Pintu itu terbuka secara otomatis, menampilkan ranjang nyaman yang terdapat Luhan di atasnya. Bunyi pendeteksi detak jantung menyapa Sehun saat langkahnya semakin dekat ke arah ranjang Luhan. Ia menarik kursi dan menduduki dirinya tepat di samping Luhan. Memperhatikan bagaimana kabel-kabel itu melilit tubuh kecil Luhan bagai mumi.
Digenggamnya jemari tangan Luhan dengan erat, seakan seperti itu ia sudah menyalurkan semangat untuk Luhan. "Bangunlah... kau pasti bisa." Sehun mengatakan kalimat itu dengan susah payah. Seperti ada ribuan duri berada di tenggorakannya.
Dengan dorongan posesif ia mendekatkan bibirnya, mencium kening Luhan lama, menghirup wangi yang hampir dua minggu ini menghantuinya.
"Aku mencintaimu."
.
.
.
.
KimTammy17
.
.
.
.
Cinta Sang Pembunuh
.
.
.
.
Cast:
Oh Sehun
Luhan
Kim Jongin
Other
.
.
.
.
Genre:
Hurt/Angst
Tragedy
Romance
.
.
.
.
Yifan dan Baekhyun terdiam saat sosok jangkung berkulit pucat itu masuk ke ruangan Yifan. Mengentikan perbincangan mereka, Yifan langsung mempersilahkan Sehun –sosok yang baru masuk ke ruangannya, untuk menunggu sebentar.
Baekhyun sempat melirik Sehun dari ekor matanya, "Dokter Oh! Cepat kemari, kami sedang membicarakan perkembangan Luhan." Seru Baekhyun yang malah mengajaknya untuk bergabung dalam pembicaraan mereka sebelumnya. Membuat Yifan tak berkutik dan segera terduduk di kursi kerjanya.
Baekhyun sangat cerewet, kelewat ramah, dan tak memandang di teritorial mana ia berpijak. Jika seseorang melawannya, wanita mungil itu akan melontarkan rentetan kalimat yang tak akan ada jeda hingga isi kepalanya tersampaikan. Membuat lawannya mati bosan untuk menyerangnya balik. Rata-rata orang akan lebih memilih mengalah untuk Baekhyun. The power of woman's speech.
Sehun yang kikuk masih dengan wajah tenangnya memilih anjuran Baekhyun untuk bergabung dengan mereka. Alasanya tentu karena Luhan, tujuan ia kemari. Sehun terduduk di kursi yang telah tersediakan di samping Baekhyun. Wanita itu memperlihatkan senyum manisnya saat Sehun menuruti ajakannya.
"Luhan akan sadar tak akan lama, jangan takut. Aku, Byun Baekhyun yang menanganinya dan juga memantaunya. Dokter Oh hanya diam dan melihat hasil kerja timku." Terang Baekhyun bangga sedetik saat Sehun baru saja menempelkan bokongnya di kursi.
"Dokter Byun." Panggil Yifan yang sedaritadi masih belum membuka mulut. Membiarkan Baekhyun yang mengisi semua pembicaraan mereka. "Kau sepertinya paham akan senioritas disini." Lanjut Yifan.
Baekhyun memicingkan matanya saat bibir Yifan mengucapkan kata 'banmal' tanpa suara.
"Banmal?" tanya Baekhyun tak paham. Matanya beralih ke Sehun kembali. Mengapa ia harus berbicara dengan sopan dengan dokter yang terlihat lebih muda darinya ini?
"Dokter Oh hampir berkepala lima dan juga ia seniormu, Dokter Byun."
Tenggorokan Baekhyun seketika kering kerontang. Membuat aliran suarannya menjadi hilang terbawa terik panas saat mengetahui fakta lelaki yang terduduk di sampingnya ini
Kepala lima?
Mata sipitnya memadang Sehun yang masih terdiam dari potongan rambut hingga sepatunya. Kepala lima apanya? Lelaki ini masih bisa dibilang sekitar 25 tahunan. Berbeda dengan Dokter Wu yang terlihat lebih 'matang' dalam segi penampilan. Style Yifan cukup dibilang dewasa di umurnya yang bisa dibilang tidak terlalu muda lagi.
Tetapi, Baekhyun pernah memikirkan dokter pucat ini terlalu tampan di umur semuda yang sempat ia pikirkan. Tetapi pikirannya pecah mendengarkan kalimat Yifan barusan.
"Tidak masalah, lanjutkan saja seperti biasanya." Sahut Sehun masih enggan memandang Baekhyun dalam adegan terkejutnya saat Yifan membeberkan bagaimana tuanya seorang Oh Sehun.
"M-maafkan saya, Dokter Oh." Pinta Baekhyun pelan. Kalimat semangat berapinya terganti dengan kalimat pelan penuh dengan penyesalan. Ia terbilang cukup baru di rumah sakit ini. Bulan besok adalah satu tahunnya ia bekerja disini. Maafkan saja ia masih belum memahami dokter-dokter di sekitarnya. Baekhyun hanya menilai dokter itu senior atau tidak dari tampangnya saja. Jika masih muda dan segar, ia pastikan itu adalah dokter magang yang baru.
Dan Sehun sama sekali tidak menampilkan bahwa ia sudah berumur sebegitu tuanya! Tampang segarnya yang membuktikan Sehun semuda itu. Apa ia kelewat awet muda? Jangan-jangan dokter yang tengah ia tatap ini sesosok vampire seperti novel-novel yang pernah dibacanya?
Baekhyun mencoret opsi terakhir di kepalanya.
Dokter yang sempat Baekhyun kira vampire itu tak terlalu peduli akan dirinya, matanya hanya tertuju pada Yifan yang masih menahan tawa akan fakta yang baru saja ia beberkan.
