Everything's Back to Normal

Chanbaek

Yaoi

Mpreg

M

3

.

.

.

Hanya sekalimat ungkapan 'benci' bisa sampai membuat orang seperkasa dan seraksasa berwajah beku seperti Chanyeol linglung dikursi kerjanya. Ia seperti orang dungu yang terus diam menatap dinding ruang kerja yang berwarna abu-abu gelap. Selepas pulang dari apartemen mantan suaminya, jiwa Chanyeol langsung hilang. Tubuhnya seperti bergerak tanpa perasa sehingga ketika ia menabrak tembok pun tak membuatnya mengaduh.

Kemarin pula Baekhyun terus membujuk Kyungsoo untuk setidaknya berbicara pada sang daddy yang terus-terusan merengek padanya untuk di 'baikkan' dengan putranya itu. Baekhyun sempat menoyor kepala Chanyeol berkali-kali saat siraksasa bodoh itu tak berhenti merengek, alih-alih membujuk sang anak.

"Tuan anda melamun," Kata sekretarisnya yang sejak tadi berdiri dihadapannya, meminta tanda tangan si boss pada sebuah dokumen tapi Chanyeol hanya melirik kemudian mengabaikannya untuk berdiam seperti orang dungu.

"Terserah saya, ini perusahaan saya. Kau tidak suka, silahkan undurkan diri."

Sekretaris Taejoon hanya diam dan menggaruk pipinya lambat, sang Direktur sedang sensitif, ya? Begitu saja marah, pikir Taejoon asal.

"Keluar. Aku sedang tidak mood melihat wajahmu."

"Tapi doku_"

"Aku tidak mengulang perkataanku."

Taejoon segera mengambil dokumennya kembali lalu membungkuk sopan, ia pamit meski merasa jengkel karena tak berhasil mendapat tanda tangan bossnya. Tau begitu, mending ia menerima ajakan Lisa minum kopi bersama.

"Apa salah daddy, Kyungsoo-yaaaah~" Lirih Chanyeol menjatuhkan kepalanya diatas meja, mengetuk-ngetuk keningnya tak peduli sakit atau tidak.

Ia mengambil ponsel untuk mengirimi Baekhyun pesan. Mengetik dengan kecepatan ahli,

'Bagaimana Kyungsoo? Sudah ingin bertemu denganku?' –pcy

Tling!

'Mendengar kata 'daddy' saja dia langsung jadi pendiam lagi. Sebenarnya apa yang kau lakukan terhadap anakku, ha?' –bbh

'Kyungsoo anakku juga, please. Kita membuatnya bersama-sama dalam keadaan bahagia, makanya dia sangat tampan dan imut. Ah, aku tidak melakukan apapun omong-omong. Bagaimana ini?' –pcy

Chanyeol mengerutkan hidung tak suka ketika pesannya hanya diread oleh Baekhyun, bahkan setelah menunggu sepuluh menitpun tak kunjung ada balasan. Jadi dengan perasaan marah Chanyeol menyepam stiker Cony yang sedang menangis mencoret tanah dengan kayu.

Tling!

'Dasar sudah tua masih saja otakmu geser! Cabul!' -bbh

'Ingat umurmu sudah hampir sama dengan bumi. Selesaikan masalahmu dengan Kyungsoo sendiri, dia menjadi pendiam belakangan ini dan itu pasti karena kau." -bbh

'Aku sedang sibuk. Berhenti menyepam idiot!' -bbh

Senyum Chanyeol langsung hilang ketika melempar hpnya asal. Melihat pesan Baekhyun bukannya perasaan membaik malah semakin tertekan. Sudah dikatai tua, idiot pula. Umurnya baru tiga puluh dua, padahal.

Tak lama pintu ruangan terbuka lagi, membuat Chanyeol menggeram dan hampir saja menyemburkan makian menyakitkan yang tak pernah diucapkannya seumur hidup. Tapi apa kata semua kalimatnya tertelan kembali saat seorang lelaki manis yang sudah tak asing lagi berjalan mendekat, dengan skinny jeans yang membalut pas kaki jenjangnya dan juga kemeja biru langit yang oversized ditubuh lelaki itu.

