Karena itu Kau

Fairy Tail milik Hiro Mashima

Karena itu Kau by Nalu D

All is Lucy POV

Kediaman Keluarga Strauss

Baiklah, ini mungkin terdengar gila. Tapi sungguh saat ini aku tengah duduk di ruang tamu milik kediaman keluarga Strauss. Tak perlu ditanya lagi bagaimana perasaanku saat ini. Jelas saja aku terluka, tapi karena kali ini aku berada di lingkungan asing, rasa luka itu samar oleh rasa gugup yang kurasakan.

Didepanku tengah duduk seorang gadis dengan rambut berwarna silver. Dia tampak beda dengan apa yang kulihat di foto milik Natsu. Jelas saja, kurun waktu dua tahun dia pasti berubah. Rambut pendeknya yang kini lebih panjang di kuncir dua. Wajah kekanakannya berubah menjadi cantik dan anggun. Make up ringan yang menghiasi mukanya tampak begitu manis. Dialah Lisanna Strauss. Orang yang dicintai Natsu. Seseorang yang mungkin bisa dibilang Rival bagiku.

Lisanna memandangku heran, jelas saja karena ini pertemuan pertama kami. Dan juga dia pasti bingung karena tiba-tiba saja ada orang asing yang ingin bertemu dengannya. Di tambah lagi gadis asing itu membawa seikat mawar bermacam warna yang dirangkai dengan begitu indahnya. Menyadari tatapannya yang masih melihat ke arahku, aku segera berdiri dan memperkenalkan diriku.

"Aku Lucy Heartfilia." Ucapku pelan seraya membungkuk hormat ke arahnya dan tersenyum. Dia balas berdiri. "Aku Lisanna Strauss." Lisanna juga mengenalkan dirinya padaku. Lalu dia tersenyum simpul.

Bisa terlihat jika Lisanna masih bertanya-tanya dengan kedatanganku ini. "Maaf sebelumnya, mungkin ini sedikit mendadak. Aku kesini karena ingin menyampaikan pesan dari seseorang yang sangat kau kenal."

Mendengar penjelasanku, Lisanna tampaknya mulai mengerti walaupun keraguan masih sedikit terlihat dari sikapnya. "Duduklah dulu." Titahnya saat melihatku yang masih berdiri. Aku hanya tersenyum lalu kembali duduk. Lisanna juga ikut mendudukan dirinya kembali.

"Jadi…" Sepertinya Lisanna tak suka membuang-buang waktu. Mungkin dia tipe gadis yang selalu langsung pada intinya. "Terimalah ini." Kusodorkan seikat mawar yang kubawa juga sepucuk surat beramplop merah muda.

Lisanna memandangku heran nampaknya dia enggan mengambil apa yang kusodorkan tanpa jelas dari mana asalnya. "Natsu Dragneel, kau pasti mengenalnya bukan, Strauss-san?"

Mendengar nama Natsu matanya berbinar, ekspresi wajahnya semakin berseri. Gawat, hatiku terasa semakin ngilu. "NATSU!? Jadi Natsu yang menyuruhmu kemari?" Lisanna tampak antusias. Dia mengambil bunga yang kusodorkan juga amplopnya.

"Yah, dia yang menyuruhku kemari."

"Lalu, kenapa dia tak datang langsung saja menemuiku?" Tanya Lisanna sembari memandangi mawar yang dikhususkan untuknya dengan penuh ceria. "E-to, dia bilang dia masih butuh waktu untuk menemuimu."

Lisanna menghela napas dalam, "Kuharap dia tak marah padaku." Dasar Bodoh, meski kau tak pernah memberinya kabar, Natsu tak pernah sedikitpun marah padamu. Dia bahkan selalu merindukanmu hingga kehadirankupun hanya dianggap angin olehnya. Menyedihkan!

"Tentu saja dia tak marah padamu. Natsu itu pemuda yang baik. Walaupun dia bodoh dan terkadang berisik sekali, dia itu jarang sekali marah pada seseorang. Kalaupun ada orang yang melakukan kesalahan padanya, Natsu pasti akan selalu memaafkannya. Kau pasti mengetahuinya kan, Strauss-san?"

Eh? Kenapa raut wajah Lisanna seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Ya Ampun! Apa aku terlalu memperlihatkan kalau aku ini selalu memperhatikan Natsu?

Lisanna tertawa ramah. "Yah, kau benar. Karena dia adalah Natsu Dragneel." Suasana canggung yang tadi sempat terjadi kini kembali normal. Lisanna itu rupanya gadis yang sangat baik. Walaupun awalnya aku mengira jika dia ini jutek rupanya aku salah. Lisanna itu baik juga manis.

