Untuk saat ini, aku hanya ingin kau tetap berada di sini. Di sisiku.

.

I Want You To Stay [1st Sequel] © aidaverdyky

Naruto © Masashi Kishimoto

Drama-Hurt/Comfort-Romance

Main Character: Sasuke U., Sakura H., Gaara S.

Other Character: Naruto U., Sai, Ino Y.

Rate: T

Warning: AU, OOC, typo(s) ect.

Inspired by: BigBang – Let's Not Fall In Love [Song & MV]

.

Sakura berjalan gusar di taman Konoha University, kampus yang sudah dijadikan tempat melanjutkan pendidikannya satu tahun ini. Gadis itu teringat saat Gaara, senpainya di klub Fotografi menyatakan perasaan padanya beberapa hari yang lalu. Namun, bukan hal itu yang benar-benar mengganggu pikirannya, melainkan pemuda lain yang entah sejak kapan telah bercokol apik di hatinya, Uchiha Sasuke.

Gadis itu takkan segusar ini bila Sasuke tak ada hati, pikiran dan sisinya selama bertahun-tahun. Sakura takkan sebingung ini untuk menolak atau menerima Gaara bila Sasuke memberinya kepastian. Namun, seperti sebelumnya, Sasuke terus menggantungkan perasaannya. Tak ada kejelasan. Membuat segalanya menjadi abu-abu. Dan Sakura tersiksa oleh hal itu.

Jika boleh jujur, Sakura hampir tak ada perasaan apapun pada sang senpai. Dia hanya sedikit mengagumi bakat memotret Gaara. Segala yang ada pada Sasuke jauh lebih dari apa yang bisa Gaara lakukan dan berikan padanya. Sasuke mengerti Sakura dengan baik.

Tetapi, benarkah itu?.

Benarkah Sasuke memahami Sakura dengan baik?.

Jika memang iya, mengapa pemuda itu terus menggantungkan hubungannya dengan Sakura?.

"Apa yang harus kulakukan, Sasuke-kun?."

Sasuke bukannya tak mendengar berita Gaara yang mengungkapkan perasaannya pada Sakura. Pemuda itu tahu berkat mulut berisik nan ember Ino, kekasih dari Sai, sepupu Sasuke yang bermuka pucat –lebih pucat dari Sasuke. Sang pemuda pun sama gusarnya dengan gadis yang mendapatkan ungkapan perasaan dari Gaara itu. Sasuke hanya tak tahu bagaimana harus menghadapinya. Dan dia lebih memilih melanjutkan skripsinya yang harus segera di revisi. Mencoba mencari alasan untuk menyibukkan diri lebih tepatnya.

Tingkah Sasuke yang kelewat santai –setidaknya begitulah yang terlihat– membuat Naruto gemas. Pemuda berambut pirang itu menyambangi fakultas teknik tempat Sasuke belajar demi mengomeli pemuda itu.

"Hei, Teme. Kenapa kau bisa sesantai ini?." Naruto mencak mencak di hadapan Sasuke yang memandangnya datar.

"Hn?."

"Memangnya kenapa katamu? Bocah berambut merah itu mengungkapkan perasaannya pada Sakura-chan. SAKURA-CHAN." Rambut pirang jabrik itu ditarik frustasi oleh sang pemilik.

"Hn?."

"Lalu? Oh, astaga. Kemana otak jeniusmu itu, Teme? Bagaimana kalau Sakura-chan menerimanya?." Sasuke menoleh, meneguk ludahnya dengan samar ketika mendengar perkataan Naruto.

"Aku harus mengerjakan skripsiku, Dobe." Dan segera pergi meninggalkan Naruto yang misuh-musih di belakang Sasuke. Skripsi itu hanya alasan Sasuke untuk menghindari Naruto, juga Sai dan Ino yang terus mendesakknya tentang Sakura. Padahal Sasuke hanya tak ingin melukai Sakura. Sasuke khawatir apa yang terjadi pada kakaknya dan para mantan kekasihnya terjadi juga pada dirinya dan Sakura. Sasuke tak ingin melukai Sakura.

Tak sadar bila kini dia telah menyiksa batin Sakura.

Sakura nampak murung. Sasuke tahu itu. Dan seperti biasa, Sasuke akan mengajak Sakura bermain basket dengannya. Permainan berakhir dengan kemenangan telak Sasuke dan napas terengah dari keduanya. Mereka terdiam. Menikmati hembusan pelan angin sore dan keributan di hati dan pikiran masing-masing.

