Love U at Our First Meet
.
JungHona
VHOPE
(Jung Hoseok & Kim Taehyung)
MinYoon as Mr & Mrs Jung
NamJin as Mr & Mrs Kim
JR & Ren NU'EST inside
T
Chaptered
.
WARNING : Fanfic ini sudah kurombak berkali-kali, jadi jika terdapat typo yang 'keterlaluan' mohon dimaklumi saja ne.. *tutup muka*
.
.
.
Hoseok merasa agak menyesal.
Membiarkan Taehyung memakai helm miliknya di belakang malah membuat wajah tampannya diterpa angin habis-habisan. Hoseok sama sekali tidak bisa menurunkan kecepatan laju motornya, karena sudah aturan untuk berkendara minimal 60 km/jam di sini.
"Taehyung! kau lapar?" Hoseok sedikit berteriak dan menoleh ke belakang, Taehyung merapatkan diri "Hah?!" balas Taehyung berteriak kecil karena suara angin benar-benar meredam suara keduanya. Ini bukan gaya Hoseok, ia tidak mau celaka di tengah jalan karena berteriak-teriak dengan Taehyung.
Saat motornya mencapai lampu merah, Hoseok langsung berbelok ke kiri –berbalik jalur "H-hyungie! Arah rumahku belok sana!" pekik Taehyung bingung "Sikeuro! Na arattagu! Duduklah dengan tenang, aku ingin mampir ke suatu tempat."
Taehyung akhirnya hanya bisa diam sambil memanyunkan bibirnya lucu, sayang Hoseok tidak bisa melihatnya karena wajah Taehyung tertutup total oleh kaca hitam helm yang dikenakan anak itu.
.
Deru motor Hoseok melonggar dan akhirnya berhenti begitu saja. Taehyung segera turun dari sana dan melepas helm Hoseok yang bertengger dikepalanya sejak tadi "Hyungie, ini-.. hmphh! Pfftt.. hahahahaha.. haha.. h-hyungie~ hahaha.. rambut mu!" suara Taehyung benar-benar membuat gaduh parkiran sebuah cafe tempat mereka berhenti sekarang.
Hoseok yang nampak kesal ditertawai langsung merapikan rambut revennya kembali di balik pantulan kaca spion. Iya, iya, Hoseok tahu rambutnya sudah jungkir balik ke belakang. Tapi apakah anak itu tidak bisa untuk tidak mentertawakannya? Hoseok begini karena Taehyung tentu saja.
"Hh-hahaha.. t-tapi hyungie? Kenapa kita berhenti di sini?" Taehyung mendongak melihat papan nama cafe yang terpampang besar di atas kaca jendela mereka 'Wake Up Cafe'. Hoseok tak serta merta turun dari motornya, ia masih duduk bersandar di atas motornya menghadap Taehyung "Aku merasa lapar. Tapi jika aku pergi ke restoran dan makan di sana, apa kata eommaku jika aku tidak memakan masakannya karena kenyang?"
"Aku ingin makan sesuatu yang ringan dulu. Ayo masuk!" Hoseok berdiri dan menarik Taehyung masuk ke dalam cafe bernuansa vintage itu. Terasa sangat hangat di dalam, kayu jati yang berwarna hitam itu terlihat ramah menyambut kedatangan setiap pengunjung dengan sinar matahari yang menyinarinya. Serta lampu-lampu gantung berbentuk seperti lampion putih menggantung tak beraturan, namun tetap terlihat artistik menggantung di langit-langit cafe.
Taehyung berdecak kagum. Ini adalah cafe pertama yang memiliki kesan seperti restoran yang pernah Taehyung kunjungi "Tae? Taehyung?"
"A-ah? Waeyeo?"
"Kau mau pesan apa?" tawar Hoseok sedikit menunjuk pada seorang waiter yang berdiri di samping Taehyung "Hmm.. aku sama seperti hyungie saja.." cicit Taehyung. sebelumnya Hoseok sedikit kaget, tapi setelahnya ia menggedikkan bahu "Baiklah, 2 Coffe Latte dan 2 Tiramisu."
"Ne?! Ah chongsohamnida, tolong diganti Moccachino dengan krim kocok." bantah Taehyung kemudian "Jadi.. 1 Coffe Latte, 1 Moccachino dengan krim kocok dan 2 Tiramisu?" ulang waiter itu meyakinkan. Setelah mendapat anggukan dari keduanya, waiter itu pun pamit permisi.
