Happy Rading~

"A-apa maksu-dmu ini se-semua, T-tobi?"

"Kau terlalu naif, Nagato. Dengan mudahnya kau terbujuk dengan ucapan bocah itu." Tobi menguatkan cekikan dileher Nagato. "Kenapa kau mengkhianatiku?" Tobi sedikit melemaskan cekikannya, agar Nagato mudah berbicara.

"Aku merasa, dia anak yang akan mendamaikan dunia terkutuk ini."

"Hanya karena firasat bodohmu itu?"

"Dia seperti diriku yang dulu."

"Harusnya kau tau dia itu masih seseorang bocah, belum mengerti betapa kejamnya dunia ini." Tobi mendekatkan tangan kanannya kemata Nagato, "Kalau itu pilihanmu, aku tak bisa berbuat apa-apa."

"Tapi aku akan mengambil kembali mata pinjaman ini." Lanjut Tobi.

"Karena itu aku akan menjadi penopang jalannya untuk menggapai keinginannya." Tak mau diam saja, Nagato mengeluarkan besi hitam dilengan kirinya, mencoba menusuk Tobi.

Tak mau mati konyol, Tobi pun memiringkan kepalanya menghindar tusukan itu "Kau kira itu cukup untuk membunuhku?"

"Tidak." Nagato meletakkan tangan kanannya yang nganggur ke perut Tobi.

"Untuk saat ini, aku cukup mengalahkanmu dulu."

"Shinraa Tensei!"

.

.

.

.

Takatsuki Akira Present:

Filthy, Defiler, Disgrace

Warning!

Overpower!naru, Smart!naru, OCC, Typo, Author Pemula

Genre: Adventure, Friendship, Action, Family, Romace

Rating:

M (Jaga-jaga)

Chapter 3

Selamatkan Sanbi!

.

.

.

Tobi pun terpental setelah Nagato mengeluarkan jurus mematikannya, Tembok itu retak saat menghentikan gerak Tobi yang tak terkontrol itu, topengnya telah seperempat hancur, menampakkan mata kanannya yang merah bersinar di kegelapan, menatap Nagato dengan murka.

"Kau berani menantangku?" Seraya Tobi berdiri dari acara jatuhnya itu.

Setelah mengeluarkan jurus itu, Nagato pun terjatuh karena tubuhnya tidak mampu lagi menopang berat sang empunya. "Kau pikir kami (Nagato dan Konan) tidak tau rahasia jurusmu itu." Nagato pun terbatuk-batuk mengeluarkan sedikit darah. "Kalau kau pikir kami hanya menonton semua rencana yang kau buat? Jika iya, Kau salah besar, Tobi."

"Menyerahlah, brengsek. Kau tak mampu bergerak lagi." Tobi semakin dekat dengan Nagato, dia pun mengambil Kunai di kantong belakangnya.

"Dia tidak sendirian, dasar sialan!" ucap seorang wanita dibelakang Tobi tiba-tiba. "Shinigami no Mai." Ratusan tombak kertas pun melesat ke arah Tobi secara cepat. Tapi sia-sia karena tombak-tombak itu hanya melewati tubuhnya, tembus seperti tidak ada berat massa dihadapannya.

"Akhirnya kau muncul juga, wanita jalang." Ucap Tobi, melirik Wanita itu dibelakangnya.

Tubuh wanita itu pun menjadi ratusan kertas, menyebar disegala penjuru ruangan yang gelap itu, yang lebih mirip tempat persembunyian.

"Kau tidak apa-apa, Nagato?" Tanya nya setelah berada di samping lelaki itu, "Maaf aku terlambat."

"Aku baik-baik saja, Konan. Hanya saja kita harus mundur darinya dulu, cakraku belum sepenuhnya kembali." Balas Nagato yang terengah-engah itu.

"Kau punya cara?"

"Serang dia dengan kertas-kertas mu itu, jangan berhenti sebelum ku suruh." Nagato berusaha mengumpulkan kembali Chakranya yang telah terkuras tadi, untuk persiapan rencana nya itu

"Baik." Konan pun mengangkat tangan kanannya, seolah olah menunjuk ke arah Tobi, Ratusan kertas itu pun langsung melesat ke arahnya tanpa henti.

"Kau tidak memberiku celah ya?"

Serangan ini bertujuan agar Tobi tidak memadatkan tubuhnya, jika saja dia memadatkannya, walaupun sekilas, maka badannya akan hancur karena kertas-kertas disekitarnya itu bukan kertas biasa, melainkan kertas peledak!

"Sekarang Konan!" Konan menghentikan serangannya itu.

"Kuchiyose no Jutsu!"

2 ekor Kelabang dan seekor Kadal muncul, dan langsung menyerang Tobi.

"Kita mundur sekarang, Konan!" Perintah Nagato.

