LOVING YOU

Di chap ini ada adegan smooth lemon.

Happy reading

.

.

LOVING YOU

Seorang pemuda dengan rambut kuning cerah dan wajah rupawan itu terlihat berantakan. Kemeja yang sedikit kusut serta kancing yang tidak terkunci dengan benar. Dengan langkah timpang ia berjalan menuju ke perpustakaan. Ia malas dan lelah. Ingin rasanya ia membakar semua tugas yang di berikan padanya. Minggu-minggu ini adalah, minggu yang berat bagi seorang Naruto. Dimana hari-harinya di kampus di warnai dengan tumpukan tugas makalah, hafalan serta ulangan. Rasa-rasanya dunia ini akan kiamat bagi nya.

Setelah menyewa sebuah buku tebal, ia mendudukan diri di sudut ruangan dan mulai menyalakan laptopnya.

"Oke, aku harus tenang. Aku mulai dari mana ya—" Gumam nya lalu membuka buka dengan sampul hijau itu dan membaca isinya.

"Tidak begitu sulit. Mungkin aku akan segera menyelesaikannya dan segera menemui Sasuke. Baiklah, berjuanglah Naruto!" bisiknya memberi semangat pada dirinya sendiri lalu mulai mengetik pada lembar miscrosoft word.

Dengan penuh keseriusan dia menatap di layar monitor, jari tangannya sibuk mengetik di keyboard dan sesekali ia buka buku untuk menambah refrensi. Ini adalah permulaan yang bagus untuk seorang Namikaze mengerjakan tugas.

.

.

"Neji senpai. Jangan ganggu aku." Ucap Sasuke saat ia sedang asyik membaca novel di kelas yang kini sepi karena jam kuliah sudah berakhir sekitar 20 menit yang lalu.

"Kau mengacuh kan ku Sasu. Kau ingin aku pergi." Kata Neji dengan nada sedih yang langsung membuat Sasuke menutup novelnya.

"Aku tidak berkata begitu. Aku hanya ingin membaca tapi dari tadi senpai mengajak ku mengobrol terus." Kata Sasuke kesal lalu memasukan novelnya dalam tas. Sungguh, sekarang Sasuke hanya ingin beristirahat dan membaca novel kesukaannya. Ia sengaja ingin berdiam diri di dalam kelas tapi malah mantan pacarnya mengganggu nya sedari tadi.

"Aku ingin mengajak mu makan siang di kafe. Tapi kau tidak mendengarkan ku." Neji memandang lembut pemuda yang sedikit lebih kecil darinya tersebut.

"Aku sedang tidak nafsu makan. Sebaiknya senpai pergi sendiri saja." Lagi-lagi Sasuke menjawab dengan ketus. Ia sangat membenci seseorang yang mengganggu kesenangannya. Termasuk disini adalah membaca novel.

"Tapi aku ingin mengajak mu Sasu. Kau menolak ku?" tanya Neji lalu mengusap kepala Sasuke pelan.

"…." Sasuke diam. Ia bingung apa sebaiknya ia menerima ajakan Neji atau menolaknya. Sebenarnya ia ingin pergi karena ia juga sedikit merindukan mantan kekasihnya ini, tapi ia juga sedang malas karena cuaca di luar panas. Terlebih lagi, bagaimana kalau Naruto sampai tahu ia sedang pergi berdua dengan keturunan Hyuga ini, bisa-bisa Neji habis di tangan Naruto. Terkadang ia bingung melihat betapa proctective Naruto dalam menjaga nya. Dilarang keluar dengan teman pria dan wanita, harus menjawab telpon atau pesan yang dikirim Naruto padanya dan yang lebih parah, ia tidak boleh berangkat sendiri ke kampus selain Naruto yang mengantar. Dia bukan kekasihnya tapi perilaku Naruto yang seenaknya sendiri itu seakan-akan Sasuke sudah resmi jadian dengannya.

"Kau tidak menjawab pertanyaannku Sasu." Kata Neji lalu menyentuh pipi mulus Sasuke.

