Share

.

.

.

Hay Mina-san...

Chapter 3 update nih. Sebelumnya, otha mau ngucapin terima kasih banyak buat para readers yang udah me'reviews fict gaje ini. Maaf kalo updatenya telat.

Hmm, lagi malas ngebacot ni. Langsung aja, Monggo...

DISCLAIMER:

Naruto by Masashi Kishimoto

Rating :

K+ T

Pairing :

Naruto x Hinata

Genre :

Romance/Humor

Warning :

AU, OOC, Gaje, Typo bertebaran

AISHITERU

Chap. 3

"Aku pulang!" teriak Naruto setelah memarkir motornya dipekarangan rumah dan langsung berlari mendorbak pintu rumahnya tanpa perasaan. BRAKKKK

"NARUTO!, sudah berapa kali ibu bilang, jangan mendorbak pintu. Biaya perbaikannya mahal tahu!" teriak seeorang wanita cantik berambut merah dari arah dapur.

Naruto melepas sepatunya didepan rumah kemudian masuk kedalam rumah menuju arah dapur. Tasnya ia lempar diatas sebuah sofa biru tua, yang berada diruang tamu. Naruto bergegas kedapur. Dilihatnya ibunya sedang mencuri piring-piring yang sudah selesai digunakan.

"Kaa-san, kali ini lauknya apa?" tanya Naruto seraya duduk manis didepan meja makan.

Sore ini, Naruto sedang jalan-jalan ke taman bersama anjing kesayangannya. Bulunya coklat panjang dan halus.

"Kyubi, kita ke bawah pohon itu saja yah!" kata Naruto pada anjingnya, Kyubi, saat melihat sebuah pohon rindang ditaman. Kyubi menggonggong pelan menyetujui usul majikan manisnya itu. Mereka pun berjalan pelan menuju pohon itu.

"Hm, Kyubi. Kau mau dengar curhat ku tidak?" tanya Naruto pada Kyubi saat mereka sudah merebahkan diri dibawah pohon rindang itu. Naruto merasa bodoh bertanya pada seekor anjing. Tapi biarlah, sekalian meluapkan perasaan yang membendung dalam hati, kata Naruto dalam hati.

"GUKK" jawab Kyubi sambil mengibas-ngibaskan ekornya ketanah. Sepertinya dia suka mendengar curhat Naruto.

"Baiklah. Kamu memang anjing yang manis" kata Naruto menatap Kyubi sambil tersenyum. Tangannya mengelus-ngelus pelan kepala kyubi. "GUKK" Kyubi merasa senang dielus-elus seperti itu.

"Hmm, jadi begini. Aku sedang jatuh hati pada seorang gadis disekolah. Tapi sepertinya, dia hanya menganggap biasa saja, seorang teman. Aku sangat suka padanya, apa kamu punya usul, bagaimana cara menarik perhatiannya?" tanya Naruto pada Kyubi yang sedang tidur dipangkuannya.

"GUKK" Kyubi menjawab singkat sambil mengibas-ngibaskan ekornya dan kembali melanjutkan tidurnya (-_-( )'.

Naruto melirik anjing coklatnya sinis, sebuah keringat besar bertengger dijidatnya, illfell menghinggapi hatinya.

'Huh, dasar bodoh!. Masa Curhat sama anjing. Mending dijawab, lah ini jawab GUKK terus. Makin kelihatan bodoh aja gue!. Hah' kata Naruto dalam hati. Memang, tampak bodoh bicara sama anjing. Untung saja, keadaan taman itu sedang sepi, jadi tidak orang yang melihat kebodohannya itu.

"hihiihi"

"Eh?" Naruto terkejut mendengar kikikan seseorang.

"Hihihihi"

Naruto sudah mulai merinding mendengar suara kikikan yang kedua. Dalam pikirannya sudah penuh dengan hal-hal yang berbau horor.

"Hihihhi"

Suara itu berasal dari balik pohon. Naruto mulai keringat dingin. Ia melihat Kyubi yang masih tidur dengan santainya.

"Hihihihi"

Terdengar lagi. Naruto ingin berlari meninggalkan taman itu dan berteriak keras menghilangkan rasa takutnya. Tapi tubuhnya terasa kaku. Dengan mengumpulkan keberaniannya, ia memberanikan diri melihat apa yang dibalik pohon itu.

"Ah, WAJAH NENEK LOE KERIPUT!" latah Naruto terkejut melihat apa yang ada dibalik pohon itu. Saking terkejutnya, tubuhnya jatuh terhempas kebelakang. Kyubi? Masih tidur dengan lelapnya.

"HAHAHAAHA!" tawa sosok itu keras melihat ekspresi Naruto.

"Ka-kau!" kata Naruto dengan terbata-bata. Telunjuk kanannya menunjuk sosok itu.

"Hehe. Hay Naruto-Senpai. Senang bisa bertemu!" kata Sosok itu sambil memamerkan giginya yang putih bersih.

