It's Never Too Late - Untuk Memiliki Seorang Teman
.
.
Meanie Fanfiction
.
.
Teman adalah orang yang mengenali dan menyayangimu sebagaimana engkau mengenali dan menyayanginya – Elbert Hubbart
.
.
Seokmin melangkah dengan buru-buru menaiki tangga rumah sekarang, nafasnya memburu dan raut panik terlihat jelas dari wajah lelah itu. Berhenti sejenak saat melihat pintu berwarna biru didepannya, menetralkan napas sebentar sebelum perlahan melangkah mendekat. Semoga ia masih bisa hidup besok pagi, doanya dalam hati dan membuka perlahan pintu biru itu.
Ruangan sangat gelap saat Seokmin masuk, hanya ada cahaya bulan yang menyusup perlahan melewati celah jendela di ujung ruangan. Seokmin sudah hapal luar dalam posisi semua barang yang ada diruangan ini, oleh karena itu dengan langkah terburu ia mendekati gundukan di seberang jendela.
Oke Tuhan kumohon selamatkan aku setelah ini.
"Hyung!" dihentaknya gundukan di depannya, terdengar erangan pelan tanda orang terganggu.
"Hyung! Bangun hyung!" Seokmin berujar lumayan keras. Sosok di depan Seokmin menggeliat pelan, bukannya bangun malah menarik selimut melewati kepala.
Dengan keras ditariknya selimut itu, "Hyung!" Seokmin memanggil lagi. "Ada pasien yang menghilang!"
"APA?" dan orang yang di depan Seokmin sudah membuka mata dengan sempurna.
.
.
Wonwoo duduk dengan sangat tidak nyaman sekarang, dapat dilihat ada Seokmin di belakang kemudi dan Soonyoung tepat didepannya sedang tertidur pulas.
"Seriously? Ini baru jam 2 pagi Lee!" Wonwoo menggerutu pada orang di depan.
"Anakku menghilang hyung!" Seokmin menjawab cepat.
Wonwoo mendecih. Ia baru pulang jam 10 malam dari Rumah sakit dan sekarang ia sudah diculik dengan tidak terhormat oleh makhluk kuda di kursi depan. "Siapa lagi yang kau hamili sekarang?"
Seokmin menghela napas, ia mencoba tenang dan fokus mengemudi walaupun pikirannya berkecamuk. "Pasien yang pernah kuceritakan itu menghilang hyung! Aku tak bisa menemukannya di rumah sakit, kita akan ke kota sekarang! Mungkin ia pergi ke rumah kekasihnya."
Seharusnya sekarang Seokmin dan Soonyoung piket malam di rumah sakit sebelum menyadari salah satu pasien yang Seokmin tangani menghilang. Itu terjadi 2 jam yang lalu saat Seokmin tanpa sengaja melewati kamar pasiennya dan melihat kamar tersebut dalam keadaan gelap dan ranjang yang berantakan.
Berbekal rekaman kamera cctv yang menunjukkan sang pasien berjalan keluar dari rumah sakit maka Seokmin berasumsi pasien itu pergi ke rumah ayah bayinya. Sayangnya rumah ayah si bayi itu ada di kota yang jaraknya lumayan jauh dari desa.
"Itu salahmu sendiri! Kenapa aku ikut dibawa-bawa!"
Seokmin mendesah, "Kumohon hyung! Dia sedang hamil 5 bulan. Kau tega membiarkan pasien hamil sendirian di malam yang dingin ini? Bayangkan ia harus berjalan dengan perut menggembung, bisa saja ditengah jalan ada penjahat atau…"
"Stop! Berhenti berkhayal!" Wonwoo memotong cepat ucapan Seokmin. Ia pun membuang napas kasar, "Setidaknya kau bisa memberiku waktu untuk berganti baju atau mengambil jaket tadi!"
"Semua bisa saja terjadi hyung! Dan asal kau tau kita tak punya banyak waktu hanya untuk menunggumu berdandan!"
Wonwoo berkedut, sebenarnya ia tak masalah dengan penculikan ini –ia tak sudi menyebut ini misi pencarian pasien– walaupun harus dibangunkan paksa di pagi buta seperti tadi. Ia hanya risih dengan penampilannya sendiri sekarang, Wonwoo sebenarnya sering cuek dengan penampilan tapi ini sungguh tidak pantas dilihat banyak orang atau setidaknya seseorang.
