Austy Kim Present
.
.
Park's Strawberry Boy
.
.
Two : Reality That Hit Everyone (I)
Ia tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk mencintainya. Ketika ia mencoba, semua itu terasa semakin berbahaya. Tapi bagi Baekhyun, Chanyeol adalah segalanya, karena pria itu yang mengajarkannya dari mulai mencinta hingga caranya terluka.
.
Byun Baekhyun X Park Chanyeol
.
Warning! It's Yaoi Fanfiction! & Sorry for Typo(s)
.
.
-1957-
"Selamat Pagi Baekhyun."
Sapa Chanyeol ketika mereka berpapasan di lorong menuju ruang tengah, bukannya menjawab, si mungil malah menunduk dengan wajah terbakar.
Chanyeol tersenyum kecil, Ia suka sekali melihat bagaimana ekspresi si bocah Strawberry ketika sedang memalu, wajahnya akan memerah , dan hidungnya mengembang lucu. Chanyeol sampai harus berusaha mati-matian agar tangan kurang ajarnya tidak mencubiti wajah imut itu dengan gemas.
Sudah satu minggu Chanyeol tinggal disana dan reaksi Baekhyun tiap kali melihatnya masih sama, anak itu akan memalu dan mencoba menghindarinya, yang tentu saja percuma karena Baekhyun adalah orang yang bertanggung jawab akan seluruh kebutuhannya.
Chanyeol lebih sering dirumah bersama Baekhyun karena Nyonya Byun selalu pergi berkebun pada pagi buta dan baru kembali sebelum jam makan malam, tapi Chanyeol tidak keberatan sama sekali. Ia malah sangat sangat senang. Ada sebuah hal unik tentang Baekhyun, yang bisa membuat Chanyeol seolah mendapatkan suntikan semangat tiap kali melihatnya.
Anak itu sedang memasak di dapur saat Chanyeol masuk kesana, di luar hujan turun dengan lebat, dan Baekhyun memasak sup rumput laut sehingga mereka bisa makan sambil menghangatkan diri. Aroma lezat dari sup buatan Baekhyun menguar ke seluruh ruangan, tapi Chanyeol malah duduk di kursi meja makan sembari menghela nafas.
"Apa ibumu akan baik-baik saja Baek?" Tanyanya sambil menatap jengah ke arah jendela, mengkhawatirkan wanita paruh baya yang sedang berkebun di luar sana.
Baekhyun yang tidak sadar akan kehadirannya terperanjat kaget, anak itu hampir saja menubruk katel di depannya jika saja ia tidak menahan diri, ia menatap Chanyeol sekilas, dan buratan merah itu mulai muncul lagi.
"I-ibu akan baik-baik saja," Baekhyun menjawah dengan gugup, "Ibu dan pekerja lainnya akan berteduh di bilik istirahat jika turun hujan." Lanjutnya lagi sembari membalikan badan. Segera kembali dengan pekerjaannya sebelum Chanyeol menyadari perubahan wajahnya.
Chanyeol tersenyum lega, "Syukurlah kalau begitu," pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang si mungil, berusaha mengintip apa yang sedang di masak anak itu. Yang rupanya malah menciptakan posisi seolah dirinya sedang mengukung Baekhyun dari belakang.
"Wah, sepertinya lezat sekali." Komentar Chanyeol yang masih belum sadar dengan posisi mereka.
Si bocah strawberry yang merasakan sesuatu menyentuh punggungnya seketika menegang, tubuhnya bergetar dan jantungnya berdetak tak karuan, ia mengeratkan gengamannya pada sendok sup dan berusaha menarik nafasnya perlahan. Rona yang awalnya hanya sebuah buratan-buratan tipis menyebar ke seluruh wajahnya membuat ia tak layaknya kepiting rebus.
"Kak Chanyeol…" Anak itu mencicit.
"Ya Baekhyun?" Chanyeol merendahakn tubuhnya, berusaha mendengarkan anak itu. Nafasnya menghembus belakang telinga si mungil, membuat sang pemilik semakin bergetar.
Ada sebuah jeda singkat sebelum Baekhyun menjawab, sampai akhirnya sebelum Chanyeol berusaha lebih dekat, anak itu menjawab dengan panik.
"Ha-A-apa kita tidak terlalu dekat?"