"Tempat ini benar-benar daebak~" kagum Taehyung memangku dagu. Hoseok tertawa gemas "Jangan terlihat seperti kau pertama kali melihat arsitektur vintage seperti ini Tae.." ujarnya, Taehyung menggeleng cepat "Aniyeo~ maksudku. Ini adalah pertama kali aku tahu ada cafe yang memakai konsep vintage. Biasanya kan hanya restoran saja"
Hoseok tertawa sejenak. Syukurlah pemuda di depannya ini terlihat mulai berlaku seperti biasa padanya, itu membuat Hoseok menjadi nyaman. Sebelah tangan kanannya yang bebas merangkuh hangat telapak kiri halus Taehyung yang masih sibuk mengagumi arsitetktur cafe saat itu.
"Hyung.."
"Tae.. tetaplah bersikap seperti ini ne?"
Taehyung kembali terdiam di tempat. Ia tak berani menyuara sekarang, dan Hoseok mengutuk dirinya sendiri yang sudah membuat Taehyung kembali bersikap seperti itu "Aku tahu kau merasa tidak nyaman berada di sampingku setelah perjodohan hari itu.." Hoseok menghela napas sebentar "Aku tahu kau memikirkan apa jawaban ku nantinya tentang hal ini kan?"
"Permisi, pesanan Anda."
Waiter yang tadi melayani Hoseok dan Taehyung kembali dengan sebuah nampan berisi pesanan mereka berdua. Menaruh dua minuman berkafein itu berikut 2 potong Tiramisu dengan sopan, lalu pamit pergi.
Taehyung tersenyum dan bergumam terima kasih. Kini tatapannya kembali lagi pada telapak kirinya yang masih setia digenggam halus oleh Hoseok "Aku tidak mau hyungie juga memaksakan diri.." cicit Taehyung rendah "Aku tidak memaksakan diri Tae.. aku hanya ragu dengan kedua pilihanku, antara tidak atau iya."
Taehyung mengigit bibir bawahnya. Entah kenapa yang bisa ia pikirkan hanya kemungkinan buruknya saja "Maka jika kau bisa, tolong tunggu aku sampai saat itu tiba. Aku tidak akan melarangmu dekat dengan siapa pun selama itu berjalan. Kalau sampai saat itu aku masih belum bisa melihatmu, maka pergi dan bahagialah dengan yang lain."
Taehyung sontak menegakkan kepalanya "Hyung? Kau mengusirku menjauh, begitu?" mata Taehyung membulat kaget, Hoseok menggeleng sambil mengelus telapak kiri Taehyung yang mulai terasa bergetar "Tidak Taehyung, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kau terus menungguku padahal kau tahu jika aku tidak bisa mencintaimu. Jika saat itu terjadi, aku harap kau bisa menganggapku sebagai hyungmu saja."
Wajah Taehyung kembali menunduk, ia tak mengira Hoseok akan mengatakan ini "Geredeu.. kalau misalnya aku bisa mencintaimu.."
Taehyung menegakkan kepala lagi, melihat tepat diwajah Hoseok yang tersenyum simpul membuat hatinya berdesir nyaman "Kalau saat itu datang tapi kau sudah bersama orang lain dan mencintainya, maka jalani saja. Jangan lihat aku di belakangmu. Karena pada dasarnya, apapun yang kurasa sekarang hanya ingin kau bahagia."
Taehyung tersenyum getir, ia tarik tangan kirinya dari genggaman Hoseok, membuat pemuda Jung itu agak terlihat kaget "Jika dasarnya ingin membuatku bahagia, maka kebahagianku ada bersamamu setelah aku menerima perjodohan ini. Dan jika aku pergi bersama orang lain pada akhirnya, lalu apa gunanya cintaku selama 11 tahun ini?"
Ada segumpal kecil air yang menggenang di ujung mata Taehyung. Hati Hoseok berhenti berdetak, ini pertama kalinya ia menangis seperti ini selain jika salah satu bagian tubuhnya terluka.
Taehyung memalingkan wajah menyamping, menatap keramaian jalan dari kaca cafe. Hoseok berdiri dari duduknya, berpindah tempat ke samping Taehyung dan menarik anak itu ke dalam pelukannya, membiarkan kemeja seragamnya basah dengan air mata Taehyung, mengacuhkan segala pandangan heran dari pengunjung cafe lain.
"Jangan pikirkan apa-apa sekarang, pikirkan saja bagaimana kau menjalani hari-harimu dengan baik setiap harinya. Kau sudah memberikan jawabanmu, jadi kau sudah tidak memiliki keharusan untuk berpikir."