"Hah. Ino. Ka-kau mengagetkan ku saja" kata Naruto pada sosok yang ternyata Ino, teman sekelas Hinata sambil membuang nafas lega. Ia bangkit dari tempatnya terjatuh dan kembali tempatnya duduk tadi. Ino mengikutinya dari belakang.

"hehe, Gomen Naruto-senpai" kata Ino sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Sedang apa kamu disini?" tanya Naruto sambil membersihkan bajunya yang kotor kemudian kembali merebahkan diri.

"Hah. Cuman sedang jalan-jalan. Aku malas dirumah terus" Ino ikut merebahkan diri disamping Naruto.

"Hmm, dimana ya?" tidak menghiraukan perkataan Ino, Naruto sibuk celingukan mencari sesuatu.

"Apa?"

"Kyubi. Anjing'ku. Tadi disini, tapi sekarang tidak tahu kemana"

"Anjing coklat berbulu panjang?, tuh lagi sama anjing'ku tuh, si Bella" kata Ino sambil menunjuk dua ekor anjing yang saling menjilati moncong satu sama lain.

Naruto melihat kearah yang ditunjukkan Ino. Ia terkejut. Cepat-cepat ia pergi ketempat Kyubi dan Bella kemudian menggendong Kyubi kembali ketempat ia merebahkan diri.

"Bodoh!. Jangan lakukan itu. Kamu belum cukup umur tahu" tegur Naruto pada anjing kesayangannya. Si anjing malah memberontak ingin kembali ketempat sang pujaan hati. Naruto dengan susah payah menahan anjingnya supaya tidak berbuat hal maksiat dengan anjing Ino. Naruto dan Kyubi bergulat, bergelinding ditanah seperti sepasang kekasih. Sedangkan Ino hanya terkikik geli melihat kelakuan kakak kelasnya itu.

"Haha... Kamu benar-benar lucu Naruto-Senpai" Ino tertawa sambil menahan perutnya yang sakit.

"Ah... Ino... Maaf, sampai lupa kalau kamu ada disini" Naruto cepat-cepat melepaskan anjingnya dan berdiri membersihkan pakaiannya. Kyubi yang terlepas, langsung berlari kearah anjing Ino, si Bella.

"Eh, Kyubi udah kembali ke tempat Bella lagi tuh" Ino menunjuk dua anjing yang sedang bermesraan itu.

"Huh. Sudah lah, nanti kalau ada apa-apa dia yang tanggung jawab" kata Naruto sambil merebahkan kembali dirinya dibawah pohon.

"Oh, hehe Dasar. Eh, ngemeng-ngemeng, siapa sih wanita yang disukai Naruto-senpai disekolah?" goda Ino sambil menyipitkan matanya. Ia menyikut-nyikut lengan Naruto yang tepat disampingnya.

"Eh?, Kamu-mu de-dengar ya?" Naruto mulai keringat dingin mendengar apa yang ditanya Ino barusan.

"Kalau tidak dengar, buat apa sih aku ketawa tadi? Haha" Ino mendorong sedikit bahu Naruto karna tidak tahan melihat kebodohan senpai-nya itu.

"..." Naruto tidak bisa menjawab. Ia hanya pasrah mendengar tawa Ino yang menyakitkan telingga itu.

"Hayo! Siapa? Hinata ya?" goda Ino lagi. Kali ini ia menatap Naruto dengan menyelidik.

"Eh?" Naruto sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bingung, apa gadis didepannya ini punya indera keenam?. Ino terus memojokkan Naruto dengan pertanyaan yang sama. Mau tak mau Naruto harus menjawab.

"Ka-Kamu tau darimana?, jangan-jangan kamu bisa baca pikiranku ya?"

"Huh, Ngaco. Aku sudah tahu saat Naruto senpai menjemput Hinata tadi siang" terang Ino sambil kembali merebahkan diri dibawah pohon setelah lepas dari rasa penasarannya.

"Oww" Naruto hanya ber'oh ria sambil kembali tempatnya semula.

"Mau tahu caranya untuk menarik perhatian Hinata?" tawar Ino. Sepertinya ia mendengar semua percakapan bodoh antara Naruto dan Kyubi.

"Hah?... Kamu tahu?, cepat beritahu aku, ayo!" Naruto langsung bersemangat kembali saat mendengar tawaran Ino tadi.

"Huh. Bisa tenang sedikit tidak. Kalau tidak, aku tidak akan beritahu"

"Ah, iya, Gomen. Apa caranya Ino?"

"Tidak ada"

"Apa?, tidak ada? Maksudmu?"

"Iya. Tidak ada"

"Hah?"

"Tidak ada... Budek!"

"Kalau begitu, buat apa kau berkata seperti tadi?" kata Naruto kesal sambil mengembungkan kedua pipinya.

"Huh, Dasar. Sudah kelas 3 SMA, tapi tindakannya seperti anak TK. Maksud ku, untuk menarik perhatian Hinata, tidak perlu melakukan hal-hal aneh" kata Ino mencoba menjelaskan.

