Title: Eyes

Author: aoora

Cast: HaeHyuk, SiHyuk

Warning: yaoi, boys love, boyXboy, typo, alur waktu-tempat semua gak jelas, etc.

All Cast is not Mine

.

.

.

.

.

Disebuah taman rumah sakit yang indah, terlihat dua orang namja yang sedang bersendau gurau. Mereka terlihat sangat serasi jika dilihat baik-baik. Mereka berdua terlihat sangat senang. Namun ada hal yang tampak mengganjil dari salah satu namja disitu. Salah satu namja itu hanya memandang kosong kearah depan tanpa menatap menatap lawan bicaranya secara langsung.

.

.

.

"Hae…aku ingin bertanya padamu"

"Apa yang ingin kau tanyakan Hyukkie?"

"Hem…aku hanya ingin bertanya, apakah benar kalau kau mencintaiku?"

"Tentu saja chagi… itu pasti. Cintaku padamu tak usah diragukan lagi"

"Apa benar? Meskipun aku buta seperti ini, kau tetap ingin bersamaku Hae?"

"Nee chagi… aku akan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu" Mendengar perkataan Donghae, Hyukkie hanya bisa menyentuh wajah Donghae dengan tangan halusnya.

"Bila nanti aku ditakdirkan bisa melihat lagi. Aku ingin kita bisa secepatnya menikah Hae" ucap Hyukkie masih sambil menyentuh wajah Donghae. Mencoba menerka-nerka bagaimana sebenarnya paras wajah Donghae yang kini sudah menjadi namjachingunya sejak beberapa minggu yang lalu.

'Tenang saja Hyukkie chagi, sebentar lagi kau akan bisa melihat. Walaupun aku harus rela mendonorkan mataku untukmu' batin Donghae sambil tersenyum tulus kearah Hyukkie-nya.

.

.

Ada yang bertanya bagaimana Donghae dan Hyukkie bisa berpacaran? Kalau ada berarti flashback dulu ya

.

Saat itu Donghae sedang dirawat dirumah sakit karena kecelakaan kecil yang dialaminya, dan hal itu membuat beberapa bagian dari tubuhnya cedera. Donghae berjalan dengan langkah santai dikoridor rumah sakit sambil sesekali diedarkannya matanya keseluruh arah, mencoba mencari objek yang mungkin akan menarik hatinya. Seketika langkah Donghae terhenti ketika ia mendengar teriakkan seseorang yang terdengar pilu. Donghae pun memandang kearah orang itu. Seketika pandangan matanya tidak ingin lepas dari sesosok namja manis yang sedang berteriak-riak itu.

"Andweeee aku tidak mungkin butakan" teriakkan nyaring namja manis itu membuat Donghae tersadar dari jeratan sesosok namja manis itu. Dongha e pun hanya menyerngitkan alisnya heran karna melihat tingkah namja manis itu yang sudah persis seperti orang gila. Dengan kedua perawat yang memegang masing-masing tangannya. Entah lelah atau apa, namja manis itu berhenti berteriak dan kini keadaannya sudah lumayan terlihat tenang.

"Hiks… lepaskan tangaku dan tinggalkan aku sendiri" ujar namja manis itu kepada dua orang perawat yang sedari tadi memegangi tangannya

"Tapi kami…"

"Kubilang tinggalkan aku sendiri" namja manis itu mulai meninggikan nada bicaranya lagi. Mendengar itu pun kedua perawat itu hanya bisa mengangguk patuh. Donghae hanya menatap namja manis itu, yang berjalan-jalan tanpa arah yang benar. Sampai akhirnya namja manis itu terjatuh karna tertabrak tiang ketika ia berjalan. Donghae yang melihat itu pun mau tak mau mendekati dan berusaha membantu namja manis itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Donghae sambil membantu namja manis itu berdiri dari posisi jatuhnya. Namja manis itu tidak menjawab ia hanya diam ketika Donghae membawanya kesebuah kursi untuk mereka duduk

"Aish… appo" rintih namja itu ketika ia menyentuh keningnya yang tampak memerah. Donghae pun menoleh karna mendengar rintihan namja manis itu

"Wah… keningmu memerah. Apa itu sakit?"

"Tentu saja sakit…pabbo" jawab namja manis itu dengan ketus. Donghae hanya terkekeh geli mendengarnya

"Kau kenapa?"