Ia elus rambut coklat Taehyung pelan, berusaha menenangkan Taehyung, bahwa semuanya baik-baik saja –setidaknya untuk saat ini.
"Biar perjodohan ini aku saja yang memikirkannya sendiri. Jadilah Taehyung yang ceria, jahil, cerewet, dan menggemaskan seperti yang kutahu. Buat aku mencintaimu, jika kau memang ingin aku bersamamu. Dan aku juga akan mencoba mencintaimu mulai sekarang."
Setelah itu, Hoseok sudah tak mendengar atau merasakan getaran tangis dari pemuda yang ada dipelukannya. Ia lepas pelukan mereka dan menatap wajah murung Taehyung "Sudahlah, kubilang jangan begini lagi. Sekarang tunjukkan padaku senyum bodohmu itu!"
"Hyung! H-hiks.."
"Hahaha! Mian.. berikan aku senyuman lebar~"
"H-hiks.. he-ehehe.."
"Cha~ begitu lebih baik." Hoseok tersenyum lebar sembari mengusak asal rambut Taehyung yang masih setia memasang senyum kotaknya "Sekarang makan dulu kue-mu. Aku ingin ke toilet sebentar." Taehyung mengangguk paham, lalu beralih menatap kue Tiramisu-nya dengan mata berbinar.
Hoseok tersenyum sendiri melihatnya, lalu beranjak pergi dari sana. Namun sebelum itu, Hoseok berhenti di depan meja counter untuk membayar pesanan mereka baru setelahnya pergi ke teilet.
.
.
Kediaman keluarga Jung 3.14 P.M
Yoongi menhentak-hentakkan kaki kecil saat pantatnya sudah menyentuh sofa empuk di ruang keluarga itu. Ia mulai kesal sekarang, bukan kesal kenapa-napa, hanya kesal karena khawatir. Ia teringat sedikit percakapannya dengan Kim Jonghyun yang merupakan 'partner-in-crime' anaknya itu –menurut Yoongi.
Flashback
"Apa Hoseok pergi denganmu? Kalian di mana sekarang?"
"A-aku ada di rumah. Ada apa Yoongi-ahjuma?"
"Apa Hoseok bersamamu?"
"Aniyeo.. kami berpisah di sekolah tadi.."
"Berpisah?"
"Ne, sebenarnya aku ingin menemaninya. Dia terlihat seperti sedang menunggu sesuatu, tapi dia malah mengusirku pulang lebih dulu."
"Jinja? Baiklah kalau begitu."
"Memangnya ada apa ahjuma?"
"Ani.. eobseo. Gomawo Jonghyun-ah."
Flashback off
Yoongi bukannya hapal dengan kelakuan anaknya yang keluyuran dulu sebelum pulang ke rumah. Ia sangat maklum, karena Hoseok itu namja -sama sepertinya saat muda dulu. Tapi mengingat apa yang terjadi kemarin benar-benar membuatnya agak khawatir.
Setelah perjodohan itu, Hoseok terlihat diam padanya dan Jimin. Ia hanya takut saja anak itu nekat kabur dari rumah karena ini bahkan sudah mulai malam. Ditambah lagi anak itu sama sekali tidak mengabari apapun, setidaknya kirim pesan di mana ia akan mampir atau menginap seperti biasanya saat ia lebih betah bermalam di markas club dancenya.
'Astaga kemana anak itu?' batinnya gelisah
Drrtt.. Drrtttt...
Yoongi menegakkan badan saat merasa getaran ponselnya yang ia taruh di sampingnya terasa sekali. Ia raih ponsel berwarna putih itu dan melihat nama kontak yang tertera di layar datarnya 'Seokjin-hyung'. Cepat-cepat ia mengangkat telpon itu "Ne? Waeyeo hyung?" Yoongi mendengar helaan nafas lega di seberang sana.
"Yoongi-ya, apa Taehyung ada di sana?" tanya Seokjin, Yoongi mengernyit bingung lalu melirik kearah jam dinding "Taehyung? Eobseo." untuk beberapa detik, Yoongi tidak mendengar apapun dari seberang sana "Eobseo? Geuramyeon, Hoseok odiya? Aku ingin bicara dengannya."
Kekhawatiran Yoongi semakin menjadi 'Oh astaga, apa dia kabur dengan membawa Taehyung?' batinnya lagi "H-Hoseok tidak di sini. Aku bahkan mencarinya juga. Dia tidak pulang sedari tadi" jawab Yoongi berusaha tak terdengar panik "Omo, kemana mereka berdua pergi? Aku diberitahu teman Taehyung jika hari ini Hoseok yang akan mengantarnya pulang.."
