Title : Run, Ino! Run!
Author : Kazuki Fernandes
Genre : Sci-fi, Crime
Main charas : Ino. Y, Shion
Rating : M (For gore or anything in the next chap XD)
Summary : Keluarga Yamanaka dibantai seseorang tak dikenal saat tengah malam. Ino yang mendengar suara teriakan dari bawah segera membawa adiknya pergi. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Disclaimer :- Naruto belong to Masashi Kishimoto
- Run, Ino! Run! belong to Kazuki Fernandes
Warning : Typo, OOC, AU, etc
Chapter 3-Family's Secret part 2
Ino's POV
Panas, rasanya sangat panas. Seluruh tubuhku… rasanya terbakar. Ini menyakitkan, benar-benar menyakitkan. Sesak, aku… tak bisa bergerak, apa yang sedang terjadi pada tubuhku?
"Arrghh…!"
Aku tak bisa menahan diriku untuk tak berteriak, ini sangat menyakitkan. Aku tak sanggup menahannya lebih lama lagi, tapi semua ini demi melindungi Shion. Kuatkan dirimu, Ino!
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan pada kakakku?!" samar-samar aku bisa mendengar teriakan Shion, apa dia sangat mengkhawatirkanku?
"Ghh..!"
Seluruh tubuhku bergerak, berusaha terus memberontak. Tetap saja tak bisa bergerak. Aku bisa merasakan ada yang berbeda didalam tubuhku, rasa panas dan menyakitkan yang menjalar didalam setiap aliran darah mulai menyatu dengan tubuhku –ini tetap menyakitkan, tapi aku mulai bisa beradaptasi dengannya. Sel-sel tubuhku terasa bergerak lebih cepat, bisa kurasakan juga detak jantung dan denyut nadiku yang mulai menggila, apa serumnya mulai bereaksi? Apa… tubuhku akan menerimanya?
"Apa serumnya bekerja?" sangat lirih, tapi aku masih bisa mendengar suara seorang pria menanyakan itu entah pada siapa. Suaranya terdengar tak asing, mungkinkah… pria bernama Nagato itu?
"Belum bisa dipastikan, tapi sampai saat ini tubuhnya masih menolak.." sahut suara lain.
Aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat, sebelum telapak tangan seseorang menahan dadaku –membuat rontaanku sedikit tertahan dan suara sebelumnya kembali terdengar, "Kau melakukan ini untuk adikmu, bukan? Untuk keluargamu. Jangan menolaknya, biarkan tubuhmu menerimanya. Jika kau menolaknya, kau akan mati.." ia berbisik ditelingaku.
Sontak saja seluruh tubuhku menegang. Aku tak ingin mati, aku tahu apa yang akan terjadi pada Shion jika aku mati. Mereka akan menjadikannya penggantiku…
Akhirnya sembari mengatur nafas, aku berusaha berkonsentrasi dan melupakan rasa sakitnya sejenak. Kedua tanganku mengepal erat, lalu perlahan detak jantungku mulai kembali normal, tapi panas itu tak kunjung berkurang.. merasuk setiap inci tubuhku.
End of Ino's POV
Perlahan tapi pasti, tubuh Ino yang tadinya terus memberontak kini mulai tenang setelah mendapat bisikan dari Nagato, para dokter pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Percobaan kembali dilanjutkan saat tubuh Ino sepenuhnya menerima cairan kedua, salah satu dokter disana mengambil botol berisi cairan ketiga dan menyuntikkan cairan berwarna biru gelap itu ke lengan Ino.
10 detik…
30 detik…
1 menit…
Tak terjadi apapun.
"Ada apa? Kenapa tak terjadi apapun?" tanya Shion panik.
"Tidak, belum waktunya.." Nagato menatap jam tangannya hingga empat menit selanjutnya, dan..
"Arrrghhh!" tubuh Ino kembali memberontak.
"Kakak...!" Nagato menarik mundur Shion yang berniat menghampiri sang kakak dan menahannya untuk tetap melihat dari jauh,"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
"Tidak! Kakakmu akan lebih baik jika kau tak menganggunya. Mengertilah tujuannya melakukan ini!"
"Tapi kak Ino…" Shion mengepalkan tangannya dengan erat, berusaha menahan tangisnya.
Nagato menghela nafas, "Aku akan membawamu keluar dari ruangan ini jika kau tetap tak mendengarkanku."
Dan ancaman itu rupanya berhasil. Meski kekhawatiran masih terpancar jelas di wajah Shion, namun gadis pirang itu berusaha tetap diam.
