Real Little Ghost Girl (chapter 3)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

StoryBy©MisaAnaru

Pairing. : SasuNaru/SasuSaku/ItaNaru(Cuma sebagai kakak beradik aja)

Warning : OOC chara, Typo (s), Yaoi, (anti Yaoi? Silahkan tinggalkan laman ini!)

Rated : T (belum cukup umur untuk M)

Genre : Romance / Horror

~Chibi Naruko~

Alur mungkin terlalu cepat, bahkan terlalu lama.

.

.

.

Summary :

Awalnya Namikaze Naruto (18) tidak percaya akan pertemuan dirinya dengan arwah gadis kecil yang meminta pertolongan padanya, pertemuan saat musim panas itulah yang membawa sang Namikaze menuju sebuah gerbang kehidupan yang sangat rumit. Dirinya harus menghadapi kenyataan dimana arwah gadis kecil itu telah membawanya ke dalam kehidupan barunya.

.

.

.

.

You Found Me

.

.

.

"Ruko-chan, kamu dimana? Hey, Ruko-chan" seru Naruto yang sudah berkali-kali memanggil 'roh' cilik, yang biasa hadir menunggu dirinya sepulang sekolah. Sepi, tentu saja. Biasanya Naruko, akan menggodanya setiap ia merasa bosan.

Tanpa Naruko, memang benar-benar sepi. Apalagi, sekarang hanya ada ia, maid dan para butler di mansion megah itu. Sedangkan, paman, bibi serta adik sepupunya sedang pergi ke luar kota. Neneknya pun juga belum pulang dari luar negeri. Mungkin, cukup lama Tsunade berada di luar negeri.

"Hah, dia itu kemana sih" gumam Naruto. Heran, saat dibutuhkan Naruko pasti tidak pernah kelihatan.

Tanpa sengaja, mata sapphire Naruto melirik lukisan yang tempo hari ia lukis. Semburat merah muncul menghiasi kedua pipi chubby nya. Mengingat kata-kata Naruko, yang mengatakan jika bocah di dalam lukisan itu sangat mirip dengan Sasuke.

"Aku ini kenapa sih" tanya Naruto entah pada siapa, sembari menampar pelan kedua pipinya. Naruko yang sedang bersembunyi di atas lemari, terkekeh geli mendengar pertanyaan Naruto. Ia ingin Naruto menjadi Aniki nya. Tentu saja, Naruto baik dan sangat menyayanginya. Meskipun, Naruto tak pernah mengatakannya.

'Naru-nii dengan Sasu-nii? Pasti cocok' Pikir Naruko.

.

.

.

.

* Mansion Uchiha *

Mikoto terlihat murung sampai saat ini. Ia sangat cemas akan keberadaan putra nya. Ia sangat sedih, terlebih mengetahui kepergian Sasuke karena dirinya. Memang tak bisa dipungkiri, jika Mikoto memang sangat menyayangi semua anak-anaknya.

Lantas, kenapa Mikoto terlihat sangat membenci Sasuke saat pemuda 21 tahun itu berada di dekatnya?

Bukan..

Bukan itu maksud Mikoto. Mikoto tidak pernah membenci Sasuke. Ia hanya belum terima jika kematian 'malaikat' nya itu akibat kelalaian putranya. Tapi sikap nya itulah yang ia akui, membuat Sasuke lebih memilih pergi dibanding tinggal di mansion.

Sudah 5 hari kepergian Sasuke. Dan tak ada kabar yang datang dari nya. Semua suruhan ayahnya, juga tak berhasil menemukan Sasuke. Fugaku pun juga sangat cemas, mengetahui jika putra nya kabur dari rumah. Ia juga merasa bersalah, dan menyayangkan sikap istrinya terhadap putra mereka. Tapi mau bagaimana lagi, Fugaku sendiri juga tidak bisa menyalahkan Mikoto, istri tercintanya.

Kekasih Sasuke, Haruno Sakura selalu saja mengunjungi mansion, untuk menemui Sasuke. Akan tetapi, gadis muda ini benar-benar tidak punya sopan santun. Mengira jika Mikoto, adalah orang cacat yang tinggal di mansion Uchiha, membuat Fugaku geram dibuatnya. Ia berpikir dalam diam, apakah saat memilih seorang pacar, anak nya itu dalam keadaan sadar atau tidak? Ia takut jika anaknya salah pilih, dalam menyeleksi pujaan hati.

"Apa sudah ada kabar dari Sasuke?" Tanya Mikoto dengan nada lirih. Fugaku terdiam, bingung mau menjawab apa. "Fugaku-kun" Mikoto memanggil suaminya, yang tengah melamun. "Iya" sahut Fugaku. "Bawa Sasuke pulang, ku mohon" pinta Mikoto.

.

.

.

.

Di lain tempat, Sasuke sendiri pun terlihat sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur. Sudah beberapa hari ini ia tidak pulang ke rumah. Ia sendiri pun sudah memutuskan untuk pindah ke apartemennya, yang tidak seorang pun tahu. Neji, sahabatnya sudah berkali-kali mengirimkan E-mail padanya, untuk segera pulang karena Sakura (kekasihnya) terus mencarinya.

Masa bodoh tentang Sakura. Paling-paling, gadis itu mencarinya untuk merengek dibelikan barang-barang mahal yang sedang trendy. Untuk apa ia pusingkan? Lagi pula ia sendiri juga bukan satu-satunya kekasih yang dimiliki gadis bersurai bubble gum itu.

Berdiam diri di dalam kamar seharian, lama-lama membuat Pangeran Uchiha ini bosan. Setelah menimbang-nimbang hendak kemana ia akan pergi, akhirnya Sasuke memutuskan untuk pergi ke sebuah taman tempat dimana ia bermain saat ia masih kecil.