Sekarang ini Wonwoo hanya memakai piyama tidur berwarna cokelat gelap dengan motif garis-garis –Ia merasa seperti roti lapis berjalan– dan sepasang sandal selop putih yang untungnya masih bisa ia raih saat Seokmin menarik tangannya menuju Jeep butut yang sudah terparkir di depan rumah Wonwoo.
Wonwoo membuang napas. Ada hal yang lebih buruk dari persoalan roti lapis berjalan.
"Kenapa ada orang ini disini?"
Seokmin tersenyum canggung di depan, "Mingyu hyung bisa diandalkan jika terjadi sesuatu dengan pasien."
Mingyu 'hyung'? Sejak kapan si kuda ini akrab dengan Mingyu?
Okey lengkap sudah hal yang membuat mood Wonwoo merosot tajam. Bayangkan kalian dibangunkan secara paksa di pagi buta, ditarik-tarik dengan tubuh yang masih memproses semua informasi dan tibanya kau membuka pintu mobil, ada sosok lain yang kalian coba hindari sudah menunggu di dalam mobil. Wonwoo menatap tajam orang yang duduk di sampingnya ini.
"Aku hanya ingin membantu!" ucap sosok itu santai.
Wonwoo memijat keningnya frustasi, Seokmin bodoh rutuknya. Bagaimana kuda itu bisa membiarkan Wonwoo keluar dengan piyama motif roti lapis –yang tidak keren sama sekali– sedangkan ada Mingyu dengan segala kesempurnaannya –Wonwoo mencoret bagian tampan karena ia tak mau mengakuinya– sudah duduk rapi di dalam mobil.
Jelas-jelas tidak adil ketika mendapati Mingyu dengan balutan mantel hitam panjang, sweater putih dan celana kain hitam –bandingkan dengan setelan roti lapis yang Wonwoo pakai– memberikan tatapan yang sulit diartikan pada Wonwoo yang terkaget setelah membuka pintu mobil.
"Seharusnya kau mengajak Hejin, ia yang lebih tau soal hamil-hamilan," ucap Wonwoo masih tidak terima dengan kenyataan.
"Dan berakhir dengan dia yang menggelayut di lenganmu terus-terusan?" Seokmin melempar jas dokternya pada Wonwoo, ia sedikit merasa bersalah membiarkan Wonwoo hanya mengenakan piyama. "Aahh kau memberiku ide hyung! Kita bisa mampir dan menjemput Hejin. Kalian bertiga bisa berbagi kehangatan di belakang!"
Plakk..
Jas dokter itu melayang kembali tepat ke muka Seokmin.
"Terkutuklah otak tidak warasmu itu Lee!"
Seokmin hanya tertawa kecil menanggapi Wonwoo. Diliriknya Wonwoo sudah meringkuk di sudut kursi yang berlawanan dengan Mingyu, ia lalu menyimpan jas dokternya lagi di dalam kap mobil. Wonwoo itu keras tapi sebenarnya peduli dan Seokmin sudah hafal kelakuan hyungnya yang satu itu.
.
.
Mingyu tertawa dalam hati mendengar pertengkaran yang terjadi di depannya, si dingin Wonwoo berhadapan dengan si polos Seokmin. Sebenarnya Mingyu heran dengan sikap Wonwoo yang selalu menyebalkan jika di depannya, padahal Wonwoo bisa bersikap normal jika didepan teman-temannya.
Iyaa Mingyu memang selama beberapa hari kemarin mengamati Wonwoo dari jauh, ia sudah mencoret bagian menghindari Wonwoo dari kamusnya. Akan tetapi Tuhan malah tidak berpihak padanya, setelah insiden di klinik Wonwoo yang sepertinya malah menghindari Mingyu. Padahal Mingyu hanya ingin mencari tahu alasan kenapa sikap Wonwoo selalu berefek magis terhadapnya. Itu bukan Mingyu sekali jika sampai ada yang mengontrol hidupnya. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Sekarang ada satu hal yang membuatnya penasaran.
