Disclaimer: MasaNekoshi Kagamiyoishimoto dan ClaNekomp*ditendang*
Rating: T ga nih?apa aja boleh.X9
Pairing: Sasunaru, not Narusasu!..dan pairing-pairing lainnya.
Author's Note:
Apa kabar semuanyaa? *senyum2 geje* makasih buat yang ngeripiw..X3 saya sangat senang dengan ripiw-an kalian..*cup2 muah yang ngeripiw* *plaak*wkakkaa XD
Maap saya begitu lama taaakk meng-apdet.. XD kenapa? Karena eh karena, begini eh begini, saya sedang sibuk-sibuknya nonton video vocaloid.. *dibelah* tapi bneran! Saya tak mengerti dengan lagu-lagu dari satu komposer yang autis a.k.a PutinP! OhmaidogLen! Saya perlu mencari-cari dulu lirik dan berbagai situs lainnya hanya untuk mengerti arti dari lagunya itu.. APA-APAAN ITU? *plaak*
Bagi yang suka vocaloid juga diharapkan untuk tidak usah mengerti arti dari lagunya. Walaupun-lagulagunya-enak-untuk-didengar. Dx *kok jadi curcol gini?*
Bagi yang aga aneh dengan SaiSaku yang tiba-tiba itu, dimohon jangan melempar saya dulu. SaiSaku yang itu.. hehe, hehehehe~ untuk penjelasannya, silahkan baca sendiri di chap nanti-nanti. Kkkk*dtabok*
DAN! Seperti yang saya bilang dari awal, fic ini memang berdasarkan manga dan anime maha keren dan stress karya Clamp, CLAMP SCHOOL DETECTIVE.
Karena itu, dasar-dasarnya sama dengan CSD, tapi saya berusaha agar tak sama dengan ceritanya. :3
Warning: Shounen Ai, keGejean..garing krauk krauk
Italic : Shizune's talking
Normal : Shizune's narrative
Italic + Bold: Neko's talking
"…" talk
'..' think
This fic based on manga and anime,
"Clamp School Detective"
Clamp
*tapi ga semuanya sama kayak CSD,cuman gaya ceritanya hampir *
bwakakaka
~Prolouge Case 2~
Sand and Albino
Kagamiyo Neko
~Present~
Konoha School Detective
X
X
X
X
X
XxxxxxxxxxxX
Nyanyian burung-burung kecil yang indah terdengar dari pohon dekat kamar megah di kediaman Uchiha. Kondisi dari kediaman ini sendiri cukup tenang. Semuanya berjalan lancar sampai seorang penerus keluarga Uchiha ini ingin membangunkan tunangannya. Beginilah ceritanya, langsung saja ke TeeKaaPee…
"Naruto…"
"zzzz~"
"Nartuto…" (bukan salah ketik, memang Nartuto. Tertulis di naskah ini!)
"zzz~"
"Narushisuto*..."
"zzz~"
Alis hitam berkedut.
CHU!
"Gyaaaaaaaa!"
PLAK!
Burung-burung pun meninggalkan sarangnya, sebelum sarang mereka dihancurkan oleh dua sejoli yang dijalin pertarungan.
Pagi yang cerah, pembaca! Saya, Shizune, selaku narator dari Konoha School Detective ini mengucapkan salam pagi untuk kalian semua! Pagi hari ini -tak bosan-bosannya saya harus membaca skrip yang sama- terjadilah pertarungan suami-suami antara Uchiha Sasuke dengan Namikaze Naruto di kediaman Uchiha. Kenapa ada di kediaman Uchiha? Begini sebelumnya..
Xxxxx
Flashback…
^, l v =(chu!)
Selesai.
*author dikemplang Shizune*
Maaf… maaf… lagi-lagi pengarang itu sedang kumat penyakitnya, jadi tiba-tiba saja ia membaca naskah yang tidak mutu seperti tadi. Flashback sebenarnya...
"Naruto-chan…"
Mata biru langit menatap seorang wanita berambut hitam legam yang menyapanya. Air mukanya berubah cerah saat mengetahui wanita itu.