Terdengar jelas sekali nada panik Seokjin dari seberang sana. Uh.. rasanya Yoongi ingin sekali menelpon Jimin, tapi pria itu pasti sedang lembur dan tidak dapat dihubungi "M-mungkin mereka pergi ke suatu tempat, hyung" balas Yoongi menenangkan yang berada di seberang telepon "Eo kuharap begitu. Aku percaya pada Hoseok."
Setelah semua mulai tenang, Seokjin mmutuskan panggilan mereka bersamaan dengan Yoongi yang mengehempaskan diri ke sofa setelah mendengar jika Taehyung dan Hoseok sudah sampai di rumah Seokjin dengan selamat.
Tinggal menunggu anak menjengkelkan itu pulang saja –pikirnya.
.
.
Hoseok melihat pantulan dirinya sendiri di hadapan cermin toilet. Terlihat kacau –ya. "Kenapa aku mengatakan itu? Rasanya aku seperti memberi harapan palsu padanya jika begini. Aku bahkan ragu dengan perasaanku sekarang, tapi dengan lancangnya aku mengatakan dua hal yang bahkan tidak mungkin bisa kujalani. Melihat Taehyung dengan orang lain?"
Hoseok jadi sibuk bermonolog, sesekali tertawa meremahkan dirinya sendiri "Neo." ia menatap remeh pantulan dirinya di cermin dengan seulas senyum sinis "Kau sebut dirimu sebagai lelaki? bahkan mengartikan perasaanmu saja plin-plan begini." lalu tertawa pelan.
Ia usak rambutnya sendiri, lalu menepuk-nepuk pelan alamameternya yang terkena cipratan air wastafel. Kakinya melangkah keluar dari toilet setelah mengatur mimik wajahnya sebaik mungkin untuk menghadapi Taehyung lagi.
Namun langkahnya berhenti begitu saja, sekitar 7 meter dari mejanya dan Taehyung. Di sana ia melihat Taehyung tak lagi sendiri, tapi bersama orang lain. Orang yang Hoseok benci tujuh turunan –katanya, si keparat itu yang duduk dengan santainya berbicara dengan Taehyung seakan mereka sudah saling kenal sangat lama.
–Oh Sehun.
Astaga si keparat itu kenapa bisa ada di sini juga? Hoseok melangkahkan kakinya lebar-lebar ditemani emosi menuju mejanya dan Taehyung di sana "Taehyung-ah, kau ini theperti anak kecil ne?" ucap Sehun gemas "Ne? Waeyeo?" tanya Taehyung polos dan terus memakan Tiramisu-nya yang ternyata belum habis juga "Krim Mocca-mu belepotan tahu.." Sehun agak sedikit mencondongkan badannya dan mengulur tangan guna menghapus jejak krim Moccachino di sudut bibir Taehhyung.
PLAK!.
Tiba-tiba tangannya ditepis kasar oleh seseorang yang menatapnya tak suka –Hoseok "Yak.. Neo mwoya?!" komentar Sehun tak terima. Hey, punggung tangannya perih Bung "Ahh.. aku tidak sengaja memukul tanganmu. Kupikir tanganmu adalah lalat hijau yang ingin mengusik Taehyung"
"Mwo?!" Sehun mengernyit heran dengan jawaban bodoh Hoseok.
Sehun berdiri tegak menantang, Hoseok masih setia menatap sinis padanya "Dan apa yang kau lakukan? Meninggalkan Taehyung thendiri begini" Hoseok tertawa miring "Diamlah cadel. Taehyung, habiskan makananmu lalu kita pergi. Aku sudah tidak selera." ujar Hoseok dengan penekanan pada kata 'selera' –hanya ingin meledek Sehun dengan aksen cadelnya, dan juga menunjukkan jika ia sudah tak ingin di sini karena si-keparat-Sehun ini.
Taehyung tetap diam tak bersuara. Taehyung tahu Sehun itu satu hobi dan satu club dance dengan Hoseok-hyungienya, tapi ia tak tahu jika Hoseok dan Sehun itu 'bermasalah' "Dasar muka kuda!" balas Sehun meledek.
"Albino."
"Dahi lebar."
"Mianhaeyeo, tapi dahi lebarku ini sangat sexy dimata semua orang, Tuan badan lidi."
"Setidaknya aku lebih tinggi darimu pendek!"
"Ah geurae? Tapi kudengar jika yang tinggi maka tubuhnya kurus tak ber-body."
"Heh, kau pikir tubuhmu altletis?"
"Apa kau pernah memperlihatkan ABS-mu?"
