Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

III

SERENA

Segala dalam hidup Serena van der Woodsen berbalik seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu semalam. Dan dia mengalami kesulitan untuk tidak menyalahkan ayahnya.

Rumah mereka di pinggiran kota London berbanding terbalik dengan apartemen modern mereka di Upper East Side, New York. Dia lebih teringat rumah musim panasnya di Hamptons, Long Island. Hanya saja yang ini tampak lima kali lebih besar. Dan kalau dulu rumah musim panasnya menghadap langsung ke pantai, sekarang bagian belakang rumahnya dilengkapi danau buatan. Dengan bebek-bebek berenang santai di tepiannya. Pintu rumahnya setinggi lima meter, dengan jenis kayu yang akan sulit didobrak Robert sekalipun. Di tambah dinding batu kecoklatan dan ratusan anak tangga untuk mencapai pintu masuknya, rumah itu lebih pantas disebut mansion.

Perasaan Serena sudah tidak enak saat dia memasuki pagar besi yang membuka sendiri. Penjaga keamanan yang tinggi dengan tampak galak memang membungkuk-bungkuk kepada ayahnya dari luar limousine. Tapi dia memandang masam Serena, yang baru pertama kali dilihatnya. Beberapa penjaga lain yang menghampiri membuat Serena yakin, ada beberapa penjaga ditempatkan di sisi lain rumah. Tidak akan mudah baginya untuk menyelinap keluar membeli hot dog kelontongan di trotoar. Seolah akan ada tukang jualan yang menghampiri rumah itu. Rumahnya pun belum bisa terlihat sebelum mereka menyusuri jalan aspal yang dikelilingi pepohonan. Suasana malam yang gelap membuat Serena diam sepanjang perjalanan.

Serena kesulitan untuk melihat ujung rumah karena besarnya. Dia mengernyit kepada rumah-setengah-kastil tersebut. Belum apa-apa sudah merasa skeptis. Mengunjungi Hamptons pada musim panas hanya untuk liburan tidak masalah. Tapi dia diharapkan tinggal sendiri di rumah seluas ini. Di lingkungan sesepi ini. Itu tidak membuatnya senang.

Dalamnya tidak lebih sederhana, segala perabotan serta pajangan mewah dengan desain klasik tertata rapi. Butuh waktu hampir setengah jam untuk memetakan lantai bawah. Diiringi dengan beberapa pelayan kaku berseragam yang berlogat Inggris.

Serena tahu dia sama sekali tidak berhak mengeluh. Dia punya tempat tinggal yang berarti sudah jauh lebih beruntung dibandingkan dengan yang berkekurangan. Di tempat inilah dia dilahirkan dan ayah-ibunya pernah tinggal. Dia memperhatikan ayahnya memandang seluruh inci ruangan dengan mata berkaca-kaca. Serena tidak tega bahkan untuk merajuk, padahal semua yang ada di rumah ini tidak sesuai dengan gayanya.

"Kau pikir ayah membeli rumah ini dari ratu Inggris?" desis Serena kepada Robert yang ikut tur kilat keliling rumah.

Robert mendengus. Suasana rumah yang lembut dengan warna-warna tanah membuat Robert terlihat bagaikan salah tempat.

Serena amat senang Robert akan ikut mereka ke London. Begitu pula Anna, yang akan menyusul setelah mengepak semua barang Serena di New York. Dia ngeri membayangkan dia akan sendirian di rumah sebesar ini, tanpa tetangga sejauh beberapa hektar dari seluruh sisi rumah, dan hanya ditemani para pelayan berlogat kental yang akan menyediakannya teh setiap sore.

Ayahnya tidak bercanda saat mengatakan bahwa mereka merancang kamar Serena seperti kamar seorang putri. Kamarnya ada di lantai dua. Dengan balkon yang menghadap taman di bawah, mirip seperti kamar Juliet di film-film Romeo and Juliet. Dindingnya berwarna putih-gading. Tidak ada wallpaper seperti kamar Serena di New York, semua dekorasi adalah lukisan tangan.

Kupu-kupu kertas berwarna pastel tersebar di kepala tempat tidurnya yang bahkan spreinya membuat Serena ngeri, berwarna putih bersih dengan renda.