"Mikoto-san! Lama tak bertemu!" Naruto pun memeluk wanita itu dengan hangatnya.
Uchiha Mikoto, istri Uchiha Fugaku, seorang wanita hebat yang dapat mengalahkan suaminya bilamana suaminya mulai berbuat onar di perusahaan ataupun di rumah tangga. Wanita yang memegang kekuasaan bagian bisnis dan manajemen, elektronika, pangan, serta komputerisasi Uchiha Corporation. Sekarang, Mikoto adalah ibu mertua Namikaze Naruto, putra dari pasangan Namikaze Minato dan Namikaze Kushina.
"Iya, kita sudah lama tak bertemu ya Naru-chan. Kau bertambah manis saja. Beruntung sekali Sasuke memilikimu. Lalu Naru-chan..." Mikoto mengusap-usap rambut pirang Naruto dengan lembutnya. Naruto menatap Mikoto dengan wajah yang amat ceria.
"Ada apa, Mikoto-san?" tanya Naruto sambil tersenyum manis. Cukup untuk membuat Mikoto hampir mimisan.
"Jangan panggil aku dengan –san. Aku ini kan mertuamu. Panggil saja mama Mikoto, ya Naru-chan?" ucap Mikoto sambil tersenyum. Naruto pun menganguk kecil dan kembali menatap Mikoto.
"Mama Mikoto~!" panggil Naruto dengan senyum satu juta watt-nya. Mikoto hampir pingsan melihat kepolosan dan kemanisan menantunya yang satu ini.
Sungguh, bahagia sekali ia bila memiliki anak yang manis seperti Naruto. Tentu saja ia bahagia memiliki dua anak keturunan Uchiha, Itachi dan Sasuke. Tetapi kadang ia merasa dilema akan dua buah hatinya itu. Mungkin sebagai keturunan Uchiha, sifat kulkas dan tak ramah menurun kepada mereka berdua. Hanya Obito –paman Sasuke- sajalah yang tak memiliki sifat kulkas dan tak ramah Uchiha itu. Ah, coba saja Fugaku bersifat ceria dan semangat seperti Minato, pastilah anak-anaknya akan berwajah manis dan selalu tersenyum, pikir Mikoto.
(Tapi Mikoto, jika Fugaku, Sasuke ataupun Itachi tersenyum ceria ala Namikaze, apa kata dunia? Coba kalian pikirkan Fugaku, Sasuke dan Itachi tertawa seperti orang gila, berlari-lari, berteriak-teriak, bahkan berguling-guling sambil memakan ramen! Menakutkan, bukan!)
Coba saja ia memiliki anak seperti Naruto di kediaman Uchiha ini sebentar saja, pikir Mikoto.
…sebentar?
Mikoto menatap Naruto yang sekarang masih menatapnya dengan senyuman termanisnya itu. Sebuah ide yang amat bagus terpikirkan di benak Mikoto. Diusapnya lagi kepala Naruto dengan lembut. Naruto pun membalasnya dengan pelukan. Hangat sekali.
"Naru-chan..." Masih diusapnya kepala kuning Naruto.
"Ya, Mi-, ah, Mama Mikoto?" Mikoto pun memeluk pundak Naruto. Sangat erat. Lagi-lagi, firasat buruk menyelimuti benak Naruto yang polos. Ada yang aneh, pikir Naruto takut. Ditatapnya wajah Mikoto dengan pelan, sampai akhirnya mata hitam legam dan tajam ala Uchiha menatapnya dengan pandangan penuh makna. Bulu kuduk Naruto pun berdiri. Benar-benar ada yang aneh, sirine siaga lima insting uke tertindasnya pun berbunyi amat kencang di dalam hatinya.
"Naru-chan, menginap selama seminggu di rumah Uchiha yuk!" ucap Mikoto senang –dan sedikit memaksa-. Naruto hanya bisa membeku mendengar ajakan racun Mikoto.
Dalam hati, Naruto pun memantapkan hatinya, jika suatu hari ia merasa ada yang aneh lagi, ia akan kabur.
