Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Yaoi, gaje, OOC, M-preg (mgkn) dan hal-hal lainnya.

Pairing: NaruxSasu

Rating: M for Mature and Sexual content


My Wife And My Son

.

.

(Part 3)

Hi, Dobe, She's my wife


Apa kalian pernah merasa seperti dituduh selingkuh padahal tidak melakukan apapun? Yup! Itulah yang dirasakan Naruto sekarang. Cowok blonde itu duduk dengan gugup diantara dua cowok yang saling memandang dengan aliran listrik dimata mereka. Naruto melirik Gaara yang duduk disebelah kanannya, cowok berambut merah itu diam memandang Naruto sedangkan Sasuke yang berada disebelah kiri Naruto, menatap cowok pirang itu dengan kesal.

Didepan mereka, dua buah buku tergeletak begitu saja diatas meja. Buku fisika kuantum dan trigonometri. Naruto meneguk ludahnya susah payah.

"Jadi..." Gaara membuka suara, "Kau mau belajar apa dulu, Naruto?"

Sasuke mendengus tidak suka, "Naruto harus belajar fisika kuantum."

Gaara memandang Sasuke diam, "Tidak, dia harus belajar trigonometri."

Kemudian aliran listrik saling memancar dari mata Sasuke dan mata Gaara membuat ledakan fenomenal sepanjang sejarah Jepang. Well, itu memang terlalu berlebihan, tapi itulah yang dirasakan Naruto sekarang. Bahkan cowok pirang itu merasa ruang kamarnya agak panas hari ini, padahal AC sudah menyala dengan suhu dingin yang paling full.

Naruto tertawa panik, "Ha...ha..ha... Bi...Bisakah kita menonton TV saj-"

"Tidak!" Jawab Gaara dan Sasuke barengan. Naruto meneguk sekali lagi liurnya. Kalau ini komik-komik drama percintaan dan sinetron remaja ababil mungkin sekarang mereka berdua sudah jambak-jambakan rambut untuk memperebutkan Naruto. Tapi ini dunia nyata! Dan Naruto tidak tahu harus melakukan apa! Terlebih lagi yang diperebutkan disini adalah mata pelajaran apa yang dipelajari duluan?! SEE?! Tidak masuk akal!

Pertarungan sengit Gaara versus Sasuke dimulai sejak Gaara bertamu kerumah Naruto, 20 menit yang lalu.

.

_FlashBack_

Gaara tersenyum didepan pintu rumah Naruto, sedangkan Sasuke yang membuka'kan pintu hanya terdiam melihat cowok itu malam-malam begini ke rumahnya. Sasuke menyenderkan tubuhnya diambang pintu.

"Ada apa?" Tanya Sasuke dengan nada dingin. Gaara diam sebentar lalu menarik sebuah buku trigonometri dari tas miliknya.

"Besok ada ujian trigonometri. Jadi kami akan belajar bersama." Kata Gaara lagi dengan wajah tanpa ekspresi. Sasuke mengerutkan keningnya.

"Naruto tidak bilang kalian akan belajar bersama." Tanya Sasuke bingung. Gaara menyunggingkan senyuman.

"Kami selalu belajar bersama kalau ada ujian, jadi ini hal yang biasa." Sahut Gaara, sambil masuk ke rumah, "Naruto diatas'kan? Aku akan ke kamarnya."

"Tunggu." Sasuke menarik lengan Gaara, "Kau tidak punya hak untuk masuk ke kamarnya."

Gaara melepaskan pegangan Sasuke dari lengannya, "Aku sudah biasa kekamarnya, lagipula kami sering tidur bersama." Sahut cowok bertatto 'Ai' itu. Sebenarnya sih untuk soal tidur bersama itu, saat waktu SD, tapi dia tidak mau memberitahu cowok rambut raven dihadapannya ini. Dan itu cukup membuat Sasuke tersentak kaget saat Gaara bilang dia sering tidur bersama dengan Naruto. Gaara membiarkan Sasuke yang masih berpikir keras dengan pikirannya sendiri, cowok berambut merah itu lebih memilih bergerak menuju lantai dua.

-Cklek- Pintu kamar dibuka. Gaara mengedarkan pandangannya. Ranjang kecil berada di pojokan kamar, Gaara menebak, pasti ranjang untuk Ramen dan memang, anak kecil itu sedang tidur disana, kemudian mata Gaara beralih ke buntalan selimut yang terlihat bergerak-gerak disisi kamar. Gaara tersenyum, dia yakin Naruto bersembunyi di dalam selimut, meringkuk difutonnya yang empuk.

Cowok berambut merah tadi bergerak menuju Naruto lalu ikut masuk ke dalam selimut, "Hei..." Bisik Gaara pelan tapi sanggup membuat Naruto terkejut.

"Ke..Kenapa kau bisa disini?" Tanya Naruto bingung, cowok pirang itu berusaha membuka selimutnya tetapi ditahan Gaara. Sepertinya cowok bertatto itu lebih 'nyaman' berdua dalam selimut dengan Naruto.

"Aku mau mengajarimu trigonometri." Kata Gaara lagi. Naruto diam, well, sesungguhnya ini momen teraneh, lebih aneh dibandingkan saat Sasuke membawa Ramen dan mengumumkan keseluruh kelas kalau dia adalah 'Istri' Sasuke. Tapi sungguh! Ini benar-benar aneh! Mana ada orang yang mau belajar di dalam selimut?!

"EHEM!" Suara Sasuke membuat Naruto melonjak kaget dan segera membuka selimutnya. Naruto tertawa kering.

"Ha..ha... I..Ini... Uhm.. Trigonometri." Kata Naruto yang hanya mendapat dengusan Sasuke. Cowok raven itu melangkah ke lemari buku dan mengambil diktat Fisika kuantum.

Sasuke berbalik ke arah Naruto. "Kita akan mengerjakan PR fisika kuantum."

_End of Flashback_

.

Jadi begitulah, saat ini Naruto terjebak dengan dua buku yang paling dibencinya. Kalau Gaara dan Sasuke meminta Naruto untuk memilih buku mana yang dibakar duluan pasti akan di jawab Naruto dengan 'BAKAR DUA-DUANYA!', tapi mereka malah meminta Naruto untuk memilih pelajaran apa yang dipelajari duluan. Mana bisa Naruto menjawabnya!