Tanpa tahu malu ia duduk dikursi depan meja Chanyeol, membuka kaca mata hitam mahalnya dan langsung menatap si raksasa dengan genit. Dagunya ia angkat tinggi-tinggi saat akan mengusap rambut sehabis perawatan.

"Halo, Yeol. Lama tidak saling bertemu, ya?" Tegurnya duluan sambil terkekeh manja, dengan gigi-giginya yang rapi sempat membuat Chanyeol salah fokus.

"Padahal kita akan bertunangan. Tapi kau benar-benar sangat sibuk, begitu juga denganku." Ia menunjukkan raut menyesalnya. Chanyeol kembali menjadi orang dungu, terdiam bak orang bisu.

"Aku sudah bertanya dengan sekretarismu kau ada jadwal meeting siang ini atau tidak, dan dia bilang tidak. Well, bagus sekali. Kita bisa jalan keluar."

"Aku sedang tidak dalam mood. Pergilah."

Xi Luhan. Seorang model papan atas yang lagi heboh diperbincangkan oleh masyarakat maupun sesama kalangan model lainnya. Selain bentuk tubuhnya sempurna ia juga memiliki wajah cantik seperti princess tanpa melakukan operasi sedikitpun pada bagian wajahnya. Begitu natural dan memesona. Tapi tidak dimata bulat Chanyeol, baginya hanya sang mantan suamilah yang paling luar biasa.

Luar biasa cerewet.

"Ohya, kapan kau akan memperkenalkan aku dengan mantan suamimu itu? Kudengar dia cukup manis dan baik. Aku juga ingin bertemu anak-anakmu, Yeollie."

Ewh. Panggilan macam apa itu. Seumur pernikahannya dengan sang mantan, jarang-jarang Baekhyun memanggilnya manis begitu. Kecuali jika Baekhyun sedang ingin paket eyeliner edisi terbatas. Baju baru, satu set perlengkapan dapur mahal, atau ingin pergi ke spa. Alih-alih mengajak Chanyeol bercinta.

"Tidak. Dan kumohon sekarang pergilah, Luhan. Aku sedang tidak ingin bertemu siapapun."

"Terserah kau saja. Aku bisa mengadu pada ayah jika kau berlaku kasar padaku."

Dasar rubah berkepala ular. Benci sekali Chanyeol jika sudah menyangkut ayahnya. Ayah siapa? Ya tentu ayahnya si raksasa.

Chanyeol menggeram dan mengepalkan tangannya erat. Biasanya ia akan meladeni dan menuruti semua perkataan Luhan, tapi hari ini ia sedang dalam kondisi pikiran yang kacau. Mudah sekali emosi, terlebih jika Seunghyun dibawa dalam obrolan mereka.

"Jika kau tidak mau tak apa, aku bisa menemui mantan suamimu dan sikembar sendirian."

"Tidak!" Pekik Chanyeol ketika Luhan akan berdiri. "Tunggu diluar, aku akan bersiap."

Luhan berbalik memunggungi Chanyeol dan berjalan santai, meliuk-liukkan badan seksinya sengaja. Wajah piciknya mulai kelihatan, senyum dibibirnya hanya tertarik disatu sudut. Jahat sekali.

.

.

.

Chanyeol memakirkan mobilnya dipinggir jalan khusus parkir, ia turun dan jalan memutar untuk membukakan pintu sebelah penumpang. Luhan keluar dengan angkuhnya, mengenakan kaca mata yang berkilau terpapar sinar matahari, dengan tanpa dosa ia menggandeng tangan Chanyeol yang terbalut setelan mahal memasuki cafe Kamong milik Baekhyun.

Mereka disambut oleh karyawan lama yang tahu betul siapa itu Chanyeol, jadi ia membungkuk sopan menyapa tapi langsung berubah bingung ketika melihat Luhan yang seperti sedang menilai interior cafe sederhana milik bossnya.

"Jaehyun-ah, Baekhyun disini?" Tanya Chanyeol merasa risih karena beberapa pasang pengunjung mulai melihat kearahnya, atau mungkin pada Luhan mengingat model satu ini begitu terkenal.

"Tuan Baekhyun ada, bersama sikembar. Tapi sepertinya Tuan Baekhyun sedang mengurus Sehunie yang sedang rewel." Jawab Jaehyun dengan senyuman, dalam sekali lihat, ia langsung tidak menyukai Luhan.

