TO LOVE THE EVIL – Chapter 3
Pairing: Megumi Takani x Sanosuke Sagara. Slight Kenshin x Kaoru
Manga/Anime: Rurouni Kenshin
Genre: Drama. Romance. Friendship.
Rate: T
Warning: OOC, AU, typos.
Disclaimer: Nobuhiro Watsuki.
.
.
.
Megumi menghela nafas, panjang dan berat.
Apa-apan itu? Barusan saja tiba-tiba suasana hatinya kembali diaduk-aduk dengan kasar.
Megumi tidak habis pikir mengapa batinnya bisa selabil ini tiap kali menyangkut diri seorang Kenshin Himura.
Hatinya yang semula damai dan tenang bagaikan langit sore yang cerah, seketika saja berubah menjadi langit gelap yang dipenuhi oleh awan kelabu serta angin kencang yang dingin.
Melihat Kenshin dengan segala kesempurnaannya, melihat Kenshin yang selalu bertutur kata manis kepadanya, dan juga mengingat pria itu yang tak lama lagi akan menikah dengan sahabatnya, hanya membuat rasa perih di hatinya semakin menjadi.
Megumi pun lantas tak hentinya mengutuk tindakan bodohnya yang tergesa mencari Sanosuke di Dojo.
Ah, mungkin ia seharusnya tidak langsung menuju Dojo. Mungkin seharusnya ia tidak usah mencari pemuda itu.
Mungkin juga –sebaiknya ia memang tidak usah peduli pada pertengkarannya kemarin dengan Sanosuke.
Akan tetapi entah bagaimana dan mengapa, dengan alasan yang Megumi sendiri tidak paham, dirinya tidak bisa tenang sebelum memperbaiki keadaan, sebelum menemui Sano dan mengucapkan sepotong kata maaf kepada pria jabrik itu.
Baiklah, abaikan saja fakta bahwa Sanosuke memang bermulut agak cerewet dan juga menyebalkan. Dibalik semua itu entah mengapa Megumi seolah tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah membuat pria bermulut besar itu tersinggung.
Megumi pun menghela nafas sekali lagi, seolah berusaha menenangkan hatinya yang meracau dengan banyak kata-kata.
"Ah"
Gadis itu mendesah tertahan karena tiba-tiba saja sesosok makhluk kecil melintas tepat di sisinya.
Seekor kupu-kupu. Makhluk kecil cantik yang memiliki sayap berwarna putih.
Cantik sekali, pikir Megumi. Tanpa sadar dia memandangi kepakan sayap hewan tersebut, memperhatikannya dengan seksama.
Kupu-kupu itu terbang dengan perlahan, menuju arah yang berlawanan dengan langkahnya. Tak peduli hembusan angin yang cukup membuatnya kewalahan, hewan itu terus saja terbang. Berjuang dengan sayap-sayap kecilnya yang begitu lucu.
Megumi pun berbalik, masih memperhatikan si serangga kecil yang kini tampak menjauh.
Setelah ekor matanya yang terhipnotis dari gerakan anggun kupu-kupu bertubrukan dengan sebuah bayangan putih di kejauhan sana -pada sosok yang juga tampak mengenakan pakaian berwarna sama dengan si kupu-kupu- Megumi pun tersentak dan menyadari bahwa ia telah menemukan apa yang sedang ia cari.
Itu Sanosuke!
Dengan pasti, sebuah senyum terukir dari bibirnya yang selalu berwarna merah itu.
"Sano!?" ucapnya sumringah –pada dirinya sendiri. Gadis itu pun berlari kecil mendatangi sang pemuda. Pemuda dengan rambut kecoklatan mencuat yang tak lain adalah Sanosuke.
"Sanosuke!" panggil Megumi sekali lagi.
Sanosuke tampak berjalan dengan santai, dan sepertinya menuju ke arah Dojo. Bisa dibuktikan dari langkahnya yang tidak lama lagi akan sampai pada gerbang kayu dari perguruan Kamiya tersebut.
"Eh?" pemuda itu hanya mengernyit bingung tatkala dihadapannya sudah tampak seorang gadis berambut hitam panjang sedang menyapa dirinya.
'Megumi?'
Megumi tersenyum tipis, menyejajarkan dirinya tepat di hadapan Sanosuke. "Sano, aku mencarimu sedari tadi... Kau –kau mau ke Dojo?"
Megumi bertanya dengan nada ceria seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.
Sanosuke tidak menyahut, dan hanya menjawab dengan ekspresi wajah yang datar –seolah tidak peduli. Pria itu lantas kembali mengayunkan kaki-kakinya yang panjang, menjauh dari situ.