Konan pun langsung membawa kabur Nagato, dengan sayap indahnya itu, tidak mungkin mereka menang menghadapai Tobi dengan keadaan Nagato yang seperti ini, karenanya Konan lebih memilih menjalankan rencana Nagato itu.

"Kau pikir kau bisa kabur dariku? Aku akan mencarimu dan mengambil kembali mataku!" Ucap murka Tobi sebelum kedua orang di depannya itu hilang, tak menunjukkan lagi diri mereka, 'Sial!'

.

.

.

Pohon-pohon menghiasi panorama tempat meraka berpijak sekarang, dengan cahaya matahari yang sedikit berhasil menyelinap, dengan angin lembut yang menggoda mereka, memainkan rambut yang yang sedang beristirahat itu.

"Nee, Naruto. Apakah kau akan kembali ke Konoha?" tanya gadis bersurai hijau mint dan retina yang memukau, seperti warna madu murni.

Memejamkan matanya, lalu menjawab, "Aku tidak tau juga Fuu-chan, jika aku kembali, untuk apa aku berada disana? Mengingat perbuatan orang tuaku dan warga desa, membuatku sakit, sangat sakit." Naruto menunjuk ke arah hatinya, "Walaupun aku berusaha mengabaikan rasa sakit ini, tapi tetap saja, sangat sulit." Ucap lirih Naruto.

Kini mereka sedang beristirahat di sebatang pohon sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Kirigakure, mereka sudah berjalan selama 2 hari, bukan, lebih tepatnya terbang.

"Apapun pilihanmu, aku akan tetap mengikutimu, Naruto." Ujar Fuu dengan senyuman lebarnya.

"Aku tidak punya tujuan pasti Fuu-chan, bukankah kau lebih baik tinggal di Kiri saja? Mengingat Mizukage disana sangat memuliakan Jinchuruki."

"Ehm." Fuu menggeleng, "Kau telah menyelamatkanku, Naruto. Jadi aku berhutang nyawa kepadamu."

Setelah itu, suasana pun menjadi hening, Naruto paling benci dengan suasana ini, begitu juga Fuu, lalu mereka berusaha memecah situasi ini.

"Ano-"

"Ano-"

Mereka sama-sama ingin bertanya, tetapi Naruto mengalah dan membiarkan Fuu duluan. Bukankah ini salah satu sikap Pria sejati, mengalah dari seorang Perempuan?

"Kau duluan saja, Naruto." Ternyata pilihan Naruto salah, jika menghadapi gadis seperti Fuu ini, maka pilihan itu tak munjur, mengingat betapa kerasnya kepala sang gadis.

Naruto menghembuskan nafas berat, lalu bertanya, "Sebelumnya aku heran, apa kau berteman dengan Bijuu mu?"

"Yup, Kami bersahabat." Fuu membusungkan dadanya, bangga dengan dirinya sendiri, " Tak banyak lho Jinchuruki dapat bekerjasama dengan Bijuu nya."

"Kenapa bisa?"

"Sebagian Bijuu membenci manusia, semakin banyak jumlah ekornya, semakin besar kebenciannya, karena kebanyakan manusia hanya ingin Kekuatan dari Bijuu saja, tanpa memikirkan perasaan Bijuu nya. " Jelas Fuu. "Aku tak sanggup memikirkan beban Jinchuruki Kyuubi."

"Jadi mereka memiliki perasaan juga?"

"Iya, karena itu, aku dan Bijuu ku ini bisa akrab, Kami berusaha mengurangi beban kami satu sama lain."

"Kau hebat, Fuu-chan." sempat terlintas dipikirkannya sosok adik perempuannya, Narumi yang menjadi Jinchuruki Kyuubi. "Apa mereka memiliki nama juga?"

"Jarang mereka memberitahukan namanya ke orang lain, yang belum bisa dipercayai."

"Lalu nama Bijuumu-"

"Choumei." Potong Fuu.

"Kenapa kau memberitahukan namanya ke aku? apa tidak masalah bagimu?"

"Tidak, aku mempercayai mu." tiba-tiba suara Fuu berubah menjadi agak...aneh? seperti anak gadis kecil? Dan matanya pun berubah menjadi vertikal.

"Siapa kau?" lepas dari keterkejutan nya, Naruto bersiaga dengan menciptakan tombak es di tangannya, jaga-jaga jika saja-

"Hehehe... Kau lucu Naruto-kun, ini aku Choumei."

"Dimana Fuu-chan?!"

"Padahal baru sebentar kalian berpisah, tapi kau seperti berpisah darinya bertahun-tahun."

"Aku serius, Choumei!"

Mendengar itu, Choumei terbelalak kaget, baru kali ini dia dipanggil dengan namanya selain Jinchurukinya saat ini, biasanya orang lain akan memanggilnya monster.

"Tenang saja Naruto-kun, dia berada disini kok" sambil menunjuk dadanya. "Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar saja, boleh kan?"

