Selama pesta, Phantom akan menyamar dengan bajunya yang serba hitam maupun serba putih dan membawa pergi siapapun yang berdansa dengannya. Jangan percayai siapapun di pesta topeng!

#chanbaek #t #gs

Credit: "Juliette (Japanese ver)" by SHINee, LUX advertisement (BCL-Ashraf ver)

PHANTOM

Suasana hall pesta dansa malam itu sedikit demi sedikit mulai terlihat ramai. Meski di awal, ketika pintu terbuka tadi hanya ada beberapa gelintir orang saja yang nampak melangkahkan kaki dengan anggun di karpet merah menuju ruangan luas yang megah dan begitu gemerlap oleh cahaya kemewahan tersebut. Di bawah pijar mahal lampu kristal, berdiri siluet-siluet indah tubuh berlekuk gitar Spanyol yang terbalut dalam seksi serta minimnya gaun pesta. Di sisi lain, nampak para namja berbadan tegap yang begitu tertutup dalam potongan pakaian resmi jas dan tuxedo.

Selain kostum yang dikenakan dan juga cara berdandan serta menata rambut, pada dasarnya tak ada yang bisa membedakan mana namja dan mana yeoja, karena semua orang yang ada di pesta dansa malam itu mengenakan topeng. Topeng? Ya, tema pesta dansa malam itu adalah pesta topeng. Semua orang yang ikut berpartisipasi dalam pesta harus mengenakan topeng untuk menyamarkan wajah mereka, termasuk orang-orang yang bertanggung jawab di orkestra dan juga para pelayan. Tak ada pengecualian. Semuanya berpesta, menikmati musik, cemilan, minuman, dan menutupi sebagian wajahnya dengan topeng.

Di antara alunan pelan musik mozart yang memanjakan telinga dan pemandangan menenangkan dari para tamu undangan yang bercengkerama dengan begitu akrabnya, diselingi oleh sosok pelayan yang sibuk berseliweran ke sana-kemari mengedarkan minuman, nampak seorang namja yang berdiri menyendiri di dekat pintu balkon. Namja yang memakai topeng berwarna jingga dan stelan tuxedo hitam yang memamerkan siluet kaki panjang serta bahu bidang yang kokoh tersebut, telah berada di tempat yang sama selama hampir satu jam terhitung dari sejak dia melangkahkan kaki memasuki hall pesta.

Namja jangkung berambut kelam yang tersisir rapi ke belakang dan memperlihatkan lebar jidatnya itu nampak berdiri dengan gelisah di tempatnya sembari tangannya tidak lelah mengutak-atik ponsel tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Termasuk ketika beberapa yeoja berkulit cerah dan berbaju seksi secara bergantian mendekatinya, menyapanya, dan mencoba untuk mengajaknya menjadi pasangan dansa. Tapi dengan sopan namja itu mengatakan penolakan sambil tersenyum, membuat deretan gigi putihnya yang nampak segar dan rapi seperti biji semangka itu terlihat.

Ya, ampun! Kemana dia sebenarnya? Apa salonnya mendadak ramai atau bagaimana? Ini sudah sejam dan dia belum datang juga. Awas kau nanti, Byun Baekhyun! geram namja tinggi berstelan tuxedo hitam yang berdiri di dekat pintu balkon ― Park Chanyeol ― tersebut sambil sekali lagi mengutak-atik layar ponselnya, mencoba untuk kembali dan kembali menghubungi satu nomor yang sama yang sudah puluhan kali dia coba telpon serta kirimi pesan sejak satu jam yang lalu.

Chanyeol sedang menunggu kekasihnya, Byun Baekhyun, yang tadi menolak untuk diajak berangkat bersama ke acara prom night sekolah mereka ini dengan alasan masih ada di salon dan berdandan. Chanyeol bermaksud untuk menunggu yeoja bertubuh mungil itu sampai selesai bersiap-siap, tapi Baekhyun menolak. Sepertinya dia tahu kalau tujuan Chanyeol bersikeras ingin menunggunya bukan karena 'kesetiaan', melainkan karena namja itu khawatir jika Baekhyun akan memakai gaun pesta yang terbuka lalu memperlihatkan kulit tubuhnya yang sudah didaulat Chanyeol merupakan miliknya. What the heck! Ini prom night dan gaun seksi (dan mahal) adalah hal WA-JIB yang harus dipakai.