Megumi tersadar bahwa Sano begitu dingin dan tidak antusias. Apa Sanosuke benar-benar marah padanya?
"Sano..." desah Megumi lemas. Ah, padahal ia setengah mati mencari pemuda ini, tetapi kenapa setelah bertemu malah menampilkan sikap tidak peduli semacam itu? Setidaknya meskipun marah, jawablah sapaan darinya!
Sanosuke masih membisu. Dan alih-alih menyahut, langkah kakinya menuju gerbang Dojo Kamiya Kasshin hanya berjarak tinggal beberapa meter lagi. Ia semakin dekat kesana, meninggalkan Megumi yang berjalan pelan menyusul dirinya.
"Hei, kau tidak mendengarku? Jawab aku, Sano!" ucapnya Megumi mulai jengkel.
Sanosuke menatap Megumi dengan alis yang bertaut. "Ada apa?" tukasnya malas-malasan. Baginya tidak ada yang mampu membuatnya antusias dari seorang gadis yang hobinya marah-marah didekatnya ini. Apalagi beberapa waktu yang lalu ucapan dari gadis itu cukup pedas di telinganya, membuatnya sedikit sakit hati.
Well, padahal jika dibandingkan dengan Kaoru, intensitas perang mulut bersama Megumi tidak terlalu parah. Sanosuke masih memiliki banyak waktu damai dengan dokter wanita itu.
Jika dengan Kaoru, Sanosuke selalu saja terlibat pertengkaran bahkan hingga melibatkan benda-benda disekitar mereka melayang. Dan biasanya Kenshin hanya sweatdrop melihat tingkah konyol mereka yang kekanakan itu.
Namun jika dengan Megumi, jika boleh jujur Sanosuke tidak terlalu menginginkan terjadinya keributan.
Kalaupun memang harus terjadi (dan Sano sadar itu karena mulutnya yang tidak bisa ia kendalikan dengan baik), Sano selalu berusaha agar perkelahian mereka berujung dengan happy ending (?).
Sano selalu mencerna tiap kata Megumi dengan serius, meski wajahnya seringkali tidak menunjukkan demikian.
Dan pada pertemuan terakhirnya dengan Megumi, Sano sungguh tidak menyangka bahwa arti dirinya bagi gadis itu tidak lebih dari sesosok teman yang tidak ia hormati. Ah, sungguh malang memang.
Wajah cantik Megumi sedikit memberengut. "Aku mencarimu sedari tadi! Dan saat kusapa kenapa jawabanmu malah tidak ada samasekali?!"
Sanosuke menghela nafas, bersiap dengan jawabannya.
"Barusan aku menjawab pertanyaanmu, kan? Lagipula... seperti yang kau lihat, aku mau ke Dojo" Sanosuke menjelaskan dengan singkat sembari kembali melanjutkan perjalanannya.
Sano semakin tidak menggubris dirinya, dan akhirnya dengan terpaksa Megumi berjalan mengikuti langkah panjang pemuda itu.
Sret.
Sebuah tarikan pelan menyentuh ujung lengan baju putih Sanosuke. Pada saat pemuda itu menoleh, didapatinya sebelah tangan Megumi yang terulur –seolah memaksanya untuk berhenti.
"Aku baru saja dari sana" ucap Megumi dengan suara dipelankan. Sano mengangkat lengkungan alisnya beberapa derajat, takjub karena Megumi tidak melanjutkan acara marah-marahnya.
Pemuda itu bisa melihat jelas raut wajah Megumi yang melembut –namun masih tidak disertai senyum.
Megumi melepaskan tangannya setelah Sano menghentikan langkahnya. Didalam hatinya ia meyakinkan diri bahwa ia tidak ingin menyulut pertengkaran lagi kali ini. Dan semoga saja, Sano berkenan mendengarkan penjelasannya.
"Aku mencarimu, Sano. Aku pikir kau ada disana"
"Oh. Lalu? Bukankah seharusnya kau tidak perlu repot-repot mencari aku yang menyebalkan ini, Megumi?"
Megumi terhenyak mendapati ucapan semacam itu.
"Jangan bilang begitu. Aku... aku –"
"Pulanglah, Megumi. Aku sedang tidak ingin bicara lebih lanjut denganmu. Bisa-bisa kita hanya bertengkar lagi seperti biasanya. Itu membuatku bosan"
"Sano….aku mohon. Jangan seperti itu! Maafkan aku!"
