.
Tittle : 520
Author : Tinywings (dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh dikitlagisampe)
Pairing : HunHan (SehunxLuhan)
Length : Chaptered
Genre : Romance, Drama, Fluff.
Link aff : /story/view/201184/520-kai-luhan-sehun-sehan-hunhan-sekai-selu
(cantumkan aefef/dot/com di depan)
Disclaimer : Cerita ini sepenuhnya milik the-amazing-tinywings, dan saya hanya menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia dengan kata-kata sederhana.
.
Sehun tidak naik bus 520 selama seminggu, tepatnya setelah kejadian tersebut. Tiap kali Jongin memintanya untuk sekedar berkunjung, Sehun selalu mengatakan sibuk—atau alasan lainnya, yang jelas ia benar-benar tidak ingin naik bus menuju rumah Jongin. Satu-satunya alasan mengapa ia tidak ingin naik bus tersebut, tentu saja, karena Luhan-si-lelaki-misterius. Sehun tidak ingin melihat Luhan dan wajah sedih yang selalu bersarang disana. Ekspresi itu selalu membuatnya merasa tidak nyaman ; menggoyahkan sesuatu di dalam dirinya, namun entah apa. Barangkali simpati.
Namun tentu saja Sehun tidak bisa menghindari Luhan terus menerus—atau menghindar dari kejaran Jongin, lebih tepatnya. Rasanya konyol sekali apabila ia melakukan hal tersebut. Mungkin Sehun perlu dicap sebagai seorang pengecut. Jongin sendiri berkata bahwa ia dan Luhan tidak pernah berbicara lagi (percakapan mereka hanya sekedar 'halo' dan selalu berakhir kurang dari tiga detik). Temannya itu menyalahkan Sehun. Mungkin memang benar, Sehun lah penyebab kecanggungan antara mereka berdua, dan ia benar-benar menyesal.
Maka Sehun akhirnya berjalan ke halte, cemas menunggu kedatangan bus 520. Sebenarnya Sehun tidak yakin apakah yang dilakukannya ini adalah sebuah tindakan yang benar. Sebelumnya ia merasa sudah mencampuri urusan Luhan terlalu banyak, dan akan terasa semakin aneh apabila ia terus-terusan mengganggu hidup lelaki misterius itu.
Ketika melihat bus tersebut mendekat, Sehun menghela napas dalam dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah ia naik dan menggesek kartu transportasinya secara perlahan—amat perlahan, matanya menjurus ke segala arah dan terkejut mendapati bus yang tiga perempat kosong. Tiga perempat kosong dan...
Tidak ada Luhan.
Ini adalah kali pertama bagi Sehun naik bus 520 tanpa ada Luhan yang duduk di pojok belakang. Ia takut tiap kali melihat Luhan yang selalu ada disana, namun rasa takutnya bertambah menyadari bahwa Luhan tidak naik bus tersebut hari ini.
Tapi mendadak ia tersadar ketika sebuah opini bersarang otaknya. Opini yang barangkali agak mustahil, melihat betapa tinggi kadar intensitas lelaki itu naik bus ini, namun tetap saja mungkin. Luhan, diatas segalanya, tetaplah seorang manusia.
Dan manusia, sebagaimana adanya, memiliki kehidupan yang harus ia hidupi. Kenyataan tersebut mungkin teramat konyol bagi Sehun, namun apabila dilihat lebih jauh ; bagaimana Luhan telah naik bus ini selama lebih dari dua bulan tanpa absen sekalipun, membuahkan kenyataan bahwa Luhan juga bisa sibuk dengan urusannya yang—barangkali—menumpuk.
Sehun berjalan terseok-seok menuju ke kursi belakang. Ia sempat ragu, namun pada akhirnya memantapkan diri untuk duduk di kursi yang biasa Luhan tempati.
Kursi itu sudah ditempati.
Meskipun otaknya terus-menerus berteriak agar dirinya berhenti terlalu mencampuri urusan orang lain, namun ada bagian lain dari dirinya yang merasa tidak bisa menahan diri. Sehun terlalu penasaran terhadap Luhan.
Aku sedang menunggu Joonmyun.
Sehun menghela napas, mungkin saja ia yang terlalu paranoid—membayangkan hal yang tidak-tidak ketika ia duduk di kursi berhantu. Sejujurnya, otak horornya sudah membayangkan ada kabut hitam gelap yang menghalangi pandangannya, hawa aneh mencekam yang tiba-tiba menyeruak, atau suara gelap yang tiba-tiba berbisik ke telinganya. Barangkali Sehun memang tolol, namun hal tersebut selalu muncul di benaknya—barangkali efek terlalu sering menikmati film horor.
