"Kau..."
Hening.
"...MEMPUNYAI TANDA YANG SAMA?!"
"I-ini..." seru Lovino panik sambil terus menatap tanda di punggung tangan kanannya itu. "...APA MAKSUDNYAA?!"
"AKU TIDAK TAHU SAMA SEKALI MENGENAI TANDA INI!" teriak Alfred panik sambil memegangi dada kirinya yang terluka.
"AKU TIDAK BERTANYA PADAMU, BODOH!" sahut Lovino kesal sambil menunjuk Alfred.
"Ehm..." gumam Arthur sambil berpura-pura batuk di depan mereka, "Bisakah kalian berhenti membincangkan itu dan segera mengobati lukanya?" lanjutnya sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Hmph, baiklah! Healing...!" sahut Lovino sedikit kesal sambil merentangkan tangan kanannya di depan luka di pundak kanan Arthur, "Sudah selesai, sini kuobati lukanya!" lanjutnya sambil mengobati luka di dada kiri Alfred.
"Ngg... mengenai tanda tadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Arthur polos sambil memakai pakaiannya lagi.
"Kau ini... Kau sendiri yang bilang jangan membincangkan hal ini dan sekarang kau malah menbicarakannya lagi." sahut Alfred sambil memasang wajah cemberut di depannya.
"Itu karena kau membicarakannya ketika lukanya belum diobati, bloody git!" gerutu Arthur sambil menunjuk Alfred yang memasang ekspresi kenapa-kau-malah-menyalahkanku.
"Bukan aku, tapi dia!" sanggah Alfred setengah kesal sambil menunjuk Lovino yang sedang mengobati lukanya.
"Kau sendiri yang menimpal ucapanku barusan! Ini semua gara-gara kau!" sanggah Lovino sambil menunjuk Arthur.
—Baguslah, acara saling menuduh mulai berlangsung.
"BLOODY HELL! YANG MEMULAI ITU DIA!" sanggah Arthur sambil menunjuk Alfred.
"BUKAN AKU! TAPI KAU!" sanggah Alfred kesal sambil menunjuk Lovino.
"BUKAN AKU, BASTARDO! TAPI KAU!" sanggah Lovino sambil menunjuk Arthur.
"ENAK SAJA, YANG SALAH ITU KALIAN BERDUA!" teriak Arthur kesal sambil menunjuk Alfred dan Lovino.
"EEEEKH?!"
"OI! Kalian sudah selesai?! Cepat ke bawah, kita harus melanjutkan perjalanan!" seru Antonio dari lantai bawah.
"IYA! TUNGGU SEBENTAR!" sahut Lovino setengah berteriak sambil memakai sarung tangannya, "Baguslah, lukanya sudah sembuh. Ayo cepat, sebentar lagi kita akan pergi!" ujarnya sambil beranjak lalu berlari menuruni tangga.
"Ayo Artie, nanti kita tertinggal!" ajak Alfred sambil menarik tangan Arthur lalu menuruni tangga.
"Ba-baiklah!" sahut Arthur saat tangannya ditarik Alfred yang kini menghampiri teman-temannya itu...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tales of Hetalia : The Adventure's Begin
Chapter Three : Unexpected Fate
Warning!
AU dan OC inside, mungkin ada unsur per-OOC-an, POV random, genre campur (adventure-fantasy-friendship-humor), human name inside, ada beberapa unsur yang mirip dengan anime/games/yang lainnya, penuh dengan fantasi tingkat akut, bahasa absurd sangat, de el el...
Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya
Tales of Series © Bandai Namco
NB!
Huruf miring artinya job/spell/monster/weapon/dll
DLDR alert activated!
Daku gak pernah mengharapkan hal-hal finansial dalam membuat fic ini dan hanya menyalurkan kesenangan belaka
Yosh, ittadakimasu~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haaah~ Setelah kami berjalan cukup jauh akhirnya kami sampai di sebuah hutan yang tidak awesome sama sekali, bayangkan sendiri sebuah hutan yang hanya dipenuhi dengan salju tebal dan pohon-pohon yang sudah mati.
"Ini Frostine Forest, kalau melewati hutan ini kita akan sampai di Frostine." kata Kiku.
"Oooh, ini satu wilayah dengan Frostine ya..." timpal Matthew sambil mendekap Kumajirou, "Sepertinya Kuma akan senang sekali berada di tempat seperti ini." lanjutnya sambil menengok ke arah Kumajirou yang berada di dekapannya.
"Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati, siapa tahu ada yang memasang jebakan di sekitar sini!" ujarku sambil bersandar di sebuah batang pohon besar.
"Vee~ Ayo kita ke sana~" ajak Feliciano bersemangat sambil berlari kecil melewati hutan ini, diikuti oleh kami yang sesekali mengobrol. Saat Feliciano berjalan dengan santainya, tiba-tiba...
"...Giga Hailstorm!"
"...FELICIANO, AWAS!" teriakku sambil menunjuk beberapa bola es raksasa yang hendak menghujani Feliciano yang kini tercengang melihat bola es raksasa itu.
"Vee~ Pause!" seru Feliciano sambil merentangkan tangan kanannya ke depan bola es itu. Kami terperangah melihat bola es besar yang kini berhenti di depannya, belum cukup sampai di sana ternyata seseorang menyerang kami lagi!
"...Ice Shard!"
Kami pun segera menghindari serangan itu, sesekali Matthew dan Kiku membalas serangannya dengan artes-artes mereka. Tiba-tiba orang yang menyerang barusan berdiri di depan kami dan—
"...Lho, kukira kalian mata-mata Dark Reaper, da." ujar orang itu dengan ekspresi sedikit terkejut, "Habisnya, kalian datang dari arah sana—"
"Justru kami tawanan dari Dark apalah yang tak awesome itu." tukasku sambil melipat kedua tangan di depan dadaku.
"Benarkah?! Kalau begitu ikut aku, da~" ajak orang itu ramah sambil berjalan di depan kami.