Namun, si namja jangkung tersebut sudah punya mindset kalau semua 'properti' yang ada pada Byun Baekhyun adalah mutlak milik Park Chanyeol. Oleh karena itu, Chanyeol hanya dapat ber-asdfghjkl ketika sang kekasih mengusirnya dari salon dan mengancam minta putus kalau dia tidak dibiarkan berangkat sendiri. Dan sekarang Chanyeol panik karena si mungil itu tidak juga nampak batang hidungnya di lantai pesta. Chanyeol takut jika di tengah jalan, kekasihnya yang manis dan imut tersebut diculik oleh orang mesum pengidap pedofilia. Baekhyun-nya … TIDAAAKKK! Makanya sekarang Chanyeol sedang berusaha untuk terus menghubungi nomor ponsel Baekhyun tanpa mempedulikan hal-hal lain di sekelilingnya.

Breeze… Chanyeol tersentak kaget ketika mendadak seperti merasakan ada tiupan angin dingin di sekitar tempatnya berdiri. Namja itu mengedarkan pandangan ke sekitar, terutama ke pintu balkon di dekatnya, untuk memastikan kemungkinan asal-muasal hembusan angin barusan dan terpaksa harus kecewa karena tidak melihat celah apapun yang berpotensi memasukkan angin ke dalam hall pesta dansa yang full AC. Chanyeol memegang belakang lehernya, sedikit merinding.

Breeze… sekali lagi angin dingin yang sama berhembus, kali ini membawa aroma harum bunga mawar ke indera penciuman Chanyeol. Namja jangkung itu semakin mengusap cemas belakang lehernya karena sekarang seluruh bulu kuduknya sudah meremang dan selaksa perasaan tak enak menggigit nyalinya sedikit demi sedikit.

Apa yang barusan itu? Batin Chanyeol dengan isi pikiran kemana-mana, terlebih saat sadar jika sepertinya yang merasakan angin dan mencium bau harum tadi hanyalah dirinya. Terbukti dari tak ada satu pun teman-temannya yang memberikan reaksi atas hembusan angin ataupun wangi bunga.

Tidak mungkin 'kan di tempat seperti ini ada… wajah Chanyeol memucat samar. Anni, anni, anni! Tidak mungkin! Hal seperti itu tidak mungkin ada! Chanyeol menggelengkan kepalanya keras-keras berusaha untuk menepis pikiran negatif di dalam otaknya.

Lebih baik aku pindah tempat, Chanyeol mulai beranjak, melangkahkan kakinya menuju ke tengah ruangan pesta ketika … breeze… angin itu berhembus lagi, membawa harum bunga mawar lagi.

Chanyeol menghentikan langkah dengan sepasang kaki membatu. Kentara jika rona pucat sudah mulai menguasai wajah tampan di balik topeng warna jingga laksana jilatan api itu. Chanyeol mengedarkan pandangan berkeliling, kali ini benar-benar memastikan jika HARUS ada lubang yang menjadi tersangka utama hembusan angin barusan. Tapi posisi namja jangkung tersebut sedang ada tepat di tengah-tengah ruangan, pintu jauh, jendela jauh, dan tidak mungkin AC bisa mengeluarkan udara sekeras hembusan angin. Kebekuan perlahan merambati tangan Chanyeol hingga ke ujung jari.

Drrt, drrt, sebuah suara getaran yang berulang-ulang sukses membuat Chanyeol tersentak dan tersadar akan keberadaan dunia. Namja itu buru-buru mengambil ponsel dari saku jasnya dan melihat id caller. 'Byun Baekhyun'! Akhirnya!

"Eoh? Chagi…"

"Chagiya~~~" Baekhyun memotong sapaan Chanyeol dengan suara kecil yang dibuat meliuk-liuk penuh aegyo.

"Wae?" balas Chanyeol pendek. Perasaan tak enak dan takut masih membayangi dirinya sehingga dia melupakan kebiasaannya untuk mengomentari aegyo sang kekasih.

"Apa pestanya sudah dimulai?" tanya Baekhyun, nada suaranya terdengar rendah dan sedih.