-K-A-Y-
Tiga hari berlalu dan masih belum ada tanda Ino akan sadar sejak penyuntikan serum terakhir. Semuanya normal, hanya saja ia tetap tak sadarkan diri; entah akibat kelelahan fisik dan mental ataukah efek samping dari semua cairan kimia yang memasuki tubuhnya. Dalam tiga hari itu juga Shion menolak untuk keluar dari ruangan bahkan tak berminat untuk menyantap makanan yang diberikan Nagato padanya, kedua irisnya hanya menatap kosong sang kakak yang masih terbaring disana.
"Kakak, kumohon, sadarlah… sadarlah…" gadis muda itu melangkah dengan sedikit limbung kearah ranjang tempat sang kakak terbaring. Namun semua sama saja, tak ada reaksi. Hanya tekanan jantung yang terus naik dan turun tak teratur.
"Shion-san…"
Shion menoleh dengan malas, lagi-lagi Nagato mendatanginya.
"Bagaimanapun juga akhirnya kau tetap harus makan!" tangan besar itu menarik lengan Shion yang tak lagi bertenaga.
"Tidak… aku harus bersama Ino."
"Tak ada yang tahu kapan kakakmu akan sadar. Apa kau ingin saat ia terbangun dan kau justru mati kelaparan?! Menurutmu apa yang akan kakakmu lakukan pada kami?!"
Shion terdiam. Dengan pasrah ia mengikuti Nagato memasuki lift, menuju restoran yang berada satu lantai dibawah mereka. Keduanya duduk dimeja paling pojok, bagaimanapun juga ini restoran bintang tiga –dan melihat keadaan Shion, sebenarnya ada kemungkinan agak mengganggu pelanggan lain. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun juga merekalah yang sudah membuat kedua gadis itu jadi seperti ini. Ditambah lagi Deidara dulunya adalah seorang yang sangat diandalkan oleh mereka.
Pria merah itu memesan beberapa makanan yang disantap dengan cepat oleh Shion begitu berada dihadapannya. Entah memang lapar atau hanya ingin segera kembali pada sang kakak.
"Pelan-pelan, kau akan tersedak."
Acuh, Shion terus saja menyantap makanan dan minumannya hingga tandas. Lalu tanpa ucapan terimakasih, gadis 16 tahun itu bergegas berlari kembali ke lift, bahkan tanpa menoleh sekalipun. Nagato memanggilnya berkali-kali namun gadis itu sudah menghilang dibalik pintu lift.
"Sial!"
-K-A-Y-
Didalam ruangan yang terasa sedikit hangat, Ino tak bisa mendengar apapun lagi. Padahal beberapa saat lalu baru saja ia mendengar suara samar dari Shion. Rasanya ia ingin sekali membuka matanya, namun apa yang sebenarnya menahannya?
'Shion…' kenapa? Kenapa ia tak bisa mengeluarkan suaranya?
'Kakak…?' lagi-lagi ia bergumam dalam hatinya. Rasanya ada yang salah, benar-benar salah…
Tap!
Tubuhnya sedikit menegang saat mendengar sebuah langkah kaki disana.
Tap. Tap.
Ah, apa ini? Mereka mendekati gadis yang bahkan tak bisa membuka matanya itu. Dua orang bertopeng dengan pistol pada masing-masing tangan mereka kini tengah mendekati Ino dengan perlahan. Sedangkan didalam kepalanya Ino sendiri tengah memaksa dirinya untuk bangkit, namun tetap nihil.
'Brengsek!'
"Bos kita benar-benar konyol! Bagaimana bisa memerintahkan sampai dua orang hanya untuk menghabisi seorang gadis sekarat?" bisik yang seorang pada yang lainnya.
Namun yang diajak bicara hanya mengedikkan bahu sebelum menyahut, "Dilihat dari manapun, ini bukan rumah sakit. Jadi untuk apa menyembunyikan 'orang sekarat biasa' ditempat seperti jika dia bukan orang berbahaya, huh?!"
Keduanya hanya berbisik pelan, namun bagaimanapun juga pendengaran Ino terasa lebih tajam dari biasanya. Siapa yang berniat membunuhnya? Suruhan orang yang membunuh orangtua dan kakaknya kah? Lalu bagaimana dengan Shion? Bagaimana dengannya? Apa yang terjadi jika Ino tak ada didekatnya?
Tit! Tit! Titttttt..!
Mesin yang terhubung ditubuh Ino berbunyi nyaring, detak jantungnya menguat, begitu juga dengan tekanan darahnya. Gadis itu terbangun tiba-tiba seolah ia baru saja disuntik adrenalin. Kedua tangan dan tubuhnya yang dipenuhi kabel dan selang terputus begitu saja saat dengan refleks ia berbalik dan menendang kedua pria yang berniat membunuhnya hingga keduanya tak sadarkan diri. Namun beberapa saat kemudian ia justru terjatuh dengan nafas terengah dan keringat dingin bercucuran dari wajah dan tubuhnya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan rasa sakit yang tadinya sempat hilang muncul kembali hingga dua kali lipatnya. Seharusnya ia tak memaksakan dirinya sampai separah ini, dan akhirnya semua kembali gelap.