"Ikuti saja dia, aru. Siapa tahu dia bisa menolong kita..." ujar Yao ketika melihatku menatapnya dengan ekspresi apa-kita-harus-mengikuti-orang-yang-tak-awesome-itu.
"Ayo, da. Nanti dia bisa mengejar kalian!" seru orang itu sambil menengok ke arah kami.
"Ba-baiklah!" seru Kiku sambil berlari mengekori orang itu. Setelah berhasil mengikutinya, kami pun melewati Frostine Forest ini, meskipun beberapa monster seperti Snowlax—monster tak awesome yang rupanya seperti pohon cemara—dan Yeti menghalangi tetapi kami dapat menghadapinya. Akhirnya setelah beberapa lama berjalan kami sampai di Frostine, kota yang... Brrr—
—Penuh salju.
Lihat saja, semua bangunan di kota ini berwarna putih dan atapnya dipenuhi salju!
"Vee~ Sebenarnya ini tujuan utamaku dan Fratello." ujar Feliciano pelan.
"Lho, memang kau dan kakakmu ke kota ini untuk apa?" tanya Matthew sambil menengok ke arahnya.
"Nggg... Ke sana, vee~!" jawab Feliciano sambil menunjuk ke sebuah gereja besar putih yang terletak tak jauh dari pintu gerbang kota.
"Itu Grande Church, gereja terbesar se-Hetalian, da." ujar orang itu, "Semua penduduk Frostine membanggakannya, termasuk aku, da..."
"Pantas, lihat saja arsitekturnya. Mengagumkan~" puji Kiku sambil terpana melihat Grande Church yang berada di dekat kami, "Aku pernah membaca buku tentang Grande Church ini, konon Head Cleric di sana adalah salah satu orang yang meramalkan kemunculan reinkarnasi Guardians of Hetalian."
"Vee~ Maksudmu Dr. Roderich?!" tanya Feliciano bersemangat.
"Kau tahu dia, Feli?!" tanyaku setengah terkejut.
"Vee~ Fratello pernah memberitahuku tentangnya, dan aku yakin Fratello pasti akan datang kemari!" jawab Feliciano dengan semangat yang sangat awesome.
"Waaah, semangat sekali dia, da..." komentar orang itu sambil bertepuk tangan, "Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ivan Braginski, salam kenal, da..."
"Salam kenal, vee~" sahut Feliciano sambil melambaikan tangannya.
"Kalau begitu kita ke penginapan keluargaku, da~" ajak Ivan sambil berjalan menuju sebuah bangunan besar lalu membukanya, lalu kami segera masuk mengikutinya.
"Ivan, yang di belakangmu siapa?" tanya seorang perempuan muda yang—wow, berpayudara besar.
"Ini teman-teman baruku, da~ Teman-teman, ini Yekaterina, kakakku..." jawab Ivan sambil menengok ke arah kami yang berada di belakangnya.
"Salam kenal~!" seruku bersemangat—karena melihat payudara Yekaterina yang terlewat besar.
"Salam kenal juga, aku senang melihat adikku mendapat teman sebaik kalian..." ujar Yekaterina senang.
"Kalau begitu aku pesan satu kamar untuk mereka, da~" kata Ivan santai.
"E-e-eeh?! Ta-ta-tapi kan kami—" sahut Matthew setengah terkejut.
"Aku yang akan membayar semuanya, da~" tukas Ivan santai, sedangkan Matthew pun hanya bisa melongo.
"Te-terima kasih, aru..." ujar Yao yang sepertinya terperangah.
"Ufufu, sama-sama~" timpal Ivan sambil tersenyum di depan kami, "Ayo kutunjukkan kamarnya, da.."
Kami berjalan di belakang Ivan yang kini menaiki tangga, setelah menaiki tangga—yang menurutku tak awesome saking banyaknya sampai membuatku lelah—akhirnya kami sampai di sebuah pintu kamar.
"Kita sampai, ufufufu~" kata Ivan sambil membuka pintu kamar, kami pun berhamburan memasuki kamar dan menempati tempat tidur yang tersedia.
"Haaah~ Nyamannya~" gumam Matthew sambil merebahkan diri di tempat tidur bersama Kumajirou.
"Aduh, aku lelah~" gumamku sambil merebahkan diri di tempat tidur.
"Tapi sepertinya jumlah tempat tidurnya terlalu banyak, aru.." komentar Yao.
"Ini kamar satu-satunya yang tersisa, yang lainnya sudah ditempati, da.." sahut Ivan.
"Pantas saja..." gumamku, "Hei Feli, kau yakin kakakmu akan datang kemari?"
"Uhm, aku yakin, vee~!" jawab Feliciano yakin, "Kata Fratello, Grande Church adalah pusatnya para cleric se-Hetalian!"
"Lalu, tujuanmu dan kakakmu ke Grande Church apa?" tanya Kiku sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Vee~ Gereja di kota asalku mendapat surat undangan dari Grande Church, lalu Head Cleric di sana mengirimku dan Fratello yang baru saja dilantik menjadi cleric kemari." jawab Feliciano, "Di perjalanan, barulah aku diculik..."
"Cerita yang menarik, da~ Ini pertama kalinya kau ke Grande Church, bukan?" komentar Ivan dengan penuh antusias, sedangkan Feliciano menganggukkan kepalanya.
"Aku penasaran dengan isi perpustakaan Grande Church, menurut buku yang kubaca perpustakaan tersebut memiliki koleksi buku terlengkap." ujar Kiku, tiba-tiba kami mendengar suara Yekaterina memanggil Ivan yang kini meninggalkan kami. Beberapa lama kemudian Ivan kembali ke kamar kami lagi.
"Teman-teman, ternyata ada beberapa orang yang tidak mendapat kamar. Tidak apa-apa kan kalian berbagi kamar dengan mereka, da?" tanyanya sambil berdiri di balik pintu.
"Tidak apa-apa kok! Kami malah senang kalau ada teman sekamar di sini, aru!" jawab Yao bersemangat.
