WarningWarningWarningWarningWarningWarningWarningWarningWarningWarningWarningWarning
Ara-ara akhirnya kelar juga!
Satu hutang akhirnya lunas~ lalala #girang
Sebenernya ini fic buat birthday ficnya Hinata tapi kok udah kelewat hamper dua minggu ya? Nggak apa deh, keep woles. Happy Bornday HIME!
Ta-tapi Sho-kun nggak terima protes ya buat endingnya nanti, please?
.
.
.
Aku tahu ini salah. Aku tahu tak sepantasnya aku menyimpan perasaan ini padanya. Tapi apa dayaku? Semakin aku menghabiskan waktu bersamanya, semakin aku ingin untuk memilikinya 'utuh' untuk diriku sendiri. Cinta sepihak yang aku rasakan ini membuatku lari dari kenyataan bahwa dia-adikku sendiri.
.
.
.
Sister
Disclamer Masashi Kishimoto
Story by N.A a.k.a Sho-kun
Rated: M for this chapter
Pair: NejiHina
WARNING: INCEST STORY, OOC, AU, TYPO, BAHASA KLISE, BORING, DLL
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
Takut-takut Hinata kembali memandang plang besi yang menempel dipintu bertuliskan angka 113. Sesekali kepalanya menunduk untuk memastikan bahwa dia tidak salah kamar ataupun alamat pada selembar kertas yang dibawanya. Bibir bawahnya dia gigit hingga meninggalkan kesan merah pada peredaran darah yang dipaksa berhenti sedangkan tangannya berkali-kali meremas secarik kertas yang ada digenggamnya membuatnya semakin lusuh dan sulit untuk membaca tulisan yang tertera. Hinata memejamkan matanya resah, haruskah dia berubah pikiran? Oh tidak! Bukan hal itu yang harus dia takutkan sekarang, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cepat agar keselamatan nenek Chiyo dapat terjamin. Ingatannya kembali me-reka ulang kejadian beberapa jam lalu, saat dirinya tiba-tiba menerima telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa nenek Chiyo sedang dalam keadaan kritis dan harus secepatnya dioperasi. Dengan pikiran yang kalut pun Hinata memohon pada Tsunade agar membiarkannya bekerja seperti pekerjaan yang Ino lakukan untuk mendapat uang secara instan ya-apalagi kalau bukan bekerja sebagai pelacur-atau lebih tepatnya wanita yang menjajakan dirinya pada pria hidung belang demi beberapa lembar uang dengan cetakan nominal yang besar.
Hinata menjejalkan kertas yang sudah kusut itu kedalam kantong mantelnya. Mulai membuka lavendernya dan berjalan dengan membuat angka delapan mondar-mandir didepan pintu yang masih belum disentuhnya. Oh ayolah, mana keberanianmu tadi? Hinata bertanya pada dirinya sendiri. Bukankah tadi dia sendiri yang meminta Tsunade untuk mencarikannya pelanggan yang terpercaya agar tidak menyakitinya. Tetapi itu semua dia tolak setelah Tsunade memberitahu bahwa ada seseorang yang misterius menawarkan harga seratus juta untuk keperawanannya. Ini dia! Seratus juta! Bahkan lebih dari cukup untuk membayar operasi nenek Chiyo dan seluruh biaya perawatannya. Dengan membulatkan tekadnya, Hinata berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi dia harus mengambil kesempatan ini.
Bunyi tik-tak highheels yang Hinata pakai bergema dalam lorong panjang hotel yang dikunjunginya. Hinata kembali memastikan bahwa dia tidak salah, entahlah ini sudah yang keberapa kalinya dia menengok untuk melihat design interior klasik yang menghiasi lorong tersebut. Lampu kristal yang berjejer rapi tertempel didinding menghadirkan cahaya temaram terkesan sangat elit. Ditambah dengan beberapa lukisan besar mengantung menambah kesan kemegahan didinding bercat orange dengan lapisan wallpaper karpet turki dibawahnya. Hinata menelan ludahnya, hanya dalam satu hari Hinata bertransformasi dari pelayan di bar menjadi wanita murahan kelas tinggi. Bukankah itu susunan kata yang kontradiksi sekali. Walaupun dengan embel-embel kelas tinggi karena hotel yang disewa oleh pembelinya merupakan hotel yang tidak tanggung-tanggung harganya. Tapi tetap saja ada kata 'murahan' yang tertera pada lampiran pekerjaannya yang baru.
