You Make Me Fall in Love

[KaiSoo gs]

Present by RoséBear

Chapter 03

Disclaimer : Just a fanfiction!

Summary: Impian tidak pernah menghilang. Kau mengerti?

(created: 180409)


Sudah cukup tentang apa yang telah terjadi selama beberapa waktu ini. Kyungsoo mendapat gangguan mental atas kehadiran Kai di sisinya. Mendatangi Kyungsoo dengan berbagai alasan. Mulai dari iklan untuk sang ibu, project event percontohan yang menjadi tanggung jawab Kyungsoo, hingga hal sekecil makan siang. Berhasil membawa tubuh Kai untuk duduk setidaknya satu jam di hadapan Kyungsoo. Selama satu minggu terakhir.

Dia pulang dengan rasa lelah. Berjalan kaki di malam hari, memukul sedikit bagian pundak belakang untuk meruntuhkan setidaknya sedikit rasa pegal. Kyungsoo berhenti di depan sebuah minimarket. Tubuhnya terpantul di pintu kaca walau nampak tidak jelas. Dia menyindir dirinya sendiri atas kebodohan beberapa hari ini.

"Kim Jongin! Permainan apa ini?"

"Dia benar-benar menyukaimu Kyungsoo."

Degh

Tubuh Kyungsoo terlonjak kaget atas sapaan yang mengejutkan. Seorang wanita cantik membalas perkataan sebelumnya lalu menawarkan sekaleng minuman soda.

"Mau bicara denganku?"

Sesopan mungkin Kyungsoo menundukkan kepala, berterima kasih untuk minuman yang menyegarkan kepala. Wanita itu adalah Yixing, entah itu sebuah kebetulan atau dia memang mengikuti bus yang digunakan Kyungsoo.

"Jadi kau tinggal di dekat sini Kyungsoo?"

"Ya Nona."

Kedua lutut Kyungsoo berdempetan. Dia hanya mengenakan rok selutut yang kemudian terasa dingin saat malam hari.

Kekikukkan Kyungsoo adalah sesuatu yang membuat gadis manis itu terlihat menggemaskan. Jelas dia tidak banyak menuntut, begitu patuh dan pada faktanya Kyungsoo memang sangat cerdas. Alasan yang masuk akal untuk menyukai gadis ini sebagai seorang asisten yang kini berkesempatan mendapatkan posisi lebih baik di perusahaan.

"Jangan khawatir. Aku menyapa bukan untuk membuatmu gugup. Sudah sangat lama aku tidak minum di pinggir taman seperti ini."

Kyungsoo segera mendongak mendengar Yixing bicara. Dia mengangguk mencoba memahami situasi.

Suara kaleng beradu dinginnya besi bangku taman beberapa kali membuat Kyungsoo sadar Yixing sedang bersenandung mengikuti musik yang mengalun dari truk makanan tidak jauh dari tempat mereka duduk.

"Menyenangkan memiliki teman bicara. Apa kau senang bekerja di perusahaan?"

sekali lagi dia menganggukkan kepala pelan. Gerakan itu benar-benar membuat Kyungsoo terlihat menggemaskan. Jelas karena dia membayangkan bagaimana hari-hari yang telah dia lewati di perusahaan.

"Ya."

"Apa kau ingat hari pertama kau diterima dan masuk ke ruanganku?"

Yixing tertawa kecil. Membuat Kyungsoo malu untuk mengingat. Sebab di hari pertama dia tersandung di depan pintu. Menarik perhatian Yixing yang bicara dengan seorang pria di atas kursi roda. Pria yang kini menjadi teman sisa hidupnya.

"Kau tahu hari itu juga menjadi begitu spesial untukku."

"Untukmu?" Ia bertanya tanpa sengaja. "Ah, maafkan aku Nona." Segera meminta maaf setelahnya.