"Berapa lama Luhan harus mendapatkan perawatan?" tembak Sehun langsung pada Yifan.
"Sekitar satu bulan, aku yang menanganinya." Suara wanita itu kembali berapi saat Sehun menanyai tentang Luhan. Baekhyun yang bernaluri sebagai ketua tim operasi Luhan sangat bersemangat saat bagaimana ia sangat berhasil membenahi hasil kerja Sehun yang berantakan.
Pandangan Sehun beralih ke Baekhyun lagi. Memandangnya datar menuggu jawaban lebih dari Baekhyun, namun wanita mungil itu malah salah mengartikan. Ia kira tatapan datar itu mengutarakan bagaimana tak sopannya ia saat Sehun bertanya pada Yifan dan malah ia menjawabnya tanpa dipersilahkan.
Baekhyun menunduk dengan bula kuduk yang meremang, ia meringis sebal betapa bodoh dirinya.
"Lanjutkan." Sahut Sehun bernada datar. Membuat Baekhyun menaikkan pandangannya dari rasa bersalahnya barusan. "Lanjutkan tentang Luhan." Sedetik setelah Sehun melanjutkan kalimatnya kembali. Binar di mata Baekhyun kini terlihat kembali.
Tanpa menunggu lama Baekhyun menjelaskan semua tanpa jeda. Membuat Sehun harus menajamkan pendengarannya saat kalimat Baekhyun sedikit terbelit untuk menjelaskan bagaimana letak kesalahan yang diperbuat oleh rekan Sehun saat melakukan aborsi.
Tarikan nafas panjang Baekhyun mengakhiri kalimat panjangnya. Yifan yang sedaritadi memperhatikan bagaimana Baehyun melakukannya tak bisa menahan tawa. Wanita itu terlampau bersemangat di setiap tindakan maupun perkataannya. Sedangkan Sehun lawan bicaranya hanya terdiam mematung tanpa ekspresi apapun. Kombinasi yang pas untuk menimbulkan gelak tawa dari Yifan.
"Maafkan aku. Oh ya Sehun, setelah ini tanggung jawab Baekhyun atas Luhan akan kuberikan padamu. Walaupun bukan dokter disini, sepertinya aku sangat yakin jika kau sendiri yang mengurusi semua tentang istrimu." Yifan sedikit memberikan senyuman setelah mengakhiri pemikirannya. Membuat Sehun tanpa sadar menegakkan duduknya, terdapat senyum tipis di bibirnya.
Akhirnya hak Luhan sudah jatuh di tangan Sehun kembali. Bukan mimiliki pemikiran negatif kepada semua dokter yang telah menangani Luhan sebelumnya. Ia hanya tak ingin Luhan menjadi awal bukti bahwa ia masih membuka klinik aborsi dan Luhan salah satu pasiennya.
"Terima kasih." Sahut Sehun dengan nada pecah. Lelaki pucat itu tak bisa menutupi kesenangan dalam nada bicaranya.
.
.
.
.
Benar atas perkataan Baekhyun barusan. Luhan sudah mulai pulih dari demerol yang membuatnya hampir mati lemas. Tidak seperti perkiraan Baekhyun, Luhan membaik kurang dari sebulan. Namun Luhan belum kunjung sadar dan membuka mata rusanya. Itu yang membuat Sehun kalut.
Ya, Luhan sudah membaik. Tubuhnya tidak terlalu kurus seperti sebelumnya. Infus yang berikan Luhan sedikit Sehun berikan beberapa vitamin yang kali ini dengan dosis tepat. Ia tak ingin mencelakai Luhan dengan tangannya sendiri.
Sehun mengantongi kembali jarum suntik yang baru saja ia berikan injeksi vitamin dalam infus Luhan. Memandang wanita dengan aura redup saat ia tak kunjung sadar.
Keparat dengan demerol.
Tanganya menyetuh tangan Luhan yang terdapat infus menusuknya kejam. Jempol kekarnya mengelus tepat di mana jarum itu tertusuk. Memberikan pijatan kecil menghalau rasa kram yang ditimbulkan oleh jarum itu.
Tanpa sadar senyum itu terlihat walau sangat tipis. Sehun selalu melakukan itu tanpa ia sadari, tersenyum saat memandang Luhan. Luhannya. Jongin tak mungkin menyentuh Luhan kembali, Jongin sudah memberikan Luhan seutuhnya dan Dokter Byun tak mungkin akan menyentuhnya kembali. Dokter wanita itu hanya akan memantau bagaimana denyut jantung, aliran nutrisi, dan lain-lain yang masuk dan terdapat dalam Luhan.
Luhan di tangan yang tepat saat ini.
"Cepatlah sadar." hanya kalimat itu yang bisa Sehun utarakan.
Bisa dikatakan Sehun masih 'perawan' dalam urusan relationship. Ia terlalu kaku untuk menjukkan tindak tanduknya. Melihatkan emosinya saja yang bisa ia lakukan, selebihnya, nol. Sehun sangat tidak berbakat dalam hal-hal yang selalu dilakukan saat orang-orang jatuh cinta.
Ia berniat meninggalkan Luhan untuk beristirahat kembali. Namun genggaman kuat di tangannya membuat tubuh Sehun menegang kaku. Jemari ringkih yang selama ini ia genggam kini menggenggam erat dengan gerakan kejang kecil.
"Luhan!" seru Sehun mendekatkan dirinya saat tubuh Luhan mulai bergerak kecil. Matanya belum terbuka, hanya tubuhnya yang mulai bergerak seperti orang yang baru bangun tidur. Gerakannya terlalu kekanakan sangat tidak pantas untuk Luhan dengan umur yang bisa dibilang tidak cukup muda lagi.