"Dangyonhaji!"
"Tapi tak semenarik milikku~ bokong rata!"
"Mwoya?!"
"CUKUP!"
Hoseok dan Sehun menoleh pada Taehyung yang sudah berdiri dengan geram menatap mereka berdua "Kalian tidak tahu malu apa? Ini tempat umum! Tapi kalian berkelahi di sini, jika ingin berkelahi di luar sana! JINJA MICHINDE! Hoseok-hyung! Kau ingin kita pulang kan? Kalau begitu ayo!"
Taehyung berjalan cepat sambil menyeret Hoseok menjauh setelah menyabet tas miliknya dan milik Hoseok. Sedangkan Hoseok sendiri lebih terlihat tak percaya jika –Taehyung-nya-yang-manis bisa semengerikan ini "Urusan kita belum selesai Oh-sialan-Sehun!" sungut Hoseok "Kau pikir aku takut EOH?!" tantang Sehun balik "Sudahlah Hyungie!" sahut Taehyung lagi.
.
Sepanjang Jalan hanya ada keheningan belaka. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Hoseok berpikir tentang perbuatannya tadi. Untuk apa ia tidak suka Taehyung dekat dengan Sehun? Apa Ia mencintai Taehyung? Ah tidak, Hoseok menggelengkan kepala. Ia yakin jika yang barusan ia lakukan hanya berlandas tak suka.
Hey, Sehun itu sudah seperti musuh tujuh turunannya. Jadi Hoseok berani beralibi jika ia hanya tak suka Taehyung dekat dengan orang yang tak ia suka. Hoseok tidak ingin siapapun dekat dengan musuhnya, apalagi Taehyung. Ia tidak mau jika nantinya bisa saja Sehun menghasut Taehyung macam-macam.
Taehyung-itu-masih-polos –menurutnya..
Dan sepanjang yang Hoseok tahu, Sehun itu licik –setahunya.
Lain lagi dengan Taehyung. Ia sudah tak berani bicara. Uh malunya saat mengingat ia sempat berceloteh hingga berteriak di tempat umum seperti tadi. Tapi untuk kali ini ia menyalahkan hal itu pada Hoseok sepenuhnya. Siapa suruh berkelahi seperti dua bocah playgroup di hadapan umum.
Tapi Taehyung masih agak bersyukur karena mereka hanya bertengkar lewat adu mulut dan saling meledek satu sama lain. Bukan baku hantam seperti orang kebanyakan, akan bicara apa nanti jika ia ditanyai Yoongi-eomma? Tapi hal lain yang Taehyung pikirkan adalah..
Kenapa Hoseok terlihat tak suka Sehun mendekatinya?
Sibuk dengan pikiran masing-masing sampai membuat mereka tak sadar jika motor yang mereka naiki sudah berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah "Taehyung, k-kita sudah sampai." cicit Hoseok.
Taehyung segera turun dan melepaskan helm Hoseok "Hyung.. maaf tadi sempat membentak mu.." cicit Taehyung, Hoseok menggeleng pelan lalu berjalan menekan bel yang terdapat di samping pagar rumah Taehyung "Aku tahu yang tadi itu memalukan. Makanya kau membentakku. Tidak apa-apa, aku malah senang kau kembali cerewat lagi." Hoseok tertawa setelahnya, membuat Taehyung mau tak mau ikut tersenyum lebar.
"Taehyungie! Hoseok-ah!"
Terdengar panggilan dari teras rumah. Itu Seokjin dengan ponsel yang masih melekat ditelinga. Ia berlari cepat membuka pintu pagar dan memeluk anak sulungnya "Syukurlah kau sudah pulang!" ucap Seokjin terdengar sangat lega "Memang ada apa eomma? Apa terjadi sesuatu?" Seokjin melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi mulus putra sulungnya "Tidak, eomma hanya khawatir kenapa putra eomma belum pulang selarut ini."
Taehyung mendengus sebal "Eomma jom~ aku sudah 16 tahun! Dan aku ini namja, bukankah wajar seorang namja pulang larut?" Seokjin tertawa renyah kemudian "Seokjin-eomma, jeongmal chongsohamnida. Aku tidak bermaksud membawa Taehyung selarut ini." Seokjin memutar arah tubuhnya menghadap Hoseok yang membungkuk meminta maaf.
Telapak tangan halus Seokjin mengelus rambut reven Hoseok perlahan, memberitahu jika semuanya baik-baik saja "Gwaenchana Hoseok-ah.. aku sudah tahu Taehyung akan pulang denganmu. Aku sangat senang karena aku percaya padamu. Dan ini pertama kalinya kau mengantar Taehyung pulang ke rumah."