"Tidak masalah Kyungsoo. Ini memasuki tahun pertama. Aku sangat senang membayangkan kehidupanku. Mungkin kau sudah mendengar gosip yang beredar, tentang Suho yang mengalami kecelakaan. Dia bahkan tidak sadarkan diri hingga satu tahun. Aku begitu frustasi, tapi tidak sekalipun aku kehilangan harapan. Lihatlah sekarang, dia bisa mengatasi semua kesulitan dan bersamaku kembali."

"Nona pasti sangat mencintai wakil direktur."

Yixing setuju dengan perkataan Kyungsoo.

"Aku menjadi orang pertama yang dia cari saat sadar."

"Nona pasti sangat bahagia."

Wanita cantik itu kemudian menyenggol Kyungsoo. "Bagaimana denganmu? Bukankah Kai juga pria yang menyenangkan?"

Kyungsoo tersenyum kaku untuk pertanyaan barusan. Dia akui jika pemuda tan itu memang menyenangkan. Tidak ada kata bosan untuk memandang setiap bagian tubuh Kai, namun juga memiliki bagian menyebalkan di mana saat Kyungsoo menyadari jika mereka bukanlah pasangan kekasih yang sebenarnya.

"Kai jelas menyukaimu Kyungsoo."

Dia diam beberapa saat. Memberi kesempatan untuk Yixing memberitahu hal lain.

"Semasa sekolah, ada begitu banyak anak perempuan yang menyukai Kai. Tapi dia tidak suka bermain wanita. Kai bilang dia hanya akan menyukai seorang wanita saja. Seorang wanita yang akan memiliki hatinya."

"Tunggu! Apa nona berpikir wanita itu adalah aku!?" Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri. Kedua matanya membulat lucu menanti jawaban Yixing. Tapi Yixing hanya tertawa kecil menanggapi ketidakpercayaan Kyungsoo.

"Sudah sangat malam. Sebaiknya kau segera masuk dan beristirahat. Ah! Besok adalah akhir pekan. Bagaimana jika makan malam bersama Ayah?"

"Ayah?"

"Ya, tuan Kim beberapa hari ini sangat penasaran tentangmu. Tenanglah, seseorang akan menjemputmu."

Yixing memegang kedua pundak Kyungsoo. Wanita cantik itu mendekatkan wajah lalu berbisik.

'Berpakailah sedikit terbuka. Kai sangat menyukai wanita dengan dress tanpa lengan.'

Dia tersenyum saat menjauhkan kepala dari Kyungsoo.

"Aku harus kembali. Selamat malam Kyungsoo."

Ia melambaikan tangan, berbalik badan untuk berjalan beberapa meter menuju sebuah bangunan tiga lantai tempatnya tinggal bersama Luhan di kamar paling atas.


~ RoséBear~


Bintang bersinar, seakan tahu seseorang memandang.

Cahaya bintang menjadi berkilau, seolah memberitahu tentang harapan yang masih tersisa.

Nyanyiannya di malam hari, seperti perpisahan yang menyakitkan.

Sebab tidak pernah seseorang menyakiti dirinya.

Sosok lelaki itu keluar dari dalam mobil. Mencegat Yixing hingga mengejutkannya.

"Apa yang kau katakan pada Kyungsoo?"

Tersenyum dan membuat Kai merasa marah.

"Menyampaikan pesan Suho tentang keinginan Ayah untuk makan malam bersama."

"Ayah?" Kai berdecih. Memalingkan muka menjauhi tatapan Yixing.

"Jika kau tidak masalah melibatkan Kyungsoo. Maka akan kutarik dia lebih dalam seperti keinginanmu saat aku meninggalkan negara ini."

"Kai! Sudah satu tahun!? Bagaimana bisa kau tetap bertahan di tempatmu? Semuanya sudah berubah."

"Ya! Kau benar. Semuanya sudah berubah."

Dia melepaskan Yixing. Berjalan menuju ke arah yang sama dengan Kyungsoo sebelumnya.

"Kau mau kemana Kai?"