"Lalu Kyungsoo?"

Jaehyun menunjuk pada sebuah meja pojokan, terdapat satu pria dewasa dan dua anak-anak yang sedang memakan cheese cake sambil berbincang heboh. Anak-anak memang punya dunia mereka sendiri. Saat akan melangkah, Chanyeol terhenti dengan sebuah pemikiran bahwa ia dan Kyungsoo belum dalam keadaan 'baik'. Bagaimana jika ia ditolak lagi nanti? Ia juga tidak tahu salahnya apa. Anak-anak juga kadang merepotkan.

"Kau tunggu disini, aku akan menghampiri Kyungsoo dulu." Chanyeol menurunkan tangan Luhan tapi sikecil bermata rusa langsung mendekap Chanyeol lagi.

"Kenapa? Bawa saja aku kehadapan anakmu, aku ingin berkenalan. Bisa saja aku disukai dan aku akan menjadi papa yang baik untuk mereka." Luhan membuka kacamata dan memanjangkan lehernya untuk melihat ke meja pojok, "Kyungsoo itu yang memakai baju baby blue, 'kan Yeollie?" Luhan mengadah menatap Chanyeol dengan wajah sok menggemaskannya.

"Tapi tetap saja, aku akan berbicara dulu dengan anakku tentangmu. Mereka tidak terbiasa dengan orang baru." Chanyeol menurunkan tangan Luhan lagi, tapi sirusa menangkapnya cepat.

"Bagaimanapun juga mereka harus terbiasa. Aku akan menjadi papa mereka tidak lama lagi."

Jaehyun menatap sinis punggung Luhan. Dia memang berdiri disana sejak tadi. Mendengar percakapan menjijikkan dari dua orang didepannya. Atau mungkin dia hanya jijik pada orang yang menggandeng mantan suami bossnya itu. Berkata seenaknya, menjadi papa bagi sikembar? Emang semudah itu?

"Lu, lepas. Orang-orang mulai melihat kita."

"Kenapa? Bagus dong, itu berarti mereka setuju kalau kita menikah. Berita pertunangan kita sudah menyebar, Yeollie."

"Lu_"

"Kenapa berisik sekali?" Dari sudut, muncul Baekhyun yang sedang menggendong Sehun, menepuki pantatnya sayang. Baju Sehun sama persis dengan Kyungsoo yang membuat Luhan gemas disamping Chanyeol.

"Baekhyu_"

"Hai, Baekhyun-ssi." Luhan menyapa dengan semangat, tapi wajahnya masih menunjukkan keangkuhan yang membuat Baekhyun mengernyit tapi tetap membalas sapaan model itu.

"Oh hai, Luhan-ssi." Senyum Baekhyun, lalu dia melirik Chanyeol yang juga menatapnya dalam. "Ini kali pertama kita bertemu, ya?"

"Tentu saja. Aku sangat sibuk belakangan ini jadi baru sempat menemui mantannya calon suamiku." Luhan bersandar dilengan Chanyeol dengan senyum sinis menatap Baekhyun yang tidak tahu menahu soal pertemuan dadakan ini.

Ia menatap Chanyeol, "Kenapa kau tidak bilang akan datang bersama tunanganmu? Aku, 'kan bisa mepersiapkan pertemuan ini."

"Baekhyu_"

"Ah, bisakah kita langsung duduk dan mengobrol? Aku juga ingin menyapa calon anak-anakku." Kata Luhan tanpa dosa. Chanyeol memperingatinya dengan tatapan tapi sirusa tidak berpura-pura mengerti.

Baekhyun mengernyit bingung, ia meminta Jaehyun untuk membawa Sehun bermain bersama Kyungsoo dan Daeul. Ia juga bisa melihat kalau dari pojok cafe, Minseok sedang menatap mereka penasaran.

"Ayo ke ruanganku saja."

.

.

.

Jaehyun mengantarkan tiga cangkir latte keruangan Baekhyun. mereka duduk pada meja bundar dengan tiga kursi disamping jendela besar ruangan si mungil. Baekhyun mempersilahkan Luhan minum dengan ramah, ia juga tersenyum formal pada Chanyeol yang sejak tadi menatapnya.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Luhan-ssi?"