"Anni, makanya kau cepatlah ke sini. Dimana kau, huh?" alis Chanyeol mengerut kesal mengingat bagaimana satu jam dia habiskan hanya untuk berdiri menunggu seorang Byun Baekhyun.

"Itu dia maksudku~~~" Baekhyun kembali ber-aegyo, bisa Chanyeol pastikan kalau waktu mengatakan kalimat barusan Baekhyun pasti sambil memajukan bibir tipisnya hingga menjadi seperti mulut bebek.

"Ban mobilku bocor dan tidak ada bengkel di sekitar sini."

"Mwo!?" suara Chanyeol keluar sedikit keras, mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Sadar jika sudah menjadi perusak suasana, segera Chanyeol menundukkan badan meminta maaf dan berpindah ke tepi ruangan pesta, menyandarkan punggung ke dinding sambil tetap menempelkan ponsel di telinganya.

"Dimana kau sekarang? Aku jemput…"

"Anni, anni, tidak perlu." Baekhyun memotong kalimat kekasihnya. "Petugas dari bengkel langgananku sudah datang. Mereka mulai mengganti ban mobil sekarang."

Chanyeol menghela napas. "Itulah akibatnya karena kau menolak berangkat bersama denganku. Rasakan sekarang karmamu, Byun Baekhyun!"

"Karma apa?" Baekhyun terdengar tidak terima. "Ini cuma kebetulan. Kebetulan!" dengusnya.

"Kau pasti juga memakai baju terbuka, geutji?" tuduh Chanyeol sambil merengut tidak suka.

"Memang kenapa kalau aku pakai baju seksi, huh? Aku ini 'kan diva. Diva! Aku harus tampil paling 'wah' di antara semua yeoja!" bantah Baekhyun membuat kekasihnya mengeluarkan dengusan napas sebal.

"Awas saja kalau kau berani datang dengan bahu terbuka ataupun rok mini. Akan 'ku telanjangi kau dan 'ku buat kau tidak bisa tidur sampai besok pagi," ancam Chanyeol seduktif.

"Uuuhh~ takuttt~~~" balas Baekhyun sengaja bersikap genit membuat kekasihnya berbalik menyimpan tawa geli. Ah, meskipun yeoja mungil itu sangat sering bersikap seenaknya sendiri, manja, dan keras kepala, namun dia tetap satu-satunya orang yang dapat merubah mood Chanyeol hanya dalam satu kedipan mata.

"Eh, Chagi, Chagi~" panggil Baekhyun kembali menggunakan suara kekanakannya.

"Hm?" balas Chanyeol pendek, sekarang senyuman sudah menghias indah di lengkungan bibirnya berkat serangan-serangan aegyo kekasihnya barusan.

"Ayo, bergosip," ajak Baekhyun simple.

"Ya!" Chanyeol menegur. "Urus saja ban mobilmu, kenapa kau malah mau mengajakku bergosip, huh? Aish, jinjja!"

"Aku bosan, tak ada yang bisa diajak bicara di sini." Suara Baekhyun kembali menjadi sedih.

"Apa yang mau kau bicarakan?" Chanyeol kembali menyerah dan menuruti keinginan kekasihnya, lagipula dia juga tidak ada teman bicara. Kebetulan yang terlalu sempurna.

"Tadi siang, waktu aku chatting dengan Kyungsoo, kami membahas sesuatu." Baekhyun memulai ceritanya.

"Apa itu?" tanggap Chanyeol.

"Itu lho soal konsep pesta dansa prom night kita," jawab Baekhyun.

"Pesta topeng?" pertanyaan Chanyeol dijawab 'uh-hum' pendek oleh kekasihnya. "Memang kenapa dengan pesta topeng?"

"Kau belum tahu?" suara Baekhyun terdengar terkejut, membuat Chanyeol mengerutkan alis antara tidak mengerti dan penasaran. "Katanya, setiap kali ada pesta topeng pasti ada phantom (hantu)."

"Phantom?" ulang Chanyeol, mendadak merasa merinding tanpa sebab.