"Hei Feli, Matthew, sepertinya aku mempunyai firasat yang awesome mengenai ini..." bisikku kepada Feliciano dan Matthew.
"Uhm, aku juga begitu." timpal Matthew setengah berbisik.
"Vee~ Mungkin aku akan bertemu dengan Fratello..." bisik Feliciano bernada riang.
"Mungkin aku bisa bertemu dengan adikku yang awesome itu~" bisikku sambil tertawa cekikikan.
"Kalau begitu, semoga aku bisa bertemu dengan Brother Al. Aku rindu dengannya.." bisik Matthew senang. Beberapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang sangat kencang dan suara teriakan—atau mungkin suara orang bertengkar—dari luar kamar.
"Nah, silakan masuk~"
Seketika aku, Feliciano, dan Matthew menengok ke arah pintu dan terdiam melihat seorang cleric, gunslinger, dan swordman yang juga terdiam sambil berdiri di pintu kamar.
Tunggu—
—Bukankah swordman yang berdiri di pintu itu adikku, Ludwig...?
"...Luddie...?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Vee~ Fratello...?"
"...Feliciano?"
"...Brother Al...?"
"...Mattie~?"
"...Bruder...?"
"...Luddie...?"
Hening.
"...FRATELLO!" teriak Feliciano kencang sambil memeluk Lovino.
"MATTIE~! AKU RINDU PADAMU TAHU~!" teriak Alfred kencang sambil memeluk Matthew hingga terjatuh di atas tempat tidur.
"Pe-pelan-pelan! A-aku tak bisa bernapas~" gumam Matthew sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan sang kakak yang mungkin terlalu erat, "La-lagipula kita kan hanya berpisah selama beberapa minggu!"
"LUDDIE~!" teriak Gilbert heboh sambil meloncat ke arah Ludwig yang terkejut.
"Onhonhonhon~ Akhirnya kalian bisa bertemu kembali~" komentar Francis sambil berjalan menuju tempat tidurnya.
"Dugaanku ternyata benar, fusososo~" ujar Antonio riang.
"Wow Mattie, selama ini kau bertualang bersama seorang perempuan?" tanya Alfred lugu sambil menunjuk Yao yang terkejut mendengar ucapannya barusan.
"Enak saja! Aku ini laki-laki, aru!" sanggah Yao setengah kesal.
"Eeeeh, ada perempuan di sini?!" tanya Francis dan Antonio heboh.
Yao pun facepalm.
"Ngomong-ngomong Lud, dia kakakmu?" tanya Arthur sambil menunjuk Gilbert yang melampiaskan rasa rindunya kepada sang adik.
"...Iya, dia kakakku." jawab Ludwig sambil menghela napas.
"Ku-kukira dia adikmu..." celetuk Arthur sambil tersenyum kecut seakan-akan ia berusaha menahan tawanya.
"Oh ayolah, aku yang awesome ini adalah kakak kandung dari Ludwig!" gerutu Gilbert yang memalingkan wajah cemberutnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tuh kan, sifatnya saja jauh berbeda dari Ludwig—" celetuk Lovino sambil menahan tawa.
"Terserah kalian semua!" gerutu Gilbert bersungut-sungut, "Yang penting aku ini kakak yang awesome!"
"Sudah, sudah.. Kita kan sudah bertemu satu sama lain, jadi setidaknya kita bisa berkenalan dan saling berkomunikasi." ujar Kiku santai.
"Betul juga, da. Ufufu~" timpal Ivan dengan penuh antusias, akhirnya mereka mulai memperkenalkan diri dan saling bercerita satu sama lain.
"Haaah~ Rasanya badanku lengket~" gumam Francis yang masih merebahkan diri di tempat tidurnya.
"Bagaimana kalau kita berendam bersama di pemandian air panas, da?" usul Ivan.
"Di-di tempat sedingin ini ada pemandian air panas?!" tanya Gilbert setengah terkejut.
"Di penginapan keluargaku ada pemandian air panasnya, da~" jawab Ivan sambil berjalan menuju pintu, "Kutunggu di sana ya~" lanjutnya sambil menutup pintu kamar.
"E-e-eh... Ba-baru saja kita berkenalan, sudah diajak berendam bersama..." gumam Matthew pelan.
"Sudahlah, ikut saja! Lagipula tidak enak tahu kalau badan lengket~" tukas Alfred bersemangat sambil menarik tangan Matthew lalu berlari keluar kamar.
"Hhh.. Mau tak mau kita harus ikut juga.." gumam Arthur sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ya sudah, kita ikut saja lah..." ujar Antonio sambil berjalan keluar diikuti yang lainnya. Akhirnya mereka tiba di pemandian air panas dan segera menemui Ivan yang ternyata menunggu bersama Alfred dan Matthew.
"Yoo~!" seru Alfred sambil melambaikan tangannya.
"Cepat, aku tak sabar ingin berendam di pemandiannya!" seru Francis bersemangat.
"Setidaknya kau berganti baju terlebih dahulu." timpal Ludwig tegas.
"Vee~ Kalau begitu ayo kita berganti baju, Fratello~!" ajak Feliciano sambil menarik tangan Lovino yang langsung menepisnya.
"A-aku bisa ganti baju sendiri, Feli! Jangan paksa aku seperti itu!" gerutu Lovino.
"V-vee~ Baiklah, aku ganti baju sendiri saja!" ujar Feliciano sambil berlari kecil menuju ruang ganti.
"Hei, tunggu aku!" seru Gilbert sambil berlari mengejar Feliciano.
"Kalian tidak berganti baju?" tanya Francis sambil menengok ke arah Alfred, Arthur, dan Lovino yang masih berdiri di belakangnya.
"Kami menyusul, frog.." jawab Arthur dengan nada malas.
"Baiklah! Nanti kami tunggu ya!" seru Francis sambil berlari menyusul mereka yang telah berjalan menuju ruang ganti.