Luhan meletakkan lattenya, "Yeah, begitulah. Kau tidak akan pernah tau rasanya menjadi model terkenal yang dikejar-kejar kamera setiap hari. Tapi aku senang, setidaknya aku dikenal luas oleh masyarakat. Terlebih aku akan menikah dengan Chanyeol tidak lama lagi."

Baekhyun begitu tertohok mendengar rentetan Luhan. Ia tersenyum miris, mendengar cerita Luhan yang sepertinya begitu menyenangkan. Menjadi terkenal, disukai banyak orang dan kaya. Berbanding terbalik dengan dirinya, seorang anak petani yang dulunya tinggal didesa. Jika bukan karena Chanyeol, dia pasti tidak pernah merasakan hidup enak di Seoul. Memang semua karena Chanyeol, dan karena pria raksasa itu pula Baekhyun merasa kecewa.

"Aku senang mendengar itu." Ucap Baekhyun setelah beberapa detik terdiam.

"Lalu bagaimana denganmu? Apa Chanyeol masih menghidupimu?"

"Luhan, bicaramu." Peringat Chanyeol dengan tatapan tajam. Luhan menantangnya dengan menatap balik Chanyeol.

"Tak apa, Chanyeol." Dan simungil baik hati ini mencoba melerai, ia tidak mungkin melihat kedua pasangan itu beradu mulut hanya karena dirinya. Lagipula pertanyaan Luhan tidak terlalu buruk, "Chanyeol tidak lagi membayar tunjangan hidupku dan anak-anak. Hanya saja aku membuka akses untuk Chanyeol masih berhubungan dengan sikembar, diusianya mereka juga butuh Chanyeol sebagai daddynya."

Luhan mengangguk-ngangguk paham, merasa senang tahu bahwa Chanyeol tidak memiliki tanggung jawab lagi atas lelaki manis itu. "Bukankah aku juga harus mengakrabkan diri dengan mereka? Tak lama lagi juga aku akan menjadi papa bagi mereka, iya, 'kan Baekhyun-ssi?"

Baekhyun tertegun dikursinya. Diseluk hatinya merasa terusuk jarum halus yang membuat dadanya berdebar sakit sekaligus merasa takut. Ia mengerti betul maksud Luhan, tapi ia bahkan tidak berpikir kesana. Dimana Kyungsoo dan Sehun akan memanggil Luhan dengan sebutan 'papa', bagaimana sikembarnya memeluk Luhan sambil tertawa riang. Bagaimana sikembarnya menggandeng tangan Luhan dan mengatakan bahwa mereka menyayangi Luhan. Bagaimana jika itu terjadi?

Baekhyun menggeleng samar dan mencoba tersenyum sopan, mencoba sebaik mungkin untuk tidak membuat Luhan merasa tersinggung. Cukup ia melepas Chanyeol, tidak dengan sikembar. Tidak akan pernah.

"Maaf, Luhan-ssi."

"Kenapa? Kau tidak suka sikembar mengenalku? Kau tidak suka aku menjadi papa bagi mereka? Egois sekali." Luhan menatap sinis Baekhyun sambil bersedekap.

Chanyeol menghela nafas dengan tangan terkepal. Ia tidak suka jika orang lain memojokkan Baekhyun, berkata kasar pada Baekhyun. meski mereka tidak terlibat status apapun lagi, tapi Baekhyun masihlah 'harapan'nya. Ia menanti hari dimana ia akan kembali rujuk dengan Baekhyun.

"Anak-anakku tidak ada hubungannya dalam hal ini. Mereka sudah jatuh sepenuhnya ketanganku dan menjadi tanggung jawabku. Jika kau akan menikah dengan Chanyeol, kalian juga akan mendapatkan bayi." Baekhyun tercekat ketika mengatakan bayi. Ia sama sekali tidak berniat berkata seperti itu. Ia sama sekali tidak menerima jika Chanyeol memiliki bayi dan melupakan sikembar.

Ia tidak mau kasih sayang Chanyeol sebagai daddy sikembar terbagi.

"Well, bayi, ya? Aku juga sempat berpikiran akan memiliki anak kembar. Bukankah Chanyeollie hebat soal itu?" Luhan menggenggam tangan besar Chanyeol dan membawanya kepaha, menggerakkan tangan Chanyeol seolah mengelusnya.