Sanosuke sedikit terkejut, namun menyimpan rapat-rapat fakta itu. Heh, Megumi meminta maaf kepadanya? Seperti bukan Megumi yang biasanya saja. Sejak kapan dokter ini menurunkan harga dirinya seperti ini?
Dengan tatapan tajam diperhatikan gadis berambut hitam itu. Helaian rambutnya yang tampak lembut sedikit tertiup angin sepoi. Matanya tampak gelisah, dan raut wajah cantiknya tidak menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi seperti biasanya.
Sanosuke sedikitnya merasa tertarik pada perubahan aneh semacam ini.
"Maafkan aku, Sano. Aku tidak bermaksud menyinggungmu pada waktu itu. Aku…"
"Aku tidak bermaksud kasar seperti itu"
Entah kenapa, Megumi mengatakannya dengan nada yang terdengar penuh sesal. Mungkin saja, gadis itu memang serius? Ah, kenapa Megumi jadi sesopan itu? Sungguh mengherankan, jika tidak bisa dibilang –luar biasa.
Raut wajah tegas Sanosuke mulai sedikit mencair. Sepertinya kata-kata Megumi cukup mujarab. Membuat kekerasan hatinya berubah.
"Kau mau memaafkanku, bukan?"
Malangnya, Sano masih diam. Meskipun Megumi Takani tidak tahu jika otak pria itu sedang berputar, berfikir keras.
"Aku….." sang gadis menggantung ucapannya.
"Aku belakangan ini merasa kacau, Sano"
"..."
"Ken-san akan menikah, Sano. Kau tidak tahu? Berita itu –berita itu cukup menyiksaku….."
Megumi menunduk, pasrah dengan bibirnya yang kini malah mencurahkan perasaan kepada sosok Sanosuke Sagara.
Sontak dalam otak keduanya terbayang mengenai sosok ramah Kenshin yang sedang bersanding dengan Kaoru. Ya, keduanya tidak lama lagi memang akan segera menikah, akan resmi berstatus sebagai suami istri.
Ah, jadi mengenai masalah itu.
Sanosuke akhirnya mengerti, Megumi pasti sedih karena hal tersebut. Itu sudah pasti, bukan?
Dan ia maklum, sangat maklum. Ia lebih dari sekedar tahu bahwa Megumi juga mencintai Kenshin –sama halnya dengan Kaoru Kamiya. Ia seringkali melihat dengan mata kepalanya sendiri, selama ini Megumi selalu menahan rasa sesak tiap kali mendapati Kenshin dan Kaoru berduaan.
Raut wajah dokter itu cukup jelas untuk menggambarkan sebuah perasaan yang spesifik: cemburu.
Bahkan Sanosuke yang tidak peka ini pun memahaminya.
Ah, dasar pria samurai yang beruntung! Banyak wanita di sekelilingnya yang dengan gampangnya jatuh hati pada pria berambut merah panjang itu. Kenshin memang pria yang luar biasa. Sanosuke dengan jujur mengakui hal itu.
Megumi menghela nafas –panjang dan berat, mendramatisir suasana. Entahlah, sepertinya menceritakan isi hatinya saat ini kembali membuat batinnya terasa sedikit muram, sebagaimana yang terjadi padanya belakangan ini.
Semoga Sanosuke mau mengerti.
Lalu dengan sorot mata sedih Megumi memberanikan diri menatap wajah Sano yang tampak berpikir keras.
Tidak, ia yakin Sano mau mengerti, pasti mengerti. Mereka beberapa kali terlibat percakapan yang dalam bersama-sama. Dan sepengetahuan Megumi, Sano tipe yang tidak terlalu buruk dalam kepekaannya terhadap perasaan wanita. Meski harus mengabaikan ketidaksopanan mulutnya itu.
"Permintaan maafmu kuterima."
Megumi pun lalu mengembangkan sebuah senyuman bahagia mendengarnya.
"Tapi setidaknya, jangan pasang wajah murung seperti itu. Kau terlihat jelek, tahu."
Sanosuke tersenyum tipis, lalu membuang pandangannya sesaat –menghindari tatapan intens Megumi pada wajahnya.
Ah, terima kasih Sano.
Senyuman di bibir Megumi semakin melebar. Akhirnya, ia tidak menyesal sudah bertemu dengan Sano saat ini. Benar kan, ternyata Sanosuke masih cukup baik, masih cukup punya perasaan untuk menghargai dirinya yang sedang dilanda duka karena asmara ini.
"Terima kasih" tukas Megumi tulus, mengulang ucapan yang sudah lebih dulu terucap di dalam benaknya.