"Ani, hanya saja… perkenalkan aku Lee Donghae" dengan pedenya Donghae meraih tangan namja manis itu untuk berkenalan

"Hei apa yang kau lakukan?" ucap namja manis itu kesal

"Hanya ingin berkanalan"

"Aku tidak ingin berkanalan denganmu. Jadi bisakah kau tinggalkan aku dengan tenang" Donghae yang mendengar pun mencoba mengerti dan segera meninggalkan namja manis itu pergi

"Aku tidak akan pergi sebelum kau beritahu namamu padaku."

"Aish kau ini menyebalkan sekali sih"

"Beritahu namamu, atau aku tidak pergi"

"Lee Hyukjae. Sudahkan, jadi bisakah kau pergi dan tidak menggangguku."

"Baiklah Hyukkie sampai bertemu lagi" Donghae pun mulai berjalan manjauh

"Yaaa namja itu sok akrab sekali sih, menyebalkan"

.

.

Hari-hari pun terus berganti. Hubungan Donghae dan Hyukkie pun kini semakin dekat. Dengan susah payah tentunya Donghae membuat dirinya dengan Hyukkie bisa seakrab sekarang. Tak jarang mereka selalu menghabiskan waktu bersama dirumah sakit. Bahkan sekarang Donghae pun sudah tau, apa sebenarnya sebab sampai Hyukkie bisa kehilangan pengelihatannya. Hyukkie kehilangan pengelihatannya saat ia mengalami kecelakaan yang bahkan ia tak tau kenapa bisa terjadi.

"Hyukkie wajahmu ini manis sekali"

"Yaa ikan jangan coba-coba menggombalku"

"Gombal? Aku bahkan berkata jujur, sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan pengelihatanku barang sedikit pun dari wajahmu"

"Aish… kau menyebalkan Hae" Donghae hanya tersenyum melihat wajah Hyukkie yang kini dihiasi semburat merah.

"Kau tau Hyukkie kalau dilihat kita ini sangat serasi loh"

"Apa maksudmu Hae?"

"Aku tampan dank au manis. Jadi bisa disimpulkan kalau kita serasi bukan"

"Haha benarkah kau tampan Hae? Aku tak yakin itu benar"

"Kau tak percaya Hyukkie. Cobalah kau sentuh wajahku, lalu kau bisa menerka-nerka bagaimana sebenarnya wajahku" Hyukkie pun tersenyum lalu tangannya terulur untuk menyentuh semua bagian dari wajah Donghae.

"Bagaimana aku tampan bukan?" tanya Donghae saat Hyukkie telah puas menjamah semua bagian dari wajah Donghae

"Hem… entahlah aku rasa wajahmu abstak"

"Ya… jadi kau bilang wajahku tidak jelas begitu?" Hyukkie pun hanya tertawa mendengar nada bicara Donghae yang tak terima kalau wajahnya dibilang abstrak. Donghae yang mendengar Hyukkie yang tertawa hanya bisa tersenyum tipis, karna setidaknya hari ini ia bisa membuat Hyukkie tertawa dan berhenti memikirkan nasib matanya.

.

"Hyukkie saranghae"

"Kau bicara apa Hae?"

"Saranghae Hyukkie"

"Kau tidak salah bicara kan Hae"

"Hyukkie aku serius, aku mengatakan ini karna hatiku memang merasakannya"

"Tapi…"

"Kau tidak percaya" Donghae pun mengambil tanagn Hyukkie dan meletakkannya tepat didadannya. Saat itu Hyukkie bisa merasakan bertapa cepatnya detak jantung Donghae saat ini

"Maukah kau menjadi namjachinguku Hyukkie?"

"Tapi Hae aku…"

"Aku tak ingin penolakkan Hyukkie. Aku tak perduli dengan keadaanmu, yang aku inginkan hanya hatimu bukan yang lain." Hyukkie terdiam mendengar perkataan Donghae.

"Donghae aku ingin menjadi namjachingumu" ucap Hyukkie setelah ia tampak berpikir lama tadi

"Terima kasih chagi" Donghae pun langsung memeluk tubuh Hyukkie-nya. Hyukkie yang merasakan hangat dari pelukan Donghae kini hanya tersenyum kecil.

.

.

.

Setelah beberapa hari Hyukkie mandapatkan kabar baik dari dokter yang menanganinya. Dokternya mengatakan bahwa ada orang yang bersedia mendonrkan mata untuknya. Tentu saja Hyukkie yang mendengar kabar itu hanya bisa tersenyum senang.

.

Seperti biasa Donghae dan Hyukkie selalu menghabiskan waktu sore mereka berdua.

