--
Tetsuya mengerjapkan matanya beberapa kali. Mata biru langit itu menatap hampa kamar feminim yang cukup mewah. "Wah... wah... Kau sudah sadar gadis kecil ?" Tetsuya membelalakkan matanya. Bagaimana bisa dia...
Mengetahui rahasianya ? Perempuan yang menggunakan jas putih itu terkikik kecil. "Aku ini dokter, sayang. Tentu saja mudah menyadari lapisan kulit palsu yang melindungi kulit salju mu. Aku benar-benar tak menyangka bahwa kau kuat membawa kulit palsu yang berisi beban seberat 30 kg dengan berat mu itu." Belum sempat Kuroko bertanya, perempuan itu menyuruhnya mengganti baju.
Di kasur yang dia tiduri tadi disiapkan kaos tebal lengan panjang, rok yang panjangnya selutut, dan satu set pakaian dalam. Tetsuya menatap datar satu permasalahan di sini. Diangkatnya 'itu' dan dengan polosnya bertanya, "Bagaimana cara menggunakan bra ?"
Dokter itu tertawa terbahak-bahak. "Kau tak pernah menggunakannya apa ?" Tetsuya hanya menggelengkan kepalanya polos.
"Sejak lahir aku dibesarkan sebagai laki-laki oleh Ayah. Sebab Ibu tidak mau mengurusku. Biasanya aku membebat dadaku." Dokter itu menepuk kepalanya keras lalu melihat dada Tetsuya yang sedikit flat.
"Jadi... kaitkan dulu di depan lalu kau putar hingga kait itu di belakang. Habis itu kau kenakan tali itu." Tetsuya hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Aku keluar dulu ya. Nanti akan kupanggil kau jika makan malam sudah dihidangkan." Tetsuya segera mengenakan pakaian tersebut. Dan dia bersyukur bahwa dokter tadi juga menyiapkan kaos dalaman. Mengingat rasanya tak nyaman jika tidak ada kaus itu. Dia segera keluar dan melihat bahwa dokter itu ada di depan pintu kamarnya.
Dokter itu segera mengajak Tetsuya ke sebuah meja makan yang sangat besar. Di meja tersebut ada dua pria yang duduk di sana. Salah satunya bisa Tetsuya kenali dengan mudah. Dia adalah...
"Okaa-san, kau lama sekali. Ke mana pria itu ?"
"Mako-chan, bertindaklah sopan. Dia ada di samping okaa-san. Dan dia bukanlah pria." Hanamiya Makoto menelusuri kembali lokasi di sebelah Ibunya lalu terbatuk keras ketika melihat Tetsuya dengan pakaian wanita.
"Mari kita makan dulu ya ! Makanan pembuka adalah sup wortel-tomat lalu makanan utama adalah kare, dan makanan penutup adalah puding vanila !"seru dokter itu. Dokter itu segera menarik kursi di sebelah pria yang ia asumsikan sebagai suaminya. Tetsuya terpaksa duduk di sebelah Hanamiya.
"Aku belum mengenalkan diriku ya ? Namaku Hanamiya Yuuko, seorang dokter umum. Pria di sampingku adalah suamiku, Hanamiya Teichi, psikiater. Pria di sampingmu anakku, Hanamiya Makoto." Tetsuya hanya mengangguk kecil.
"Namamu ?" Tetsuya hampir saja tersedak mendengar pertanyaan itu.
"Ku... Tetsuya,"ujar tipis Tetsuya. Teichi menatap lembut Tetsuya.
"Margamu, sayang ?" Tetsuya menggigit bibir bawahnya. Apakah dia masih pantas menyandang marga Kuroko ? Pantaskah ia setelah diusir dari kediamannya sendiri ?
"Jangan bilang kalau kau sudah tidak mempunyai marga karena sudah diusir ?"jawab Teichi. Tetsuya hanya mengangguk kecil. Sempat ingin menanyakan bagaimana bisa Teichi tahu hal itu walau akhirnya ia abaikan. Sekarang mereka beralih mengambil kare. Tetsuya hanya mengambil piring.
"Kau harus makan banyak. Terlebih setelah kau terkena hujan deras. Seorang pemain basket sepertimu harusnya makan lebih banyak bukan ?"ujar Yuuko. Tapi, Tetsuya menolak tambahan bagiannya.Rasa bingung kembali bertambah ketika Yuuko tahu bahwa dia bermain basket.