Naruto menghela napas, "Bisa tidak, kita akhiri saja?" Kata cowok pirang itu memohon. Sasuke melirik Naruto dengan decakan kesal. Sedangkan Gaara menatap Naruto bingung.

"Kita bahkan belum mulai belajar." Ucap Gaara lagi. Naruto bangkit dari duduk, lalu melangkah ke dapur.

"Makanya aku minta berhenti saja! Kepala ku sakit, dan lagi aku sedang tidak ingin belajar." Jelas Naruto lagi sambil mengambil sebotol air putih dari lemari es. Sejujurnya, Naruto tidak tahan dengan atmosfir yang dikeluarkan Sasuke dan Gaara, Naruto merasa melihat pertarungan sengit antara naga dan burung phoenix.

Naruto menegak air putihnya dengan nikmat, membiarkan Sasuke dan Gaara saling menatap penuh dendam. Well, Naruto tidak terlalu peduli dengan yang mereka lakukan, terserah mereka saling tendang-tendangan atau pukul-pukulan hanya karena buku. Kalau Naruto sih, lebih memilih menendang bukunya. Tetapi Naruto heran, apa sebegitu pentingkah pelajaran bagi mereka? Sampai-sampai harus saling berantem seperti itu? Haah... Otak pas-pas an Naruto memang tidak mengerti apa yang dipikirkan Sasuke dan Gaara.

.

Gaara melirik Sasuke yang berada disebelahnya, sedangkan Naruto masih sibuk berada didapur mencari cemilan untuk perutnya yang keroncongan. Gaara berdehem sebentar, membuat Sasuke mengalihkan pandangannya ke cowok itu.

Cowok bertatto itu menatap Sasuke dengan serius, "Aku tidak akan membiarkan kau mendekati Naruto lagi." Kata Gaara yang ditanggapi dengan pandangan tidak suka dari Sasuke.

"Naruto adalah istr-"

"Dia sama sekali bukan istrimu." Kata Gaara tegas. "Kau hanya menganggapnya begitu! Tapi apa kau pernah memikirkan perasaan Naruto?! Tidak'kan?! Jadi siapa yang egois?!" Seru Gaara tidak suka. Sasuke membalas pandangan cowok itu dengan kesal. Selama ini memang Naruto hanya menganggapnya sebagai pria paruh baya yang terjebak ditubuh remaja dan mengaku sebagai 'suami' Naruto. Tapi itu tidak mengubah sama sekali kenyataan kalau dimasa depan dia adalah suami Naruto. Jadi Sasuke tidak salah sepenuhnya'kan? Cowok raven itu memandang Naruto yang masih berada didapur dengan wajah terluka. Apa dia begitu egois? Apa kehadirannya membuat Naruto susah?

Gaara mendengus, "Kau hanya memikirkan dirimu sendiri." Jelas Gaara, "Kalau kau memikirkan perasaan Naruto, seharusnya kau kembali ke masamu. Dan berhenti mengganggu kehidupan Naruto."

Sasuke mengigit bibir bawahnya, "Tapi..." Cowok raven itu menatap Gaara, "...Kau tidak berhak mengusirku."

"Kalau Naruto yang mengusirmu, bagaimana? Apa kau akan pergi?" Tantang Gaara lagi. Mata Gaara menatap onyx Sasuke. Cowok raven itu mengalihkan pandangannya dari Gaara, dia terlihat berpikir keras. Apakah itu kemauan Naruto? Bagaimana kalau Naruto ingin dirinya dan Ramen menghilang? Apakah Sasuke sanggup kembali ke masanya?

Cowok raven itu mengigit bibir bawahnya, "Kalau..." Sasuke membuka suaranya, lalu menatap Gaara, "Kalau itu memang kemauan Naruto, aku akan pergi." Sambung Sasuke dengan yakin. Gaara menatap mata Sasuke tajam kemudian menghela napas, lalu mengambil buku trigonometrinya.

"Aku mau pulang dulu." Kata cowok berambut merah itu sambil bangkit dari duduknya. Sasuke hanya diam menatap Gaara yang berjalan ke pintu depan. Naruto yang menengok dari dapur hanya berteriak 'Hai-hati dijalan!' dan ditanggapi dengan senyuman Gaara.

Sasuke mengantar Gaara sampai pintu depan, sebelum Gaara pergi dia berbalik menatap cowok bermata onyx itu, "Tepati perkataanmu." Kata Gaara lagi. Sasuke tidak menjawab, dia hanya memandang cowok beratto itu dalam diam.

Sasuke menutup pintu depan tanpa menghiraukan perkataan Gaara. Perasaannya semakin tidak karuan, dia melirik Naruto yang sedang memilih buah pisang dan apel. Sasuke berjalan pelan ke arah dapur.

Naruto tidak akan mengusirnya'kan?

Cowok pirang itu terlihat sedang menimbang-nimbang buah ditangan kiri dan kanannya, " Hum... Apel atau pisang? Jeruk ada tidak ya?" Naruto berusaha mencari buah lainnya di lemari es, tetapi pelukan Sasuke di belakang punggungnya, membuat cowok pirang itu menghentikan gerakannya. Naruto melirik Sasuke yang menyenderkan kepalanya di punggung lebar Naruto.

"Ada apa?" Tanya Naruto heran. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. Cowok pirang itu mendesah pelan lalu menggaruk kepalanya. Naruto tidak tahu harus melakukan apa lagi? Tadi Sasuke terlihat kesal, sekarang setelah Gaara pulang, cowok raven ini terlihat sedih. Sebenarnya apa yang terjadi sih? Naruto benar-benar pusing melihat tingkah Sasuke, cowok pirang itu akhirnya berbalik dan memeluk tubuh Sasuke di dadanya. Sasuke tidak terkejut ataupun protes, dia membiarkan dada bidang Naruto memeluk tubuhnya.

Hangat. Sasuke dapat mendengar detak jantung Naruto. Irama yang konstan. Membuat Sasuke menutup mata untuk terus mendengar detak kehidupan Naruto. Cowok pirang itu meletakkan dagunya diatas kepala Sasuke.

"Sasuke..." Naruto membuka suaranya.

"Hm?"

"Apa yang paling kau inginkan didunia ini?" Tanya Naruto lagi. Sasuke membuka matanya perlahan. Cowok raven itu tidak menjawabnya. Pertanyaan yang paling sederhana, tidak bisa dijawab oleh Sasuke. Pikiran Sasuke melayang saat dirinya masih berada di masa depan. Masa bersama Naruto 'cewek'. Istrinya.