"Baiklah aku akan ikut dengan senpai." Jawab pemuda keturunan Uchiha ini yang dibalas dengan lengkungan senyum lebar oleh Neji.

.

.

.

Naruto terlihat sibuk memencet nomor yang ada di handphonenya. Berkali-kali ia coba hubungi nomor tersebut namun tidak di jawab. Ia menggeram kesal lalu masukkan handphone nya dalam saku celana. Perlahan ia langkahkan kakinya menuju kelas yang ada di lantai atas.

Langkah kaki itu berhenti saat pintu kelas yang ia datangi tertutup rapat. Tidak ada suara apapun yang ia dengar, bahkan cenderung sepi. Koridor terlihat lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang berlalulalang. Setelah memastikan kelas itu tidak ada perkuliahan ia geser pintu itu dengan perlahan. Suasana sunyi seperti pemakaman yang ia dapat. Meja perkuliahan tertata rapi dan tidak ada satu pun mahasiswa yang tertinggal. Lagi-lagi pemuda dengan rambut kuning ini menggeram kesal layaknya singa. Ia gebrak meja dosen dengan keras.

"Dimana dia—" katanya kesal lalu mencoba menghubungi nomor yang ada di ponselnya. Ia mengumpat kasar lalu menendang kursi hingga patah menjadi dua bagian.

Matanya berkilat merah. Ia mendesis mengerikan dengan aura seram menguar di sekelilingnya. Ia emosi sekarang. Apapun yang ada di sampingnya menjadi pelampiasan kekesalannya.

"BRAKK—!" ia angkat meja dosen yang besar itu lalu membantingnya ke tembok kelas. Meja yang terbuat dari kayu itu tak berbentuk lagi. Ia usap debu yang menempel pada wajah nya. Ia meludah lalu membuang nafas. Naruto berpikir, tidak ada gunanya ia marah-marah dan membanting barang-barang yang ada di sana. Yang ada itu hanya membuatnya mendapat masalah besar. Ia sisir rambutnya kebelakang lalu memejamkan mata.

"Baiklah. Aku akan mencarinya sekarang. Pasti pemuda dari Hyuga itu. Beraninya dia menggoda Sasuke ku." Kata nya pelan lalu ia tenteng tas ransel dan berjalan keluar kelas.

Langkahnya berat dan pasti. Matanya memecing marah serta aura hitam yang berkabut di sekelilingya. Bibir tipisnya menyungging senyum yang mengerikan, membuat siapapun yang berjalan melewatinya bergidik ngeri tak berani menyapa.

"Naruto sedang marah. Jangan dekat-dekar dengannya." Kata seorang mahasiswa yang di lewati Naruto pada temannya yang lain.

"Benarkah. Siapa yangmembuatnya marah?" tanya temannya lagi sambil memandang takut-takut punggung Naruto yang berjalan menjauh.

"Entahlah. Tapi sebelumnya aku melihat dia masuk kedalam kelas Sasuke lalu terdengar suara ribut disana." Kata pemuda itu kemudian berjalan menuju kelas yang sebelumnya di datangi Naruto

Sungguh yang menyapa pengelihatan kedua mahasiswa ini adalah pemandangan yang mengerikan. Dimana kelas yang rapi dan bersih, kini terlihat seperti terkena bencana Tsunami. Meja serta kursi dosen hancur, meja perkuliahan yang patah dan berserakan, serta papan white board yang miring dan hampir lepas dari paku yang tertempel di tembok.

Inilah yang terjadi bila seorang Namikaze Naruto emosi. Semua akan remuk dan hancur tak tersisa. Entah apa yang terjadi dengan Neji dan Sasuke bila ketahuan, mungkin mereka akan memiliki nasib yang sama dengan meja dan kursi disana

"Mengerikan—!" kedua mahasiswa ini berkata berbarengan dengan tubuh gemetaran serta keringat dingin yang menetes dari dahi.

.

.

.