"Artie, kau takut mereka mengetahui tanda itu?" tanya Alfred setengah berbisik sambil menepuk pundak Arthur yang terkejut.
"Ja-jangan mengagetkanku seperti itu, git!" seru Arthur sembari mengelus dadanya, "Ayo, kita harus berganti baju sekarang!" lanjutnya sambil melenggang menuju ruang ganti.
"Hei! Tunggu aku, Artie!" seru Alfred sambil berlari mengejar Arthur.
"Bastardo! Tunggu aku!" seru Lovino setengah kesal sambil mengejar mereka.
.
.
.
.
Setelah berganti baju, Lovino, Alfred, dan Arthur pun segera menghampiri teman-teman mereka yang mungkin bersiap untuk berendam di kolam air panas.
"Kalian ini, lama sekali ganti bajunya..." komentar Gilbert yang bertolak pinggang sembari berdecak kesal, kaki kanannya ia hentakkan berkali-kali di atas lantai.
"Maaf, habis dia lama sekali. Jadi terpaksa menunggunya deh.." sahut Lovino sambil menunjuk Alfred yang menatapnya dengan tatapan itu-bukan-alasan-yang-logis.
"Ngomong-ngomong tak apa-apa kalian ikut berendam? Kalian kan sempat terluka.." tanya Antonio dengan nada khawatir.
"Eeeeh Brother Al terluka? Kok bisa?" tanya Matthew setengah terkejut.
"Gara-gara pertempuran kecil di kota sebelumnya, tapi selanjutnya tidak apa-apa kok.." jawab Francis menenangkan Matthew yang hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ayo kita berendam, da!" ajak Ivan sambil mencelupkan kakinya ke dalam kolam air panas diikuti oleh yang lainnya.
"Vee~ Ternyata air panas di sini enak ya~" puji Feliciano saat mereka sudah berada di dalam kolam air panas.
"Benar, rasanya segar sekali berendam di sini..." timpal Kiku sambil menghela napas lega.
"Haaah~ Tapi rasanya ada yang aneh di sini.." ujar Antonio sambil menengok ke sana ke mari tanpa tujuan.
"Hee? Maksudnya apa, da?" tanya Ivan yang kebingungan dengan ucapan Antonio barusan.
"Apakah selalu ada cahaya terang setiap pengunjung berendam di sini, aru?" jawab Yao kebingungan sambil menunjuk bawahnya, terlihat cahaya berpendar di sekitar mereka.
"Itu sih... tak pernah terjadi, da..."
Serentak sebagian dari mereka memperhatikan Ivan dengan tatapan lalu-cahaya-ini-datang-dari-mana.
"Uhm, mungkin ada baiknya kita semua berdiri dulu..." ujar Ludwig yang disambut dengan anggukan dari teman-temannya, lalu mereka bangkit bersamaan dan menemukan sumber cahaya itu, yaitu—
—gambar dua ekor phoenix yang mengelilingi sebuah bintang di bagian tubuhnya masing-masing.
"Ku-kukira hanya aku saja yang mempunyai tanda itu..." ujar Lovino setengah tak percaya.
"Awalnya kukira ini tanda lahir.." kata Antonio.
"Iya, kupikir juga begitu." timpal Matthew, "Lalu, ada yang tahu arti dari tanda ini?"
"Vee~ Aku tidak tahu.." ujar Feliciano, "Mungkin kita bisa tanyakan ini pada Dr. Roderich besok.."
"Uhm, aku setuju. Kebetulan aku dan Feliciano mendapat undangan dari Grande Church." timpal Lovino. Entah mengapa aku mempunyai perasaan aneh mengenai tanda ini... batinnya.
"Vee~ Fratello... Fratello kenapa melamun?" tanya Feliciano sembari menggoyangkan tubuh kakaknya yang tersentak.
"E-eh, ti-tidak apa-apa kok..." jawab Lovino sedikit gugup, "Ayo, besok kita harus menemui Dr. Roderich!" ajaknya sembari menarik keluar Feliciano dari kolam.
"Ayo, besok kita harus ke Grande Church!" ajak Francis sambil berjalan keluar.
"Uhm!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yosh! Hari ini kami pergi ke Grande Church. Seharusnya aku dan Matthew pulang ke kota tempat tinggalku, tetapi gara-gara sebuah tanda aneh di tubuhku—dan mereka juga memilikinya—akhirnya kami pergi ke sana untuk meminta bantuan atas rekomendasi dari Feliciano.
Huuh, padahal aku sudah tak sabar untuk pulang...
"Waaah... Besarnya.." ujarku sambil menatap takjub arsitektur di dalam Grande Church, terlihat beberapa orang yang beribadah di sini.
"Ngomong-ngomong, di mana Dr. Roderich?" tanya Lovino sembari menengok ke sana-kemari.
"Vee~ Mungkin kita harus ke sana.." ujar Feliciano sembari menunjuk altar yang berada di depan kami, memang terlihat seseorang yang sedang berdiri di sana sambil membaca buku.
"Mungkin saja ia Dr. Roderich..." kata Ludwig sambil terus memperhatikan orang itu.
"Ayo kita hampiri dia.." ajak Kiku tenang sembari berjalan menuju altar.
"Vee~ Aku ikut~" kata Feliciano riang sembari berlari kecil mengikuti Kiku.
"Eh, aku ikut!" seruku sembari berlari mengikuti mereka.
"Alfred, tunggu aku!" seru Arthur sambil mengejarku.
Yah, gara-gara penasaran dengan orang itu akhirnya kami mendekatinya, siapa tahu ia tahu di mana Dr. Roderich berada...
"Permisi," sapa Kiku, "apakah anda tahu di mana—"
"Dr. Roderich Edelstein. Ada yang mencariku di sini?"
Kami terdiam saat orang yang berada di depan altar itu adalah orang yang kami cari, dan ketika kami menemukannya ia sedang membaca sebuah buku yang kuyakin tak akan bisa diselesaikan oleh orang biasa.