Mantan ahli bedah itu tersentak, refleks membawa tubuh jangkungnya menjauh, Ia berdehem pelan dan seketika rona merah dari si pipi mungil pun ikut menular pada miliknya.
.
.
.
Walaupun lebih sering di rumah, bukan berarti Baekhyun selalu tinggal di rumah, terkadang anak itu ikut pergi membantu ibunya atau pergi bermain bersama teman-temannya.
Baekhyun punya dua orang teman yang sering datang untuk mengajak anak itu bermain, yang pertama bernama Kyungsoo, ia punya mata bulat besar yang membuatnya terlihat seperti memelototi orang-orang sepanjang waktu, dan kedua bernama Yi Fan, bocah jangkung dengan rambut pirang platina yang sepertinya punya ketertarikan khusus pada Baekhyun. Ketiganya dalam usia yang sama dan sepertinya sudah bersahabat bertahun-tahun lamanya.
Chanyeol sempat bertanya-tanya apakah tidak terlalu tua untuk mereka bermain. Tapi kemudian ia tersadar kalau ini bukan Berlin, pada usia Baekhyun, Chanyeol telah sibuk mempersiapkan dirinya untuk masuk ke jurusan kedokteran, tapi Baekhyun bahkan tidak mendapat pendidikan dasar yang cukup. Dan tampaknya teman-teman sebayanya pun begitu, mungkin itulah satu-satunya cara mereka mengisi waktu luang juga melupakan sejenak kemalangan mereka di tengah ketidakjelasan masa depan.
"Pergi bermain lagi, Baekhyun?" Chanyeol sedang mengerjakan bab kedua skripsinya saat Baekhyun tertangkap sedang sibuk membungkus tubuhnya dengan mantel besar milik sang ibu. Cuaca di luar dingin sekali, itu bukan saat yang cocok untuk pergi keluar, apalagi untuk bermain.
" Iya ka, Yi Fan akan mengajari Baekhyun dan Kyungsoo memancing ikan!" Anak itu menjawab dengan senyum penuh semangat.
Melihatnya, Chanyeol mau tak mau ikut tersenyum juga, "Baiklah, hati-hati kalau begitu." Pria itu menengok keluar jendela dan menemukan dua teman Baekhyun sedang berdiri di luar rumah dengan alat pancing di masing-masing tangannya. "Kau tidak bawa pancingannya?" Tanya Chanyeol spontan.
Baekhyun yang sedang menggunakan sepatunya lantas terhenti, anak itu menggelengkan kepalanya, "Baekhyun tidak punya pancingan," katanya polos, "Mahal. Ibu tidak punya uang untuk membelinya." Terangnya.
Chanyeol mencelos melihatnya. Baekhyun bahkan tidak terlihat sedih ketika mengatakannya. Chanyeol bertanya-tanya apa saja yang telah Baekhyun lalui selama ini di balik semua senyum ceria itu.
"Baekhyun akan pinjam milik Yi Fan saja." Lanjutnya lagi dengan riang.
Chanyeol tersenyum tipis sebagai balasan dan mengatakan hal-hal tentang jangan pulang terlalu sore dan berhati-hati di luar sana, Baekhyun mendengarkannya dengan baik dan berjanji akan pulang sebelum petang.
Maniknya masih tetap terfokus pada si mungil sampai pemilik bahu sempit itu menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Anehnya, Baekhyun pergi dengan begitu ceria, tapi saat kembali wajahnya tampak kosong dengan tatapan terluka. Ketika Chanyeol bertanya apa alasannya, anak itu hanya menggelengkan kepalanya dan berkata ia baik-baik saja. Chanyeol tentu tidak percaya, Baekhyun adalah pembohong yang buruk.
Ia semakin curiga ketika menyadari bahwa anak itu pulang seorang diri. Biasanya, tiap kali selesai bermain, Baekhyun akan di antar oleh kedua sahabatnya sampai ke rumah -Chanyeol yakin itu karena kedua sahabatnya pun sadar bahwa Baekhyun itu agak rapuh- Tapi kali ini, kedua anak itu tidak terlihat batang hidungnya, sebenarnya apa yang terjadi?
Baekhyun mengurung dirinya di kamar semalaman, menolak untuk menyambut ibunya dan juga makan malam. Semalaman itu juga Chanyeol tidak bisa tenang, ia beberapa kali mengetuk pintu kamar Baekhyun dan mengajak si mungil berbicara, tapi tidak ada jawaban.