"Sasuke! Lepas!" Naruto memukul-mukulkan bantal putih empuk milik keluarga Uchiha ke kepala seorang penerus keluarga Uchiha, Uchiha Sasuke. Orang yang bersangkutan justru mengeratkan pelukannya ke tunangan imut-imutnya, Namikaze Naruto.
"Tidak mau," ujar Sasuke pelan sambil menghirup aroma citrus tunangannya.
Mungkin, karena tunangannya ini begitu menyukai warna orange maka semua baju miliknya (hampir) semuanya dominan warna orange. Jadi, jika tunangannya ini sedang kumat penyakit orangeitis kumaitis-nya, maka ia akan memakai segala atribut yang berwarna orange. Karena itu, berdasarkan insting posesif Sasuke, Sasuke selalu ada di sebelah Naruto untuk menghindari -bahkan membunuh kalau perlu- gelora kawanan P*rsija yang ingin menculik Naruto untuk dijadikan maskot mereka. (Tunggu sebentar, sejak kapan Pers*ja ada di Jepang, author debiill!)
"Lepaaasss! Kau itu pelecehan seksual! Nanti akan kuadukan ke komnas perlindungan wanita!" jerit Naruto kesal.
"Wanita? Jadi kau menyatakan kalau dirimu itu wanita, Naruto?" tanya Sasuke sambil menyeringai.
Wajah Naruto langsung memerah begitu menyadari kebodohannya. Dipukulnya lagi wajah Sasuke dengan jam weker yang tadinya berdiri polos di dekat tempat tidur itu. Seketika Sasuke menggeram kesal dan mencium Naruto. Naruto yang panik mencoba mendorong tubuh Sasuke. Tetapi tak berhasil. Sayang sekali, saudara Naruto. Silahkan nikmati serangan kenikmatan tujuh turunan dari turunan Uchiha itu.
"Hei, hei, kalau Naruto hamil bagaimana, Sasuke?" ucap seseorang dari arah pintu kamar. Menyadari ada yang menginterupsi kegiatannya, Sasuke melirik ke arah samping, asal suara orang itu. Disanalah, Uchiha Itachi, seorang makhluk Tuhan yang paling seksi, ah, bukan, pemuda berambut hitam yang berwajah mirip Sasuke berdiri.
"Aniki.." ujar Sasuke kesal. Itachi berjalan pelan ke tempat tidur dan berjongkok di dekat pasangan muda itu.
"Nee, Naruto. Nanti malam kau mau makan apa? Biar pelayan kami dapat menyiapkannya nanti sore. Kau kan tamu penting di sini. Jadi jangan malu-malu ya," Itachi tersenyum hangat menatap Naruto yang masih dalam pelukan tuan muda Uchiha.
"Ah, baiklah. Nanti saja aku bilang ke Sasuke. Se..sekarang yang penting aku harus lepas dulu dari si teme iniii!" Naruto dengan sigap menendang perut Sasuke dengan kerasnya dan segera berlari keluar dari kamar Sasuke itu. Itachi terkekeh kecil melihat adiknya yang –hampir- pingsan karena diserang tunangannya sendiri.
"Hei, Sasuke. Bangun. Kau tahu kan kalau tamu kita hari ini akan datang?" tanya Itachi sambil menggoyangkan Sasuke yang sekarang sedang meringis kesakitan.
"Tentu saja aku tahu… Si bocah pasir dan albino itu kan? Ukh… tendangannya mantap sekali…" keluh Sasuke sambil mengusap-usap perutnya. Ia masih bersyukur, tunangannya itu tidak menendang 'adik kecil'-nya yang terletak sekitar kurang lebih lima belas sentimeter di bawah perutnya. Jika ia menendang 'adik kecil'-nya itu, maka catatan masa depan bahagia nan sentosa Sasuke dan Naruto, yang biasanya ia catat dengan rapi di sebuah buku diari imut nan mesum, akan hancur berkeping-keping dalam sekejap.
"Yap, benar. Sepertinya lima menit lagi mereka datang. Tadi, bocah albino itu menelpon ke sini kalau ia akan datang lebih awal dari yang biasanya. Kalau tak salah, ia mengatakan ada hal yang penting yang mau dibicarakan denganmu…" jelas Itachi sambil tersenyum laknat.