"Hah?, Maksudmu? Aku makin tidak mengerti?. Jadi aku hanya perlu diam dan menunggu Hinata menyatakan cinta, gitu?"

"Ya melorot!"

"Apanya?"

"Otak Loe"

"Hah?"

"Kami-Sama. Napa Gue harus menawarkan diri menolong anak ini?, Nih mulut memang nggak bisa dijaga!"

"Loe bicara ama siapa sih?"

"Ama Pohon!"

"Ow!"

"Ya... Kami-sama... tolong cabut nyawa'ku sekarang!"

"Hush... Ino. Tidak baik bicara begitu. Entar kejadian lo"

"Hah" Ino menghembuskan nafasnya pelan. Ia sudah lelah berhadapan dengan Naruto yang IQ-nya dongkol.

"Jadi begini Naruto senpai. Maksud'ku, kamu harus memberi perhatian lebih pada Hinata. Misalnya, kamu ngajak Hinata ke kantin berduaan, selalu ada disisinya dan menemaninya disaat apapun. Lagipula aku lihat, sepertinya Hinata juga suka tuh, sama Naruto-Senpai" jelas Ino.

"Hah? Yang bener?" Naruto tersentak senang. Ia masih belum percaya kalau Hinata juga menyukainya.

"Iya Percaya deh. Aku ini tahu, gelagat orang yang sedang jatuh cinta" terang Ino bangga.

"Hah. Terima kasih Ino. Kamu memang teman yang baik" kata Naruto dengan wajah yang berseri-seri sambil mencubit gemas pipi Ino.

"aduh-duh-duh, Lepasin, sakit tahu..." kata Ino sambil melepaskan tangan Naruto yang masih bertengger di pipinya.

"ha, Iya.. Gomen"

"Hmm, Ya sudah. Aku pulang dulu. Sudah mau gelap nih" Ino bangkit dari dan bergegas untuk pergi.

"Hah. Iya Ino. Terima kasih ya. Ha? Mana Kyubi?" Naruto celingukan mencari Kyubi yang sudah tak berada ditempatnya tadi.

"Itu Naruto-senpai" Ino menunjuk dua ekor anjing yang sedang tidur bersamaan dibawah sebuah pohon kecil.

"AAAA. TIDAKKKKK. WOYYYY! KYUBI, HENTIKAN ITU. BIAYA RESEPSI PERNIKAHAN MAHAL TAHU!" Naruto berlari ketempat Kyubi dan mengendongnya paksa.

"Dasar" Kata Naruto sambil menjitak kepala anjingnya. Si anjing hanya meringis pelan karena kesakitan.

"Ino! Aku pergi ya. Sampai jumpa!" kata Naruto sambil melambaikan tangan sebelum ahkirnya pulang dengan mengendong anjingnya.

"GUKKK!" yang itu gongongan Kyubi buat si Bella.

"Huh Dasar. Jadi orang kok polos banget" kata Ino sambil tersenyum tipis.

"Bella. Ayo pulang!"

"GUKKK"

AISHITERU

Chapter 3.

NARUTO POV

"Kaa-san. Aku berangkat dulu!"

"Iya. Hati-hati dijalan ya!"

"Iya!"

Setelah berpamitan pada Kaa-San, aku keluar dari pagar depan bersiap melaju kesekolah kesayang-ku, KHS. Aku mengangkat kaki kiriku tinggi-tinggi dan menjatuhkan pantatku di jok motorku. CLEBB, CLICK, kunci telah dipasang dan aku siap melaju dengan motorku. Tinggal menstarternya aja. Ku angkat kaki kananku dan bersiap menendang 'kick starter'.

...

Lho? Kok nggak ada bunyi? Lho motorku? AKHHH! MOTOR KU HILANG!

Hehe, becanda. Aku sudah sampai didepan Sekolahku nih. Kalian sih, pake acara membaca hal-hal tidak penting diatas.

Hari ini, aku tidak membawa motor'ku kesekolah. Karna Jujur saja, aku sangat malas mengendarai motor. Lagipula, jarak sekolah dari rumahku tidak terlalu jauh, Cuma 2 KM. Ya, meskipun kemarin gara-motor itu juga, Hinata bisa memelukku. Hah, masih kerasa hangatnya pelukan Hinata

Aku memasuki kawasan sekolah yang dibatasi dengan pagar putih tinggi yang berdiri mengelilingi sekolah.

Tampaknya, aku belum terlambat, karena masih banyak anak-anak yang berkeliaran di luar kelas. Aku melangkahkan kaki menuju kelasku yang berada dilantai dua dengan senyuman andalanku. Dalam otakku, masih terpikirkan perkataan Ino kemarin, apa benar yang dikatakannya kemarin?, dan lagi masalah Sasuke yang ingin pindah sekolah karena Orochimaru-sensei. Aku mengangkat kaki kananku menginjak anak tangga dan bersiap menaiki tangga itu. Tapi langkahku terhenti. Aku masih belum bisa tenang sebelum masalah Sasuke selesai.