Entah, apa yang membuatnya berpikiran untuk pergi ke taman yang sudah tidak ada lagi peminatnya itu. Merenung mungkin? Ya, siapa yang tahu. Uchiha kan juga manusia, ada kalanya mereka merasa galau.

« Misa Anaru »

"Memangnya apa yang membuat Nii-san sering ke sini sih?" Tanya Naruko kepada pemuda bersurai pirang yang tengah berjalan di sampingnya itu. Sepulang sekolah Naruto segera menuju taman masa kecilnya, dimana ia bertemu Pangeran Impiannya itu. Naruto tidak pernah melupakan pertemuan dimana ia bertemu dengan seorang bocah bersurai raven 14 tahun silam.

"Tempat ini indah Ruko-chan" jawab Naruto. Naruko sendiri melongok, tidak mengerti mendengar perkataan Naruto.

"Indah" beo Naruko.

Ya, indah..

Naruto suka suasana di taman yang sudah lama ditinggali oleh banyak orang itu. Dimana ada sebuah danau dengan air yang sangat jernih, dan sebuah pohon sakura yang menjadi daya tarik sendiri untuk pemuda bermarga Namikaze tersebut.

"Sangat Ruko-chan" Sahut Naruto.

"Sayang saja, sekarang bukan musim semi" sambung Naruto.

"Memangnya, kalau musim semi kenapa?" Tanya Naruko, dengan mimik bingung yang amat lucu bagi siapa saja yang melihatnya.

Naruto segera mengambil tempat di bawah pohon sakura, yang menjadi tempat favoritnya. Berbagai macam kenangan tercipta tepat di bawah pohon yang masuk ke dalam genus prunus itu.

"Aku suka bunga Sakura" gumam Naruto. "Ruko juga suka, apalagi kalau mereka sedang bermekaran" sahut Naruko, seraya mendudukan dirinya di samping Naruto. Naruko mengangkat satu alisnya, mendengar ocehan gadis cilik itu.

.

.

.

.

Sasuke berdecak kesal saat melihat tempat favoritnya di tempati oleh orang yang tidak ia kenal. Padahal, ia sudah jauh-jauh datang kemari demi duduk merenung di bawah pohon sakura.

"Itu tempat ku!" Seru Sasuke kepada seorang pemuda yang seperti nya masih menjadi siswa sekolah menengah. Mendengar seruan Sasuke, pemuda tersebut menoleh dan mendapati Sasuke yang tengah berdiri tak jauh darinya.

"Pardon, please" pinta pemuda itu.

"It's my place" Kata Sasuke dengan nada jengkel.

Sasuke pun berjalan mendekati pemuda tersebut. "Itu tempat ku da- DOBE" Seru Sasuke terkejut mendapati seorang pemuda yang sangat ia kenali itu. Pemuda yang ia panggil Dobe tersebut, nampak kesal dan menghentak-hentakan kaki nya ke tanah.

"Doba,Dobe,Doba,Dobe, aku ini punya nama tahu" protes pemuda bersurai pirang itu. "Ya,ya,ya, siapa Nama mu? Aku lupa" Kata Sasuke. Naruto (nama pemuda itu) sedikit kecewa mendengar perkataan Sasuke yang tidak mengingatnya.

Saking kesalnya, Naruto pun hendak berjalan meninggalkan Sasuke yang berdiri di hadapannya. Namun, dengan cepat Sasuke menahan pergelangan tangan pemuda 'manis' yang menjadi incarannya. "Princess" Bisik Sasuke, seraya meniup pelan telinga Naruto.

Deg..

Panggilan itu..

Panggilan yang sangat familliar untuknya. Hanya seseorang yang pernah memanggilnya seperti itu. Seseorang yang membuatnya setia menunggu. Menunggu akan janji yang belum pernah ditepati. Janji yang selalu Naruto yakini akan terwujud, walaupun tak tahu benar atau tidaknya. Apakah orang itu...

"Sasuke" Lirih Naruto.

Sasuke menjatuhkan tubuh Naruto ke tanah dan segera menimpa tubuh mungil Naruto. "Princess" Sasuke menyentuh pelan pipi gembil Naruto. "Kau kah itu?" Tanya Sasuke. Naruto tersentak kaget, tanpa terasa air mata nya menetes membasahi kedua pipi kenyal nan lembut miliknya. Sasuke menghapus jejak-jejak air mata di pipi Naruto.

Lembut..

Itulah yang ia rasakan saat pertama kali menyentuh wajah Naruto. Kelembutan yang pernah ia rasakan untuk pertama kalinya. Saat pertama kalinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama, dengan seorang bocah kecil yang pernah ia temui 14 tahun silam.

"Prince" Lirih Naruto.

Sasuke menempelkan dahinya ke dahi Naruto, hingga mereka berdua saling merasakan hembusan nafas masing-masing.

Hingga, sebuah ciuman penuh kasih sayang terjadi. Tak ada emosi dan nafsu, hanya kasih sayang dan kerinduan lah yang mereka rasakan saat ini. Mereka saling merindukan.

"Hmmmppp" merasa persedian oksigen mulai habis, Naruto memukul pelan dada bidang Sasuke agar menghentikan ciuman mereka. Mereka pun saling memandang, Onyx dan Sapphire saling bertemu.

Sebuah kenangan, dimana mereka saling mengagumi satu sama lain pun terulang kembali. "Aku menunggu mu, princess" Bisik Sasuke. Semburat merah, menghiasi wajah Naruto. Sungguh, Naruto benar-benar malu saat ini. "Na-Mi-Ka-Ze NA-RU-TO" eja Sasuke. "Bisa kau beranjak dari tubuh ku? Kau berat Sasuke" Kata Naruto.

Menyadari posisinya sekarang, Sasuke pun segera beranjak dari tubuh mungil Naruto, dan duduk di samping Naruto yang terlihat tengah berusaha duduk. "Aku tak tahu jika akan bertemu dengan mu di sini" Ujar Sasuke. "Ya, aku juga" timpal Naruto.