Chanyeollie? Anak kembar? Mereka akan melakukannya dan Luhan hamil. Mereka akan bahagia dengan keluarga baru, Chanyeol akan senang dengan itu. Perlahan menjauh. Perlahan melupakan dirinya dan sikembar. Kyungsoo dan Sehun akan kehilangan daddy mereka secepat itu? Ia tidak mau anak-anaknya hidup kurang kasih sayang.

Dari semua kesalahan, tentu dirinya yang paling pantas disalahkan telah memutuskan untuk bercerai secara sepihak. Bahkan tanpa membicarakannya dengan Chanyeol.

"Luhan, aku harus kembali ke kantor."

"Ah, Chanyeollie. Aku masih ingin berbincang dengan Baekhyun-ssi. Mungkin dia bisa membagi cerita tentang dirimu."

Chanyeol langsung menarik Luhan keluar dari ruangan Baekhyun, tapi sebelum pintu tertutup Chanyeol mengintip punggung Baekhyun yang masih terduduk dikursi sambil menunduk. Baekhyun juga melirik dari bahunya lalu membuka suara,

"Chanyeol.. perbaiki hubunganmu dengan Kyungsoo secepatnya. Kyungsoo menunggumu."

Kemudian tak lama ucapan itu keluar, pintu Chanyeol tutup dengan pelan.

.

.

.

"PAPAA HIKS PAPAA HUWEEE~"

Baekhyun mengulum senyumnya dan menjulur tangan untuk menggendong Sehun yang duduk dipangkuan Minseok, sang anak langsung memeluknya sambil menangis terisak seperti habis dikeroyok masa. Baekhyun mengelus punggungnya sayang dan mengatakan maaf karena telah meninggalkannya.

"Sehunie jangan menangis. Tidak malu dilihat Daeul?" Kata Baekhyun dan duduk disamping Kyungsoo yang masih memakan tambahan kuenya, mulut penuh dengan krim dan sebagian mengenai jidatnya. Tangan Baekhyun terangkat membersihkan krim itu dan mengecup pipi Kyungsoo.

"Hiks papa hiks,"

"Sehunie kenapa?" Tanya Baekhyun mulai khawatir karena anaknya masih terisak bahkan sudah ada dirinya dipelukan Sehun. Ia melirik Minseok dan pria itu hanya menatapnya tanpa berbicara,

"Tadi hiks.. Sehunie melihat daddy bersama hiks.. Sehunie tidak tahu siapa paman itu, pa. Hiks-hiks.. daddy tidak peduli pada Sehunie padahal Sehunie sudah memanggil hiks.. daddy."

Baekhyun kembali tertampar akan pernyataan polos Sehun. Pasti anaknya merasa sedih diabaikan oleh daddynya seperti itu ya tapi mau bagaimana, Chanyeol membawa Luhan bersamanya. Bagaimanapun, bagi Chanyeol sekarang yang diutamakan adalah Luhan. Jadi Baekhyun mengecup seluruh wajah Sehun dan mengusak rambut basahnya keatas.

"Mungkin daddy tidak mendengar Sehunie, sudahlah. Sekarang ada papa disini." Baekhyun meniupkan nafasnya disekitar kening Sehun dan otomatis anaknya mengerjap karena matanya terkena tiupan, Baekhyun merasa gemas pun menggigit hidung Sehun.

"Tapi hiks.. Sehunie rindu daddy hiks.."

"Nanti kita bertemu sama daddy. Mungkin daddy terburu-buru harus kembali bekerja, sayang papa."

Sehun memeluk leher Baekhyun dan menyandarkan sisian wajahnya didada sang papa. Baekhyunpun melirik Kyungsoo yang duduk disampingnya, kembali diam dan menjawab seadanya Daeul yang sibuk berceloteh. Mengajaknya membaca beberapa buku dongeng yang dibelikan oleh ayah Jongdae.

"Apa yang kalian bicarakan, Baek?" Minseok mengeluarkan pertanyaannya yang sejak tadi ditahan. Baekhyun melihatnya setelah menghela nafas berat,

"Hanya berbincang biasa. Mereka benar-benar cocok, Luhan sangat cantik."