Aku tidak jadi naik ke lantai dua. Ku rebahkan pantatku disalah anak tangga itu. Kedua tangan menyangga daguku yang sengaja kuletakkan diatas telapak tanganku. Otakku mulai bekerja, mencari cara agar Orochimaru sensei berhenti mengejar Sasuke yang sudah kuanggap seperti saudara ku sendiri. Aku duduk termenung sendiri ditempat itu. DUKK, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

"Naruto-senpai" suara wanita. Ku dongkakan wajahku dan menoleh kearah suara itu berasal. Seorang gadis cantik berambut pink sedang menatapku sambil tersenyum.

"Sakura?" ku angkat sebelah alisku, menatap gadis itu dengan tatapan heran. Tanpa menghiraukan ekspresiku yang seperti itu, ia ikut duduk disampingku dan mulai melayangkan pertanyaan.

"Naruto-Senpai sedang apa disini? Tidak masuk kelas?" 2 pertanyaan sekaligus dilontarkan oleh gadis cantik disamping ku ini. Aku menatapnya heran. Untuk apa dia menanyakan itu, sementara dia juga berada disini, tidak memasuki kelas.

"Kamu sendiri?" tanya ku dengan sedikit senyuman agar tidak menyinggung perasaannya.

"Hmm, aku dari kelasnya Naruto-senpai. Sedang melihat seseorang. Naruto-senpai sendiri? Kayaknya banyak masalah?" 4 pertanyaan sudah dilontarkannya tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya itu. Aku jadi heran, siapa sih yang dilihatnya dikelasku? Ah pasti Sasuke. Ah sudah ah, toh bukan urusanku.

"Kelihatan ya?. Memang ada sesuatu yang harus kuselesaikan, tapi aku tidak tahu caranya."

"Beritahu saja. Akan ku bantu semampku. Tentang apa?" 5 sudah lima. Lima pertanyaan keluar dari mulutnya. Ia terlihat mengatur cara duduknya agar lebih nyaman. Sepertinya supaya dapat mendengar dengan lebih baik.

"Bukan apa, tapi siapa" kataku sambil kembali meletakan daguku diatas kedua telapak tanganku.

"Eh?" gadis itu tampak bingung dengan apa yang kukatakan. Dan tadi adalah pertanyaan ke 6 yang ia lontarkan. Meski pendek. Ahkkk, kenapa sih aku menghitung jumlah pertanyaan yang ia lontarkan terus?.

"Sasuke... Ia ingin pindah dari sekolah ini" tutup telinga ahhhhh.

1...!

2..!

3!

"APAAAAAA!" tuhkan. Aku tahu kalau dia menyukai Sasuke. Ia berteriak membuka mulutnya sehingga hampir selebar jidatnya itu. Sekarang ia kelihatan lebih syok dari aku sendiri saat kemarin Sasuke mengatakannya.

"Hush, gak bisa pelan sedikit teriaknya" kataku sambil melepas kedua telunjukku dari telinga.

"Ah, Gomen Naruto-Senpai" katanya sambil tersipu malu. Malu? Aha, aku goda saja dia.

" Kenapa sih ekspresinya kayak begitu? Jangan-jangan kamu suka lagi sama Sasuke" aku bertanya sambil menyipitkan kedua mataku, kudekatkan wajahku didepan wajahnya agar dia semakin gugup.

"Iya. Tapi apa masalah Sasuke-Kun hingga ia ingin pindah sekolah?"Ah~~~ jujur sekali sih nih bocah pinky.

End of Naruto POV

"Iya. Tapi apa masalah Sasuke-Kun hingga ia ingin pindah sekolah?" tanya Sakura sambil mengoncang-goncangkan tubuh Naruto yang sweetdrop dengan aura hitam disekelilingnya karena gagal menggoda Sakura.

"..."

"Naruto-Senpai!" teriak Sakura agak keras sehingga menyadarkan Naruto dari ritual Sweetdropnya.

"A...I-iya. Ada apa?" tanya Naruto setelah sadar.

"tanya lagi. Mengapa Sasuke-kun ingin pindah sekolah?" rengek Sakura sambil mengoncang-goncangkan tubuh Naruto sekali lagi.

"Oh iya. Begini!" Naruto mulai menjelaskan kejadian yang menimpa Sasuke Kemarin.

...

"Hah? Jadi gara-gara Orochimaru sensei?" tanya Sakura seakan belum percaya dengan apa yang didengarnya.

"Iya. Maka dari itu, aku sedang mencari cara agar Orochimaru sensei tidak mengejar Sasuke lagi" kata Naruto sambil kembali mendongkak dakunya.

"Hmm. Orochimaru sensei ya?. Tenang, aku tahu kelemahannya" kata Sakura seraya membangkitkan kembali semangat Naruto.

"Hah? Yang benar? Apa?" tanya Naruto dengan semangat 45.

"hehe... sini aku bisikin"

Pst psst pssst pssst.

"Sudah ngertikan?"

"Iya"

"kalau begitu, istirahat kita lakukan rencana itu" kata Sakura sambil bangkit dari duduknya.