"Jadi, kau anak yang 14 tahun silam itu?" Tanya Sasuke. Naruto mendelik tajam mendengar pertanyaan Sasuke. Apa-apaan dengan bicara sang Uchiha itu? Sasuke sudah menciumnya, memanggilnya 'Princess', dan sekarang ia terlihat meragukan Naruto.

"Tidak, ku rasa kau dan aku salah orang" Jawab Naruto dengan nada kesal.

"Benarkah? Tapi yang ku ingat, Princess ku itu memiliki bibir semerah mawar, semanis madu, dan memiliki mata sejernih lautan" jelas Sasuke-benar-benar berniat menggoda tunggal Namikaze. Blushing ya blushing, Sasuke sepertinya suka dengan wajah memerah Naruto. Maka dari itu, Sasuke terus menggoda Naruto.

Tanpa disadari Naruto pun mengeluarkan sebuah kalung dengan sebuah cincin yang menjadi bandulnya. Cincin berlambang kipas tradisional jepang, sebuah cincin yang ia dapati saat usianya baru 4 tahun. "Jika bukan kamu yang memberikan ini, mungkin Uchiha lain lah yang sudah memberikan ku ini 14 tahun lalu" Ujar Naruto, dengan mimik sedih.

Sasuke meraih kalung tersebut dari tangan Naruto. "Aku ingat saat seorang balita kecil menangis, dia memang tampak seperti seorang 'Princess' di negeri khayangan" Jelas Sasuke, benar-benar keluar dari sikap aslinya.

"Seorang 'princess' bermahkotakan bunga sakura yang sangat indah dan cocok untuknya" sambung Sasuke.

Naruto terdiam dan memperhatikan cincin berlambang kipas itu. "Cincin ini dulu nampak kebesaran, meskipun dulu aku berbohong jika cincin itu tampak pas untuknya" Ujar Sasuke. Sasuke memasukan jari Naruto ke dalam lubang cincin itu. "Ini adalah cincin ikatan, dimana para pemuda Uchiha mengikat gadis pilihannya. Ini adalah milik ibu ku" jelas Sasuke (lagi).

"Terimakasih" ucap Naruto. Naruto pun memperhatikan jari manisnya, ia tak menyangka jika pada akhirnya ia bertemu dengan pangeran impiannya. Meskipun, ia tahu jika ternyata pangerannya adalah seorang yang sangat menyebalkan baginya.

Tapi melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Sasuke, Naruto semakin yakin, jika cinta itu tidak peduli pada siapa hati itu berlabuh. Entah, pada musuh, sahabat, teman, bahkan pada orang yang tidak pernah bertemu. Karena cinta itu tidak pernah memihak, bahkan memilih.

Tanpa mereka sadari, sosok lain yang tak terlihat nampak terharu melihat kedekatan mereka. Sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Naruko yang bersembunyi di atas pohon itu terharu melihat sang kakak yang pada akhirnya menemukan seseorang yang tepat.

Perlahan-lahan cahaya yang menyinari tubuhnya itu sedikit memudar, pertanda satu keinginannya (yang tak pernah ia tahu) sudah terlaksanakan. Tentu saja, ini terjadi tanpa sepengetahuan gadis lugu tersebut.

.

.

.

.

Sasuke menyantap nikmat nasi goreng yang dibuatkan oleh Naruto untuknya di atas tempat tidur. Sejak beberapa jam lalu, mereka memang sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Hujan deras yang mengguyur kota Konoha membuat Naruto terpaksa bermalam di apartemen mewah milik Sasuke.

Baju sekolahnya pun basah, dan terpaksa memakai baju milik Sasuke. Baju tidur yang nampak kebesaran itu terlihat manis dipakai olehnya. "Kau itu playboy sekali" cibir Naruto saat melihat-lihat tab milik Sasuke.

"Aku? Playboy? Para gadis itu yang memilih ku, mereka memaksa ku untuk menerima cinta dari mereka" Tukas Sasuke.

Sebenarnya Naruto cemburu melihat foto-foto Sasuke bersama mantan-mantannya. Siapasih yang tidak cemburu, saat menemukan kekasih mu masih menyimpan foto saat bersama mantan-mantannya?

"Kau cemburu? Aku akan menghapusnya" kata Sasuke.

Naruto cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa" dusta sang blonde. "Tidurlah!" Seru Sasuke. Naruto tersentak mendengar perintah Sasuke yang meminta dirinya untuk lekas tidur. "T..tidur d..dimana?" Tanya Naruto berusaha keras menyembunyikan wajah blushing nya.

Melihat Naruto nya blushing, Sasuke dengan sengaja nya malah menggoda, pemuda 'manis' itu.

"Tentu saja di sini" jawab Sasuke seraya menepuk-nepuk sisi kanan ranjang yang kosong. "Humm, t..tidak apa-a..apa?" Naruto bertanya lagi. Sasuke menggelengkan kepalanya, (mengizinkan Naruto untuk tidur di sampingnya)

.

.

«Misa Anaru»

Malam semakin larut, akan tetapi Naruto tetap tidak bisa memejamkan kedua matanya. Naruto benar-benar takut dengan suara petir yang menggelegar saling bersahutan. Inilah yang sangat ia takuti.

Ia takut dengan suara petir. Suara petir baginya adalah suara yang sangat menakutkan.

Jduuuaarr dugg..dugg..

"Huuuwwaaaahhhhh...Teme aku takuuuuttt" Jerit Naruto seraya mengeratkan pelukannya pada Sasuke. Sasuke yang tengah tertidur jadi kebangun, begitu mendengar jeritan Naruto. Terlebih Naruto yang memeluk erat dirinya, membuatnya sulit bernafas.