Mata Sehun melihat kearah luar jendela, berusaha menikmati pemandangan yang menurutnya membosankan karena sudah ia saksikan berkali-kali. Jadi beginilah cara Luhan menghabiskan waktunya, batin Sehun sembari menoleh kembali ke depan. Tidak ada apapun yang menarik, Sehun sendiri tidak tahu kenapa Luhan duduk disitu sepanjang waktu.
Tapi—secara tidak sengaja—mata Sehun menatap berbagai macam seni yang ada di belakang kursi depannya (yang itu artinya di depan Sehun persis). Astaga, mengapa ia tak menyadari hal ini sebelumnya? Terdapat bermacam-macam coretan, tulisan tangan yang amburadul banyaknya, gambar tak layak (khas anak balita), lalu matanya melihat sebuah tulisan, hanya berisi satu kalimat yang entah mengapa membuatnya merasa aneh.
Tunggu aku.
—J
Kedua alis Sehun terangkat, berusaha mencerna apa makna dibaliknya. Mungkin saja pesan itu ditujukan untuk siswi sekolah menengah yang sedang jatuh cinta—teman Sehun pernah melakukan hal ini sebelumnya. Namun entah mengapa Sehun merasa yakin bahwa pesan tersebut memang untuk Luhan.
"Luhan-ssi, kau turun dimana?"
"Entahlah. Aku hanya menunggu."
Sehun mengamati tulisan tersebut, yangmana terlihat agak terburu-buru dan tidak rapi sama sekali. Begitu berbeda dengan tulisan lainnya yang terlihat begitu indah dan menarik. Ditambah oleh tulisan 'J', yang membuat otaknya terus menerus berspekulasi lebih jauh.
Tiba-tiba Sehun menyadari bahwa segalanya begitu cocok dengan apa yang telah Luhan ceritakan. Semuanya masuk akal—barangkali tidak juga, pikiran Sehun lainnya langsung bersuara. Agak terlalu irasional, bagaimana bisa seseorang menunggu sekian lama hanya untuk sebuah kalimat, yang terdiri dari dua kata, dan bahkan ditulis dengan buruk?
Jemarin Sehun meraba tulisan tersebut, sebelum akhirnya menyerah dan memejamkan matanya. Terlalu banyak pikiran yang bersarang di benaknya, dan entah mengapa, tidak ada satupun yang masuk akal.
-oOo-
"Sehun-ah!"
Jongin berteriak ketika Sehun tidak mendengarkannya lagi. Hal tersebut membuat Jongin jengkel bukan main. Sudah berkali-kali Sehun tidak memperhatikan apa yang sedang ia bicarakan. Benak lelaki itu sepertinya berada entah dimana.
"E-eh? Apa?" Sehun tergagap pelan sementara matanya melebar terkejut mendengar teriakan Jongin.
"Kau tidak mendengarkanku, ya!?"
"Memang tidak." Jawab Sehun jujur—agak terlalu jujur, sementara wajahnya membuat ekspresi sepolos dan semanis mungkin.
"Kau benar-benar..." tatapan tajam Jongin yang penuh dengan kemarahan tepat terarah pada Sehun. "Bagaimana bisa kau tidak mendengarkanku ketika aku sedang membahas sebuah topik yang penting!?"
Sehun memutar bola matanya mendengar kata-kata Jongin yang terlalu kekanak-kanakan. "Entahlah, aku tidak yakin kau membicarakan sesuatu yang penting."
Sejujurnya, pikiran Sehun sedang berkeliaraan kemana-mana. Ia sedang memikirkan sebuah teori yang cocok tentang Luhan dan berhubungan dengan tulisan di bus tadi. Mungkin keingintahuannya memang sudah kelewat batas. Sehun sendiri ingin menghentikan hal ini, namun rasanya tidak bisa karena rasa penasarannya jauh lebih besar.
"Asal kau tahu, seandainya nanti aku mendapatkan sahabat baru dan mengabaikanmu seperti sampah, jangan pernah kembali dan memohon untuk menjadikanmu sahabat lagi, karena aku tak sudi."
Sehun menatap sepasang mata Jongin yang berusaha keras dibuat sendu, namun tentu saja tidak berhasil. Dan Sehun memutuskan untuk tidak menganggap Jongin serius. Seumur hidupnya, lelaki itu tak pernah serius kecuali dalam urusan menari.
"Jangan lupa beritahu aku apabila kau sudah bertemu dengan seseorang yang mau menderita karena menjadi sahabatmu. Aku sangat bahagia dia mau menggantikan posisiku sekarang."
