Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi-sensei

Chances © Kyou Kionkitchee

Pairing: bisa SasuNaru maupun NaruSasu (tergantung intepretasi masing-masing)

Genre: Drama/Friendship

Rated: T

Warning: Shounen-Ai, semi-canon, OOC, heavy themes, betrayal, banishing, OC (?), typo(s). Don't like don't read! Find another story if you hate MxM. I've warned you!

Summary: Sasuke berhasil melarikan diri setelah ditangkap oleh Aliansi Desa Ninja. Ia berjalan kepayahan di tengah badai yang melanda hutan asing tempatnya tersesat, hingga akhirnya jatuh pingsan. Keesokan harinya, ia dan mendapati pemuda bernama Arashi menolongnya. Ternyata pemuda itu pernah mengenal Naruto dan menunjukkannya makam sang sahabat. Di lain pihak, Hokage memerintahkan lima orang dari Top Shinobi desa Konoha untuk mencari dan menangkapnya.

A/N: Enjoy~

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Sebenarnya… kau anggap apa aku? Apakah aku sama sekali tidak berarti bagimu, Sasuke?"

"… Bagiku, kau sudah menjadi teman terdekatku… Naruto…"

"Kalau begitu… kalau begitu… kenapa? KENAPA KAU LAKUKAN INI?"

"… Kekuatan yang kucari untuk membunuhnya, aku tidak mendapatkannya di Konoha."

"Kau hanya akan menjadi wadah Orochimaru! SADARLAH!"

"Aku tidak peduli."

Tapi aku peduli…

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Chances

3rd chance: To Know You

© Kionkitchee

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Kelopak putih pucat membuka tirainya perlahan. Cahaya dari sela jerami menyinari warna oniks yang sedikit menyipit karena silau. Lama baru bentuknya kembali normal karena aliran darah yang mengalir lebih lambat dari waktu beraktivitas. Sang pemilik memang membutuhkan beberapa saat untuk kembali pada kesadarannya karena lelah dirasa setelah beban menenggelamkan tubuh, hati, serta pikirannya. Tangan yang terhubung dengannya pun pelan bergerak untuk merasakan kebebasan. Namun, ia malah mendapati tangannya—bahkan tubuhnya—terbungkus sesuatu yang… hangat?

Ada apa ini? Apa mungkin pemanas dalam kamarnya belum dimatikan oleh Itachi yang biasa membangunkannya setiap pagi? Atau mungkin ia dikenakan selimut tebal oleh ibunya yang cemas ketika ia jatuh sakit? Atau mungkin ayah—tidak, tunggu. Kedua orang tuanya sudah mati di tangan sang kakak sendiri—begitu pun dengan sang pembunuh. Tidak mungkin ia merasakan kehangatan seperti itu lagi. Tapi, kehangatan yang kini ia rasakan nyata adanya. Bagai kembali ke masa lalu di mana semua masih baik-baik saja… ketika dirinya masih polos tanpa tahu menahu mengenai kebusukan dunia.

Sasuke memiringkan kepalanya untuk mengetahui apa yang terjadi, dan seketika ia membeku. Di sana—di sampingnya, berbaring seorang pemuda berambut merah yang tampaknya masih tertidur pulas. Sang Uchiha sama sekali tidak menduga hal seperti ini—apalagi kenyataan bahwa helaian senada dengan apel ranum itu ternyata menggelitik lehernya; menguak kebenaran akan kepala asing-tak-asing tersebut menumpu pada bahunya. Dan lagi, Apa-apaan… batin Sasuke saat menyadari sepasang lengan mendekapnya lembut.

KENAPA IA BISA BERADA DALAM POSISI SEPERTI INI DENGAN ORANG ASING YANG BARU DITEMUINYA KEMARIN?

Serta merta pemuda Uchiha itu mendorong jauh-jauh tubuh sang Mori—yang terbangun dengan ekspresi kaget. Bahasa kutukan mendesis dari bibirnya karena luka diperutnya beradu dengan siku tangannya sendiri… tapi, entah kenapa tidak terasa sakit seperti kemarin…

"Oh, Sasuke ya…" gumam Arashi sambil mengusap matanya, lalu menguap. "Kau sudah tidak apa-apa?" tanyanya kemudian meski masih dalam keadaan mengantuk. Sang Uchiha tak menjawab. Malahan, pemuda itu menatap tajam seakan dirinya sudah melakukan hal yang buruk. "Ada apa?"

"… Kenapa kau tidur… di sini…" tanya Sasuke yang tak menyangka malah akan mengeluarkan gumaman ragu.