"Ooii, Dobe" Sasuke berusaha menenangkan Naruto, yang ketakutan itu.

Tlekk

Sasuke pun segera menyalakan lampu. Terlihat dengan jelas, wajah Naruto yang nampak pucat. Sasuke menarik tubuh mungil Naruto dan membawanya ke dalam pelukannya. Tubuh Naruto menggigil ketakutan.

"Sudah, ada aku di sini" Hibur Sasuke.

"A..aku t..t..takut, hiks" Isakan kecil mulai terdengar dari bibir Naruto. Sasuke megusap pelan punggung Naruto, untuk menghiburnya. "Sedang terjadi badai, tapi tak apa. Aku ada di sini" Sasuke terus menghibur Naruto.

.

.

.

.

* Mansion Namikaze *

Seorang wanita bersurai merah, terlihat tengah menangis begitu mendengar keponakan kesayangannya belum juga pulang sejak pulang sekolah. Pihak sekolah pun juga sudah mengatakan, jika pemuda bernama Namikaze Naruto itu sudah pulang beberapa jam yang lalu.

Ia bingung, apa yang harus ia katakan pada ibu mertua nya saat mengetahui jika salah satu cucu nya, tidak ada di rumah saat badai tengah terjadi. "Hiks..Naru-chan" Tangisan ibu beranak satu itu terus saja terdengar. Ia khawatir, tentu saja khawatir.

Ia bahkan sudah menganggap Naruto sebagai putra pertamanya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Naruto? Ia pasti akan merasa sangat bersalah pada mendiang kakak perempuannya itu. "Kaa-chan, Nalu-nii belum pulang ya?" Tanya seorang balita bersurai jingga kemerahan pada sang ibu.

Balita itu tak jauh berbeda dengan kondisi sang ibu saat ini. Ia nampak khawatir dengan kakak sepupunya itu. "Sayang, belum tidur?" Tanya wanita muda itu. Balita bernama lengkap Namikaze Kyuubi itu menggelengkan kepalanya pelan. Ia khawatir dengan keadaan kakak sepupunya itu.

« Misa Anaru »

Seorang pemuda bersurai raven ikat kuda, terlihat sangat kelelahan. Sampai detik ini juga, apa yang sedang ia cari tidak juga ia temukan. Padahal, menurut informasi dari teman-temannya, mereka melihat sang adik yang selalu berkunjung ke bar ini.

Suasana di bar milik salah satu sahabatnya itu, nampak sepi. Maklum saja, diluar sana sedang hujan badai. Para pengunjung pun pasti akan mengurungkan niat mereka untuk keluar menikmati jam malam, jika mereka ingin selamat mungkin.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya seorang 'gadis' berparas cantik dengan pakaian ala maid, begitu santun. Itachi (nama pemuda tersebut) sangat heran, dalam diam ia berpikir. Masih adakah seorang gadis cantik, yang begitu santun di sini?

Jika dipikir-pikir lagi, ini kan Bar. Kenapa gadis itu memakai baju maid?

Ah..

Itachi baru ingat, jika Bar yang dikelola sahabatnya ini adalah bar yang memakai tema lolita. Dimana para pegawainya, memakai costum ala maid, berwarna hitam dengan bawahan berenda.

'Ada-ada saja Si Pein itu" batin Itachi sedikit sweatdropped melihat suasana bar milik sahabatnya.

Gadis ber-costum maid itu heran, melihat Itachi yang tidak menggubris pertanyaannya. "Tuan" seru gadis bertampang Bule WannaBe itu. "Ya?" Sahut Itachi. Terpesona kah? Wah, tentu saja. Jarang sekali, Itachi melihat seorang gadis cantik berperawakan Bule seperti ini.

"Tuan, ingin memasan apa?" Tanya gadis itu. Dari kejauhan seorang pemuda ber-Peirching tengah menahan tawa melihat Itachi yang hampir kehabisan nafas , melihat kecantikan primadona nomor.1 di bar miliknya. Pein sendiri pun juga terpesona, tapi mengingat jika dia sudah memiliki seorang kekasih Pein menggagalkan niatnya untuk menjadikan salah satu pekerja nya sebagai kekasih.

"Tidak ada" jawab Itachi, masih mempertahankan wajah Poker Face miliknya. Ya, meskipun dalam hati ia sudah merutuki kecantikan milik gadis yang ada di hadapannya kini.

"Dei-chan" sapaan manja seseorang mengalun lembut, terdengar. Mereka berdua pun menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan rambut yang ditata rapih ke belakang. Pemuda yang sangat Itachi kenal, adalah mantan teman sekolahnya sewaktu di SMA.

"Hidan" Beo Itachi.

Pemuda bernama Hidan itu menoleh, dan terkejut melihat teman lamanya itu. "Oi, tak menyangka akan bertemu dengan mu di sini chi" Ujar Hidan. "Entahlah, aku juga tidak" balas Itachi sengaja menggedikan bahu nya.

"Dei-chan pemuda itu mencari mu lagi" bisik Hidan.

Deidara terkejut mendengar informasi yang ia dapatkan dari salah satu pelanggannya itu. Tanpa aba-aba, gadis cantik itupun segera berlari, bersembunyi di balik pintu ruangan staff. Itachi yang penasaran pun menyusul gadis tersebut ke ruangan staff.

"Kemana Itachi?" Tanya Pein kepada Hidan.

"Dia mengikuti Dei-chan" jawab Hidan, santai.

"Heh? Sepertinya dia jatuh cinta ya" Kata Pein bersyukur pada akhirnya sahabatnya itu menemukan seseorang yang pantas untuk dijadikan seorang tambatan hati.

* Di Ruang Staff *

"Nona, kenapa anda bersembunyi?" Tanya Itachi kepada gadis cantik yang tengah bersembunyi bersamanya di bawah meja. Gadis itu menoleh, dan hampir saja berteriak jika saja Itachi tidak membekap mulutnya. "Sstt, kau akan ketahuan nanti" Ujar Itachi.

