Kako No Ai (Past Love)

Warning :

Maaf jika banyak typosnya/hurufnya banyak yang hilang atau banyak yang kurang dari ff ini,saya sudah usaha memperbaikinya semampu saya,kesempurnaan milik TUHAN kekurangan milik manusia jadi,harap maklum kalau ff nie banyak kekurangan hehehe ^^v

Semua yang terjadi dalam ff nie semata-mata cuma karangan belaka,jika ada bbrp kesamaan itu emg sedikit disengaja,selebihnya? mengarang bebas~! uyeehh~

Disclaimer :

They are not mine! tapi keaslian cerita ini cuma milik saya seorang aja :D

About story :

Yaoi,ooc & mpreg

Cast :

Member TVXQ and beberapa pemeran pembantu

Pairing :

3 Yunjae 3


"appa jebal jangan lakukan itu~!," jaejoong bersimpuh dikaki seorang pria paruh baya,airmata tak henti-hentinya turun dari kedua kelopak matanya yang indah.

"aku sudah bilang agar berhati-hati dalam bergaul,dan lihat apa yang kau dapat?!" ucap pria itu dengan dingin tanpa rasa iba sedikit pun. Padahal,yang sedang bersimpuh dikakinya itu adalah anaknya sendiri.

"tapi,appa aku..,"

"shin-ah cepat singkirkan dia!,"seru pria itu kepada bawahannya.

"APPA ANDWEEEEEE~!," jaejoong berusaha berontak untuk melepaskan diri dari tarikan bodyguard . Walaupun sia-sia karena tenaganya hampir terkuras habis saat ini,tapi dia berusaha kerahkan semua kemampuannya agar kembali masuk keruangan yang sedikit gelap dan lembab. Hawa jahat seperti menggumbal didalam situ sehingga membuat pengap siapapun didalam sana.

'Brak!' jaejoong membuka pintu itu dengan kencang,luka di diperut masih begitu terasa ngilu bahkan masih sedikit berdarah namun berusaha tak ia hiraukan,dia menuju keranjang bayi namun belum sempat benar-benar mendekat pemandangan yang mengerikan terpampang jelas dihadapannya.

'Dor!' moncong pistol itu menghadap tepat kekeranjang bayi,yang jaejoong yakini masih berisikan bayinya. Asap misiu mengepul dari selongsongan peluru,dengan begis dan menyeringai melakukan perbuatan keji itu. Jaejoong hanya mampu terdiam,mendadak tubuhnya mengeras dan kaku. Bulir-bulir peluh dan airmata menjadi satu. Dari keranjang bayi itu didapati tetesan darah yang perlahan semakin banyak dan banyak.

"Andweeeee~!,"

"Ahh~!,"jaejoong terbangun dengan keringat yang membanjiri pakaian yang ia pakai. Mimpi itu datang lagi,mimpi yang selalu membuat kepalanya pusing dan jantungnya semakin berdebar kencang. Jaejoong bersusah payah bangkit dari tempat tidur dan melihat kearah jendela. Diluar sedikit gerimis dan masih gelap,tentu saja karena ini masih jam 4 pagi. Sebagian orang masih terlelap dialam mimpi atau enggan beranjak bangun dan memilih asik bergelut didalam selimut tebal.

Hawa dingin langsung menyergap jaejoong,dia pun memandang lurus kedepan yang ada tembok ber-wallpaper-kan bunga-bunga,pikirannya masih teringat dengan mimpi kali ini. Mimpi ini lebih jelas dari biasanya,kenapa? bayi siapa itu? dan kenapa appa menebaknya?,pikiran jaejoong semakin berkecamuk. Dia benamkan wajahnya kebantal sekedar berusaha melupakan mimpi barusan.


'Drrtt~ drrtt~' sebuah ponsel bergetar dimeja nakas yang berada tempat disamping tempat tidur mewah berukuran king size,namja itu berusaha menggapai-gapai meja itu untuk mengambil ponselnya dengan mata yang masih terpejam.

"yeoboseo?,"

"hmm kau masih tidur rupanya? sudah kuduga," suara di seberang sana membuat namja itu menarik dirinya untuk duduk dan bersandar dipunggung tempat tidur,sekilas dia melirik seseorang yang tidur berada disebelahnya.

"jangan mulai lagi junsu-ah,ini masih terlalu pagi untuk bertengkar,"tukas namja itu dengan sedikit ketus.