Seokjin menggenggam kedua lengan Hoseok, menuntunnya untuk berdiri tegak "Aku hanya khawatir kenapa kalian belum pulang selarut ini, apa kalian baik-baik di jalan atau ada sesuatu yang terjadi di perjalanan, itu saja."
Hoseok tersenyum lebar menatap Seokjin yang tetap berlaku selayaknya ibu kandnugnya. Namun seketika wajah Seokjin membuat kedua remaja itu mengernyit heran "Omo! Yoongi!" cepat-cepat Seokjin kembali menempelkan ponselnya ke telinga dan mengabari Yoongi jika Hoseok dan Taehyung sudah sampai dengan selamat lalu memutuskan panggilan.
"Seokjin-eomma.. apa barusan itu eomma ku?"
"Eo. Ah! mau makan malam bersama? Memang belum siap, tapi pelayan kami memasak dengan sangat cepat!"
Taehyung mengangguk cepat "Geuchi! Kau bilang jika kau lapar tadi siang. Kenapa tidak sekalian makan malam dengan kami? Abojhi juga sebentar lagi akan pulang." tawar Taehyung ceria "Ah.. mian. Ini sudah terlalu larut, eomma pasti akan tambah mengamuk jika aku tidak pulang sekarang juga." jawab Hoseok panik dan langsung menaiki motornya.
Wajah Taehyung terlihat kembali murung, bibir plumnya mengerucut imut. Hoseok dan Seokjin sama-sama tertawa gemas "Lain kali mungkin, sayang~" bujuk Seokjin menenangkan rasa kecewa putranya. Hoseok mengangguk lalu mengusak rambut coklat Taehyung "Mian ne?"
Taehyung mengangguk lemas, masih cemberut ternyata. Hoseok tersenyum simpul dan turun kembali dari motornya.
Chup!
Mata Taehyung membulat lebar. Apa barusan itu? Hoseok mencium nya? Benarkah? Dibibir?
"Omo!" Seokjin menutup mulutnya rapat-rapat setelah melihat kejadian menakjubkan di hadapannya. Bagaimana pemuda 18 tahun itu mengecup putranya tepat dibibir di hadapan kedua mata kepalanya sendiri "Semoga mimpi indah princess~"
Setelah mengusak rambut Taehyung dan tertawa saat melihat wajah blank Taehyung, Hoseok berpamitan pada Seokjin untuk pulang.
.
.
Hoseok sampai di rumahnya secepat mungkin, dan kini sudah bersyukur bisa selamat hingga garasi rumahnya tanpa kejaran polisi lalu lintas. Hanya satu lagi yang tersisa –menghindari ibunya. Setelah memarkirkan motornya dengan benar di garasi, pemuda itu mengendap-endap lewat pintu belakang.
Namun nampaknya Tuhan bekata lain..
"Darimana kau?"
"WAH! EO-eomma.. a-aku.. k-ku-kukira Seokjin-seomma.."
"Eo, eo, eo.."
Yoongi berjalan mendekat pada Hoseok lalu menepuk pundak putranya sebelum mengambil tempat di sofa dan menonton Tv "Pergilah bersihkan dirimu, lalu makan dan setelah itu baru kau harus menceritakan padaku bagaimana ciuman pertama Taehyungie bisa kau rebut begitu saja~" godanya menahan tawa tanpa melirik Hoseok yang melotot gugup di belakangnya.
"Mwo?! Eo-eotteo..kae.. ah! A-aa.. abojhi! Abojhi ga odiseo?" Yoongi terkekeh pelan. Jelas sekali anak itu sedang berusaha keras menutupi kegugupannya "Aigoo~ anakku sudah benar-benar dewasa sekarang. Kenapa aku baru sadar ya?" kekehnya lagi.
"Aishh.. sudah sesore ini kenapa abojhi belum pulang?"
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan Tuan Muda. Turuti apa yang kusuruh padamu tadi sebelum aku memberitahu kelakuanmu pada abojhimu."
Yoongi melambai-lambaikan ponselnya ke atas –bentuk ancaman nyata bagi Hoseok. Ia lupa jika ibunya ini adalah tukang ancam, dan ia tak pernah mengingkari ancamannya satu pun. Dengan langkah lesu Hoseok menyeret kedua kakinya menuju kamar dan mengacuhkan kekehan gemas ibunya.
.
.
Dan di bagian distrik lain.