"Eoh, phantom." Baekhyun menegaskan kalimatnya. "Di antara orang-orang yang memakai topeng dan tidak terlihat wajahnya, ada phantom yang menampakkan diri. Katanya, phantom itu berpenampilan seperti tamu undangan, memakai topeng, menutupi wajahnya, tapi dia tidak ada di dalam daftar tamu. Dan ada yang bilang juga, dia bisa menjadi namja ataupun yeoja, berbaju serba hitam maupun serba putih. Chagiya, berhati-hatilah kalau ada orang yang seperti itu di pesta. Berjalan-jalan sendirian dengan baju serba hitam atau serba putih dan punya wangi mawar."

"Wangi mawar!?" Chanyeol terkejut dua kali. Baekhyun kembali ber-'uh-hum' pendek.

"Mau jadi namja atau yeoja, phantom selalu punya wangi mawar. Dan lagi, Chagiya. Katanya, phantom itu selalu mencari orang untuk diajak berdansa di pesta. Lalu, orang yang terlihat berdansa dengan mereka di malam pesta, besoknya akan hilang entah kemana."

Chanyeol ber-sweat drop ria.

"Biasanya mereka menggoda korban dengan bau harum tubuh mereka."

Chanyeol pucat pasi.

"Chagiya, kau tidak mencium wangi mawar 'kan?" tanya Baekhyun.

"A-anni…" jawab Chanyeol gugup. "Aku tidak…"

Breeze… kembali angin dingin dengan harum mawar berhembus menyapa indera perasa Chanyeol, membekukannya, menyulapnya menjadi patung batu Dewa Apollo. Namja jangkung tersebut terdiam, lidahnya kelu seiring dengan seluruh persendian tubuhnya yang kaku seolah telah berkarat puluhan tahun. Dan di saat dia sedang berada di mode blank seperti itu, mendadak sesosok yeoja berjalan mendekat. Yeoja berkulit putih dengan sepasang kaki jenjang yang indah mulus, high heels, bahu bening yang terbuka memanjakan mata, serta gelombang cantik di ujung rambutnya yang lurus jatuh seperti kain sutera.

Mata lebar Chanyeol mengikuti gerakan yeoja itu. Bukan karena yeoja itu cantik, wajahnya tertutup separuh oleh topeng putih yang berhiaskan aksen bulu, jadi mana mungkin Chanyeol bisa tahu dia lebih cantik dari kekasihnya atau bukan. Mata namja jangkung tersebut mengikuti arah langkah gemulai si yeoja, yang notebene-nya menuju padanya, karena penampilannya. Yeoja itu memakai gaun putih, high heels putih, topeng putih, semua serba putih! Chanyeol terbayang-bayang perkataan Baekhyun barusan dan entah kenapa hal tersebut membuatnya semakin bergetar ciut. Terlebih ketika yeoja tak dikenal itu sudah berdiri tepat di hadapannya, wangi bunga mawar langsung menyeruak mengisi jeda di tengah-tengah mereka.

Nampak bibir yeoja tersebut tersenyum, namun tidak dengan bibir Chanyeol yang memutih pucat. Selangkah demi selangkah, yeoja itu mengikis jarak untuk mendekati sosok tinggi yang mematung diam di hadapannya sementara Chanyeol tanpa sadar beringsut mundur menempelkan seluruh bagian belakang tubuhnya ke dinding. Tangan putih yeoja tersebut terangkat, menyentuh tangan Chanyeol yang sedang memegang ponsel di dekat telinga. Chanyeol menutup mata merasakan sentuhan dingin itu, meski bisa dia rasakan jika kulit yang mengusap tangannya terasa begitu lembut, sehalus sutera, tapi tetap saja…

Agak lama, sentuhan itu menghilang, bersamaan dengan aroma mawar di sekitar Chanyeol. Namja jangkung tersebut membuka mata perlahan-lahan, mengintip, dan ketika dia tidak lagi melihat sosok yeoja serba putih itu di depannya, Chanyeol menghembuskan napas lega.

Aku selamat, batin Chanyeol.

"Chagi … eh?" Chanyeol akan mengajak bicara Baekhyun kembali, namun baru dia sadar jika … ponselnya tak lagi ada di tangannya!

Chanyeol meraba seluruh tubuhnya, merogoh setiap sakunya berharap jika tadi dia sudah menyimpan ponselnya tanpa dia sendiri tahu. Namun nihil, benda tipis itu tidak ada dimanapun di bagian tubuh dan pakaian Chanyeol. Namja tersebut termenung sejenak, berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Dia masih memegang ponsel ketika yeoja serba putih itu datang. Lalu yeoja itu menyentuh tangannya … tunggu, menyentuh tangannya? Menyentuh tangannya yang sedang memegang ponsel!?