.

.

"Apa yang paling kau inginkan didunia ini, Sasuke?" Kata Naruto, Cewek pirang yang berada dipelukan Sasuke. Cowok raven itu mencium atas kepala Naruto, lalu tersenyum lembut.

"Tentu saja, bersamamu. Memangnya apa lagi?" Jawab Sasuke lagi. Cowok itu melonggarkan pelukannya, lalu menyentuh kedua pipi Naruto. Pipi tan yang penuh senyuman itu memandang pria dihadapannya dengan senyuman paling manis.

"Terima kasih." Kata cewek pirang itu sambil mencium ujung hidung Sasuke. Cowok raven itu membalas ciuman Naruto di perut besar cewek itu. Naruto sedang mengandung anaknya. Sasuke memeluk Naruto, merangkulnya di dadanya. Cowok itu berharap seluruh momen berharganya saat ini terekam dengan indah. Sasuke ingat seluruh senyum Naruto, tawanya, sikap dan tingkahnya. Cewek itu selalu membuatnya kesal, tetapi disaat bersamaan pula, cewek itu bisa membuatnya tertawa.

Sasuke berharap perasaan Naruto tidak akan pernah berubah. Sasuke berharap kehidupannya mirip tokoh dongeng dengan 'Happy Ending' di bagian terakhir cerita. Sasuke berharap... Dia tidak perrnah berpisah dengan Naruto.

Seharusnya begitu. Seharusnya cewek itu mencintai Sasuke, seharusnya dia mengerti pekerjaan Sasuke sebagai ilmuwan, seharusnya Naruto... Tetap mencintainya. Tapi tidak, Naruto tidak mencintainya sepenuhnya. Separuh hatinya tidak untuk Sasuke. Bukan untuk cowok raven itu melainkan untuk cowok lain.

Sasuke ingat saat dia pulang dari pekerjaan sebagai ilmuwan di bagian pemerintahan. Itu bukanlah pekerjaan mudah, cowok itu harus merelakan waktu untuk keluarganya demi bekerja, walaupun hari sedang libur, Sasuke tetap bekerja di laboratoriumnya. Istrinya sering mengatakan, 'Berhenti menjadi ilmuwan, kita bisa pergi dari sini, pergi keluar negeri, hidup dengan damai.' Tapi Sasuke menolaknya. Ya! Cowok raven yang bodoh itu menolak ajakan Naruto.

Setiap pulang kerja, yang dilihat Sasuke hanyalah Naruto yang tertidur menunggunya hingga malam, dan itu terus berulang hingga beberapa tahun. Tetapi hari itu, semuanya berubah. Sasuke yang pulang kerja lebih awal ingin memberi kejutannya pada Naruto dengan membawa rangkaian bunga kesukaan wanita itu. Sasuke melirik jam tangannya, masih pukul 3 sore, masih sempat memberi kejutan dan senyuman untuk belahan hatinya itu.

Sasuke membuka kenop pintu rumah, sepi. Tidak ada Naruto yang menyambutnya dengan ceria. Sasuke berjalan menuju ruang tamu, tidak ada siapapun disana. Sasuke berjalan ke dapur, tidak ada kepulan asap masakan, sosok Naruto juga tidak ada. Dengan pelan Sasuke berjalan ke kamarnya.

Sasuke menyentuh kenop pintu kamar, tetapi terhenti begitu mendengar suara desahan Naruto dengan pria lain. Sasuke merasakan firasat buruknya. Tidak! Naruto tidak mungkin melakukan hal diluar kewajaran, dia mungkin salah mendengar. Atau mungkin saja Naruto sedang menonton TV.

Sasuke membuka pintu perlahan, dia berusaha mempercayai hatinya dan mengenyahkan pikiran kotor tentang Naruto. Dia percaya, Naruto mencintainya, dia percaya Naruto tidak akan mengkhianatinya, wanita itu sudah bersumpah dihadapan Tuhan untuk terus mencintai Sasuke hingga sepanjang hidupnya. Tapi sekali lagi Sasuke salah. Mata onyxnya lebih mempercayai apa yang dilihatnya sekarang ini.

Naruto bersama pria lain. Tidur di ranjangnya. Laki-laki itu menyentuh setiap inchi tubuh Naruto. Laki-laki yang paling dibenci Sasuke, laki-laki berambut merah dengan tato 'Ai' dikeningnya. Pernah suatu kali, Naruto menjamu laki-laki itu kerumahnya, dan wanita itu mengatakan pada Sasuke bahwa dia hanyalah seorang teman.

Sasuke mengepalkan tangannya, rangkaian bunga terjatuh dilantai, beberapa kelopaknya hancur ketika menyentuh bidang datar yang keras itu. Naruto dan laki-laki itu terkejut melihat kedatangan Sasuke. Cowok raven itu melihat wajah ngeri Naruto. Jangan Naruto... Jangan tatap aku begitu. Sasuke mengigit bibirnya getir.

Sasuke sadar ini bukan salah Naruto, ini adalah salahnya sendiri. Dia yang membuat jarak dengan Naruto, dia yang membuat Naruto akhirnya memilih laki-laki itu. Mata Sasuke nanar menatap lantai, dia tidak mempedulikan teriakan dan permohonan ampun Naruto. Ya! Dia tidak mempedulikan wanita itu, Sasuke langsung berlari masuk ke laboratoriumnya. Mengunci ruangan itu dan bergelut dengan pekerjaan pentingnya, yaitu membuat waktu berputar kembali.

Jika Sasuke bisa kembali diwaktu Naruto memintanya untuk berhenti bekerja dan pergi keluar negeri maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Benar! Ini semua adalah kesalahannya, kalau dia bisa memperbaiki seluruhnya maka... Maka Naruto tidak akan mengkhianatinya lagi. Naruto akan terus mencintainya.

-DAK-DAK-DAK- Gedoran keras dipintu tidak dipedulikan Sasuke, tangannya terus bekerja. Waktu adalah yang terpenting sekarang.