Naruto sedikit tenang mendengar itu, dia pun menghilang tombak es menjadi butiran es yang indah, "Kau mengagetkan ku, Choumei."

"Hehehe, maaf Naruto-kun." sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Aku tertarik padamu."

Mendengar itu, Naruto mundur dari tempat duduknya menjauh dari Choumei yang berwujud Fuu itu. "Ma-maaf, Choumei. Aku masih normal, aku masih tertarik dengan wanita." Ucap Naruto dengan tergagap-gagap, bagaimana bisa dia sama Bijuu ehm ehm. 'Sadar Naruto, tidak mungkin aku bisa melakukannya dengan Bijuu, walaupun dia sekarang memakai tubuh Fuu-chan, tapi tetap saja..' Batin nista Naruto.

"Bukan itu maksudku bodoh." Choumei pun memukul kepala Naruto.

"Ittaaaaaaaaaiiii..." Naruto memegang kepalanya yang berasap tersebut, "Apa-apaan sih?"

"Aku belum selesai berbicara, tapi kau memotong omonganku!"

"Iya deh, Gomen..."

"Aku hanya heran kenapa kau tertarik dengan kami para Bijuu?" Tanya Choumei dengan antusias.

"Aku ingin memiliki teman yang selalu berada didekatku." Ujar Naruto sambil menikmati indahnya panorama di maula bumi ini. "Aku selalu ingin bisa berbicara dengan seseorang, kapanpun dan dimanapun."

"Kau tidak ingin memiliki kekuatan hebat seperti kami?"

"Tidak, kekuatan ku ini sudah cukup, aku hanya ingin memiliki teman seperti Fuu-chan, dia selalu ditemani walaupun secara tidak langsung."

"Sebelum aku bertemu Fuu-chan, aku sangat kesepian setelah Nee-chan meninggalkanku, aku ingin memiliki teman. Sebab itu aku langsung bisa akrab dengan Fuu-chan, karena kami sama-sama ingin memiliki teman."

Mendengar curahan Naruto, membuat Choumei iba terhadapnya, ia ingin bertanya siapa Nee-chan yang dimaksud, tapi dia tak ingin membuat Naruto semakin sedih, "Jadi kau menginginkan seekor Bijuu?"

"Maunya sih..." Lirih Naruto

"Kau tau kan Bijuu di kirigakure saat ini?"

"Sanbi?"

"Menurutmu kenapa dia lepas kendali?"

Naruto berpikir sejenak, "Kalau gak salah, Jinchuruki nya mati kan, setelah perang saudara, Jadi dia tidak ada yang mengontrol lagi?" Ucap Naruto dengan pose berpikir.

"Ping pong, Kau benar.."

"Jadi apa urusannya?"

"Mungkin dia mau menjadi Partner mu?"

"Mana mungkin dia mau, dia tidak mau hidupnya kembali dikurung kan? Apa lagi aku tidak memiliki chakra.." Jawab sendu Naruto.

"Masalah itu, serahkan saja padaku, aku akan berbicara padanya." Ujar Choumei meyakinkan Naruto dengan Jempol nya.

Naruto langsung memeluk Choumei yang berada di tubuh Fuu,"Hem...Arigato, Choumei."

"Sama-sama Naruto-kun."Choumei pun membalas pelukan Naruto.

Ghuooooooooooooooooooo

"Gawat Naruto, seperti nya sanbi hampir ditaklukkan, Kita harus cepat."

"Iya, nanti kita ngobrol lagi, sekarang ada masalah yang lebih penting."Naruto melepaskan pelukannya.

"Aku akan berganti dengan Fuu."

Naruto langsung melesat ke arah suara itu dengan sayap es indahnya itu, meninggalkan Fuu dibelakang nya.

"Nee, Naruto, Tunggu akuuuu..." Teriak Fuu dibelakangnya, lalu menyusul Naruto dengan sayap kumbangnya itu

.

.

.

"Mizukage-sama, sepertinya ada yang berusaha menaklukan sanbi." Lapor seorang yang berpakaian jonin khas Kiri, dengan mata di kiri yang ditutup membungkuk didepan sang Pemimpin desa.

Wanita bersurai merah maroon, panjang sebokong dan memakai baju biru yang bahunya dibiarkan terbuka, sedang meratapi desanya, sebagian telah hancur akibat terjadinya perang saudara, yang saat ini banyak warga dan shinobi sedang bekerja keras membangun kembali desa ini.

"Sudah kuduga, Akatsuki akan bergerak." Lalu wanita itu menghadap ke jonin yang melapor. "Berapa orang?"

"2 Dari Akatsuki, dan 2 orang tak dikenal yang sepertinya membantu sanbi."

"Orang asing?"

"Iya."

"Aku harus kesana sekarang."

"Biar kami urus sama Mizukage-sama, anda istirahat saja."

"Tidak, sudah tugasku sebagai pemimpin yang berhadapan dengan musuh yang berbahaya." Wanita itu menepuk bahu jonin itu.