"Lovino... dan Feliciano Vargas, cleric dari Romansia?" tanya Dr. Roderich sembari membetulkan letak kacamatanya, sedangkan Lovino dan Feliciano menganggukkan kepalanya.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian mengenai ancaman Dark Duke di Hetalian—" kata Dr. Roderich sebelum ia memutuskan ucapannya.
"Vee~ Ada apa, Dr. Roderich?" tanya Feliciano sedikit kebingungan.
"Aku merasakan sebuah kekuatan yang terhebat... dari yang terhebat..." jawab Dr. Roderich.
Yang terhebat... dari yang terhebat...?
Apa maksudnya?
"Maaf, apa maksud dari 'kekuatan yang terhebat dari yang terhebat'?" tanyaku.
"Sebuah kekuatan... yang dapat mengalahkan Dark Duke..." jawab Dr. Roderich tenang.
"Maksud anda... Kekuatan... Guardians of Hetalian...?" tanya Arthur.
Eh? Guardians of Hetalian?
Bukankah mereka legenda yang sangat terkenal di Hetalian..?
"Ya, seperti itulah.." jawab Dr. Roderich, "Kekuatan itu berada di sekitar sini.."
Tuhan, jangan sampai terjadi hal-hal aneh di sini.. batinku. Sayangnya, situasi yang kuinginkan tak terwujud. Aku malah merasakan sesuatu yang aneh bergejolak dari dalam tubuhku, sangat aneh. Perasaanku semakin tak mengenakkan saat Dr. Roderich mulai mengucapkan sebuah kalimat yang tak kuketahui.
Apa maksud dari semua ini...?!
"V-vee~ A-apa yang terjadi...?!" tanya Feliciano panik.
"Ufufu, aku merasakan sesuatu, da..." ujar Ivan sambil tersenyum misterius.
"Ke-kenapa ada cahaya di sekitar kita, aru?!" tanya Yao panik sembari menengok ke sana kemari. Memang, ada sebuah lingkaran cahaya yang cukup besar di sekeliling kami, jangan-jangan...
"Ja-jangan-jangan ini—" gumam Ludwig.
Lingkaran cahaya itu semakin terang, bahkan pandanganku terhalangi dengan cahaya terang itu dan kini cahaya itu mulai membentuk kubah dan menyelubungi kami. Hal terakhir yang kuingat hanyalah...
"...AAAAAAAAKKKHHH...!"
.
.
.
.
"...Uhm..."
Perlahan aku membuka kedua mataku, terlihat jelas teman-temanku—yang juga mengalami hal yang sama denganku—dan Dr. Roderich yang menganggukkan kepalanya. Kuperhatikan sekelilingku, syukurlah kami masih berada di Grande Church tetapi...
...kenapa semua orang yang ada di sini malah bersembah sujud pada kami?
Aneh..
"Oui, aku merasakan sesuatu di dalam tubuhku.." ujar Francis sembari memegangi kepalanya.
"Aku juga..." timpal Matthew, "Uhm, Brother Al? Kenapa semua orang bersujud kepada kita?" tanyanya sambil menengok ke arahku.
"Aku tidak tahu, Mattie..." jawabku setengah tak percaya.
"Wahai Guardians, lindungi Hetalian dari kegelapan abadi..." kata para penduduk berbarengan sambil bersembah sujud kepada kami.
"Dr. Roderich, apa maksudnya ini?!" tanya Lovino sembari menengok ke arah Dr. Roderich di belakangnya.
"Mungkin kalian tak akan percaya dengan kenyataan ini, tetapi mau tidak mau kalian harus menghadapinya.." jawab Dr. Roderich tenang.
"Kenyataan... apa itu?!" tanya Gilbert setengah kesal.
"Sebenarnya kalian..." jawab Dr. Roderich tenang sambil membetulkan letak kacamatanya, "...adalah reinkarnasi dari Guardians of Hetalian."
"APA...?!" teriak kami berbarengan.
"Ba-bagaimana mungkin...?!" gumamku setengah terkejut.
"A-aku tidak percaya..." ujar Lovino pelan.
"Mu-mustahil..." ujar Arthur pelan.
"TUNGGU!"
BRAKKK!
Tiba-tiba pintu terbuka, kami pun menengok ke arah pintu dan melihat seorang gadis berdiri di dekat pintu.
"MEREKA BUKAN GUARDIANS OF HETALIAN!" teriaknya, "DAN YANG SEHARUSNYA MENJADI GUARDIANS OF HETALIAN ADALAH AKU!" lanjutnya dengan nada angkuh.
"Sombong sekali dia..." komentar Antonio sembari melirik sebal pada gadis itu.
"Apa dia tak pernah membaca legendanya?" timpal Gilbert sinis sembari melirik sebal pada gadis itu.
"Sok hebat sekali, aru.." ujar Yao sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu menghela napasnya.
"Takdir tetaplah takdir, bagaimanapun caranya kau tetap tak bisa mengubah takdir itu..." ujar Dr. Roderich bijak.
"Oh ya?" balas gadis itu sinis, "Apa mungkin mereka dapat mengalahkan Dark Duke yang mempunyai kekuatan tanpa batas?" tanyanya sambil berjalan mendekati kami.
"Kau lupa, peristiwa beberapa abad yang lalu di mana mereka berhasil mengalahkan dan menyegel Dark Duke?" tanya Ludwig sembari melipatkan kedua tangannya di dadanya.
"Oh, siapa bilang? Aku masih sangat ingat dengan peristiwa itu." jawab gadis itu, kedua mata bicolor yang terhalangi dengan kacamatanya melirikku sinis. "Tapi sekarang sudah berbeda, Dark Duke sudah kembali dengan pasukan-pasukannya yang lebih hebat dari beberapa abad yang lalu. Jadi ia pasti—"
Ucapan gadis itu terputus saat dua orang penjaga menahannya. Baguslah, aku tak perlu lagi mendengarkan celotehan gadis itu yang seakan-akan mempermainkan sejarah.
"Hei, mau apa kalian?!" tanya gadis itu ketus, "Lepaskan aku!"
