepertinya ada yang memanggilku. Tapi… siapa?'

"Hei, Kiyoshi, kok Hyuuga-sensei lama sekali yah? Jangan-jangan dia malah nonton DVD bokep gue lagi, hahaha~" ucap seorang anak kepada Teppei.

'Ah, iya! Hyuuga-sensei lama sekali. Dan lagi… perasaan aneh apa tadi itu?'

BRAK

"Wets, Koganei! Jangan buka pintu keras-keras gitu dong! Bikin kaget orang aja!"

"Duh, sorry, sorry… *hosh* tapi... *hosh* i-itu… *hosh* ta-tadi gue ngikutin Hyuuga-sensei buang barang kita *hosh* biar gue bisa ngambil lagi DVD gue… *hosh* t-tapi tadi gue liat…" Koganei ngomong sambil ngos-ngosan.

"Kenapa?! Ada apa dengan Hyuuga-sensei?" tanya Teppei panik. Iyalah panik, guru kesayangannya gitu!

"Di-dia diserang vampire! Ba-bahkan… vampire penjaga sekolah pun dimakan sama vampire itu!" teriak Koganei, kontan seisi kelas panik.

"Terus, Hyuuga-sensei dimana?!"

"A-aku tadi ngeliat di sayap timur! De-dekat tempat pembuangan sampah! Ya! Disana!" kata Koganei, ikutan panik bercampur takut.

Teppei yang mendapat informasi tersebut pun langsung berlari ke sana.

Sementara itu, di pojok kelas, Murasakibara hanya memandang seisi kelas yang panik dengan muka bosannya. Diambil HP-nya dan mulai menelepon seseorang.

"Ada vampire Black muncul. Seorang vampire penjaga sayap timur mati." kata Murasakibara kepada orang di telepon, "Ya, korban lainnya adalah Hyuuga Junpei, dan sekarang Teppei Kiyoshi yang menanganinya."

"Oh? Ah, anak hunter dan guru kesayangannya itu, ya? Baguslah kalau begitu…" kata orang di seberang telepon.

"…"

"Jadi sekarang aku harus bagaimana, Akashi-san?"

"Fufu… sekarang kau bisa lakukan apa pun yang kau mau." jawab Akashi sambil tertawa kecil.

"Terima kasih Akashi-san."

Pip

'Baiklah, mungkin aku bisa membawa 'dia' kemari lebih cepat.' pikir Murasakibara sambil melanjutkan acara makan snacknya.


-o-o-o-o-o-


Aku terus berlari menuju sayap timur sekolah. Ah, apa ini benar-benar nyata? Mimpi kah? Ya, ini pasti mimpi buruk! Andai saja aku bisa mengubah semua ini menjadi mimpi, akan kulakukan sekarang juga dan bangun dalam sekejap. Tapi apa? Semuanya adalah nyata!

"Cih," umpatku sambil terus berlari, mengepalkan tangan lebih keras, mengayunkan kedua kaki dan tanganku sekuat tenaga. Mengejek ketidakberadaanku disamping orang yang berarti bagiku. Kebodohanku meninggalkan dia sendiri. 'Sebentar lagi! Tolong bertahan sebentar lagi! Kumohon!'


-o-o-o-o-o-


-tsu

-Tetsu…

'Tetsu.'

"Hah?" Kuroko yang tertidur pun langsung terbangun dengan ekspresi kaget.

'Tadi itu… mimpi, kah? Tapi…'

"Oy, oy, Kuroko. Tertidur, huh? Enak tuh tidurnya~" Kagami menepuk-nepuk pundaknya dengan tatapan mengejek.

'Enak banget anak ini bisa tidur pulas sementara gue yang cuma ketawan ngantuk aja dilempar penggaris,' cibir Kagami dalam hati. 'Ah, tapi Kuroko yang baru bangun dengan ekspresi kaget lucu juga, ya. Pemandangan langka tuh!'

Wah Kagami, tanpa sadar kamu sudah jatuh hati tuh!

"Kagami-kun? Kelasnya sudah selesai?"

"Belom. Makanya jangan tidur mulu!" senggol Kagami disambut tatapan sweatdrop Kuroko. Yah, Kuroko sih pasti yakin kalau Kagami dimarahin sama guru yang mengajar dan sekarang dia masih jealous ke Kuroko.

'Tetsu…'

"Yang tidur terus itu kamu, Kagami! Sekarang diam dan jangan berisik!" tegur Shun-sensei.

"Hah?! Bukan saya, sensei! Tapi Kuroko!"

"Diam, dan kau baca halaman 5, Kagami!"

"Ugh…" dengan malas, Kagami membuka buku Sejarahnya dan bersiap-siap membaca dengan keras.

"A-"

Ting Tong Ting Tong~~

"Perhatian bagi semua siswa-siswi dan guru yang mengajar maupun tidak, kami mohon untuk tidak meninggalkan ruangan kelas, terutama gedung sekolah. Kami ulang sekali lagi, semua diharapkan untuk tidak keluar dari gedung sekolah. Dan untuk semua hunter diharapkan untuk ke ruang kepala sekolah sekarang juga. Sekian dan terima kasih."

'Sial ini pengunguman ngganggu gue aja…' umpat Kagami dalam hati. 'Tapi… ada apa lagi? Bahkan Riko sendiri yang ngasih pengunguman. Ah! Jangan-jangan…'

'Tetsu…'

"Nah, sesuai dengan pengunguman, kita harus di kelas dan makan bekal di dalam kelas, ya. Jangan ada yang keluar kelas sampai ada pengunguman tambahan. Mengerti?"

"Aaaah~ sensei~ bosen dong!"