"Sudah lama mengenal Natsu?" Tanya Lisanna. Bunga yang tadi ia genggam dengan eratnya ia letakkan di sebelahnya. Kali ini tangannya memegang sebuah amplob bernuansa merah muda yang isinya sangat ingin ku ketahui.

"Sejak masuk SMA, 2 tahun yang lalu." Jawabku. Raut wajahnya berubah muram, "2 tahun yah, selama itu pula aku meninggalkan Natsu. Tapi kurasa dia baik-baik saja bukan?"

"Yah, dia baik-baik saja." Meski sesekali dia menangis merindukanmu.

"Pasti begitu, karena ada kau yang menemaninya." Ujar Lisanna seraya tersenyum ke arahku. Sungguh, untuk sesaat aku berpikir jika Lisanna mendukungku untuk bersama Natsu. Mendengar apa yang dikatakan Lisanna, tidak ada pikiran yang lain. Hanya itulah yang ada dalam pikiranku.

"A-apa maksud anda, Strauss-san?"

"Tidak, Maaf. Lupakan saja."

Inilah dia yang paling ku benci. Setiap orang begitu mudah mengatakannya. Lupakan Saja? Jangan bercanda, setelah apa yang kau katakan mana mungkin aku bisa melupakannya begitu saja? Dia pikir aku bodoh? Sudahlah.

Lisanna memandangi amplop itu sembari sesekali melihat ke arahku. Aku tidak tahu harus membicarakan apa lagi. Kami baru pertama kali bertemu, topik apa lagi yang akan orang bahas di situasi seperti kami ini?

"Maaf, Heartfilia-san." Suara Lisanna berhasil memecah kesunyian diantara kami.

"Kenapa?"

"Apa suratnya boleh aku baca sekarang?"

"T-tentu saja."

Jemari-jemari putih Lisanna dengan lincah membuka amplop itu. Mengeluarkan isinya dan mulai membacanya. Sesekali ia tersenyum saat membaca surat itu. Wajahnya tampak begitu antusias. Sial! Aku sangat ingin mengetahui isinya.

Paling tidak, jika aku tak boleh mengetahui isinya, suruh saja aku untuk pulang dan meninggalkanmu yang kini sedang bahagia membaca surat cinta dari Natsu. Demi Tuhan, ini sungguh menyakiti hatiku.

Bertemu dengan Lisanna membuat darahku cepat sekali naik. Kenyataan jika Lisanna gadis baik, cantik juga ramah semakin menjatuhkanku. Dia adalah saingan beratku. Meski saingan pemenangnya sudah ditentukan. Aku membenci Lisanna.

Bukan, bukan begitu.

Sejujurnya Aku hanya iri pada Lisanna

.

.

Lisanna kembali melipat surat yang sudah selesai dibacanya. Senyum masih menempel di wajah cantiknya. Dia tampak sempurna dan dia cocok untuk bersanding bersama Natsu. Baiklah hentikan pemikiran negatif mengenai itu.

Lisanna kembali menatapku. "Heartfilia-san, arigatou." Seharusnya Lisanna tak perlu mengucapkan itu. Jika dia berterimakasih padaku, aku akan semakin kesulitan. Aku tak bisa berkata apa-apa. Terlalu sulit, akhirnya hanya sebuah senyuman tulus yang bisa kuberikan sebagai balasannya.

Saat Lisanna mengucapkan itu, aku sempat berpikir untuk menyerah dan mendukung hubungan mereka. Lagipula meskipun aku bertahan, pada akhirnya hasilnya akan sama saja. Kenyataan itu rasanya menyakitkan. Begitu menyakitkannya hingga ingin kulupakan.

Aku tidak ingin air mataku menetes di depan orang yang baru saja ku temui. Karena itulah kuputuskan untuk pulang. Melihat aku berdiri, Lisanna sontak menatap heran ke arahku.

"Ku rasa tugasku sudah selesai. Terima kasih atas keterbukaannya Strauss-san." Aku menundukkan badanku ke arah Lisanna.

"Tidak, tidak. Seharusnya aku yang berterimakasih. Terima kasih sudah mau datang kemari. Heartfilia-san." Dia balas menundukkan badannya ke arahku. "E-to, Heartfilia-san!" Panggilnya begitu aku akan melangkahkan kakiku.

"Ada apa?"

"Natsu mengajakku untuk pergi dengannya Minggu depan. Maukah kau ikut?"