Rongga dada Sehun bagai disiram air pegungan yang sejuk. Luhan membuka matanya dan langsung bertatapan dengan mata elang Sehun. Matanya sayu sosok yang bangun tidur panjangnya.
Tubuh Sehun kaku bukan main, ia tak paham harus melakukan apa selanjutnya saat mata rusa itu menguncinya dan mengirimkan jutaan partikel menyenagkan di tubuh Sehun. Bibir kecil tipisnya terbuka dan terdengar lenguhan kecil. Sehun terkesiap kecil dan mengernyitkan keningnya.
"Ha...us." ucap Luhan penuh perjuangan.
Tubuh dokter itu masih terdiam kaku, memandang Luhan intens. Ya telinganya mendengarkan apa yang Luhan katakan. Tetapi badannya masih belum ingin bergerak juga. Matanya hanya terkunci di wajah Luhan, mengirimkan pesan verbal bahwa mata, tubuh, otak, Oh Sehun hanya ingin menatap Luhan yang sadar kali ini.
"Pak dokter, aku haus." Tangan lemas Luhan terangkat dan langsung memberikan pukulan lemah di kepala Sehun yang hanya berjarak kira-kira 30 cm darinya.
Nyawa dan pikiran Sehun langsung mengerubungi tubuhnya, membuat Sehun terkesiap kaget saat pukulan lemah Luhan menyadarkan dia dari pesona Luhan. Sehun sudah seperti kerbau dicocok hidungnya. Mengambil gelas di nakas rumah sakit dan menekan tombol ranjang agar sedikit naik, membuat Luhan dengan posisi terduduk. Tangan pucatnya memimpin gelas yang ia arahkan ke bibir kecil Luhan yang mengering.
Luhan langsung meminum air yang diberikan Sehun dengan rakus. Membiarkan aliran air yang tak terjangkau dari bibir kecilnya mengalir di sudur bibir hingga menuju dagunya. Gelas itu kosong hanya dalam hitungan detik, Sehun langsung menaruh gelas kembali ke nakas.
Pandangan mereka bertemu kembali. Tatapan Sehun sendu dengan penuh kerinduan, berbanding terbalik dengan wanita yang masih terduduk dengan memandang Sehun jengah.
"Hanya mimpi atau kenyataan, awalnya aku ada di klinikmu." Ucap Luhan dengan mata memandang sekeliling. Sangat beda, ruangannya ini nyaman dengan wewangian menengangkan, bersih, dan terlebih ruangan ini seperti rumah sakit pada umumnya, tidak seperi klinik yang ia singgahi waktu itu. "Atau klinikmu baru saja mengalami renovasi secara singkat?" lanjut Luhan kini memandang jengah Sehun. Lelaki itu terus-terusan menatapnya aneh. Dungu atau kolot sih?
Sehun berdecik kecil, mengapa ia tak bisa mengontrol dirinya di depan Luhan?
"Ini di rumah sakit. Kau belum sadarkan diri setelah proses aborsi itu." jemari Sehun mengarah pada perut Luhan. "Kau sendirian sekarang." Lanjutnya dan langsung meninggalkan Luhan sendiri. Benar-benar sendirian.
.
.
.
.
Bibir kecilnya menguntai sumpah serapah. Belum juga ia kelar dengan Jongin, kini dokter dungu itu sudah benar-benar membuang bayinya. Luhan sendiri tidak masalah jika ia harus meninggalkan bayi yang dikandungnya. Ia tak memiliki sama sekali ikatan batin dengan jabang bayi yang pernah ia kandung sebelumnya. Dilihat dari bagaimana jabang bayi itu terbentuk oleh orang-orang yang sama sekali Luhan tak ketahui latar belakangnya dan banyaknya orang yang ikut andil dalam pembuatan janin tersebut. Ah Luhan tak ingin mengingat kejadian sebelumnya.
Pikirannya berkecamuk saat menyadari bahwa ia masih sehat, segar, dan bugar di atas ranjang rumah sakit yang kelewat nyaman daripada ranjang merah di rumah bobrok tempat ia disekap. Luhan selamat, benar-benar selamat dalam arti sesungguhnya atas proses aborsi itu. Yang mana dengan arti lain, ia akan kembali ke Jongin dan menjajakkan kewanitaannya pada lelaki berengsek di luar sana.
Luhan menghembuskan nafasnya kasar.
Semua laki-laki adalah bangsat, termasuk ayahnya. Ia sangat membenci semua laki-laki selama hidupnya.
Tapi, ada satu laki-laki yang membuatnya berbeda saat menatapnya maupun berjumpa dengannya. Oh Sehun, dokter jangkung yang kelewat pucat itu. Kejadian pertama kali mereka bertemu terus berputar di otaknya. Senyum yang melempuhkan akal sehatnya membuat wajah Sehun terus berputar bagai kaset rusak di otaknya.
Sayangnya Luhan sudah menganggap semua lelaki adalah berengsek, sejajaran dengan kata kotor lainnya. Wanita itu langsung memasang kawat berduri di setiap pandangan dan bisa beracun dalam tutur kata. Ia tak akan jatuh pesona pada siapapun, termasuk si Dokter Oh.
Pintu terbuka secara otomatis sontak membuat Luhan terdorong akan rasa kaget dan menatap lelaki jangkung yang barusan ia pikirkan diikuti oleh seorang berpakaian suster.
"Dasar setan." Desis Luhan kini mengusap dadanya yang masih berdetak tak karuan. Matanya memicing menatap Sehun dan suster yang kelewat cantik di matanya.