"Ini terlalu banyak,"lirih Tetsuya. Mereka menatapnya bingung. Porsi itu justru terlalu dikit !
"Selama ini apa yang biasa kau makan ?"tanya Teichi.
"Telur rebus, vanilla milkshake, dan sepotong sandwitch ?"jelas Tetsuya. Mereka semua hanya menggelengkan kepala mereka.
"Tunggu, kau ini perempuan kan ? Kenapa kau bisa bermain di pertandingan basket pria ?"tanya bingung Hanamiya. Tetsuya hanya menjawabnya datar.
"Aku berpakaian seperti pria. Lagi pula, Shirogane-kantoku sudah membuatkan surat izinku. Apakah keberadaanku mengganggu kalian ? Jika iya, aku akan pergi dari sini." Hanamiya segera menahan pergelangan tangan Tetsuya yang berusaha pergi dari sini.
"Kami tak keberatan. Sekarang sudah malam. Dan kau harus menjelaskan kenapa kau ingin bunuh diri tadi." Tetsuya hanya bisa menelan ludahnya.
"Aku diusir dari tim basket Seirin,"lirih tipis Tetsuya. Hanamiya hanya mengerutkan keningnya. Bagaimana hal sekecil itu bisa membuat sang bayangan sangat frustasi.
"Diusir karena kesalahpahaman yang diciptakan oleh adik kembarku ha... ha... ha..." Tawa yang dikeluarkan Tetsuya terdengar menyakitkan. Lama-kelamaan air menetes dari matanya.
"Dia yang selalu menang dan menjadi matahari selalu dengan mudahnya mengalahkanku. Dia bahkan berhasil menghasut semuanya untuk membenciku dan membuat perempuan yang kusebut okaa-san itu membuangku." Yuuko segera memeluk Tetsuya yang sudah sangat gemetar. Jiwa seorang ibunya bangkit mendengar cerita itu.
"Seharusnya aku tak pernah lahir. Seharusnya aku mati saja." Tetsuya terus mengulang kalimat itu. Mata biru langitnya perlahan menggelap seperti lautan. Beban yang dia terima sudah melampaui batas yang bisa dia terima.
"Tenang saja, Hime-chan. Kau berhak untuk hidup." Tangisan Tetsuya segera mereda mendengar panggilan yang diberikan oleh Teichi.
"Otou-san... Huahhhhhhh !" Teichi segera memeluk Tetsuya yang kembali menangis. Hanamiya menatap Tetsuya dengan penuh rindu sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke arah sebaliknya.
"Kau tahu ? Aku dan Yuuko awalnya juga diusir dari keluarga kami. Kami tak sengaja bertemu saat akan menyewa sebuah apartemen kecil yang dekat kampus. Untuk kehematan kami membagi kamar itu menjadi dua wilayah. Karena terbiasa, cinta tumbuh di antara kami. Uniknya, kami berdua sama-sama steril." Tetsuya menatap bingung Teichi setelah perkataannya itu.
"Huh, bukannya sudah jelas kenapa aku tidak mirip dengan mereka, baka~" Teichi membisikkan sebuah penawaran yang ia berikan untuk Tetsuya. Tetsuya segera terdiam membeku.
"Kau punya banyak waktu untuk memutuskannya. Jika kau sudah yakin dengan keputusanmu, kau bisa menemui kami di ruang kerja kami." Teichi dan Yuuko meninggalkan ruang makan itu bersamaan dengan Hanamiya. Meninggalkan Tetsuya sendiri dalam pikirannya.
》》》
Padahal ini sudah jam satu malam, tapi tak ada tanda kantuk di mata Tetsuya. Dia perlahan mengintari isi rumah itu. Dia melihat sosok bayangan di depan sebuah foto. Tetsuya segera berjalan ke samping bayangan itu dan menatap foto itu. Foto itu adalah foto Hanamiya yang berkisar 7 tahun dengan seorang perempuan berambut hitam dan bermanik biru langit yang masih 6 tahun.
Manik biru langit Tetsuya teralihkan ke perempuan tersebut. "Kirei,"gumam Tetsuya. Hanamiya yang berada di sampingnya hampir saja berteriak jika tidak ingat sekarang sudah lewat dari tengah malam.
"Apa yang kau lakukan di sini ?"tanya acuh Hanamiya.
"Tidak bisa tidur." Tetsuya masih asik melihat manik biru langit pada foto itu. Hanamiya berdeham kecil.