Ia tersenyum sumringah atas panggilan Yixing.

"Kekasihku menungguku. Mungkin dia mengalami serangan panik atas pembicaraan denganmu barusan. Bukankah aku harus menenangkannya?" Langkahnya hanya terhenti untuk kalimat panjang itu. Kemudian meninggalkan Yixing sesegera mungkin.

Melibatkan orang luar yang tidak tahu masalah sebenarnya. Walau hati merasa terluka, rasa sakit itu nyatanya seperti bara api yang siap menyala kembali.


~ RoséBear~


Di dalam bangunan itu, Kyungsoo menemukan secarik kertas tertempel di daun pintu saat dia menutupnya. Ia membaca pesan yang Luhan tinggalkan, tentang perempuan itu yang menghabiskan satu malam bersama teman-teman sekerjanya. Kyungsoo baru saja melepas sepatu dan meletakkan di atas rak. Bahkan kakinya baru sebelah menggunakan sendal rumah ketika seseorang mengetuk pintu.

"Tunggu sebentar." Tanpa sadar dia berteriak. Buru-buru mengenakan sendal agar bisa membuka pintu.

Tubuhnya terdorong masuk ke dalam akibat sebuah pelukan erat. Pintu tertutup rapat namun tidak ada kesempatan untuk melakukan penolakan saat suara berat membelai pendengaran Kyungsoo.

"Satu malam saja. Biarkan aku di sini."

Seperti hujan di musim gugur yang pernah dia lewati di akhir tahun pelajaran. Begitu dingin dan meruntuhkan.

Saat itu dia seperti merasakan perasaan orang yang kini memeluknya. Dia sadar, ini tidak sekuat yang terlihat. Ada saat di mana dia membutuhkan bantuan orang-orang.

Malam ini, Kyungsoo tahu itulah saat Kai membutuhkan bantuan. Berharap Kyungsoo memberi setitik cahaya agar membuat perasaan menjadi hangat.

Entah apa yang terjadi. Lebih darimana pria ini tahu tempat tinggalnya. Tentang sesuatu yang menyakitkan. Dia merenggangkan tangan memberi sambutan untuk kehadiran Kai.

"Hanya ada coklat panas."

Kyungsoo melihat Kai tersenyum tipis untuk minuman panas yang dia sajikan di atas meja.

"Terima kasih Kyungsoo."

"Beri aku waktu sepuluh menit untuk membersihkan diri."

Izinnya berlaku saat Kai menganggukkan kepala. Tapi Kyungsoo juga tidak bisa berbohong jika dia bersimpati atas pandangan menyedihkan Kai. Maka segera dia membersihkan diri agar bisa menemani pria itu melewati waktu yang sunyi.

Ia kembali dengan rambut setengah basah dan pakaian kasual. Begitu sopan saat hanya menggunakan celana tidur panjang dan kaos berlengan panjang. Ia juga mengambil coklat panas miliknya, -tentu sudah mendingin karena ia tinggalkan.

"Tidak keberatan aku menghidupkan televisi?" Ia bertanya. Menyalakan televisi segera saat mendapat persetujuan.

Bahkan percakapan di dalam televisi tidak mengurangi kesunyian di antara mereka. Seolah ada ruang kosong di masing-masing tempat keduanya duduk. Ada jarak kecil yang terasa begitu lebar. Jelas tidak tergambar.

Kyungsoo mencoba menyesap coklat hangat miliknya, tanpa sadar minuman itu ternyata sudah habis. Seolah dia melewati masa seorang diri, namun pada kenyataannya pria itu telah memandangi Kyungsoo sejak dia duduk dan bergumul dalam pikirannya sendiri.

"Kau masih mau?"

"Eoh!?" Tanpa sadar Kyungsoo terkejut. Matanya membulat lucu. Sebab Kai mendorong cangkir bermotif beruang dengan coklat yang hanya disesap sekali.

