15- September -2012
09:00 P.M
Terlelap di bawah langit tua
Alur mimpi membawanya jauh
Disinilah ia sampai terbawa
Langit keemasan
Hutan kuning pucat tanpa bulir air padat
Tembok kelabu dan menara dadu
Memandang karang kokoh dari atas gunung batu
Dedaunan berjatuh ringan
Berpendar di bawah sinar bulan pasih
Hilanglah desauan tenang angin di malam jingga
Dan istana berhias luka
Amethyst dan Bacchus terpisah rupa
Tulang pulang pada asalnya
.
.
.
.
Semakin lama, semakin mendekat, suara derap kuda itu seolah adalah hal yang mengerikan dan sangat aku takuti. Aku yang biasanya tenang, untuk saat ini aku tidak bisa mengontrol gelombang rasa takut pada diriku. Tidak ada hal yang akan membuatmu tenang saat kau merasa di tuduh menculik Putri Raja. Aku mungkin akan di hukum gantung jika aku tertangkap.
"Kemari Putri." Aku langsung menarik Putri Hyuuga, membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara dan bersembunyi di balik puing-puing bangunan berjelaga. Mataku menatap pria berkuda itu dari balik puing-puing tempat kami bersembunyi. Pria berkuda itu memakai baju besi yang sama dengan baju yang ku pakai saat di Kastil. Dari situlah aku yakin bahwa 'Desa ini telah diratakan oleh Ratu Hyuuga CXVIII'.
Sadar akan bekapanku yang membuat Putri Hyuuga sulit bernapas. Akhirnya aku melepaskannya.
Ia menghirup napas dalam-dalam. Air matanya kembali berlinang melihat salah satu prajuritnya menenteng pedang berlumur darah. Hipotesis tentang kekejaman Ibunya sudah terbukti nyata.
Di satu sisi, aku yang baru sekali sedekat ini dengan perempuan menjadi merasa sedikit canggung. Sejauh ini, penilaianku terhadap Putri Hyuuga, dia gadis yang cantik, pemberani, dan sebenarnya tegar walaupun harus menangis berkali-kali.
Setelah pria berkuda itu menghilang. Kami keluar dari persembunyian. Aku bernapas lega karena berhasil lolos dari pandangan pria berkuda tadi.
Putri Hyuuga masih terdiam.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku pikir ini bukan waktunya untuk bersantai dan berlama-lama di sini. Bisa jadi prajurit selanjutnya akan berdatangan kemari dan kita akan dalam bahaya.
Aku membawa Putri Hyuuga dan menunggangi kuda kembali untuk melanjutkan perjalanan.
.
.
ELLURA
Kawasan Ellura ini luar biasa dingin sekali. Mengalahkan musim salju di jepang. Seperti padang es yang tak berujung. Mulai di sini, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kuda tidak setia itu enggan untuk melewati hamparan es yang membeku, tidak ada pilihan lain selain membiarkan kuda itu pergi dan kami berjalan kaki. Aku sedikit mengkhawatirkan isteri ku –kita sudah menikah kan?—, dia berjalan terhuyung menahan dingin. Aku rasa, mantel setebal apapun tidak akan bisa membantu.
Aku simpati pada Putri Hyuuga yang memaksakan diri untuk terus berjalan "Putri Hyuuga, apa kau masih bisa melakukan perjalanan?"
Ia mengangguk pelan.
Tapi aku tidak yakin kalau ia kuat. Diizinkan atau tidak –karena rasa kasihan—aku menggendongnya. Dan benar saja, ia langsung terlelap mendekap bahu ku.
Mungkin laki-laki belum bisa dikatakan laki-laki sebelum mereka melakukan pengorbanan besar demi seseorang. Dan mungkin inilah pengorbanan terbesarku dalam sejarah hidup ku. Bayangkan saja, kedinginan, lelah, ditambah menggendong seorang Putri. Bahkan nanti akan lebih ekstrim dari pada ini, menculik seorang Putri itu kriminal serius –dan aku melakukannya—.
Setelah terhuyung-huyung menahan siksaan duniawi yang -Oh...My God- sangat berat bagi ku, akhirnya aku melihat gubuk kecil di depan sana. Beberapa langkah lagi aku dapat meraihnya. Aku berusaha bertahan dan menggapai tempat itu.
Dengan susah payah aku mengetuk pintunya. Tak ada jawaban. Dan mungkin disini memang tidak berpenghuni. Bayangkan saja, di ladang penuh es begini, orang gila mana yang mau tinggal dan menetap disini? kecuali kalau mereka satu spesies denga beruang kutub.