"SASUKE! BUKA PINTUNYA!" Itu suara teriakan Naruto. Sasuke berhenti sebentar tetapi sedetik kemudian dia mulai bekerja lagi. Tidak ada 'waktu' untuk berpikir. Dia harus memutar ulang seluruhnya. Tetapi lagi-lagi usaha Sasuke gagal. Cowok raven itu tidak tahu kalau Ramen berada disana. Dia tidak tahu kalau Ramen bermain dengan kabel-kabel listrik ciptaannya. Sasuke tidak tahu sampai sebuah aliran listrik menyentuh tangannya dari portal kecil yang dibuatnya. Portal untuk kembali ke masa lalu.

Sasuke mulai masuk ke dalam portal yang penuh dengan gaya arus listrik, cowok itu sadar ketika dia masuk kesana hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Dia berhasil ke masa lalu atau mati ditengah-tengah 'waktu'.

Ramen yang melihat gumpalan arus listrik dari arah portal hanya ternganga. Mata bulatnya menatap indah percikan-percikan api yang dikeluarkan portal itu. Ramen merasa ayahnya sedang membuat kembang api. Anak laki-laki itu berlari masuk ke dalam portal waktu. Dan Sasuke yang melihat itu hanya berteriak kaget, tanpa dia sadari dia menekan tombol waktu yang salah dan berusaha mengejar anaknya masuk ke portal.

Teriakan Naruto yang terus menggedor pintu tidak dipedulikannya. "SASUKE!"

"SU..KE!"

"SASUKE!"

.

.

"SASUKE!" Teriakan Naruto yang khawatir membuat Sasuke sadar. Matanya mengerjap bingung ke arah cowok pirang itu.

"Kau membuatku takut." Kata Naruto. "Aku pikir kau akan pingsan." Sambung Naruto sambil memeriksa kening Sasuke, berusaha menemukan tanda-tanda demam. Cowok raven itu masih menatap Naruto lalu tiba-tiba menghabur kepelukannya.

"Katakan Naruto..." Sasuke menenggelamkan kepalanya ke dada cowok pirang itu, "Katakan kau akan mencintaiku hingga waktu masa depan." Ucap Sasuke.

Naruto hanya menggaruk kepalanya bingung. Ini sudah ke- entahlah Naruto tidak ingat berapa kali Sasuke mengatakan kalau dia memintanya untuk terus menyukai atau mencintainya hingga waktu masa depan. Tapi, For God's Sake! Naruto bingung harus menjawab apa. Adakah pertanyaan lebih mudah misalnya satu tambah satu berapa? Atau sebutkan mamalia berkaki empat? Dan sejenisnya yang lebih mudah dijawab? Serius! Otak bodoh Naruto tidak bisa menjawab pertanyaan yang melibatkan perasaan sentimentil seperti itu.

Naruto mendesah, lalu memeluk tubuh Sasuke lagi. Cowok pirang itu tidak menjawab pertanyaan Sasuke tetapi membiarkan cowok raven itu terus memeluknya dengan erat. Sungguh, kalau Naruto harus memilih, cowok yang sedih atau cewek yang sedih pasti Naruto dengan lantang akan menjawab 'Cewek', mereka lebih mudah dipahami saat sedih atau gundah gulana. Tinggal kasih bunga atau cokelat dan bilang 'No matter what, i still love you' dan cewek tadi bakal klepek-klepek kesenengan sedangkan kalau cowok yang sedih? Nah lho? Mau bilang apa? Pengen Naruto kasih permen ntar dikira anak kecil, dikasih es krim? Mana ada cowok yang mau es krim. Ya dengan terpaksa Naruto hanya memeluk Sasuke.

"Hei, Sasuke..." Naruto mulai bicara lagi.

"Hum?" Suara Sasuke agak sengau. Apa cowok itu diam-diam menangis?

Naruto menggaruk kepalanya lagi, bingung. Kemudian tangannya memegang pipi Sasuke dan berusaha mendongakkan wajah cowok itu. Naruto ingin melihat, apa benar Sasuke menangis atau tid-

Yup! Sasuke menangis. Cowok raven itu terlihat sedih, dipinggiran matanya menggenang cairan yang siap kapan saja tumpah. Dan itu makin menyusahkan Naruto. Cowok pirang itu terlihat bingung, panik dan hilang akal. Bagaimana caranya supaya cowok berhenti menangis? Kalau ibunya ada, Naruto bisa minta tolong pada wanita itu, karena Kushina seringkali menenangkan Minato yang menangis karena dimarahi oleh sutrada film. Tapi ibunya itu malah belum pulang sampai sekarang.

Naruto berusaha tenang lalu menjilat airmata Sasuke. Cowok raven itu sedikit tersentak kaget, tidak menyangka mendapat perlakuan lembut dari Naruto.

Cowok pirang itu menggaruk belakang kepalanya salah tingkah, "Ah..Ahahaha... Uhm, maaf, tapi menurut drama-drama percintaan, itu salah satu cara mengusap air mata biar terlihat roma-" Kalimat Naruto dipotong oleh ciuman Sasuke dibibirnya.

Naruto tidak siap untuk berciuman terlebih lagi dengan cowok. Tapi dengan gampangnya cowok raven didepannya ini menciumnya. Dibibir pula. Sasuke melepaskan ciuman singkatnya dari bibir Naruto, kemudian siap menerima pukulan dari cowok pirang itu.

Sasuke memejamkan matanya. 1 detik, 2 detik, Naruto masih belum menghajarnya.

"Hahhh..." Naruto menghela napas pelan.

Sasuke mulai membuka matanya perlahan lalu melihat wajah Naruto yang memerah. Cowok pirang itu menutup bibirnya dan memandang arah lain.

Naruto salah tingkah.

"Hei..." Sasuke memanggil Naruto, "Kau bisa memukulku, kalau kau mau." Sambung Sasuke lagi.

"Hum... Tapi aku bakal dihajar Kaa-san kalau memukulmu." Jawab Naruto masih berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah manis Sasuke. Cowok raven itu tertegun sebentar lalu berusaha menahan tawa kecilnya. Naruto meliriknya kesal.

"Kenapa kau tertawa? Memangnya aku terlihat lucu?" Kesal Naruto.

"Kau memang lucu, Dobe."

"Gah... Seharusnya aku menghajarmu saja, Teme." Kata Naruto lagi. Lalu menarik tangan Sasuke dan menjatuhkannya ke atas meja makan.

"Na...Naruto." Ucap Sasuke kaget terlebih cowok pirang dihadapannya ini langsung membuka baju kaosnya, memperlihatkan tubuh berkulit tan yang membuat Sasuke tertegun seketika.