"Ini aneh bu, Baekhyun tidak biasanya seperti ini kan?" adu Chanyeol pada Nyonya Byun. Mereka sedang duduk bersama di ruang tengah, membicarakan beberapa hal ringan, tapi Chanyeol benar-benar khawatir tentang Baekhyun, jadi pembicaraan mereka lagi dan lagi berlabuh pada anak itu. Nyonya Byun sampai tertawa geli dan menggoda Chanyeol jika pria itu terlalu paranoid.
"Jangan khawatir, paling dia sedang ngambek karena Kyungsoo merusak barangnya, atau ia kalah taruhan dengan Yi Fan, biarkan saja." tenang Nyonya Byun sembari menuangkan teh, mengisi gelas kosong miliknya dan Chanyeol.
Tapi itu salah, keesokan harinya Baekhyun masih menolak keluar dari kamarnya. Chanyeol khawatir bukan main, dan rupanya kini kekhawatirannya pun menular pada Nyonya Byun. Syukurlah wanita itu akhirnya sadar bahwa anaknya tidak baik-baik saja.
"Baekhyun, keluar nak. Apa Baekhyun tidak lapar? Tidak mau berbicara dengan ibu um?" rayu wanita itu sembari mengetuk pelan pintu kamar Baekhyun, Chanyeol ada disampingnya, menunggu dengan khawatir. Tapi tetap tidak ada jawaban.
Chanyeol menghela nafas, "Apa kita dobrak saja bu?" usulnya, yang dibalas oleh sebuah gelengan.
"Tidak perlu, Baekhyun pasti akan keluar," Ia kembali beralih pada daun pintu, merapatkan tubuhnya kesana dan mengeraskan suaranya, "Iyakan Baekhyun? Anak ibu akan keluar kan? Baekhyun akan keluar untuk menceritakan semuanya dan mendapat pelukan ibu, kan?" bujuknya dengan suara mendayu.
Hening mengudara untuk beberapa saat, keduanya masih mengharapkan jawaban dari si munggil, suara derit langkah di lantai kayu itu menjadi akhir penantian mereka, saat akhirnya pintu kayu itu terbuka dan Baekhyun nampak di baliknya.
Chanyeol tidak sempat berkata-kata, terlalu terkejut melihat keadaan anak itu. Kacau sekali. Rambutnya berantakan dan matanya bengkak, lengkungan kehitaman juga tampak jelas di bawah matanya, bibirnya sobek dan ada bekas darah mengering disana.
Nyonya Byun segera merangkul anak itu ke dalam dekapannya, tanggisnya pecah karena rasa terkejut melihat penampilan anak bungsunya. "Ya Tuhan Baekhyun, apa yang terjadi nak." Paniknya, sembari mengusap punggung anaknya yang mulai bergetar.
Baekhyun hanya diam, tidak berniat menjawab ataupun menghentikan tangis sang ibu, Chanyeol masih dalam keadaan terkejut saat manik yang kini redup itu menatap padanya, seolah meminta pertolongan Chanyeol akan rasa sakitnya. Tapi Chanyeol tidak mengerti, ia tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain merasa terkejut dan panik.
Ketika dirasa kesadarannya sudah mulai pulih, perhatiannya di alihkan kembali oleh ketukan di pintu depan, Chanyeol melirik Nyonya Byun, tapi tampaknya hanya dirinya yang sadar akan ketukan itu. Jadi ia bergegas pergi ke sumber suara, membuka pintu dalam satu tarikan dan nafasnya tercekat, melihat sebuah senapan diacungkan ke depan wajahnya.
.
.
.
Austy's Note : Aku sibuk banget minggu ini T-T, sampai aku aja sempet keteteran nulisnya, jadi akhirnya aku mutusin buat bagi chap 3 jadi 2 bagian, dan ini bagian pertamannya. Aku minta maaf banget buat kalian yang nunggu naenanya wkkw, naenanya belum selesai aku ketik, dan karena aku udah janji buat update setiap selasa, aku gamau nanti feelnya malah aneh kalau aku paksian adegannya huhu. Bahkan aku telat sehari kan ya updatenya, Aku juga minta maaf kalau chap ini malah jadinya maksa banget, karena fikiran aku kepecah buat belajar dan ngetik ini. Makasi banyak buat kalian yang masi mau nungguin ff gajelas ini, aku sayaaaaang kalian!