Dengan tangan gemetar Hinata menekan tombol-tombol angka yang tertera dikotak dekat pintu setelah menggesekan kartu. Oh, perpaduan klasik dan modern huh? Pintunya tak lagi menggunakan kunci manual yang harus diputar agar terbuka. Melainkan dengan memasukan password yang sudah disetel oleh si penyewa kamar. 2-7-1-2 eh? Hinata menautkan alisnya bingung. Bukankah ini tanggal dan bulan ulang tahunnya? Atau jangan-jangan kebetulan. Baiklah, kepolosan Hinata menuntun wanita cantik ini berpikir pada kemungkinan kedua.
"Se-selamat malam." Sapa Hinata nyaris tak terdengar. Hinata masuk dengan langkah kecil-kecil setelah membuka pintunya sedikit. Kamar itu gelap, sangat gelap. Hinata bisa melihat bahwa satu-satunya penerangan yang ada dalam kamar itu hanyalah dua lampu kecil yang terletak sedikit jauh dari pintu masuknya dan cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela kaca yang berjejer rapi disampingnya. Hinata tertegun, hanya untuk satu igurei, sang pelanggan sengaja menyewa kamar hotel yang lebih mirip apartemen ini? Karena selama berjalan masuk Hinata dapat mengamati bahwa kamar ini juga dilengkapi dengan dapur kecil, ruang tamu dan minibar disamping kanan dan kirinya.
Hinata meletakan mantelnya pada gantungan yang tersedia. Sambil tetap menggengam tasnya erat, Hinata menghampiri letak cahaya yang menerangi sebagian kamar yang ditujunya. Sedikit berbelok Hinata mendapati siluet seseorang yang duduk ditepi ranjang dengan tangan bertumpu pada kedua dagunya. Takut, Hinata menundukan kepalanya menyembunyikan matanya yang panas dibalik poni ratanya saat melanjutkan untuk berjalan menghampiri sang pria.
"Se-selamat malam, Tuan. Perkenalkan nama saya Hina-" Hinata mengulangi salamnya diikuti dengan sedikit perkenalan diri. Dengan ajaran sopan santun seorang bangsawan-dulu- tidak sopan apabila memperkenalkan diri dengan kepala menunduk dan tidak melihat lawan bicara. Oleh karena itulah Hinata mulai menegakan kepalanya untuk memandang langsung pada mata sang klien. Sebelum akhirnya lidahnya terasa kelu dengan mata yang melebar selebar mungkin melihat iris mata serupa miliknya akibat kilatan cahaya lampu yang menerpanya. "Ni-Nii-san? Nejinii-san?" Hinata mengulang perkatannya. Matanya mengerjap mengetahui bahwa saudaranya yang dulu terpisah sedang duduk dihadapannya. Rasa gelisah mulai terpancar diraut mukanya. Okay, Hinata mulai yakin bahwa dia salah kamar.
"Selamat malam, Hinata-chan." Neji membalas salam Hinata dan mulai memanggil Hinata dengan embel-embel —chan seperti saat mereka masih kecil. Hinata mulai merasa bernostalgia. Ingin rasanya berlari menerjang Neji, memeluknya dan menumpahkan segela keluh-kesahnya sekarang juga. Tapi Hinata ingat, bukan waktunya untuk melakukan reuni dengan kakaknya saat nenek Chiyo meregang nyawa ditempat yang lain.
"A-apa yang Nii-san lakukan disini? Atau mungkin aku salah ka-" Hinata meraba pinggangnya. Ooh! Hinata lupa bahwa kertas berisi alamat itu ia letakan dikantong mantelnya. Dengan langkah terburu-buru Hinata berjalan menuju tempat mantelnya tergantung, menyambarnya dan bergegas mencapai pintu keluar.
"Kau mau kemana?" Neji yang turut bangkit mengikuti Hinata segera mencekal tangannya saat Hinata hampir saja menarik handle pintu didepannya.
"A-aku kira aku salah kamar." Jawab Hinata sambil memutar bola matanya dan melirik igure lain karena tidak berani untuk menatap langsung mata kembar milik Neji yang terlihat memedam amarah. "A-aku harus pergi, Nii-san. Se-setelah urusanku selesai aku akan kembali kesini." Lanjutnya sambil mengibaskan tangannya yang digenggam oleh Neji.
"Lucu-nya kau tidak salah kamar, Hinata." Neji menarik tangan Hinata dan membawa Hinata untuk kembali ke tempat dimana ranjangnya berada.