"Kau mencoba berbohong?" Minseok menatap Baekhyun datar, "Bahkan iblispun tahu model sialan itu sangat licik."

"Kenapa kau bicara seperti itu?"

"Karena memang itu yang kulihat. Kurasa karyawanmu juga berpikir seperti itu,"

Baekhyun menghela nafas lagi sambil mengelusi rambut hitam Kyungsoo dengan sayang, menatap wajah anak tertuanya dari samping. Bagaimana pipi gembil itu bergerak ketika mengunyah kue dan bagaimana bibirnya berlumuran krim.

"Kau yakin benar-benar ikhlas melepas Chanyeol? Kalau kulihat, pria raksasa itu masih mengharapkanmu, Baek. Pikirkan lagi, bagaimana nasib anak-anakmu dan bagaimana masa depan mereka." Minseok tak pernah mengalihkan atensinya dari Baekhyun, "Anak tak hanya membutuhkan peran seorang papa, dia butuh daddynya. Mereka butuh keduanya. Pikirkan Baekhyun, kalian bisa berbicara dan rujuk kembali."

"Tidak, Minseokie. Kau tidak mengerti bagaimana jadi aku, posisiku, perasaanku. Cukup sudah beberapa tahun ini Chanyeol mengabaikan kami karena pekerjaannya, tak pernah punya waktu bersama anak-anaknya. Aku tidak tahan, Minseok. Kupikir ini yang paling terbaik, bagi aku, anak-anak dan juga Chanyeol."

"Lalu, jika sudah begini baru ia sadar dan berubah? Sudah banyak kesempatan aku berikan tapi Chanyeol mengabaikannya. Sekarang.. sekarang.." Baekhyun menahan airmatanya dan menggigit bibir bawahnya yang bergetar, "Sekarang biarkan Chanyeol mencari cintanya yang lain, biarkan dia hidup dengan keluarganya yang baru. Aku.. benar-benar tidak apa-apa."

"Cintanya hanya ada padamu."

"Omong kosong. Aku akan mengantar anak-anak pulang, mereka butuh tidur siang." Baekhyun menggendong Sehun dan segera menggandeng Kyungsoo yang sedang melap mulutnya dengan tisu.

"Pikirkan lagi sebelum terlambat. Masa depan kalian atau egomu."

Baekhyun tak sempat pamit dengan benar karena begitu kalut dengan perasaannya. Minseok menggeleng saat Daeul bertanya ada apa dengan paman Baekhyun yang membawa Kyungsoo tiba-tiba.

.

.

.

Chanyeol menyentak tangan Luhan yang terus mengekornya masuk keruang kerjanya. Ia menatap Luhan tajam dan mendorong lelaki itu kedinding, memojokkannya dengan perasaan marah.

"Jangan pernah macam-macam dengan Baekhyun. Kau tidak pantas berkata merendahkan Baekhyun seperti tadi. Menyindirnya, kau pikir kau itu siapa, ha?"

Luhan tertegun karena bentakan Chanyeol benar-benar tepat didepan wajahnya, ia dengan berani menatap mata membara Chanyeol dengan maniknya yang bergetar.

"Aku calon tunanganmu Chanyeol, jika aku tidak berlaku seperti itu. Kapan kau akan move on? Kau masih mencintainya?" Tanya Luhan dengan suara parau, menahan isakannya.

Dia memang licik, tapi melihat Chanyeol membentaknya karena mantan suaminya, Baekhyun, membuat harga diri Luhan benar-benar tertindas. Dibandingkan pria jelek dan gendut seperti Baekhyun, dirinya masih jauh lebih baik dari segi manapun. Fisik maupun urusan ranjang.

"Rasaku tidak pernah hilang untuk Baekhyun."

Luhan terkekeh, satu bulir airmata jatuh dipipi kanannya. Air mata akan harga diri yang diinjak oleh calon tunangannya sendiri.

"Kau hanya belum melihatku dengan benar-benar, Yeol. Kau hanya tau aku anak manja yang selalu mengancammu, kau hanya belum melihatku."

"Aku sudah tahu siapa kau." Chanyeol menurunkan lengannya yang tadi memenjara Luhan, ia menatap tajam lelaki itu sekali lagi lalu berbalik menuju mejanya.