"hahaha jangan berlebihan park yoochun,aku kan tidak mengatakan sesuatu yang memicu pertengkaran,"

"cih! terserahlah,untuk apa kau menelponku?,"

"anak buah ku sudah menemukan dimana jae hyung berada,"

"jinjjaro?,"

"hmm,dan apa kau percaya dengan yang namanya kebetulan?,"

"ha? jangan bertele-tele junsu-ah,apa hubungannya masalah ini dengan kebetulan?!," yoochun mulai gelisah dan tak sabar,dia benci dengan sikap junsu yang terkesan berteka-teki.

"karena jae hyung tinggal dirumah orang yang dulu kau ajak taruhan untuk menidurinya," ujar junsu dengan datar dan dingin.

Yoochun membulatkan matanya tak percaya,kalau ini kekonyolan atau sekedar bercandaanya kim junsu. Detik ini juga yoochun akan ketempat junsu dan menghajarnya.

"kau kira aku bercanda?,"terka junsu yang mengerti apa yang ada didalam pikiran yoochun. Tentu junsu sangat paham dengan semua yang ada didiri yoochun,10 tahun masa perkenalan lalu menjadi sahabat dan 8 tahun menjalin kasih cukup membuat mereka saling memahami satu sama lain bukan?.

"Jadi..jae hyung_,"

"ne,dia ada di daerah chungnam sekarang,bagaimana? apa itu sebuah kebetulan?,"

Setelah mengajukan pertanyaan itu junsu malah memutuskan kontak telponnya tanpa menunggu jawaban dari yoochun,sementara yoochun hanya terdiam dan terpaku. Dia masih mencerna semua ini di dalam otaknya.

"Kau kenapa yoochun-hyung," tanya seseorang yang berada disebelah yoochun,sudah tersadar dari alam mimpi rupanya.

"jae-jae hyung,changmin-ah..,"kata yoochun dengan terbata-bata.

"kenapa dengan jae hyung?," changmin pun menjadi sedikit khawatir melihat ekspresi dari yoochun.

Dengan gelisah yoochun turun dari ranjang dan meminum segelas wine untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh hebat,dia meremas rambutnya. Changmin tidak tahu kenapa yoochun jadi begitu,dia pun mengecek panggilan masuk dari handphone yoochun.

'Kim junsu'

"kau kenapa?," changmin mendatarkan nada bicaranya,tubuhnya yang nyaris naked segera ia mengenakan bathrobe yang tergantung di kapstock.

Merasa diacuhkan changmin pun mendengus sebal dan memilih kekamar mandi,mungkin sehabis mandi dan berendam air hangat bisa sedikit menenangkan hatinya yang diliputi perasaan cemburu. Begitu pikirnya.

{ Flashback On }

Yoochun meminum habis isi dari botol bir,sudah botol ke 8 sejak ia mengajak bertaruh sahabat kecilnya sewaktu di gwangju. Dia melirik yunho yang hampir tumbang di botol ke 6-nya,yoochun terkikik geli karena ia tahu yunho tidak kuat minum seperti dirinya. Sebentar lagi yoochun akan ke inggris meneruskan kuliahnya disana,jadi mereka memutuskan mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan sebelum keberangkatan yoochun.

"Yu-yunho-ah sudahlah,kau sudah kalah,mengaku sajalah,"

Mendengar ucapan yoochun yang terkesan meremehkan yunho pun menyeringai.

"a-aku tidak akan menyerah yoochun-ah,ayo kita bertarung sampai benar-benar mabuk,"

Mereka pun malah semakin menjadi-jadi dan tak perduli sekitarnya.

"ini sangat membosankan,bagaimana kalau kita ubah taruhan kita?,"tantang yoochun.

"ma-maksudmu?,"

"lihat kearah jalan itu," tunjuk yoochun yang ikuti oleh ekor mata yunho.

"siapapun yang muncul dijalan itu,kau harus cium bibirnya,"

"Mwo? di jalan kecil dan gelap itu siapa yang akan muncul? apalagi ini hampir tengah malam!," seru yunho dengan sedikit nada protes.

"kalau begitu kau mengaku kalah saja,otte?," seringaian yoochun membuat yunho semakin tertantang. Dan,tanpa sepengetahuan yunho,yoochun memasuka pil perangsang dibotol bir yang sedang yunho minum. Menurut informan yoochun jalan kecil itu biasa dilewati para pekerja seks komersial jadi bukan masalah besar kalau yunho sampai kalap dan lebih dari mencium. Akan yoochun bereskan dengan uang,dimata yoochun sahabatnya itu orang yang terlalu 'lurus' dan polos,jadi yoochun ingin tahu akan seperti apa sisi liar sahabatnya ini.