"A-apa maksud Nii-san?" Hinata protes karena Neji tiba-tiba menariknya dengan kasar. Padahal dalam hati, Hinata yakin seratus persen bahwa dirinya salah mengunjungi kamar. Tidak mungkinkan kalau penyewanya- "Aaah!" Hinata mengaduh ketika Neji melemparkannya keranjang membuatnya merasa kesakitan karena punggungnya menghamtam kasur walaupun dalam kenyataannya kasur yang tersedia sangat lentur sehingga membuatnya sedikit terlempar.
"Aku yang membelimu Hinata." Deklarasi Neji membuat Hinata merasakan godam besar mengetuk jantung dan kepalanya pada saat bersama. Jadi benar kalau klien pertamanya adalah-
-Neji? Kakak kandungnya?
"Ja-jangan bercanda!" Hinata berteriak sambil mencoba bangkit dari ranjang sebelum akhirnya Neji turut menghempaskan dirinya keranjang dan menindih tubuh sital Hinata.
"Siapa yang bilang aku bercanda,hm?" Neji membiarkan jari-jemari panjangnya menyusuri wajah Hinata turun keleher dan pada akhirnya berhenti diujung kaos v-neck hitam Hinata. "Apa kau membiarkan tubuhmu disentuh pria lain sedangkan aku sendiri tidak boleh menyentuhnya? Lihat aku Hinata!" Menggeram frustasi, Neji mengangkat dagu Hinata untuk melihat raut wajah Hinata yang berubah warna menjadi pucat pasi.
"Ta-tapi kita-"
"Saudara?" Neji melanjutkan perkataan gagap Hinata dan direspon dengan anggukan cepat Hinata. "Didunia bisnis kita bukan saudara. Kau pelacur dan aku kliennya." Ucapan Neji yang serta-merta memanggilnya 'pelacur' meremukan hati Hinata yang mengangguminya. Bagaimana mungkin kakaknya sendiri memberikan julukan kata sarat akan arti igure itu. Benarkah yang dihadapannya ini Neji? Kemana perginya sosok yang lembut dan selalu mengayominya?
Hinata memejamkan mata untuk menahan laju air matanya yang mulai turun. Akal sehat masih menguasainya. Mungkin bila dihadapannya ini orang lain. Maka Hinata akan pasrah memberikan tubuhnya agar cepat terselesaikan , menerima uangnya dan segera melangkahkan kaki sejauh-jauhnya dari tempat nista ini. Tetapi ini berbeda, yang ada dihadapannya kini kakaknya sendiri. Hinata masih waras! Hinata tahu bahwa berhubungan dengan kakaknya sendiri akan membawanya ke lubang hitam dosa tak termaafkan jauh lebih dalam ketimbang saat dia memutuskan untuk menjual tubuhnya sendiri.
"A-aku tidak mau." Hinata mulai bergerak tak nyaman dalam kungkungan Neji. "Nii-Nii-san lepaskan aku. Aku tidak butuh uangmu." Perkataan Hinata yang seakan-akan menolaknya membuat darah Neji mendidih. Apa dia bilang? Tidak mau uangnya? Maksudnya apa? Hinata-nya mau mencari klien lain selain dirinya, huh?
"Dan membiarkan nenek Chiyo tersayangmu tidak bisa dioperasi dan dikeluarkan dari rumah sakit? Ah apa kau lupa bahwa rumah sakit itu anak perusahaan milik Hyuuga cooperation?" Tanya Neji sakartis. Terang saja pertanyaan itu membuat Hinata dengan cepat membuka matanya dan menatap Neji dengan pandangan heran. Sejak kapan rumah sakit swasta kelas satu itu dibelinya? Dalam diam, Hinata bertanya pada dirinya sendiri.
"Sejak barusan Hinata." Neji yang sepertinya bisa membaca pertanyaan Hinata melalui sorot mata lavendernya segera menjawabnya dengan mudah semudah membalikan telapak tangan. "Aku pemilik barunya. Well, aku rasa mudah saja mengeluarkan orang sepertinya—" Lanjut Neji merogoh saku celananya mengambil ponsel kemudian mulai mengetikan nomor untuk menghubungi seseorang.
Hinata bergidik ngeri. Oh tidak! Sejak kapan kakaknya menjadi sangat terobsesi dengan dirinya seperti ini. Setahu Hinata, selama yang dia kenal Neji memang sedikit overprotective tapi Hinata tidak tahu motif apa yang sebenarnya Neji sembunyikan dibalik semua rencananya ini. Kalau memang dia peduli dengan Hinata, kenapa tidak berikan saja uangnya langsung? Kenapa harus mencicipi tubuh Hinata dulu baru Hinata mendapatkan bantuannya? Image Neji dimata Hinata hancur seketika. Hinata mendesah berat, baiklah setelah ini semuanya akan kembali seperti semua. Hinata cukup melupakannya dan Hinata yakin setelah ini Hinata tidak akan bertemu lagi dengan Neji.