Arashi menggelengkan kepalanya sejenak untuk mengembalikan kesadarannya sebelum menjawab, "Ini 'kan rumahku. Memangnya kau pikir aku akan tidur di luar?"

Bodoh. batin Sasuke. "…" Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, namun, diurungkannya. Lebih baik kalau hal tadi dilupakan dan tidak diungkit-ungkit lagi. Sang Uchiha tertidur dalam dekapan lelaki asing? Bahkan lebih baik dikejar-kejar fangirls dari Konoha!

"Hei, kau sudah tidak apa-apa?" Arashi bertanya lagi. "Tadi malam kau sangat gelisah sampai berteriak keras. Apa lukanya masih terasa sakit sekali?" cemasnya.

Sasuke menatap sang Mori lekat meski keterkejutan masih bisa terlihat dalam bola matanya. Ia… berteriak? Dirinya yang seorang Uchiha berteriak? Sungguh? Apa yang terjadi semalam? Kenapa ia bisa bertindak memalukan seperti itu?

Tapi aku peduli…

… Ah, ya. Benar juga. Semalam, ia bermimpi lagi tentang Naruto. Kali ini kembali ke pertarungan mereka di Lembah Akhir; saat-saat di mana ia mengaku bahwa sang Uzumaki sudah menjadi teman terdekatnya. Namun, ada yang berbeda dari pertarungan itu. Naruto terus-terusan menatapnya dengan ekspresi sedih dan airmata mengaliri wajahnya yang sudah basah terkena air lembah. Ia juga kerap berkata bahwa takkan membiarkannya pergi ke Orochimaru hingga… hingga perbedaan dengan kenyataan terjadi.

Dalam mimpinya, Sasuke tidak sanggup melihat airmata terus mengalir dari bola biru Naruto sehingga ia membentuk pedang chakra yang entah bagaimana bisa sama dengan yang dimilikinya setelah mendapat latihan dari Orochimaru. Ia lalu menusukkan pedang itu ke jantung sang Uzumaki hingga anak itu tewas tanpa bisa melakukan perlawanan apa-apa. Terakhir, yang dilihatnya adalah seulas senyum yang mengiris sukmanya, juga tiga kata: tapi aku peduli…

Dan ia pun berteriak sangat keras. Penyesalan dengan cepat menyusup dan menyerang batinnya. Sangat sakit perasaan bersalah mengoyak, mencabik-cabik jiwanya sementara ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan waktu. Kedua tangannya berlumuran darah dia yang tersayang; teman terdekat, sahabat yang selama ini tak pernah pergi dari sisinya; terus mempercayainya bahkan hingga ke titik di mana semua menyuruh menyerah dan malah berniat membunuhnya. Tapi, hal itu tak pernah terjadi. Naruto tak pernah menyerah membawanya pulang, justru DIRINYA yang menghentikan kepercayaan itu dengan cara menghabisinya!

Sasuke ingat mengapa ia berteriak keras semalam, dan itu karena ia telah membunuh Naruto dalam mimpinya.

Heh! Kenapa baru sekarang ia merasa seperti itu! Kalau pertarungannya dengan Naruto benar terjadi, bisa saja 'kan tangannya memang mencabut nyawa sang Uzumaki! Dan ia merasa menyesal karena telah membunuh Naruto DALAM MIMPI? Canda yang tak lucu. Sasuke meremas rambutnya sembari membuang napas berat.

"Sasuke, lukanya masih terasa sakit?" suara cemas Arashi terdengar dekat, membuat sang Uchiha meliriknya yang berada tepat di depan wajahnya. Kenapa… kenapa ia bisa membiarkan dirinya dicemaskan oleh orang asing? Kalau saja orang asing itu adalah Naruto, segalanya akan lebih baik… atau begitulah harapannya. Tapi, Arashi bukan Naruto sebanyak apapun ia berharap.

"… Hn."

"Oh, syukurlah!" lega Arashi sebelum berdiri. "Aku akan membuatkan sarapan," jelasnya seraya pergi keluar, meninggalkan sang Uchiha yang kali ini tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Yang barusan itu… Arashi mengerti makna di balik kata andalannya? Memang mudah dimengerti kalau jawaban yang diduga adalah 'ya', tapi yang tadi ia gumamkan adalah 'tidak' dan pemuda Mori itu mengerti? Kenapa? Apa ia sungguh bisa dimengerti hanya dalam waktu singkat? Atau sebenarnya Arashi memang tahu siapa dirinya? Tapi kenapa pemuda itu tak menunjukkan gelagat demikian? Baru sekali itu dalam hidupnya semenjak mengetahui kenyataan bahwa Itachi tidak bersalah Sasuke merasa semua begitu memusingkan…

Tentang Naruto dan juga Arashi… keduanya mampu membuat seorang Uchiha sepertinya merasa galau. Apa ini semacam permainan takdir lagi?