Sebuah mobil sport dengan warna merah, membelah jalanan yang yang padat dengan kecepatan tinggi. Beberapa pengendara lain yang menjadi korbannya, mengumpat kasar melayangkan protes. Seakan tidak peduli, mobil mewah merah itu kembali melajukan perjalanan dengan kecepatan yang tidak dapat di tolerir lagi.

"Fuck—!" Naruto membanting setir saat lampu merah menjebaknya. Ia sangat emosi, bahkan beberapa kali ia hampir merenggang nyawa dengan mengendarai dengan kecepatan penuh. Hatinya panas dan penuh emosi. Ia tidak akan segan-segan lagi dengan pemuda Hyuga itu sekarang. Ia akan membunuhnya dan bila perlu ia mutilasi mayatnya lalu mengirimnya ke neraka. Dia yang sudah bermain-main dengan Namikaze Naruto, hanya kesengsaraanlah yang di dapat.

"Baiklah. Nikmati hidup selagi bisa Neji, karena sebentar lagi aku akan menghabisi mu…khe..khe..khe—" Kekehan Naruto terdengar sangat mengerikan.

Saat lampu berubah hijau, Naruto kembali melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan.

.

.

"Nah sudah sampai. Sasuke turunlah." Kata Neji lalu mematikan mesin mobilnya saat sampai di depan aprtemen Sasuke. Neji menungu namun tidak ada balasan yang ia dapat. Dengan perlahan ia intip kursi Sasuke yang ada di sebelahnya. Ia tersenyum tipis saat ia lihat malaikatnya sedang tidur memejamkan mata.

"Sasuke—" Ia guncang tubuh itu namun si empunya malah mendekur halus. Neji membuang nafas.

"Baiklah. Aku tidak memiliki pilihan. Aku akan menggendongmu kedalam." Kata nya lalu membuka sefty belt yang melilit di tubuh Sasuke. Ia turun lalu berputar.

"Ne—kau selalu seperti ini bila keluar bersama ku. Kau tidak pernah berubah Sasu." Neji berkata pelan lalu mengangkat tubuh itu dan menutup pintu dengan kakinya.

.

"Brush..!" Neji membaringkan Sasuke saat sudah memasuki kamar apartemennya.

Tak sedikitpun Neji menggeser pandanganya pada sesosok makhluk yang kini sedang terbaring di ranjang empuk di sana. Mata yang tertutup, bibir merah muda yang membuka, serta lekuk tubuh yang terkespos membuat pemuda keturunan Hyuga ini meneguk ludah berulang kali. Dengan perlahan Neji mendekat kearah ranjang lalu menidurkan diri di samping Sasuke. Ia hirup aroma shampo yang menguar dari rambut Sasuke, membuat imannya sedikit goyang.

"Sasuke—" panggil Hyuga itu lembut sambil menciumi telinga Sasuke.

"Nggh." Respon Sasuke mengeliat tidak nyaman dalam tidurnya.

"Aku tidak tahan—" tambah Neji kini tangannya mulai menyusup di balik kemeja putih yang pemuda Uchiha itu kenakan.

"Ukh—nngh." Sasuke hanya menggeliat dan tidak membuka mata.

"Kau menikmatinya, hn—" Jilatan lidah berlabuh di leher putih itu. Seketika Sasuke membuka mata. Ia merasa berat dan basah. Ia tidak nyaman.

"Sen..senpai —!" desah Sasuke pelan saat gigitan kecil ia terima di lehernya.

"Kau sudah bangun Sasu." bisik Neji pelan lalu kembali ia jilat telinga Sasuke yang telah basah oleh liurnya.

"Hen..hentikan..akhh." kata Sasuke berontak sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak suka dengan sentuhan Neji.

"Kau menolak ku. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri." Neji menggerakan telapak tangannya dengan seduktiv di selangkangan Sasuke.

"Hentikan...kumohon..akkhh!" Sasuke memekik pelan saat dengan tidak sabar Neji merobek kemeja yang Sasuke kenakan. Kewarasan Neji sudah tersapu bersih terganti oleh hawa nafsu yang mulai menggerogoti hatinya.

"Sasu..mmph..mppck—" Neji memanggut bibir tipis Sasuke dengan beringas dan kasar.