"Ta-tapi.."

"Tenang saja Ao, aku akan kembali." Wanita itu sekarang berada dibalik daun pintu, "Jika ada yang mencari ku, bilang aku sedang ke kamar mandi."

'Dasar, Kau tidak berubah, Mei.' Batin Ao

.

.

.

"Well, sepertinya kita kedatangan tamu, Itachi."Ucap seseorang pemegang pedang yang bergerigi dan mulut berada di ujungnya.

"Hm." Hanya itu jawaban sebagai respon bahwa dia pun tau.

"1 bocah asing, dan 1 Jinchuruki, tak kusangka kita dapat 2 Bijuu sekaligus." Ujar nya melihat gadis didepannya itu.

"Itachi dari Konoha dan Kisame dari Kiri, dengan ini aku ucapkan lepaskan sanbi." tangan Naruto saat ini sedang bersidekap di dadanya.

"Wah menarik bocah, Kau akan menjadi santapan Samehadaku ini." Seraya mengibaskan pedangnya

'Kenapa Naruto ada disini, bukankah dia sudah lama hilang?' Batin Itachi.

"Are? Samehada ku tidah beraksi, atau jangan-jangan, Kau tidak memiliki chakra, bocah?

"Entahlah." Naruto mengalihkan pandangannya ke Itachi, " Setelah ini, kita perlu bicara, Itachi-san."

"Em."

"Fuu-chan aku akan menghadapi makhluk aneh itu, Kau cukup tahan Itachi saja, dan jangan tatap matanya." Bisik Naruto, dengan itu, Naruto dan Kisame menghilang mencari tempat untuk pertarungan mereka.

Saat ini hanya tersisa Fuu dan Itachi yang saling berhadapan, mata merah yang telah siaga berubah menjadi 3 tamoe.

"Aku tak menyangka ada manusia lain yang menginginkan kekuatan ku, memang semua manusia sama saja." Ucap sanbi yang saat ini tubuhnya penuh luka

Sebenarnya sanbi tidak selemah ini, hanya saja sesudah dia kehilangan Jinchuruki nya, dia harus rela setengah kekuatan habis hanya untuk keluar dari sosok itu. Jika saja Sanbi dengan kekuatan penuhnya, mungkin keadaan akan terbalik.

"Hei Isobu, kami ingin menolong mu dari Akatsuki, atau kau ingin kembali dikekang dalam patung kakek itu?" Jawab Fuu yang saat ini telah bertranform dengan Choumei.

"Aku sudah lelah dengan semua ini, kuserahkan padamu, Choumei." Isobu yang netebenenya seekor Sanbi langsung menyelam ke dasar laut. "Aku akan istirahat sebentar."

Fuu pun kembali ke tubuhnya, setelah Isobu pergi, "Jadi apa yang akan kita lakukan, Itachi-san?"

.

.

Saat Naruto berada di area yang cukup kosong, seperti lapangan yang telah lama tidak digunakan, menghadapi Seorang Jinchuruki tak berekor, emang saat ini Kisame tidak dalam kondisi fitnya, terlihat tubuhnya penuh luka-luka dan darah merembes darinya, atasnya pun tidak mengenakan apa-apa lagi, menampakkan dada bidangnya yang berwarna biru itu.

"Akan kulihat kemampuanmu, kudengar dari Zetsu kau kuat, dengan mudah bisa mengalahkan leader." Kisame membentuk kuda-kuda bertarung nya.

"Saat itu, aku hanya beruntung saja Kisame-san." Naruto pun menciptakan 2 pedang esnya di kedua tangannya. "Chakra mu pun sudah terkuras, Kau tidak bisa menggunakan mode Bijuu tak berekor lagi, itu sangat menguntungkan ku."

"Wah wah, Kau membuatku semakin tertarik, bocah."

Mereka langsung melesat mengadu senjata satu sama lain, Setelah beberapa saat saling unjuk otot, tak ada yang mau mengalah, mereka melompat kebelakang, sebelum kembali menyerang.

"Sebaiknya kau menyerah saja bocah." Ujar sombong Kisame.

"Dalan mimpimu." Naruto pun maju menyerang dada Kisame, Kisame menghindar dengan sedikit menunduk, dan menyerang kaki Naruto, melihat itu Naruto melompat keatas, seraya mengucapkan, "Hyoujitsu: Spairu!", belasan tombak pun tercipta di sekeliling Naruto, Langsung melesat kearah Kisame dengan cepat.

Melihat itu, Kisame sempat terkejut dibuatnya, 'Tanpa segel tangan? Sepertinya aku harus serius menghadapi bocah itu."

Kisame menangkis semua tombak itu dengan pedangnya, semuanya berhasil dia tangkis, pecahan es yang hancur lebur berserakan disekitarnya.

"Hanya itu kemampuanmu?" Ejek remeh Kisame.

