.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Crime/Psychology/Mystery/Less Humor/Contain bullying/Contain gore

Warn : Sementara T rate/Typo(s)/OOC/Death Chara/Twist

NO PAIR (slight romance NaruHina/SasuKarin)

Main cast : Sakura, Sasori, Gaara, Naruto, Hinata, Sasuke, Karin, Deidara, Sai, Neji, Tenten (saya tulis di sini karena di headline tidak bisa memuat mereka)

Story by DarkGrinSmile2

...

Two Faces

Chapter 2

...

Kelas II-A

.

.

Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit lalu, tetapi Naruto masih tidak tega meninggalkan Hinata di kelas. Dia masih ingin menemani gadisnya itu. Dia tahu saat ini Hinata butuh dukungan moral dan saat ini hanya dia satu-satunya orang yang masih mempercayainya.

"Naruto, kembalilah ke kelas. Aku tidak ingin kau jadi kena masalah karena tidak masuk kelas. Lagipula sebentar lagi Yamato-sensei akan datang kemari. Aku tak ingin kau kena marah karena ada di kelas ini... " Hinata yang merasa tak enak dan tak ingin Naruto terkena masalah, meminta pemuda itu untuk segera masuk kelas.

"Ya, sudah. Tapi... " Naruto berdiri dan melepaskan genggamannya dari tangan Hinata. Mata baby blue-nya menatap penuh keraguan. Dia benar-benar enggan untuk pergi dan merasa sangat tidak tenang kalau harus meninggalkan Hinata disaat seperti ini.

"Aku tidak apa-apa, Naruto-kun." Hinata tersenyum ke arah Naruto, "kau harus segera masuk kelas, atau kau ingin aku juga ikut kena marah Yamato-sensei?".

"Baiklah, aku akan kembali ke kelas... Hinata... Jaga diri baik-baik, ya... " Pemuda itu mengecup kening Hinata dan gadis itu sedikit tersentak dengan perlakuan Naruto yang bisa begitu lembut kepadanya. "Hinata, kau tidak usah takut. Akan ada aku yang selalu menjagamu! Aku janji itu!" Naruto mengacungkan jempolnya sambil memasang senyum lima jarinya.

Naruto bergerak keluar dari kelas Hinata dan gadis itu menatap sang kekasih dengan sorot mata lembut sambil tersenyum tipis untuknya.

'Apa pun yang terjadi aku akan terus menemanimu Hinata. Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu, bahkan Sakura sekali pun... ' Naruto membatin sembari berlari menuju ke ruangan kelasnya. Namun ia berpapasan dengan Sasuke yang begitu melihat Naruto langsung mempercepat langkah kakinya untuk masuk ke dalam kelas.

"SASUKE TUNGGU!" teriak pemuda pirang itu kepada Sasuke. Pemuda berambut emo itu berhenti tepat di depan kelas.

"Katakan apa yang mau kau katakan," ucap Sasuke singkat dan terlihat tak berminat untuk berbicara dengan Naruto.

"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu karena dulu aku tidak mempercayaimu... " Naruto meminta maaf pada Sasuke dengan perasaan yang canggung. Dulu dia menolak mentah-mentah semua perkataan Sasuke yang mencoba untuk memperingatkannya, tapi sekarang keadaan berbalik kepadanya, "tapi sekarang aku sudah mengerti semuanya. Ternyata selama ini aku yang salah dan apa yang kau katakan itu benar... Maafkan aku, Sasuke... " Sambungnya yang benar-benar jadi merasa tak enak hati kalau mengingat kejadian yang lalu-lalu.

"Hn. Orang itu memang baru sadar setelah mengalaminya sendiri," balas Sasuke sarkastik.

"Bantu aku," ucap Naruto secara tiba-tiba. Sasuke menatap Naruto dengan penuh ketertarikan, "bantu aku untuk membalas dia dan mereka!" pemuda itu sepertinya sudah bertekad dan serius sekali untuk melakukan pembalasan dendam.

"Lupakan niatmu itu kalau kau memang masih ingin bersekolah di sini." Meskipun Sasuke terlihat datar-datar saja, namun dari cara bicaranya tersirat ada suatu ketakutan yang sedang ia sembunyikan.

"Apa maksudmu? Kau menyuruhku untuk diam saja tanpa berbuat apa-apa saat mereka menyakiti Hinata!?" darah Naruto menggelegar seketika seperti luapan lahar panas dari gunung merapi. Siap meledak kapan saja.

"Jangan bercanda! Aku akan membalas mereka dan akan membuat mereka minta maaf pada Hinata atas semua yang mereka lakukan!" pemuda itu membentak Sasuke dengan emosi yang bergejolak dalam hatinya.