Aku membuka pintu gubuk kosong di hadapanku. Membaringkan Putri Hyuuga di lantai kayu yang dingin. Wajahnya sangat pucat, ia sangat kedinginan dan tersiksa. Ku lepas mantel yang menempel di tubuhku untuk menyelimuti Putri Hyuuga yang sepertinya lebih membutuhkan kehangatan di banding aku. Aku semakin mengigil. Rasanya badanku kaku sekali. Pandanganku kabur. Aku mengantuk.
.
.
Aku merasakan rambut halus yang menyentuh pipi ku. Aku merasa sedikit hangat dari yang sebelumnya. Saat aku membuka mata, iris onyx ku bertemu dengan iris lavender milik Putri Hyuuga, dan kami sangat dekat sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya. Setelah aku sadari, kepalaku bersandar di pangkuannya, Putri Hyuuga menunduk memandangku dan menelungkupkan tangannya pada kedua pipi ku. Jika aku harus merasakan seperti apa rasanya 'blushing' mungkin ini saat yang tepat. satu...dua...tiga...BLUSH~.
Entah bajingan macam apa aku ini, naluri laki-laki ku menuntunku untuk bangkit perlahan. Aku duduk mengimbanginya dan mengelus pipi putihnya, lalu aku mendekatkan wajahku padanya. Walaupun badannya kedinginan, namun bibirnya hangat saat ku lumat. Tidak ku kira ternyata seorang Putri juga menyukai ciumanku, ia membalas lumatanku dan tangan halusnya memegang lenganku, aku mengelus tengkuk putihnya lalu menekannya pada ku untuk memperdalam ciumannya.
Ia menydahi ciumannya dan membenamkan wajahnya pada dadaku. Memelukku dengan erat memberikan sensasi hangat pada tubuhku.
"Terimakasih Knight." Ia terisak.
Aku hanya mengangguk pelan karena ia memang tidak perlu berterimakasih padaku.
Suasana menjadi kaku –mungkin karena insiden ciuman—dan aku yang kurangajar ini merasa malu juga pada akhirnya. Kami duduk saling memunggungi.
"Knight." Suaranya terdengar serak.
"Iya tuan Putri?"
"Menurutmu, apa yang telah terjadi pada Ibu ku?"
Hah? bagaimana bisa dia melupakan begitu saja momen yang mencanggungkan ini dan mulai menanyakan pertanyaan serius? mengenai pertanyaannya aku tidak bisa menjawab. Karena aku memang tidak tahu.
"Dulu kerajaan kami selalu menjadi korban perang kerajaan yang lebih besar. Berkali-kali kami jatuh dan bangun kembali. Kejadian itu sempat membuat Ibu ku membenci peperangan dan menolak segala tindak kekerasan. Tapi sekarang justru sebaliknya. Ibu ku memulai peperangan dan menyakiti banyak orang."
"Mungkin Ratu Hyuuga CXVIII sudah kehilangan rasa percaya pada kerajaan lain. Mungkin Ratu Hyuuga CXVIII berpikir bahwa, sebelum di serang lagi, maka akan lebih baik jika menyerang dahulu. Mungkin." balasku tanpa harus memeras otak. aku berusaha untuk melupakan sensasi ciuman tadi dan bersikap sekeren mungkin seperti Sasuke biasanya. yah...aku biasa keren, apa boleh buat.
"Mungkin. Tapi siapa yang membuatnya kehilangan kepercayaan?"
Suasana kembali hening.
Oke...ternyata seorang Sasuke disini tidak bisa benar-benar keren. aku masih canggung dan tidak dapat mengubah posisi dudukku yang memunggungi Putri Hyuuga. seharusnya ini wajar kan? 'Siapa orangnya yang tidak canggung setelah melakukan ciuman pertamanya?'. Dalam diam aku memandangi jari manis tangan kananku. Ini aneh, ada sebuah tanda yang melingkar di sekeliling jari manisku –seperti tatto cincin— tanda itu berupa angka romawi ' '.
.
.
HENERA
Kami melanjutkan perjalanan melalui daerah pinggiran Ellura. Suhu udara mulai menghangat, salju-salju yang terhampar diatas tanah mulai menghilang saat kami memasuki kawasan Henera.kami berjalan di sisi sungai yang mengalir ke arah laut. Terus berjalan melewati pantai luas berpasir keemasan. Matahari mulai menghilang dibalik hutan bakau yang lebat. Saat sinar terakhir menghilang, kami kembali bertemu dengan sebuah mulut sungai, sebuah desa kecil berada di sisi sebrang.
"Mungkin sebaiknya kita beristirahat di desa itu." Kataku –setelah mengetahui Putri Hyuuga yang terlihat lelah—aku menunjuk desa sebrang sungai.
"Sepertinya begitu. Ini akan jauh lebih aman daripada beristirahat di desa-desa sebelumnya. Karena ini sudah memasuki wilayah kekuasaan kerajaan Iffa.dan tidak ada yang begitu mengenaliku kecuali Raja Iffa itu sendiri."