"Heh?" Naruto mengangkat alisnya sebelah, "Kau terlalu meremehkan musuhmu." Mengangkat tangannya keatas, "Hyoujitsu: Mirra!"

Tercipta cermin es di sekeliling Kisame dari bekas bongkahan es tadi, melihat itu kisama menepisnya dengan Samehada, Berniat menghancurkannya, Tapi anehnya serangan itu seperti kembali menyerang sang boss.

"Buaaagh." Sayatan horizontal tercipta di dada kisame, "Apa-apaan ini?"

"Wah wah, Senjata makan tuan ya?" Naruto menyeringai. Lalu kembali menciptakan tombak ditangan kanannya. "Cermin itu mengembalikan serangan lawan, jadi agak repot lho untuk melenyapkannya."

"Jadi ceritanya, aku tersudutkan ya?" Kisame kembali berdiri, di tengah bongkahan cermin Naruto, "Apa kau sangat menyukai tombak?"

"Dengan Tombak, Aku bisa menyerang dari jarak jauh mampun jarak dekat." Sahut Naruto.

"So.." Kisame merapalkan jurusnya. "Suiton: Mizuumi no Jutsu!" Air menyeruak dari tubuhnya, Sehingga tubuh Kisame pun ikut menyusut, seperti mencair karena enceran air itu.

"Kau hebat, Kisame-san, mencairkan tubuhmu agar kau bisa keluar." Naruto mengalihkan pandangannya ke kiri.

"Mana mungkin aku kalah seperti itu kan?" Kisame membentuk segel tangan. "Ini adalah area jangkauanku, banyak air yang dapat kumanfaatkan." Ujar Kisame, "Suiton: Hen Suiryuudan no Jutsu!" Naga Air berkepala 3 pun tercipta diatasnya.

"Groooooooooooargh!"

"Apa kau lupa Kisame-san?" Naruto mengambil ancang-ancang ke arah Kisame, "Kalau zat cair dapat dibekukan oleh es?" Naruto pun melesat kearah Kisame dengan cepat.

"Ckk, Aku tidak akan kalah melawan bocah sepertimu!" Murka Kisame, seakan mengerti maksud si boss, Naga itu pun maju, untuk menyerang Naruto.

Melihat itu, Naruto melemparkan tombak ditangannya, ke kepala Naga itu, "Itulah yang kumaksud!" Tombak itu tertancap di matanya, sekejab seluruh tubuhnya membeku, tak dapat bergerak. "Hyoujitsu: Meiku!" Hujan es turun setelahnya.

Hujan itu mengenai beberapa bagian tubuh Kisame, membeku dibagiannya. "Apa-apaan lagi jurus aneh ini." Kisame berusaha menghindar, menggunakan pedang besarnya itu sebagai tameng. "Siaaaalaaaaaan!"

"Kau terlalu sibuk Kisame-san, sampai-sampai kau lupa terhadapku." Bisik Naruto ke telinga Kisame, Tangan kanannya menyentuh punggung Kisame, "Tak ada yang selamat dari sentuhanku."

"Bajingaaaaan, kau pikir ini semua akan selesai?!" Kisame Berontak-rontak didalam es tersebut, bagian bawahnya telah ikut membeku, menyisakan tangan kanan yang memegang Samehada. "Kau akan menyesalinya Bocah!" Kisame berusaha membentuk segel dengan tangan yang tersisa, ia berusaha keras untuk bisa melakukannya dengan sebelah tangan.

"Eits, Jangan bergerak." Naruto mematahkan jarinya, Menjatuhkan Samehada.

"Aaaarghh," Rintih Kisame. "Dasar anak haram, anak pelacur yang diperkosa iblis, Haram jadah!"

"Mulutmu terlalu kasar, Kisame-san."

"Lebih kasar mulut gadis bajingan itu kan, kau sudah pernah tidur dengannya ?" Seakan-akan tak mengindahkan kata Naruto, dia tambah mengolok-oloknya.

Tangan Naruto mengeras, pandangannya tertunduk, sehingga matanya tertutup poni putihnya itu. "Diamlah.." Rintih pelan Naruto.

"Heh, Bagaimana rasa mulut kasarnya itu ketika menghi-" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Kepala Kisame telah terpisah dari raganya. Darah pun keluar darinya dengan deras, membasahi tubuh yang membeku tersebut.

Tanpa perintah, tercipta sebongkah es menghalangi darah tersebut untuk mengenai sang tuan, seakan mengerti tujuannya, es tersebut tercipta dengan sendirinya.

"Kau boleh menghinaku, tapi..." Naruto menghentikan ucapannya, lalu mengambil Samehada yang tergeletak itu, "Tapi jangan menghina Temanku!" Tegas Naruto.

Samehada terisak-isak setelah tewasnya sang tuan, tangisannya pecah setelah mendengar ucapan Naruto.