Keadaannya saat ini benar-benar mengerikan. Bayangkan saja, kamar dengan cat dinding dominan merah itu tak mendapat cahaya lain daripada sinar kecil dari lampu jalan di luar sana atau lampu teras tetangga di depan rumah.
Jendela balkon yang sengaja dibuka membuat tirai putihnya melambai terkena angin malam yang dingin.
Tapi Taehyung tidak perduli.
Atau tidak sadar?
Arah pandangnya memang kearah pintu kamarnya, tapi malah pikirannya berkelana kemana-mana. Entah kenapa, hari ini Taehyung menjadi sangat kalem –terlewat kalem malah.
Saat makan malam tadi, ia hanya mengunyah seadanya dengan tatapan kosong. Tidak melihat pandangan heran dari sang ayah, kekehan kecil ibunya, ataupun tatapan bingung menggemaskan milik Jungkook yang biasanya berhasil membuatnya berteriak gila karena gemas.
Bahkan ia tidak memperhatikan penampilannya sekarang. Duduk bersila di atas ranjang sambil memeluk bantal, kaus putihnya yang melorot hingga mempertontonkan kulit bahunya yang putih, juga paha dalam yang mengintip di balik boxer yang ia kenakan.
Ya Tuhan kirimkan Hoseok kemari, kumohon..
Bukan tanpa alasan Taehyung bisa berubah drastis seperti ini. dan kurasa kalian juga sudah sangat tahu apa penyebabnya, bukan?
Ya
Peristiwa tadi sore
Ciuman pertamanya..
Dibibir..
Dengan Hoseok..
Orang yang ia cinta selama ini?..
SERIUS?!
Oh Cupid! Jangan permainkan pemuda polos ini.
Ia meraba bibirnya sendiri, dan jantungnya kembali berdetak tak karuan. Ingin sekali sebenarnya ia memukul pipinya sendiri untuk meyakinkan jika ini adalah mimpi, namun hasilnya nihil. Ini tetaplah dunia nyata, dan kejadian sore tadi juga nyata adanya.
Lagipula pipinya pun sudah memerah sedari tadi ia tampar sendiri.
Krekk..
"HWAHH!"
Taehyung terbangun dari lamunannya, detak jantungnya makin terasa ingin melompat saat suara teriakan memekik kencang memasuki kamarnya. Ia berdiri dengan cepat dan melempar bantal yang tadi ia peluk asal-asalan.
Itu Jungkook –jika kau ingin tahu. Anak itu masih setia berdiri di ambang pintu kamar Taehyung sambil menutup mata, terlalu takut untuk berlari.
Taehyung mendengus kesal dan berkacak pinggang"Yak! Untuk apa kau berteriak sekencang itu?!" sungut Taehyung. Kedua telapak tangan Jungkook mulai beranjak turun, ia menilik dari celah jarinya pada si hyung yang berdiri angkuh, ia menghela napas sambil mengelus dada.
"Kau sendiri yang tidak waras! Memakai baju putih begitu di dalam kamar tanpa penerangan!" balas Jungkook sambil mencari saklar lampu yang kemudian menyilaukan kedua mata mereka selama beberapa detik "Aku tidak ingin mati sebelum menjadi ketua V.I.P seluruh dunia." sambungnya berjalan masuk ke kamar.
Taehyung menggeleng pasrah pada impian aneh adiknya itu 'Dasar fan fanatik' batinnya "Baiklah, sekarang apa yang kau incar dari kamarku?" Taehyung sudah tahu di luar kepala, jika Jungkook sudah menginjakkan kaki di kamarnya, pasti ada sesuatu yang ia incar dari sekian banyak barang miliknya.
Dan benar saja, senyuman berlesung pipit persis seperti milik sang ayah nampak jelas diwajah Jungkook "Hehehe.. hyungku yang baik~ Bolehkah aku meminjam rancangan arsitekturmu? Abojhi bilang rancanganmu lebih mudah dari miliknya."
Taehyung berjalan menjauh menuju lemari buku besar disalah satu sisi dinding kamarnya. Jangan menilai jika Taehyung adalah orang yang genius dengan buku bertumpuk itu. Taehyung adalah tipe orang yang mudah melupakan tentang pelajaran, jadi lemari besar itu hanya berisi buku-buku usang semasa SMP untuk ia baca kembali jika ia lupa tentang suatu pelajaran, atau juga beberapa ada buku bacaan ringan.
"Untuk apa?" Taehyung membungkuk pada rak urutan kedua, karena ia yakin meletakkan buku milimeternya disela-sela buku di rak itu "Untuk tugasku bulan depan. Tidak harus arsitektur juga sebenarnya, tapi aku hanya ingin membuat replikanya saja." Jungkook menggedikkan bahu.