"Maaf Nona, tapi anda telah membuat keributan di tempat ini." kata salah satu penjaga yang menahannya.
"Kami akan mengeluarkan anda.." timpal penjaga lainnya, lalu kedua penjaga itu menyeret keluar gadis itu yang terus memberontak.
"AWAS SAJA NANTI, AKAN KUBALAS KALIAN!" teriak gadis itu sembari menunjuk kami, bertepatan dengan itu pintu Grande Church tertutup.
"Kasar sekali dia..." komentar Arthur sambil menatap pintu itu.
"Rasanya aku ingin membunuhnya dengan gunbladeku..." timpalku sembari menghela napas, "Hei Francis, kau kenapa?" tanyaku sambil menggoyangkan tubuh Francis yang ternyata sedari tadi melamun.
"Oui... Dia... seksi.." gumam Francis sedikit tak jelas.
PLAAAAAKKK!
"Dasar mesum!" gerutu Arthur yang baru saja menampar pipi Francis yang tersadar.
"Ngomong-ngomong, tadi dia siapa?" tanya Kiku sambil menunjuk pintu Grande Church.
"Myceline... Myceline Auburn..." jawab Dr. Roderich sambil menghela napas, "Dia memang begitu, sebetulnya hampir semua penduduk Frostine Town membencinya."
"Pantas saja dia dibenci.." ujar Gilbert, "Sifatnya saja tidak awesome sama sekali..."
"Mungkin ada baiknya kalian berjalan-jalan ke perpustakaan untuk menenangkan kalian, nanti akan ada cleric lain yang mengantarkan kalian ke sana" kata Dr. Roderich sambil menutup bukunya, "Nah, Lovino, Feliciano, ikuti aku."
"Baik!" ujar Lovino dan Feliciano berbarengan lalu mereka mengikuti Dr. Roderich, sedangkan yang lain—termasuk aku—pergi ke perpustakaan ditemani dengan seorang cleric.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Grande Church's Library...
"TADAAA~!" seru Alfred bernada riang sambil menunjukkan sebuah buku di hadapan mereka.
"Akhirnya ketemu juga bukunya~" ujar Antonio sambil menyandarkan diri di sandaran kursi yang ia duduki, "Susah payah aku dan Alfred mencari buku itu.."
"The History of Hetalian?" tanya Francis saat melihat buku yang baru saja Alfred letakkan di atas meja.
"Kuharap kita mendapat informasi dari buku itu.." kata Matthew sambil duduk di samping Alfred.
"Kalau begitu, kita langsung membacanya saja!" usul Gilbert, sedangkan Ludwig menganggukkan kepalanya sembari membuka lembaran buku itu.
Milyaran tahun yang lalu, Galaksi Centrania terbentuk beserta gugusan planetnya. Salah satu planet yang memiliki kehidupan di galaksi tersebut adalah Planet Fallianz yang terdiri dari beberapa benua yang dikuasai oleh ras Elf dan Fairy.
Sayang, perdamaian di Planet Fallianz terancam oleh agresi ras Demon yang berasal dari Planet Darkrai. Ras Elf dan Fairy pun bersatu melawan ras Demon selama ratusan tahun lamanya sebelum ras Human muncul. Mengetahui perang itu, ras Human ikut berperang bersama mereka sehingga ras Demon yang waktu itu mulai terdesak memilih untuk bertekuk lutut. Untuk menjaga perdamaian Planet Fallianz, utusan dari empat ras tersebut membuat perjanjian sekaligus membentuk sebuah dunia yang hingga kini dikenal sebagai HETALIAN...
"Hoo... Jadi ras Elf dan Fairy ini ras tertua di Hetalian, da.." ujar Ivan sambil menganggukkan kepalanya.
"Kupikir informasi yang kita dapat masih kurang..." komentar Kiku sambil mengurut dagunya, serentak mereka menengok ke arahnya sambil berjawdrop berjamaah.
"Yang benar saja kita harus melahap habis buku yang tebalnya tiga ratus halaman lebih?!" ujar Alfred setengah mengeluh.
"Membaca buku yang tebalnya seratus halaman saja aku sudah bosan dengan tak awesome, apalagi buku berhalaman tiga ratus lebih!" timpal Gilbert dengan nada mengeluh.
"Bu-bukan begitu maksudku.." kata Kiku meralat ucapannya barusan, "Maksudku, kita mencari informasi yang menurut kita paling penting di buku itu..."
"Berarti..." gumam Ludwig sambil membalik beberapa lembar buku dengan cepat, "Ini yang kita cari!" serunya sambil menunjuk judul salah satu bab di buku itu.
"Hoo, perang antara Benua Corsiana dengan Benua Termesiah itu ya..?" tanya Antonio sambil bertopang dagu.
"Yups, perang paling fenomenal se-Hetalian..." jawab Arthur sambil menghela napasnya.
"Aku penasaran, jadi kita baca langsung, oke?" ujar Francis sambil bertopang dagu.
Beberapa abad yang lalu terjadi perang besar antar dua benua terbesar, Benua Corsiana dengan Benua Termesiah yang disebabkan oleh raja dunia kegelapan, Dark Duke yang ingin membuat dunia kegelapan dengan mengadu domba kedua benua itu. Hal tersebut membuat beberapa orang menyayangkan perperangan tersebut, diantaranya adalah kelima belas orang terhebat se-Hetalian, Guardians of Hetalian.
Mereka pun berkelana untuk mencari Dark Duke, sebelum akhirnya mereka mengalahkannya. Untuk menghalangi ambisi jahat Dark Duke, Guardians of Hetalian menyegelnya di Cecilean Shrine dengan kekuatan terakhir mereka sebelum menghilang secara misterius disertai dengan usainya perang tersebut.
Dua abad kemudian setelah perang besar tersebut berakhir, Dark Duke bangkit untuk melanjutkan ambisinya sekaligus membalaskan dendamnya terhadap Guardians of Hetalian. Beberapa tahun setelah bangkitnya Dark Duke, munculah ramalan reinkarnasi Guardians of Hetalian yang akan mengalahkannya...