Jengah dengan keheningan yang tak nyaman itu, Sakura buka Suara.

"Sasuke-kun, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?." Sasuke tertegun. Pertanyaan itu selalu diucapkan Sakura lewat tatap matanya. Dan ini adalah yang pertama kalinya Sasuke mendengarnya langsung dari bibir tipis Sakura.

"…"

"…" Sakura menunggu dalam diam.

"Aku–." Sakura masih menunggu. "–Untuk saat ini, aku hanya ingin kau ada di sisiku." Bosan. Gadis itu bosan dengan jawaban Sasuke.

"Apa kau serius saat kau bilang kau menyukaiku?."

"Ya. Tentu saja aku serius." Jawabnya cepat. Hilang sudah kebiasaan irit kata miliknya.

"Lalu kenapa kau tak mengizinkan kita untuk saling jatuh cinta?." Sasuke tercekat, Sakura terkejut. Mereka sama-sama tak menyangkan pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Sakura.

"Aku tak ingin kau terluka." Sasuke memandang Sakura. Menatap dalam bola mata berwarna emerald yang berkaca-kaca itu. "Hentikan pembicaraan ini Sakura. Aku lelah." Sasuke memutus tatapan mereka.

'Aku lebih lelah lagi, Sasuke-kun.'

"Mari kita pulang" Sakura berdiri dan mulai berjalan keluar dari lapangan mendahului Sasuke. Tak membiarkan pemuda itu menyaksikan air matanya yang sudah meleleh. Sasuke bukannya tak sadar, pemuda itu mengerti benar apa yang ada dalam diri gadis itu. Dia justru tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.

Jelas sekali dia menyayangi gadis itu dan menginginkan Sakura terus berada di sisinya. Tetapi, entah mengapa dia tak ingin kedekatan yang berlebihan akan menyakiti Sakura. Dadanya Sasuke sesak, tangannya terkepal menahan emosi. Emosi atas dirinya sendiri.

Di kamar bernuansa soft pink itu kini terdengar isakan pelan seorang gadis. Sang pemilik kamar, Sakura, menelungkupkan wajahnya dalam bantal, menahan isakan yang lebih keras untuk keluar. Gadis itu menangis. Menangisi keegoisan Sasuke, pun kebodohan dirinya untuk terus mengikuti kemauan Sasuke yang melukai mereka berdua. Sakura mengerti, bukan hanya dia yang terluka, tatapan Sasuke saat dia menanyakan kejelasan hubungan mereka selalu memancarkan kepedihan. Dan Sakura benci melihat Sasuke terluka.

Dia lebih dari menyukai pemuda itu.

Sakura telah jatuh cinta. Dia jatuh terlalu dalam. Jatuh sejatuh-jatuhnya dan tak mungkin lagi untuk merangkak keluar.

Drrtt drrtt

Ponselnya bergetar, menampilkan nama 'Gaara-senpai' sebagai penelpon. Sakura menyeka air matanya. Ragu untuk mengangkatnya, hingga akhirnya panggilan itu terputus karena terlalu lama tak di terima. Sakura berusaha menghentikan air matanya dan menetralisir suaranya yang parau saat ponselnya kembali bergetar.

Gagal. Air matanya tak mau berhenti dan suaranya benar-benar serak. Sakura tak mengerti kenapa dia harus sampai seperti ini. Kenapa dia harus terus tersakiti begini. Tak bolehkah dia mengharapkan kebahagiaan. Sekalipun itu bukan Sasuke.

Damn! Gadis itu merutuki pikirannya sendiri. Apakah barusan dia menyerah pada Sasuke? Sakura terus terisak memikirkan Sasuke. Perasaannya remuk mengingat keegoisan pemuda itu.

Tangis Sakura benar-benar pecah saat Gaara menelponnya lagi untuk yang ketiga kalinya. Pada akhirnya gadis itu tak peduli dengan tangisan dan suaranya. Dia memilih untuk memantapkan hatinya dan menerima panggilan dari Gaara.

"Halo."

Sasuke terduduk lemas di dalam kelas mengingat kejadian saat dia baru sampai di pelataran kampus. Pemuda itu melihat Sakura yang turun dari motor sport Gaara, keduanya tersenyum –hal yang langka bagi Gaara yang lebih dingin dibanding Sasuke. Bahkan Sasuke menyaksikan Gaara menyelipkan rambut Sakura ke telinga gadis itu. Sasuke naik pitam, tetapi dia lebih terkejut dengan Sakura yang justru merona dan tampak menikmatinya. Sasuke lemas seketika di atas motornya.