Dokter itu seperti menulikan perkataan Luhan barusan. Menekan tombol di samping ranjangnya hingga ranjang itu menjadi lurus kembali. Membiarkan tubuh kecil Luhan tertidur saat Sehun meraba perutya dari baju rumah sakit yang ia kenakan.
Bibir Luhan kelu untuk memanjatkan umpatan beringas pada Sehun saat tangannya meraba perut datar Luhan. Hanya sekedar meraba dan memberikan tepukan halus. Luhan tak paham apa yang dilakukan dokter itu, bibirnya kembali hendak marah dan mencaci maki sang dokter tetapi kediaman Sehun membuat Luhan enggan bersuara. Matanya hanya memandang Sehun dan suster itu kesal.
"Sakit?" tanya Sehun pelan dengan jemari yang seperti mengetuk-ngetuk perutnya secara halus. Luhan hanya menggeleng jengah dan membuang pandangannya ke arah lain. Membiarkan Sehun bekerja dibantu dengan suster yang berjalan ke mana-mana dan sesekali mencatat.
"Katakan saja jika merasa nyeri." Lanjut Sehun tanpa intonasi yang membuat Luhan semakin jengah. Lelaki yang diam-diam selalu menghantui otaknya ini terlampau seperti mayat hidup. Wajah dan suaranya sama sekali tak ada ekspresi.
Luhan hanya menggeleng sebagai jawaban.
Sehun menghembuskan nafasnya berat. Menyampaikan betapa diam-diam rasa khawatir menyerang saat tangannya meraba perut itu. Normalnya, wanita akan merasa nyeri akan bekas jahitan di rahim mereka. Sangat tak nyaman ketika bergerak sedikit saja.
Ya rasa nyeri itu ada tatkala Luhan bergerak, hanya untuk memalingkah wajahnya saja tetapi ototnya bergerak hingga rasa nyeri di perut bagian bawahnya sudah terasa. Namun, suara hembusan nafas Dokter Oh sungguhan membuat Luhan merasa tenang dan aman. Bahkan tanpa sadar Luhan memejamkan matanya menikmati rasa itu mengalir dan menyatu dalam kepingan darahnya.
Rasa nyaman yang memeluknya barusan sontak membuat matanya terbuka kembali saat menyadari ia menikmati sesuatu yang salah. Ruangnnya menjadi sepi, matanya menyusuri ruangan itu dan kembali terjengkat kaget saat Sehun masih berdiri di sampingnya dalam diam.
"Setan kau.." desis Luhan yang kini menyamankan dirinya kembali di atas ranjang empuknya. Bisa tidak sih makhluk itu bersuara atau memberkan tanda bahwa ia masih di sekitarnya?
Mata rusanya tak menemukan suster cantik yang datang bersama Sehun tadi.
Setelah hembusan nafas beratnya –yang tentu saja membuat Luhan nyaman seketika- Sehun membuka kalimatnya. "Lusa kau bisa pulang."
Ia baru saja bisa menenangkan jantungnya langsung menatap Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan.
Lalu? Jika lusa sudah bisa pulang, apa Luhan harus mengucapkan syukur? Menangkupkan tangannya dan menahan haru. Memanjatkan doa, "Aku selamat atas proses aborsi yang sama sekali tak pernah kubayangkan selama hidupku." Seperti itu? Tidak, ia lebih memilih sakit lebih kronis lagi hingga bisa bercumbu dengan ranjang yang sungguhan nyaman ini daripada harus mengangkang di depan lelaki bajingan di luar sana.
Tanpa sadar Luhan menghentakkan tubuhnya mencari kenyamanan di atas ranjangnya, seperti anak kecil yang merajuk saat permintaanya tak terpenuhi. Meringis kecil saat rasa nyeri menghantam perut bagian bawahnya tiba-tiba. Sehun tertawa remeh, membuat pandangan Luhan langsung menusuk tajam ke arahnya. Tangan rantingnya besedekap di depan dada dengan bibir yang tanpa sadar memberitahukannya ia kelewat sebal.
Mereka bertatapan saling menantang. Sebenarnya tidak, mata Sehun saja yang selalu menatap semua ekspresi yang tengah ditampilkan wanita merajuk ini. Namun lagi-lagi tatapan diam seorang Sehun membuat lawannya salah mengartikan.
Dari tatapan Sehun, Luhan kira ia harus menjelaskan atas sikapnya barusan. Wanita itu berdecih. Untuk apa ia harus menejalaskan yang bisa dilihat dengan jelas, ia tak ingin kesana. Lelaki memang makhluk yang tidak pernah peka.
Tetapi bibirnya gatal untuk mengatakan isi hatinya, hingga, "Aku hanya tak ingin ke sana. Mengangkang pada lelaki yang tak aku kenal. Bercumbu hingga membuatku muak. Belum lagi jika mereka bermain kasar.. aku..." tanpa sadar suarannya berubah serak, menimbulkan titik lembab di ujung matanya.
Ck, mengapa ia menjadi emosional seperti ini? Tangan ringkihnya mengusap mata rusanya. Menghalau air di ujung mata yang hampir keluar. Ia berdeham memecah rasa canggung yang tiba-tiba terkuar di antara mereka. Luhan hendak saja membuka mulutnya namun ia kunjung menutup mulutnya kembali saat dokter itu malah pergi meninggalkanya dengan langkah tergesa tanpa mempedulikan Luhan.
Luhan menghembuskan nafasnya kasar. Astaga dokter itu, apa ia begitu bosan mendengarkan rengekan Luhan barusan hingga keluar dari kamarnya hingga terbirit-birit? Ia tak sedang dikejar hantu kan? Ngomong-ngomong tentang hantu, Luhan langsung memeluk erat dirinya. Memandang sekeliling dengan rasa ragu, kemudian menarik selimutnya untuk menutupi tubuh kecilnya yang bergetar. Ia benci sekali dengan hantu.