"Hei, sedang baca apa kalian?" sapa Lovino sambil menghampiri mereka, diikuti Feliciano yang baru saja menutup pintu perpustakaan.
"Vee~ Fratello, lihat gambar itu! Mirip dengan tanda di tangan kita~" seru Feliciano riang sambil menunjuk gambar dua ekor phoenix yang mengelilingi sebuah bintang di buku itu lalu melepaskan sarung tangan kanannya. Terlihat tanda dengan gambar serupa di punggung tangan kanannya.
"Kau benar, Feli. Ternyata benar dugaanku semalam..." timpal Lovino sambil melepas sarung tangan kirinya dan terlihatlah tanda dengan gambar serupa di punggung tangan kirinya. Begitu didekatkan pada telapak tangan adiknya, kedua tanda itu langsung memancarkan sinar yang cukup menyilaukan.
"Ngomong-ngomong, tadi kalian membicarakan apa bersama Dr. Roderich?" tanya Matthew.
"Yah.. Mau apa lagi selain ancaman Dark Duke di Hetalian..." jawab Lovino sambil menyenderkan diri di sandaran kursi.
"Menurut buku, Guardians of Hetalian itu berjumlah lima belas orang, aru.." kata Yao, "Sedangkan yang baru ditemukan berjumlah dua belas orang. Kira-kira, di mana tiga orang lainnya?"
"Mau tak mau kita harus mencarinya sendiri, dan juga tiga orang lainnya itu adalah perempuan." sahut Ludwig datar.
"Uwoo~ Perempuan~" ujar Francis dengan mata berbinar-binar.
"Kumohon frog... Jangan berpikir yang tidak-tidak..." celetuk Arthur sambil menghela napas, "Dasar pervert..."
"Hei teman-teman..." sapa Alfred, "Mengingat Dr. Roderich memberitahu kita soal reinkarnasi Guardians of Hetalian, secara tak langsung kita mendapat tugas untuk menyelamatkan Hetalian..."
"...Dengan kata lain, kita bertualang mengelilingi dunia untuk mengalahkan Dark Duke." lanjut Lovino sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Ayo kita pergi dari sini, da~" ajak Ivan sambil berjalan menuju pintu.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Gilbert.
"Kata kalian, kita bertualang bersama, da?" jawab Ivan polos, "Ayo temui Dr. Roderich, siapa tahu ia bisa memberi petunjuk untuk petualangan kita nanti.."
"Yosh, ayo kita temui dia!" seru Alfred sambil berlari menyusul Ivan, diikuti dengan yang lainnya..
.
.
.
.
"Huuh, memang mereka bisa apa sih untuk mengalahkan Dark Duke?!" gerutu Myceline sembari menendang kerikil di depannya, hatinya amat dongkol sejak kejadian itu. Sebetulnya ia tahu perbuatannya—membuat keributan di tempat sesuci Grande Church—itu salah, sayang mata hatinya mulai dibutakan dengan iming-iming menjadi salah satu dari Guardians of Hetalian.
"Kalau aku bertemu dengan mereka, akan kukalahkan mereka dengan artes-artesku—"
"—dendam, huh?"
Gadis berponytail itu terkejut mendengar sahutan itu, saat ia menengok ke arah belakangnya ia melihat seorang pemuda pirang yang sebaya dengannya. Mata bak rubynya memandang tajam gadis heterochromic itu layaknya burung elang yang siap menerkam mangsanya, sesaat kemudian pemuda itu menyeringai sehingga gigi taringnya terlihat.
"Si-siapa kau?!" tanya Myceline setengah terkejut sambil menunjuk pemuda itu.
"Kau... Myceline Auburn, bukan?" tanya pemuda itu sambil mendekatinya, "Aku memberikan penawaran yang menarik untukmu..."
"Eh? Penawaran?" tanya Myceline sambil memiringkan kepalanya.
"Ya, kalau kau mengikutiku, kau akan mendapat kemampuan yang sama besarnya dengan Guardians of Hetalian dan dapat mengalahkan mereka. Kesempatan ini hanya terjadi sekali saja, pikirkan ini matang-matang." jawab pemuda itu sambil menyeringai. Sejenak Myceline merenungkan penawaran yang diberikan pemuda itu, beberapa lama kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku akan ikut denganmu..."
Pemuda itu menganggukkan kepalanya sambil bertepuk tangan, "Keputusan yang baik, Myceline.. Kalau begitu, mari kita pergi ke suatu tempat."
Sesaat kemudian, muncullah sebuah lingkaran hitam bercampur ungu di sekitar mereka dan saat lingkaran itu menghilang mereka turut menghilang, seakan-akan lingkaran itu menghisap mereka.
.
.
.
.
"Akhirnya~ Kita bisa bertualang juga~" ujar Antonio sambil bersenandung riang.
"Untung saja Dr. Roderich memberi kita perbekalan, jadi kita tak perlu membeli lagi, aru.." ujar Yao sambil membawa perbekalan mereka.
Ya, setelah mendapat perbekalan dari Dr. Roderich, mereka melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya. Ketika mereka berjalan, tiba-tiba seorang pemuda berambut jabrik—layaknya bunga tulip—tak sengaja menabrak Alfred yang waktu itu asyik mengobrol dengan Matthew.
"Maaf..." ujar pemuda berambut jabrik itu datar sambil melirik Alfred yang kini membalikkan tubuhnya ke arah pemuda itu yang mulai beranjak pergi sembari menyerenyitkan alisnya.
Sepertinya aku mengenal orang itu... batin Alfred sambil terus memandang pemuda itu, ia tak menyadari kalau kedua tangannya mengepal kuat.
"Humph, orang itu baunya menyengat sekali!" gerutu Lovino sambil menutupi hidungnya, "Pakai parfum apa sih orang itu?!"