"Kalian membicarakan Dokter Hejin yang ada di lantai 3?" Mingyu membuka suara.
Seokmin berdeham pelan di belakang kemudi, "Yapp, Dokter kandungan yang selalu mengejar Wonwoo."
"Diam kau! Jangan sok tahu!" itu suara Wonwoo cepat dan mutlak membuat Seokmin buru-buru menutup mulut.
Mingyu memicingkan mata, dalam hati mengingat-ingat nama dokter wanita itu. Ia harus mencari tahu kalo sudah kembali ke rumah sakit. Ia melirik ke samping, Wonwoo masih dalam posisi menempel pintu dan menutup mata antara tidur atau hanya pura-pura tidur.
Sebut saja Mingyu hilang kewarasan jika mengingat kejadian sebelum ini. Tadi pagi ia terbangun karena ponselnya berdering dan nama Seokmin tertera di layar ponsel. Dengan sedikit ogah-ogahan ia menerima telfon itu dan mendengarkan suara panik Seokmin yang mengabarkan jika ada pasien rumah sakit yang menghilang. Seokmin meminta bantuannya untuk ikut serta dalam misi pencarian pasien, tentu saja Mingyu langsung menolak.
Akan tetapi entah mendapat kekuatan dari mana –sesaat setelah mendengar nama Wonwoo juga ikut dalam misi– tubuh Mingyu otomatis langsung terbangun dan berdiri di depan almari menimang pakaian yang harus ia kenakan. Dan 10 menit kemudian ia mengabari agar Seokmin menjemput ke rumahnya. Mingyu hanya berdoa semoga ia tadi tak menyemprotkan terlalu banyak parfum ke mantel yang ia pakai sekarang.
Mingyu tidak gila.
Tentu saja ia tidak gila, ia hanya ingin tampil sempurna di depan Wonwoo. Ia tak ingin ada celah yang membuat Wonwoo bisa memberikan komentar negatif terhadapnya. Ia hanya ingin mendengar kalimat pujian dari pemuda dingin itu. Jangan sebut ia gila juga karena tadi sempat terpana melihat Wonwoo dalam balutan piyama tidur dengan wajah kusut khas bangun tidur yang membuat Mingyu sempat menahan nafas.
Mingyu menanamkan dalam diri sendiri bahwa Jeon Wonwoo itu sangat berbahaya bagi kejiwaan dan jantungnya.
.
.
"Jong jin sudah tidak pulang sejak 2 hari yang lalu," seorang wanita sudah berumur berkata pelan.
Keempat dokter yang berdiri di depan pintu itu mendengar dengan seksama. "Ia hanya berpamitan ingin pergi keluar kota. Apakah terjadi sesuatu?"
"Ahh tidak ada apa-apa ahjumma. Apakah nona Eunji pernah kemari dalam waktu dekat ini ahjumma?" Seokmin berujar sopan.
"Oh wanita yang dihamili Jongjin. Aku belum bertemu dengannya sejak ia datang dengan perutnya yang sebesar buah melon," Wanita itu menghela napas. "Tolong jika kalian bertemu dengan Jongjin ataupun Eunji, katakan aku sudah menerima dan memaafkan kesalahan mereka. Bilang pada mereka untuk segera pulang dokter."
Keempatnya mengangguk serempak lalu berpamitan pada ahjumma yang berdiri di dekat pintu. Perjalanan jauh yang sia-sia, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit berhubung sekarang sudah jam 4 pagi dan mereka masih harus bekerja 3 jam dari sekarang.
"Aku lapar," seseorang dengan setelan roti lapis berujar memecah keheningan di dalam Jeep butut Seokmin yang mendapat hadiah tatapan tidak percaya dari ketiga orang lainnya. "Ke.. kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku hanya bilang lapar," Wonwoo berujar gugup.
"Seriously? Kau baru saja makan hyung!" Seokmin menjawab cepat mengingat mereka baru saja angkat kaki dari sebuah restoran cepat saji setelah singgah dari rumah Jongjin. Wonwoo hanya mendecih malas mendengarnya. Ia memang lapar.
.
.