"Iya, sensei! Saya kan nggak bawa bekal!"

"Saya pusing, sensei! Mau liat Momoi-sensei aja!"

"Sensei, saya pengen pipis!"

Dan kelas pun semakin ricuh…

'Tetsu…'

'Kemari, Tetsu. Aku disini…'

"Nah Kuroko, gue harus ke ruang kepala sekolah dulu. Lu jangan kemana-ma- Kuroko?" Kagami celingukan nyari Kuroko.

'Wah kemana nih tuyul satu? Cepet banget ngilangnya!' Kagami garuk-garuk kepala. 'Ah, itu dia! Kenapa dia malah keluar kelas? Nggak denger pengunguman yah? Duh, apa mau ke WC? Bilang kek! Tau gitu kan bisa gue temenin…'

Wets, Kagami… nggak boleh macem-macem di WC loh!

"Woy Kuroko! Mau ke mana? WC di sebelah kiri!" Kagami teriak, tapi Kuroko malah nggak jawab.

'Tega banget sih ini anak.' batin Kagami, 'Yah, dia malah ke atap. Emang enak yah pipis di atap? Yowes… gue ke ruang kepala sekolah dulu.'

Dan Kagami pun pergi meninggalkan Tetsu yang salah arah.


-o-o-o-o-o-


"SENSEI!"

Teppei langsung berteriak ketika sampai di sayap timur. Pemandangan yang pertama dia lihat hanya vampire yang menindih tubuh Hyuga. Dan semuanya berlumuran darah.

"SENSEI!"

Teppei berlari menuju Hyuga. Ditendangnya vampire, yang ternyata untungnya sudah tidak bernyawa, dan memeluk Hyuga erat.

"Bodoh, kan sudah kubilang untuk berhati-hati! Sensei seharusnya mendengarkanku!" teriak Teppei. Walaupun sebenarnya ia berteriak hanya untuk menghina dirinya.

"Aaah… kau berisik, anak nakal… hah, haah… diamlah…" Hyuga berkata pelan sambil membuka perlahan matanya, berusaha melihat murid kesayangannya. "Haa… aku sudah mendengarkanmu, bodoh… lihat, ugh… aku selamat… kan?"

Hyuga mengangkat tangan kanannya pelan, memperlihatkan jarum penuh darah yang sudah menyelamatkan nyawanya.

Teppei menggenggam tangan itu dengan tangan kirinya. "Sssttt… sudah, jangan berbicara lagi. Sekarang kau harus diam. Kita ke ruang UKS sekarang!"

Teppei menyangga tubuh Hyuga dengan kedua tangannya dan mengangkatnya dengan hati-hati.

"Dasar… bodoh…"


-o-o-o-o-o-


Aku terus melangkah. Tidak kupedulikan teriakan Kagami-kun. Yang ada dipikiranku saat ini hanya satu. Suara itu. Ya, suara yang sangat kukenal. Suara yang sudah lama kurindukan.

"Tetsu…"

Dan ini bukan mimpi…

Krieeeet

Aku melangkah ke arah terang itu. Ah, atap sekolah kenapa bisa begitu terang? Atau memang karena ada 'dia'?

Kulihat seseorang berpakaian serba hitam memunggungiku. Tentu, tentu saja aku sangat mengenalinya. Rambut biru tua itu… dan, kulit yang sangat kontras dengan kulit vampire lainnya... ya, segalanya yang hitam.

"Lama tak jumpa, Tetsu." vampire itu membalikan badannya, menatapku dengan seringai dan pandangannya yang tajam.

Menatap Tetsu-'nya' lekat.

Aku hanya bisa diam,

.

.

.

Sebuah mimpi, kah?

.

.

.

Atau kenyataan?


[to be continue...]


Akhirnya chapter ini dipublish juga~~ *tangis bahagia* Maaf sekali minna-san, author satu ini memang sangat teramat super duper lemot dalam mengupdate fanfic *bungkuk badan* aish… sudah berapa bulan fic ini menganggur? *dilempar batu*

Makasih banyak yang sudah membaca, me-review, mem-favorite, dan mem-follow fanfic ini *bungkuk badan* fanfic ini akan terus berjalan selama ada dukungan dan ide yang mengalir dari sang author *bungkuk badan* *yang terakhir ditimpuk sendal*

Sekarang saya munculkan pair KiyoshixHyuuga xD ada reader yang suka? ayo tunjuk tangan~! Author juga penggemar mereka loh~ dan mereka akan jadi pair tetap di fic ini~ *yeayy* Dan pada akhirnya author mulai memunculkan satu chara yang sudah tidak asing lagi, fufufu~~~ ayo tebak ditebak~~

Sedikit tambahan... Kagami hanya tahu bahwa Kuroko tinggal dan diasuh oleh Kise, jadi dia nggak tahu member lainnya yang tinggal di rumah itu. Dan Kise memang sudah dikenal sebagai seorang vampire yang menjadi vampire oleh semua orang, jadi jelas Kagami tahu bahwa Kuroko tinggal bersama seorang vampire walaupun dia yakin bahwa Kuroko 'bukan' vampire ^^

Genrenya author ubah, memang tetep ada unsur humor nya, tapi tema utamanya entah kenapa kalau dipikir lagi seharusnya romance/angst. Mungkin fanfic ini akan menjadi fanfic yang ribet, namun author akan mengemasnya serapi mungkin. Jadi maaf kalau bakal panjang dan lama (updatenya) *ditendang* jadi, tetaplah setia menunggu bacaan dari author aneh ini…

Terima kasih buat Black134, kaizumielric2210, dan reader lainnya!