"Lima menit lagi? Kenapa kau baru menjelaskannya sekarang! Aku belum mandi, Aniki baka!" Sang tuan termuda itu pun segera meloncat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi. Itachi hanya tersenyum sambil pergi dari kamar adiknya itu.
"Ngomong-ngomong kemana Naruto-chan ya?" gumam Itachi.
"Naruto?"
Mata biru langit mengerjapkan matanya beberapa kali dan memandang dua sosok yang dikenalnya. Mulutnya pun terbuka dan segera menghampiri mereka dengan kekuatan penuh.
"Gaaraaaa! Neejiiiii!"
Dengan semangat harakiri, Naruto pun melompat dengan sekuat tenaga lalu memeluk Gaara yang masih kaget dengan adanya lompatan yang indah dari sang Ketua OSIS itu. Karena tenaga Naruto yang sangat kuat, Gaara pun terlempar ke belakang bersamaan dengan mendaratnya Naruto di pelukannya. Bagaikan bola yang menggelinding, Naruto dan Gaara pun berguling-guling dengan cepat diiringi teriakan merdu pada ketukan ke-100/4 milik Gaara dan Naruto, hingga akhirnya mereka pun masuk ke kolam ikan milik Uchiha dengan gaya tenggelam yang indah.
Neji hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan… si kucing garong selalu mencari sasaran… main terkam.. main embat.. siapa yang lewa-*author diterkam Shizune* Ah… maaf. Ini kucing lagi dengerin trio Maman. Jadi tiba-tiba merebut mikrofon saya. Maafkan kami. LanjutGan!
"Dobe…" ujar seseorang di belakang Neji.
Neji yang menyadari siapa itu pun langsung berbalik dan mendapati tuan muda Uchiha yang tampan nan mesum itu. Ia pun tersenyum dan menatap kembali suara Naruto yang mengomel-omel menyalahkan adanya kolam di dekat pintu masuk kediaman Uchiha dan meneriakkan perintah kepada Iruka, bodyguardnya, yang sedang menghampirinya, agar memindahkan kolam itu ke taman belakang. Padahal yang sebetulnya salah itu dirinya sendiri… Hah, itulah keegoisan dari seorang Namikaze.
(Dimohon turunkan bola angin biru yang imut-imut bin amit-amit yang ada di tangan anda, Naruto-samaa!) "Untuk apa kau kesini?" tanya Sasuke langsung ke pemuda bermata krem itu.
"Fuh, aku tidak akan ke sini kalau aku tidak mempunyai masalah, Uchiha…" jawab Neji dengan nada kesal.
Walaupun mereka sudah bertengkar sedari kecil –yang biasanya disebabkan oleh ketidakpedulian Sasuke dan kekesalan Neji-, mereka tak ada bosan-bosannya untuk terus bertengkar. Karena itu, kalau sudah bertengkar terlalu parah, biasanya yang sampai membuat mata Neji menjadi putih dan rambut Sasuke menjadi hitam (memang dari lahir juga begitu, kucing bego!), mereka akan dipisahkan oleh kakak Sasuke tercinta, Itachi. Terkadang bukannya dipisahkan, Itachi justru menjadikan pertarungan hidup dan mati adiknya dan teman adiknya itu menjadi ajang perjudiannya dengan Deidara, 'teman tapi mesra'-nya.
"Lalu?" Pertanyaan singkat itulah yang membuat alis Neji berkedut dengan sempurna.
"Kau…! Ah, sudahlah, untuk hari ini saja aku tidak ingin bertengkar denganmu. Aku ingin berbicara berdua saja denganmu…" ujar Neji serius. Alis Sasuke terangkat pelan.
"Kau sekarang jadi suka padaku?" tanya Sasuke datar.
"BUKAN! Untuk apa aku suka padamu sementara aku memiliki Gaara yang begitu imut dan seksi ketimbang dirimu yang amit-amit dan tidak ada ekspresi! Lalu, kenapa arah pembicaraannya jadi ke sana, Uchiha brengsek!" teriak Neji penuh semangat. Sementara Sasuke hanya membalasnya dengan pidato terpanjangnya selama satu abad ini, "Hn". Sungguh panjang sekali pidatomu itu, nak Uchiha..