Dia menghadap ayahnya untuk protes dan mendapati mereka menghadap perapian di kaki tempat tidurnya. Lukisan besar ayah, ibu dan Serena waktu masih bayi terpampang di atasnya.

Serena merasa dia melembut ketika menghampiri perapian, sama-sama terpaku di hadapan lukisan itu.

Rambut Serena adalah rambut ibunya. Wajah Serena adalah wajah ibunya. Kecuali matanya yang sewarna madu, hampir keemasan. Dia betul-betul sangat cantik. Bukan kecantikan ala orang-orang yang berusaha terlalu keras untuk berdandan. Tetapi lebih karena tertawanya yang lepas tanpa beban.

Serena kecil, dengan rambut coklat yang berdiri semua serta mata hijau-birunya, tampak dibuat tertawa oleh si pelukis. Dia tidak bisa membayangkan seorang bayi tidak mengamuk saat disuruh duduk diam saat dilukis. Jari-jari gemuk kecilnya menggenggam telunjuk ibunya…

Lukisan itu, entah bagaimana, tampak nyata…

"Cobalah beberapa hari untuk menyamankan diri, Ser."

Kata-kata ayahnya membuatnya hampir terlonjak.

"Tidurlah sebentar dan kita bisa mengatur semuanya besok…"

.

.

.

Bulan Juli hampir berakhir dan London sama sekali belum terasa hangat bagi Serena. Ayahnya sudah kembali lagi ke New York untuk bekerja dan memastikan Monica Rhodes sudah berhenti bersuara-kodok. Itu tidak akan menyenangkan, jadi Serena senang dia tidak diajak.

Karena merasa kesepian di rumah besar, Serena berusaha menjelajah London sekarang, yang berada hampir setengah jam perjalanan dari rumahnya. Dia, entah bagaimana, sudah merasa biasa lagi. Intinya, London pada dasarnya sama seperti New York. Kota besar lainnya. Tower Bridge yang tidak sesibuk Jembatan Manhattan dan Brooklyn, tapi mempunyai desain yang amat bagus. Big Ben dan gedung parlemennya bisa mengobati kerinduan akan patung Liberty.

Sekarang dia bahkan sudah mengenal Kings Cross sama seperti Grand Central di New York. Ayahnya pemilik salah satu perusahaan kereta yang beroperasi di sana. Maka Serena menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan naik kereta dari rumahnya yang berada di pinggiran. Ditemani oleh Anna, pelayannya yang telah datang menyusul. Dia memutuskan untuk memberi Robert cuti karena Robert tidak terbiasa dengan setir kanan dan mengeluh keras-keras tentang mobil-mobil Inggris yang kecil.

Lalu lintas London tidak terlalu gila seperti New York. Sehingga rasanya menyenangkan berjalan dikelilingi bangunan-bangunan kuno sesekali. Kafe dan tokonya sungguh menakjubkan. Serena selalu memandang ke langit. New York dengan ambisi orang-orangnya untuk membangun sebanyak mungkin gedung pencakar langit membuatnya kesulitan melihat awan. Di London setidaknya tidak terlalu parah. Walaupun kabut sering mengambang tanpa mengenal musim.

Serena juga berusaha membaur dengan orang-orangnya. Walaupun dia sama sekali sulit menghilangkan logat Amerikanya, yang menjadi hal aneh di sana, sama dengannya yang menganggap logat Inggris aneh.

Tapi dia sama sekali tidak mengeluh. Masih ada satu bulan lagi sebelum musim sekolah dimulai. Perutnya sering mulas saat memikirkan ini. Ayahnya belum membicarakan apapun tentang SMP yang akan dimasuki Serena. Dia membayangkan dengan ngeri bahwa namanya sudah terdaftar di Eton. Sekolah terkenal untuk anak-anak kaya dan bangsawan. The Bradley versi Inggris kini menjadi mimpi buruknya.

"Kita makan malam dengan apa hari ini, Miss Serena?"

