Mulai dari sini akan aku berikan khusus romancenya.
Moouu... fic ini adalah fic yang aku buat di tengah tengah ulumku. Nyebelin deh
Silahkan baca, chapter 3
VOLLEYBALL, KARATE OR LOVE
Because Rain
Jezz... jezz... jezz...
Hujan sedang mengguyur KonohaCity. Entah mungkin pengaruh golbal warming di musim panas bisa turun hujan.
Cprat...
Seseorang baru saja menginjak genangan air di sepanjang jalannya. Orang itu berlari sambil memayungi dirinya dengan tas yang ia bawa. Di tilik dari pakaianya yang merupakan seragam sekolah dan bekas luka di wajahnya. Sudah pasti itu adalah Umino Iruka.
"Payah..." Katanya dalam hati sambil terus berlari di bawa guyuran hujan.
"Musim panas kenapa bisa hujan. Tidak wajar" Umpat Iruka lagi. Kali ini Iruka sudah merasa hari ini adalah hari yang buruk benar saja saat sampai di sekolah semua sudah masuk ke kelas, alias sudah di mulai pelajarannya.
Iruka masih berlari di koridor karena kelasnya berada di lantai dua dengan tubuh yang basah kuyub.
BRAK
Tanpa basa-basi pintu kelas itu di buka dengan kasar oleh Iruka yang mengakibatkan ia menjadi tatapan para murid dan guru yang mengajar di sana.
"Umino?" Kata si guru yang tiba-tiba berhenti menulis.
"Ma... maafkan aku. Karena hujan aku jadi terlambat" Kata Iruka membungkuk.
"Aku mengerti tapi... tubuhmu itu basah kuyup. Pergi ke UKS dan pinnjamlah seragam yang kering, cepat" Kata si guru.
"Ba... baik" Jawab Iruka segera pergi ke lantai satu...
"Guru payah... setidaknya biarkan aku istirahat" Umpat Iruka. Tak lama ia masuk ke dalam ruang UKS.
"Permisi... loh... tidak ada guru pengawasnya" Kata Iruka yang menyasikan ruangan itu kosong.
"Ya sudah aku ambil sendiri saja" Kata Iruka berjalan ke arah lemari. Tapi sepertinya tidak sekosong yang Iruka bayangkan. Rupanya ia melihat seseorang membuka lemari, kepalanya ditutupi handuk. Dan punggungnya putih mulus. (Tenang aja pake celana kok)
"Eh...?" Iruka cengo melihat apa yang dilihatnya. Sementara yang merasa diperhatikan membalikan tubuhnya dan mereka bertatapan...
"KAKASHIIIII!" Teriak Iruka melihat Kakashi. Kakashi sendiri ikut terkejut melihat Iruka.
"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!" Teriak Iruka lagi sambil menutup matanya dengan tangannya.
"Ka... kau sendiri tahukan aku sedang ganti baju" Kata Kakashi yang terkejut.
"Ya sudah pakai bajumu!" Kata Iruka lagi yang sudah merah wajahnya. Kakashi memperhatikan ditubuh Iruka yang basah dan menggigil.
"Dia... juga kehujanan?" Gumam Kakashi. Kemudian Kakashi melemparkan Iruka sebuah handuk. Iruka terkejut dengan kejadian itu.
"I... ini..." Kata Iruka yang terkejut sambil memegang handuk yang sedikit lembab itu.
"Handuk itu bekasku karena tidak ada lagi. Pakailah dari pada kau sakit" Kata Kakashi memakai seragamnya. Mendengar hal itu Iruka merasa murka.
"Apa maksudmu aku harus memakai handuk ini!" Kata Iruka melemparkan handuk itu ke arah Kakashi yang ditangkapnya.
"Dari pada kau sakit" Kata Kakashi kembali memusatkan ke dalam lemari di sana.
"Huh! Itu lebih baik dari pada..." Kata-kata Iruka terhenti karena lagi-lagi handuk bandel itu mendarat di kepalanya.
