Rainbow
.
.
.
Sore hari.
Udara dingin dan semakin dingin. Tak membuat laki-laki yang tengah terduduk di sebuah kursi balkon itu beranjak dari sana. Sudah hampir dua jam menemani tiap tetesan hujan musim dingin. Menanti detik-detik pergantian tahun yang tinggal beberapa jam saja. Meninggalkan begitu banyak kenangan yang telah terukir di setiap jengkal kehidupannya. Terpahat sempurna membekas dalam benak masa-masa bersama yang dicinta.
Mata bening itu terus terfokus pada kumpulan wan kelabu yang lamat-lamat menipis. Menampakkan langit jingga terpapar mentari yang mulai kembali menjadi raja hari. Tak peduli berapa lama lagi ia akan bertahan sebelum akan tenggelam.
Manik matanya mengikuti arah turunnya air suci yang baru saja mengguyur wajah bumi. Masih mendekap erat kedua lutut yang tertekuk ia mulai memejamkan mata. Menikmati hembusan angin beriring hujan yang mereda. Tenang. Cukup menggambarkan raut manisnya sekarang. Bibir penuh itu bergerak pelan, berirama seakan menyenandungkan bait-bait lagu. Helaan nafas hangat terhembus seiring terbukanya kedua kelopak mata.
"Hhh~ there's a song that inside of my soul.. it's the one that I've tried to write over and over again~"
"Yixing! Cepat turun, EXO-K datang!"
Braaak
Sembari melompat dari kursi kayu matanya membulat sempurna, lekas-lekas membuka pintu dan berlari keluar menuju ruang tengah.
"Bisakah tidak membuat gaduh? Kau ribut sekali akhir-akhir ini."
Tak menghiraukan omelan Minseok yang tengah membawa nampan dengan teko dan beberapa gelas di atasnya. Manik bening miliknya memperhatikan sekeliling. Mengabsen satu per satu anggotanya yang terpisah negara itu.
Hitam, putih, lebar, sipit, tiang, pen—OH?
"Kemana Junmyeon-KU?"
"Yeah kami tahu dia milikmu, tak perlu kau tekankan segala -_-." sahut Luhan yang lewat di depannya seraya mengibas-ngibaskan tangan. Yixing mendengus kesal, kembali mengalihkan pandangan pada lima tamunya.
"Junma kemana? Apa kalian tak sadar jika dia tak bersama kalian? Atau kalian sengaja meninggalkannya? Aku tahu dia lemah tapi kumohon jangan bersikap seperti itu pada Junma. Hey—kau!"
Setelah mengobrak-abrik isi kepala Sehun dengan mengguncang kedua bahu adiknya itu, kini matanya tertuju pada sosok tinggi yang menahan tawa sembari mencomot kue beras di meja.
"Parkdobi! Katakan sekarang di mana dia?"
Chanyeol meringis merasakan cengkeraman kakaknya semakin erat di kedua bahunya. Menggapai-gapai udara hendak meminta pertolongan pada member EXO-M. Namun mereka hanya mengangkat bahu tanda tak ingin ikut campur.
"Kau tau, Dobi-ah, dia seperti itu sejak beberapa waktu lalu. Aku khawatir kesehatannya terganggu." Celetuk Jongdae dengan santai mendekati Baekhyun dan berbagi PSP bersamanya. Tak menyadari sepasang mata menatapnya dengan sangat tidak suka.
"Hyung~ le-lepaskan~ a-aku benar-benar tak tahu di mana Junmyeon-hyung~"
Suara berat Chanyeol mendesah hebat. Membuat semua yang ada di sana merinding seketika. Menggelikan kalian tahu -_-
Perlahan Yixing mengendurkan cengkeramannya, dan itu tak disia-siakan Dobi untuk melepaskan diri. Dengan sigap ia bergerak mundur ke arah Kai dan Kyungsoo. Membenamkan wajahnya di paha Kai.
"Hyung~ ge-geli~"
"AAARGH~ hentikan semua ini! Kalian datang ke sini kenapa harus membawa desahan seperti itu ?!" Kris mengacak rambutnya frustasi, "..dan kau nyonya Kim! Junmyeon sedang dalam perjalanan kemari, tadi dia menelponku."
Mata Yixing melebar, "..Gege kenapa kau juga memanggilku nyonya Kim?" menyembunyikan rona merah di pipinya sebisa mungkin dengan ekting se-cool yang ia bisa. Walaupun gagal -_-
Braaak
Semua mata teralihkan ke arah pintu utama di mana laki-laki mungil tergopoh-gopoh melepas sepatu, membersihkan salju yang mengotori surai coklatnya dan menggosok kedua telapak tangan mencoba mencari rasa hangat meskipun hanya sekilas.