"Chanyeol!"

Luhan menarik tangan Chanyeol kuat sampai pria itu berbalik, ia langsung memeluk leher Chanyeol dan mencium bibir tebal itu. memiringkan wajahnya dan semakin menguatkan pelukan, menempelkan bibirnya dengan bibir Chanyeol lebih erat.

Si tinggi bersurai merah terbelalak kaget, ia bergerak cepat melepaskan kedua tangan Luhan tapi tangan kurus itu begitu kuat melilit lehernya. Memaksanya untuk membalas ciuman Luhan. Chanyeol melemah saat tak sengaja menatap mata terpejam Luhan yang basah, ia berpikir apa ia terlalu jahat? Membentak Luhan dan berani berkata bahwa ia masih mencintai Baekhyun didepan lelaki itu. Pasti rasanya sakit sekali.

Tapi memang ia mencintai Baekhyun, bahkan sampai bumi terbalik sekalipun dan melempar Baekhyun keujung belahan dunia lain. Ia akan mengejar cintanya. Tapi Luhan, tiba-tiba datang dan mempersulit keadaan. Membuat harapannya pupus, ia semakin menariknya menjauh dari Baekhyun. Menjadi tembok pembatas yang begitu kuat.

Mungkin dengan ia yang mulai memeluk pinggang Luhan, turut memiringkan kepalanya dan membalas lumatannya bisa membuat Luhan membaik dan memafkannya karena sudah membentak. Meskipun ia tidak benar menikmati ciuman itu.

Dalam hati Chanyeol, ia benar-benar meminta maaf pada Tuhan karena sudah mengkhianati Baekhyun. Sudah membuat cintanya terluka.

Si tinggi hanya terlalu lemah terhadap pancingan Luhan, ia tidak tahu ketika ia mulai terpejam Luhan membuka matanya. Menatapnya dengan tatapan kemenangan, dengan pelan menyunggingkan senyum miring puas disela lumatan.

.

.

.

Baekhyun tidak tahu, sejak siang tadi dadanya terus merasa sesak. Ia memukulnya berkali-kali berharap mereda. Tidak pernah ia berpikir memiliki penyakit sesak, terakhir check up tubuhnya baik-baik saja.

"Papa?"

Baekhyun mencoba mengulum senyum saat Kyungsoo menghampirinya dengan segelas air putih yang tampak kebesaran dikedua tangan mungil itu.

"Terima kasih, ya." Baekhyun menerima gelas dan meminumnya sampai habis, dengan begitu sesaknya sedikit berkurang. Mungkin karena ia melihat wajah khawatir Kyungsoo yang menggemaskan.

"Iya," Jawab Kyungsoo, ia duduk disamping papanya dan memeluk Baekhyun, meletakkan kepalanya didada lelaki mungil itu. Dengan sayang Baekhyun membalasnya.

"Papa sakit?"

"Tidak sayang," Baekhyun mengelus rambut Kyungsoo sambil menerawang pada dinding yang banyak sekali tertempel bingkai foto anak-anaknya.

"Papa jangan sakit, nanti Kyungsoo sendirian." Baekhyun merunduk untuk melihat wajah Kyungsoo yang sedih sambil cemberut.

"Kan ada Sehunie."

"Tidak mau, nanti yang ada Kyungsoo semakin repot karena Sehunie sangat cengeng."

Baekhyun tertawa. Saat Kyungsoo mendongak, menatap padanya disitu ia sadar bahwa rasa sesak didadanya mulai sedikit berkurang. Hanya karena menatap wajah anaknya.

"Papa janji, papa tidak akan sakit. Papa akan menemani Kyungsoo. Begitu juga dengan Kyungsoo, jangan sakit agar papa tidak sedih."

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk, "Uhm! Kyungsoo juga janji akan rajin makan sayur supaya tidak sakit. Hmmm Kyungsoo sayang papa."

Baekhyun menghujam ribuan kecupan dikepala Kyungsoo dan menepuk punggungnya menenangkan. Belum lama mereka menikmati waktu suara melengking milik Sehun membuat Kyungsoo merotasikan bola matanya,

"Sehunie juga mau dipeluk. Peluk Sehunie, peluk Sehunie!"