"Kau apa-apa...!" Bentak Iruka yang terhenti karena di depannya wajah Kakashi sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan Iruka dapat merasakan hembusan napas Kakashi. Tangan kekar Kakashi menahan handuk itu di samping wajah Iruka yang merona.
"Ka... Kakashi!" Iruka yang sudah memerah wajahnya berusaha menyingkirkan tangan Kakashi dengan tangnnya. Namun Iruka salah karena malah memegang tangan Kakashi dengan lembut.
"Tangannya..." Gumam Iruka masih shok. Iruka akhirnya melepaskan tangannya.
"Hm? Ada apa?" Tanya Kakashi yang bingung.
"Kali ini lakukan sesukamu..." Kata Iruka mengalihkan perhatiannya.
"Apa? Jadi kau mengalahya?" Tanya Kakashi mengejek.
"Bukan! Bodoh!" Teriak Iruka. Kakashi hanya terseyum kepada Iruka yang membuatnya tambah merona bak kepiting rebus.
"Iya... iya..." Jawab Kakashi. Kakashi membuka ikat rambut Iruka lalu mengusap kepala Iruka dengan lembut. Mengeringkan setiap helai rambut coklat milik Iruka. Keduanya terhanyut dalam suasana hening.
"Cepatlah..." Kata Iruka yang sudah sangat malu itu. Kakashi membelakan matanya dan menghentikan aksinya. Kemudian berjalan ke lemari lagi. Di lemparnya pakaian dan rok sekolah untuk Iruka.
"Pakaialah... kalau terlalu lama kau bisa masuk angin. Jaa... kohai..." Kata Kakashi sambil terseyum lalu keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Iruka yang masih diam tertunduk. Jantung Iruka masih saja berdetak kencang.
"Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini... aku... kenapa menjadi sangat payah..." Gumam Iruka tertunduk, lalu bangkit berdiri mengambil buku bersampul hitam beserta alat tulis.
HAL TABU KE 100
WAJAHKU DEKAT DENGAN WAJAHNYA
Tulis Iruka. Sejenak matanya membelak melihat tulisannya kemudian di baliknya lembaran-lembaran kertas itu sampai ke awal.
"Sudah sampai ke 100?" Gumam Iruka berdiam diri.
Tak lama setelah Iruka berganti pakaian ia sudah berada di ruang kelasnya menatap ke luar jendela di mana cuaca kembali cerah.
"Iruka!" Panggil Shizune girang.
"A... ada apa Shizune?" Tanya Iruka bingung dengan sikap Shizune. Shizune bukannya menjawab malah terseyum aneh di hadapan Iruka yang membuatnya merinding.
"Aku sudah tahu..." Katanya lagi yang membuat Iruka semakin penasaran.
"Kau ini. Di hadapan semua orang saja kau mencelanya padahal kau suka dengannya bukan?" Kata Shizune yang membuat Iruka tambah penasaran.
"Apa maksudmu Shizune?" Tanya Iruka dengan suara yang meninggi.
"Tadi... ada seorang siswa melihat kalian bermesraan di UKS" Kata Shizune membelakan mata Iruka.
"Bermesraan? Apa yang dimaksud... aku dan si orang-orangan sawah itu" Gumam Iruka terkejut.
"Apa... i... itu sama sekali tidak benar" Kata Iruka yang mulai merona kembali.
"Wajahmu saja memerah seperti itu. Berati benarya kalau kau..." Sebelum Shizune menyelesaikannya ia sudah mendapat death glear dari Iruka dengan aura buruk di sekelilingnya.
"Itu tidak mungkin terjadi" Kata Iruka.
"Apa dia marahya?" Gumam Shizune hampir nangis.
"Sudahlah yang penting aku akan fokus ke pemilihan tim inti voli terlebih dahulu. Lihat saja kau Kakashi kau pikir aku akan kalah" Kata Iruka lagi.