Kami melewati jembatan dan memasuki desa Henera.
Ini disebut sial atau beruntung aku jelas tidak tahu. Mungkin bagi laki-laki pada umumnya ini adalah keberuntungan –dan bisa juga kesialan—. Hanya tersisa satu kamar di penginapan ini. Sebuah kamar dengan dua kasur yang berundak. Aku tidur di kasur bagian bawah dan Putri Hyuuga di atasnya.
Malam yang sunyi.
Aku memandangi bintang dari sebuah kaca jendela kamar. Langitnya masih sangat indah sekali, berbeda dengan langit yang ada di rumahku –langit disini terlihat bersih tanpa kotoran polusi—
Kami tidak saling berbicara satu sama lain. Aku? Karena aku tidak tahu harus bicara apa lagi mengingat tidak ada yang terlalu penting untuk dibicarakan. Sedangkan Putri Hyuuga, dia sepertinya ingin bicara.
"Knight?"
"Hn?"
"Mengapa kau mau pergi bersamaku ke Iffa sementara yang lain sibuk memerangi desa-desa?"
"..." Aku terdiam karena aku memang tidak tahu mengapa.
"Mengapa kau mau pergi bersamaku?" ulangnya.
"Karena aku ingin pergi bersama mu. Hanya itu." Dan itu memang benar. Aku tidak punya alasan.
"Apa alasan mu membantu ku sampai sejauh ini?"
"Aku tidak tahu. Terkadang kita tidak mesti membutuhkan alasan untuk menolong seseorang."
Ia terdiam untuk beberapa saat.
"Terimakasih Knight. Mulai sekarang, panggil saja aku Hinata. Kita tidak perlu seformal itu. Dan aku tidak mau terus-menerus memanggilmu dengan sebutan Knight."
"Aku Sasuke." Balas ku cepat
"Terimakasih untuk segalanya. Sasuke." katanya halus. terutama dalam menyebutkan 'Sasuke', hah...apa itu cuma perasaanku saja?
Aku merasakan tatto yang melingkar di jari manisku bertambah jelas dan jelas membentuk angka romawi ' '
.
.
KERAJAAN IFFA
Di hari berikutnya, kami memasuki wilayah Iffa, melewati gerbang pagar terluar yang mengelilingi batu karang besar yang menjadi landasan benteng Iffa. Aku melihat kios-kios pasar, sapi, kambing serta beberapa ekor angsa yang berkeliaran, dan tungku-tungku masak yang mengeluarkan asap.
Akhirnya saat kami mendekati gerbang pagar dalam kerajaan, Hinata –dia sendiri yang menyuruhku memanggilnya begitu—berbicara dengan prajurit penjaga gerbang dan kami berhasil memasuki wilayah Kastil yang megah.
Ruang istirahat sang Raja merupakan ruang terindah yang pernah aku llihat. Dinding-dindingnya tertutup oleh tenunan berbagai corak cemerlang dan ukuran ruangan ini tidak terlalu besar sehingga terasa nyaman. Di tempat ini juga terdapat tungku pemanas berisi bara yang sedang menyala.
"Paman, tolonglah kami. Kerajaan Beqgh memulai perang dimana-mana. Dan itu Ibu ku yang melakukannya." Hinata memaparkannya dengan terburu-buru.
"Tenanglah Putri Hyuuga. Kita perlu menyelidiki tentang apa yang terjadi sebenarnya." Kata seorang pria yang sangat mirip dengan Hinata –terutama iris matanya—.
"Tapi perang sudah meluas. Dan tidak ada waktu lagi."
Saat ini aku hanya menjadi pendengar saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sesaat setelah Hinata meluapkan kegundahannya pada Raja Iffa, seseorang memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.
Dua prajurit membungkuk sebelum menyampaikan informasi yang mereka bawa.
"Yang Mulia Raja. Kami dapat kabar bahwa Ratu Hyuuga CXVIII telah tewas."
Hinata terengah saat ia mendengar ucapan prajurit kerajaan Iffa. "Ibuku," ia menelan ludah "Ti-tidak mungkin. Tidak mungkin. Ibuku." Ia menggeleng tak percaya. Kesedihan menghiasi raut wajah cantiknya.
Ini benar-benar keadaan genting yang tidak bisa di tunda-tunda. Sang Raja Iffa langsung menurunkan perintahnya.
"Siapkan Kapal Iffaship XII. Kita segera ke Beqgh." Perintah sang Raja.
.
.
To Be Continued
.
.
|Hakkuna Matata|
Hah...ini pendek dan mengesalkan bagi para penggemar fic panjang .
Tapi jangan khawatir...ini gak bakal update lama, chapter selanjutnya sedang di pesiapkan dan akan publish cepat setelah diberi sentuhan sana-sini supaya gak ada Typo (?)