"Kenapa?" Tanya Naruto sambil menyisir rambut pirangnya, "Kau tidak suka?"

Sasuke tidak menjawab, matanya masih memandang tubuh Naruto. Padahal ini bukan pertama kalinya Sasuke melihat tubuh atletis Naruto tetapi tetap saja, dia masih terpesona dengan lekuk tubuh itu.

Naruto mulai merangkak ke atas tubuh Sasuke, mengigit pipi kenyal Sasuke kemudian mengecupnya dengan lembut. "Kau suka?" Tanya Naruto sambil menyunggingkan senyum kecil. Sasuke tidak menjawab hanya berusaha menetralkan detak jantung dan deru napasnya. Naruto anggap Sasuke menyukainya, cowok pirang itu kembali menjatuhkan ciumannya di leher putih Sasuke.

"Nghh... Hahh.." Desahan Sasuke terdengar ketika Naruto menjilat leher dan bagian dada cowok itu. Naruto suka mendengar suara Sasuke, makin membuat libido cowok pirang itu meningkat. Seperti saat ini. Naruto menggesek-gesekan miliknya ke milik Sasuke yang sudah berdiri dibalik celana. Tanpa disentuh Naruto pun, Cowok pirang itu yakin milik Sasuke sudah mengeluarkan cairan manisnya.

"Katakan.." Ucap Naruto sambil menatap wajah Sasuke, "Katakan kau menginginkanku." Naruto mencium kening cowok raven itu, lalu turun ke hidung, bibir dan dagu Sasuke.

Sasuke masih terus mendesah dan belum menjawab perkataan cowok pirang dihadapannya ini, cowok yang mengintimidasinya dengan ciuman yang memabukkan.

Sasuke berusaha menjauhkan tubuh Naruto dari tubuhnya tetapi desahan cowok raven itu mengatakan dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Naruto menyeringai senang sambil terus menciumi bagian leher Sasuke.

"Kau manis, Teme." Naruto menjilat leher Sasuke, "Benar-benar manis dan lembut." lidah Naruto menyapu dada Sasuke dan berhenti di area bulat berwarna pink. Naruto menghisapnya.

"Ahk..." Sasuke terkesiap kemudian berusaha menahan suara yang keluar dari mulut dengan kedua tangannya. Naruto menyeringai senang, darahnya menggelegak penuh nafsu. Naruto melepaskan hisapannya dari dada Sasuke, membuat liurnya menetes di area pink itu. Naruto mendekatkan wajahnya ke Sasuke.

"Katakan... Katakan kau ingin tubuhku." Ucap Naruto sambil menjilat pipi Sasuke. Cowok raven itu menggeleng sambil tetap menutup bibirnya. Naruto suka dengan sikap Sasuke seperti ini, menolak tetapi sebenarnya ingin. Tipe yang menyusahkan dan memabukkan. Sekali lagi, Naruto menjilat telinga Sasuke dan mengigitnya dengan lembut. Sasuke terkesiap untuk yang kedua kalinya.

"Ahk...! Ja..Jangan.. Nghh... Sudah...Hhh...Hentikan... Hahhh..." Sasuke berusaha menjauhkan tubuh Naruto yang menindihinya, terlebih lagi cowok pirang itu terus menggesekkan miliknya ke milik Sasuke.

"Hentikan apa?" Tanya Naruto pura-pura polos, "Ah!... Maksudmu hentikan ini?" Naruto mengigit dada Sasuke lagi.

"Aghh...!" Sasuke kaget. Naruto menyeringai senang.

"Atau ini?" Naruto mencengkram batang kemaluan Sasuke yang masih tersembunyi di balik celananya.

"Ahk! Na..Naruto...Nghhh... Ahhh..." Sasuke berusaha menyingkirkan tangan Naruto yang bermain-main di area sensitivenya terlebih lagi mencengkram miliknya dengan keras. Naruto menjilat leher dan dagu Sasuke dengan deru napas yang cepat. Cowok raven ini terlalu erotis untuk disia-siakan begitu saja.

"Buka mulutmu." Kata Naruto yang berada tepat didepan Sasuke. Cowok raven itu menggeleng lemah. Naruto berdecak kesal, lalu meremas batang kemaluan Sasuke dengan keras.

"Ghaghh!" Sasuke tersedak kaget. Tubuhnya gemetaran menahan sakit dan enak disaat yang bersamaan.

"Aku bilang, buka mulutmu." Desak Naruto lagi, Sasuke melepaskan kedua tangannya dari bibirnya dan membuka mulutnya. Naruto menyeringai senang, kemudian dia membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya, membuat air liurnya menetes ke dalam mulut Sasuke. Naruto menjilat lidah Sasuke. Manis. Benar-benar manis.

Sasuke pasrah mulutnya 'diperkosa' oleh lidah Naruto. Cowok pirang itu benar-benar mendominasi permainan, bahkan air liur Sasuke menetes disela-sela pertarungan lidah mereka.

"Nghh..Ahhh...Hmphh..." Sasuke terus mendesah dengan hebatnya. Naruto melepaskan pagutan ciuman mereka, lalu mengacak rambut blondenya.

"Ini tidak bagus." Kata Naruto lagi, mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke. Cowok raven itu bingung, apakah dirinya tidak bisa memuaskan Naruto?

Cowok pirang itu melirik Sasuke kemudian berdecak, "Benar-benar... Kau terlalu erotis Sasuke... Kau makin membuatku ingin memakanmu. Dan ini tidak bagus." Jelas Naruto berusaha menahan hasratnya untuk 'memperkosa' Sasuke.

Cowok raven itu mengerti Naruto ingin 'menyentuhnya', kemudian dengan pelan, Sasuke membuka bajunya, lalu menengadahkan kedua tangan ke arah Naruto yang berada diatasnya.

"Makan aku... Naruto.." Kata Sasuke dengan wajah penuh memohon. Naruto meneguk liurnya susah payah. Manis... Cowok yang berada dibawahnya ini benar-benar keterlaluan manisnya.

"Kalau begitu." Naruto mulai membuka celananya, "Aku tidak akan menahannya lagi." Seringai senang tersungging dibibir Naruto. Jantung cowok pirang itu hampir meloncat-loncat gembira dari rusuknya. Dia benar-benar ingin 'memakan' Sasuke.