Kenapa tidak ada waktu istirahat untuknya… Kami-sama?

Arashi masuk kembali dengan membawa semangkuk sayuran dan buah-buahan segar. Pemuda itu sudah meraciknya sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah sarapan sehat alami dengan vitamin cukup di pagi hari. Bentuknya hampir sama dengan Chirashizushi, yakni nasi yang diatasnya ditaburi berbagai macam makanan dari mulai potongan ikan, daging, sayuran dan lainnya. Meskipun bukan, apa yang disajikan sang Mori sama—bahkan lebih sehat dari itu. Kemampuan mengatur menu sehat sesuai dengan kemampuan medisnya.

"Setelah makan, aku akan melihat kondisi lukamu," ujar Arashi, "kalau obatnya cocok, maka lukamu pasti sudah menutup seutuhnya," tambahnya sebelum mulai makan. Tidak ada jawaban dari pemuda di depannya, membuat sang Mori melirik ke arahnya, lalu tersenyum kecil setelah melihat anggukan nyaris tak terdeteksi dari sang Uchiha. Mereka pun makan dalam kondisi hening yang tidak menjemukan… hingga Arashi hendak mengupas jeruk yang masih utuh, barulah keheningan itu pecah oleh suara sang Uchiha.

"… Kenapa Naruto bisa ada di sini?"

Pemuda berambut merah yang baru mengupas kulit jeruk sedikit menaikkan sebelah alisnya, "Sudah kubilang 'kan kalau aku menemukannya sekarat di hutan lima tahun lalu? Soal kenapa dia bisa ada di hutan ini, aku sama sekali tidak tahu," jawabnya.

Sasuke meletakkan mangkuk makanannya. "Kau bilang dia diasingkan dari desanya… Kenapa?" tanyanya lagi.

"Investigasi di pagi hari. Bagus!" sindir sang Mori sambil mendengus. "Memangnya apa hubunganmu dengan Naruto? Kalau kau bukan siapa-siapanya, aku takkan mau berbagi cerita tentang saudaraku!" ancamnya. Ucapan itu membuat Sasuke terdiam, dan Arashi menyadarinya. Namun, ia menunggu sang Uchiha menjawab tantangannya.

Suasana kembali hening beberapa saat sebelum Sasuke bergumam, "Aku menganggapnya teman… terdekat… dulu…"

"'Dulu' itu sudah masa lalu, Sasuke!" sanggah Arashi yang terlihat sebal. "Kenapa tidak kau jawab yang sekarang?" terselip nada sindiran di dalamnya. Ia ingin tahu apa yang pemuda Uchiha itu pikirkan.

Raut wajah Sasuke menggelap. Ia tidak suka mendengar nada itu; seolah pemuda Mori itu menyalahkannya atas kepergian Naruto. Namun, sebenarnya ia memang menyalahkan dirinya sendiri karena tidak sempat berkata satu kata pun pada sang Uzumaki. Dan kalau bisa mengulang waktu, ia ingin mengatakan…

"Dia… lebih berharga… daripada apapun di dunia…" lirihnya.

… bahwa Naruto adalah seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.

Mori Arashi kini balik terdiam. Ia tak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut sang Uchiha. Kalimat yang seolah mengabaikan segalanya, ditambah lagi dengan nada yang seakan tabu mengucapkannya, membuat pemuda itu melupakan jeruk yang sudah bersiap di depan bibirnya. Ternyata sama… ternyata apa yang dikatakan Sasuke sama dengan yang pernah dikatakan Naruto, dan hal itu membuatnya menghembuskan napas lelah yang panjang.

"Baiklah, baiklah! Aku cuma menggodamu tadi… maaf…" ujar Arashi sambil mengusap rambut merahnya ke belakang. "Aku hanya tidak ingin menceritakan saudaraku pada orang yang tidak peduli padanya," jelasnya.