Drap! Drap! Drap!
Beberapa anggota Akatsuki berlari menerobos ruang tempat Ino dirawat setelah mendengar bunyi tak wajar dari mesin-mesin mereka. Dan semuanya terheyak saat melihat keadaan disana, dua orang bertopeng dan Ino yang sama-sama tak sadarkan diri. Dengan segera salah satu dari mereka menghubungi Nagato dan beberapa lainnya mengangkat Ino kembali serta menangkap dua orang lainnya.
…
"Ino…! Ino…!"
Gadis pirang di pembaringan itu tersentak. Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia bisa melihat bayang samar dari sosok yang tampak familiar.
"Ino, dimana kau?"
Ah, itu suara ibunya. Ia bahkan melihat bayangan sang ibu menggendong Shion yang masih kecil. Raut wajahnya tampak khawatir. Apa ibu…. mencarinya?
'Ibu! Ibu, aku disini!' ia berteriak dalam hatinya, namun tak ada sahutan. Begitu juga saat ia memanggil sang ayah dan kakak yang baru saja muncul. Apa ini? Apakah ini…. ingatan masa kecilnya? Kapan?
"Ino, sudah ayah katakan berapa kali, jangan keluar rumah! Ayah sudah membelikanmu banyak mainan."
"T-tapi aku hanya ingin berteman…"
"Cih! Harusnya kau sadar, kau itu berbahaya, Ino!" kakaknya berteriak menyahuti alasan sang gadis kecil. Ino tak mengerti bagaimana sikap kakaknya bisa seperti itu dan bagaimana ia bisa lupa akan kejadian itu.
"Deidara jangan berkata seperti itu…" nasehat sang ibu seraya menepuk pelan kepala pirang sang putera sulung, "Ino-chan, sayang, apa yang kakakmu katakan memang kasar… tapi itu memang benar. Ini kesalahan ayah dan ibu. Tapi tenang saja, proyek kami akan selesai sebentar lagi, dan mulai saat itu kau akan bebas bermain dan berteman dengan siapa saja~!"
Air mata mulai menggenang dipelupuk mata Ino,'Apa maksudmu dengan itu ibu? Apa yang salah dengan-'
"Arrrghhhhhh….!" erangan kesakitan kembali terdengan dari sang dara. Tanpa diperintah, kedua tangannya bergerak, menggenggam erat kepala yang terasa sangat sakit.
"Kakak! Kakak, ada ada denganmu?" teriak Shion panik, "kenapa tak membantunya?! Tolong kakakku, kumohon…!" air mata mengalir deras dari sang adik. Apa yang sebenarnya mereka perbuat pada kakaknya?
Pats!
Ino terbangun tiba-tiba dengan tatapan kosong, hanya sesaat, sebelum kemudian pupil mata gadis itu membesar saat ia menatap para anggota Akatsuki. Tatapan yang tadinya kosong, kini berubah menjadi tajam sebelum ia melompat turun dari ranjang dan menghajar salah satu orang disana.
"Penghianat! Aku akan membunuhmu! PENGHIANAT!" ia terus meninju wajah orang tersebut. Beberapa anggota lain berusaha menghentikan, namun Ino terlalu kuat.
…
"Kakak…" Shion menutup mulutnya dengan kedua tangan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ino? Kakaknya memang bertambah kuat, namun juga menjadi aneh disaat bersamaan.
"Hentikan dia!" perintah Nagato pada para anak buahnya.
Semua mengangguk dan kembali berusaha menangkap gadis itu, kali ini secara bersamaan. Dan mereka berhasil.
"Lepaskan aku! Brengsek, lepaskan aku! Arrrghhhh…!" tubuh mungil yang mulai tak bertenaga itu mulai meluncur kelantai, terlepas dari genggaman tangan-tangan besar mereka.
Kali ini Nagato memerintahkan untuk memborgolnya diranjang, untuk berjaga jika hal seperti ini terulang lagi saat Ino sadar nanti. Pria yang sudah tak sadarkan diri akibat hajaran sang gadis juga telah dibawa menuju ruang interogasi.
-K-A-Y-
Brakk!
Shion menggebrak meja,
"Jelaskan padaku kenapa kakakku bersikap seperti tadi?! Apa yang sebenarnya kalian rencananya pada kami?!"