"Percuma saja Naruto." Sikap Sasuke yang biasa-biasa saja begitu malah membuat Naruto semakin muak pada kenyataan yang ada.

"Aku bukan kau yang membiarkan Karin menderita! Aku juga tak mau berakhir seperti kau dan Karin karena aku sangat mencintai Hinata!" Naruto memukul keras pintu kelas dan setelah itu ia masuk dan berjalan menuju ke bangkunya yang berada di bagian tengah, paling belakang.

"Ah, kau ini. Bisa tidak kalau marah-marah tidak teriak-teriak? Mengganggu orang tidur saja!" protes Shikamaru yang merasa sangat terganggu dengan suara Naruto barusan.

"Diam saja kau, Shikamaru! Aku sedang kesal!" cetus Naruto dengan nada tak bersahabat dan hal itu sukses membuat temannya yang berkepala seperti nanas terdiam.


Kediaman Sabaku


Sasori dan Gaara sama-sama sudah kembali ke rumah dan saat ini keduanya sedang berada di dalam kamar, dengan Gaara yang lansung merebahkan diri di atas tempat tidur dan Sasori yang duduk tepat di depan layar komputer.

"Gaara, apa kau mengenal seorang author dengan nama Summer sunshine?" tanya Sasori yang kembali teringat dengan seorang penulis yang menulis pesan ke dalam akunnya (dan akun Gaara, karena mereka memakai satu akun).

"Aku tahu, tapi tidak kenal," balas Gaara singkat, "memangnya ada apa?" kali ini giliran Gaara yang bertanya pada Sasori.

"Hebat sekali," dengus Sasori dan memutar arah duduknya ke arah Gaara yang sekarang sedang duduk di atas tempat tidurnya. "Kau baru mengenalnya tapi pembicaraan kalian sudah intim seperti ini." Sasori menggeleng-geleng saja sambil menatap Gaara yang bisa dibilang 'agak' polos.

"Intim bagaimana?" Gaara mengerutkan kening sambil berdiri dari tempat tidur, "aku rasa percakapan kami biasa-biasa saja," ucapnya seraya melihat ke arah layar komputer dan membaca semua chatting-an antara dirinya dan Summer sunshine.

"Tidak ada yang aneh dengan percakapan kami." Mata emerald itu menganalisa tiap-tiap tulisan yang tertera pada layar komputer dan membacanya dengan seksama.

"Lihat saja. Dia menanyakan umurmu, sekolahmu, kau berasal dari mana, hal apa saja yang kau suka dan kau tidak suka, bahkan sampai ke hal yang seharusnya tidak sopan dia tanyakan kalau kau tidak berceita!" Sasori mengabsen satu-persatu pertanyaan yang dilakukan Summer shunshine kepada adik kembarnya itu.

"Hn. Biarkan saja. Aku tidak terlalu memikirkannya, mungkin dia hanya sekedar ingin tahu untuk—" kata-kata Gaara dengan cepat disela Sasori.

"Untuk iseng maksudnya!" Sasori terlihat sekali tidak menyukai kalau Gaara terlalu dekat penulis yang bernama Summer sunshine itu.

"Cemburu, eh?" Gaara melingkarkan kedua tangannya di leher Sasori dan memeluk erat sang kakak yang sedang duduk dari belakang.

"Tidak. Aku hanya tidak suka kalau ada orang yang menggali informasi mengenai kita terlalu dalam. Itu membuatku tidak nyaman," ungkap Sasori dengan jujur mengenai perasaan tak nyamannya mengenai orang yang bernama Summer sunshine itu. Dia seperti mencoba untuk terlalu dekat dengan Gaara, begitu juga terhadap dirinya dan Sasori sangat membenci orang yang pura-pura baik tapi memiliki maksud lain.

"Tenang saja. Dia tidak akan macam-macam. Lagipula kita hanya kenal dia lewat internet semata-mata sebagai sesama author, tak lebih." Gaara menghela napas melihat sikap Sasori yang kadang terlalu paranoid.

"Sasori, Gaara, apa kalian sudah pulang? Bisa bantu aku sebentar?" terdengar suara Temari dari arah depan.

"Biar aku saja." Gaara dengan cepat beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar.

.

.

Pemuda itu berjalan ke arah depan rumah dan mendapati Temari, kakak tertua dan satu-satunya kakak perempuan dikeluarganya sedang berdiri sambil memerhatikan telapak tangannya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipegang gadis berusia 18 tahun itu. Raut wajahnya terlihat khawatir.

"Temari-nee, apa yang kau lakukan di sana?" tanya Gaara heran saat melihat Temari hanya berdiri saja dan malah meletakkan semua belanjaannya di depan halaman rumah.