"Iya. Terima kasih ya Sakura"

"Iya. Sama-sama. Kalau begitu aku kelas dulu" kata Sakura kemudian pergi meninggalkan Naruto.

"nggak Nyangka. Kelas 11 itu pintar-pintar" gumam Naruto seraya berjalan menaiki tangga menuju kelasnya.

AISHITERU

Chapter 3

%love%love%love%love%

TENG TENG TENG!

Bel istirahat telah dibunyikan. Anak-anak dalam kelas telah berlari keluar kelas untuk mengisi perut mereka. Tapi tidak untuk duo Dobe-Teme ini. Mereka masih terus mengadakan rapat paripurna yang dihadiri oleh dua anak lainnya terlibat dalam masalah itu, Naruto dan Sasuke. Hehe... Bingung? Sama Author juga bingung.

"Jadi sudah mengertikan Teme?" tanya Naruto pada Sasuke yang sedang mendengarkannya dengan serius.

"Hn" angguk kecil dari temannya itu, dianggap sebagai jawaban 'iya' bagi Naruto. Ia bangkit dari bangkunya dan seraya membereskan buku-bukunya.

"kau tunggu aku ditempat yang sudah diatur tadi. Aku akan pergi menjemput seseorang" itu kata terahkir Naruto sebelum ahkirnya berjalan keluar kelas meniggalkan sasuke.

11 IPA 1

"Sakura kau tidak ikut kekantin?" tanya Ino pada Sakura yang masih duduk dimejanya. Hinata sedang berdiri menunggu kedua anak itu didepan papan tulis.

"Tidak. Kalian pergi saja. Aku sedang menunggu seseorang" kata Sakura sambil memasukkan bukunya dalam tas pinknya.

"Oh, ya sudah. Aku dan Hinata pergi dulu ya" kata Ino. Ia mengandeng tangan Hinata dan berjalan keluar.

"Halo Ino!. Hinata-Chan!. Mau ke kantin ya" Naruto muncul dari balik pintu dan mengagetkan mereka berdua.

"AHHH!" teriak Ino dan Hinata sambil meloncat satu langkah ke belakang.

"Kenapa sih?" tanya Naruto dengan muka inocent super blo'onnya.

"KAU MENGAGETKAN KAMI TAHU!" teriak Ino dan Hinata bersamaan.

"OooW" Naruto hanya beroh ria

DUKKK! Ino mendorong punggung Hinata kedepan Naruto.

"A-apaan sih ino?" tanya Hinata pada Ino yang sedang senyam-senyum sendiri. Mukanya sudah memerah riah.

"Naruto. Ingatkan kemarin" tanya Ino pada Naruto.

"Ingat sih. Tapi aku datang kesini bukan untuk itu. Sakura ayo" kata Naruto sambil melirik Sakura yang masih duduk dimejanya.

"Ah. Iya" jawab Sakura.

"Hinata-Chan!. Lain kali kita ke kantin bareng yach! Aku pergi dulu" Naruto berbalik dan keluar dari kelas itu. Sakura mengikutinya dari belakang.

"Na-Naruto-kun!" lirih Hinata saat melihat Naruto pergi dengan Sakura.

"Sudah. Tidak apa-apa. Paling mereka berdua punya urusan yang penting" kata Ino menenangkan Hinata.

"Eh?, a-apaan sih ino? A-aku tidak me-mengerti?"

"Ah. Sudah. Ayo!"

"Jadi, Bagaimana?, apa Sasuke-Kun setuju?" tanya Sakura pada Naruto yang sedang berjalan didepannya. Mereka berdua sedang berjalan dilorong lantai satu.

"Iya. Sekarang dia sedang menunggu kita dibelakang sekolah. Tinggal memancing Orochimaru-sensei dan kita jalankan rencana itu" kata Naruto sambil menoleh kearah Sakura dan memamerkan senyumnya.

"Ah, syukurlah kalau dia setuju. Ku kira dia takkan setuju" kata Sakura. Kedua tangannya ia satukan dibelakangnya dan berjalan dengan riang mengikuti Naruto.

Ruang Guru!.

"Sudah sampai nih" kata Naruto saat sudah berdiri didepan sebuah ruangan. Diatas pintu ruangan itu, ada papan yang bertuliskan 'Ruang Guru'.

"Hmm. Jadi siapa yang masuk nih?" tanya Sakura.

"Kita berdua masuk"

"Ah, baiklah"

TOK TOK TOK

"Ya, masuk!" terdengar suara wanita yang agak tinggi namun terkesan lembut dari dalam ruang guru.

CLEK. Pintu itu terbuka dan muncullah dua anak berseragam.

"Oh, Uzumaki, Haruno. Ada perlu apa?" tanya seorang guru berambut hitam sebahu yang sedang duduk dimejanya.

"Hmm, a-anu Shizune-sensei. Kami ingin bertemu dengan Orochimaru-sensei" kata Naruto seraya menjelaskan maksud mereka berdua datang ketempat itu. Sakura hanya mengangguk kecil.