.
.
.
.
Kaki Sehun melangkah cepat ke arah ruangan Yifan tepat setelah ia keluar dari kamar Luhan. Penuturan Luhan barusan membuat telinganya panas dan berdenging. Sial, emosinya tiba-tiba memuncak.
Tanpa menekan interkom yang tersampir di samping pintu ruangan Yifan, ia langsung membuka pintu otomatis itu. Sehun hendak menitipkan Luhan pada Yifan barang sebentar untuk menemui si berengsek Jongin. Tetapi langkahnya lagi-lagi tersendat saat ia berhasil masuk melewati pintu ruang kerja Yifan.
Tidak bukan Baekhyun yang sedang di ruangan Yifan kali ini. Orang yang ingin ia caci maki sedang disana. Terduduk di seberang meja Yifan dengan gelak tawa beratnya. Jongin di sana.
Jongin dengan Yifan? Ia tak pernah tahu jika Jongin kenal dengan temannya yang satu ini.
"Oh Sehun! Liat-liat, sahabatmu ini astaga..." Yifan tak bisa melanjutkan kalimatnya. Tawanya tak kunjung terhenti saat Jongin makin terpingkal melihat Sehun dengan tampang datarnya yang malah terlihat bodoh di mata mereka berdua.
"Aku malah tak habis pikir gimana gugupnya Oh Sehun saat malam pertama kala itu." lanjut Jongin dengan kekehannya yang tak bisa ia kendalikan. Kedua temannya sedang membicarakan hal yang tak ia pahami sama sekali.
Kini Yifan mengaduh akan perutnya yang kram akan tawanya. Sial, ia benar-benar terlihat kedelai bodoh sekarang.
"Aku menyesal tak datang ke acara pernikahanmu, Sehun." Yifan kini bisa mengendalikan dirinya sendiri, tangannya mengusap matanya yang masih mengeluarkan air efek tertawanya barusan.
Jongin membalikkan tubuhnya, menatap Sehun dengan tatapan 'Percayalah, aku sudah meluruskan semua masalahmu'. Membuat Sehun terdiam, ia sama sekali tak mempermasalahkan dengan apa yang sudah Jongin lakukan dengan Yifan. Sepertinya membawa dampak positif, tetapi Luhan kembali terbayang di matanya hingga membuat telinganya memerah kembali. Ia sedang menahan emosinya.
"Ada apa Sehun?" tanya Yifan. Membuat Sehun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Yifan. Menghalau emosinya barang sebentar.
"Luhan sadar." hanya dua kata itu yang bisa ia utarakan. memang itu tujuannya kemari, mengatakan bahwa Luhan sadar dan akan menitipkannya sebentar. Ada urusan penting dengan Jongin yang membuat dirinya bergulat emosi atas penuturan Luhan barusan.
Pandangannya kembali pada Jongin yang masih menatapnya penuh dengan intimidasi. Pandangan bos besar yang akan mengenyahkan lawannya hanya dengan sekali hembusan nafas. "Aku ingin bicara denganmu." Lanjutnya dan langsung meninggalkan mereka berdua. Pendengarnnya masih bisa mencapai langkah Jongin di belakang yang mengikuti dirinya dalam diam menuju balkon atas rumah sakit ini. Ia butuh bicara untuk hal satu ini.
.
.
.
.
Tanpa gerakan mencurigakan sebelumnya. Sehun langsung melayangkan pukulannya tepat di pelipis Jongin. Bos besar itu tersungkur beberapa meter dari tempatnya ia berpijak. Kepalanya nyeri hingga pandangannya buram. Dia gelengan kecil, Jongin bisa menemukan fokusnya kembali. Menatap Sehun dengan pandangan datar.
"Itu untuk Luhan." Desis Sehun dengan terengah. Detik berikutnya ia mengulurkan tangannya tepat di wajah Jongin. Memberikan tatapan tegas pada Jongin yang masih belum beranjak dari tempatnya maupun menerima uluran tangannya.
"Dan ini demi Luhan." Lanjut Sehun lagi. Tangannya masih setia menunggu tangan Jongin untuk meraihnya. Jongin mengernyit bingung hal itu malah membuat pelipisnya yang berdarah tertarik hingga membuatnya berdesis kecil.
Setelah lenguhan kecilnya, Jongin meraih uluran tangan Sehun. Tangan pucatnya menarik kuat tubuh Jongin untuk berdiri. Menahan pundak Jongin yang sempat oleng sesaat sebelum ia menemukan orientasinya.
"Demi Luhan?" ulang Jongin tak paham atas kalimat Sehun setelah ia dipastikan bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Sehun bergumam kecil menandakan ya sebagai jawaban. Jongin makin tak mengerti.
"Aku tak ingin Luhan kembali ke gubukmu."
Jongin paham akan arti gubuk yang dimaksud dengan Sehun. Ya bisa dibilang rumah prostitusinya, rumah wanita-wanita yang ia sekap dan menjajakannya ke kolega-kolega bisnisnya.
Bos besar itu tertawa keras namun terhenti di detik berikutnya. Pukulan Sehun barusan tidak main-main, sekali saja ia berekspresi yang mana seluruh otot wajahnya tertarik, pelipis berdarahnya langsung terasa perih hingga membuatnya meringis tertahan.
"Ya, ya, ambil saja wanita itu. Rawat saja ia beseta ayam-ayam tengikmu itu, si Chanyeol dan Jongdae."