Mata besar Chanyeol membeliak semakin lebar. Dengan panik dia berlari menuju tengah-tengah hall pesta, memutar badan, melihat berkeliling, berusaha untuk menemukan sosok yeoja dalam baju serba putih tadi.

Phantom apanya!? Ini sih namanya pencurian! Geram Chanyeol dalam hati. Namja tersebut beranjak, berjalan mengelilingi ruang pesta sambil terus mencoba mengenali wajah setiap yeoja berbaju putih yang dia lihat.

Kemana si Phantom itu pergi? Kurang ajar! Umpat Chanyeol dalam hati.

Breeze… mendadak udara bergerak lembut membawa desis aroma mawar, Chanyeol berhenti bergerak dan mencoba untuk menemukan sumber dari bau itu. Dia tidak lagi merasa merinding maupun takut dengan angin serta wangi mawar tersebut, karena biar bagaimanapun ponselnya lebih penting dari apapun.

Chanyeol berjalan kembali mengitari ruang pesta. Dari arah panggung, terdengar pengumuman jika pesta prom night akan segera dimulai dan para tamu undangan diharapkan untuk mendekat ke panggung. Tapi Chanyeol tak peduli, dia tetap berkeliling untuk menemukan sosok yeoja berbaju putih yang sudah mencuri ponselnya. Chanyeol berhenti sejenak untuk sekedar menenangkan diri dan mencoba berpikir jernih. Kalau diingat-ingat lagi, pintu hall dijaga oleh security, jadi jika ada orang yang keluar bahkan sebelum pesta dimulai pasti akan mendapat teguran. Chanyeol mengetatkan gigi, baru terpikir olehnya kalau satu-satunya tempat yang tepat supaya bisa menangkap pencuri itu adalah pintu hall, berjaga di pintu hall dan mengawasi orang-orang yang keluar dengan gelagat mencurigakan.

Breeze… tepat ketika Chanyeol akan bergerak, angin mawar itu kembali terasa, kali ini dalam jarak yang dekat. Dari arah belakang, sebuah tangan berjari lentik mendadak menyentuh bahu Chanyeol, membuat tubuh namja itu membatu tanpa diminta. Mata Chanyeol melirik bahunya yang ditempeli tangan putih mulus tersebut lalu menelan ludah dengan seret. Perlahan tangan putih itu bergerak, mencakar pelan kulit leher Chanyeol dengan ujung kukunya yang cantik. Chanyeol memberanikan diri untuk menoleh dan begitu dia memutar kepala, langsung ditemukannya seraut wajah bertopeng putih yang tengah tersenyum padanya.

Yeoja itu menarik tangannya tepat di saat Chanyeol ganti memegang kedua lengannya. Entah mendapat keberanian darimana, namun tak bisa namja itu pungkiri jika pasti tangannya sekarang sangat dingin dan gemetar ketika memegang lengan yeoja tak dikenal tersebut. Yeoja itu melirik tangan Chanyeol yang sedang mencengkeram lengannya dan mengulum senyuman tipis.

"Kembalikan ponselku," pinta Chanyeol dengan nada geram, menyembunyikan getar takut dalam suaranya. Sekali lagi bibir pink di depannya hanya tersenyum. Yeoja itu mengarahkan mata lurus langsung ke tengah iris Chanyeol, sedikit membuat Chanyeol terkejut. Namja tinggi tersebut terdiam manakala sadar jika sepertinya dia kenal dengan sepasang mata berwarna hazel itu.

Tahu jika Chanyeol lengah, yeoja cantik tersebut menarik kedua lengannya begitu saja dari telapak tangan Chanyeol. Begitu cepat dan mulus seolah kulit tubuhnya terbuat dari kain sutera yang licin, gerakannya begitu halus tanpa disadari sama sekali oleh Chanyeol. Dan ketika namja tinggi bertelinga lebar itu tertampar kembali ke dunia, yeoja serba putih tersebut sudah beberapa langkah ada di depannya, sedang tersenyum sembari memamerkan ponsel Chanyeol di tangannya. Chanyeol mengerucutkan mulut, dibalas kedipan nakal oleh yeoja itu.