"Orochimaru-sensei ya. Tuh ada dimejanya" tunjuk guru yang bernama Shizune itu pada seorang pria berambut panjang yang sedang memakan cemilannya.

"Ah iya. Terima kasih sensei" kata Naruto kemudian berlalu meninggalkan guru itu. Sakura mengikuti Naruto dari belakang.

"Permisi Sensei" kata Naruto saat sampai didepan guru berambut panjang itu.

"oh kqmu Uzumaki. Ada apa?" kata Guru itu sambil menghentikan acara makan cemilannya itu.

"A-anu. Maaf kalau menganggu"

"Ya"

"begini sensei. Hmm, Sasuke... ingin mengatakan sesuatu pada sensei. Tapi... ini sangat rahasia. Makanya dia menyuruh kami datang memberitahu sensei. Sekarang sedang menunggu sensei dibelakang sekolah" jelas Naruto panjang lebar.

"Hah?, benarkah?" tanya guru itu sambil bangkit dari duduknya dengan wajah yang berseri-seri.

"Iya sensei" timpal Naruto sambil menunjukkan cengirannya.

"Hah baiklah. SASUKE-KUN... AKYUU DATANG!" guru itu langsung berlari meninggalkan Naruto dan Sakura yang sedang bersweetdroopria.

"Apa dia selalu begitu kalau mendengar nama Sasuke?" tanya Sakura illfeel melihat kelakuan orang yang disebut guru itu.

"Sudahlah. Babak Utamanya akan dimulai" Kata Naruto sambil menunjukkan seringaiannya.

Belakang Sekolah

Terlihat seorang siswa dengan gaya rambut mencuat keatas melawan grafitasi, sedang duduk melongo diatas sebuah box kayu yang sudah tak terpakai.

"lama sekali sih, si Dobe itu" gumam siswa itu. Sepertinya di kelihatan kesal karena harus beridam diri di tempat itu sendirian saja.

"SASUKE-KUN. AKU DATANG!" tiba-tiba terdengar teriakan lebay seseorang.

DEG. Siswa itu berdigik ngeri saat mendengar teriakan lebay itu. Di sudah hampir berlari meninggalkan tempat itu kalau saja dia tidak ingat akan rencana temannya itu.

Ia tetap duduk ditempatnya seolah tak menghirau mahluk gak jelas yang akan menemuinya. Seorang lelaki tua berambut panjang, berlari dengan gaya lebaynya menuju siswa yang sedang duduk diatas box kayu tersebut.

"Sasuke-kun. Apakah kau ingin berbicara denganku?" tanya lelaki tua itu saat sampai didepan siswa itu. Ia bertingkah seperti anak kecil yang dijanjikan mainan model terbaru.

"Iya" 'HOEEEKK. Kalau tak ingat rencana Naruto, aku lari tungang langang melihat monster ini' batin Sasuke meringis.

Lelaki itu bergerak maju dan duduk disampin siswa itu. "Kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Orochimaru. Tangannya mengenggam tangan Sasuke erat-erat.

'Naruto!. Lama sekali sih!. Gue udah nonjok muka nih orang!' batin Sasuke.

"E-emm. Be-begini..." Sasuke tidak tahu harus berkata apa. Ya iyalah. Naruto hanya menyuruhnya menunggu Orochimaru. Kalau harus berbincang-bincang dengannya, lebih baik Sasuke menceburkan diri disumur. Itu kata hati Sasuke.

"Apa sih, Sasuke-kun?" tanya Orochimaru lagi. Ia mendekatkan wajahnya didepan wajah Sasuke, sehingga membuat anak yang bergaya rambut mencuat ke atas itu, harus menahan nafsu untuk menonjok monyong Orochimaru.

'Argghhhhh KAMI SAMA!... Naruto... kalau lu berani ngerjain gue, bakal gue jadiin bolu goreng lu' Sasuke sudah tidak tahan. Batinnya sudah menyumpah serapah'kan Naruto.

"A-aa-anu..." Sasuke sudah berkeringat dingin. Orochimaru makin merapatkan dirinya dengan Sasuke. Wajah Sasuke sudah memanas. Bukan karena malu, tapi karena menahanan amarahnya yang sudah penuh sesak dalam hatinya. Sudah cukup. Sasuke tidak tahan lagi, tangan sudah gemetar. Ia kepalkan tangan kanan, perlahan ia angkat tangannya, bersiap menonjok muka si muka mesum itu, dan…..

"Orochi-Kun!" terdengar suara seseorang sedang berteriak marah.

'Ka-kabuto" gumam Orochimar pelan. Matanya terbelalak melihat seorang lelaki berambut putih sedang berdiri didepannya dengan aura hitam mengelilingi orang itu.

"Beraninya kamu…." Kata orang yang bernama Kabuto itu geram. Ia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap menghampiri Orochimaru. Sasuke tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia melirik kebelakang pria itu. Terlihat dua orang bocah sedang nyengir menunjukkan gigi mereka kepadanya. Seutas simpul tipis terbentuk diwajah Sasuke. Ahkirnya ia tahu kalau itu adalah rencana yang dikatakan bocah duren tadi.