"Memangnya kau paham?" ledek Taehyung saat memberikan buku berwarna biru itu pada Jungkook. Remaja yang belum genap 13 tahun itu menyabet asal buku milik Taehyung "Aku bisa! Hanya tidak bisa cara membuatnya saja.." cicit Jungkook di akhir. Taehyung tertawa agak keras "Lalu bagaimana kau membuat replikanya jika tidak tahu aturan membuatnya?"
"Lalu kenapa kau jatuh cinta jika kau tidak tahu kenapa kau jatuh cinta?"
Taehyung mengernyit bingung dan tersentak, Jungkook terlihat terkikik senang dengan kekalahan kakaknya itu.
"Kenapa arah bicaramu bisa kesana?"
"Akui saja kau uring-uringan begini karena Hoseok-hyung menciummu di depan rumah tadi sore."
"Y-yak! O-ottae.."
"Eomma.."
Si sulung berdecak kesal. Ibunya itu benar-benar, pasti sekarang ia sedang asyik-asyiknya melapor pada ayahnya tentang kejadian tadi sore. Ia ingin menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang. Tapi sial, kepalanya malah terantuk kepala ranjang.
"Akh!"
"Hahahaha.. lihat dirimu! Hanya hal begini kau sampai tak fokus!"
Taehyung mendengus menatap Jungkook yang tertawa meledek kearahnya, bukannya prihatin atau apa, ia malah terlihat yang paling bahagia "Tertawa saja semau-mu seperti kau adalah seorang ahli percintaan Kim Jungkook!" sungutnya. Jungkook berhenti tetawa dan tersenyum simpul kemudian.
Ia mengambil tempat di samping Taehyung di tepi ranjang, menepuk pundak kakaknya beberapa kali "Na aniya. Tapi yang kutahu hanya tentang hyungku yang bahagia ini akan mati kutu jika berada di sekitar Hoseok-hyung~" godanya lalu merangkul Taehyung.
Pipi Taehyung bersemu merah, ia mendorong-dorong Jungkook menjauh "Ije geunyang ka! kerjakan tugasmu itu!" usir Taehyung. Jungkook pun pura-pura terlihat takut, ia berlari menuju pintu namun berhenti sejenak saat akan menutupnya "Ppaliwa jaljayeo! Dan kau akan bertemu Hoseok-hyung dalam mimpi~" godanya sekali lagi.
"ANAK INI!" Jungkook langsung menutup rapat pintu dengan cepat saat Taehyung melempar bantal kearahnya.
Ia menjadi terlihat lebih gusar dari yang tadi. Ia menggerakkan tubuhnya asal di atas ranjang membuat ranjangnya terlihat sangat tak teratur seperti yang semula. Terlebih saat mengingat penyataan Hoseok beberapa jam lalu
"Buat aku mencintaimu, jika kau memang ingin aku bersamamu. Dan aku juga akan mencoba mencintaimu mulai sekarang."
"WAA!"
Taehyung semakin gencar menggulingkan diri ke kanan dan kiri, perasaannya semakin meluap-luap, bahkan wajahnya sudah tidak bisa lebih merah lagi dari ini.
Entah apa yanng akan terjadi besok, saat ia bertemu kembali dengan ekhem.. pangeran bermotor hijaunya. Mengingat Hoseok sendiri memintanya untuk bersikap seperti biasa –Taehyung yang cerewet dan menyebalkan namun menggemaskan.
Ah.. dia tidak mau tahu lagi. Lebih baik ia pergi tidur dan memutuskan jika besok lakukan saja apa yang harus dilakukan dan yang bisa ia lakukan sebaiknya.
.
.
.
TBC
Dan ya.. aku baru sadar kalau di chapter kemarin typonya 'agak' banyak sampai-sampai nama yang seharusnya dirubah menjadi 'Jonghyun' masih bertahan dengan 'Jihyun'. Maafkan aku..
Di chapter ini aku sudah berusaha untuk mengeditnya 'sebersih' mungkin. Tapi jika masih saja ada kesalahan fatal juga.. mohon dimengerti lagi? Karena manusia pun tak luput dari kesalahan bukan? *alibi kadaluarsa*
Sebagai akhir dari Author note ini, aku berharap kalian muncul ke permukaan wahai para siders *walaupun aku juga tidak yakin apa ff ini banyak yang membaca* karena untuk beberapa hal aku merindukan 2 orang readerku di sini.