"Ba-baiklah Nii-san. Sesukamu saja." Tantang Hinata memandang lurus ke lavender serupa milik Neji dengan pandangan nanar dan kosong.
.
.
.
"Bukankah besok kau ulang tahun?" Neji bertanya disela-sela ciumannya. Puas memberikan beberapa kissmark dileher Hinata. Neji mulai menaikan kaos v-neck yang Hinata pakai dan mengusap perut ratanya. "Berapa umurmu sekarang?" Lanjutnya seraya meresapi aroma lavender yang menguar menenangkan sekaligus memabukan.
"Dua puluh lima." Sahut Hinata ketus sambil memalingkan wajahnya dan menutup matanya erat berusaha untuk lari dari kenyataan bahwa yang sedang mengerayangi tubuhnya adalah kakaknya sendiri.
"Kau sudah besar sekarang. Kau banyak berubah." Kepala Neji merayap untuk mengecup kening Hinata. Kecupan sarat akan kerinduan walau pada akhirnya rasa itu tidak dapat meraih hati Hinata yang sudah tertutup pikiran negatif tentang Neji.
"Ta-tapi tidak terlalu banyak sepertimu." Ejek Hinata pada Neji. Neji hanya tersenyum masam menanggapinya karena Neji tahu apa yang sudah Hinata singgung tentang dirinya.
"Nah, ini semua karenamu, dear. Kalau kau tidak berbuat seperti itu aku tidak akan membelimu." Sangkal Neji. Tangannya menggengam ujung-ujung baju Hinata sebelum menariknya keatas membuat tubuh polos bagian atas Hinata terbuka hanya tertutupi oleh bra berwarna hitam berenda-renda dipinggirnya.
Hinata tidak bergeming, hanya mendengus kesal dan lagi-lagi menutup kedua matanya ketika Neji mulai memberikan beberapa kecupan kecil disekitar dadanya. Alisnya saling bertaut mendapati Neji yang tiba-tiba membebaskan dadanya yang disanggah oleh branya dan mulai menikmatinya dalam mulut.
"Nii-Nii-san!" Hinata berteriak merasakan sensasi aneh yang mulai dihantarkan oleh rangsangan Neji dititik sensitifnya. Hinata menggeliat risih dalam kungkungan Neji. Berkali-kali Hinata berniat mendorong dada Neji agar menjauh darinya. Tubuh sital Hinata makin mengejang saat Neji menugaskan salah satu tangannya untuk menarik-narik I Hinata yang lainnya membuat keduanya semakin mengeras diluar kehendak Hinata.
Neji melepaskan kulumannya pada puncak Hinata. Kemudian memandangnya dengan pandangan berbinar. Ah, dada yang sedang terpampang dimatanya ini adalah dada milik wanita yang dicintainya. Saat ini dia tidur seranjang dengannya dan dalam keadaan berada dibawahnya menaikan libido Neji untuk segera menyerangnya. Lagi, matanya igure menangkap wajah Hinata yang sudah merah padam karena perlakuan kakaknya yang membenamkan kepalanya didadanya yang berisi. Neji mengulum senyumnya, tahu bahwa ada satu hal yang tidak pernah berubah dari diri Hinata. Rona merah yang selalui mewarnai pipi chubbynya tidak pernah pudar, membuat Neji teringat akan kenangan manisnya saat Neji sering menggodanya dulu.
"Disini kau tidak berubah." Neji mengangkat wajahnya dan mengusap pipi Hinata yang sudah berubah warna. Semakin lama semakin intens dengan harapan bahwa warna-warna dipipi Hinata buah hasil dari perlakuannya. Tangan lainnya menekuk kaki Hinata satu persatu dan melepaskan highhells yang dipakainya. Neji hanya mengantisipasi kalau-kalau Hinata berubah pikiran dan mulai menendangnya. Bisa-bisa Neji dilarikan kerumah sakit dengan luka berlubang dibagian tubuhnya.