"Sen..pai..mmphh—" Sasuke berkelit. Ia benci dan marah pada mantan kekasihnya ini. Ia tutup rapat mulutnya, tidak mengizinkan lidah Neji masuk kedalam.

"Sasuke buka mulutmu!" Bentak pemuda Hyuga tersebut kasar lalu ia jambak rambut Sasuke.

Sasuke Pov

"Sasuke buka mulutmu!" Bentak Neji padaku lalu tanpa aba-aba ia jambak rambutku.

"Sa..sakit—" Keluhku lalu tanpa ku sadari air mataku menetes deras.

"Ini lah akibatnya kalau kau tidak menuruti ku!" raung Neji lalu membuka kemeja yang di kenakannya. Mata ku membola besar. Ini tidak bagus, aku harus lari.

"Tidak..ku mohon senpai..jangan—" pintaku dengan panik lalu bergerak mundur. Tatapan Neji sungguh membuat ku ketakutan. Tubuhku gemetar hebat, suaraku serak dan pipiku basah oleh air mata.

"Kau mau lari, Hah!" Aku menggeleng lemah. Aku tidak sanggup untuk berkata-kata. Aku takut. Tidak pernah sekalipun Neji berbuat seperti ini. Dia seperti bukan manusia.

"Lalu kenapa kau menghindari ku?" tanyanya bingung lalu tersenyum mengerikan. Aku meneguk ludah ku berkali-kali. Ingin sekali aku menjawab, namun tidak ada satupun suara yang keluar dari mulutku.

"Kau mencintaiku bukan. Jawab aku Sasuke!" tangis ku semakin keras. Aku tidak sanggup untuk menahannya. Siapapun tolong aku. Aku takut. Mungkin bila aku tadi menunggu Naruto senpai, tidak akan berakhir seperti ini. Aku menyesal.

"Maafkan aku Naruto senpai." Bisik ku pelan lalu menutup mata. Apapun yang terjadi padaku aku tidak peduli. Seandainya saja Naruto datang dan menolongku.

"Aku akan memiliki mu seutuhnya,Sasu—"

.

.

Naruto Pov

Aku berlari kencang menuju apartemen Sasuke. Firasat ku sangat tidak enak, terlebih lagi aku melihat mobil Neji yang terparkir di luar. Sial, kenapa lari ku lambat sekali. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Sasuke ku. Nafasku tersengal-sengal, dadaku sesak dan aku butuh oksigen lebih banyak. Setelah lebih dari 10 menit aku berlari dari lobi, akhirnya pintu apartemen Sasuke terlihat.

"TOK-TOK-TOK"

"SASUKE!" Panggilku dengan lantang. Ku coba membuka namun pintu terkunci dari dalam.

"DOK-DOK-DOK!" Ku gedor dengan tidak sabaran pintu tersebut, ingin rasanya ku dobrak paksa. Namun akal sehat ku masih berfungsi dengan baik. Walaupun hati ku sudah panas dan emosi meluap aku masih tidak melupakan tata karma.

"SASUKE—SASUKE. BUKA PINTU NYA!" Aku meraung keras, aku tidak peduli bila suara ku akan mengganggu tetangga sebelah apa tidak. Yang ada dalam otak ku adalah Sasuke dan Sasuke. Aku panik. Berkali-kali aku menggedor-gedor pintu seperti orang kesetanan. Apa mereka berdua tidak di sini, tapi itu tidak mungkin karena sudah jelas mobil Neji terparkir di luar. Namun perasaan ku benar-benar tidak enak. Insting ku mengatakan kalau mereka berdua ada di dalam. Apa aku dobrak saja pintunya.

"SASUKE!" Teriak ku lagi kini semakin kencang. Bahkan aku sampai terbatuk dan tenggorokan ku sakit seketika.

"Prang!" aku berjengit saat terdengar suara pecahan kaca dari dalam.

Berarti di dalam benar-benar ada orang. Kembali ku gedor pintu.

"DOK-DOK-DOK!"

"SASUKE!"