Sesopan mungkin Kyungsoo menggeleng. Mendorong cangkir itu menggunakan satu tangan.

"Terima kasih. Tapi itu milikmu."

Dia juga meletakkan cangkir miliknya ke atas meja. Menarik kedua kaki menaiki sofa dan bersender sembari memeluk diri sendiri untuk mengurangi hawa dingin udara malam yang menembus cela-cela terbuka bagian bangunan ini.

"Apa kau belum ingin beristirahat? Karena aku benar-benar mengantuk. Akan kubawakan bantal dan selimut untukmu."

Dia beranjak dari sofa. Tersenyum manis untuk memberitahu Kai. Karena Kyungsoo mulai tidak tahan bergelut dalam kesunyian dengan seorang pemuda di sampingnya.

"Kyungsoo."

Panggilan serta tarikan Kai pada kaos yang Kyungsoo kenakan menahan langkahnya. Diliriknya Kai yang sedang menyusun kalimat.

"Bolehkah aku tidur di kamarmu?"

"Apa!?"

Tentu saja dia terkejut atas ketidaksopanan barusan.

"Maksudku... Aku bisa tidur di lantai. Aku tidak akan mengganggumu." Dia memberi jeda, menundukkan kepala lalu berkata dengan sebuah bisikan. "Jika kau tidak keberatan."

Sesungguhnya dia keberatan. Bagaimana Kyungsoo bisa membawa Kai masuk ke kamarnya. Membiarkan pemuda itu di dalam satu ruang yang sama ketika dia tidak sadarkan diri. Tapi begitu menyedihkan jika menolak permintaan Kai. Seolah pria ini telah ditolak ratusan kali, akan sangat menyiksa jika Kyungsoo juga menolaknya.

"Aku sedikit ragu tentang itu." Ucapnya pelan. Membawa Kai mendongakkan kepala.

"Ahhhh." Ia menghela napas berat. "Begitu rupanya. Tidak masalah, aku akan tidur di sini. Tidak perlu membawakan bantal dan selimut. Selamat malam Kyungsoo."

Ia memberikan ucapan perpisahan yang terdengar menyakitkan. Seolah Kyungsoo menelantarkan dirinya. Melepaskan Kyungsoo, namun membuat gadis manis itu menjadi bimbang. Kai telah menarik tubuh ke atas sofa meringkuk seperti bayi beruang.

"Jika kau tidak masalah untuk tidur di karpet."

Dia bicara. Sambil lalu namun bisa di dengar Kai. Segera lelaki itu bangkit. Mengekor Kyungsoo memasuki kamar.


~ RoséBear~


Seumpama malam yang gelap melingkupi ketakutan. Tidak ada yang mampu mengontrol ketakutan itu, mengalir begitu saja tanpa ada yang bisa mencegah.

Rasa dingin berubah menjadi sebuah kehangatan. Dari rentan tangan yang paling dalam, seseorang memberinya pelukan. Untuk waktu satu malam dia mendapatkan kenyamanan. Tidak ia pedulikan jika esok dia diabaikan.

Kim Jongin, tidak bisa menepati janji untuk tetap berada di tempatnya. Bahkan untuk satu jam pertama. Dia beranjak karena udara dingin yang memaksa. Terbawa sendiri oleh alam bawah sadarnya.

Menaiki ranjang dan memeluk Kyungsoo, bersama bergelung di dalam satu selimut. Sebab tidak ada penolakan dari gadis yang kelelahan. Hingga alarm dari jam weker yang telah Kyungsoo siapkan memaksa sepasang mata bulat itu untuk segera sadar di pagi hari.

Hal pertama dia rasakan adalah sesuatu yang berat dan menimpa tubuh Kyungsoo. Mengurungnya untuk tidak memiliki banyak ruang gerak. Ia pikir itu hanyalah guling yang melintang di atas perut, nyatanya sesuatu itu lebih menekan. Memaksa Kyungsoo berbalik badan. Ia memiliki waktu beberapa detik untuk segera menyadari situasi di mana wajah Kai begitu dekat. Sepasang mata kelam itu juga sudah terjaga dengan senyum mengembang menyambut pagi hari Kyungsoo.