"Dia adalah adikku. Hime-chan. Kami berasal dari panti asuhan yang berbeda. Tetapi, kami menjadi saudara yang sangat dekat di keluarga ini." Hanamiya menatap lembut foto gadis kecil itu. Tetsuya tetap diam menunggu penjelasan Hanamiya.
"Dia sangat menyukai basketball. Dialah yang membuatku bermain basket. Dia benar-benar benci permainan yang kasar, tidak seperti ku." Tetsuya dalam hatinya mempertanyakan keberadaan gadis itu. Setidaknya, dia pasti seumuran dengannya bukan ?
"Dia telah tiada. Dia tertabrak truk saat ingin mengambil bolanya yang terlempar. Setidaknya dia masih lah hidup di hati kami dan hidup di dalam tubuh orang yang menerima donornya." Tetsuya memegangi matanya yang terus berkedut.
"Kenapa kau benci Kiyoshi-senpai ?"tanya Tetsuya. Hanamiya tertawa terbahak-bahak yang menyakitkan.
"Aku hanya bisa melihat sosok lelaki kecil yang sangat menyukai basket bermain dengan adiknya." Tetsuya hanya tersenyum tipis.
"Kau membencinya karena Kiyoshi-senpai serupa denganmu yang dulu, bukan ? Setidaknya kini aku tahu alasanmu melukainya hingga separah itu. Dan juga..." Manik biru langit Tetsuya menatap lembut Hanamiya.
"Apa yang kau ucapkan kepadaku saat pertandingan bukan kebohongan belaka menurutku." Jantung Hanamiya berdebar-debar. Dia yakin sekali, bahwa apa yang dia ucapkan waktu itu saat pertandingan sudah dia rahasiakan dengan mengejek lelaki—tidak perempuan di hadapannya.
"Kau tahu ? Aku merasa sangat bodoh saat pertandingan kita selesai. Padahal aku bisa melihat matamu yang sendu itu." Hanamiya mengepalkan tangannya erat.
"Aku benci dirimu... karena matamu sangat mirip adikku yang telah tiada. Entah mengapa sangat persis. Satu-satunya mata yang tak bisa kubohongi." Tetsuya tertawa kecil.
"Bagaimana kalau kukatakan bahwa mata ini bisa saja milik adikmu ?" Hanamiya membelalakkan matanya. Di tatapnya mata Tetsuya yang sangat jernih. Sama seperti mata adiknya. Mata polos yang semangat, walau sekarang ia bisa melihat semburat biru tua yang melambangkan kesedihan.
"Saat aku berumur 7 tahun, aku terkena 'kecelakaan' yang membuat manik hitamku menjadi abu-abu selamanya. Seseorang yang baik hati memberikanku mata ini. Aku bertanya kepada Ayahku siapa orangnya. Dia berkata bahwa hanya seorang 'Hime' yang pantas menjadi 'Hime'. Ironis ya ? Bahwa 'Hime-chan'mu menjadi mata Hime-chan."
"Kadang aku ingin berkata ke Ayahku bahwa Tetsuna lebih pantas mendapatkan panggilan 'Hime' daripadaku. Tapi... dia berkata bahwa aku lebih pantas. Melelahkan sungguh hidup menjadi 'Kuroko Tetsuya'. Sosok bayangan yang terlalu berharap bisa bersanding dengan cahaya." Air mata terus keluar dari mata biru langit itu. Hanamiya memeluk Tetsuya.
"Maaf aku tak bisa melihat kau menangis. Kau... terlalu mirip dengan Hime-chan. Aku tak ingin melihatnya menangis." Hanamiya membelalakkan matanya saat Tetsuya membisikkan sesuatu. Kini keputusannya sudahlah bulat.
》》》
Hanamiya mengantarkan Tetsuya ke kamar yang ditinggalinya. Setelah Hanamiya pergi, Tetsuya pergi ke ruang kerja Teichi dan Yuuko. Diketuknya pintu itu sebelum masuk. Baru saja dia bukan dia sudah menemukan bahwa mereka sudah menunggunya.
"Jadi... Tetsuya-chan, apa keputusan yang kau buat ?" Tetsuya menyunggingkan senyum tipis. Mata biru langit itu kini penuh dengan bara semangat baru. Seolah-olah tak ada yang bisa menghentikannya lagi.
Ya...
Tidak akan ada yang bisa menghentikannya...
Tak ada yang bisa menghentikan Hanamiya Hime yang baru saja terlahir.
--
Makasih buat para pembaca. Maaf jika terjadi ketypo-an.KeishuTsuki