"Hae, apa kau tau akhirnya aku mendapatkan donor mata" ucap Hyukkie dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya

"Benarkah? Aku senang mendengarnya, berarti sebentar lagi kau bisa melihat lagi chagi" Donghae berujar riang namun ekspresi wajahnya berkebalikan dengan nada bicaranya

"Ya… aku senang sekali Hae-ah"

Donghae hanya tersenyum melihat Hyukkie-nya kini yang sangat senang. Tapi disisi lain Donghae juga merasa sedih karna sebentar lagi ia akan kehilangan mata dan pengelihatannya. Tapi itu semua ia lakukan demi membuat Hyukkie senang, dan Donghae rela melakukan apa pun demi Hyukkie. Walaupun ia harus mendonorkan matanya sekali pun.

.

.

"Benarkah operasinya akan dilakukan secepatnya?" Hyukkie terlihat senang karna Dokternya mengatakan kalau ia bisa melakukan operasi matanya secepatnya

"Ia itu benar. Tapi untuk melakukan operasi itu, kita harus menunggu sampai besok karna sekarang masih banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu."

"Besok? Yaaa Hae… aku tidak sabar menunggu besok" Donghae hanya tersenyum saat tiba-tiba Hyukkie memeluknya karna terlalu senang.

.

Hari itu pun tiba, hari dimana Hyukkie akan melakukan operasi. Saat itu Hyukkie terlihat sangat gugup dan lagi Donghae-nya tidak ada disampingnya saat itu. Operasi pun akan segera dijalankan.

Operasi pun dimulai, keadaan diruang operasi saat itu sangatlah tegang.

*ao gak bisa jelasin gimana jalannya operasi matanya si Hyukkie jadi operasinya di skip aja ya

Setelah beberapa jam kemudian akhirnya keadaan diruang operasi sekarang sudah mulai tenang karna akhirnya operasinya berjalan dengan sukses.

.

.

Tiga hari sudah setelah hyukkie menjalani operasi. Sekarang Hyukkie sudah bisa melihat dengan baik. Tapi selama tiga hari itu Hyukkie tidak ada bertemu dengan Donghae-nya. Hyukkie merasa heran, namun ia selalu berpikir positif. Mungkin saja Donghae-nya sekarang ada urusan.

.

Sore hari Hyukkie melihat sesosok namja yang sedang duduk tenang dibangku taman yang sering ia dan Donghae-nya duduki.

'Mungkinkah itu Donghae?' batin Hyukkie saat ia melihat sosok namja itu dari kejauhan. Hyukkie yang penasaran pun lalu berjalan menghampiri namja yang ternyata sangat tampan jika dilihat lebih dekat itu. Hyukkie pun langsung mendudukan dirinya disamping namja tampan itu.

"Hai mungkin ini akan terdengar sedikit aneh tapi…" spontan namja tampan itu pun menolehkan kepalanya kesumber suara yang ia dengar jelas saat ini.

"Apa kau Donghaeku?"

"Ne… akhirnya kita bertemu lagi Hyukkie" ucap Donghae sambil tersenyum lembut. 'Tampannya' itulah batin Hyukkie saat pertama melihat wajah Donghae-nya.

"Benarkah kau Donghae? Wah aku tak menyangka ternyata wajahmu memang sangat tampan Hae" Hyukkie pun memeluk Donghae erat begitu pun sebaliknya.

"Kan sudahku bilang padamu, aku ini memang namja yang sangat tampan chagi" ucap Donghae narsis saat Hyukkie malepaskan pelukkan mereka.

"Kau ini narsis sekali sih Hae" Donghae hanya tertawa kecil mendengar itu. Namun saat itu Hyukkie merasakan keganjilan dari Donghae. Hyukkie merasa aneh saat sore seperti ini kenapa Donghae-nya mengenakan kacamata, terlebih lagi kacamata yang dipakainya itu berwarna hitam. Dan tepat disebelah Donghae juga terdapat sebuah tongkat. Entah untuk apa, Hyukkie pun juga bingung melihat itu.

"Hem… Hae kenapa kau pake kacamata hitam saat sore seperti ini? Hari sudah mulai gelap Hae. Ada baiknya kacamata itu kau lepas saja."

"Benarkah hari sudah mulai gelap?"

"Ia Hae, makanya jangan pakai kacamata hitam sore-sore dong, seperti orang buta saja hihi…" Hyukkie pun tertawa kecil, namun karna ia melihat wajah Donghae yang berubah muram Hyukkie pun menghentikan tawa kecilnya.