"Awas kau," geram Chanyeol, kali ini benar-benar kesal. Melihat namja incarannya sudah terpengaruh dan mulai mengikutinya, yeoja serba putih tersebut hanya mengulum senyuman dan berbalik, melangkahkan kaki menjauhi Chanyeol sekaligus menuntun namja itu untuk menuju ke balkon.

"Mau kemana kau, huh?" Chanyeol berhasil meraih kembali lengan putih tersebut tepat di dekat pintu balkon. Dia menariknya dengan kuat lalu menyudutkannya di dinding, mengunci semua gerakannya dengan kuasa tubuhnya yang giant.

"Berani sekali kau mengerjaiku…" desis Chanyeol. "…Byun Baekhyun."

Yeoja berpenampilan serba putih yang tidak dapat melakukan perlawanan apapun di dalam kurungan lengan panjang Chanyeol itu sekali lagi hanya mengulum senyum.

"Apa kau segitu takutnya dengan phantom, Park Chanyeol?" balas suara lembut dengan nada mencibir tersebut penuh kemenangan.

"Kh-" Chanyeol menyeringai. "Kau benar-benar kurang kerjaan, Chagiya," desis Chanyeol kesal.

"Kembalikan ponselku!" pintanya yang langsung dituruti oleh Baekhyun, yeoja berpenampilan serba putih yang berpura-pura menjadi phantom untuk menakut-nakuti kekasihnya yang bernyali ciut seperti anak kecil.

"Kalau tahu kau akan setakut ini, seharusnya aku bilang sekalian semua korban phantom akan mati." Baekhyun masih menggoda sembari melepas earphone tanpa kabel yang tersembunyi manis di balik kibaran rambut hitamnya dan terhubung ke ponsel di dalam tasnya.

"Apa kau begitu ingin aku mati, huh?" tanya Chanyeol sedikit tajam, tidak terlalu suka dengan gurauan kekasihnya yang terkadang keterlaluan.

"Daripada kau bersama dengan yeoja selain aku, aku lebih senang kau mati," jawab Baekhyun enteng sembari menjatuhkan tatapan mata innocent pada sang kekasih yang hanya bisa menyeringai speechless.

"Kau benar-benar harus mendapatkan hukuman," ujar Chanyeol.

"Wae?" tanya Baekhyun heran.

"Pertama dan kedua, karena kau sudah menolak pergi denganku dan berbohong soal ban mobilmu." Chanyeol menyentuh sebelah pipi Baekhyun sambil melepas perlahan topeng di wajahnya, memperlihatkan betapa cantik kekasih mungilnya itu malam ini.

"Ketiga, karena kau sudah membuatku menunggu begitu lama tapi malah menceritakan cerita bohong soal phantom." Tangan Chanyeol turun dengan mulus ke kedua bahu sempit Baekhyun yang tidak tertutupi kain apapun.

"Sebenarnya, cerita phantom itu tidak bo … eunghh~" kalimat Baekhyun terhenti oleh desahan samar karena Chanyeol lebih dulu mendaratkan satu kecupan ringan di permukaan harum kulit bahunya yang sensitif.

"Keempat, karena kau sudah mengerjaiku dan menakut-nakuti seperti ini." Chanyeol menyeringai penuh kemenangan melihat semburat merah muda yang mulai menghias indah di kedua pipi chubby kekasihnya.

"Dan kelima, karena kau memakai baju terbuka."

Kali ini giliran Baekhyun yang mengulum senyum sambil mengerlingkan mata seduktif.

"Tapi aku cantik 'kan?" tanya yeoja mungil itu sambil meraih dua sisi kerah jas Chanyeol dan menariknya mendekat hingga tak ada jarak lagi di antara wajah mereka.

"Ini prom night dan bukan ajang red carpet," desis Chanyeol.

"Karpet yang dipasang di depan berwarna merah," balas Baekhyun tak mau kalah. Kekasihnya hanya bisa tersenyum mendengar bantahan manja itu. Chanyeol mengangkat tangan, mendaratkan sentuhan demi sentuhannya di kulit putih Baekhyun yang terasa halus memanjakan indera perasanya.