"Aku… mengerti…" Sasuke ingat bahwa selama ini ia selalu berlaku tak peduli pada Naruto. Karena itu, ia menerima kalau sang Mori tak ingin menceritakan apapun tentang Naruto padanya. Meskipun ia ingin sekali mengetahuinya…

"Perasaanmu tadi sudah cukup membuktikan bahwa kau peduli pada saudaraku. Kurasa, tak ada salahnya jika kuceritakan beberapa hal mengenai dirinya padamu," ucap Arashi sambil tersenyum lembut, membuat Sasuke balas menatapnya dengan lekat seakan tak percaya bahwa dirinya akan menceritakan tentang Naruto.

"Semua dimulai ketika aku mencari kayu bakar di hutan…"

-.-.-Flashback-.-.-

Arashi tengah menjelajahi hutan untuk mencari kayu bakar ketika matanya mendapati satu sosok yang tergeletak penuh darah dan kotor juga nyaris mati di bawah pohon rindang berdaun lebat. Tanpa pikir panjang, ia langsung membopong sosok tersebut lalu kembali ke gubuknya. Di sana, ia memeriksa kondisi sang remaja yang ternyata masih bernapas lalu mengobati luka-lukanya dengan seksama. Ia juga menyiapkan makanan dan minuman jika sosok itu terbangun nanti.

Setelah hari berlalu separuh, sosok itu membuka mata. Arashi langsung menghampirinya seraya menanyakan keadaannya. Ia bernapas sedikit lega saat anak itu menjawab dengan suara normal, bukan sakit dan tercekat. Ia juga mendapati nama anak itu. Uzumaki Naruto. Setelah itu, ia menyuruh Naruto untuk kembali beristirahat dan tidur. Pertanyaan-pertanyaan lain akan ia tanyakan saat kondisi sang Uzumaki pulih, yakni dua hari kemudian.

"Naruto, kau datang dari mana?"

"Dari Konoha," jawab Naruto, "Tetua desa menyuruhku pergi karena aku sama sekali tidak dibutuhkan di sana," tambahnya seraya mengunyah buah yang dikupaskan sang Mori.

Arashi menaikkan sebelah alis, "Kenapa begitu?"

"Karena aku berteman dengan siluman rubah berekor sembilan yang entah kenapa berpisah denganku setelah memasuki hutan ini. Aku juga tak bisa menggunakan chakra-ku di sini…" balas Naruto santai.

Pemuda berambut merah menyahuti, "Itu karena di hutan ini memang tidak bisa menggunakan chakra. Semua yang ada di dalam sini hanyalah manusia biasa. Ninja tidak akan bertahan lebih lama. Siluman temanmu pun pasti sudah menjadi rubah biasa yang menempati hutan,"

Sejenak, remaja Uzumaki yang mendengarnya berpikir. Ia tak sadar kalau giginya malah menggulum bibir bawahnya daripada buah jeruk di depannya. "… Apa aku… boleh tinggal di sini?" tanyanya ragu. "Aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal—lebih lagi desa. Jalan yang tersisa hanyalah mengungsi ke tempat lain—namun, aku tahu mereka akan menolak keberadaanku setelah mengetahui bahwa aku berteman dengan Kyuubi. Jika di tempat ini chakra memang tidak bekerja, bolehkah aku tinggal di sini?"

Arashi tersenyum, "Tentu saja, Naruto! Baru saja aku ingin mengajakmu tinggal bersamaku. Selama ini aku selalu sendiri, karena itu, aku akan senang jika bisa mempunyai saudara sepertimu,"

Untuk pertama kalinya semenjak diasingkan, Naruto tersenyum tulus. "Yoroshiku, Onii-san,"

"Namaku Mori Arashi, tapi aku senang kau memanggilku onii-san, Otoutou,"

-.-Interval-.-

"Ne, Nii-san, selama ini kau benar-benar hanya sendiri? Apa tidak ada keluargamu yang lain?"

"Kenapa memangnya?" tanya Arashi balik.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa, hanya saja, apa tidak merasa kesepian?"

Arashi tersenyum lembut, "Bohong kalau kubilang tidak kesepian. Dulu aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan adik perempuan. Namun, mereka semua meninggal karena penyakit yang tak bisa disembuhkan. Sepertinya dalam keluarga kami penyakit itu memang turun temurun, dan aku tahu kalau suatu hari nanti aku akan mati oleh penyakit yang sama,"

Dan sesuatu menyentak dinding hati Naruto. "Kau… juga akan meninggalkanku…?"

Mendengar itu, Arashi menepuk kepala pirang sang Uzumaki. "Semua orang akan pergi meninggalkan orang lain, Otoutou. Kau tidak perlu takut akan ditinggal sendirian karena kita semua akan berkumpul di suatu tempat dan bertemu lagi," lugasnya bijak.