Naruto mengeluarkan batang kemaluannya tepat di atas wajah Sasuke, menepuk-nepuk'kan miliknya ke pipi Sasuke, seakan-akan memberikan salam perkenalan dahulu. "Makan.." Kata Naruto. Sasuke menggeleng, dia enggan memasukkan benda yang besar dan panjang itu ke kerongkongannya.

"Aku bilang makan." Kata Naruto tegas. Sasuke diam lalu memejamkan matanya. Dengan sedikit terpaksa, Sasuke akhirnya membuka mulutnya juga.

"Hmmpphh... Nghhpp... Uhhmmpp..." Sasuke menikmati batang kemaluan Naruto yang dikulumnya. Lidahnya memainkan dan menjilat milik Naruto, membuat cowok pirang itu tidak dapat menahan erangannya.

"Ahhh... Shhh... Ahhk.." Naruto terus mengerang sambil menyodok mulut Sasuke. Cowok raven itu berusaha menahan genjotan Naruto dimulutnya. Sasuke hampir tersedak.

"Ngghhpphh... Hmmph-" Sasuke dipaksa memakan seluruh batang kemaluan Naruto, membuat cowok raven itu kesulitan bernapas. "Nar..Hmphh-Ngpphh..." Sasuke berusaha bicara, "Sto-Nghhppp...Hmphhh..."

Naruto menyeringai, "Kau bilang apa? Aku tidak dengar." Kata Naruto yang mendapat pelototan marah dari Sasuke karena multnya penuh dengan milik Naruto.

"Phuuah.." Sasuke menjauhkan bibirnya dari milik Naruto, membuat cairan liurnya menetes begitu saja. "Aku... Goghhh.. Tersedak... Ohoghh..." Kata cowok raven itu berusaha berbicara disela batuknya. Naruto suka melihat Sasuke tersiksa. Sangat suka. Naruto hanya menyeringai menatap cowok bermata onyx itu.

Pipi Sasuke dielus lembut oleh Naruto. Cowok pirang itu melandaskan ciumannya di bibir Sasuke. Menjilat bibir ranum dan tipis itu kemudian membuka paksa mulut Sasuke dengan lidahnya.

"Nghhh... Hmphhh-" Sasuke menerima ciuman dari Naruto, cowok raven itu melingkarkan kedua tangannya di leher Naruto. "Naruto.. Hmphh.. Aku mencintaimu..." Sasuke berusaha berbicara disela-sela pergulatan ciumannya. Naruto tidak menjawab. Tidak untuk saat ini. Karena cowok pirang itu sibuk memakan bibir Sasuke.

Naruto melepas celana Sasuke perlahan, membuat batang kemaluan Sasuke terekspos sempurna. Cowok pirang itu melepaskan lagi bibirnya dari bibir Sasuke. Mata birunya memandang takjub sosok Sasuke yang berada dibawah tubuhnya. Cowok raven itu telentang diatas meja dengan napas memburu, wajahnya memerah dengan beberapa air liur yan menetes disela-sela bibirnya, dan pahanya... Naruto menegak air liurnya sekali lagi... Sasuke membuka pahanya lebar-lebar, memperlihatkan batang kemaluannya yang berdiri tegak.

Oh Tuhan, Dewa Jashin, Shinigami dan kawan-kawan, terima kasih untuk makanan terlezat ini, aku tidak akan segan-segan 'menghabiskan' nya. Kata Naruto dalam hati, bersyukur mendapatkan Sasuke sebagai menu utama makanannya.

Naruto menyentuh milik Sasuke, membuat cowok raven itu menggeliat geli dan keenakan. "Nghhh... Ahh... Naru... Unnhh.." Lenguhan Sasuke makin membuat otak kotor Naruto semakin kotor. Cowok pirang itu terus menerus menjilat Sasuke, lidahnya menari-nari di leher, dada, perut dan batang kemaluan Sasuke.

"Ahh..Ahk...Nghh..." Sasuke mengerang nikat ketika Naruto mengulum batang kemaluannya dan menghisapnya dengan kuat. Sasuke menjambak rambut pirang Naruto untuk menghentikan kulumannya. Sungguh! Itu membuat Sasuke geli.

Naruto menghentikan mengulum milik Sasuke dan menyeka bibirnya. Mata birunya memandang cowok raven itu penuh nafsu. "Sasuke buka pahamu lebar-lebar." Kata Naruto lagi sambil memposisikan dirinya tepat dibagian pantat cowok raven itu.

Sasuke tidak menjawab, hanya menuruti kata Naruto. Dia mengangkat kakinya dan membuka pahanya lebar, membuat bagian liang bawahnya terekspos sempurna. Naruto menjilat bibirnya, tidak tahan. Cowok pirang itu mengangkat paha Sasuke memposisikan lubang Sasuke kedepan wajahnya. Sasuke terlihat tidak nyaman.

"Naruto.. Hentikan.. Jangan dibagian sana... Itu kot-Ahk!" Sebelum protesan Sasuke selesai, Naruto sudah menjilat 'lubang' cowok raven itu dengan nikmat. "Nghhh... Ahkkk!...Nar-Ahhkk..." Erangan Sasuke tidak dipedulikan Naruto, cowok pirang itu berusaha memasukkan lidahnya ke lubang anal Sasuke.

"Nar-Hmmphhh... Nghhh..." Sasuke berusaha menahan desahannya. Tidak berhasil. Cowok raven itu mendesah hebat, terlebih ketika Naruto memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anal milik Sasuke. "Ahhk!... Naru-Ahhkk...Sa...Sakit! Ahhgh!"

Naruto mencium bibir Sasuke, menghentikan desahan nikmat dari cowok raven itu, tangan Naruto masih bermain di bagian bawah tubuh Sasuke. Satu jari. Dua jari, hingga tiga jari. Lubang Sasuke menelan ketiga jarinya. Sempit, lengket dan nyaman.

Naruto melepaskan ciumannya. "Sasuke, aku mau masuk." Kata Naruto lagi, berusaha memposisikan miliknya ke lubang anal cowok raven itu.

"Henti-Gaahhgh!" Sasuke tersedak ketika batang kemaluan Naruto mulai menerobos masuk ke lubang analnya. Sakit. Perih. Tidak nyaman. Sasuke berusaha berontak. Kakinya berusaha menendang-nendang apa saja, berusah menjauhkan tubuh Naruto dari dirinya. Naruto berdecak kesal, kemudian mengangkat tinggi-tinggi kaki Sasuke dan menyodok lubang anal cowok raven itu lebih keras. Membuat Sasuke kesulitan bernapas selama sedetik.