Wonwoo sedang bermimpi sekarang. Ia berada di tengah padang rumput luas dengan kincir angin tak jauh dari tempatnya berbaring. Wonwoo dapat mendengar suara anak kecil yang sedang bermain tak jauh darinya, ia pun tersenyum. Matahari bersinar terang menghantarkan kehangatan bagi Wonwoo yang sedang berbaring ditambah bau rumput basah yang menenangkan dan tanah yang bergetar pelan.
Tunggu sebentar!
Mana ada tanah yang bergetar. Seingatnya tadi ia masih di dalam Jeep butut milik Seokmin yang bisa membuat sakit pinggang jika terlalu lama menaikinya. Duduk di dalam Jeep saja sudah membuatnya menderita, apalagi dengan berbaring. Jangan bilang…
Wonwoo membuka matanya paksa.
Grepp
Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihat, ada wajah Mingyu yang tercetak jelas di atasnya. Oke terbangun di pangkuan orang mungkin hal teraneh yang pernah Wonwoo alami apalagi orang itu adalah Mingyu. Ia bukan seorang gadis yang akan berteriak saat kaget, tapi tangan Mingyu yang menutupi mulutnya membuatnya terbungkam.
Salahkan mimpi yang Wonwoo alami barusan, kenyataannya ia tidak sedang di padang rumput tapi masih di dalam Jeep butut milik Seokmin, bukan matahari yang memberikannya kehangatan tapi sebuah mantel hitam –Wonwoo tahu pasti siapa pemiliknya– sudah menyelimuti tubuhnya yang terbaring menggunakan paha Mingyu sebagai bantal.
Itu posisi yang cukup awkward bagi Wonwoo tapi Mingyu terlihat tidak terganggu sama sekali. Mingyu malah memberikan gesture untuk menyuruh Wonwoo diam –telunjuk di depan bibir– bagaimana Wonwoo bisa bicara jika tangan Mingyu yang lain masih membungkam mulutnya. Bodoh!
"…..ada surat peringatan," Wonwoo menajamkan pendengarannya.
"Bagaimana bisa itu terjadi?"
Ternyata suara anak kecil di dalam mimpi Wonwoo tadi adalah suara Seokmin dan Soonyoung yang sedang bercengkrama di kursi depan. Ada apa ini? Dilihatnya Mingyu sudah memejamkan mata, pura-pura tidur pasti.
"Persetan dengan Bongsun dan mulut besarnya. Setiap masalah kecil yang kuperbuat jadi terlihat besar dimata Bongsun dan Direktur." Wonwoo yakin itu suara Seokmin. "Aku mendapat surat pindah ke rumah sakit lain. Rumah sakit di ujung pulau hyung."
Surat pindah? Itu pemecatan secara halus di dunia kerja. Wonwoo mengernyit.
"Kapan kau harus pindah?" Soonyoung menjawab. "Kau yakin tidak akan memberitahu Wonwoo soal ini?" terdengar suara grusak-grusuk dari kursi depan.
Wonwoo panik, diambilnya tangan Mingyu yang ada di depan mulut dan ia sembunyikan dibalik mantel yang ia pakai sebagai selimut. Wonwoo menutup mata pura-pura tidur dengan tangan Mingyu masih dalam genggamannya.
"Seminggu lagi. Mereka masih tidur kan?" Suara Seokmin memastikan. Wonwoo yakin kedua orang di depan itu sedang melihat ke arahnya. Ditutupnya kedua mata semakin rapat, berharap Seokmin ataupun Soonyoung tidak menyadari jika ia hanya pura-pura tidur.
Ckrekk
Demi apa itu suara kamera ponsel? Wonwoo ingin segera bangun dan mengumpat pada mereka berdua tapi genggaman tangan Mingyu di tangannya mengerat membuatnya urung. Benar juga, ini bukan kondisi yang pas untuk Wonwoo ikut campur. Ia harus bertindak hati-hati.
"Yapp mereka manis bukan?" itu suara ceria dari Soonyoung.
Tolong ingatkan Wonwoo untuk balas dendam dan menghapus foto laknat itu.
Terdengar suara helaan napas kasar dari Seokmin, "Entahlah aku harus bersyukur atau tidak dengan sikap cuek Wonwoo hyung, tapi dia tak seharusnya selalu mendapat masalah hanya untuk menyelamatkanku. Kau ingatkan Wonwoo hyung sering di skors gara-gara keteledoran yang kulakukan? Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai Wonwoo hyung ikut campur kali ini."