"… Dengan Sasuke juga?"

"Sasuke?" Pemuda bermata hijau baru mendengar nama itu.

Naruto menatap Arashi sejenak sebelum melanjutkan. "Sewaktu masih menjadi shinobi Konoha, aku termasuk dalam satu tim, tim tujuh. Di dalam tim itu, ada tiga orang murid termasuk aku dan seorang guru. Kami menjalani misi bersama, hingga suatu hari Sasuke, rival dalam tim yang sama denganku, memutuskan untuk pergi dari desa demi mendapatkan kekuatan untuk membalas dendam atas kematian seluruh klannya kepada kakak kandungnya. Aku dan Sakura, teman setim yang seorang lagi, berusaha menghentikannya. Namun, kami gagal—bahkan tim yang dikerahkan untuk mengejarnya pun gagal. Sasuke berhasil keluar dari hidup kami…"

"Dan kau belum bertemu dengannya lagi?"

Naruto menggeleng, "Tiga tahun setelah kejadian itu, aku bertemu lagi dengannya. Tapi, karena aku masih terlalu lemah, aku tak bisa membawanya kembali. Yang kulakukan hanyalah menangisi kebodohanku sebelum kembali bangkit untuk latihan demi membawanya pulang. Dan kami bertemu untuk kedua kali saat tim tujuh lengkap. Aku dan Sasuke berjanji untuk bertarung satu lawan satu kapan saja. Saat itu, aku berkata padanya bahwa sungguh pun kami bertarung lalu sama-sama mati, setidaknya kami tidak akan mati sebagai Uchiha ataupun Jinchuuriki. Kami akan saling memahami dan pergi ke dunia sana tanpa menganggung beban apapun…"

"Naruto…"

Tertawa pahit, remaja berambut pirang itu melanjutkan, "Naif sekali ya? Padahal yang ingin kukatakan padanya bukan itu…"

"Apa yang ingin kau katakan padanya?"

"Aku… hingga saat ini, ingin mengatakan bahwa Sasuke adalah seseorang yang paling berharga bagiku. Aku ingin dia tahu bahwa apapun yang dilakukannya, seberapa salah maupun benar pilihannya, dia akan selalu menjadi yang paling penting untukku. Tidak peduli dengan keinginannya untuk membalas dendam, menghancurkan desa—bahkan membunuhku, Sasuke akan tetap menjadi Sasuke yang sangat kusayangi…"

Arashi mengelus helaian pirang sang Uzumaki seraya berkata, "Aku yakin, jika Sasuke itu mendengar ucapanmu sekarang, pasti dia akan menangis bahagia,"

Naruto nyengir kuda, "Itu mustahil, Nii-san! Sasuke tidak akan melakukan hal norak seperti itu! Dia terlalu cool untuk menunjukkan perasaannya padaku!"

"Oh, ya? Kita lihat saja nanti bagaimana reaksinya~"

Naruto mendengus, "Ya… kalau aku masih bisa bertemu dengannya. Setelah mengetahui keadaanku yang seperti ini, aku yakin bahkan ia tak mau melihatku…"

"Kau menyerah? Jangan, Otoutou! Selama kau tidak menyerah, apapun yang kau harapkan bisa terkabulkan!" seru Arashi sambil mengacak-acak rambut saudaranya; membuat remaja bermata sebiru langit itu kembali menunjukkan cengirannya.

"Kalau begitu, aku tidak akan menyerah! Aku akan berusaha mencari Sasuke lalu mengatakan isi hatiku! Kalau perlu, aku akan mengajaknya tinggal bersama kita di sini!" janjinya.

"Ide bagus, Otoutou!" sahut Arashi. "Dengan begitu, aku jadi punya dua adik! Ah, pasti menyenangkan!"