"Sasuukeee! Pindahkan kolam itu ke belakang sajaa!" Mata Sasuke yang tadinya menunjukkan kemalasan yang amat sangat langsung berubah begitu mendengar panggilan manja dari tunangannya, Naruto.
"Apa maksudmu, Naruto-cha-"
Sasuke rasanya ingin berteriak keras melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu. Naruto, yang tadinya masih memakai baju tidur putih-orange bergambar rubah, sekarang sekujur tubuhnya basah karena air kolam yang tadi ia masuki dengan anggun. Sehingga, baju tidurnya itu melekat erat di tubuhnya yang ramping. Kulit tan-nya yang seksi terlihat samar-samar. Dan tentu, bagian nipple Naruto serta bagian antara perut dan paha Naruto tak dilewatkan oleh Sasuke. Menyadari bahwa tubuhnya dilihat dengan tampang stoic namun mesum ala Sasuke Uchiha, Naruto pun langsung melempar pot bonsai yang ada di dekatnya ke arah Sasuke –yang akhirnya ditangkap juga oleh Sasuke-.
"Jadi… apa yang mau kau bicarakan?" tanya Sasuke sambil meneguk jus tomat yang dibuatkan Naruto.
Setelah acara pertarungan sengit antara Uchiha-Namikaze itu, akhirnya Naruto dan Gaara pun mandi bersama di pemandian air panas milik Uchiha. Ide mesum yang terlintas di otak Uchiha dan Hyuuga saat itu langsung dibatalkan karena adanya tuntutan Trikora, eh, tuntutan para uke yang menyatakan bahwa jika para seme mengintip para uke saat mandi, maka tidak ada pembagian jatah lahir dan batin selama seminggu. Tentu, daripada nantinya mereka akan frustasi tak diberi jatah dan frustasi karena tuntutan dari hormon mereka, maka dengan senyum dan sikap duduk manis, mereka mematuhi perintah masing-masing ukenya itu.
Setelah mandi, mereka pun membuatkan minuman kesukaan para seme mereka sebagai hadiah atas kepatuhan para seme itu. Lalu, Naruto mengajak Gaara untuk pergi membeli ramen sebagai persediaannya kala ia lapar (biasanya jangka waktu lapar Naruto adalah dua jam). Untuk itulah, Uchiha dan Hyuuga yang terhormat itu mengadakan konferensi meja kotak di ruang makan Uchiha.
"Aku, erm, bagaimana bicaranya ya… Aku…" Neji menggaruk-garuk pipinya yang pucat sambil tersipu malu. Alis Sasuke pun terangkat kembali.
"Tuh kan, kau mau menyatakan cinta padaku. Maafkan aku, Hyuuga, walau aku teman sejak kecilmu, aku tak bisa menerima cinta-…"
"SIAPA YANG MAU MENYATAKAN CINTA! Ehm, begini Uchiha…"
"Oh, begitu. Aku mengerti keadaanmu… Tapi cintaku ini milik Naru-"
"SIAPA YANG CINTA PADAMU? KUBUNUH KAU SAMPAI TUBUHMU TERPOTONG JADI DUABELAS BAGIAN, UCHIHAAA!"
"…lalu kau mau bicara apa?"
Mungkin jika penjagaan kediaman Uchiha tidak ketat sedemikian rupa, mungkin Neji akan langsung mengeluarkan samurai dari balik bajunya dan langsung memenggal kepala Uchiha itu dengan sadis sesuai dengan janji patih di dalam dirinya itu. Namun, demi menjaga nama baik keluarga Hyuuga dan menjaga kepalanya sendiri dari serangan bodyguard Sasuke, Kakashi, maka ia memendam keinginannya itu dalam hati.
"… dua hari lagi adalah Valentine kan?" Neji memandang tangannya yang pucat. Sasuke terdiam.