Gadis itu mengangguk pelan, menatap Itachi ketakutan setengah mati. Lembut, Itachi menarik pelan tangan Dei-Dei, dan mengajaknya mengumpat di sebuah ruangan gelap yang jarang di datangi para staff lainnya.

Dei-Dei sendiri hanya menuruti perintah Itachi yang menggandengnya-Menyeretnya masuk ke ruangan tersebut.

Dari lubang kecil yang terdapat di pintu ruangan, Itachi mengintip ke luar. Di sana terlihat sosok pemuda bersurai merah maroon tengah berusaha mencari sosok gadis yang sedang bersembunyi di sampingnya itu.

"Deidara, Dei. Dengarkan aku dulu!" Pemuda yang Itachi ketahui adalah seorang pewaris Akasuna corps itu terlihat memanggil-manggil nama gadis tersebut. "Dei" sekali lagi pemuda tersebut memanggil nama sang gadis.

Dirasanya, orang yang ia cari tidak ada. Akhirnya, pemuda berwajah baby face itu segera keluar dari ruangan staff dengan raut wajah kecewa.

"Huft.."

Gadis yang Itachi ketahui bernama Deidara, menghela napas lega, begitu melihat kepergian dari pemuda Akasuna itu. Sang sulung Uchiha, melirik ke samping kanannya dimana gadis itu berada. "Sebenarnya, apa yang terjadi?" Tanya Itachi.

"Tidak ada" jawab sang gadis.

"Aku Itachi, Uchiha Itachi" Itachi memperkenalkan namanya, pada gadis blonde tersebut.

"Aku? Tidak tanya, un" Gumam Deidara (jutek).

"begitukah sikap mu pada orang yang telah menolong mu? Heh? Menyedihkan sekali" Itachi berpura-pura menunjukan tampang kecewanya. Deidara menggigit bibir bawahnya, ia sendiri pun juga tak enak, sudah bersikap demikian pada Itachi.

"M..maaf" lirih Deidara.

"Humm, tak masalah" balas Itachi seraya berjalan meninggalkan Deidara. Merasakan bahwa tak ada yang mengekori nya, Itachi pun menoleh dan mendapati Deidara yang terpaku beberapa meter darinya. Mendengus geli, melihat sikap polos Deidara. Itachi tahu, bahwa gadis berparas manis itu mengira jika, ia benar-benar marah padanya.

"T..tuan muda"

Deidara gagap-ketakutan dengan sosok Itachi yang begitu serius menatapnya.

"Itachi, panggil saja begitu" Koreksi Itachi. "I..Itachi-san"

"Itachi-kun, panggil aku Itachi-kun" lagi, Itachi menbetulkan kalimat Deidara, yang menurutnya salah. Deidara terbelalak mendengar perkataan Itachi, tak salah lagi pemuda dihadapannya kini benar-benar menjengkelkan.

Rasa takut pada Itachi, hilang begitu saja.

"Bastard, tetap saja Bastard! Minggir!" Seru Deidara-mendorong tubuh Itachi, agar tidak menghalangi jalannya.

Grebb

Itachi menahan pergelangan tangan Deidara.

"Akasuna-san, masih di luar" kata Itachi. Deidara memutar tubuhnya, dan memperlihatkan wajah pucatnya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruang staff tersebut.

.

.

.

.

Esok paginya, Naruto yang tumben-tumbennya bangun lebih awal itu beranjak menuju kamar mandi-Hendak mandi tentunya. Seusai mandi, Naruto pun segera bergegas ke dapur guna menyiapkan sarapan pagi untuk Tuan Muda Uchiha, yang masih bergumul manja di atas kasur.

Meskpun jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, tetapi mentari nampak enggan menunjukan sosoknya akibat pengaruh dari hujan badai yang terjadi kemarin sore, hingga larut malam itu. Jadi, suasana langit Konoha nampak sedikit gelap. Karena matahari masih tertutup kabut dan awan hitam di atas langit.

Untunglah hari ini adalah hari Sabtu. Jadi, Naruto tak perlu bersusah payah untuk memulai harinya untuk pergi ke sekolah.

"Si teme itu" umpat Naruto.

Sasuke sepertinya nampak enggan untuk bangun dari tidurnya, dan mengantar sang blonde pulang ke rumahnya. Kesal, tentu saja. Sepertinya, Sasuke berniat menahan Naruto di apartemen miliknya.

Olahan berbagai macam makanan pun akhirnya menjadi menu utama mereka untuk sarapan. Meskipun, semua makanan yang Naruto buat berbahan dasar tomat. Akan tetapi, Naruto begitu pintar dan kreatif mengolah berbagai macam makanan untuk calon suam-

Oke, Naruto mulai blushing jika mengingat hal itu. Sial! Mereka bahkan baru jadian kemarin, kenapa Naruto sudah mengkhayal yang Iya-Iya sih.

Naruto terlonjak kaget saat tiba-tiba saja merasakan, sepasang lengan kekar melingkari pinggang langsingnya dari belakang.

Sasuke menempelkan dagu nya tepat di bahu sang uke. Menghirup aroma citrus alami yang menjadi ciri khas dan candu untuk nya. "Pagi" sapa Sasuke. "Pagi juga, apa kau lapar?" Tanya Naruto, seraya membalik badannya supaya menghadap Sasuke.

"Aku sudah memasak untuk mu, ada dadar tomat, Daging giling saus tomat (ini sih kesukaan Naru-chan:D), nasi yang ku tanak dengan irisan-irisan tomat. Ayo makan!" Ajak Naruto-menarik lengan Sasuke supaya duduk di kursi meja makan. Aroma harum masakan yang Naruto buat, membuat Sasuke tak sabar untuk mencicipinya.