Sehun hampir saja naik darah kembali saat Jongin menganggap Luhan sama dengan ayam-ayam yang Jongin maksud. Pasien aborsi yang sering Sehun tangani. Tidak, Luhan tidak seperti mereka. Jonginlah yang membuat Luhan harus seperti mereka, memiliki pengalaman yang seperti mereka.
Tangan Sehun mengepal kuat. Ekor mata Jongin menangkapnya.
"Marah eh?" tawanya sebelum tawa keras menggema di balkon rumah sakit. Jongin kembali menghentikan tawanya saat rasa nyeri di pelipisnya kumat. Shit! Sahabatnya ini ahli rahim dan kandungan atau ahli otot dan saraf sih? Sakitnya minta ampun!
"Kenapa malah jadi memukulku? Aku bersih di titik ini Dan.. dan harusnya kau yang datang dan berterima kasih." Ucap Jongin tak terima. Ia merasa pahlawan disini. Setidaknya ia sudah menemukan jodoh yang selalu dinantikan oleh Sehun hampir setengah abad ini.
Berterima kasih apanya? Ya, ia akan melakukan tindakan berterima kasih atas ditemukannya Luhan. Tetapi semua itu lenyap saat Jongin malah mengajukan jadwal aborsi Luhan dan lebih parahnya lagi, "Itu atas ulahmu membuang Luhan hingga menjadi piala bergilir di antara anjing bodohmu, Jongin." Desis Sehun tak terima.
Ia tak pernah peduli pada wanita-wanita di gubuk Jongin. Bagaimana keras dan hina kehidupan disana. Ucapan Luhan yang kalut dan ketakukan membuat Sehun seolah merasakan bagaimana perasaan Luhan saat ia dipaksa melayani kehendak anjing-anjing bodoh si Jongin. "Kembali kutekankan disini, Luhan bukan jejeran ayam seperti katamu barusan."
Jongin tak peduli. Ia sudah pernah mendapatkan keuntungan dari Luhan. Soal Sehun yang menginginkan Luhan. Ia berikan saja pada Sehun, setidaknya ini untuk menebus kesalahannya pada sahabatnya ini. Ia sudah merasa cukup untuk menguji sebagaimana Sehun menginginkan Luhan.
Dokter itu mengakhiri perbincangan. Langkahnya sudah menjauh dari Jongin, namun ada pemikiran baru lagi yang menghantamnya hingga membuat Sehun berbalik kembali ke arah Jongin yang tengah sibuk memandang darahnya yang terus keluar dari pelipisnya.
"Khawatir denganku, eh?" tanya Jongin langsung sambil memberikan kode bahwa, 'Pelipisku berdarah. Kau harus merawat sabahatmu ini, Sehun.'
"Apa hubunganmu dengan Yifan?"
Jongin memandang Sehun tak percaya. Ayolah, di hadapannya saat ini adalah bos besar senatero Seoul. Lelaki terkaya atas mahkota raja dalam elektronik.
"Kau kira siapa yang memproduksi alat-alat kedokteran disini, Oh Sehun? Kau?" jawab Jongin sakartis, ia tak terima. 'Tentu saja aku! 50% saham disini adalah atas namaku, bodoh." Sahut Jongin dengan nada yang dinaikkan satu oktaf namun detik berikutnya ia harus berdesis saat pelipisnya mulai memberikan kesan perih.
Sehun melupakan salah satu fakta dari sabahatnya ini. Jongin kaya, keterlaluan malah. Pantas saja ia bisa menjalin hubungan dekat dengan si pewaris rumah sakit yang kini tengah ia pijak. Kenapa otaknya akhir-akhir ini sering tak berfungsi setelah menemukan Luhan?
Naluri dokternya mengambil alih Sehun. Membuat tangan putih itu terulur kembali di hadapan Jongin. "Mari kusembuhkan dulu lukamu."
"Aku menunggu kalimat itu sejak tadi." protes Jongin.
.
.
.
.
Jongin datang! Hal yang paling Kyungsoo tunggu-tunggu. Berlari ia menuruni tangga untuk bertemu dengan suaminya yang masih berbincang dengan seseorang di ambang pintu. Kyungsoo tidak peduli jika suaminya itu harus marah lagi kepada salah satu anak buahnya. Setiap hari lelaki tua itu hanya marah, marah, dan marah karena pekerjaan kantornya yang cukup membuat emosi.
Tetapi Kyungsoo salah. Jongin tidak sedang memarahi anak buahnya kali ini. Joonmyeon, tangan kanan Jongin atau bisa dibilang assisten Jongin sedari kecil kini bergumam panik menatap sang majikan. Kyungsoo masih di antara anak tangga, mencoba menatap siluet suaminya yang tertutup badan Joonmyeon.
"Jongin!" seru Kyungsoo berusahan suaminya itu menatapnya.
Jongin yang merasa terpanggil oleh istrinya segera mentap ke arah sumber suara. Menggeser badannya ke samping dan menemukan istrinya berdiri di anak tangga dengan alis bertaut. Ia baru saja pulang dari bertemu dengan Sehun dan seisi rumah seperti gaduh dan terkejut melihat Jongin, apa ada yang berbeda dengannya kali ini?
Kyungsoo memekik dari anak tangga, ia kaget hingga tangannya reflek menutup bibirnya.
"Astaga Kyungsoo!" kali ini Jongin yang kaget. Istrinya langsung berlari menuruni tangga membuat pembantu, pengawal, Joonmyeon, dan tentu saja kaget setengah mati. Melebihi kagetnya Kyungsoo.
Kaki Jongin yang lebih sigap segera berlari menuju Kyungsoo yang masih berlari menuruni anak tangga dengan tergopoh. Tangan kekarnya berhasil merengkuh pinggang Kyungsoo erat. Ia tak bisa mendekap istrinya saat ini. Ada sesuatu yang menghalangi mereka.