"Maafkan aku, Samehada." Naruto menciptakan sepasang sayap, lalu terbang, kembali ke tempat Fuu berada. Meninggalkan jasad Kisame yang membeku dengan letak kepala yang tak jauh dari nya.

.

.

"Fuu-chan, kau baik-baik saja?" Tanya Naruto yang kini berada disamping Fuu. Sementara Samehada diletakkan dibahunya, disebelah tas yang ia kenakan.

Kini Fuu Terduduk dengan keringat yang bercucuran ditubuhnya, dia terengah-engah kehabisan nafas, matanya tersirat tatapan kosong. Sementara Itachi berdiri tak jauh dari mereka, dengan mata kanan yang telah berdarah, berdiri dengan wibawanya.

"Fuu-chan!" Naruto menggoyang-goyangkan tubuh Fuu, seakan tak berpengaruh, Naruto menatap Itachi, "Cukup, Itachi-san. Kau berlebihan!" Teriak Naruto.

Itachi seolah mendengar teriakan Naruto, lalu menutup matanya, kembali ke mata onyx nya semula. "Aku hanya sedikit mengajarkannya."

"Na-naruto.." Lirih Fuu, nada syok masih terdengar didalamnya, dia sangat takut, bahkan tubuhnya sampai bergetar. "Ma-maaf, a-aku lengah, a-aku menatap mata-nya." Fuu mengenggam baju Naruto, seperti tak akan membiarkan dirinya pergi lagi.

"Tenanglah, Fuu-chan. Aku ada disini." Naruto mendekapkan kepala Fuu ke dada nya. "Seperti yang diharapkan dari mata terkutuk itu, bahkan Bijuu saja tak dapat mematahkan Genjutsunya." Ucap Naruto ke Itachi. "Kau masih terkenal dengan Genjutsumu."

Tak mengubris ucapan Naruto, Itachi berkata, "Jadi, kau berhasil mengalahkan Kisame, tidak, lebih tepatnya membunuhnya."

"Itu hanya kecelakaan, awalnya aku tak berniat membunuhnya." Naruto mengusap-usap pucuk kepala Fuu.

"Bagaimana bisa kau membunuhnya dengan cepat, terlalu cepat bagi Nuke-nin class S." Suaranya masih menoton, penuh wibawa.

"Aku diajarkan untuk tidak memberi celah sedikitpun melawan musuhku, dan langsung menghabisinya jika celah telah ada. Intinya, Jangan biarkan musuh bergerak dengan leluasa, dan kalahkan dengan cepat."

"Souka, Jadi kau sekarang sudah kuat ya, Naru." Sekilas tampak senyuman Itachi, Sekilas, ya, hanya sekilas.

"Begitulah Itachi-Nii." Naruto Tersenyum, "Jadi bisakah kau bertanggung jawab terhadap perbuatanmu?" Tanya Naruto mengisyaratkan ke arah Fuu.

"Biarkan saja, aku hanya menampakkan dunia jika Bijuu telah terkumpul semua, mungkin dia hanya syok melihat kau telah mati disana."

Sekilas masa lalu Naruto, ia memang kesepian, tak ada yang mau bergaul dengannnya, tetapi ada seorang Anbu yang dekat dengan Naruto, ia bertugas mengawasi Naruto, walaupun itu bukan misi, tapi itu hanya keinginan Itachi sendiri, karena merasa iba dengan nasib Naruto, terkadang mereka sempat bercanda ria, bercerita, makan ramen bersama, dan banyak hal yang menyenangkan lainnya. Sampai tragedi Itachi membunuh seluruh anggota klannya, lalu menghilang, tak meninggalkan jejak sedikitpun, Naruto berusaha mencari Itachi ke seluruh pelosok desa, sampai-sampai ia rela menyelinap ke bawah got/selokan. Tapi hasilnya nihil. Disaat itulah Naruto kembali sendirian lagi. Walaupun masih ada Ino yang menemaninya.

"Sudah lama ya, Naruto. Bagaimana kabarmu?" Tanya Itachi yang kini duduk disamping Naruto.

"Dasaaar, setelah menghilang tanpa kabar, sekarang kau tenang seolah-olah tak terjadi apa-apa." Mata Naruto telah berkaca-kaca.

"Aku punya alasan sendiri, Naruto." Sekarang malah Itachi yang mengusap-usap kepala Naruto. "Kau masih cengeng seperti biasa." Canda Itachi.

Tak sadar, kini Fuu sudah tertidur didekapan Naruto.

"Aku tau, aku yakin kalau Nii pasti punya alasan ketika melakukan sesuatu." Naruto tersenyum karena rasa senang dihatinya, "Sasuke berusaha membunuhmu."

"Aku tau itu, Naruto. Aku telah memprediksikannya, semua."

"Kau tetap penuh perhitungan ya, Itachi-Nii, karena itu aku sangat mengangumimu."