"Hem…apa kau tau Hyukkie, pada kenyataannya aku memang buta" Hyukkie terdiam mendengar pernyataan Donghae itu.

"Kau pasti bercanda kan Hae?" lalu Hyukkie pun melepaskan kacamata Donghae, lalu dapat dilihatnya mata indah Donghae saat itu. Mata Donghae memang indah namun hanya terdapat tatapan kosong didalam mata itu. Setelah itu Hyukkie hanya bisa terdiam.

"Kau sudah tau kalau sekarang aku benar-benar butakan" tidak ada jawaban dari Hyukkie, Donghae pun meneruskan perkataannya

"Aku senang sekarang kau sudah bisa melihat chagi. Kau masih ingat dengan keinginanmu Hyukkie?" lagi-lagi Hyukkie hanya terdiam

"Hyukkie kau masih disitu?"

"Ne… Hae aku masih ada disini"

"Kalau begitu maukah kau menikah denganku Hyukkie?"

"Mian Hae… sepertinya aku tidak bisa mewujudkan keinginanku untuk menikah bersamamu" mendengar kata-kata Hyukkie, Donghae hanya bisa tersenyum pahit dalam kepedihan yang mendalam. Tanpa sadar Donghae pun mengeluarkan airmata saat itu.

"Maafkan aku Hae" Hyukkie berujar lirih

"Tidak apa-apa Hyukkie aku bisa mengerti ko, jadi sebaiknya kau lupakan saja semuanya." Donghae pun langsung beranjak dari duduknya karna ia merasa tak ada gunanya lagi disana saat itu.

'Tolong jaga mataku Hyukkie, karna hanya itu yang terindah yang ku punya yang bisa kuberikan kepadamu' gumam Donghae kecil, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hyukkie. Meskipun gumaman Hae terdengar kecil, tapi kata-kata Donghae tersebut masih bisa terdengar jelas oleh telinga Hyukkie.

Mendengar kata-kata Donghae, Hyukkie pun terdiam mencoba mencerna kata-kata Donghae tersebut. Setelah mencerna cukup lama, Hyukkie baru sadar dan baru tau ternyata mata yang digunakannya saat ini adalah mata Donghae-nya, mata namjachingunya yang sudah bersedia menerimanya apa adanya dulu. Saat itu Hyukkie pun langsung menangis dan langsung mengambil langkah cepat untuk menyusul Donghae-nya yang sekarang sudah terlihat menjauh dari pandangannya.

"Donghae… Donghae tunggu aku" teriak Hyukkie saat Donghae yang saat ini terus berjalan dengan dibantu tongkatnya sebagai penunjuk arah. Tapi sayang sepertinya Donghae tak mendengarnya dan terus saja berjalan menggunakan tongkatnya. Saat Hyukkie sudah semakin dengan Donghae. Saat Donghae menyebrangi jalan betapa terkejutnya Hyukkie saat Donghae-nya ditabrak oleh kendaraan yang saat itu melaju dengan cepat. Hyukkie yang melihat itu pun langsung menghampiri Donghae yang kini sudah dilumuri oleh banyak darah.

.

Kaki Hyukkie serasa tak berdaya saat itu juga. Hyukkie hanya bisa terduduk lemas disebelah Donghae-nya saat itu. Hyukkie hanya bisa menangis keras saat melihat kearah Donghae. Hyukkie merebahkan kepala Donghae diatas pahanya. hyukkie terus saja berkata "Maafkan aku Hae" berulangkali.

"Kumohon Hae jangan tinggalkan aku" pinta Hyukkie kepada Donghae yang kini sudah hampir melepas nyawanya

"Sudahlah Hyukkie jangan menangis seperti ini" ucap Donghae dengan sisa tenaganya

"Tapi…"

"Hyukkie aku hanya ingin mengatakan, kalau aku akan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu" ucap Donghae dengan senyum yang kini perlahan menghilang diwajah damainya.

"Hiks…hiks… Hae bertahanlah, kumohon Hae jangan tinggalkan aku" tak ada jawaban dari Donghae. Hyukkie semakin menangis karna tak ada respon dari Donghae-nya. Hyukkie pun memeluk tubuh Donghae yang kini sudah tak bernyawa lagi.

.

.

.