Anna bertanya saat mereka telah berkeliling kota naik bus tingkat. Wajah Anna yang bulat dan mata hitam beningnya berkilau. Hidungnya memerah akibat angin yang menerpa dari lantai dua bus yang tanpa-atap. Serena meyakini keadaan wajahnya saat ini sama dengan Anna.

Pikirannya tentang rumah membuat Serena teringat sesuatu. Dan celakanya, dia belum merasa letih hari ini…

"Bagaimana kalau kita makan di luar saja? Kita cari fish and chip yang enak lagi…"

Walaupun Serena menyarankan makanan khas Inggris yang terkenal itu. Anna tampak ragu. Mungkin dia menganggap makanan itu adalah camilan dan bukan makanan yang benar. Tetapi dugaan Serena salah.

"Kita tidak bersama Robert hari ini, Miss. Dan kita terlalu siang pergi dari rumah. Saya tidak yakin Mr Nathaniel memperbolehkan kita main sampai malam tanpa pengawal…"

Serena terkadang berharap dia bisa hidup biasa-biasa saja. Walaupun ayahnya terkenal, dia bukan selebritis. Dan Serena merasa aman-aman saja saat berjalan di mana saja. Tetapi peraturan adalah peraturan. Dan ayah Serena tidak pernah main-main menjaga anak satu-satunya dari tindak kriminalitas di kota manapun.

"Ada apa, Miss?" tanya Anna saat melihat Serena diam saja.

Serena menatap Anna yang sudah jadi temannya sejak dia mulai masuk sekolah, walaupun umur mereka beda jauh. Tidak pernah sekalipun Anna menganggapnya anak aneh.

"Anna, aku tahu ini konyol… Tapi sekarang kita tinggal sendirian di rumah-setengah-kastil…"

Serena terdiam sejenak, lalu,

"Kau pernah merasa kalau rumah kita berhantu?"

Mata Anna semakin membulat.

"Sama sekali tidak, Miss! Apa yang membuatmu berpikir demikian?"

Serena kembali menutup mulut. Hari pertama melihat lukisan keluarganya di kamar, dia berani bersumpah dia melihat dirinya menggenggam telunjuk ibunya. Beberapa hari setelahnya, tangan ibunya berada dalam posisi mengelus kepala Serena.

Dan yang paling parah, sudah dua hari sejak kemarin, Serena terbangun karena haus di tengah malam. Ibunya tidak ada dalam lukisan tersebut…

Ngeri untuk pindah ke kamar lain yang pastinya lebih sering tak-ditinggali, Serena akhirnya mengungsi tidur di sofa yang terdapat di sisi lain tempat tidur. Televisi dinyalakan keras-keras. Dia berusaha agar selalu letih agar bisa langsung tertidur tanpa bangun tengah malam lagi. Tidak mau memandang lukisan tersebut. Bayangan tentang lukisan-lukisan terkutuk yang ditontonnya di televisi kini menghantuinya.

Tapi Serena mengalah.

"Oke, kita pulang! Tapi aku tidur denganmu malam ini, ya?"

.

.

.

Ada kejutan untuk Serena pada minggu terakhir bulan Juli. Ayahnya menelepon untuk memberitahu bahwa dia mendapat cuti dan sedang dalam perjalanan kembali ke London. Bahkan dia akan datang pakai helikopter barunya. Serena menduga pastilah dia akan membahas sekolah baru.

Pikiran ini membuat perutnya mulas lagi.

Dia menyuruh Anna membereskan kamar-berhantunya yang berantakkan. Dia sendiri menenangkan pikiran dengan memberi makan roti untuk bebek-bebek yang berenang di danau.

Pikirannya sedang menerawang ketika dia mendengar suara pop disusul gemerisik keras dari sesemakan yang mengelilingi pepohonan. Serena berhenti bergerak, memasang telinga tajam-tajam.

Para penjaga seharusnya ada di setiap pintu masuk. Tidak ada orang lain yang berada di kebun saat ini selain dirinya. Semua pelayan sedang membereskan bagian dalam rumah dalam rangka kedatangan tuan besar mereka.

Serena berjinjit menghampiri, berharap itu hanya kucing atau burung yang tersasar. Serena memegang roti tawarnya sebagai senjata, kalau yang masuk itu ternyata maling.