Oh, jadi isi surat Natsu adalah ajakan untuk Lisanna. Dia terlalu baik, aku tak mungkin ikut. Natsu hanya ingin berdua pergi dengannya. Lagipula kalaupun aku ikut aku hanya jadi orang ketiga.

"Terima kasih atas ajakannya. Tapi sepertinya aku tidak bisa ikut. Lagipula itukan acara kalian berdua."

"Kumohon ikutlah bersama kami, lagipula aku akan mengajak seseorang. Kebetulan dia akan datang hari Minggu nanti. Jadi kumohon ikutlah." Lisanna memasang wajah memelasnya. Baiklah, kalau itu yang dia inginkan. Jika menyangkut Lisanna, aku yakin Natsu tak akan marah.

"Baiklah." Mendengar jawabanku Lisanna tertawa senang. "Oh iyah, tolong katakan juga pada Natsu jika aku menerima ajakannya."

Aku hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu, sampai jumpa."

"Yah, sampai jumpa."

.

.

Kamar Lucy

Hari ini sangat melelahkan. Harus bertemu dan berbicara dengan Lisanna bukanlah hal yang biasa saja. Bagaimanapun itu adalah apa yang aku pilih. Aku sudah memutuskan untuk menemui Lisanna. Nyatanya pertemuan kami membawa dampak yang cukup mengerikan bagi diriku.

Melihat Lisanna secara langsung, berbicara dengannya memberikan pemikiran baru pada diriku. Sebuah pernyataan yang sangat menyakiti hatiku. Walaupun aku membencinya, aku tak bisa menghindari kenyataan jika aku setuju seandainya Lisanna bersama Natsu.

Lisanna itu gadis baik, aku yakin dia bisa membahagiakan Natsu.

DRRTTTT DRRRRTTT

Handphone ku bergetar. Tak perlu diragukan lagi, ini pastilah panggilan dari Natsu. Dengan segera aku mengangkatnya.

'Moshi moshi Luce?'

"Yah?"

'Bagaimana tadi? Kau sudah bertemu dengan Lisanna? Bagaimana kabarnya? Apa dia masih sama dengan yang kau lihat di foto?'

Jujur, aku ingin menutup teleponnya saat ini juga. Tapi…

"Yah, aku bertemu dengannya. Dia baik-baik saja. Rambutnya sudah lebih panjang dan dia tampak lebih dewasa."

Terdengar gelak tawa dari seberang sana. Natsu bodoh!

'Apa dia suka dengan bunga yang ku kirimkan untuknnya?'

"Ku rasa dia sangat menyukainya."

'Benarkah?'

"Tentu saja. Kau pikir aku bohong?"

'Tidak,tidak, maksudku ini sulit kupercaya.'

Suara Natsu terdengar begitu bahagia. Demi Tuhan, aku ingin menangis saat itu juga.

"Percayalah, karena itu yang sebenarnya."

'Arigatou, Luce. Oh iya apa dia mengatakan sesuatu mengenai surat?'

"Yah, dia bilang dia menerima ajakanmu."

'Syukurlah.'

"Tapi dia bilang dia akan mengajak temannya juga"

'….'

"…."

Hening

'….'

"Natsu?" Aku mengerti dia pasti kecewa. Dia hanya ingin berdua dengan Lisanna.

'Gomen, jadi Lisanna mengajak temannya juga?'

"Begitulah yang dia katakana, dia juga memaksaku untuk ikut." Aku ingin tahu respon apa yang akan Natsu berikan jika aku juga ikut.

'Benarkah? Kau ikut kan Luce?'

"Yah, aku ikut. Tak apa kan jika aku ikut?"

'Tentu saja. Justru aku senang jika kau ikut. Terima kasih Luce, syukurlah kau ikut.'

Natsu bodoh! Kenapa dia berkata seperti itu?

'Baiklah, kurasa semua pertanyaanku sudah terjawab. Arigatou,Luce.'

"Sama-sama, Natsu."

'Ah, satu lagi. Kapan kita akan membeli ice cream yang sudah ku janjikan itu?'

Rupanya Natsu masih mengingat janjinya. "Terserah kau saja."

'Kalau begitu, nanti aku hubungi lagi. Jaa ne'

"Yah, Jaa ne"

Panggilan pun terputus. Pikiranku terasa rumit. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Rasanya sangat memusingkan. Dari banyaknya yang kupikirkan aku hanya tahu dua hal.

Pertama, kenyataan jika aku mendukung Lisanna, meskipun aku membenci hal itu.

Kedua, aku semakin mencintai Natsu

Lalu sekarang apa yang harus ku lakukan?

Tbc

Minna, maaf yah kalau ceritanya makin gaje. Ditunggu buat reviewnya, arigatou