Mata Hinata kembali terbuka ketika merasakan jari-jemari Neji mulai meraba pahanya dan menyikap roknya. Bibirnya terbuka hendak berkata, tetapi akhirnya tertahan karena dengan cepat Hinata mengigit bibir bawahnya sendiri, berusaha untuk meredam semua kata protes yang hendak terucap. 'Fokus Hinata! Pikirkan 100jutanya' bisiknya dalam hati berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang sedang dilakukannya sekarang hanya semata-mata untuk membayar hutang budi pada nenek Chiyo tapi yang paling penting adalah, tetap pejamkan mata dan anggap itu bukan Neji. Hingga akhirnya Hinata kembali menyembunyikan lavendernya dibalik kelopak matanya. Neji menggeram, merasa diacuhkan Hinata karena sendari tadi Hinata tak sudi untuk menatapnya. Ah—seandainya Neji tahu betapa takut dan terguncangnya mental Hinata karena tindakannya yang melebihi batas hubungan saudara ini.
"Lihat aku!" Neji mencengkram rahang Hinata kuat-kuat, memaksa Hinata untuk membuat huruf 'o' bulat dengan bibirnya. Mau tidak mau Hinata akhirnya membuka kedua matanya, tidak mau masalah menjadi semakin runyam dan berakhir berlarut-larut.
Hinata melotot, berusaha untuk memberikan tatapan permusuhan pada Neji. Inikan yang Neji minta? Hinata sudah membuka matanya lebar-lebar! Sekarang apa lagi yang dituntutnya? Pandangan matanya terasa kosong walau terlihat nyalang.
"Kau takut?" Pertanyaan retoris dari Neji membuat lekukan pada alis Hinata semakin banyak. Takut? Apa Neji tidak bisa melihat apa yang tergambar pada iris keunguan milik Hinata? Bukankah orang-orang bilang Hinata seperti buku yang terbuka sehingga tidak sulit untuk membaca perasaan Hinata yang sebenarnya. Neji berpura-pura bodohkan? "Tenang saja, aku tahu ini pengalaman pertamamu. Aku akan bersikap lembut." Ujar Neji menenangkan sambil mencubit hidung mancung Hinata.
'Bukan itu!' Jerit Hinata dalam hati. Tangannya meremas erat kain putih yang ada dibawahnya. Kakinya bergerak gelisah menimbulkan kesan berlipat dan berantakan pada sprei yang seharusnya terpasang dengan rapi.
"Pertama aku akan mengajarimu bagaimana cara berciuman yang baik, Hinata-chan." Tanpa menghiraukan rona merah yang meredup pada pipi Hinata. Neji mengusap bibir pink mungil milik Hinata sebelum akhirnya memaksanya untuk saling menjauhkan bagiannya yang terkatup rapat. Pelan-pelan Neji mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata hingga akhirnya hanya ada celah tipis selebar 5 centimeter yang membatasinya. "Ikuti aku." Peritahnya tegas diikuti dengan lumatan ganasnya pada bibir tipis Hinata.
Hinata mengerang saat merasakan lidah lunak Neji mulai menjajah rongga mulutnya. Lidah Neji bertautan dengan lidah Hinata membuat kedua salivanya saling bercampur dan dengan terpaksa Hinata dapat mengecapnya. Decakan basah semakin terdengar jelas kala Neji mulai tak sabar dan menghisap lidah Hinata agar masuk kedalam mulutnya sebagai bagian dari permainan mereka. Nafas Hinata memburu, menciptakan ritme dada yang naik-turun cepat dan terkadang kedua dada milik Hinata bertabrakan dengan dada bidang Neji yang masih terbungkus kain.
"Uhhhmm—" Hinata kelabakan saat berusaha menyamai gaya permainan Neji. Ciumannya yang panjang dan dalam membuat nafas Hinata semakin pendek hingga Hinata yakin apabila Neji tidak melepaskannya sesegera mungkin maka tidak mustahil Hinata akan pergi kedunia sana mendahului nenek Chiyo yang sedang merenggang nyawa.
Untungnya Neji sadar dengan sigap Neji melepaskan ciuman intensnya dan beralih untuk mengulum kedua puncak Hinata yang sempat terlupakan. Hisapnya makin lama makin kuat seakan-akan Hinata akan mengeluarkan air susunya demi menghilangkan dahaga yang sedang Neji rasakan.
"Aaaahhh—Nii-san! Nii-san! I-ittai!" Hinata mengaduh, dijambaknya rambut panjang Neji yang biasanya tergerai rapi menjadi semakin lembab sekaligus kusut karena peluh mulai keluar dan membasahi tubuhnya. Neji tidak mempedulikan teriakan kesakitan Hinata, apalagi saat merasakan puncak Hinata yang menegang didalam mulutnya.