"Kau ini apa pikiranmu tak bisa lepas dari persaingan..." Kata Shizune menghela napasnya panjang-panjang. Tapi sebenarnya dalam hati Iruka.
"Apa benar aku suka padanyaya?" Tanya Iruka pada dirinya sendiri.
Kalau iya aku... apa aku akan terlihat... sangat payah...
"Tapi Iruka..." Kata Shizune mebuyarkan lamunan Iruka.
"Tapi kebetulan sekali kau bisa berduaan dengan Kakashi-senpai" Kata Shizune.
"Kalau bukan gara-gara hujan turun, terus guru memintaku ke UKS dan bertemu dengan dia ini tidak akan terjadi!" Teriak Iruka.
"Benar... ini karena hujan..." Kata Iruka dalam hatinya lagi. "Ini hanya kebetulan belaka"
Dzeng...
Suara pantulan bola voli sangat jelas terdengar. Para murid club voli sudah serius karena hari ini adalah hari penentu untuk anggota tim inti untuk pertandingan. Tak terkecuali Iruka.
Ia sudah sangat serius berlatih dengan Shizune sebagai pengumpan dan ia berlatihi smash. Walau begitu pikiran Iruka sangat gundah dan kacau sekali. Hampir bola yang di umpan Shizune meleset.
"ISTIRAHAT!" Teriak pelatih. Kali ini Iruka ikut istirahat bersama murid yang lain.
"Wah wah wah. Tumben sekali kau istirahat biasanya kau berlatih sendiri" Kata Kurenai yang terbelak kaget dengan sikap Iruka.
"Aku hanya lelah saja" Jawab Iruka santai dan meneguk minumannya. Samar-samar ia bisa mendengar suara para siswi yang memuja-muja Kakashi. Iruka hanya melirk sedikit.
"Kakashi-senpai. Pasti Kakashi-senpai terpilih menjadi tim inti. Kalau tidak ada Kakashi-senpai bisa-bisa tim putra kalah" Begitulah salah satu kata siswi tersebut yang disabut death glear para anggota tim putra.
"Memangnya kami ini apa?" Kata mereka dalam hati.
"Kakashi-senpai juga harus mendukung kami supaya kami bisa menang" Kata siswi lagi. Dan ini adalah yang paling membuat Iruka harus angkat bicara. Dengan langkahh berat di datangi para siswi itu.
"Kalian ini... KALAU KALIAN TIDAK SERIUS LATIHAN YA KITA TIDAK BISA MENANG! LAGI PULA BELUM TENTUKAN KALIAN JADI TIM INTI!" Teriak Iruka.
"Heh! Kau jangan begituya, kau pikir kau juga pasti akan terpilih" Kata salah satu siswi itu.
"Lagi pula kalian bila disorakan oleh Kakashi ini paling kalian pingsan atau lengah! Payah sekali" Kata Iruka.
"Lagi pula apa hebatnya dari orang-orangan sawah ini" Kata Iruka mulai mengejek Kakashi.
"Yang pasti sebagai senpai aku lebh hebat darimu tahu!" Kata Kakashi.
"Apa itu tidak mungkin aku pasti akan lebih hebat darimu!" Gertak Iruka.
"Baik buktikan!" Kata Kakashi mendekatkan wajahnya sambil melipat tangan di dadanya.
"(ini hal tabu ke seratus...) Baik! Kita bertanding. 1 lawan 1. Yang bisa memasukan angka terbanyak ke wilayah lawan dia yang menang. Yang kalah harus menuruti yang menang" Kata Iruka berusaha untuk tidak takut.
"Baik!" Kata Kakashi dan keduanya mengeluarkan death glearnya masing-masing dan beradu dalam sengatan listrik.
Aku tidak peduli hal yang barusan ia lakukan! Awas kau!
TO BE CONTINIUED
Aduh gomen. Di chapter sebelumnya ada kesalahan pengetikan dan aku tidak menjelaskan bentuk buku yang Iruka pakai.
Hiks hiks
Reviewya please...