Naruto memandangi wajah Sasuke yang tengah menikmati sarapan paginya.

"Naru-nii" sapa Naruko-tiba-tiba saja datang dari kolong tempat tidur. "Hi, Ruko-chan" sahut Naruto tanpa sadar membalas sapaan dari si kecil Naruko.

Sasuke menghentikan kegiatan makannya, dan memandang Naruto begitu lama. Si blonde pun nampak canggung, mendapati Sasuke yang terus menerus memandanginya. Seolah, ada sesuatu yang tengah di pikirkan oleh si Raven.

"Kau bersumpah melihat Naruko?" Tanya Sasuke datar.

Naruto mengangguk pelan.

"Habis ini, aku akan mengajak mu ke suatu tempat" Kata Sasuke kembali meneruskan acara santap paginya.

.

.

.

.

Naruto hanya memandang lekat sebuah gundukan tanah dengan sebuah nisan bertuliskan sebuah nama yang sangat ia kenali. Sekarang di sinilah mereka berdua berada. Di sebuah makam, dimana Naruko di semayamkan. Naruto sendiri pun, heran kenapa Sasuke membawanya kemari.

"Ini-"

"Makam Naruko" sela Sasuke.

"Kenapa kau membawa ku ke sini?" Tanya Naruto. Sasuke memegang lembut jemari Naruto, dan membawanya ke dada bidang miliknya. Debaran jantung Sasuke benar-benar dapat Naruto rasakan. Begitu cepat, sangat cepat, Sasuke merasakan apa yang juga ia rasakan. "Apa kau akan terus bersama ku, meskipun kau telah mengetahu apa yang sebenarnya telah terjadi?" Sasuke balik bertanya.

Naruto mengangguk lagi, mendengar pertanyaan Sasuke. Dengan heran, ia menatap wajah tampan milik Sasuke. Tatapan sendu Sasuke, yang menatap gundukan pusara di hadapan mereka. Naruto yakin, Naruko lah kelemahan Sasuke selama ini. Walaupun, sang Raven tak pernah mengatakannya secara terus terang.

Sasuke orang yang pandai menyembunyikan perasaannya. Apakah itu kelebihan seorang yang sempurna? Benar-benar sulit untuk di tebak.

"Apa menurut mu, aku menyayanginya?"

"Ya, kau menyayanginya, Teme" Jawab Naruto.

"Kau yakin?" Sasuke sedikit ragu dengan apa yang dikatakan Naruto.

"Jika kau ragu, kau tidak akan pernah tahu perasaan mu yang sesungguhnya pada adik mu sendiri" Jelas Naruto.

Sasuke menatap lekat makam Naruko. Rasa bersalah itu memang tidak akan pernah bisa lepas dari hidupnya. Bersalah, bersalah, dan bersalah. Hidup Sasuke serasa hampa, jika mengingat bagaimana kematian sang adik yang terjadi tepat di hadapannya itu.

Ia merutuki dirinya dalam diam, yang tak bisa melakukan apa-apa untuk sang adik saat dimana sang adik tengah meregang nyawa.

"Itulah kesalah terbesar ku" Sasuke berkata dengan nada yang begitu lirih. "Kau menyayanginya Sasuke! Meskipun kau menyangkal, kau tetap akan terus menyayangi Ruko-chan" Timpal Naruto.

"5 tahun berlalu, akan tetapi sulit bagi ku untuk melupakannya" lirih Sasuke.

"Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput Sasuke" Sahut Naruto. "Apa dia akan memaafkan ku, Naruto?" Tanya Sasuke.

"Dengar, aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada Naruko hingga membuat mu seperti ini. Tapi, ku mohon! Ikhlaskan Naruko" Pinta Naruto.

Flashback On

"Sasu-nii, Sasu-nii" Oceh seorang gadis kecil berusia 5 tahun, dengan sebuah boneka beruang berwarna jingga di pelukannya. Gadis cilik itu terus mengikuti sosok pemuda berusia 16 tahun, yang ia panggil 'Sasu-nii'.

Pemuda berkulit ala blaster itu tampak cuek, dan tidak peduli dengan gadis cilik yang begitu menggemaskan.

"Sasu-nii, luko ikut ya" Rengek gadis cilik itu. "Hn" jawab pemuda bernama Uchiha Sasuke itu. 5 tahun memang sudah berlalu, bayi mungil yang diadopsi kedua orang tua nya itu sudah tumbuh menjadi sosok bocah kecil yang sangat lucu dan menggemaskan.

Naruko terus saja mengekori sang kakak dari belakang. Sosoknya yang dibalut dress putih selutut nampak manis dan cocok untuknya. "Tou-chan, Tou-chan, Luko ikut Sasu-nii ya" Naruko meminta izin kepada sang ayah yang sedang membaca koran mingguan miliknya.

"Boleh, tapi Ruko-chan harus cium Tou-chan dulu" Kata Sang ayah yang meminta ciuman di pipi dari putri kecilnya itu. Tanpa ragu, Naruko segera mengecup kedua pipi Fugaku. "Aligatou, Luko sayang Tou-chan" seru Naruko.

Mikoto dan Itachi tertawa pelan melihat sikap malaikat kecil yang sudah 5 tahun lamanya, tinggal bersama mereka.

"Tunggu, Nii-chan! Luko mau cium Itachi-nii, Kaa-chan dan Jii-chan dulu" Naruko meminta Sasuke menunggunya.

Naruko pun berlari-lari sambil mengecup keluarganya secara bergantian. Suatu hal, yang sangat berkesan untuk Mikoto,Itachi juga sang kakek, Madara Uchiha. Mereka gemas melihat sikap Naruko yang terlampau riang itu.

"Kok tumben sih, Ruko mau cium pipi Nii-chan?" Tanya Itachi.