" HENTIKAN ARGH!" Teriakan itu adalah Sasuke. Aku yakin itu suaranya. Apa yang terjadi di dalam. Habis sudah kesabaran ku. Dengan kekuatan penuh ku tendang pintu hingga terlepas dari angselnya.

Normal Pov

"BRAKHH!" Pintu terbuat dari kayu itu rusak akibat tendangan maut dari Naruto. Dengan berlari ia masuk kedalam. Ia tolehkan kepalanya dengan panik, mencari dimana sekira kedua manusia itu berada. Mata nya berkilat merah, alisnya terpaut dan mulut yang mendesis mengerikan. Otaknya sudah tersapu bersih terganti oleh bisikan setan yang ingin segera menghabisi pemuda dari klan Hyuga tersebut.

.

"Kumohon senpai hentikan. Arghh!" Sasuke berteriak keras saat dengan kasar Neji memasukkan satu jarinya dalam anus Sasuke. Sakit dan perih membuat bungsu Uchiha tersebut menangis dan meraung kesakitan. Ia gelengkan kepalanya mencoba mengusir rasa sakit yang ia rasakan.

"Ku mohon, hentikan senpai..hiks..hiks..hentikan—" Pinta Sasuke dengan nada gemetar dan tatapan iba, namun itu malah membuat nafsu Neji menggelegak liar.

"Menangislah Sasuke. Kau membuat ku bernafsu melihat air mata mu itu." Kata Neji kembali ia tambah satu jari lagi .

"ARRGGGHH!" Raung Sasuke keras. Lemas dan gemetar, tubuh nya menggigil menahan kesakitan yang luar biasa.

"KAU—" Naruto meraung keras. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ia bisa menemukan kedua manusia tersebut di kamar atas. Namun pemandangan yang ia dapat sungguh membuat amarahnya berkobar. Tanpa tendeng aling-aling ia tarik rambut panjang Neji lalu memberinya pukulan keras.

"BUAGGHH!" Bogem mentah di terima Neji hingga membuatnya beguling kesamping ranjang.

"Ukh..sial!" Neji shock ia tak menyangka perbuatannya akan di ketahui seseorang. Dan yang lebih menngejutkan lagi adalah ia di beri hadiah berupa pukulan yang membuat wajahnya nyeri.

"KAU BINATANG!" Desis Naruto mengerikan. Neji bangkit lalu mengusap tetes darah akibat robekan yang ada di sudut bibirnya.

"Namikaze—khe..khe..tidak ku sangka kau akan datang kemari." Kekeh Neji pelan. Naruto memecing waspada.

"BAJINGAN." Pemuda bermata biru ini segera membungkam mulut Neji dengan bogem. Neji terpelanting jatuh dari ranjang.

"Senpai." Panggil Sasuke lemah. Naruto menoleh. Matanya membola, melihat keadaan Sasuke yang mengenaskan. Tubuhnya telanjang tanpa pakaian, leher serta dada penuh dengan tanda merah serta bibir yang membiru. Perlahan Naruto mendekat lalu memeluk pemuda yang amat ia cintai tersebut.

"Sasuke—." Kata Naruto panik lalu merengkuh tubuh yang menggigil itu dalam pelukan hangat.

"Sen..senpai—"Tangis Sasuke pecah. Ia benamkan wajahnya pada dada bidang Naruto. Pemuda Namikaze tersebut iba.

"Ssstt..jangan menangis." Naruto berkata pelan sambil mengelus punggung Sasuke yang berkeringat.

"Aku takut." Naruto menyentuh dagu lancip Sasuke dan menuntunnya untuk menatap mata birunya. Jari kecokelatan milik Naruto mengusap air mata Sasuke lalu mengecup kedua kelopak matanya. Dada Sasuke hangat, perbuatan yang di lakukan senpainya ini, membuat dirinya nyaman.

"Apakah Neji yang memukul mu?" tanya Naruto sambil menatap instens bibir biru Sasuke. Ia tahu bekas apa itu. Pemuda berambut hitam tersebut hanya menunuduk lalu mengangguk. Naruto mendesis marah lalu melepas pelukan Sasuke.