"Sutera ini milikku," bisik Chanyeol di sebelah telinga kekasihnya hingga membuat gadis itu terkikik kegelian. Begitu asyik mereka berdua bercumbu hingga tidak sadar dimana mereka berada sekarang. Meski tamu undangan lain tidak ada yang memperhatikan karena terlampau fokus pada panggung, namun para pelayan yang berseliweran seolah tidak mau melewatkan adegan romantis-seperti-drama pasangan kekasih itu dan memberikan apresiasi dengan senyuman geli yang ditahan.

Wajah Baekhyun memerah ketika sadar jika ada pelayan yang sedang memperhatikan tingkahnya bersama sang kekasih. Dengan gugup gadis itu menarik diri dari jamahan Chanyeol, membuat namja jangkung tersebut menahan tawa.

"Mau pindah tempat?" tanya Chanyeol tidak ingin melepaskan kilatan 'ingin' di kedua mata lebarnya.

"Kenapa?" balas Baekhyun dengan mulut mengerucut.

"'Kan sudah 'ku bilang kalau kau harus dihukum, Anak Nakal." Dengan gemas Chanyeol mencubit pelan sebelah pipi kekasihnya. Baekhyun tersenyum lantas mengalungkan kedua lengannya ke leher Chanyeol.

"Hukum aku, Chagiya," pinta Baekhyun yang mungkin lebih tepat disebut 'menantang'.

"Dengan senang hati, Chagiya," sahut Chanyeol. "Akan aku warnai sutera putih ini dengan warna merah di sini, di sini, dan di sini." Chanyeol menunjuk leher, bahu, dan bagian atas dada kekasihnya.

"Pervert," desis Baekhyun dengan seringai genit menghias seksi wajah cantiknya.

Pet, mendadak ruangan gelap karena lampu diredupkan, tanda jika pesta sudah mulai masuk ke inti acara. Lagu pelan mozart mengalun romantis, membentuk pasangan demi pasangan dansa di tengah-tengah hall. Dan di antara para pasangan itu ada Chanyeol juga Baekhyun yang kembali saling menatap penuh makna.

"Ayo, kita juga mulai," bisik Chanyeol lirih, mengalahkan romantisnya alunan instrumen pengiring gerakan dansa. Baekhyun tersenyum, kemudian menarik kepala kekasihnya untuk mendekat lalu mempertemukan kedua bibir mereka dan membiarkannya terlumat sempurna dalam ciuman penuh cinta dengan lagu mozart sebagai backsound-nya.

Sementara itu, di tengah-tengah hall dansa, di antara beberapa pasangan yang saling berpelukan sambil bergerak pelan mengikuti alunan musik…

"Kau harum. Suka dengan essence mawar, ya?" tanya seorang namja pada gadis pasangan dansanya. Seorang gadis berkulit putih dengan wajah (sepertinya) cantik yang tertutup oleh topeng berwarna hitam, senada dengan gaun serta high heels-nya yang juga berwarna kelam.

Yeoja itu tersenyum sebelum menjawab. "Iya, aku suka."

"Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu. Siapa namamu?" tanya namja itu lagi.

"Sebelumnya, setelah pesta ini selesai, apa Oppa mau bicara sebentar denganku?" gadis itu balik bertanya.

"Tentu saja," jawab si namja antusias.

Sekali lagi yeoja yang berpenampilan serba hitam tersebut tersenyum. "Baiklah, namaku … Phantom."

-END-


Repost ff jaman dahoeloe kala, masih inget banget ini prompt dari empunya ChanBaek Indonesia, Deestacia
Kekeke
Dan juga atas permintaan rahmaindirawati di instagram, udah Myka repost yaa khusus buat kamu juga :*

Malam ini Myka update bareng lagi lho sama author2 CB favo kalian yg lain (meski Myka telat =P). Jangan lupa mampir ke lapak SilvieVienoy96, Hyurien92, Sebut Saja B, Blood Type-B, JongTakGu88, Pupuputri, Cactus93, Uchanbaek 27x06, Jonah Kim ft Flameshine, RedApplee, Baekbychuu, Byun Min Hwa, Baekhyeol, Sigmame, dan Oh Lana.

Review and I'll kiss you muach~ :**