Naruko yang tengah mendapatkan ciuman di pipi chubby nya dari sang ibu, terdiam sejenak. Mimik wajahnya terlihat sedang ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin saja adalah kata-kata terakhir, yang ia katakan.

"Luko sayang Kaa-chan, Tou-chan, Itachi-nii, Jii-chan, dan Sasu-nii" Naruko mengatakan kata-kata ambigu yang kali ini terdengar begitu hambar, untuk Sasuke.

"Luko mau mencium kelualga Luko, Luko takut kalau Luko gak bisa cium Kaa-chan, Tou-chan, Jii-chan dan Ita-nii lagi" Sambungnya.

Deg..

Kata-kata Naruko, berhasil membuat jantung Sasuke berdetak cepat. Perasaan kehilangan menyeruak masuk ke rongga dadanya. Semua keluarganya tertawa pelan, mendengar ocehan Naruko. Tapi tidak untuk Sasuke, Sasuke merasakan jika hari ini adalah hari terakhir Naruko mengatakan jika gadis kecil itu sangat menyayanginya.

« Misa Anaru »

Sasuke lagi-lagi harus berdecak kesal saat Naruko mengatakan 'sayang' kepadanya. Padahal, gadis cilik itu sudah mengatakannya setiap saat, dan membuat kuping pemuda Uchiha itu terasa panas. "Hentikan ocehan mu itu, idiot!" Gertak Sasuke.

Naruko terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan kecilnya. Baru kali ini, Sasuke memanggilnya Idiot. Naruko menundukan kepalanya dalam-dalam tidak berani memandang Sasuke.

"Kalau Nii-chan tidak mau dengal, Luko bilang kalau Luko Sayang Nii-chan, Luko janji ini hali telakhil Luko bilang sayang ke Nii-chan" Lirih Naruko.

"Apa yang kau katakan?" Tanya Sasuke.

.

.

Sesampainya mereka di cafe, tempat dimana Sasuke hendak berkencan dengan kekasihnya. Naruko terus saja diam, dan tidak seperti biasanya. Sebenarnya Sasuke, merasa aneh dengan sikap sang adik yang tiba-tiba saja, bersikap tenang dan tidak banyak bicara.

"Nii-chan, Luko mau main di taman itu boleh tidak?" Tanya Naruko berhati-hati pada Sasuke yang tengah menikmati suapan dari Sakura, kekasihnya.

Sasuke segera menoleh ke arah Naruko, dan menatapnya dengan tatapan 'apa-kau-tidak-melihat-ku-sedang-apa'. Mengerti dengan tatapan sang kakak, Naruko lagi-lagi menundukan kepalanya, ia terlihat begitu murung.

Melihat sang adik murung seperti saat ini, Sasuke menjadi tidak tega. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memenuhi keinginan Naruko. "Jika, kau berjanji ini adalah terakhir kalinya kau mengajak ku, ke tempat konyol itu" Kata Sasuke.

Naruko mengulas senyum bahagia begitu Sasuke setuju untuk menemaninya bermain di taman itu.

"Luko janji, ini terakhir kalinya"

Kemudian Naruko mengacungkan kelingkingnya pertanda setuju, Sasuke pun dengan malasnya, membalas kelingking mungil adik perempuannya itu. Tanpa, ia ketahui jika Naruko benar-benar menepati janjinya.

Sakura benar-benar jengkel, begitu mendengar perkataan Sasuke yang mengajaknya untuk menemani Naruko bermain terlebih dahulu, dibanding pergi ke butik untuk berbelanja. Dengan terpaksa, akhirnya Sakura mengikuti keinginan Naruko.

.

.

"Yuhhhuu, ayo Nii-chan ayun telus" Naruko berteriak girang saat Sasuke mengayunkan ayunan yang tengah ia naiki itu. Sakura sendiri nampak malas, memandang keakraban kakak beradik tersebut. Sudah 1 jam lamanya ia menunggu Naruko berhenti bermain di taman. Ia pun mencari cara, supaya gadis kecil itu mau menghentikan permainan konyolnya itu. Hingga, akhirnya ia mendapatkan sebuah ide.

"Sasuke-kun, aku haus" rengek Sakura.

Sasuke pun menghentikan gerakannya, dan membuat Naruko heran dan mengentikan tawanya. "Nii-chan" beo Naruko.

"Kau haus? Tunggu di sini, aku akan-"

"Tidak, aku mau bersama mu berdua saja. Ada hal yang harus kita bicarakan" sela Sakura-takut jika rencananya akan gagal.

"Kalau begitu kita-"

"Kenapa tidak suruh Naruko-chan saja?" Usul Sakura.

Sasuke pun melemparkan arah pandangannya, ke arah sang adik. Naruko sendiri balas memandang sang kakak, dengan tatapan polosnya. "Kau bisa membelikan minuman, di seberang sana?" Tanya Sasuke pada sang adik-seraya menunjuk sebuah toko yang berada di seberang jalan.

Naruko mengangguk pelan. Dalam benaknya, ia melakukan hal itu hanya untuk Sasuke. Ia ingin Sasuke menyayanginya, dan menganggap keberadaannya. Maka, dengan cara menurut di perintah oleh Sasuke, adalah cara untuk Sasuke menganggap jika Naruko selalu ada untuknya.

"Apa kau bisa menyebrang?" Tanya Sasuke. Ia sendiripun juga cemas, dengan sang adik.

"Tentu saja, Uchiha itu kan tidak boleh lemah" jawab Naruko.

Sasuke pun segera memberikan beberapa lembar uang untuk Naruko. Tanpa pikir panjang, Naruko pun segera bergegas pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura di taman.

Setelah kepergian Naruko, Sakura pun segera bergelayut manja pada Sasuke. Merasa senang, jika ia telah berhasil menjauhkan Sasuke nya dari Naruko.

"Apa yang hendak kau katakan?" Tanya Sasuke.