"YAAAAKKK!"

Tidak ada bunyi gedebuk dari tubuh Kai yang terdorong, sebab lelaki itu semakin erat memeluk Kyungsoo agar bertahan di atas ranjang.

"Oh hey! Teriakkanmu membuat telingaku sakit Kyungsoo."

Ia melotot, membalas tatapan Kyungsoo. Segera Kai melepaskan Kyungsoo beranjak dari atas ranjang. Dalam detik yang sama ia merasakan dinginnya lantai tempat ia berpijak.

"Aku akan membersihkan diri. Bisa kau siapkan sarapan kita?" Ucapnya sambil lalu meninggalkan Kyungsoo yang seakan kehabisan oksigen di sekitar untuk bernapas.

Pagi itu, Kyungsoo sadari jika dia tidak boleh terperangkap dalam sandiwara Kai. Dia bahkan membuat tembok pembatas untuk keberadaan mereka. Menghalangi Kai agar melangkah mendekat. Bahkan sarapan yang Kai pinta hanya mendapat sandwich dan susu putih dari dalam kulkas yang harus di tunggu beberapa menit untuk mengurangi suhu dingin.

"Kyungsoo? Kau marah padaku?"

Satu pertanyaan yang sejak setengah jam lalu selalu terlontar namun tak kunjung mendapat jawaban pasti. Berjarak lima menit Kai akan kembali bertanya di sela-sela kegiatan akhir pekan Kyungsoo yang membereskan tempat tinggalnya.

"Apa kau akan ke mini market membeli cemilan?"

Untuk satu waktu dia menanyakan hal berbeda sebab Kyungsoo membalut tubuh dengan coat coklat yang terlihat hangat dan membawa beberapa uang tunai.

"Aku akan menemanimu."

Lelaki ini seperti memiliki dua kepribadian atau mungkin dua orang dengan sifat yang berbeda. Kyungsoo tidak pernah menanggapi keberadaan Kai sejak pemuda itu selesai membersihkan diri di apartemennya. Dalam hati dia mengumpat kenapa teman satu atapnya tidak kunjung kembali padahal sudah jam sembilan pagi.

"Kyungsoo?"

Tapi umpatannya tertelan kembali saat sosok Luhan datang dari arah berlawanan, melambaikan tangan bersama wajah kebingungan saat mendapati Kai mengekor di belakang Kyungsoo. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan sekaligus tanda tanya besar.

"Kau mau kemana?" Ia berusaha mengabaikan keberadaan Kai.

"Membeli bahan makan untuk siang dan malam nanti. UWAHHHHHH!"

Teriakannya melengking tinggi saat Kai menarik tubuh Kyungsoo buru-buru menuruni tangga hunian mereka.

"Kami harus pergi."

Hanya itu yang Kai ucapkan membuat Luhan tertahan di tempat dengan segala kebingungan di pagi hari.

"Lepaskan aku segera atau aku akan berteriak penculikan."

Ia tidak melepaskan Kyungsoo segera. Yang ada tubuhnya berbalik dan memeluk Kyungsoo erat. Seperti menyampaikan salam perpisahaan sebab keduanya berjarak beberapa meter dari pagar bangunan dengan satu kaki menginjak bagian aspal jalanan.

"Kau boleh marah padaku, tapi bisakah itu selesai acara makan malam nanti? Jika kau ingin menamparku, aku akan menerima itu."

Mata Kyungsoo mengerjap beberapa kali. Tubuhnya terdorong untuk memiliki jarak yang terbilang sempit. Di mana Kai menunduk untuk menyamarkan tinggi mereka. Tanpa sadar Kyungsoo menunduk, ia tertawa kecil membuat Kai kebingungan. Rasanya tidak ada lelucon tapi tawa Kyungsoo seakan mengejek diri sendiri.