"Oh, hai semua :D"
Brugh
Satu detik setelah ia menyadari pantatnya bertubrukkan dengan lantai, ia membuka matanya yang refleks terpejam kala seseorang menerjangnya tiba-tiba. Pekikan-pekikan dari teman-teman yang lain bagai angin lalu karena yang ia rasakan saat ini adalah rasa nyeri di tubuh bagian belakang sekaligus hangat di dadanya.
"Ugh! Yixing?!" Mendorong perlahan tubuh Yixing dan menangkup kedua belah pipi kekasihnya itu.
"Kau kemana saja? Ku kira kau tak ikut ke sini."
Hanya tersenyum melihat bibir laki-laki di hadapannya kini mulai bergetar. Mengusap lebut surai cokelat lembut kekasihnya untuk kemudian merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Kenapa harus menangis? Sudah kubilang jangan menangis, bukan? Kau jelek. Aku masih mampir ke sebuah toko. Ku kira aku akan lama, jadi aku menyuruh mereka untuk ke sini dahulu." Ucapnya. Mengusap lembut punggung Yixing. Ia semakin tersenyum saat merasakan lingkar di pinggangnya semakin mengerat.
"Longing for you~"
Kembali meraih pipi Yixing, membawanya semakin dekat dengan wajahnya hingga ujung hidung masing-masing bersentuhan, "..ma only love~"
Chup~
"KYAAA~!
Junmyeon melongok dari balik tubuh Yixing. Nampak jelas Baekhyun yang tengah memegangi pipinya serta menggeleng beberapa kali, mata Kyungsoo yang membulat, Kris yang memasang poker facenya, Sehun yang menutup mata, dan Kai yang tersenyum penuh arti.
"Kalian jangan sembarang beradegan intim. Di sini masih ada anak-anak, bodoh."
Beralih ke siapa yang bicara barusan. Minseok yang duduk di sofa single tengah melipat kedua lengan dan satu kaki terangkat ditopang kaki lain. Sungguh kuasa anggota tertua.
"Oh baiklah, baiklah. Aku tak akan melakukannya di sini." Tangan Junmyeon berkibas di depan wajahnya. Beranjak bangkit seraya membantu Yixing, "..aku mempunyai sesuatu, ayo ke kamar.."
"Jangan kasar, Myeon. Kami tak ingin diomeli manager karena gerakan dance Yixing yang random."
Dan setelahnya suara cekikikan memenuhi ruang tengah. Junmyeon mendorong tubuh Yixing pelan untuk segera masuk kamar, berhenti sejenak kemudian berbalik.
"PERVERT!"
Blam
.
.
"Apa sesuatunya?"
Junmyeon berbalik saat Yixing bertanya. Mendekati kekasihnya yang duduk di sisi ranjang kemudian berjongkok di hadapannya, "..kau mau tahu alasanku datang terlambat ke mari?" Yixing mengangguk semangat.
Merogoh saku jaketnya mengeluarkan sebuah bingkisan kotak kecil dengan pita ungu di atasnya. Mata Yixing membulat, "..apa ini, Myeon?"
"Buka saja. Tapi jangan marah jika kau kurang puas."
Alis Yixing bertaut mendengar penuturan Junmyeon. Bagaimana mungkin ia tak puas dengan apa yang Junmyeon berikan jika setiap hal itu selalu menyenangkan hatinya.
Jemari lentik itu menarik pita di sekeliling, merobek kertas pembungkusnya, membuka penutup box hingga nampak dua buah gelang hitam dan putih di dalamnya. Simpel. Tak ada hiasan yang menghiasi gelang tersebut.
"Ini gelang?"
"Bukan, kue. Jelaslah, bodoh."
Yixing mengelus ujung kepalanya yang baru saja menjadi korban pukulan Junmyeon, "..issh~ kenapa kau senang sekali mengataiku bodoh?" Junmyeon beranjak duduk di samping Yixing, "..memangnya kau tidak?"
"Hehehe.."
Keduanya diam.
Yixing yang masih memperhatikan gelangnya dan Junmyeon yang memperhatikan sekeliling kamar Lay dan Luhan. Sesekali mencuri pandang ke arah kekasihnya yang bergumam kecil sendiri. Membuatnya menahan tawa karena tingkah itu.
"Myeon, ini untukku, dan ini untukmu. Aku Yin, dan kau Yang."
Junmyeon menoleh saat Yixing menyenggol lengannya dan berkata seperti itu, "..eh? Kenapa aku Yang? Aku kan putih -_-"
Tanpa menghiraukan protes dari kekasihnya, Yixing meraih pergelangan Junmyeon dan memasangkan gelang berwarna hitam, "..done. Sekarang kau pasangkan gelangku." Ia menyodorkan tangannya sendiri ke hadapan Junmyeon.
"Dasar manja."
"Aku tidak manja. Hanya bersikap feminim."
"Tapi kau laki-laki."
"Tapi aku manis."
"Kau—aish~"
"Myeon~"
Suara Yixing melembut. Junmyeon mendongak, "..apa?"