"Kyungsoo! Kau sedang hamil! Berhentilah berlari. Astaga, Kyungsooku!" desis Jongin kehilangan kata-katanya.
Jongin selalu kehilangan kewibawaannya jika sudah di dekat Kyungsoo. Jongin adalah bos besar, ia tak pernah berkenalan dengan namanya panik maupun takut. Namun sialnya, hal itu selalu datang ketika ia bersama dengan Kyungsoo.
Wanita itu sedang hamil; berjalan tujuh bulan. Jongin meningkatkan sikap protektifnya menjadi siaga untuk Kyungsoo. Memberikan rasa nyaman di setiap langkah Kyungsoo dan bayi yang sedang di kandungnya. Tidak ada yang akan membuat Kyungsoo dan bayinya dalam bahaya. Ya, semua yang ada di sekitar Kyungsoo tak akan bisa membuatnya celaka. Tetapi Jongin salah, masih ada yang membuatnya istrinya akan celaka. Istrinya sendiri, Kyungsoo sendiri yang bisa saja menjadi biang kecelakaan untuk bayi dan tentu diri Kyungsoo sendiri.
Terlebih ia berlari menuruni tangga saat kehamilan tujuh bulannya.
Demi tuhan Kyungsoo, suaminya hampir saja jantungan!
"Astaga Jongin, keningmu! Apa itu sakit?" ia mengalihkan pembicaraan. Pikiran Kyungsoo hanya tertuju pada sesuatu yang menempel di kening suami tersayangnya. Sebuah kapas dengan plester kecil. Tidak terlalu lebar, tapi, siapa orang yang berani menyentuh bos besar ini? Jongin memiliki skill bela diri yang jarang ada orang bisa melawannya. Menyentuhnya saja mungkin orang itu sudah dipastikan tergeletak dengan penuh luka duluan. Apa lagi memukulya? Coba liat sekarang, ada lebam di sekitar balutan kapas di pelipis Jongin. Seseorang sedang mengamuk di luar sana.
"Kyungsoo, jangan berlari seperti itu lagi." Desis Jongin mencoba memohon. Menghiraukan istrinya yang saat ini khawatir.
Ayolah, ini hanya luka kecil yang dibuat Sehun dan tidak sebanding dengan apa yang harus ditanggung oleh Kyungsoo saat adegan berlarinya menuruni tangga.
"Tapi Jongin ini luk–"
"KYUNGSOO!"
Wanita itu terdiam kaget. Bibirnya terkatup rapat saat mendengar bentakan Jongin dan tubunya bergetar begitu saja. Orang tua Kyungsoo tak pernah sekalipun membentaknya tetapi sekarang? Jongin sendiri membentaknya tepat di depan wajah.
Mata burung hantu itu memerah, menahan titik embun hangat di ujung mata.
Detik berikutnya lengan Jongin yang masih di pinggangnya menarik untuk memutar tubuh Kyungsoo hingga wanita itu membalikan badan. Jongin langsung memeluknya dari belakang. Merasakan dadanya menyentuh punggung bergetar milik istrinya. Ia memeluknya erat, menyampaikan semua kekhawatiran dan ketakutan yang berkumpul di dadanya.
Tangannya menjalar ke arah depan. Mengelus pelan bagian membuncit di perut Kyungsoo. Gerakannya terhenti saat suara isakan tertahan Kyungsoo terlepas. Mata Jongin tepejam menahan emosi akibat perbuatannya barusan.
"Maafkan aku Kyungsoo, maafkan.. aku." Bisik Jongin tepat di telinga sang istri. Nadanya getir tidak seperti biasa. Bos besar yang menyesal.
Ia mencoba memberikan rasa nyaman pada tubuh bergetar Kyungsoo, "Maafkan aku sayang. aku terlalu khawatir, tolong.. tolong Kyungsoo, jangan membahayakan bayi kita. Terlebih dirimu sendiri Kyungsoo." pinta Jongin yang kini menyembunyikan wajahnya tepat di ceruk leher Kyungsoo. Harga dirinya selalu jatuh di kakinya sendiri jika sudah bersama Kyungsoo. Satu-satunya kelemahan Jongin.
Ia melepas semua atribut tentang kekayaan dan kekuasaanya jika sudah bersama sang istri. Membuang ego dan hanya bersimpuh pada wanitanya. Istrinya. Kyungsoo.
Mata wanita itu terpejam. Pikirannya berseteru. Sesuatu di kanan dan kirinya memberikan suara. Ia harus marah karena bentakan Jongin. Tetapi, suaminya itu marah akan tindakannya barusan. Ya, ia sadar itu adalah tindakan beresiko. Berlari dengan perut membuncit untuk menuruni tangga. Syukurlah ia tak mengalami kecelakaan hingga membuat bayi dan dirinya kenapa-kenapa. Jongin mengkhawatirkannya. Itu saja. Kyungsoo yakin suaminya ini sangat mencintainya.
Tetapi kenapa harus dengan membentaknya?
"Jangan pernah membentakku seperti itu, Jongin." Ucap Kyungsoo sekuat tenaga agar tidak bergetar dalam bicarannya. Tetapi gagal saat nada pecah yang terucap dengan isakan tangis. Ia kaget, sungguhan kaget. Lelaki yang selalu lemah lembut bersamanya tiba-tiba membentaknya telak di wajah. Ia hanya kaget dan sedikit kecewa.
Rengkuhan di perutnya semakin erat. Tidak menekan perutnya namun terasa begitu erat dan nyaman. Hal yang selalu di sukai Kyungsoo setelah kepulangan suaminya.