Hinata semakin memekik kesakitan hingga akhirnya Neji menurut, dilepaskannya kulumannya pada puncak Hinata sebelum tangannya beralih menurunkan rok span milik Hinata untuk mendapatkan akses yang lebih banyak pada kewanitaan Hinata yang terbungkus celana dalam hitamnya. Sedikit ragu, Neji menurunkan satu-satunya kain yang masih menempel pada tubuh Hinata. Meneguk ludah dengan keringat yang semakin menguncur dirasakan oleh Neji ketika pandangannya mulai mendapati gundukan milik Hinata berhias pubis halus rapi igure. Neji menyeringai saat tangannya mulai bermain-main mengusap rambut-rambut halus milik Hinata mengakibatkan gerakan menggelinjang Hinata yang menghentak-hentakan tubuhnya diatas kasur.
"Ssshhh-" Buru-buru Hinata membungkam bibirnya sendiri saat telinganya mulai menangkap desisan-desisan aneh keluar dari mulutnya sendiri. Digeleng-gelengkannya kepalanya cepat berusaha mengenyahkan semua pemikiran yang mulai membimbingnya agar semakin menikmati perlakuan Neji padanya. Akal pikirannya masih bekerja dan Hinata tidak ingin Neji tahu bahwa diam-diam Hinata mulai menikmatinya.
"Ah kau sudah basah ya?" Neji bertanya jahil saat menyusupkan satu jarinya kedalam belahan kewanitaan Hinata mendapati milik Hinata terasa lembab, basah dan hangat. Hinata sendiri mengerjapkan matanya cepat, tubuhnya merespon benda tumpul asing yang mulai menusuk-nusuk bagian kewanitaannya sedangkan jari-jari yang lainnya mulai mengerjain daging kecil igurei diatasnya.
"Ah-ah-ah! Nii-san, ja-jangan!" Hinata mencoba menangkupkan kedua tangannya diatas wajahnya berusaha menutupi wajahnya yang kembali merah padam. Neji sendiri semakin beringas, jari-jarinya yang menusuk-nusuk memasuki liang kewanitaan kini berganti dengan lidahnya yang semakin memanjakan tubuh Hinata. Keadaan berbalik, Hinata yang seharusnya melayani Neji tapi kini Neji yang malah terlihat memuaskan Hinata atau ini memang akal-akalan Neji agar Hinata turut hanyut dalam permainannya.
"Tidak! Jangan!" Hinata ketakutan. Berkali-kali Hinata mencoba kembali menutup kedua kakinya yang dipaksa terbuka lebar oleh Neji. Tetapi percuma, sosok Neji didepannya sekarang sudah tak dia kenal. Cengkraman erat pada kedua paha mulusnya meninggalkan kesan merah yang membentuk cap lima jari. Kontan saja hal tersebut membuat Hinata mati rasa dan makin susah untuk mengatupkan kaki-kakinya kembali.
"Nii-Nii-san! Kumohon!" Hinata memohon dengan mata berlinang airmata. Tangannya menggapai-gapai mencoba menarik kepala Neji menjauh. Terlambat, sejak awal Neji sudah menulikan telinganya sendiri lebih-lebih saat Hinata menolaknya. Bentuk wajahnya yang terasa pas diselangkangan Hinata membuatnya berpikir bahwa Hinata memang tercipta untuknya.
Clap!
Neji akhirnya mengeluarkan kembali lidahnya setelah puas menikmati rasa milik Hinata yang tiba-tiba igure membanjiri kerongkongannya. Didera oleh rasa tidak puas, Neji merendahkan tubuhnya. Kedua tangannya membuka lebar-lebar satu garis panjang yang terdapat diantara kedua gundukan kenyalnya. Matanya memicing berusaha mengeksekusi lorong panjang yang tersaji didepannya sedangkan lidahnya menjulur-julur panjang berusaha menemukan sisa-sisa kenikmatan yang masih belum dikecapnya.
"Uuuhhh—" Hinata melenguh dengan mata terpejam. Neji sendiri telah selesai menikmati sisa-sisa lovejuice milik Hinata yang tertinggal. Celananya mulai terasa sempit ketika sang junior sudah merasa tidak nyaman karena terkungkung oleh celana jeans yang dipakainya. Tergesa-gesa Neji membuka resleting celananya membuat Hinata terpekik kaget melihat ukuran 'milik' Neji yang tidak biasa.
"Kenapa Hinata? Bukankah kau sudah sering melihatnya?" Neji kembali menggoda Hinata. Ucapan Neji benarkan? Bukankah waktu kecil Hinata sudah sering melihat tubuh telanjangnya saat mereka berendam bersama. Jadi bukan perkara besar kalau sekarang Hinata melihatnya dalam keadaan setengah telanjang-karena hanya celana jeans yang diturunkan setengah paha dengan baju yang masih terkancing rapi-.