"Aku serius Kyungsoo. Bagaimana menyampaikannya, ah!"

Otaknya memang cerdas. Bahkan dalam waktu yang sama dia menemukan sebuah penawaran untuk Kyungsoo.

"Bukankah kau bertanggung jawab atas event percontohan yang akan datang? Bagaimana jika aku membantumu?"

Sayangnya Kyungsoo menolak segera.

"Jangan sampai kau mengacaukan pekerjaanku! Kau tidak tahu seberapa keras aku bekerja setahun ini menjadi anak magang dan pekerja kontrak di perusahaan itu."

Sepasang obsidian kembarnya membulat menatap Kai garang. Ia berbalik badan, berjalan meninggalkan Kai. Tapi kehangatan itu kembali dia dapatkan. Kai kembali memeluk Kyungsoo dari belakang.

"Sekali saja, kau membuka hatimu untukku." Menyesap aroma menyegarkan dari tubuh Kyungsoo. Pria itu membuat darahnya berdesir namun kebekuan pada beberapa bagian tubuh yang berhasil menahan Kyungsoo.

"Aku akan menjemputmu."

Ia lepaskan Kyungsoo, memandang sekitar dan menemukan sebuah halte beberapa meter dari sana.

"Kau tunggu aku di sana, jam tujuh malam."

Wajahnya berubah menjadi bahagia lagi. Seolah Kyungsoo menerima tawaran barusan. Padahal tidak ada respon apapun.


~ RoséBear~


Kemudian dia mengalami kebimbangan yang luar biasa. Hujan di sore berubah menjadi rintik. Meninggalkan dingin dengan egoistis tingkat tinggi.

Batinnya berperang, tak peduli jika teman satu atap memandang kebingungan.

"Ya! Do Kyungsoo! Sebenarnya kau mau pergi kemana?"

Langkah kecil yang sejak tadi membawa tubuh mungil Kyungsoo bolak balik berjalan di dalam kamar terhenti oleh teriakan Luhan. Ia tatap sosok Luhan yang bersender di daun pintu.

"Aku sudah katakan padamu tadi. Apa perlu aku bercerita lagi?"

Luhan menghela napas atas jawaban Kyungsoo barusan. Penuh dengan tekanan dan keraguan. Maka dibawanya langkah memasuki kamar mendekati Kyungsoo.

"Hanya makan malam biasa. Lagipula kau bilang tidak ada hubungan serius dengan pemuda itu. Bersikap santai dan tolak saja ajakannya."

Kyungsoo terdiam. Bibir merapat namun sepasanng mata menatap tajam Luhan.

Dia juga ingin menolak. Karena Kyungsoo sadar dia tidak memiliki hubungan serius dengan Kai. Hanya saja...

"Jika kau tidak siap membuka hatimu. Maka segera tutup rapat Kyungsoo."

Napasnya tertahan atas perkataan Luhan barusan. Gadis itu benar, Kyungsoo takut tersakiti sebab dia tidak mengenal Kai.

'Sekali saja kau membuka hatimu untukku.'

Kalimat Kai pagi ini kembali menghantui Kyungsoo. Menariknya ke sebuah pintu terbuka dengan dunia yang tenang.

'suami pertama meninggal dunia. Suami kedua berselingkuh dan diusir, lalu yang terakhir memilih istri pertamanya dan pergi ke luar negeri. Hidupnya seperti kincir air. Dia akan berhenti hanya ketika air di bendungan habis, sayangnya jika air itu diumpamakan dengan pria maka dia tidak akan berhenti. Lihat saja bagaimana lelaki selanjutnya.'

Kyungsoo memejamkan mata erat. Sejak kecil dia sudah sering mendengar hal sejenis itu dari para tetangga tentang sang ibu. Hingga mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal. Sayangnya Ibunya hanya seorang konsultan, bukan pekerja kantoran. Jadi dia hanya menerima orang di rumah hingga gosip tidak pernah berhenti. Dan tentang ketiga pria itu, memang benar adanya.