"Aku menemukan anak burung ini tadi di jalan. Kasihan sekali sayapnya terluka." Gadis itu menunjukkan seekor burung kecil yang sedang dipegangnya. "Bisa kau jaga anak burung ini sebentar? Aku ingin ke dalam mengambil obat," pintanya sambil menyerahkan anak burung itu ke dalam genggaman tangan Gaara.

"Tunggu sebentar, ya burung kecil. Aku akan segera mengobatimu dan kau akan segera sembuh!" Temari dengan riang berlari masuk ke dalam rumah.

Emerald Gaara menatap tajam ke arah sang anak burung yang kelihatannya baru beberapa hari menetas. Kemungkinan besar burung kecil itu jatuh dari sarangnya dan diserang oleh hewan liar, mungkin kucing atau anjing jalanan.

'Mahkluk lemah... Hidup pun juga akan percuma. Tetap saja kau akan mati. Daripada kau menderita, lebih baik kau mati saja sekarang... '.

Gaara mencengkram dan meremas tubuh anak burung yang kecil itu kuat-kuat sambil menatap dingin kepada hewan malang tersebut. Perlahan anak burung yang masih kecil itu kehilangan napasnya dan mati dalam genggaman tangan pemuda itu tanpa perlawanan.

"Nah, aku sudah membawa obatnya! Gaara, kemarikan anak burungnya biar aku obati!" Temari langsung duduk di teras dan meletakkan obat yang ia bawa di sebelahnya.

"Anak burungnya sudah mati." Gaara memperlihatkan anak burung yang sudah mati itu dengan ekspresi datar.

"Eh? Sayang sekali... " Temari mendesah kecewa. Baru saja dia sempat berpikir untuk memeliharanya dan membawanya pulang ke Sunagakure.

"Sudahlah, Nee-san. Jangan dipikirkan. Aku akan segera menguburnya di halaman." Gaara berjalan ke arah satu-satunya pohon Sakura yang ada di halaman depan rumahnya untuk mengubur hewan kecil itu.


Konoha High School


Sementara itu di sekolah Konoha anak-anak tampak mengerumuni kantin. Maklum saja hari ini ada diskon 20% untuk semua jenis makanan. Disaat semua murid tengah berebut dan berdesakan untuk membeli jajanan favorite mereka di kantin. Hinata lebih memilih untuk berdiam di dalam kelas. Saat ini tempatnya yang paling aman adalah di dalam kelas sendirian, juga kamar mandi (kalau hal itu diperlukan).

"Hinata. Aku ingin bicara padamu sebentar." Seorang gadis berambut merah sudah berdiri di depan Hinata.

"Eh, Karin?" Hinata agak terkejut dengan kehadiran Karin. Mungkin dia terlalu lama melamun tadi. Gadis itu hanya mengangguk menanggapi permintaan Karin.

"Bicara di luar saja." Karin mengajak Hinata untuk keluar kelas.

Hinata mengikuti Karin keluar dari kelas dengan rasa penasaran apa yang mau dibicarakan gadis itu padanya? Tiba-tiba sekali Karin menemuinya. Karin mengajak kekasih Naruto itu untuk bicara di bagian pojok luar kelas agar tidak menjadi perhatian anak-anak lain terutama kelompoknya Sakura. Keduanya terdiam sejenak.

"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Apa kau benar-benar menyayangi Naruto?" pertanyaan Karin sontak membuat wajah pucat Hinata merona.

"Ke-kenapa Ka-Karin menanyakan hal itu? Sudah tentu a-aku sangat menyayangi Na-Naruto... " jawab Hinata agak malu-malu namun tegas dia memang sangat sayang pada pemuda itu.

"Kalau kau memang benar menyayangi Naruto. Tinggalkan dia." Hinata terbelalak tak percaya dengan apa yag diucapkan Karin kepadanya.

"Bi-bicara apa kamu, Ka-Karin? Ka-kamu ingin aku meninggalkan Naruto?" tanya Hinata untuk mempertegas atas perkataan Karin.

"Apa kau tega membiarkan Naruto ikut menanggung segala hinaan dan cacian dari mereka? Apa kau juga tega melihat orang yang kau cintai dimusuhi oleh semua orang di sekolah ini?" Hinata menatap nanar saat mendengar ucapan Karin yang begitu lirih. Separuh dari perkataan Karin tampaknya adalah curahan hatinya yang tak tersampaikan pada Sasuke.

"A-aku... " Hinata menggigit bibir bawahnya, "aku tidak ingin Naruto sampai mengalami semua itu... " Tubuh gadis itu gemetar.

"Maaf kalau aku bicara seperti ini tiba-tiba." Melihat Hinata yang tampak sedih membuat Karin jadi merasa tak enak hati juga, "tapi tak ada salahnya kau memikirkan Naruto juga. Sudah, ya Hinata. Aku pergi dulu." Akhirnya Karin pergi meninggalkan Hinata.