"Oh… jadi kamu sudah berani ya main dibelakang ku, ha?" Tanya Kabuto dengan meninggikan suaranya. Nafasnya naik turun tak beraturan.

"nggg…. I-itu… a-anu Kabuto sa-sayang…" kata Orochimaru terbata-bata. Ia kelihatan gugup dihadapan Kabuto.

"APA!" gertak Kabut0.

"I-itu…."

"Halah….." BUAKHHHH. Sebuah bogem gosong mendarat di hidung Orochimaru. Alhasil membuat Orochimaru terlempar beberapa meter dari tempat duduknya dan mendarat ditanah denga hidung yang mengeluarkan langsung pingsan seketika. Sedang Sasuke sudah menghindar beberapa langkah sebelum mendapat amukan dari kedua pasangan yang sedang salah paham itu. Ah bukan, memang itu kok kejadian yang sebenarnya.

Sasuke melirik kedua bocah yang dari tidak belum menghapus cengiran dari wajah mereka itu. Tak sadarkan diri, sebuah senyuman manis terbentuk diwajah Sasuke yang notabene-nya sangat susah tersenyum.

Kabuto melangkah menuju tempat Orochimaru pingsan. Tanpa berperikemanusiaan, ia menyeret Orochimaru menjauhi tempat itu.

Sasuke yang melihat Kabuto dan Orochimaru sudah menjauhi tempat itu, langsung berlari memeluk salah satu dari kedua bocah itu dengan perasaan bahagia.

"Ahh. Dobe, terima kasih banyak, kamu telah menyelamatkan masa depan'ku' kata Sasuke dengan lebaynya dibahu lebar bocah berambut duren, Naruto.

"Woy.. Teme, lepasin! Gue sesak napas tahu!" kata Naruto sambil medorong sekuat tenaga tubuh Sasuke agar melepaskan pelukannya dari tubuhnya. Dan itu memang berhasil.

"Wah Dobe. Ternyata rencana kamu sukses besar!" kata sasuke dengan senyum sumringah.

"Itu bukan rencana ku. Tapi Sakura" Naruto menunjuk seorang gadis cantik berambut pink soft yang masih menunjukkan senyumannya.

Sasuke melirik gadis bernama Sakura itu, dengan perasaan senangnya, ingin sekali dia berlari dan memeluk tubuh Sakura. Tapi itu ditahannya. Masa ia, seorang pangeran sekolah yang cool, harus melakukan itu. Kecuali kalau Sakura yang melakukan itu, ia akan dengan senang hati membuka dada bidangnya sebagai tempat Sakura menyandarkan tubuhnya.

"Eh. Sa-Sakura ya… te-terima kasih sudah menolongku.." kata Sasuke malu-malu sambil mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

"Iya. Sama-sama Sasuke-kun!" Sakura memamerkan senyuman manisnya lagi setelah dihentikan sejenak karena giginya yang sudah kering.

'Kun?. Tadi dia pake embel kun?' batin Sasuke kebingungan.

"hmm, tinggal berapa menit bel masuk dibunyikan?" Tanya Naruto pada kedua anak yang didepannya itu.

"10 menit. Emang kenapa Naruto senpai?" Tanya Sakura.

"Eh, sudah ya aku pergi dulu. Ada yang harus kulakukan" Kata Naruto, tanpa menghiraukan pertanyaan Sakura, ia bersiap meninggalkan Sasuke dan Sakura.

"woy Dobe. Kamu mau kemana?" Tanya Sasuke heran.

"Doa Lu diatap sekolah sudah dikabulkan. Sakura juga suka sama lu. Ya udah gue pergi, dan jangan Tanya lagi! Deeee" kata Naruto yang udah banting stir 180 derajat dari pertanyaan Sasuke. Ia pun pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura yang masih kebingungan.

"Eh?" kata Sasuke dan Sakura bersamaan. Mereka kaget mendengar apa yang dikatakan Naruto barusan.

"Sa-Sasuke kun. Apa benar… yang dikatakan Naruto senpai barusan?" Tanya Sakura. Wajahnya memerah.

"Aa-apa? Ng i-itu…..hmm" Sasuke tidak bias menjawab. Malu bercampur senang. Ia tidak menyangka kalau Sakura juga menyukainya. Mukanya lebih memerah dari wajah Sakura, seperti seluruh darahnya naik merembes dalam kulitnya.

"Hmm.. tidak benar ya. Ya sudah. Aku pergi dulu Sasuke-kun" kata Sakura. Ia pura-pura memasang wajah kecewa dan berbalik bersiap meninggalkan Sasuke. Ia tahu Sasuke juga menyukainya, tapi ia tidak bisa memaksannya untuk menjawab 'ya'. Ia melangkahkan kakinya, berharap Sasuke menahannya. Dan yap itu berhasil.