Hanya saja, dalam hal-hal krusial, sang ibu tidak pernah menunjukkan betapa campur aduk perasaannya selama ini. Tapi dalam kasus Kyungsoo, menimbulkan swatafsir dan apa yang tidak ingin dia lakukan di kemudian. Pada saat itu, dia menetapkan tidak akan pernah memiliki kekasih lagi. Menikah atau apapun, bukan sekedar karena persoalan sang ibu. Melainkan karena dia telah dikecewakan oleh lelaki pertamanya. Seseorang yang berhasil menyakiti hati Kyungsoo.

Luhan adalah sahabat karib yang Kyungsoo miliki. Dia telah menceritakan banyak hal pada orang asing ini, bahkan tentang kehadiran Kai. Segala hal dengan harapan dia mendapat dorongan yang mempertahankan tempat berpijak dari guncangan kerasnya dunia.

Tarikan Luhan dan suara lembut gadis itu benar-benar memaksa Kyungsoo untuk kembali ke jalur kehidupan yang sebenarnya.

"Jadi apa yang akan kau gunakan untuk hadir di makan malam itu?"

Gadis bermata sejernih rusa itu menjadi heboh dengan segera mengeluarkan semua gaun terbaik yang Kyungsoo miliki.

Wrap dress yang sangat pas di tubuh Kyungsoo. Membentuk bagian pinggang.

Namun ia menggeleng segera, semua karena kerah V yang memperlihatkan belahan dada. Kyungsoo pernah menggunakan gaun itu. Dia tidak ingin mengenakan sekali lagi jika hanya untuk membuat tidak nyaman.

"How about wide scoop neck? Ini membuat bahumu nampak professional."

Napas Kyungsoo meluncur cepat. Dia tidak menyukai pakaian itu saat ini. Bahkan untuk atasan halter beraksen frills yang bisa membuat dadanya terlihat lebih berisi. Ia menolak semua itu.

"Kai menyukai wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka. Tapi aku tidak ingin mengenakan kerah V untuk acara makan malam."

Mereka diam karena mencoba berpikir lebih keras tentang ucapan Kyungsoo.

Luhan yang bekerja di sebuah Departemen store memiliki beberapa pakaian yang belum dipasarkan sebab masih dalam tahap perencanaan. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu.

"Tunggu di sini sebentar."

Perintahnya segera. Meninggalkan Kyungsoo dengan pandangan kebingungan. Gadis berkebangsaan China itu menghilang di balik pintu kamar Kyungsoo untuk beberapa saat. Kembali dengan sebuah gaun Tosca selutut bermodel tunik. Gaun dengan drop waist yang cocok di kenakan tubuh Kyungsoo.

"Kau menyukainya? Sebenarnya ini rancanganku yang ditolak minggu lalu. Lihatlah, tanpa lengan namun menutup bagian leher."

"Aku menyukainya Lu."

Jawaban paling singkat karena segala keringkasannya. Tanpa komentar berlebihan dia merapikan diri segera. Banyak hal yang kurang, namun dia mendapatkan estetika.

Pada tahap ini, Kyungsoo tampil menawan. Ini makan malam perdananya dengan keluarga seorang lelaki. Asing namun memiliki sudut penuh harapan. Ia berusaha sebaik mungkin, mungkin Kai adalah sebuah pembuktian.

Tidak ada alasan menolak pria itu. Dia tidak termasuk ke dalam golongan yang tidak diinginkan Kyungsoo. Dia tampak seperti Ayah kandungnya yang telah meninggal. Memenuhi kriteria kehormatan.

"Apa kau berpikir ini terlalu cepat Lu?"

Kyungsoo.