'Sekarang aku harus bagaimana... ?' Hinata berdiri dalam diam sambil berpikir.

Gadis itu berjalan menuju kelasnya dengan gontai sambil melamun. Hinata merenungkan kembali semua perkataan yang diucapkan oleh Karin padanya dan mulai merasa kalau gadis berambut merah itu ada benarnya juga. Gadis itu duduk sambil menghela napas.

'Aku rasa Karin benar... Meskipun Naruto berjanji untuk selalu menemaniku, tapi... ' Terbesit suatu keraguan dalam hati kecilnya. Naruto memang selalu ada untuknya tapi justru hal itulah yang menyakitinya karena pemuda itu harus menerima segala celaan dan cacian yang seharusnya ditujukan kepada dirinya. Menurutnya pemuda periang dan sebaik Naruto tidak pantas kalau harus menerima semua perlakuan kasar itu. Cukup dia saja, asal bukan Naruto, meski dia menderita tapi dia bahagia.

"Hinata-chan... Apa yang sedang kau lamunkan?" ternyata pemuda yang baru saja dipikirkan oleh Hinata muncul begitu saja di hadapannya.

"Na-Naruto-kun? Se-sejak kapan kau ada di sini?" Hinata terkejut saat melihat pemuda itu sudah berdiri saja di depan mejanya (Hinata di duduk di bangku paling depan pojok kiri).

"Ah, kau melamun terus, sih." Naruto menggembungkan kedua pipinya, pura-pura marah," aku dari tadi memanggilmu tapi kau tak dengar. Lihat aku bawa makan siang untukmu, Hinata!" sambil tersenyum lebar pemuda itu meletakkan sekotak bento dan sekotak jus buah di atas meja Hinata.

"Aku tahu kau pasti sulit untuk keluar terutama ke kantin. Jadi aku membawakan semua ini untukmu. Besok-besok kalau Hinata-chan mau sesuatu bilang saja kepadaku." Pemuda itu langsung duduk di sebelah Hinata sambil membuka kotak bentonya sendiri.

"Besok-besok kau tidak perlu lagi membawakanku makanan dari kantin... " Ucap Hinata pelan tapi cukup terdengar oleh pemuda yang duduk di sebelahnya.

"Eh? Kenapa? Apa kau mau membawa bekal dari rumah?" tanya Naruto yang masih belum menangkap kemana arah pembicaraan Hinata.

"Bukan itu maksudku... !" Hinata menggeleng. Dia berusaha untuk mengatur perasaannya agar tidak sampai gagal dia ucapkan di tengah jalan. Dia sudah bertekad dan harus melakukannya. Semua demi Naruto, bukan untuk dirinya.

"Lalu apa?" Naruto bertanya sambil membuka kotak bentonya. "Wah, kelihatannya enak!" serunya saat melihat makan siangnya.

"Sampai di sini saja hubungan kita... " Jawab Hinata sambil berusaha mati-matian untuk menjaga keteguhan tekadnya. Dia sudah mengatakannya dan tak bisa mundur lagi.

"A-apa maksudmu, Hinata-chan?" seketika selera makan Naruto langsung lenyap. Pemuda itu beralih menatap Hinata yang hanya bisa tertunduk tanpa menatapnya.

"Kita putus," ucap Hinata singkat.

"Kau sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Naruto dengan nada yang serius. Entah kenapa, dia merasa kalau keputusan Hinata itu bukan murni kemauannya sendiri.

"Iya, aku sudah memikirkannya matang-matang... " Gadis itu hanya mengangguk pelan.

"Hinata, coba kau lihat aku!" Naruto mencengkram kedua pundak Hinata dan memintanya untuk menatap ke arahnya. "Coba sekarang tatap aku dan katakan kalau kau memang benar-benar ingin putus dariku!" tatapan lavender Hinata bertemu pandang dengan sapphire Naruto.

"Ma-maafkan aku, Naruto-kun... " Hinata dengan cepat menepis kedua tangan Naruto dari pundaknya, "aku mohon pergilah," tukasnya sambil mengalihkan tatapannya dari Naruto. Dia takut kalau pendiriannya akan berubah.

"Baiklah, Hinata... kalau itu memang keinginanmu... " Naruto menghela napas dengan berat dan berdiri. "Tapi ingat satu hal. Apa pun yang terjadi aku akan tetap melindungimu!" tegasnya membuat bulu roma Hinata berdiri karena Naruto terdengar sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Hatinya bergetar mendengar cara bicara Naruto.

"Aku pergi dulu." Naruto memutar tubuhnya dari Hinata. 'Sakura... Semua ini pasti gara-gara dia!' pemuda itu berjalan keluar kelas sambil mengepalkan tangannya.

TBC