"Kolkolkolkolkol..." gumam Ivan, terlihat aura keunguan yang menyelubungi tubuhnya. Serentak mereka—kecuali Alfred—memandang horor Ivan yang terus bergumam—
—jangan lupa kalau mereka juga mengeluarkan aura penuh ketakutan.
"Di-dia sedang apa sih...?" tanya Ludwig sambil memandang horor Ivan.
"Ma-mana kutahu..." jawab Antonio yang ikut memandang horor Ivan.
"Ayo kita lanjut—HEI GIT, KAU SEDANG APA DI SANA?!" teriak Arthur penuh emosi sambil menengok ke arah Alfred yang masih mematung di belakangnya.
"...Brother Al?" gumam Matthew sambil menghampiri Alfred lalu menggoyangkan tubuhnya.
"Vee~ Alfred...?" tanya Feliciano sambil turut menggoyangkan tubuh Alfred.
"Hei, kau masih sadar kan?" tanya Francis sambil menepuk kedua tangannya dengan kencang di depan Alfred yang langsung tersentak.
"He-eh, ada apa?" tanya Alfred gelagapan sambil menengok ke arah teman-temannya yang—kembali—memasang pandangan mengerikan.
"Kau kenapa sih?! Dari tadi berdiri terus, tak lelah apa?!" tanya Gilbert gusar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ti-tidak, tadi aku melihat orang yang sepertinya kukenal. Tapi mungkin cuma perasaanku saja, ehehe..." jawab Alfred spontan sambil mengusap belakang kepalanya.
"Dasar aneh..." gumam Arthur sambil menghela napas, ia tak menyadari kalau Kiku berpura-pura batuk di sampingnya.
"Vee~ Ayo kita lanjutkan perjalanan~" ajak Feliciano sambil berlari kecil mendahului teman-temannya.
"Yoooo!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
~Author Note~
...CHAPTER 3 SELESAI, SODARA-SODARA~! *planking di atas kasur* /ItuNamanyaTidur
Setelah ditelantarkan, akhirnya kelar dalam 2 bulan lebih~ Silakan salahkan laptop yang tiba-tiba ngambek plus pendaftaran SMA yang ribetnya minta ampun itu plus MOPDB yang bener-bener nyita waktu bangeeet~ Perlu anda ketahui, menjadi anak SMA di zaman sekarang itu bikin TEKANAN BATHIIIIIIN~! /LeMeHeadbang
Ehehe, makin absurd kah ceritanya? Makin ngebut kah ceritanya? Yah, namanya juga daku coba-coba bikin fic adventure-fantasy jadi jangan sparta daku~ *gelundungan*
Tadi sempet liat nama "Myceline Auburn" kan? Naaah, itulah kejutan—yang sempet daku ngomongin di chapter 2—alias OC antagonis daku~ Jadi, dia itu punya senjata berupa PAYUNG (ini serius lho, daku gak boong) yang kalo diarahin ke musuh bisa mengeluarkan jarum-jarum beracun!
Selain itu, dia juga heterochromic—buat yang gak tau heterochromic alias heterochromia, itu adalah sebuah kelainan di mana kedua mata punya warna mata yang berbeda—dengan warna mata biru dan merah. Ada yang mau ngegebet dia? /GakMau
Oh ya, buat yang penasaran sama tanda dua burung phoenix mengelilingi bintang daku mau kasih penjelasan yang—lumayan—panjang nih~
Konon, burung phoenix ini punya siklus kehidupan yang unik. Kenapa unik? Soalnya ketika ia mati, tubuhnya berubah menjadi abu. Nah, dari abunya muncul deh anak burung phoenix. Dari situ daku beranggapan kalo siklus kehidupan burung phoenix ini rada mirip sama Guardians of Hetalian—yang menghilang lalu muncul reinkarnasinya. Got it?
Dan inilah list letak tanda-tanda itu berada~
-Lovino : di punggung tangan kiri
-Feliciano : di punggung tangan kanan
-Alfred : di dada kiri atas
-Matthew : di dada kanan atas
-Arthur : di pundak kanan
-Kiku : di perut kiri bawah
-Antonio : di perut kanan bawah
-Gilbert : di punggung kiri atas
-Ludwig : di punggung kanan atas
-Francis : di lengan kanan atas
-Yao : di leher kiri
-Ivan : di leher kanan.
...KURANG PANJANG LISTNYAAA~! *tebas a la Yuno Gasai* /no
Setelah penjelasan—setengah gaje—ini, mending reviewnya daku balas yaa~
Lalanur Aprilia : Eh? Artesnya keren-keren? MAKASIH BANYAK, NAAAAAK~! Itu artesnya bikinan daku sendiri dan temen daku lho~ Iya nak, ini daku udah update ficnya naak~ Jadi jangan bantai daku, oke? /ogah
Yukari Wada : Senangnya nemuin nama anda di review fic ini lagi~ Hohoho, rupanya gak cuma daku doang yang menyadari kehadiran USUK~ Itu karena si Alfie kelewat khawatir sama Artie nak, jadinya kayak begitu deeh~ /salah Soal Nordic 5, daku belom bisa keluarin nih. Mungkin di beberapa chapter selanjutnya daku bakal ngeluarin salah satu membernya Nordic 5, okay?
Momoko Hetaliers : Gyaaa~ Sankyuu~ Aslinya daku sempet curiga lho kalo sebenernya Artie suka sama—GYAAA, SPOILEER~! /plak Penjelasan seputar simbol phoenix sudah dijelaskan dan dugaan ente bener nak, tanda itu merupakan simbol orang terpilih alias reinkarnasi Guardians of Hetalian. Yah, soal tarik-menarik itu gara-gara Yao kelewat semangat, jadinya dia malah narik-narik tangannya Kiku deh, padahal mereka berdua baru kenalan lho~
Ada yang nyadar daku gak sengaja nyelipin USUK lagi? /DiaTakutDisparta
Akhir kata, daku tunggu komentar/kritik/sarannya di kolom review yaa~