"YAK! OH SEHUN! Apa—"
"Jongin-ah," sela Sehun, suaranya berubah serius. "Apakah kau bertemu dengan si lelaki misterius hari ini?"
"Lelaki misterius sia—Ah, Luhan." Jongin mengedipkan matanya beberapa kali. "Setelah kuingat-ingat, aku baru sadar kalau hari ini aku tidak bertemu dengannya di bus."
Sehun termenung. Bahkan saksi mata utama—dalam kasus ini yaitu Jongin—saja tidak bertemu dengan Sehun. Hal tersebut membuatnya bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah kemarin dia naik bus?"
"Mana kutahu, kemarin aku berada di rumahmu, bodoh."
Benar juga. Sehun kembali membuat kesimpulan—yang sama seperti dugaannya tadi. Luhan tidak naik bus hari ini, mungkin kemarin, atau lebih tepatnya entah sejak kapan.
"Bukankah seharusnya kau merasa senang tidak satu bus lagi dengan Luhan?" tanya Jongin sembari menatap Sehun bingung.
"Ya, kupikir juga begitu. Tapi aku terlalu curiga."
"Apa? Curiga?" mata Jongin melebar. "Maksudmu mencurigakan yang bagaimana? Luhan diculik, begitu? Atau bagaimana?"
Perlahan, Sehun menundukkan kepala. Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu mengapa otak dan seluruh tubuhnya berkonspirasi membentuk suatu rasa penasaran tersebut. Mungkin mengurusi Luhan adalah sebuah tindakan yang bodoh. Namun sulit memungkiri, sekarang hidupnya tidak terlalu damai lagi sejak kali pertama melihat Luhan di bus. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal, namun Sehun sendiri tidak tahu apa.
"Aku hanya penasaran."
"Sehun, kupikir dia tidak butuh rasa penasaranmu."
Aku sedang menunggu Joonmyun.
Meskipun Sehun merasa dibodohi, namun entah mengapa, ia benar-benar penasaran. Ada sesuatu yang membuatnya ingin mencari tahu dan menemukan.
"Ah," tiba-tiba Sehun teringat sesuatu, "kau tahu seseorang bernama Joonmyun? Barangkali...dia beberapa kali naik bus yang sama dengan kita."
Sehun mungkin memang perlu mencoba. Tidak ada salahnya, bukan? Mungkin saja, sangat mungkin, Jongin tahu dan kenal dengan Joonmyun. Hal tersebut akan membuat hidupnya jauh lebih mudah dan beban di otaknya sedikit berkurang. Sehun cukup yakin orang bernama Joonmyun adalah kunci jawaban dari semua pertanyaan yang ada.
"J-Joonmyun? Maksudmu Kim Joonmyun?"
"Entahlah, aku tidak tahu marganya. Tapi mungkin saja."
Jongin mengerutkan keningnya, terlihat berpikir keras sebelum akhirnya mengangguk penuh kepastian kearah Sehun. "Kalau kau mencari seorang Joonmyun, aku hanya tahu Kim Joonmyun. Rumahnya dekat dari sini."
Entah mengapa Sehun merasa semangatnya terbakar membara setelah mendengar kalimat tersebut. Mungkin kadang-kadang Jongin memang berguna. Kadang-kadang.
"Walaupun sejujurnya aku tidak pernah melihat Joonmyun lagi selama beberapa bulan terakhir," lanjut Jongin, melemparkan sebuah tatapan aku-tidak-mengerti-dengan-jalan-pikiranmu. "Darimana kau tahu Joonmyun?"
"Luhan memberitahuku. Dia bilang sedang menunggu Joonmyun."
Kilatan terkejut nampak di wajah Jongin. "Dia—apa katamu?"
"Dia bilang bahwa dirinya sedang menunggu Joonmyun."
"Dan kau ingin ke rumahnya sendirian?" tanya Jongin dengan alis bertaut. Ia menghela napas pelan melihat anggukan kepala penuh percaya diri yang diberikan oleh Sehun.
"Kalau begitu ayo."
"Apa?" Sehun tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kau...membantuku?"
"Bisa saja dia berbahaya. Dan apabila itu benar-benar terjadi, kau pasti tidak bisa melindungi dirimu sendiri."
Mata Sehun menyipit membentuk sebuah garis lurus, "Kau merendahkanku."
Jongin tertawa keras. "Aku memang selalu merendahkanmu, dan sayang sekali, sampai saat ini, aku selalu benar."
"Lupakan—ayo cepat!" teriak Sehun jengkel.