"Mungkin lebih tepatnya akan merepotkan, Nii-san~"

-.-.-End of Flashback-.-.-

"Selama tiga tahun, ia terus-terusan mencari keberadaan dirimu hingga mendapati dirinya terserang penyakit yang sama dengan keluargaku. Aku panik karena selama ini tidak pernah ada orang lain yang mengidap penyakit keturunan khusus itu. Aku mencoba mencari obat—bahkan meraciknya sendiri, namun, semua sia-sia. Naruto terlanjur melemah dan hanya bisa terbaring hingga ajal datang menjemputnya…" Arashi memejamkan mata mengingat kondisi saudaranya tempo itu. "Terakhir, sebelum dia menutup mata untuk selamanya, dia berkata ingin bertemu denganmu sekali lagi dan untuk selamanya… Aku hanya tak menyangka bahwa aku benar-benar akan menemukanmu seperti harapannya…"

Sasuke diam selama cerita berlangsung. Ia tak menunjukkan reaksi apa-apa dari semua yang sudah dikatakan sang Mori, kecuali… kecuali…

Aku… hingga saat ini, ingin mengatakan bahwa Sasuke adalah seseorang yang paling berharga bagiku. Aku ingin dia tahu bahwa apapun yang dilakukannya, seberapa salah maupun benar pilihannya, dia akan selalu menjadi yang paling penting untukku. Tidak peduli dengan keinginannya untuk membalas dendam, menghancurkan desa—bahkan membunuhku, Sasuke akan tetap menjadi Sasuke yang sangat kusayangi…

"Dan aku juga tak menyangka bahwa dugaanku setelah kau mendengar isi hatinya akan menjadi kenyataan," gumam Arashi dengan senyum lembut di bibirnya. "Itu… tangis bahagia 'kan, Sasuke?"

Uchiha Sasuke, keturunan terakhir Klan Uchiha, pembalas dendam sejati, buronan kelas satu sebagai kriminal kelas S, terdiam di depan seorang pemuda asing dan meneteskan airmata. Sesuatu yang bahkan takkan pernah disangka akan terjadi sebelumnya. Namun, ia tak bisa menahan perasaannya setelah mendengar kalimat itu. Naruto… selama ini Naruto selalu berpihak padanya… selalu menyayangi dan mempercayainya…

Kami-sama… sungguh berat dosanya! Kenapa tak lebih cepat Engkau menyadarkan dirinya? Kenapa… di saat semua sudah terlambat, barulah ia mengetahui segalanya… KENAPA?

"Naruto tidak pernah menyesal bertemu denganmu, Sasuke," Arashi menambahi lagi, "Satu-satunya penyesalan dalam dirinya adalah bahwa ia tak bisa bertemu denganmu untuk yang terakhir kali…"

Aku ingin… melihat Sasuke…

"Jadi, sebenarnya aku sudah tahu siapa kau sewaktu menemukanmu di hutan Timur," jelas sang Mori, "Aku hanya ingin tahu seperti apa orang yang sangat disayangi saudaraku itu…" Ia bangkit lalu berjalan ke arah buffet untuk mengambil satu pigura berhiaskan bunga di atasnya. Setelah itu, ia kembali ke tempat semula dan memperlihatkan benda tersebut kepada sang Uchiha. "Ini… foto terakhirnya…"

Mata oniks Sasuke yang masih basah oleh airmata perlahan bergerak untuk melihat gambar yang disodorkan padanya. Dan sedikit demi sedikit, kelopak matanya melebar saat mendapati tawa ceria matahari yang dirindukannya. Ah, betapa indah lengkungan itu di wajah kecoklatan sang sahabat! Bagai tiada penderitaan pernah menjamah, garis yang membentuk di sana menyiratkan kebahagiaan. Namun, ia lebih dari tahu bahwa langit biru yang bersinar itu menyimpan sejuta duka dan luka… yang lebih dari setengah disebabkan oleh dirinya.

"Foto ini diambil sewaktu kami ke desa sebelah untuk membeli suplai makanan," gumam Arashi merindukan masa-masa itu. "Aku tak pernah melihatnya sesenang itu saat kuajak keluar dari hutan ini. Pasti dia bosan hanya berdua denganku…" lirihnya sambil tersenyum sendu.

Sasuke meraih pigura itu dengan tangannya yang sedikit gemetar. Jemarinya mengelus bidang dingin tepat di atas gambar sang Uzumaki yang selama ini dirindukannya namun takkan lagi bisa diraihnya. Ia ingin bertemu dengan bola energi itu sekali lagi… ia ingin melihat senyum bodoh dan tawa riang orang itu sekali lagi… ia ingin mengenal Naruto sekali lagi dari awal…

Permintaan yang sia-sia… pengharapan yang hanya tinggal angan belaka… Selebihnya tinggal ingatan yang hanya bisa dikenang tanpa diwujudkan…

Semangat dalam hidupnya… hilang sama sekali.