Baru saja, hendak menjawab tiba-tiba terdengar suara keributan di jalan raya.

"ADA YANG TERTABRAK,TOLONG!" Teriakan seseorang meminta pertolongan.

Sasuke terkejut dengan teriakan tersebut. Ia begitu khawatir dengan sang adik. Tanpa menghiraukan teriakan Sakura yang memanggilnya, Sasuke pun bergegas menuju keramaian tersebut.

Jantungnya nyaris berhenti saat melihat korban tabrak lari itu. Sosok yang begitu familiar untuknya tengah tergolek dan bersimbah darah menatap sendu dirinya.

"NARUKO" Jerit Sasuke.

"N..nii-chan" Lirih Naruko.

Sasuke pun segera membawa Naruko ke pangkuannya. Naruko mengulas senyum, begitu merasakan tubuh kecil nya berada di pangkuan sang kakak.

"Ruko, ku mohon bertahanlah" Pinta Sasuke.

"Nii-chan.."

"Ru-"

"Nii-chan, L..Luko s..s..sayang Nii-chan! M..meskipun Nii-chan malah, tapi Luko s..selalu s..sayang Nii-chan" Sela Naruko.

Sasuke sudah tidak peduli lagi dengan darah Naruko yang mengotori baju nya, untuk pertama kalinya ia merasa takut jika harus, kehilangan sosok yang bahkan tak pernah sekalipun ia lihat keberadaannya.

"L..luka, enggak ingkal j..janji kan,Nii-chan?" Tanya Naruko.

Saat itu juga, Sasuke teringat dengan janji terakhir Naruko. Ia belum siap, jika harus kehilangan Naruko. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. "Bertahanlah, Imouto!" Pinta Sasuke, Naruko terlihat tengah berusaha bertahan. Akan tetapi takdir tuhan berkata lain. Naruko sempat mengulas senyum, sebelum pada akhirnya ia menutup rapat kelopak matanya. Malaikat kecil keluarga Uchiha itu kini menutup matanya untuk selama-lamanya, tawa yang selalu terdengar kini sudah tak terdengar lagi. Sinarnya pun telah redup, seiring tertutupnya sapphire biru yang selalu menunjukan sinar kebahagian di dalamnya.

Hujan deras membasahi kota, seakan mengantar sosok malaikat itu pergi kepangkuan sang pencipta. Sasuke sudah tak peduli lagi, dengan guyuran hujan yang membasahi tubuhnya. Ia tetap memeluk tubuh kecil Naruko, seraya meminta Naruko supaya membuka kelopak matanya kembali. Namun, apa daya. Teriakannya itu tidak akan pernah bisa menyalakan sinar malaikat kecil itu bersinar kembali. Tuhan, telah mengambilnya. Mengambil sesuatu yang sangat berharga dan tidak pernah diketahui olehnya.

Flashback OFF

"Jika waktu bisa diulang, ingin rasanya aku mengulangnya" Ujar Sasuke. Naruto yang masih syok mendengar cerita Sasuke tentang Naruko pun merasa iba, melihat Sasuke yang masih terbayang-bayang oleh rasa bersalahnya.

Karena hal itu kah, Sasuke menjadi seorang berpribadian keras seperti ini? Seakan, pemuda Uchiha itu menutup hatinya dan berpura-pura tidak peduli tentang Naruko. Padahal, jauh di lubuk hatinya Sasuke sangat menyayangi Naruko, lebih dari apapun.

Melihat kematian Naruko tepat di depan matanya, membuat Sasuke begitu syok dan sulit untuk melupakan hal itu. Rasa bersalah, masih setia bersemayam di lubuk hatinya. Naruto, paham betul apa yang Sasuke rasakan. Kehilangan orang yang kita cintai, terkadang memang sulit untuk di terima.

Naruto mengelus pelan punggung Sasuke, menguatkan pemuda 21 tahun itu menjalani kehidupannya. Sasuke terlalu lama memendam rasa bersalah itu sendirian. Demi menghilangkan rasa bersalahnya, Sasuke rela menjadi seorang bad boy, dan suka bermabuk-mabukan.

Miris hati Naruto, jika harus mengingat Sasuke yang harus menjalani hidup nya yang sangat sulit itu. Ia sendiri pun, tidak yakin jika ia bisa setabah pemuda bersurai Dark blue tersebut.

Lembut, di sentuhnya bahu Sasuke.

"Semua sudah terjadi, dan mulai sekarang kau harus bisa meng-ikhlaskan kepergiannya" Jelas Naruto.

Sasuke mengangguk pelan.

"Bantu aku Naruto,bantu aku" pinta Sasuke. Naruto pun memeluk erat tubuh yang lebih besar darinya itu. Memberikan kekuatan untuk, membangun kepercayaan sang Prince'nya kembali. "Aku pasti membantu mu, Sasuke" Balas Naruto, mengeratkan pelukannya pada Sasuke.

Sinar yang berkilauan di tubuh Naruko, pun perlahan menghilang lagi. Naruko sendiri pun memperhatikan lekuk tubuhnya. Merasa suatu keajaiban telah terjadi. Ia tidak tahu apa itu, dan ia juga tidak tahu kapan ia bisa pulang ke surga. Akan tetapi, ia yakin. Naruto bisa membantu dirinya. Karena, dari awal Naruto memang orang pertama, yang menjadi pilihannya.

Hah, seandainya kau tahu Naruko..

Tinggal, menunggu beberapa langkah lagi, kau bisa pulang ke surga...

Bersabarlah Naruko..

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hi, Minna-san. Misa-chan kembali, Update kilat? Ya, dan mungkin Misa bakalan Update seminggu sekali. Dan pastinya, dengan bantuan Naru-chan dong pastinya. Dan terimakasih atas Review nya. Aku suka bacanya. Yosh, sampai jumpa lagi Minggu depan^^

Mind To Review?