Ia langsung berlari dan memanjat sofa, menjatuhkan tubuhnya diatas dada Baekhyun dan memeluk papanya. Berhadapan dengan Kyungsoo yang sedang menatapnya jengkel sedangkan Sehun menatapnya dengan cengiran anak-anak.

Baekhyun memeluk kedua anaknya penuh kasih. Tak melewatkan satu kecupanpun dimasing-masing pucuk kepala sang anak. Dan ia kini tahu penyebab rasa sesak itu, sesak yang tiba-tiba datang. Ketika melihat kedua anaknya dia menjadi lebih baik dan merasa lega.

Ia terlalu merindu. Merindu seseorang yang telah menghadirkan kedua malaikat tanpa sayap untuknya, seseorang yang memberikan benihnya untuk tumbuh dan kini berada dipelukannya. Seseorang yang anak-anaknya panggil daddy.

Ia amat merindu seperti orang sinting.

.

.

.

Chanyeol mengantarkan Luhan kembali kegedung agensinya setelah ia mengajak Luhan makan siang meski terlambat, sudah pukul lima sore tapi Luhan memiliki janji dengan managernya untuk menandatangani kontrak pemotretan untuk W Magazine. Luhan melirik Chanyeol saat sudah melepas safetybeltnya.

"Aku akan turun," Katanya.

"Uhm."

"Ohiya," Luhan mengambil tas kulit mahalnya dijok belakang dan mencari satu barang yang ingin sekali ia tunjukkan pada Chanyeol, "Aku tahu kalau aku tak memaksamu, kau tak akan melihatnya."

Chanyeol melirik sebuah majalah Vogue yang Luhan serahkan, pada cover ia bisa melihat wajah dan pose Luhan yang terlihat begitu liar. Bahkan pakaiannya begitu terbuka.

"Aku tidak tertarik dan tidak punya waktu untuk melihat-lihat."

Luhan cemberut dan meletakkan majalah itu diatas dashboard. Ia mencondongkan tubuhnya pada Chanyeol dan mengecup pipi sang calon tunangan.

"Aku turun dulu, sayang. Jangan mengebut dan nanti malam aku akan menghubungimu. Bye!"

Tangan Chanyeol terangkat mengusap pipi bekas kecupan lelaki yang sudah berlari memasuki gedung agensinya.

Drrrttt drrttt

Drrttt drrrttt

Drrrrrttt

Chanyeol menatap layar ponselnya lama berpikir apa yang harus dilakukannya? Mengangkat atau mengabaikannya?

"Ya, ayah."

Dan opsinya jatuh pada 'bahwa ia masih menghormati ayahnya.'

'Pertunganmu dengan Luhan akan dipercepat. Kalian akan bertunangan bulan depan dan pemberkatan akan dilakukan bulan Agustus nanti. Ayah sudah membicarakannya dengan orang tua Luhan dan mereka setuju.'

Chanyeol melebarkan bolamatanya, giginya menggemertak marah selagi tangannya meremas stir kuat-kuat.

"Ay_"

'Jangan membantah anakku.'

Chanyeol membanting ponselnya asal. Ia berteriak marah dan memukul stirnya amat sangat marah. Menjambaki rambutnya merasa gila dengan posisinya yang serba salah.

Dia bahkan, belum berbicara secara empat mata dengan Baekhyun. Tentang bagaimana pendapat mantan suaminya itu, masih bisakah harapannya tercapai?

Atau akankah Baekhyun baik-baik saja?

.

.

.

TBC

.

Notes:

Yang mau timpuk Luhan jujur coba? Atau malah ada yang mau timpuk gue karena udah bikin Luhan disini jadi pengen nimpukin/?

Jan benci Luhan, apalagi benci gue :(

Konfliknya ga berat kok. Seringan senyum Ceye ajha :)

Terima kasih banyak yang ngereview, baik reviewer baru maupun yang ngereview again, terima kasih ya, terima kasih loh. Yang ngefav, ngefoll juga terima kasih banyaakk. Yang siders, terima kasih juga udah mau baca ni ff ngawur kaya abang juyuk. Terima kasih~

Maaf untuk typonya

Ps; Kamong is cafenya Kai~ mau ngasih nama cafe di ff aja gue bingung :')