Dua minggu kemudian Hyukkie berjalan mendekati sebuah makam dengan pakaian rapi sambil membawa bunga-bungaan ditangan kanannya. Lalu dengan perlahan ia berjongkok disebelah makam tersebut

"Hae… aku disini, aku akan selalu mencintaimu walaupun sekarang kita telah hidup didunia yang berbeda." dan akhirnya Hyukkie pun menangis, ia menangis sampai tertidur makam Donghae tersebut.

.

.

Sampai malam pun Hyukkie masih tidur dikuburan Donghae. Saat bangun Hyukkie pun bingung kenapa malam begini ia masih ada dikuburan Donghae-nya? Ia pun pusing sendiri memikirkannya dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Karna Hyukkie tadi pas datang naik angkot, terus sekarang udah malem gitu jadi gak ada lagi angkot lewat. Dengan sangat terpaksa Hyukkie pun pulang jalan kaki. Ditengah perjalanan Hyukkie berjalan sambil menangis lalu sesekali tersenyum sendiri, persis seperti orang yang hilang akal. Karna Hyukkie berjalan kaki ditengah jalan jadi dia hampir aja ditabrak orang.

"Maaf… apa kau baik-baik saja?" Hyukkie hanya diam. orang itu jadi khawatir karna muka Hyukkie saat itu sangat pucat. Namja yang nyaris menabrak Hyukkie pun langsung mengajaknya masuk kedalam mobilnya, bermaksud untuk mengantarkan Hyukkie pulang.

"Hei… kamu gak apa-apa kan?" Hyukkie hanya melirik

"Kenapa kamu keliaran dijalan malam-malam gini?" dan lagi bukannya menjawab Hyukkie malah cuma ngelirik doang dengan mukanya yang pucet kaya orang habis kesambet apa gitu.

"Hah… dari pada gak ditanggepin gini, mending aku diam aja"

Disepanjang perjalanan Hyukkie hanya diam. Namja yang sedari tadi memperhatikannya hanya bisa menatapnya bingung.

"Hei namja manis, rumahmu dimana? Biar aku antar kau pulang" Hyukkie langsung menatap kosong kearah namja itu

"Aku gak ada arah tujuan lagi. Aku mau mati aja." Tiba-tiba Hyukkie pun menangis. Namja itu pun tambah dibuat bingung dengan sikap Hyukkie yang nangis tiba-tiba

"Mati… untuk apa?"

"Untuk apa juga aku hidup, kalau Donghae sudah gak ada"

"Donghae? Siapa itu Donghae?"

"Donghae itu… namjachinguku" tangisan Hyukkie pun semakin keras. Namja itu jadi bingung, 'ini orang aneh banget sih' pikirnya. Tapi namja itu masih bersyukur ternyata orang yang dari tadi dia ajak ngomong kaya orang bego itu gak bisu seperti dugaannya.

.

.

Hyukkie masih menangis namja itu tambah bingung. Karna bingung harus gimana jadi namja itu membawa Hyukkie kerumahnya saja.

Karna perjalanan kerumah namja itu lumayan jauh jadi pas sampai depan rumah Hyukkie sudah tidur, gara-gara kecapean nangis. Namja itu gak tega bangunin Hyukkie yang mukanya udah pucat kaya orang sakit. Walaupun gak kenal Hyukkie tapi namja itu yakin kalau Hyukkie adalah orang baik. Jadi dengan senang hati dia menggendong Hyukkie yang masih tidur kedalam rumahnya yang errr. . . terlalu besar untuk saru orang penghuni saja. Dengan susah payah namja itu menggendong Hyukkie untuk sampai kekamar yang terdekat saat itu. Setelah sampai namja itu merebahkan tubuh Hyukkie yang lemas itu dengan sangat hati-hati, supaya Hyukkie tidak terbangun saat itu.

.

.

.

Paginya Hyukkie terbangun. Ia melihat sekeliling, pemandangan saat ini terasa asing dimatanya. Ia menginjakan kakinya kelantai 'dingin' itu yang dirasakannya. Dengan tubuh yang masih lemas, Hyukkie memaksakan dirinya untuk keluar kamar itu. Pemandangan luar dan dalam, masih sangat asing dimatanya saat ini.

"aku dimana sih.?" Hyukkie bertanya pada dirinya sendiri

"ko disini sepi" lanjutnya lagi

"lagian kenapa juga aku ada disini" ucap Hyukkie sambil mijet keningnya karna kepalanya mulai sedikit agak pusing.