"Demi Merlin, Ed!" seru seorang wanita. "Kau terlalu dekat ber-apparate-nya!"

Serena sudah hampir berlari memanggil keamanan sebelum si wanita muncul. Tapi dia terlanjur melihat Serena begitu keluar dengan susah payah dari sesemakan.

"Serena!" teriak si wanita menghampiri, masih dengan dedaunan yang menempel di rambut.

Serena mundur sedikit, mempererat pegangan pada roti tawarnya, bersiap untuk berlari, berteriak atau melemparkan roti. Manapun yang diperlukan duluan.

"Dia ketakutan, Char!" seru laki-laki yang akhirnya muncul, menahan tangan si wanita. "Dia belum mengenal kita."

"Oh, betul, betul. Maaf…" gerutu si wanita.

Dia terlihat familiar, entah bagaimana. Matanya yang sewarna madu itu…

"Aku Charlotte Blotts, Nak. Dulunya Flourish… Sama seperti ibumu… Dia kakakku…"

.

.

.

Serena bisa saja berlari dan berteriak ada orang gila yang muncul tiba-tiba. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya bertahan.

Charlotte Blotts sekarang benar-benar memeluknya, menghancurkan roti tawar bebek-bebek Serena. Rambutnya yang coklat masih dipenuhi daun. Dia wanita kurus dengan kacamata tebal kuno menaungi matanya. Kalau ada yang menyebut Charlotte adalah adik ibunya, siapapun akan sulit percaya. Wanita itu tidak bisa dibilang cantik. Dia mengelola toko buku dan itu membuatnya masuk akal. Seolah dia lebih memilih buku daripada makan atau berdandan. Tapi aura kenyamanan seolah berada di wajahnya. Dia beraroma menyenangkan pula. Semilir angin membawa aroma buku-buku kuno darinya.

Aroma itu adalah papirus… Perkamen kuno?

"Lihat, dia! Begitu cantik dan tinggi! Sama seperti Celia! Dan, oh! Matanya dari Nate!" serunya ketika melepas pelukan.

Dia menekan lengan Serena begitu keras.

"Kita kan sudah tahu itu sejak dia masih bayi, Char!" gerutu si lelaki.

Tapi pandangan matanya meluruh saat menatap Serena. "Ed Blotts, Miss… Senang bertemu lagi denganmu…"

Dia membungkuk bagai menyambut ratu. Kacamatanya yang juga tebal sampai melorot.

"Panggil saja Paman Ed."

Ada banyak yang ingin Serena tanyakan dan katakan. Seperti, apa kabar?, senang bertemu denganmu juga, atau benarkah kalian paman dan bibiku? Tapi perkataan pertama yang keluar dari mulutnya adalah,

"Kalian masuk lewat mana?"

Bibi Charlotte mengibaskan tangannya seolah itu tidak penting.

"Ed adalah pria paling ceroboh dan penggerutu terbaik sedunia. Nah, mana buku-bukunya, Ed? Jangan bilang jatuh saat…"

Paman Ed tergopoh-gopoh bergulat lagi dengan sesemakkan yang kini rusak, mengeluarkan buku-buku entah darimana. Dia memeluk seluruh buku itu dengan ekspresi anak kecil yang memeluk boneka beruang raksasa, membuat Serena luluh.

Paman Ed juga berambut coklat, setipis pakaiannya. Jenis bajunya adalah baju yang akan membuat penjaga gerbang masuk langsung mengusirnya. Suspender menjepit celananya yang tergantung semata kaki. Sepatunya sepatu bot lusuh. Bibinya sama saja. Rok mengembang yang dikenakannya seolah dia langsung membelinya dari penyihir abad pertengahan. Tidak ada seorang pun yang akan percaya mereka masih berkerabat dengan keluarga kaya van der Woodsen.

Tetapi senyum mereka begitu tulus. Seolah sangat merindukan keponakan mereka. Jenis senyum yang tidak dibuat-buat seperti yang biasa dilihat Serena pada wajah-wajah menjilat atau memuja. Mereka kelihatan… yah, penuh kasih. Kalau itu mungkin… Mereka pasti belum pernah dengar tentang keponakan mereka yang pecundang dan pengacau.