"kau meremehkan aku eoh? baik,aku akan buktikan padamu,"

Yoochun dan yunho mengadu botol bir mereka seraya bersorak "cheerrrss". 10 menit mereka menunggu,namun tak satu pun orang yang lewat,sementara yunho mulai bergerak gelisah dan tidak tenang.

"hei,aku mau cari toilet dulu,jangan kemana-mana! ingat taruhan kita oke?,"titah yoochun dengan menepuk pundak yunho. Yunho hanya mengangguk dan terus meminum bir yang sudah mencapai botol ke 7.

20menit kemudian.

Yoochun melihat yunho sudah tidak ada di tempatnya,dia edarkan pandangannya yang sedikit kabur karena pengaruh alkohol. Namun,matanya menangkap seseorang yang ada dijalan gelap itu,dengan langkah gontai yoochun mendekati orang itu dan menepuk pundaknya.

"aku-aku berhasil yoo..aahh..," yunho menjatuhkan tubuhnya dan yoochun dengan sempoyongan memapah tubuh yunho yang pingsan karena kelelahan.

"hebat juga dia," seringai yoochun dan bersiap memanggil anak buahnya untuk membawa yunho pulang kerumahnya. Setelah memberikan alamat rumah yunho dan berpesan hati-hati yoochun pun bersiap meninggalkan lokasi itu dan melemparkan segepok uang ketubuh orang yang habis digagahi oleh yunho.

Dan,saat hendak membuka pintu mobil,pikiran jahat pun menyusup diotaknya. Dia juga ingin mencicipi tubuh orang yang pingsan dan tak berdaya itu. Yoochun pun kembali mendekati jalan yang gelap itu,dan mendekati tubuh orang itu,dengan nafsu yang memburu dan terpengaruh oleh alkohol juga,yoochun tak memperhatikan lagi. Dia mencium tubuh mulus itu,pelan-pelan hingga ke wajah orang itu yang tertutup oleh rambut yang sedikit panjang itu. Bibirnya mendadak kelu,dan tubuhnya membeku sesaat,apa yang ia lihat ini seperti petir yamg menyambar disiang bolong. Saat ia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajan orang itu.

"Jae-jae-jae hyung?!,"pekik yoochun dan segera menutup mulutnya karena sangat kaget. Tiba-tiba ia teringat sms yang dikirimkan jaejoong saat ia mencari toilet tadi,jaejoong bilang akan menjemputnya namun yoochun tak mengira jaejoong melewati jalan itu,jalan yang menjadi ajang taruhan antara dia dan yunho. Yoochun langsung melarikan diri dan tak memberitahukan kejadian itu pada siapapun kecuali junsu yang dulu masih menjadi kekasihnya. Sejak saat itu yoochun berusaha untuk tidak mencari tahu keadaan yunho dan jaejoong,sampai tak sengaja ada kawan lamanya memberitahukan yunho yang memilih menetap didaerah chungnam bersama orang tuanya.

{ Flashback off }

"Hyung..," panggilan suara dari changmin membuyarkan ingatan yoochun tentang kesalahannya dimasa lalu.

"Eh! ka-kau mau kemana changmin-ah?,"

"aku mau kekantor,hari ini ada meeting penting,"sahut changmin acuh dan berusaha menepis tangan yoochun dari tangannya.

"ma-mau ku antar?,"

"tidak perlu,kau sedang asik melamunkan memori indahmu bersama kim junsu kan? jadi,silahkan dilanjut aku tak perduli,"ujar changmin dengan ketus,dia meninggalkan yoochun yang masih menatap bingung melihat perubahan sikapnya itu.

*TBC*


A/N : aahh mian jalan ceritanya makin geje en pendek begini,saia tetep usahakan memperbaiki semua kesalahan2 di chap sebelumnya,tapi kalo masih ada yang salah maupun kurang tolong dimaklumi dan di maafkan ne :) oia saia apdet chap berikutnya malam minggu nanti otte? kecepetankah? saia juga akan berusaha supaya chap2 berikutnya tidak membosankan dan tidak terlalu panjang chapternya,bateweeeyyy TERIMA KASIIIHHHH untuk kalian yang udh mau memberikan follow,favorite and reviewnya baik itu berupa saran dan kritik saiia sangat...sangat...menghargainya,mian ga bisa balesin satu2,tapi saia selalu baca kok :)) dan untuk chap ini bisa minta RnRnya lagi ga? hehehehe :D