Tetap saja kesulitan untuk melepaskan diri dari sebuah kebimbangan. Bahkan ketika Luhan akan menutup pintu hunian mereka.

"Aku sangat yakin. Dia terdengar sangat serius denganmu Kyung. Sudah hampir jam tujuh. Jangan membuatnya menunggu."


~ RoséBear~


Daya daya sedang bekerja menghasilkan setumpuk nafsu yang kuat. Mendesaknya dengan hebat untuk menyampaikan sebuah pesan bahwa beberapa hal memiliki kaitan yang erat, bahwa malam ini angin malam ingin terlibat.

Dengan cepat dia bangkit menyadari sebuah mobil sedan hitam berhenti tidak jauh dari halte tepat setelah sebuah bus melaju. Ia tersenyum kecil setelah bibir hatinya terasa kaku.

Sayangnya Kyungsoo kembali menghela napas berat. Seorang pria keluar bersama wanita berpakaian modis. Bukan orang yang dia nanti.

Ia seakan memiliki dunia dengan ruang pesimistik. Ingin menyerah namun ia berusaha bertahan walau jam di tiang halte menunjukkan pukul sepuluh malam.

Kadang-kadang, di beberapa waktu dia penasaran tentang hari-hari yang dilewati oleh sepasang kekasih, hari-hari penuh kegembiraan, hari-hari yang memiliki pengaruh hebat dengan melibatkan lawan jenis di dalamnya.

Ini, juga, adalah masalah yang tidak bisa dia hindari. Ketika hatinya diresapi oleh kehadiran seorang pria. Pria yang dia anggap sebagai jalan lurus kehidupan. Walaupun dalam jangka pendek, meskipun masih terdapat keraguan. Ia tetap memaksakan diri.

"Dia hanya terlambat."

Sementara pikirannya dipenuhi oleh kata-kata pembelaan, jadi ia terpaksa menuruti kata hati dengan penuh keraguan.


~ RoséBear~


Sementara di tempat lain, berat untuk menjelaskannya. Pemuda itu telah berdiam diri, menjadi asing dilingkungannya sendiri. Nyaris tidak ada yang bicara selain Ayahnya yang baru tiba dan menghampiri.

"Bagaimana keadaan Yixing?"

Matanya mulai berkaca-kaca. Gigi dan bibir merapat. Sesuatu itu tertahan di lidah, nyaris tak pasti apakah dia akan menyampaikan atau menyembunyikannya. Tapi dia tetap harus menyampaikan, setidaknya pada sang Ayah.

"Dokter masih berusaha menyelamatkannya."

"Ayah..."

"Hm?"

"Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitinya."

"Kai, ini saatnya kau memperbaiki diri. Memikirkan masalah-masalah yang telah terjadi, juga..." Ada jeda pada kata berikutnya. Pria tua itu mengusap punggung anak keduanya dengan pelan. Rasa kasihan berusaha merengkuh, menahan anaknya agar tidak menghindar.

"... Membuka hatimu."

Yang paling tragis adalah memaksa Kai teringat akan sesuatu. Dalam satu detik dia menempatkan posisi terkejut luar biasa. Seolah dia melakukan kesalahan terbesar.


~ RoséBear~


"Lu... Bu-ka pin-tu," bergetar dan hampir membeku. Sebab dia telah berada di luar ruangan selama berjam-jam dengan pakaian tipis dan terbuka. Membiarkan angin malam menampar tubuhnya berkali-kali.


To be continue...


AN: Hallo!

Selamat berakhir tahun dan semoga hari-hari kalian menyenangkan.

Semuaya... aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Jika suatu saat aku mulai tidak mempublish sesuatu lagi melalui akun ini namun masih menyisahkan cerita yang belum selesai. Maka selesaikanlah cerita itu melalui pikiran kalian masing-masing. Pada dasarnya aku memiliki keinginan yang sama dengan sebagian besar orang Maka itu tidak akan sulit untuk kalian. Terima kasih banyak...

Regards,

Rosie.