Jadi dia memutuskan menawarkan diri membawakan buku-buku itu, yang langsung ditolak mentah-mentah.

Serena akhirnya mengajak mereka berjalan ke pintu belakang, menuju rumah. Bibi Charlotte masih menggandeng Serena seolah takut dia hilang.

Mereka menghampiri Robert yang sedang di teras, bersantai sambil minum teh layaknya seorang Inggris sejati. Cangkirnya jatuh berkelontangan saat dia berdiri dengan siaga, melihat teman-teman baru Serena.

"Tidak apa-apa, Robert! Kenalkan, ini Bibi Charlotte, adik Ibu, dan suaminya, Paman Ed," Serena merasakan sensasi aneh di hatinya, seolah mengembang gembira saat memperkenalkan mereka.

"Ini Robert, pengawal kami…"

"Halo, Mr Robert, Sir!" seru Paman Ed antusias.

"Wah! Seluruh keluarga van der Woodsen punya pengawal, ya?" tanya Bibi Charlotte seolah mereka adalah berpuluh-puluh keluarga mafia dan bukannya hanya berdua.

Robert masih dengan bingung menatap Serena.

"Bagaimana Anda tahu itu mereka? Dan darimana mereka masuk?"

Serena mengangkat bahu, " Mereka bawa buku-buku untukku kukira…"

Suara sepatu yang berkelotakkan di lantai marmer terdengar dari dalam rumah, menuju teras belakang. Serena tidak merasa mendengar helikopter mendarat, tapi ayahnya muncul, wajahnya memerah. Dia belum melepaskan jas bepergiannya, seolah terburu-buru menantikan ini.

"Ser! Charlotte! Ed! Aku tak percaya! Senang bertemu kalian lagi…"

.

.

.

Pertemuan mereka seolah sudah diatur, sudah direncanakan. Seperti saat ayahnya memindahkannya ke Inggris. Dan merenovasi ulang kamarnya.

Mereka duduk di meja makan berkilau. Lemari es besar di belakang mereka menambah semarak, karena lemari es itu penuh dengan tempelan magnet unik dan lukisan seukuran kartu pos milik ayah dan ibunya dulu. Serena sudah menambahkan foto-foto terbaru mereka belakangan ini, dan magnet-magnet lucu lainnya. Sekarang rumah itu sedikit terasa seperti rumah keluarga normal bukannya keluarga bangsawan yang dingin.

Mereka makan oleh-oleh yang dibawakan Bibi Charlotte entah darimana. Karena Serena hanya melihat dia membawa tas kecil tadi. Biskuit, bolu, coklat, dan permen yang belum pernah dilihat Serena kini berhamburan di hadapannya. Dia tidak bisa berhenti mengemil sementara mereka bernostalgia tentang Ibu, yang sulit membuat makanan itu tertelan dari lehernya.

Paman Ed berbicara seolah-olah dia belum pernah mengunjungi New York, yang mungkin memang belum. Dia terus menanyakan perkembangan terbaru perusahaan ayah. Apa yang sedang dibuatnya, ilmu pengetahuan apa yang sedang trend saat ini. Kemudian Serena menyadari, Paman Ed bicara seolah dia hidup di dunia yang lain dan tertarik dengan mekanisme dunia Serena…

Bibi Charlotte merangkul Serena terus dan Serena memutuskan dia tidak masalah dengan darimana mereka berasal sesungguhnya. Serena tidak ingat pernah diperlakukan seramah ini kecuali oleh ayahnya sendiri.

Dan ketika waktu menunjukkan tengah malam, ayahnya menyuruh Serena tidur. Bibinya mengecupnya sementara Paman Ed berseru agar Serena mendapat mimpi indah. Mata bibinya terlihat agak khawatir, seolah yakin Serena tidak akan mendapatkannya.

Dan mungkin Bibi Charlotte memang benar. Dia menuju kamarnya dengan gagah berani. Terlalu malu untuk meminta tidur dengan Anna sekarang, karena paman dan bibinya itu juga akan menginap.