"Sebenarnya aku juga baru tahu jika mereka akan menikah. Kenshin baru saja memberitahuku. Mendadak sekali" lanjut Sano lagi –tanpa diduga Megumi.
Ah, membahas pernikahan itu. Dan itu bisa mengganggu suasana yang sudah nyaman ini.
Batin Megumi kembali sedikit bergejolak mendengarnya. Senyuman manis di wajahnya mulai berkurang sepersekian persen.
"Eh? Maaf jika aku mengungkitnya lagi! Aku Cuma mau bilang jika aku terlambat mengetahuinya. Kau tidak apa-apa kan, Megumi?" Sano mencoba meralat ucapannya –merasa sedikit khawatir. Ia tidak ingin kata-katanya mengubah mood nona cantik itu lebih lanjut.
"Ya. Aku tidak apa-apa kok!" tukas Megumi sambil kembali menampilkan senyum ceria yang sempurna. Kebohongan yang cukup bagus. Namun Sanosuke tahu persis hal itu.
Keduanya terdiam sesaat, membiarkan mulut mereka masing-masing terkunci dengan rapat. Hanya angin berdesir yang menghiasi kebersamaan mereka berdua saat ini.
"Baiklah kalau begitu... Terima kasih banyak, Sano. Maaf, aku pergi dulu. Sampai nanti" Megumi bersiap melangkahkan kakinya. Memutar tubuhnya dan membelakangi Sano.
Beberapa detik kemudian Megumi benar-benar sudah pergi. Sanosuke hanya terus menatapnya dari kejauhan dengan sedikit merasa prihatin.
Meskipun raut wajahnya tampak bahagia, namun Sano tahu –Sanosuke tahu Megumi sedang tidak sebahagia itu. Dan bodohnya, meskipun sangat ingin –entah apa yang membuat lidah Sanosuke terasa sedikit kelu- ia tidak tahu bagaimana caranya menahan nona itu lebih lama lagi. Apalagi jika ia ingat bahwa sejak awal Megumi memang sedang tidak ingin berada di Dojo maupun di dekat wilayah sana.
Ia hanya bisa pasrah. Memandang kepergiannya, dengan mengucapkan sedikit harapan di dalam hatinya, semoga gadis itu bisa melupakan kesedihannya.
.
.
.
Hari yang lain. Matahari sebentar lagi akan menyusup hilang dengan sempurna di balik awan. Langitpun sudah tidak membiru lagi, sudah terkontaminasi oleh semburat oranye kekuningan tipis di ufuk barat, berpadu dengan gradasi gelap yang mulai menutupi sebagiannya.
Cuaca terasa sejuk, seolah bersiap menyambut malam dingin yang belakangan setia menemani kota.
Sekarang adalah penghujung musim gugur. Di sebuah jalan setapak, tampak dua sejoli sedang berjalan beriringan.
"Ngomong-ngomong….terima kasih banyak, ya Sano. Sudah mau repot-repot mengantarku" ucap Megumi Takani dengan tulus. Ia dan Sanosuke sedang berjalan berdua –berdampingan.
Sanosuke yang masih setia dengan kostumnya yang berwarna putih tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana. Sementara Megumi tampak membawa sebuah kotak kecil berbungkus kain di tangannya.
Megumi melirik Sanosuke yang tampak cuek, memastikan jangan sampai teman lelakinya itu tertidur sambil berjalan. Yah, sepanjang perjalanan hari ini Sanosuke memang agak berkurang kecerewetannya. Dengan kata lain, pemuda itu jadi lebih pendiam.
Bukannya Megumi tidak suka pada perubahan semacam itu. Tetapi rasanya aneh saja jika si ayam jantan ini tidak berceloteh panjang lebar seperti biasanya.
"Pelan-pelan, Himeka!" sebuah suara dari seorang nenek tua menginterupsi, dilanjutkan dengan Megumi yang nyaris terjatuh karena ditubruk oleh seorang anak kecil.
"Nenek kejar akuuu! Cepaaat!" teriak si anak kecil ceria, menyisakan sang nenek yang tergopoh-gopoh menyusulnya.
Megumi yang terkejut buru-buru menyeimbangkan posisi berdirinya. Rupanya si anak kecil yang berlari tadi menabrak lengan kanannya dengan cukup kuat, membuatnya hampir tersungkur ke atas tanah.
Saat Megumi sadar dirinya tidak jadi terjatuh, ia menyadari Sano sedang menahan memegangi lengan bajunya –menggenggam erat lengan kirinya.
"Ah. Maaf ya, nona. Kau tidak apa-apa?" sang nenek yang merasa tidak enak karena tingkah cucunya buru-buru mendatangi Megumi yang masih berdiri rapat dengan Sanosuke.