"Sakura-….. Chan. Aku memang menyukaimu" kata Sasuke malu-malu. Ia menatap tanah tempatnya berpijak sambil menyembunyikan semburat merah diwajahnya.

"Hah betulkan itu Sasuke-kun?" Sakura masih belum percaya. Ia ingin mendengarkan sekali dengan jelas kata-kata yang keluar dari mulut Sasuke tadi.

"I-Iya" kata Sasuke pelan.

"KYAAAA…SASUKE KUN!"

"Eh.. pelan-pelan aku nggak bias napas!"

Kantin

Dua orang siswi sedang duduk bersamaan disebuah meja sambil melahap mie ayam pesanan mereka dengan tenang. Tapi, tiba-tiba dating seorang anak laki-laki dating membuyarkan ketenangana mereka.

"Hai Ino-chan, Hinata-Chan" sapa anak laki-laki itu dengan suara cemprengnya. Siapa lagi kalau bukan Naruto.

"Na-Naruto-Kun?" guman Hinata pelan, kaget dengan kehadiran Naruto yang tiba-tiba.

"Hah. Naruto. Ada apa?" Tanya Ino dengan santai sambil melahap kembali pesanannya.

Naruto tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencolek-colek punggung Ino sambil memainkan kedua bola matanya. Bermaksud menyuruh Ino pindah dari tempatnya duduk. Dan itu berhasil, meski dengan berat hati, Ino beranjak dari tempatnya duduk dan pindah ke meja lainnya meninggalkan kedua anak itu.

"Hay Hinata-Chan. Sedang makan apa tuh?" Tanya Naruto sambil mulai merebahkan pantatnya diatas bangku kayu tepat disamping Hinata duduk.

"Eh…ngg mi-mie ayam, Naruto-kun" jawab Hinata malu-malu. Jantungnya berdeguk kencang saat orang yang disukainya duduk tepat disampingnya. Bukan hanya itu, wajahnya memerah seperti kepiting goring saat ditiriskan.

"Mie ayam ya. Boleh makan sama-sama?" Tanya Naruto sambil memasang Puppy Eyes Justu murahannya.

"Eh?" Hinata menatapnya bingung. Makan bareng?, tidak terpikirkan olehnya kalau Naruto akan meminta hal itu.

"Boleh ya.. Please?" nih anak uratnya udah putus kali. Kali ini sampai berlutut memohon pada Hinata.

"ngg… I-iya Naruto-kun" jawab Hinata malu-malu. Tapi ia senang bias makan bersama dengan orang yang disukainya. Satu mangkok berdua lagi. Jangan ditanya lagi soal warna wajahnya!.

"Ah terima kasih Hinata-chan. Bang! Minta sendoknya satu" kata Naruto. Kini ia sudah duduk kembali disamping Hinata sambil menunggu sendoknya dating. Ino hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Naruto. Tapi tidak-apa, toh itu juga yang disarankan pada Naruto.

"Ah selamat makan Hinata-Chan" kata Naruto saat menerima sendoknya. Ia melahap mie itu tanpa perasaan.

"Eh.. Naruto-Kun. Tinggalkan aku sedikit dong!"

"Hehe… siap cepat dia yang kenyang"

"Hah. Kalau begitu aku tidak mau kalah"

Kedua orang itu saling berlomba mengadu kecepatan siapa yang lebih banyak menyuapkan mie ayam itu dalam mulut masing-masing. Sekali-kali, kepala mereka berdua saling bertabrakan? Karena arena lomba yang hanya berupa sebuah mangkuk kecil. Tapi itu tidak dihiraukan oleh mereka, mereka terus melahap mie itu tanpa ampun.

"Huh… kalau begitu kenapa tidak ditembak saja sekalian. Dasar Naruto" kata Ino pelan sambil melahap mie ayamnya lagi.

"Naruto Uzumaki, ya! Awas kau" TAKK. Kata seseorang yang sedang memantau Naruto dan Hinata dari kejauhan. Ia memukul tembok yang didepannya dengan amarah yang begitu meluap hingga tangannya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.

T B C

Ah… selesai juga Chapter 3. Gomen yach kalau telat, soalnya sempat kebingungan dengan jalan ceritanya.

Menurut reader chapter ini panjang nggak? Makin nggak karuan tidak? Makin gak jelas? Atau makin bagus? Atau mungkin karena pesona ku? Atau karena sapi saya yang hilang dua minggu lalu? Atau mungkin karena rumah saya kemalingan? Atau….HMMPPP HMMPP *dibekep pake karong bekas*

Sakura: Reader yang budiman, jangan dibaca teks yang diatas. Karena bisa membuat kepala anda mual dan perut anda pusing.

Sasuke : Hn

Hinata : tapi kalau sudah terlanjur baca, silahkan basuh muka anda dengan air cuci piring agar efeknya sedikir berkurang.

Naruto : Yap. Itulah anjuran dari dokter Sa-Sa-Hi-Na. sebelum kami berempat undur diri dari hadapan para Reader…..

PLEASE REVIEW!

Amin!