Karna merasa sendirian Hyukkie pun dengan perlahan menelusuri isi rumah asing tersebut. Hyukkie mengitari seisi rumah besar tersebut. Karna haus Hyukkie pun mencari dapur berharap disana ia bisa mendapatkan minuman yang segar. Lumayan lama Hyukkie mencari akhirnya ia mendapatkan dapur rumah itu juga. Dia agak sedikit terkejut saat mendapati seorang namja tampan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan didapur tersebut. Dengan senyum menawan namja itu melihat Hyukkie.

"Kau sudah bangun?" tanya namja tampan itu kepada Hyukkie. Hyukkie hanya mengangguk imut saat itu.

"Yasudah sini… kalu begitu kita sarapan barsama" Hyukkie pun hanya bisa mematuhi kata-kata namja tampan itu.

Sarapan dilalui dengan sepi tanpa ada kata ataupun perbincangan. Setelah selesai sarapan namja tampan itu membersihkan dapurnya. Hyukkie masih diam tanpa kata. Namja tampan itu jadi heran 'ini orang kenapa sih.? Jangan-jangan ini orang. . .orang gila lagi.' ucapnya dalam hati.

"Hei… namamu siapa?" tanya namja tampan itu kepada Hyukkie, sedangkan Hyukkie hanya melirik doang. Merasa gak dijawab namja pun cuma diam aja. Tapi gak lama akhirnya Hyukkie pun mengeluarkan suara juga

"Namaku Lee Hyukjae"

"Ehh… salam kenal, kalau begitu aku Choi Siwon" ujar namja tampan bernama Siwon tersebut dengan ramah

"Aku… aku benci sama diriku sendiri hiks… hiks…" Hyukkie mulai menangis lagi

"Ehh kenapa malah nangis?"

"Donghae… aku sudah sangat jahat sama Donghae"

"Donghae… namjachingumu itu?" Hyukkie hanya mengangguk sambil terus menangis.

"Hem… kau bisa menceritakan tentang namjachingumu itu kalau kau mau" ujar Siwon lembut kepada Hyukkie

Berkat bujukan Siwon, Hyukkie pun menceritakan semuanya. Walaupun itu membuat Hyukkie banyak mengeluarkan air mata tapi sebagai gantinya hal itu membuat Hyukkie merasa tenang.

.

.

"Oh… jadi Donghaemu itu sudah rela mendonorkan matanya untukmu"

"Hem… seperti itulah. Oh ia, kau sendiri? Dimana keluargamu"

"Aku gak punya keluarga lagi sekarang" seketika wajah Siwon yang tersenyum tadi kini menjadi murung

"Gak punya.?" Tanpa disuruh Siwon pun menceritakan semuanya pada Hyukkie. Tak tau mengapa, hanya saja Siwon merasa nyaman dengan keberadaan Hyukkie saat ini.

"dulu waktu liburan, aku bersama keluargaku ingin pergi kepuncak yang berada tak jauh dari rumah ini. Tapi sebelum sampai, mobil yang kami tumpangi saat itu malah bertabrakan dengan mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi. Saat itu aku panik ayah, ibu dan adikku tak sadarkan diri dan mengeluarkan darah saat itu. Aku bingung aku pun keluar dari mobil itu. Setelah beberapa menit aku keluar dan menjauh mobil itu pun meledak. Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, seketika kakiku lemas, mengingat semua keluargaku yang ada didalam mobil yang saat itu sudah meledak. Tapi apa yang aku bisa perbuat saat itu, saat itu aku hanya bisa menangis dalam diam sambil melihat kearah mobil yang sudah tak berbentuk lagi."

"Aku… aku minta maaf. Secara tidak langsung aku sudah bikin kamu inget sama kejadian burukmu"

"Tak masalah Hyukkie, lagi pula aku merasa nyaman bisa berbagi cerita denganmu. Hem… Hyukjae-ssi bagaimana kalau kau tinggal disini bersamaku saja"

"Ehh tapi…"

"Aish... sudahlah temeni aku biar aku gak merasa kesepian lagi" ucap Siwon dengan wajah yang memelas. Setelah lama berpikir hyukkie pun menjawab

"Ok. . . seenggaknya juga aku jadi punya tempat tinggal sekarang"

"Jadi beneran kamu mau tinggal bareng sama aku Hyukkie?"

"Nee… Wonnie"

Dan begitulah akhirnya setelah kesedihan Hyukkie yang ditinggal Donghae. Hyukkie pun mendapatkan kehidupan barunya bersama Siwon yang tampan dan baik hati.

.

.

.

.

.

.

The End

mind to review?