Naruto memeluk Sasuke, mendekap cowok itu dengan kuat, lalu mulai menggenjot lubang Sasuke. "Hahhh... Hhh... Sial... Ughh... Sempit... Sa-Sasuke.. Ahhgh.." Naruto terus menggenjotnya tanpa peduli erangan cowok raven itu. Naruto menjilat bibir Sasuke, menjilat dagu dan telinganya. Naruto suka rasa Sasuke, begitu manis, melebihi rasa cake yang sering dimakannya.

"Ah...Hahhhh...Ungghh.." Sasuke merasakan batang kemaluan Naruto didalam tubuhnya, begitu besar dan dominan. Sasuke memeluk Naruto erat. Merasakan setiap sodokan yang diberikan cowok pirang itu. Desahan napas Naruto ditelinganya makin membuat Sasuke bergairah.

"Hahhh... Sa-Sasuke... Hahhhgh..." Naruto membalikkan tubuh Sasuke, membuat cowok raven itu bertumpu pada kedua tangan dan lututnya, membiarkan punggung dan pantatnya terekspos oleh Naruto. Cowok pirang itu mulai menyodok Sasuke dan menciumi punggung Sasuke.

Sasuke berusaha menahan nikmat yang dirasakan tubuhnya, "Ahhghh... Ghhhg...Unghh.." Naruto terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan irama yang makin lama makin cepat. Naruto mengangkat satu kaki Sasuke dan mulai menyodok lebih keras lagi.

Sasuke merasakan sakit dan nikmat disaat yang bersamaan, mulutnya terbuka mengeluarkan suara lenguhan yang erotis dan tetes liur mengalir disela-sela desahannya. "Naru-Ghhgh.. Aku.. Nghh... Tidak tahan-Ahhkk!" Sasuke sebentar lagi ingin mengeluarkan sari manisnya. Batang kemaluannya mulai berdenyut-denyut memaksa cairan kental untuk segera keluar.

Naruto makin cepat menyodok Sasuke, "Aku-Hahh... Juga-Ghhhghh.." Ini gawat, Naruto tidak dapat menahannya lagi, lubang Sasuke terlalu sempit dan enak. Sayang untuk dibiarkan beitu saja.

Sasuke berusaha berontak dari Naruto, "Lepas-Ahkk! Jangan.. Nghhh... Di dalam-Ughhh..."

Naruto mencengkram pinggang Sasuke, tidak akan membiarkan cowok raven itu pergi, "Tidak bisa-Hahh... Aku tidak sanggup menahannya lagi-Nghhhggh..." Naruto terus menggenjot lubang Sasuke. Makin cepat dan cepat, membuat lubang anal Sasuke mengeluarkan suara becek.

"Naruto...Ahkkk! Aku... kelu-Gagghhhh!" Sasuke mengejang, tubuhnya bergetar hebat.

"Sa-Sasuke...Ahk! Ahhhkk!" Naruto menyodok lubang Sasuke dengan keras, tubuh Naruto mengejang nikmat dan menumpahkan cairan putihnya di dalam lubang anal Sasuke. Beberapa tetes cairan kental keluar perlahan melalui lubang anal Sasuke dan mengalir ke paha cowok itu.

Naruto roboh diatas punggung Sasuke, berusaha menormalkan detak jantung dan napasnya, begitu juga dengan Sasuke. Cowok raven itu membiarkan beberapa cairan putih miliknya tumpah di atas meja dan jatuh menetes ke lantai. Naruto memeluk Sasuke dan mengecup telinga, leher dan bahu Sasuke.

"Terima kasih untuk 'makanannya'." Kata Naruto disela-sela napas tidak beraturannya. Sasuke hanya mendengus tertawa kecil mendengar perkataan bodoh Naruto. Sasuke berusaha bangkit dari tindihan cowok blonde itu.

"Jeezz... Naruto, Kau berat. Ming-" Sasuke tidak meneruskan perkataanya matanya terbelalak ngeri memandang seseorang yang berada di pintu dapur. Naruto yang bingung, berusaha bangkit, kemudian mengikuti arah pandangan Sasuke.

Di sana, terlihat Kushina tersenyum riang sambil memegang handycamnya, dan menunjukkan lambang victory dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah tangannya. Naruto berdecak kesal, "Kaa-san, kau itu selalu saj-"

"Na...Naruto..." Panggil Sasuke. Cowok pirang itu melirik Sasuke, tetapi mata Sasuke menatap kaget seseorang yang berada dipunggung Kushina. Seorang cewek pirang yang juga mirip dengan 'Naruto'. Cewek itu berjalan pelan ke arah Sasuke kemudian mengelus pipi cowok raven itu dengan lembut.

.

"Sasuke, ayo kita pulang."

.

.

.

.

Seumur hidup Naruto, baru kali ini dia mendapatkan kejutan yang tidak diduga dan tidak disukainya. Yup! Kejutan yang sama sekali tidak dikehendaki Naruto, terlebih lagi Kushina mengatakan kalau gadis yang bernama 'Naruto' ini adalah istri Sasuke dan kembali ke masa ini untuk menjemput suami dan anaknya. Naruto makin berdecak kesal, benci. Dan sekarang? Mereka berempat duduk canggung diruang tamu. Naruto duduk disebelah Sasuke, dan cewek itu duduk disebelah Kushina. Gadis yang terlihat berumur 18 tahun dengan rambut dikuncir dua itu terlihat sedih. Matanya menatap Sasuke penuh penyesalan. Naruto tidak mempedulikan gadis itu, matanya melirik Sasuke yang dari tadi diam tidak bersuara.

"Ehem..." Kushina berdehem, berusaha mencairkan suasan yang tegang, "Kau mau minum apa, Naruto?" tanya Kushina pada gadis itu. Agak bingung memanggil namanya karena disini ada dua orang bernama 'Naruto'.

Gadis itu tidak menjawab, tangannya terus dikepalkan dan wajahnya menunduk. Sasuke hanya memandangnya dalam diam.

Cowok raven itu membuka suara, "Kau harus pulang." Kata Sasuke. Gadis itu hanya mendongak kaget mendengar perkataan Sasuke.