"Be-beda." Hinata mematung. Mata lavendernya tak lepas dari kejantanan milik Neji yang mengacung tegak dihadapannya. 'Beda! Ini berbeda!' Lagi-lagi Hinata berteriak dalam hati. Dan untuk sekian kalinya Hinata membanding-bandingkan antara masa lalu dan masa sekarang.
"Tidak ada yang berbeda, sayang." Neji kembali berusaha meyakinkan Hinata dan mengusap poni ratanya pelan. "Bedanya igurei aku igure—bersatu." Pelan-pelan Neji memposisikan 'milik'nya tepat di lubang kewanitaan milik Hinata. Didorongnya pelan tubuhnya semakin menisbikan jarak diantara mereka sehingga sedikit demi sedikit kejantanan Neji tertelan oleh pintu surgawi milik Hinata.
"Sshh—Hinata, relax!" Neji melenguh saat merasakan tubuh Hinata menengang menerima kehadiran juniornya saat didalamnya. Dinding-dinding kewanitaan Hinata memijatnya keras, tidak peduli bahwa Neji baru melesakan setengah miliknya dan belum bergerak sama sekali. Hinata sendiri semakin igur, kakinya menjejak kasur tak karuan berusaha melepaskan diri walau akhirnya Neji terpaksa melingkarkan lengannya pada pinggang Hinata untuk menahan pemberontakannya.
"Feel me!" Neji mendorong keras kejantanannya saat merasakan kain tipis menghalangi pergerakannya. Hinata tersentak kaget, rasa perih mulai menjalari selangkangannya bersamaan dengan tetesan darah segar yang jatuh menodai sprei hotel yang berwarna putih gading.
"I'm the first, right?" Terselip nada bangga dalam diri Neji walau akal sehatnya sudah memperingati bahwa yang sedang dia gagahi ini adalah adiknya sendiri. Neji memeluk tubuh ringkih Hinata yang masih terguncang, membawanya dalam rengkuhan penuh posesif yang Neji berikan. Kecupan-kecupan kecil sarat akan cinta Neji berikan berkali-kali pada kedua pipi bulat milik Hinata tapi sayangnya Hinata tidak merasakan perasaan yang Neji rasakan.
Hinata menganggukan kepalanya pelan. Air mata yang sudah lama mengalir semakin menganak sungai dipipinya membuat Neji terkadang merasakan rasa asin saat bibirnya menempel pada pipi Hinata. Buru-buru Neji menyeka air mata milik Hinata agar tidak banyak lagi yang tumpah membuat kesan lelah pada wajahnya. Neji masih diam, mencoba membiasakan Hinata akan kehadiran miliknya pada tubuh mungilnya. Miris, hati Neji terasa diiris sembilu kala mulai tersadar dosa apa yang sedang dilakukannya. Tetapi itu semua hanya berlangsung sesaat, senyum tipis mulai terukir diwajahnya mengingat kini Neji telah berhasil membawa Hinata disisinya walau dengan paksaan.
"Aku mulai." Neji sedikit berbisik ditelinga Hinata sebelum mulai menggerakan pinggulnya maju-mundur. Gerakan yang awalnya hanya terdiri dari hentakan-hentakan pelan berubah jadi liar takkala Neji mendapati milik Hinata yang mencengkram erat dan mengurut miliknya agar segera menembakan benihnya dalam diri Hinata. Menggerang hebat, Neji menaikan kedua kaki Hinata keatas bahunya agar Neji dapat lebih dalam menanamkan kejantanannya.
Kepala Hinata bergerak tak karuan. Kadang dilemparkannya kekiri dan kadang berbalik kekanan. Tangannya semakin mengeratkan pegangannya pada bantal yang dipakainya sedangkan giginya mengigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan desahan-desahan yang kadang-kadang terselip ditengah-tengah permainan keduanya. Berkali-kali Hinata memekik tajam saat kepala 'milik' Neji mencapai titik g-spotnya. Rasanya aneh, menggelitik perutnya agar lagi-lagi menumpahkan lovejuice miliknya yang diikuti dengan gerakan berkedut milik Neji didalamnya.