"Bogoshipeo."
Selesai memasangkan gelang di pergelangan Yixing tak dilepaskan. Menggenggam tangan itu erat-erat seraya tersenyum, "..nado.." mendekatkan wajah pada ukiran indah di hadapannya. Jarakpun sudah tinggal beberapa senti. Yixing memejamkan matanya.
"Fiuhh~"
"YA!" membuka mata mendadak saat hal yang diinginkannya justru tak sesuai. Di depannya Junmyeon sudah menjauh sembari memegangi perut yang melilit karena tawanya.
"Junmyeon! Kau!"
"Y-Yixing. Wajahmu sungguh begitu sekali :D"
Pipinya merona. Hangat. Namun rasa malu sungguh membuatnya tak nyaman, "..berhenti tertawa, Myeon!"
Laki-lakinya justru semakin berguling di lantai. Wajahnya memerah. Matanya menghilang dengan tetesan air mata yang ikut menyemarakkan suasana. Wajah Yixing memanas. Tak dapat ia bayangkan bagaimana rupanya tadi saat mengharapkan Junmyeon untuk menciumnya. Ugh!
"Junmyeon! Kau menyeb—"
Kata-katanya tercekat. Rona merah dan rasa panas di pipi tak menghilang. Bahkan semakin mewarnai pipi pucatnya saat dengan tiba-tiba wajah tampan Junmyeon sudah berada di hadapannya lagi. Sangat dekat dengan senyuman yang menghiasi. Lengan laki-laki itu melingkar di pinggangnya. Membawanya semakin dekat hingga hangat tubuh Junmyeon ikut menjalarinya.
"Miss you.." suara baritone merdu itu menggelitik telinganya. Aroma mint menguar menyapa penciumannya. Hangat nafas Junmyeon menerpa wajah, "..meski aku sangat menyebalkan, aku masih tak semenyebalkan kau." Sambungnya. Junmyeon tersenyum, mencolek hidung bangir kekasihnya.
Bibir Yixing mengerucut, "..aku tak menyebalkan, Myeon."
"Kau memang menyebalkan. Tak usah memungkiri." Junmyeon melepas pelukannya, berjalan mendekati balkon kamar. Menyingkirkan kursi kayu milik Yixing ke sisi lain.
"Yixing! Kemarilah. Ada pelangi."
Masih dengan ekting merajuknya, Yixing menghentakkan kaki mendekati Junmyeon.
"Kau seperti tak pernah melihat pelagi."
Tak ada jawaban. Yixing melirik Junmyeon. Laki-laki itu masih menatap lurus cahaya penuh warna di kejauhan sana. Cukup lebar dan panjang dengan bentuk cembung di cakrawala senja. Junmyeon menoleh, membuat Yixing berjengit ke belakang.
"Apa?"
Tanpa menjawab, Junmyeon mengacak surai lembut Yixing. Mengambil napas panjang dan kembali menatap pelangi.
"Kenapa tak menjawab?"
"Meski sekalipun kau menyebalkan, cerewet, semakin berisik, pelupa, sering tak connect—"
"Kenapa kau menghinaku?"
"Tetaplah seperti ini. Jangan pernah berubah. Untukku.."
Air muka Junmyeon terlihat tenang. Rambut di keningnya tersibak acak saat angin berhembus menerpa keduanya.
"..tetaplah menjadi dirimu saat pertama aku kenal dulu. Sekarang, esok, dan seterusnya." Laki-laki itu kembali menarik sudut bibirnya. Menenangkan dan hangat bagi Yixing. Senyuman yang selalu membuatnya damai dan sangat ia sukai.
Menarik lengan Junmyeon kemudian mendekapnya erat. Melesakkan wajah di dada kekasihnya. Mendengarkan setiap detak jantungnya. Semakin mengeratkan pelukannya saat ia merasakan tangan Junmyeon membelai kepala dan sesekali mengecupnya. Tak ingin memberikan jawaban dengan kata-kata, namun dengan bahasa tubuh yang cukup bermakna.
.
.
.
Baru saja berakhir, hujan di sore hari.
Menyisahkan keajaiban, kilauan indahnya pelangi.
Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya.
Kesempatan seperti ini, tak akan bisa di beli.
Bersamamu, kuhabiskan waktu.
Senang bisa mengenal dirimu.
Rasanya, semua begitu sempurna.
Sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti.
Tetaplah seperti ini.
.
.
.
To Be Continue or End?
Halo ^^
Akhirnya bisa update meski yang lain masih belum update. Untuk sekedar informasi saja mungkin ff Werewolves vs Vampire bakal aku pending continue nya sampai beberapa bulan ke depan. Sama sekali masih belom ada penggarapan lebih lanjut
Review di chapter sebelumnya udah aku bales belum, ya ._. beneran lupa deh. LOL
Review, ya. Terimakasih
Daexoxo