"Ka-"
"Lagi-lagi, sudah kubilang aku tidak mau memberikan coklat kepadamu, Uchiha brengsek. Kau minta dihajar, ya? Jawab pertanyaanku dengan serius!" Neji memotong omongan Sasuke sebelum Sasuke mengatakan hal-hal yang aneh.
"Hn… Valentine? Bukankah itu sudah lewat lima bulan lebih bukan? Sekarang saja sudah bulan Juli tahun 2010. Untuk apa membahas hari yang sudah le-"
"JANGAN MENGHITUNG WAKTU DARI MASA PENGARANG AUTIS ITU! HITUNG WAKTU DARI MASA CERITA INI! LAMA-LAMA KAU KUHAJAR JUGA, UCHIHAA!" potong Neji yang sudah hilang kesabaran. Sasuke menganguk pelan sambil memandang sinis Neji yang mengambil nafas panjang sambil mengatur nafasnya lagi.
"Hn. Ya, dua hari lagi. Lalu? Pokok permasalahannya apa? Lama sekali kau berbicara…" tanya Sasuke sambil menyeruput kembali jusnya. Dalam hati, Neji ingin mengumpat-umpat keras di depan tuan muda Uchiha itu seperti ini, 'Kalau dari tadi kau tidak berkata ngawur juga dari tadi masalah ini sudah selesai sedari tadi! Dasar Uchiha egois! Tak berekspresi! Otak mesum! Mata sipiiiit!'. (Err, sepertinya anda juga bermata sipit dan berotak mesum , Hyuuga-sama?)
"Hah… Baiklah. Begini, dalam dua hari ini, aku ingin memberi kejutan kepada Gaara. Sesuatu yang Gaara sukai, sesuatu yang amat sangat ia sukai. Aku ingin memberikannya bersamaan dengan ini…" ujar Neji panjang lebar sambil menaruh kotak hitam kecil di meja makan.
"…Itu cincin?" tanya Sasuke yang sepertinya sudah bosan mengusili bocah Hyuuga itu.
"Bukan, ini kantong Doraemon. Ya, tentu saja cincin pertunanganku dengannya, Uchiha… Nenek-nenek sedang makan rujak sambil kayang di depan sekolah juga tahu ini cincin." ujar Neji pelan diselingi senyum –yang menurutnya- terindahnya dari lubuk ususnya yang paling bawah.
"Wah, kupikir kau selamanya tidak akan melamarnya dilihat dari keegoisanmu…" ujar Sasuke tidak peduli. Tetapi, karena Neji mungkin imannya sudah kuat dan sering tawakal, maka sekarang ia menanggapi pernyataan aneh Uchiha itu dengan ke-masa bodoh-an.
"Ya…yah begitulah. Dan sekarang, kuminta kau, ah, bukan, OSIS Konoha High School, membantuku mencari apa yang selama ini Gaara inginkan. Waktunya dalam dua hari ini saja. Bagaimana? Apakah kalian, para OSIS dapat menyelesaikan kasus ini?" tanya Neji sambil tersenyum meremehkan. Sasuke balik tersenyum sinis sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Baik. Aku terima tantanganmu itu, Hyuuga Neji. Dalam dua hari ini, kami akan menemukannya. Akan kupastikan itu…" Sasuke pun berdiri lalu pergi meninggalkan Neji sendirian di ruang makan itu.
"Tantangan kepada OSIS?" tanya Naruto ketika esok pagi harinya di ruang OSIS Konoha High School.
"Hn. Tantangan dari Neji. Mau bagaimana pun aku harus menerimanya…" jawab Sasuke sambil menyamankan dirinya di kursi wakil ketua OSIS-nya.
"Jadi, tantangan dari Hyuuga-san adalah mencari tahu apa yang diinginkan Gaara dari dalam hatinya yang paling dalam ya? Susah juga kasus ini…" ujar Sai sambil menaruh tiga cangkir kopi ke meja kecil di dekat sofa.
"Tsk, tsk, tsk! Tidak ada yang tidak mungkin, Sai! Kita pasti bisa menemukannya! Siapa bilang tidak bisa!" ucap Naruto terlalu percaya diri.