"Apa karena itu kau memanjangkan rambutmu sepertiku?" Tanya Itachi.

"Kurasa iya." Naruto menyamankan posisinya agar Fuu tetap tertidur di pangkuannya. "Jadi bisakah kau menceritakan semuanya, termasuk alasan kau bergabung dengan Akatsuki?"

"Apa untungnya bagiku?" Tanya itachi dengan alis yang terangkat sebelah sambil tersenyum.

"Aku akan menceritakan kisahku, sampai alasan aku berada disini." Yakin Naruto. Seraya menjulurkan tangannya.

"Heh, jadi sekarang kau sudah pandai bernegosiasi ya?" Itachi menerima salaman Naruto, "Baiklah, aku Setuju."

.

.

Kini Itachi telah menceritakan semuanya, mulai dari rencana kudeta Uchiha, penyerangan Danzo terhadap Shisuii yang mengharuskan Itachi membunuh semua anggota klan, termasuk keluarganya, dan pacarnya sendiri, menyisakan adik kecilnya, Uchiha Sasuke. Lalu alasan ia masuk ke organisasi kriminal, Akatsuki.

Naruto pun sama, ia telah menceritakan semua kisahnya, dari mulai ia mencari Itachi, dibuangnya dia ke tengah Kutub, lalu berjumpa dengan Nee-channya, sampai ia bisa berada disini.

"Tak kusangka, Yondaime-sama tetap mengabaikanmu, padahal ia telah berjanji untuk peduli terhadapmu, karena itu syarat-syarat dariku agar aku mau melakukan misi itu, Tapi..." Itachi mengeraskan tangannya, "Ia melanggar janjinya, dan membuangmu keluar desa. Kuso.."

"Tak apa-apa kok Itachi-nii. Jika itu tak terjadi, mungkin kita tak akan bertemu, dan aku juga mungkin masih lemah, tak memiliki kekuatan sedikitpun, lagian aku sudah memiliki beberapa orang yang berharga bagiku." Naruto menatap Fuu sejenak, yg sedang tertidur dengan manisnya. "Dan aku juga sangat beruntung bisa bertemu dengan Nee-chan." Naruto tersenyum, ia menyadari takdir baik yang telah ia tempuh, walaupun awalnya Naruto menderita, toh ujung-ujungnya dia juga menikmatinya. Emang terbukti semua yang buruk belum tentu buruk bagi Kamii-sama, Kamii-sama memiliki skenario tersendiri. Tak ada yang mampu menduganya.

"Tapi, aku masih tak habis pikir, ternyata perjalanan antar dimensi itu benar-benar bisa dilakukan, padahal faktanya tubuh tak sanggup menopang beban didalam celah dimensi itu, sungguh menakjubkan." Tangan Itachi menopang dagunya, sikap orang berpikir, lalu angguk-angguk tak jelas. "Dia pasti sangat hebat, aku ingin berterima kasih pada Esdeath itu, dia telah merawatmu dengan baik."

Naruto sweatdrop mendengar itu, ingatan Naruto kembali terngiang-ngiang saat sedang latihan bersama Esdeath, tepatnya ketika Naruto diserang habis-habisan oleh Esdeath tanpa ampun, padahal baru pertama kali mereka latihan, coba bayangkan, pertama kali! Nyawa Naruto sudah beberapa kali menari diluar tubuhnya, memang Esdeath tetap teguh memakai motto 'tak ada waktu bermain-main' tak bisa diajak kompromi sedikitpun. Nasib...oh nasib.

Tapi, dibalik itu semua, Naruto tetap bersyukur karena berjumpa dengan Nee-channya itu, berkatnya, dia dapat mengelana seorang diri, tepatnya 2 orang semenjak kejadian di Taki.

"Dia mungkin akan kembali, jadi tunggu saja."

"Mungkin?" Tanya Itachi penasaran.

"Iyaa, masalah Nee-chan benar-benar rumit, ditambah dengan kisah cintanya yang begitu merepotkan." Naruto mengambil pedang Samehada dipunggungnya. "Tapi ia berjanji akan kembali."

"Kuharap kami dapat bertemu." Ucap lirih Itachi, tapi tak dapat didengar Naruto.

"Kau bilang sesuatu?"

"Tidak." Sanggah Itachi, "Tapi mengingat dia harus melewati celah dimensi sekali lagi, aku dapat memaklumi jawabannya dengan kata 'mungkin'."

"..." Tak ada respon dari Naruto, Naruto tetap membersihkan Samehada dengan bantuan esnya, menghilangi noda-noda kotor ditepi pedangnya, Samehada kini telah tenang, menerima nasib yang menimpa sang mantan tuan.

Fuu sedikit menggeliat, mengingatkan Naruto akan sesuatu, "Oo ya Itachi-nii, aku penasaran, setelah Shisuii-san selamat, dan berhasil mengalahkan Danzo, kemana bola matanya?" Tanya Naruto bingung, karena Itachi tak menceritakan bagian itu.