Buru-buru Sano melepas tangan dan menjauhkan diri, saat wanita tua itu memandangi ia dan Megumi.
"Tidak apa-apa bu" sahut Megumi tersenyum. Terdengar kalimat 'syukurlah' dari si nenek dan tak lama kemudian ia pergi menyusul sang cucu yang sudah berlari semakin menjauh.
Megumi dan Sano memperhatikan dua sosok itu dalam diam, seakan tidak punya hal lain yang bisa mereka amati.
Ah ya, mereka baru saja dari rumah seorang pasien. Beberapa jam yang lalu Megumi meminta bantuan Sanosuke Sagara untuk menemaninya kesana.
Letak yang cukup jauh, ditambah lagi dengan daerah yang rawan akan kejahatan.
Sudah merupakan rahasia umum jika banyak preman berkeliaran yang gemar mengganggu wanita jika sedang berjalan seorang diri.
Megumi takut, tak berani jika harus pergi sendirian. Ia tidak seperti Kaoru yang bisa membela diri dengan bermain pedang kayu. Ia hanyalah seorang dokter wanita yang samasekali tidak pernah belajar mengenai ilmu semacam itu.
Nah, sosok Sanosuke yang cukup tangguh menurutnya –seorang pemuda berandalan yang cukup jago berkelahi ini mungkin bisa menjadi bodyguard yang baik. Tidak ada salahnya bukan, meminta bantuan dari seorang teman?
Memang sih, selama ini Sano sudah cukup sering menjalankan tugas ini. Pemuda itu seringkali dengan baik hati mengantarnya pergi ketika harus menuju tempat-tempat yang agak jauh –dan juga pada jam-jam rawan kejahatan.
Sanosuke sangat baik, tidak jauh beda dengan Kenshin Himura.
Hmm, jika Megumi pikir, bahkan Kenshin tidak sebaik Sano dalam hal ini. Pria samurai kharismatik itu terlalu sibuk berada di samping Kaoru Kamiya. Yah, wajar saja bukan. Kaoru adalah kekasih pria itu, dan keduanya sudah menjalin hubungan dengan cukup lama.
Megumi dan Sanosuke masih berjalan dengan santai. Semilir angin terasa sejuk –mereka sangat menikmatinya.
Sesekali terlihat kesibukan para masyarakat yang sedang mendalami urusan masing-masing. Dari kejauhan juga terlihat beberapa anak bermain dan berlarian, namun ditegur oleh orangtuanya untuk segera pulang karena hari sudah beranjak malam.
"Kau sudah sering ya, membantu proses persalinan?" tanya Sanosuke tiba-tiba –memecah keheningan.
Sedari tadi, sejak awal pergi dan bahkan saat pulang malam ini mereka berdua sangat jarang mengobrol. Biasanya keduanya tidak pernah kehabisan topik pembicaraan, membahas satu hal ke hal yang lain. Berdebat, bahkan nyaris berperang mulut –mengingat keduanya adalah anak muda yang sama-sama keras kepala, tidak mau mengalah. Tapi ternyata suasana malah terasa canggung bagi Sano. Karena itulah, ia iseng untuk bertanya. Setidaknya, alasan keberangkatan Megumi tadi bisa menjadi topik sederhana yang cukup membantu.
"Tentu saja, dan itu tidak mudah Sano" Megumi menyahut dalam nada yang pasti. Keduanya lalu bertatapan sejenak.
"Tidak mudah? Maksudnya?"
Megumi tertawa kecil. "Membantu proses persalinan itu –cukup mengerikan"
"Mengerikan? Bahkan bagi seorang dokter sepertimu?"
Megumi sekarang mengangguk. Rambut hitamnya bergoyang mengikuti anggukan kepalanya.
"Iya. Kau pikir gampang ya? Mungkin jika suatu saat kau punya istri, dan mengetahui istrimu akan melahirkan –kau baru akan mengetahui betapa sulitnya menjadi seorang wanita. Perjuangan dalam melahirkan itu sungguh luar biasa"
Sanosuke tampak sedikit takjub mendengarnya. Oh ya? Mata gelapnya seolah berkata seperti itu.
"Tapi yang pasti kami para laki-laki tidak perlu repot-repot untuk hamil, bukan? Hahaha" tukas pemuda itu lebih lanjut, diselingi tawa renyah. Gadis disebelahnya hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Meski begitu, ia tetap tersenyum.