"Maafkan aku sayang." hanya itu yang dapat Jongin lakukan. Meminta maaf.
Perlahan Kyungsoo membalikkan badan, menatap suaminya yang kini menekuk wajah. Pandangan kabur, mata berair Kyungsoo kembali terpusat pada hal yang membuatnya harus berlari mendekat ke arah Jongin. Kening yang lebam dengan kapas beserta plester kecoklatan.
Tangan kecilnya mencoba meraih pelipis Jongin. Lelaki itu reflek menjauhkan wajahnya. Itulah yang membuat rumahnya geger. Tuan Besar Jongin yang mendapatkan luka! Hal yang terlihat mustahil namun kali ini Jongin terluka. Hanya luka kecil namun membuat geger sesisi rumah. Termasuk istrinya ini.
"Kau terluka Jongin."
Suaminya menatapnya dalam. Ada rasa geli yang tertahan dalam pandangannya. Membuat Kyungsoo hanya mengerutkan kening dan melempar pandangan bertanya.
"Sehun, ia memukulku. Masalah kecil." Sahut Jongin. Tangannya mencoba mengusap perban itu, "Rasanya sakit, sarafku terasa tertarik semua jika berekspresi." Wajah Jongin kini menampilkan kesakitan. Mencoba memancing bagaimana reasksi sang isri.
Tentu saja hal itu menimbulkan rasa khawatir yang menjadi-jadi pada istrinya!
Melihat ekspresi istrinya saat ini, Jongin tak bisa menyembunyikan tawanya. Sudah dikatakan sebelumnya, Kyungsoo terlalu polos dalam segala hal. Tawa Jongin membuat Kyungsoo terasa dibodohi. Ia memberikan pukulan telak di dada suaminya.
"Dasar! Aku mengkhawatirkanmu bodoh!" pekik Kyungsoo yang masih memberikan pukulan brutal di dada suamnya yang hanya terasa seperti sentuhan halus saat mereka bercinta.
Tawanya terhenti saat rasa nyeri menyerang pelipisnya. Ia lupa jika berekspresi sedikit saja itu cukup menyakitkan. Kyungsoo yang sedaritadi memukul dada Jongin membekukkan pukulannya ketika Jongin merintih kecil.
"A-apa pukulanku menyakitkan?" nada khawatir dari Kyungsoo lagi-lagi memunculkan gelak tawa untuk Jongin. Tetapi lelaki itu mencoba menahannya. Ia tak ingin merasa nyeri yang keterlaluan hanya dari pukulan Sehun.
"Ck, Jongin. Kenapa kau tidak memukulnya balik sih?" tanya Kyungsoo kesal yang kini mencoba membenahi perban kecil di kening Jongin.
Salah satu alis suaminya terangkat naik, "Memukulnya balik?" nadanya main-main di sana, "Sayang, aku tidak akan melayangkan pukulan emasku pada orang yang tak bersalah." Jelas Jongin. Menunjukkan pemikiran dewasa sang suami secara tersirat. Jongin bisa membedakan mana yang jelas-jelas salah dan mana yang benar. Jika ia terluka, maka Jongin adalah pihak yang salah.
"Kau melakukan sesuatu pada Sehun hingga memukulmu." Gumam Kyungsoo. Istrinya tentu saja kenal Sehun. Terlebih Sehun sering datang ke rumahnya untuk memberikan vitamin dan hanya mengecek perkembangan kehamilan Kyungsoo.
"Sehun tidak pernah menunjukkan emosinya selama ini, Jongin." lanjut Kyungsoo. "Jika ia memukulmu, berarti kau melakukan kesalahn besar Jongin! Tentu saja bukan masalah kecil."
Suaminya terdiam mematung. Pandangannya tak dapat diartikan di mata Kyungsoo.
Pandangan Kyungsoo menjadi sayu, benar atas pemikirannya. Ini bukan masalah kecil. Seseorang sedang mengamuk di sana dan bukan orang yang pantas untuk marah. Terlebih Sehun yang melayangkan sebuah pukulan. Setelah mengambil nafas pelan, Kyungsoo bertanya kembali, "Kau sudah meminta maaf padanya kan?"
Ada keheningan di antara mereka selama beberapa detik. Hingga..
"Sepertinya aku harus meminta maaf padamu, Kyungsoo."
Alis tebal istrinya bertaut, "Kau dan Sehun yang memilki masalah. Mengapa harus meminta maaf kepadaku?"
"Ini tentang Luhan."
Kyungsoo terdiam saat nama asing yang terucap oleh suaminya.
"Luhan? siapa dia?"
.
.
.
.
TBC?
Note: Aku balik lagi nih wkwkwk, aku boleh tanya sesuatu gak? Di setiap screenplays ada pilihan favorite sama follow. Itu bedanya apa ya? Kalau aku taunya favorite pasti tersimpan seperti arsip, lalu untuk follow seperti apa? Cuma tanya itu sih wkwkwk.
Oke, big respect for my dear zoldyk | BlinkHunHan | Lisasa Luhan | xieluharn | DinoChickiHH | Aria F | ElisYe Het | niasw3ty | Arifahohse | deerhanhuniie | Selenia Oh | igineeer | Seravin509 | khalidasalsa | xseluna | KKKimsu614 |Juna Oh | .39 | Urushibara Puterrizme| rikha-chan | rly | ireuuu | Guest | misslah | sehunhan | selured15 | Luniaakimwu | noVi | HunHanCherry1220 | fifioluluge | deva94bubletea | ChagiLu| Kikio | heraaa and other for leaving a review
Review, please?
A Good Reader Will Be Leave Their Sign.