"Nii-Nii-san! Keluarkan!" Hinata sadar akan absennya pengaman yang harusnya digunakan Neji. Bentakan demi bentakan yang dikeluarkan oleh Hinata tidak menganggu nafsu yang sedang menguasai diri Neji. Dengan satu hentakan hebat, ditembakannya seluruh benihnya bersamaan dengan pekikan hebat yang mirip dengan lolongan srigala. Rasa panas yang dihantarkan oleh lelehan putih milik Neji membawa Hinata dengan cepat menuju alam mimpinya sebelum nantinya terbangun menghadapi realita yang bagaikan mimpi untuknya.
Dengan nafas terengah Neji menjaga tubuhnya agar tetap bertumpu pada kedua lengannya sehingga tidak menjatuhi Hinata yang sudah mengeluarkan dengkuran halus dibawahnya. Mata Neji yang terasa berat berusaha mengeliminasi jam kecil yang terdapat dimeja dan hanya terlihat samar karena cahaya lampu yang termaram. Jam kecil tersebut menunjukan pukul 00.27, menyadarkan Neji bahwa hari telah berganti dan ulang tahun Hinata telah tiba.
"Happy Birthday Imouto-chan." Ucap Neji serak sambil mengecup kening Hinata yang basah oleh peluh. "Aku sudah memberimu hadiahkan?" Neji terkikik pelan merasa hadiahnya kali ini adalah hadiah yang tak ternilai dan tidak dapat dibeli menggunakan uang sebanyak apapun. "My babies. That's your gift for this year" Bisik Neji pelan kemudian turut menyusul Hinata ke alam mimpi.
.
.
.
"Ah, Hinata-chan! Terima kasih sayang!" Nenek Chiyo yang sedang duduk dalam ranjangnya segera membuka tangannya lebar-lebar menyambut kedatangan Hinata untuk yang pertama kalinya setelah dia menjalani operasi dan sadar dari komanya. Hinata terlampau senang kaki-kakinya bergerak segera meninggalkan ambang pintu untuk menghambur dalam pelukan nenek Chiyo.
"Nenek Chiyo kau sudah sadar. Syukurlah." Ucap Hinata lega saat mengetahui bahwa tangan-tangan keriput milik nenek Chiyo yang sudah termakan usia kembali membelai indigonya penuh rasa sayang.
"Maaf." Gumam nenek Chiyo membuat Hinata segera menguraikan pelukan rindunya dibarengi dengan salah satu alisnya yang terangkat karena bingung.
"U-untuk?"
"Membuatmu harus menanggung biaya operasiku."
"Bu-bukan masalah." Hinata mengulum senyumnya berusaha menyembunyikan guratan kesedihan yang terukir apik pada wajahnya. Hinata terdiam berusaha untuk tidak kembali mengulang memorinya dimana semuanya berubah hanya dalam satu malam.
"Wah, itu siapa?" Pekik nenek Chiyo girang melihat figur pria tinggi-besar yang sedang berdiri menyender pada kusen-kusen pintunya. Dengan langkah yang elegan sang pria memasuki kamar tersebut, pandangan Hinata tak pernah lepas dari sang pria yang mulai melingkarkan satu tangannya pada pinggang ramping milik Hinata sedangkan satu tangannya terjulur berusaha menjabat tangan nenek Chiyo sebagai bentuk interaksi perkenalan diri.
"Perkenalkan nama saya Neji Hyuuga. Calon suami Hinata." Ucapnya lantang dengan menekankan tiga kata terakhirnya.
.
.
.
FIN
.
.
.
Akhirnya kelar juga #ciumin Neji yang dikirim om Molto kerumah
E-endingnya? No-no comment~
Seandainya semua orang berpikiran sama dengan Sho-kun pasti pada tahu maksud dari scene terakhir.
Tapi semua Sho-kun serahkan pada para readers sekalian, hayo-hayo gunakan imajinasi kalian pada apa yang sebenarnya terjadi antara Neji dan Hinata #dor
Bagaimana tanggapan kalian pada fic ini?
Semakin hari cerita yang Sho-kun tulis makin anehkan ya?
MANY THANKS BUAT READERS YANG BACA, FOLLOW AND NGEADD DI FAVE. Nggak ada salahkan meninggalkan ripiuw terakhir dichapter akhir yang gajebo ini? #cieileh
Oh iya lupa, berhubung liburan sudah selesai dan ujian semakin dekat. Sho-kun nggak tahu kapan bisa update dua fic yang lain maupun bikin fic baru. Jujur aja banyak fic setengah jadi yang ada dihp Sho-kun tapi berujung dengan males ngelanjutin gara-gara capek ngetik. Jadi buat yang menunggu-nunggu update yang lain Sho-kun mohon bersabar ya. Thanks—
With Love-Shokun