"Kalian laki-laki hanya pandai menghamili saja. Kalian tidak mengerti betapa sakitnya proses melahirkan seorang anak!" dokter itu memprotes, memejamkan mata dan menjelaskan betapa berbedanya karakter dari dua gender –laki-laki dan perempuan.
Sanosuke menghentikan keceriaannya. Ah, apa iya? Apakah sebegitu beruntungnya menjadi seorang laki-laki? Pembahasan ini cukup jarang juga untuk ia bicarakan bersama Megumi. Ini obrolan langka bagi mereka berdua.
"Kau sendiri?" tanya Sanosuke tiba-tiba, dengan nada datar –tanpa beban.
"Apa?"
"Kapan kau ingin menikah? Punya suami dan –ingin punya anak?" lanjut pemuda Sagara itu santai, seolah tidak berfikir ketika menanyakannya.
Eh? Itu pertanyaan yang cukup aneh. Megumi memandang Sano dengan cukup heran. Kenapa pemuda itu bisa mengajukan pertanyaan macam itu? Membicarakan pemikiran mengenai masa depan? Apa benar, Sano penasaran mengenai hal itu? Ingin rasanya Megumi menggeleng, namun ia rasa itu tidak perlu.
"Menikah? Kenapa kau bertanya mengenai hal itu, Sano?" selidiknya.
Sanosuke tiba-tiba nampak gelagapan, sedikit gugup. Dan itu semua karena tatapan intens dari wajah cantik Megumi Takani yang tepat tertuju pada wajahnya. Iris gelap wanita itu berusaha menyoroti iris matanya.
"Ti-tidaak.. hanya saja... Aku ingin tahu apa kau ingin mencari pria lain selain Kenshin"
Ah, jadi itu maksudnya? Megumi menarik nafas, mengalihkan pandangannya pada jalanan di depan mereka. Kerikil-kerikil kecil pada jalan setapak menyambut matanya. Sementara sekeliling mereka sudah tidak terang lagi.
Sedikit gelap –dan juga sunyi.
"Yah, mungkin saja Sano... Tapi yang pasti, saat ini aku belum memikirkan ke arah sana!" jawabnya dengan hembusan nafas lembut. Sepertinya gadis itu berkata jujur.
Sano masih memperhatikan Megumi. Mendalami ekspresi aneh gadis itu. Ia sudah tidak gugup lagi.
Hell, padahal ia benar-benar ingin mengutuk dirinya yang barusan menjadi seperti orang bodoh; bertanya mengenai masalah pribadi dan juga berkata-kata dengan gagap. Sanosuke menelan ludah, mempertahankan sikap coolnya selama mungkin. Jika ia bersikap abnormal lagi, pasti hanya akan jadi bahan tertawaan –terutama oleh Megumi.
"Aku hanya membiarkan waktu saja yang menentukan. Mungkin nanti, suatu saat aku juga akan bertemu dengan jodohku"
Jodoh?
Jodoh, ya? Sano tak hentinya memikirkan kata-kata gadis itu.
"Megumi….. memangnya kau tidak mau denganku?" ucap Sanosuke dengan sedikit ragu.
Megumi sedikit terkesiap mendengarnya. "A-apa maksudmu, Sano?" ucapnya memastikan. Pernyataan Sano barusan terdengar cukup membingungkan serta membuat kaget.
Sanosuke membuang pandangannya, sedikit grogi jika harus terus bertatapan dengan gadis berambut panjang itu.
"Ah, tidak! Lupakan!" ucapnya sambil nyengir lebar. Meralat, bahkan terkesan menyesal sudah mengatakannya. Megumi diam-diam tersenyum tipis melihatnya. Sanosuke tampak sedikit salah tingkah.
"Kau….benar-benar mencintai Kenshin, ya?" tanya Sanosuke lagi.
Kali ini bola mata Megumi menjadi semakin melebar. Apakah lagi-lagi itu sebuah pertanyaan iseng? Dan juga –apakah ini sesi wawancara? Segalanya adalah tentang Megumi. Pemuda itu seolah cukup banyak bertanya, entah apa yang ada di otaknya. Megumi Takani samasekali tidak mengerti.
"Ng"
Hanya kata super pendek itulah yang Sano dengar. Sebuah kata aneh yang tidak cukup membuatnya puas, namun Sano cukup paham dengan maknanya. Dua buah huruf itu mewakili perasaan Megumi yang mengiyakan bahwa ia masih memiliki perasaan istimewa terhadap sang samurai istimewa, Ken-san.
"Tapi…" gantung Megumi. Matanya tampak mulai sedih.