Mencoba mengalihkan fokus pada materi di dalam kelas, tetapi bayangan kejadian itu terus terputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sasuke frustasi, apalagi saat dilihatnya Naruto, Sai dan Ino yang berjalan tergesa kearahnya di jam makan siang.

BUGH

Sasuke tersungkur akibat pukulan Naruto. Pemuda berambut jabrik itu mencengkeram kerah kemeja Sasuke dan menatap sahabatnya itu dengan penuh emosi. Kecewa, marah, sedih dan entah apalagi. Sai dan Ino tak mencoba melerai keduanya, mereka pun sama kesalnya dengan Sasuke. Karena apa? Tentu saja berita Sakura telah menerima Gaara.

"KAU ITU BODOH YA!?." Naruto berapi-api "BISA-BISANYA KAU MELEPASKAN SAKURA KEPADA GAARA." Dia bahkan lupa menambahkan suffix –chan di belakang nama Sakura. Tak peduli dengan penonton yang mengerubungi mereka, Naruto terus menatap tajam Sasuke yang juga menatap Naruto tak kalah tajam.

"Aku bahkan sudah merelakan Sakura untukmu. Tapi kau malah menyia-nyiakannya." Suara cempreng Naruto melirih "KAU BENAR-BENAR BODOH, SIALAN!." Lalu kembali meninggi.

SRET BRUK

Dengan satu gerakan, Sasuke berhasil mendorong Naruto menjauh darinya tepat saat sang Dobe mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, hendak kembali meninju wajah Sasuke.

"Itu bukan urusanmu, Dobe." Lalu melenggang pergi meninggalkan Naruto yang masih melemparkan sumpah serapah kepada Sasuke.

Di depan pagar rumah Sakura, Sasuke tangah mematung. Menimbang-nimbang apakah dia akan masuk dan menyatakan perihal hubungan Sakura dan Gaara. Belum sempat Sasuke memencet bel. Gadis yang dicarinya telah keluar membawa kantong sampah.

Sakura tertegun, Sasuke membeku. Selama beberapa detik mereka menikmati tatapan masing-masing sosok di hadapan mereka, hingga Sakura teringat dengan kantong sampahnya.

"Ada apa?." Tanyanya lembut seperti biasa, tetapi Sasuke tahu ada yang berbeda dari nada suaranya. Seperti ada yang ditahan.

"Apa hubunganmu dengan Gaara." To the point. Sasuke benci basa-basi.

"Kenapa tiba-tiba kau jadi tertarik dengan hubungan seseorang Sasuke-kun?." Sasuke tercekat, paham dengan maksut tersirat Sakura.

"Bukankah aku sudah memintamu untuk tetap berada di sisiku?."

"Sasuke-kun–." Sakura menatap Sasuke tepat di bola mata hitamnya pertanda serius "–Bukankah kau sendiri yang melarang kita untuk saling berjanji?." Sakura menghela napas sejenak, sementara Sasuke terbelalak.

"Jadi aku minta maaf, Sasuke. Aku tidak bisa berjanji ada di sisimu lagi." Dan sakura pergi meninggalkan Sasuke yang termangu. Sasuke terduduk lemas di depan pagar kediaman Sakura yang bahkan tak dibuka oleh sang gadis. Sasuke menangis, pun Sakura yang tengah memeluk lutunya di balik pintu.

"Maafkan aku. Maaf." Gumam keduanya bersamaan dari tempat yang berbeda.

.

To Be Continued

.

A/N: Fix ceritanya saya lanjutin. Saya gak tega sama Sakura. Sudah cukup dia di-PHP-in di serial Naruto, di cerita saya gak usah. Karena di-PHP-in dan digantung itu gak enak *curhat again*. Untuk kelanjutannya lagi saya masih mikir sih. Masalahnya saya ngetik juga tergantung mood, jadi ya gitu deh hehe.

Oh ya, setelah untuk entah keberapa kalinya nonton MV BigBang – Let's Not Fall In Love –demi kelancaran fiction ini–, saya baru ngeh tatapan mata abang-abangnya di penghujung video itu. keliatan kasian banget. Apalagi tatapan bang TOP pas di bioskop. Gak kuaaaaat :"""

Saya jadi ngerasa kalo yang tersiksa bukan cuma si cewek, tapi juga abang-abang ganteng itu. Makanya di chapter ini saya mau nunjukkin Sasuke yang bingung sama dirinya sendiri dan ngerasa sakit hati juga.

Yasudahlahyaaa. Pokoknya nikmati sajalah, oke? Bye~