-oOo-
"Kau yakin ini rumahnya? Atau mungkin ini rumah salah satu pembunuh bayaran?" tanya Sehun ketika mereka berada di depan sebuah rumah yang—kata Jongin—adalah rumah Joonmyun. Sebagaimana biasanya, Sehun tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh Jongin.
"Lihat saja ukiran namanya, tolol." Ujar Jongin sembari menunjuk sebuah tulisan yang terukir diatas kayu dan tertempel di dinding, tepat disamping pintu masuk.
Kim Joonmyun.
"Kalau begitu kau yang memencet belnya, anak pintar."
"Apa? Tidak, kau saja."
"Kau saja," perintah Sehun.
"Heh, kau yang penasaran, jadi tentu saja kau yang harus menekan belnya!"
Jongin memaki lalu mendorong Sehun ke depan pintu. Tiba-tiba Sehun merasa panik dan bingung atas rencananya sendiri. Apa yang harus ia katakan ketika Joonmyun membuka pintu? Apa yang harus ia lakukan? Sehun bahkan tidak memikirkan sejauh ini. Namun akhirnya setelah memantapkan diri, ia menekan bel yang tergantung di pinggir pintu.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Penasaran—sekaligus cemas menyelimuti Sehun sembari menunggu langkah kaki dari dalam pintu, menunggu pintu terbuka, atau lebih tepatnya, menunggu bertemu dengan Joonmyun. Sehun menunggu.
Namun tidak terjadi apapun.
Ia menekan bel tersebut, sekali-dua kali. Perasaan tak nyaman mulai menggerogoti secara perlahan-lahan. "Tidak ada orang."
"Mungkin dia sedang pergi," ujar Jongin, berusaha mengintip ke dalam rumah. Namun gorden yang menutupi seluruh jendela membuatnya sadar bahwa usaha yang dilakukannya sia-sia.
"Benarkah?"
Sehun merasa tidak nyaman. Kemungkinan bahwa lelaki bernama Joonmyun sedang pergi membuatnya terganggu. Sepertinya tidak, atau mungkin seharusnya tidak. Pasti ada hal lain yang menyebabkan rumah ini kosong. Mata Sehun terpaku pada besi berukir kecil yang terletak di bawah nama 'Kim Joonmyun'.
Rumah ini...
Bernomor 520.
-oOo-
Perlahan, Sehun berjalan ke belakang bus. Ia memutuskan untuk pulang setelah kembali dari rumah kosong tersebut. Otaknya benar-benar membutuhkan waktu untuk berpikir. Memikirkan banyak sekali hal. Dan sama seperti tadi siang, Sehun kembali duduk di kursi kosong dimana Luhan biasa duduk. Matanya kembali terpaku melihat coretan di depannya.
520.
Menunggu.
Sehun menghela napas, kedengaran begitu frustasi. Ia tidak memiliki satupun alasan yang masuk akal tentang Luhan dan Joonmyun. Matanya kembali menelusuri tulisan amburadul Joonmyun yang baginya tampak begitu penting dan krusial.
"Aku tidak pernah melihat Joonmyun lagi selama beberapa bulan terakhir."
"Ya, aku sedang menunggu. Sebuah penantian tak berujung."
Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Mungkin apa yang ia pikirkan dapat membuat beberapa hal menjadi lebih rumit lagi, namun ia sendiri tidak tahu apakah yang ia pikirkan ini memang benar atau salah. Lagipula ini hanya ide sederhana—ia hanya bisa berharap semoga otak rata-ratanya ini tidak mempersulit Luhan ataupun dirinya.
Dan sebelah tangan Sehun sudah bergerilya mencari spidol di dalam tas.
Sehun terlihat ragu untuk sejenak, sebelum memantapkan diri dan menulis kalimat pendek yang sengaja ia buat berantakan dan amburadul tepat dibawah pesan sebelumnya.
Aku disini.
Ia melihat hasil karyanya sendiri dan tiba-tiba merasakan rasa takut dan khawatir tentang apa yang akan ia sebabkan karena ide gilanya ini. Tapi tidak bisa dipungkiri, Sehun menginginkan jawaban. Dan satu-satunya jawaban yang bisa ia dapatkan hanyalah dengan cara ini.
To
Be
Continued
Chapter 2 sudah apdet!
Kalian dapet salam dari tinywings hahahaha ::3
Oh ya, emang nggak semua saya terjemahin dengan benar sebenar-benarnya. Saya pingin bikin pembaca merasa nyaman, dan itu berarti harus saya ilangin beberapa kalimat yang agak aneh di indo-in. Semoga kalian ngerti.
Terimakasih :3