"Mungkin tak lama lagi rasa itu akan berubah. Mencintai suami orang lain adalah hal yang gila" katanya sembari mendesah.
Terasa berat. Dunianya sedikit terasa berat saat ini. Apalagi jika mengingat perihal pernikahan Kenshin dan Kaoru. Meskipun bibirnya berucap rela, Megumi masih sedikit merasa tidak rela. Ah, bahkan menurutnya takdir sedikit kejam –karena tidak berpihak padanya. Nasibnya benar-benar kurang baik. Tidak seberuntung nona Kamiya.
Sanosuke hendak mengangguk, tetapi urung. Melihat raut sedih temannya itu sedikitnya membuatnya iba. Ah, jika ini mengenai Megumi, ia memang tidak segan-segan untuk melibatkan perasaan. Ia sendiri juga bingung, gadis ini terasa kerap mengaduk-aduk hatinya. Membuatnya marah, namun kemudian menyesal setengah mati karena sikap-sikap lamanya. Ia –cukup peduli pada gadis ini. Cukup peduli pada perasaannya. Terutama saat-saat ini. Dimana ia tahu bahwa Megumi sedang merasa terpuruk.
.
.
.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di klinik. Dan disana sedang sepi.
Dokter Genzai sedang keluar kota untuk beberapa urusan. Dan tinggallah sang dokter muda wanita itu menghabiskan segala detik dalam hidupnya seorang diri. Memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang dokter, dan juga mencoba mengantisipasi kesedihan pribadinya belakangan ini.
"Terima kasih banyak Sanosuke. Sudah mengantarku." Ucap gadis itu penuh hormat ketika mereka sudah sampai.
"Ya" sahut sang pemuda tersenyum simpul.
"Beristirahatlah" nasihatnya bijak. Ia tahu Megumi sedikit kelelahan.
"Kau juga" sahut Megumi dalam senyuman tipisnya. Dan Sano cukup suka melihat itu.
Ketika pemuda itu berbalik –hendak pergi, tiba-tiba Megumi menyapanya kembali. "Ngomong-ngomong, kau mau kemana, Sano?" tukasnya cepat, takut kawannya itu keburu menghilang.
Sanosuke menoleh, berpikir sejenak. "Entah. Mau cari makan?" Sahutnya kalem. "Kenapa?"
Ia heran, ia kira Megumi sudah menyatakan perpisahan pada pertemuan mereka hari ini. Ada urusan apa lagi?
"Ehm… aku juga akan makan malam. Mau makan disini –denganku?" tawarnya.
Dan kedua mata Sanosuke langsung membulat. Tawaran yang bagus. Mana mungkin ia menolaknya!
"Ah, tidak –tidak usah! Itu hanya akan merepotkanmu!" tepisnya. Ah, sungguh bodoh, kali ini pemuda itu memutuskan untuk berakting –disertai senyuman lebar yang konyol.
Megumi menatap kedua matanya. Ekspresinya tampak serius. Ia ragu akan kejujuran Sano yang terlihat mencurigakan itu. Sano terlalu ceria mengatakan jawabannya.
"Kau yakin?" ucapnya datar. Sanosuke diam, menelan ludah dengan sedikit berat. Tampak Megumi menatapnya tajam penuh selidik serta keingintahuan. Dalam sepersekian detik, bukannya mulut pemuda itu yang berucap untuk menjawab. Tapi malah perutnya yang mengeluarkan bunyi keroncongan yang memilukan. Sano pun merasa sangat malu!
Megumi pun tak sanggup menahan tawa karenanya –tanpa peduli pada Sano yang wajahnya berubah memerah.
"Kau kelaparan Sano. Sudahlah, jangan menolak. Makanlah di sini, biar aku siapkan dahulu" Megumi menjelaskan dalam senyumnya, ia lalu masuk serta mengisyaratkan Sano agar mengikutinya masuk untuk menunggunya.
Dengan wajah malu-masam-salah tingkah, pemuda itu menyeret langkahnya yang terasa berat. Sungguh perut lapar keterlaluan!
.
.
.
"Masakanmu enak, seperti biasa" komentar Sano saat dua anak muda itu nyaris menyelesaikan makan mereka.
Ya, mereka sepakat makan malam berdua –di klinik tempat tinggal Megumi. Megumi melakukannya sebagai bentuk respek dan terima kasih, dan Sano melakoninya karena tidak bisa lagi berkompromi pada perut berototnya yang tengah kosong.
Megumi tersenyum, tidak menanggapi omongan Sanosuke lebih lanjut. Tentu saja, ia belum bertransformasi seperti sosok Sano yang sudah begitu kejam menghabiskan porsi makan dengan begitu beringas. Wanita yang paham tata krama seperti dia mana mungkin bisa sama dengan pemuda urakan itu.