Naruto turun dari ranjang lalu menghampiri Neji yang pingsan di lantai. Pukulan Naruto memang tidak bisa di remehkan. Matanya berkilat marah. Siapapun tidak akan ada yang selamat bila berhadapan dengan Naruto yang sudah berubah seperti setan.

"Buagh!" Pukulan kembali Naruto layangkan pada Neji lalu menjambak rambut panjangnya.

"KAU SUDAH MEMBUAT SASUKE SEPERTI INI. KAU HARUS MATI.!" Raung keras Naruto lalu mengangkat tubuh Neji dengan satu tangan dan mendaratkan bogemnya pada perut Neji.

"Ukhh..ghok!" Pemuda Hyuga itu muntah darah. Badannya mati rasa. Entah lah ia sudah tidak sanggup untuk bergerak. Pukulan-pukulan yang Namikaze layangkan membuat organ dalamnya rusak.

"KAU BINATANG!"

"BUAGH!"

"KAU BIADAB!"

"BUAGH!"

Sasuke gemetar, ia tidak pernah tahu Naruto bisa berubah seperti sekarang. Neji terlihat sekarat dengan wajah hancur dan penuh darah. Sasuke kalut, ia tidak mungkin membiarkan Neji mati di tangan Naruto. Bagaimana pun ia memiliki hati nurani meskipun Neji sudah hampir memperkosanya.

"Hentikan Senpai!" teriak Sasuke lalu memeluk Naruto yang masih setia mendaratkan pukulan-pukulan di tubuh Neji.

"Akan ku bunuh dia!" balas Naruto tidak mengidahkan permintaan Sasuke.

"Kumohon hentikan sekarang juga. Ini sudah cukup, dia bisa mati." Sasuke mengeratkan pelukannya dengan isakan. Ia harus menghentikan perbuatan Naruto.

"Sasuke kau membelanya?" Naruto menoleh kearah Sasuke lalu menjatuhkan tubuh sekarang Neji di lantai.

"Kau menakutkan senpai. Sudah cukup." Kata Sasuke pelan. Naruto menghela nafas, mencoba mengumpulkan kewarasannya. Perlahan ia peluk tubuh gemetaran itu.

"Aku kelepasan." Kata Naruto lembut lalu mengusap pipi tembam Sasuke. Ia memang emosi namun apa yang di katakan pemuda ini ada benarnya juga. Pebuatannya bisa membunuh Neji.

"Senpai—" Sasuke sesengukkan sambil menghapus air matanya.

"Aku marah saat aku tidak dapat menjagamu. Aku bodoh. Aku lengah." Ucap Naruto lalu memeluk erat Sasuke.

"Tidak senpai aku yang salah karena tidak menunggumu."

"Baiklah lain kali jangan seperti ini lagi ya." Naruto mengusap lembut kepala Sasuke.

"Iya. Aku akan menunggu senpai. Maafkan aku." Pemuda Uchiha itu menutup mata merasakan betapa lembut usapan Naruto pada kepalanya. Memang hanya Naruto yang dapat membuatnya nyaman. Pemuda Namikaze tersebut tersenyum lembut, lalu menatap Sasuke tajam.

"Ne Sasuke kau bersedia jadi kekasihku?" Sasuke menahan nafas ia tidak menyangka bahwa senpainya ini akan menyatakan cinta nya. Namun ia masih bingung.

"Beri aku waktu senpai."

"Baiklah. Satu minggu."

"Tapi—" Naruto menyentuh tangan Sasuke lalu mengecupnya.

"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku benar-benar mencintaimu." Pinta Naruto. Sasuke mengangguk. Ia memang tidak bisa terus-terusan memberi harapan palsu pada senpai yang sudah sangat baik hati ini.

"Baiklah satu minggu." Jawaban itu membuat Naruto tersenyum lalu merenguh Sasuke dalam pelukan.

.

.

.

TBC

Panjang banget ya Readers.

Gomen ne Updatenya lama.

Review ya…