"Kami sendiri juga tak tahu apa yang terjadi, Shion-san. Mungkin saja itu ada hubungannya dengan dua orang yang ditemukan dikamar kakakmu sebelumnya, atau bisa juga…" Nagato menghela nafas, "dia berhalusinasi. Kami sendiri belum yakin efek samping dari obat itu, itu adalah penemuan orangtua kalian…"
"Hah?" Shion tertawa sarkastik, "Tidak tahu…? Apa kalian sudah gila, melakukan percobaan tanpa tahu efek sampingnya?!" kedua tangannya menarik kerah depan Nagato dan menariknya.
"Kumohon, tenanglah, Shion-san…"
"Tenang? Sadarkan kakakku! Dan aku akan tenang." Shion berjalan tergesa, kembali kekamar kakaknya.
Sedangkan Nagato yang masih menatap punggung Shion beralih pada ponsel ditangannya, berbicara sebentar pada seseorang diseberang dan menutup sambungan teleponnya.
-K-A-Y-
Ino's POV
"Ino? Ino? Buka matamu, Ino!" lagi-lagi suara itu… ibu? ayah? Deidara? Kenapa kalian terus memanggilku? Kenapa kalian terus memaksaku membuka mata? Aku lelah ayah, ibu…
"Jangan manja, Ino! Sudah kubilang kau itu berbahaya! Dan sekarang kau terbaring disana? Apa kau sudah menyerah?!"
Kakak, kenapa kau terus mengataiku berbahaya? Aku tak pernah menyakiti siapapun…
"Ino-chan, jangan dengarkan kakakmu. Ingatlah, yang terpenting bukanlah berbahaya tidaknya dirimu, tapi gunakan kemampuanmu untuk melindungi apa yang berharga untukmu… adikmu."
Tapi aku lelah, ibu… aku ingin bersama kalian… kumohon bawa aku…
Dan tanpa kusadari pipiku mulai terasa hangat.
"Ino, ayah tahu kau mungkin tak mengingat apa yang bisa dan pernah kau lakukan sebelumnya. Tapi semua ingatan itu akan kembali saat dibutuhkan, bersiaplah untuk itu."
Aku tidak bisa, aku tidak bisa menunggu lagi. Kenapa kalian sama sekali tak mempedulikan perasaanku?!
"Kami mengerti, Ino-chan. Kami sangat mengerti. Tapi… apakah kau sudah lupa alasanmu pergi sejauh ini? Apa menurutmu jika kau mengikuti kami maka kau akan bahagia? Bagaimana dengan adikmu? Kalian berdua masih memiliki masa depan."
"Berjuanglah, Ino!"
"Kita akan berkumpul lagi saat tiba waktunya, tapi bukan sekarang."
Uhh… huhu… uh.. hiks hiks
Aku… akan… bangun!
End of Ino's POV
Shion baru saja berniat mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi kakaknya saat tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh mata kakaknya yang terbuka lebar. Ino terlihat sedikit linglung sesaat setelah ia sadar, tampak berusaha mengingat dimana sebenarnya ia terbaring. Dan air mata mengalir makin deras saat kedua irisnya mendapati sang adik yang masih terbelalak, "Shion…"
"Kakak…" Shion makin terperangah beberapa saat sebelum memeluk Ino dengan erat, "akhirnya kau sadar!"
To be continued…
A/N:
Halo semuanya~! Masih adakah yang ingat dengan Kay dan ff "Run, Ino! Run!" disini?
Jadi… Kay benar-benar minta maaf pada semua reader sekalian karena nggak bisa menepati janji buat update 2 minggu sekali. There was so much things I couldn't handled mulai dari adaptor laptop rusak, laptop kena virus, WB karena kebanyakan nonton anime & main otome game, sempet blank juga sama kelanjutan ceritanya, sampai sakit lebih seminggu T_T and I'm reaaaalllyyy sorrryyy for that, everyone u_u
Kay cuma berharap masih ada yang ingat sama fanfic ini.
Kay juga minta maaf karena chapter ini lebih pendek dari yang sebelumnya deh rasanya, Kay mau cepet-cepet update soalnya.
Ah ya, berikut balasan review untuk yang nggak login di chapter sebelumnya…
Ly Yukiyo: Hai Yukiyo-san~ sebelumnya, thanks buat review-nya yaa~
Soal Ino yang disuntik apa… detail-nya masih rahasia ya ;) Soal bahan percobaan Akatsuki itu, bisa iya bisa tidak lol. Lalu… soal bagaimana Ino bisa tahu apa yang harus dilakukan dan juga masa lalu Deidara akan diceritakan di chapter-chapter berikutnya hehe…
Chap 3 udah update yah, maaf pendek hiks T_T btw, Kay justru sukaa review panjang begini loh!
Ah, jangan lupa buat RnR, favorite & follow juga ya~
Silakan berikan saran kalau menurut kalian ff Kay banyak kekurangan ya ^^v
See you on the next chapter ^^/