Sanosuke selalu tergesa-gesa ketika makan! Dan Megumi lebih memilih untuk mengunyah setiap suapannya dengan anggun, tak peduli meskipun jam makannya berjalan menjadi jauh lebih lambat dari Sanosuke.
"Kuharap Kaoru bisa meningkat kemampuan memasaknya, seperti dirimu!" Sano masih berbicara dengan ngasal. Kemudian ia terkekeh sendiri, dan Megumi meliriknya sejenak.
Di lain tempat, Kaoru Kamiya bersin satu kali. "Haatsyii!"
"Kau tidak apa-apa, Kaoru?" tanya Kenshin yang tampak khawatir, takut calon istrinya sedang tidak sehat.
"Uhm, ya, tak apa. Terima kasih, Kenshin" sahut Kaoru pelan. Keduanya pun saling tersenyum.
Kembali kepada Sano dan Megu.
Megumi Takani sudah menyelesaikan makannya. Ia pun berniat membereskan peralatan makan mereka berdua. Dalam diam, Sano terus mengamati gadis itu. Mereka sama heningnya, dan Megumi seolah memasang ekspresi tidak peduli pada pemuda itu yang terkesan tidak punya pekerjaan lain selain mengamati dirinya.
Megumi berhenti sejenak dari pekerjaannya, menatap Sano yang sedari tadi melihatnya intens.
'Ada apa'? begitulah raut wajah cantiknya seolah berkata-kata. Sano tersadar dan hanya mengeluarkan sebuah cengiran lebar. Konyol. Dan Megumi tidak mempedulikannya lebih jauh lagi.
.
.
.
Bunyi denting pelan terdengar dari mangkuk porselen yang beradu dalam rak berwarna perak. Megumi mengeringkan tangannya, menyudahi acara cuci piringnya.
Gadis itu tidak menyangka, ternyata proses pengerjaannya terasa begitu lama. Salahkan otaknya, yang bekerja sambil berpikir. Salahkan hatinya, yang mencuci peralatan makan sambil penuh dengan perasaan gundah serta kata-kata. Berada seorang diri memang sangat tidak baik untuk saat ini.
Dan setelah menyadari itu, Megumi buru-buru melepas celemeknya. Gadis itu teringat perihal Sanosuke yang mungkin masih berada di kediamannya, yang kemungkinan sedang menunggu dalam keadaan bosan.
Bergegas ia mendatangi ruang makan, mengira Sano masih berada diruangan itu.
"Sano?" ucapnya sembari celingukan. Ia menebarkan pandangannya, berharap Sano tidak kabur tanpa pamit dari wilayah kekuasaannya. Ternyata yang dicari tidak ada, tidak terlihat batang hidungnya. Bahkan rambut cokelatnya yang mencuat seperti sapu itu juga tidak tampak dalam iris mata gelap Megumi.
Sang dokter melangkah lagi, pergi ke ruang sebelah.
Bingo. Yang ia cari ternyata ada disana, duduk dengan khusyuk dengan kepala agak menunduk.
Megumi memelankan langkahnya, ragu apakah Sanosuke masih membuka mata.
Jangan-jangan pemuda itu tertidur? Sebab Megumi bisa mendengar dengkuran halus yang cukup kentara disana.
Dengan sedikit mengendap, didekatinya sosok jangkung itu. Setelah berada cukup dekat, Megumi duduk dan mengamati wajahnya dengan lekat. Benar saja, yang didapatinya adalah kedua mata yang tertutup. Sanosuke sedang tidur!
Megumi berdecak, bertanya-tanya didalam hati mengapa temannya ini bisa terlelap hanya dalam waktu singkat.
Selain tukang berkelahi, Sanosuke Sagara juga tukang tidur, eh?
Entah sejak kapan laki-laki ini memulai aktifitas tidurnya. Postur yang masih tampak duduk, serta menyilangkan tangannya di dada. Punggungnya lebarnya tersandar pada dinding kayu. Dan kepalanya tertunduk sedikit, mengimbangi raut wajah pulasnya yang tampak polos.
.
.
.
A/N:
Hay! Whoa lama sekali tidak saya update ini fic.
Tapi seneng juga akhirnya ada review tambahan. Hehehe. Fandom Samurai X sepi ya? mau gimana lagi. Huhuhu.
Review ya teman-teman!
Gomen atas kekurangan dan keterlambatan fic ini.
Makasih udah mau baca! See ya!