Menghela napas panjang, Arashi menepuk pundak sang Uchiha dengan lembut. "Aku menganggapnya sebagai saudaraku sendiri, dan orang yang disayanginya pun akan kuanggap sebagai saudaraku,"

Sasuke menepis pelan tangan yang hinggap di pundaknya, dan Arashi mengerti maksudnya. Pemuda berambut merah itu beranjak dari tempatnya lalu mengambil cangkul. "Aku ada di ladang jika kau membutuhkan sesuatu, Sasuke, dan kuharap jangan lama-lama karena aku masih harus memeriksa lukamu," ucapnya sebelum pergi. Itulah yang dibutuhkan sang Uchiha saat ini. Momen kesendirian di mana hanya ada dirinya, penyesalan dan beban, serta ingatan akan Naruto.

Momen bersama sahabat.

Di ladang, Arashi menatap ke kejauhan. Hembusan angin pagi terasa sejuk menerpa wajah dan rambut merahnya. Warna hijau miliknya terpejam menikmati belaian bak seorang ibu yang menyayangi anaknya. Tubuhnya yang mengenakan kimono petani pun ikut merasakan ketenangan yang timbul karenanya. Sayang, hatinya perlahan remuk oleh dusta yang tiap saat dilontarkan pita tenggorokannya. Kebohongan yang menusuk sanubari akan sesuatu mengenai keberadaan seseorang.

"Aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan… Semua ini terlalu berat, Nii-san…"

Hanya angin yang mendengar dan melenyapkan kata-katanya. Hanya angin yang mengetahui kebenarannya. Lalu hutan… yang menyaksikan segalanya.

Waktu… terus berjalan.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Sudah beberapa hari kita berjalan di tempat yang sama. Dan. Kita. Tersesat. TERSESAT! YOOOSH! KESEMPATAN BAGUS UNTUK—aduh!"

"Ingat pelajaran sewaktu menjadi Genin? Hutan bukan tempat yang bersahabat, Lee!" Neji, yang menjitak kepala rekannya, menegur.

"Tapi Gai-sensei pasti menyarankan kita untuk memanfaatkan waktu dan situasi untuk berlatih!" protes Lee. "Di hutan ini, kita bisa bergerak dengan berlari kecil, 'kan?"

"Tidak semua orang sependapat dengan gaya latihan kalian, Lee," Chouji menyahuti, tidak suka jika pada akhirnya ia harus menatap matahari tenggelam dan ombak pantai yang mendesir tinggi membentur baru karang. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.

"Tapi bukan itu yang seharusnya kalian pikirkan," Shino tiba-tiba berkata dengan serius. Matanya yang ditutupi kacamata bulat hitam memandang sekitar hingga firasatnya terbukti benar. "Di hutan ini… chakra kita tak berfungsi," jelasnya, membuat keempat rekannya mulai melakukan hal yang sama.

"Benar. Aku sama sekali tidak bisa menggunakan chakra…" Neji bergumam sambil menatap tangannya yang tadi ia gunakan untuk mencoba mengeluarkan chakra. Pemuda Hyuuga itu pun mencoba mengaktifkan Byakugan-nya, dan mendapatkan hasil yang sama. "Bahkan Byakugan-ku pun tidak bisa digunakan meskipun sama sekali tidak membutuhkan chakra…" lirihnya.

"CHOU CHAKKA NO JUTSU!" Chouji mencoba jurus kupu-kupu chakra-nya. Namun, ia sama sekali tak bisa membuat sepercik chakra pun keluar dari dirinya. "Aku juga tak bisa…" bingungnya sebelum menatap temannya yang diam saja. "Kiba, kau bisa?"

Sang Inuzuka hanya mengangkat bahu sebelum membalas, "Kalau Shino bilang tidak bisa, untuk apa dicoba?" Kiba perlahan berjalan ke sebuah pohon. Kemudian, ia duduk di bawahnya dengan Akamaru sebagai sandarannya. Ia pun memejamkan mata sambil melipat tangan di depan dadanya. Tampak seperti sedang berpikir, tapi apa yang dikatakannya kemudian sama sekali jauh dari itu. "Putuskan apa yang setelah ini harus dilakukan. Aku menunggu di sini."

Chouji dan Shino menghela napas, sementara Neji menatap tajam shinobi pengguna anjing itu. "Sampai kapan kau akan terus seperti itu, Inuzuka? Kau bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya merajuk! Kau itu ninja Konoha!" tegur Neji tegas pada Kiba. Ia tak habis pikir mengenai sikap pemuda itu. Masa' hanya karena seorang teman pergi dari desa ia menjadi seperti itu? Tidak masuk akal!