"Heh, kau sangat teliti ya?" Lalu Itachi memejamkan kedua matanya, lalu kembali dibuka, menunjuk kearah mata matanya yang telah bertranformasi ke bentuk Shuriken beserta 4 persegi kecil disekelilingnya, "Dia mentransplantasikan matanya ke mataku." Ujar Itachi lalu mengembalikan matanya ke semula.

"E-eeeeeeh? Jadi kau telah mencapai tahap terakhir. Ein Mangekyo Sharingan?" Naruto terkejut mendengar itu, karena tahap itu baru satu orang yang berhasil menguasainya, yaitu Uchiha Madara. "Kupikir kau baru mencapai tahap Mangekyo."

"Hehehe... begitulah." Kekeh Itachi.

"Pantesan kau mampu menundukkan Nanabi (Ekor 7)" Naruto melepaskan pegangannya pada Samehada, Samehada sedikit meringis, tapi perhatian Naruto kini sepenuhnya ke Itachi.

"Naruto, jangan tinggalkan aku..." Ngigau Fuu.

"Suaraku kebesaran." Naruto menutup mulut dengan kedua tangannya, seolah jikalau ditutup suaranya tadi tak membesar.

"Mana mungkin kan aku bisa menundukkan Nanabi cukup dengan Mangekyo, apalagi dia termasuk 3 pemimpin Bijuu." Balas Itachi.

"Makanya aku tadi bertambah kagum terhadapmu, kupikir kau bisa melakukannya hanya dengan Mangekyo." Tersirat sedikit nada kekecawaaan didalamnya, "Berarti Itachi-Nii sekuat Madara dong." Naruto mengajungkan jempolnya.

"Tak tau jugak sih, kami belum pernah bertarung." Itachi menggeleng, merendah diri.

"Nanti aku akan beritahu Nee-chan, kalau ia bisa bertarung melawan orang yang sekuat Madara. Hahahaha..." Ketawa sinis Naruto.

Sekujur tubuh Itachi merinding seketika, berusaha mencari alasan, tapi sia-sia, ia tak menemukan apa-apa. Sampai ada seseorang menginterupsikan mereka, mengalihkan pandangan mereka seketika.

"Jadi begitu ya, Itachi..."

"Kau..."

TBC

Yoshaaaa, Akhirnya siap juga (Gak nyadar dah sampe 4k nulisnya), kagak nyangka ane dapat banyak respon dari reader sekalian, Alhamdulillah dah lebih 50 orang yg nge-fav/foll. Ane merasa cukup puas.

Apa adegan Fight nya seru? walaupun singkat ye...

Untuk beberapa pertanyaan, ane simpulin jadi 1 jawaban aje ye, supaya mudah jawabnya.

Untuk main pairnya, ane dan tentuin siapa alphanya, tapi tetep ane rahasiain, supaya agak wow gimana gitu... jadi ane masih minta saran ame pairnya yang laen, niatnya sih buat harem, tapi gak terlalu over deh, dan alasannya gak maintream, makanya ane niat minta saran reader, kalo bisa sih dengan sedikit alasan kenapa si cewek suka sama Naruto.

Masalah Esdeath ane ada rencana sendiri

Klo ada yang menganggap Hyouton itu lebih lemah dari Mokuton, maka telah salah besar, bukannya fakta telah membuktikan antara hubungan es dan kayu bagaimana? cari sendiri aje dah.

Kalo masalah kekuatan Naruto, ane rasa es sudah cukup kli ya?

Masalah kembali ke Konoha, masih ane pertimbangin, lagian Naruto aja masih bingungkan mau ngapain disana. Jadi jika ada saran untuk alur cerita kedepannya, mohon dikemukakan ya...!

Kalo masalah Update, ane usahain 1 minggu 1x, tapi maaf ye ane telat, kami baru siap UKK, ditambah ada beberapa masalah di sekolah. Bukan masalah biasa, tapi masalah yang sangat merepotkan (Kok jadi curhat ya?)

Dan satu lagi, apa penulisan ane cukup rapi dan teratur? Bagaimana dengan suasana ceritanya, apa terasa nyata? tolong sarannya

Bagi yang ingin nge-flame, mohon kata2nya janga terlalu nusuk ye, ane bisa down nantinya

Jadi intinya, silahkan review...review... karena review itu sangat memengaruhi kesenangan author tersendiri lho...(ane baru rasain pas udeh mulai menulis) See You Next Chapter...

Dan Terimakasih sebelum nya untuk readers karena telah nge-fav/-foll dan mereview, ane cukup senang...

Kok aneh ya, latar tempat yg beda dah ane pisahin, dan kata2 yang ane tebelin atau miringin kok kagak berubah ya? Yaudahlah ane tunggu tanggapan reader aje

Sooo, Takatsuki Akira, Out-ta...