"Aku tidak mau! Aku kesini untuk menjemputmu! Ayo kita pulang sama-sama!" Seru cewek itu lagi. Sasuke hanya memalingkan wajahnya.

"Huh! Lucu... Kau menyuruhku untuk kembali agar kau bisa mengkhianatiku lagi?" Ucap Sasuke tenang tapi penuh dengan nada sinis. Gadis itu terkesiap kaget.

"A..Apa? Aku tidak bermak-"

"Lalu apa?! Maksudmu Apa?!" Kali ini Sasuke meninggikan suaranya satu oktaf. Cewek itu terdiam. Kushina dan Naruto merasa tidak enak melihat pertengkaran 'suami-istri' itu. Well, sejujurnya Naruto lebih suka kalau Sasuke langsung mengusir gadis itu saja.

Sasuke mendesah, berusaha memalingkan wajahnya dari istrinya itu, "Aku kesini untuk memperbaiki waktu..." Gadis itu menatap Sasuke.

"Apa maksudmu?" Tanya Naruto 'cewek'.

"Sebenarnya aku ingin kembali dimana saat kau memintaku untuk pergi keluar negeri dan meningalkan pekerjaanku sebagai ilmuwan, tapi kesalahan teknis membuatku terdampar ke masa ini." Sasuke mengakhiri kalimatnya. Gadis itu terlihat sedih, kemudian mendongak menatap Sasuke.

"Kita bisa memperbaiki segalanya! Belum terlambat, pulanglah dan aku berjanji tidak akan berselingkuh dengan Gaara lag-"

"Woo~Wooo... Tunggu dulu." Naruto menghentikan perkataan gadis itu. Cowok pirang itu memandang Naruto versi cewek dirinya dengan bingung, "Kau menyuruh Sasuke untuk kembali dan berjanji tidak akan berselingkuh lagi?" Tanya Naruto dengan nada tidak percaya, lalu memandang Sasuke yang masih terdiam menundukkan wajah.

Cowok pirang itu berdiri lalu menarik Sasuke, "No Fucking Way, Bitch!" Tegas Naruto sambil memandang cewek pirang itu dengan marah. Kushina kaget.

"Naruto! Apa-apan kau!" Seru Kushina.

"AKU..!" Naruto berteriak, kemudian berusaha menenangkan pikirannya, lalu menatap Kushina tajam, "Aku Tidak Akan Membiarkan Sasuke Pergi Hanya Untuk Dikhianati Lagi!" Jelas Naruto penuh dengan nada mengancam. Wajah gadis itu memerah marah.

"KAU TIDAK BERHAK IKUT CAM-"

"DIAM!" Naruto menunjuk cewek itu dengan geram, "Tutup mulutmu!"

Sasuke berusaha menahan amarah Naruto, "Naruto, hentikan aku mohon." Tetapi sepertinya perkataan Sasuke tidak digubris Naruto, terlihat cowok pirang itu masih menatap gadis itu dengan nyalang.

"Dengar!" Naruto membuka suaranya lagi, "Sasuke sekarang diduniaku! Di masaku! Dan Dia Adalah Milikku!"

Cewek itu menatapnya geram, dia mengepalkan tangannya, kemudian menggebrak meja, "MEMANGNYA KAU SIAPANYA SASUKE?! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA! KAU HANYA BOCAH BEROTAK UDANG!"

Naruto menarik kerah baju cewek itu dengan kasar, "Dengar..." Suara Naruto mendesis ngeri. Kushina hanya menutup mulutnya terkejut.

"Berani membawa pergi Sasuke, aku tidak segan-segan membunuhmu." Ancam Naruto dengan nada yang tidak bisa disebut bercanda. Cewek itu hanya kaget dan tidak bisa bergerak. Dia ketakutan. Sasuke juga sepertinya tidak berusaha menenangkan Naruto atau membela istrinya. Sasuke hanya diam, kalut dengan pikirannya sendiri.

Naruto mendengus lalu menarik Sasuke pergi ke kamarnya, tidak mempedulikan tangisan gadis itu dan nada Kushina yang khawatir.

.

-BLAM!- Naruto membanting pintu kamar, menguncinya dengan erat sehingga ibunya ataupun gadis itu tidak bisa masuk. Kemudian cowok pirang itu menghela napas berat dan mendudukan tubuhnya dilantai, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Mata biru Naruto melirik Sasuke yang berjalan ke arah Ramen dan menyentuh pipi anak itu yang sedang tertidur.

"Hei..." Naruto membuka suaranya, "Apa kau akan ikut gadis itu pulang?"

Sasuke hanya diam, "Entahlah, lagipula untuk membuka portal dimensi tidaklah mudah, kecuali semua peralatan dan arus listrik tersedia."

Naruto menggaruk kepalanya, "Aku tidak bertanya tentang portal dimensi." Naruto menatap Sasuke, "Yang aku tanyakan adalah, apa kau akan pulang? Kau tahu... Ke masa depan."

Sasuke tidak menjawab, "Aku tidak tahu... Dia istr-"

"Dia bukan istrimu." Naruto memotong kalimat Sasuke. Cowok raven itu menatap Naruto.

"Kau tidak bisa punya istri seperti dia." Kata Naruto lagi, kemudian dia mengacak rambutnya dengan kesal, "God Lord! Aku tidak tahu kalau dimasa depan aku bisa se-brengsek itu." Jelas Naruto lagi.

Sasuke tidak menjawab, dia berjalan ke arah futonnya, "Aku lelah."

Naruto juga tidak memaksa Sasuke untuk menanggapi perkataanya, cowok pirang itu berjalan ke arah futon Sasuke lalu memeluk cowok itu dari belakang. Kemudian mencium lembut bahu dan leher Sasuke. Naruto menggenggam erat tangan cowok bermata onyx itu.

.

"Aku tidak akan melepaskanmu, aku janji."

.

.

.

TBC

.

Special thanks: Subaru Ab, Lumina Lulison, Black LIly, Princess Visionaries of obsesi, chy karin, yuto, Sora asagi, Akira veronica lianis, nashya, Samba, Nitya-chan, Kim Seo Jin aka CloudKimmy, Noirouge , Ozha, 1004speciall, YukiMiku, MORPH, Yu, Kira Desuke, Collin Blown a.k.a AnakYunJae, Yue Lawliet, Yuharu kouji , Fishiie LophehaeUKE , Nura, AiCinta, Namikaze.