Serena memasuki kamar tanpa melirik sedikitpun ke lukisan keluarga di atas perapian. Dia menarik selimut dan langsung bergelung di dalamnya.

.

.

.

Ada yang membangunkannya pagi itu. Dan itu bukan Anna yang tampaknya telah membuka jendela kamar.

Serena tahu suara itu. Dia mengenalinya waktu The Bradley mengadakan kemping Pramuka. Suara burung hantu…

Di pagi hari?

Serena langsung bangkit dari tidurnya.

Burung hantu coklat gelap menatap Serena seolah dia biasa melakukannya. Dan biasa terbang di pagi hari. Dan terbiasa menggigit surat pada paruhnya.

Serena masih mematung saat si burung menjatuhkan surat itu lalu terbang keluar dari kisi-kisi jendela.

Serena dengan hati-hati turun dari tempat tidurnya. Karpet wol yang lembut menyadarkan Serena dia memang bukan bermimpi. Dia menghampiri surat tersebut. Berpikir apakah itu adalah jasa antar pos terbaru versi Inggris.

Amplop surat itu mengingatkan Serena akan surat-surat jaman dulu. Tulisannya panjang-panjang seperti tulisan orang tua. Dan dia melihat surat tersebut ditujukan padanya…

.

.

.

Ruang makan yang tadinya penuh celoteh mendadak hening saat Serena turun ke bawah. Dia sudah mandi, berpakaian rapi, dan siap untuk jalan-jalan bersama paman dan bibi barunya. Dia nyengir menatap meja makan yang kini penuh orang.

"Hei, Dad! Aku dapat surat kaleng dari burung hantu…" dia melambaikan suratnya dan nyengir lebih lebar saat berbagi lelucon.

Tapi dia melihat ekspresi ayah, bibi, dan pamannya terlalu berlebihan untuk meresponnya. Mata mereka serentak membelalak.

"Seseorang yang bernama…" Serena mengeryitkan matanya ke surat itu, "…Minerva McGonagall mengatakan aku diterima di…di…" dia meneliti surat lagi, "…Sekolah Sihir Hogwarts dan menyuruhku beli buku dan kuali…"

Serena menyibakkan rambutnya dan tertawa, "Bisakah kalian percaya? Kupikir penjaga pintu di Buckingham itu saja sudah gila, tapi ini…"

"Ser," potong ayahnya, kini dia bangkit menghampiri.

Wajahnya benar-benar serius, membuat cengiran langsung hilang dari wajah Serena.

"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu sejak dulu… Tapi aku tidak yakin walau…"

Pamannya ikut bangkit, mengangguk kuat-kuat.

"Ya, memang tanda-tandanya sudah ada. Tapi kami harus yakin dulu, karena Nate di sini muggle… Maaf, Nate…"

Pamannya mengatakan sesuatu yang tampaknya bukan bahasa Inggris dan dia tiba-tiba merasa tidak enak saat melihat ayahnya. Seolah mengatakan suatu umpatan halus.

"Tidak apa-apa, Ed… Nah, ini mungkin akan menjelaskan beberapa kejadian aneh waktu kau di The Bradley.."

Mata bibinya membulat cemas di balik lensanya, seolah dia sudah mendengar kejadian di The Bradley dan sekarang menantikan vonisnya.

"Kau penyihir, Ser…" kata ayahnya.

"Hah?"

Suara Serena menggaung di ruang makan yang hening.

"Kau penyihir, sama seperti ibumu, paman dan juga bibimu…"

"Dad, April Mop itu bulan April…" Serena tertawa lagi. "Apakah di Inggris berbeda?"

Dia mengajukan pertanyaan itu pada paman dan bibinya, tapi tak seorang pun menjawab.

"Selamat, Serena!" seru seseorang di belakangnya.

Serena pasti hanya membayangkan karena di belakangnya hanya ada lemari es. Tapi tak urung dia berbalik…

…dan langsung mendapati ibunya sedang melambai padanya. Dia ada pada lukisan dengan latar belakang jembatan Venice saat itu. Dan dia berkata,

"Aku sangat bangga padamu!"

Serena tidak tahu persis apa yang terjadi setelah itu, karena dia tampaknya pingsan.

.

.

.