"Neji, sudahlah," Lee mencoba menghentikan pertengkaran yang akan terjadi. Namun, ia lebih dari tahu bahwa sang Inuzuka takkan meladeni perkataan itu meskipun sang Hyuuga menyebutnya yang macam-macam.

"Misi kita sekarang adalah mencari dan menangkap Uchiha Sasuke, dan sebagai ketua, kuperintahkan kau untuk berhenti bersikap seperti Genin!" perintah Neji.

Suasana hening selama beberapa saat sebelum sang Inuzuka kembali berdiri dan mengajak Akamaru. Mata kecoklatannya tidak menatap siapa-siapa kecuali anjingnya itu sembari membalas, "Siap, Ketua," dengan nada datar.

Neji membuang muka sambil mendecak. Ia merasa percuma bicara dengan orang yang sudah kehilangan semangat hanya karena hal sepele. Ya. Dirinya, sang Hyuuga, menganggap kepergian Naruto sebagai sesuatu yang sepele. Kenapa? Semua karena penjelasan tetua Konoha yang berkata bahwa Naruto pergi atas kehendaknya sendiri dan desa tidak akan melabelinya dengan missing nin. Berbeda dengan kasus Uchiha tempo itu, kasus Naruto dianggap sebagai perjalanan jauh yang entah akan kembali atau tidak. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk merasa kehilangan. Toh, Naruto bisa kembali kapanpun anak itu mau, bukan? Tentu, kecuali ada sesuatu yang bersembunyi di balik kepergiannya, mungkin ia akan berpikiran lain.

"Bersemangatlah, Kawan! Setelah misi ini selesai, kita akan meminta pada Hokage-sama agar memberi izin untuk mencari Naruto-kun!" Lee berseru sambil membuat janji seusai misi. Dan benar, ucapannya membuat mata sang Inuzuka berkilat oleh sesuatu yang dalam. Pemuda berambut seperti mangkuk hitam itu mengangguk pasti menanggapi kilatan tersebut.

"Aku juga akan membantu!" Chouji menyahuti dengan yakin. Ia juga merasa bahwa tidak seharusnya Naruto pergi dari desa, dan ia percaya bahwa Shikamaru pun berpikir demikian. Sahabatnya itu justru memprediksi bahwa sang Uzumaki-lah yang akan menjadi Hokage keenam menggantikan Tsunade. Maka dari itu, ia sangat yakin kalau Shikamaru akan dengan senang hati mengizinkan mereka mencari matahari Konoha itu.

Kiba menatap Lee dan Chouji bergantian. Ia menyunggingkan cengiran kecil pada mereka, dan mereka balas dengan senyum yang sama karena itu adalah cengiran riang yang pertama kali mereka lihat semenjak misi berjalan. Setidaknya, Kiba merasa kalau ia sudah bisa sedikit kembali menjadi dirinya.

Sementara itu, Neji menghela napas panjang mendapati anggota timnya bertingkah seperti itu. Ia memijat pelipisnya untuk menghilangkan pusing yang dirasa kepalanya. Rupanya keberadaan Naruto memang berpengaruh besar tidak hanya bagi desa tapi juga orang-orang di dalamnya. Kalau begitu, kenapa mengizinkan Naruto pergi sejak awal kalau ia begitu berpengaruh? Sepertinya ia mulai mencium sesuatu yang ganjil.

"Neji," Shino menepuk pundak sang Hyuuga sambil menatap sosok dari kejauhan yang sepertinya berjalan ke arah mereka. Neji pun memberi isyarat pada ketiga anggota yang lain untuk bersiaga karena bisa jadi sosok itu adalah musuh. Mereka pun diam dan menanti sosok itu mendekat. Daun-daun kering yang bertebaran semakin menjauh bersamaan dengan sosok itu yang semakin mendekat. Dan ketika jarak antara tim Konoha dengan sosok itu tinggal sepuluh meter, penampilan serta perawakan seorang pemuda terpampang dengan jelas.

-.-.-TBC-.-.-

Chapter ketiga! XDD

Perhatian, Kyou sama sekali nggak salah ketik ya ketika Naruto menyebut Arashi 'nii-san' dan Arashi menyebut Naruto 'otoutou'. Mengerti?

Perasaan Sasuke dan Naruto terkuak tapi sayangnya mereka berdua nggak bisa saling memberitahu. Arashi mulai menunjukkan gelagat aneh. Tim Konoha tersesat di hutan yang sama dengan mereka. Selanjutnya… silakan tunggu chapter berikutnya~

Review review review? No flames, kay! ^^

_KIONKITCHEE_