"Iya ya. Kita harus percaya diri terlebih dahulu…" Sai pun tersenyum najis ke arah Naruto. Lagi-lagi, tak disadari oleh mereka berdua, kalau ada sepasang mata death glare yang mengamati gerak-gerik Sai dari kursi wakil ketua OSIS.
"Ah! Sai! Tadi aku bertemu dengan Sakura-chan! Dia menitipkan salam padamu! Yang kubingungkan wajah Sakura-chan terlihat malu-malu. Ada apa ya? Apa dia demam?" ujar Naruto heran sambil mengusap-usap dagunya. Sasuke mengangkat alisnya pelan.
"Hm… Begitu ya? Kalau begitu aku harus menitipkan salam untuknya juga. Tak baik membuat seorang gadis yang amat cantik seperti itu mengucapkan salam terlebih dahulu pada seorang pria," Sai masih tersenyum najis.
"Hee~? Kenapa wajahmu juga memerah, Sai? Apa kau sakit juga?" tanya Naruto sambil menempelkan jidatnya ke jidat Sai.
Tiba-tiba, ada sebuah buku jurnal keuangan yang terlempar keras tepat di antara Sai dan Naruto dan sampai membuat sebuah lubang yang sesuai dengan ukuran buku jurnal yang terlempar itu. Sai pun meneguk air liurnya sendiri.
'Hukum alam Uchiha kembali hadir~,' pikir Sai yang sekarang berpikir untuk langsung kabur dan mempersiapkan peralatan siaga dua dari serangan hukum alam Uchiha.
"Sasuke! Apa-apaan kau ini! Gara-gara kau temboknya jadi berlubang! Kau kenapa sih!" Naruto segera melepaskan dirinya dari Sai lalu berjalan ke arah Sasuke sambil memarahinya. Sai yang masih terpaku mulai mengkondisikan dirinya dalam siaga empat, mengingat mood tuan muda Uchiha sedang tidak baik untuk saat ini.
"Erm, Naruto-chan… Sepertinya aku ingat ada urusan bersama nenek tukang urut di sebelah. Ja, jadi, AKU PERGI DULU! JAA!"
Secepat kilat, Sai langsung kabur dari ruang OSIS yang kini memasuki siaga lima. Ia berharap tidak ada monster zombie yang mengejarnya dengan nafsu karena mengikuti titah baginda Uchiha.
"Tukang u- KYAAAA! SASUKE! LEPAAASS!"
Belum sempat Naruto membebaskan diri dari jeratan maut Uchiha, ia sudah dimasukkan –secara paksa- oleh Sasuke ke ruang istirahat ruang OSIS. Selamat menikmati hidangannya, Sasuke-sama! Nanti saya buatkan nasi merah untuk kalian! x9 (Saya peringatkan untuk tidak melempar bola biru-biru yang imut bin amit itu lagi ke arah saya, NARUTOO-SAMAA! Yang menulis skrip bukan sayaa!)
Nah, apakah dalam dua hari itu para Konoha Detective School kita itu dapat menemukan apa yang diinginkan oleh pemuda berambut merah itu? Kita saksikan kelanjutannya dalam acara Neko van Java! Yaaee! X9 Mata nee~! chu~ chu~*Shizune menggiles kucing amit-amit dengan papan gilesan di rumah kucing*
To Be Continued…
*Narushisuto: cara baca orang Jepang dari bahasa Inggris, Narcist. ^^; Mungkinkah Kishimoto-sensei memakai 'Narushisuto' untuk nama 'Naruto'? XD;;
Author's note: Huuee.. bener-bener epic fail.. ;_; sumpah, saya membacanya sendiri saja dari atas sampai ke bawah saya merasa tidak ada yang lucu. Maaf, maaf… lama tak kembali ke fandom Naruto humor saya jadi menghilang. Hiks… maafkan saya. Yah, mau suka ataupun tidak suka silahkan review~
P.S (tolong dibaca):3: ah iya, sebelumnya saya mau bertanya, apakah di chapter depan kalian mau membaca chapter spesial mengenai Kyuubi atau lanjutan dari chapter ini? Saya menunggu jawaban kalian~ bisa lewat PM ataupun review ini. Sankyu na…