Tentu saja Wonwoo ingat semuanya, tapi ia sama sekali tak pernah mempermasalahkannya. Ia hanya peduli pada Seokmin. Kenapa Seokmin sampai berkata seperti itu? Bahkan sampai menyembunyikan masalah seperti ini darinya.
"Kau benar!" itu suara Soonyoung. "Kadang aku heran dengan tingkah bar-bar Wonwoo. Tapi kau tetap harus bicara dengan Wonwoo atau dia akan membencimu selamanya."
"Wonwoo hyung itu sama sekali tak pernah memikirkan dampak untuk dirinya sendiri. Aku sangat yakin direktur juga tidak suka dengan Wonwoo, ia pasti akan…"
Pluk..
Sebuah tangan lain tiba-tiba jatuh tepat di atas telinganya. Wonwoo harus berterima kasih pada tangan besar Mingyu yang menutupi pendengarannya karena ia memang tak ingin mendengar suara Seokmin lagi atau ia bisa menghancurkan momen curhat mereka sekarang juga.
Wonwoo marah dan sangat kecewa dengan sikap Seokmin yang tidak jujur padanya, tapi sekali lagi Wonwoo meyakinkan diri bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk dirinya ikut campur. Ia harus menunggu.
Diubahnya posisi menjadi miring untuk mencari kenyamanan, dengan tangan Mingyu masih menutupi telinga dan satu tangan masih ia genggam. Wonwoo butuh pelampiasan dan bau parfum Mingyu mampu menenangkannya. Ternyata bau rumput basah dalam mimpi Wonwoo itu berasal dari manusia yang ada di dekatnya ini.
.
.
Mingyu mendapat banyak fakta baru dari acara pura-pura tidur yang tadi ia lakukan. Fakta yang membuatnya cukup tercengang, ternyata manusia dingin yang satu itu bisa melakukan banyak hal demi orang lain. Dan ia baru sadar pernah terlibat dalam situasi dimana Wonwoo bersikeras melakukan sesuatu tanpa memikirkan posisinya.
Benar, kejadian di klinik beberapa hari yang lalu yang membuatnya harus ikut campur. Ia jadi benar-benar penasaran dengan sosok dingin itu sekarang.
"Hei Jeon Wonwoo!" dipanggilnya manusia roti lapis yang sedang berjalan di depannya. Mereka masih di parkiran rumah sakit sekarang dengan tampilan yang masih sama seperti tadi. Sesampainya di rumah sakit, Soonyoung dan Seokmin langsung pergi ke ruang direktur untuk memberikan laporan berhubung mereka memang piket hari itu.
Yang dipanggil menoleh, "Aku sedang sibuk Kim. Tak ada waktu untuk berdebat denganmu!"
"Kau baik-baik saja?" Mingyu bertanya dan membuat kaget manusia yang ada didepannya. Dapat dilihat Wonwoo sekarang berbalik penuh ke arah Mingyu dengan ekspresi tanya besar terpampang di wajah kusut itu.
"Telapak tangan berkeringat, napas yang tidak tenang, menggigit bibir dalam waktu lama, terlihat gusar bahkan dalam keadaan tidur. Kau tidak baik-baik saja!" Mingyu berujar.
Wonwoo terkekeh malas mendengar itu, "Kau membaca gerak-gerikku? Baik atau tidaknya keadaanku tak ada hubungannya denganmu Kim!"
"Ada karena aku ikut mendengar semuanya." Mingyu berjalan mendekat. "Kenapa kau peduli dengan Seokmin?"
"Ah jawaban yang sangat sederhana tapi aku yakin kau tak akan mengerti." Wonwoo mendecih remeh. "Kau memiliki teman?"
Mingyu mengernyit heran. Tentu saja ia punya banyak teman waktu kuliah dulu dan teman yang ada di rumah sakit Seoul. "Tentu saja aku punya Jeon. Kau pikir aku hidup di goa?"
"Baiklah tuan Kim yang punya banyak teman." Wonwoo berdeham, "Kalo begitu sebutkan satu nama saja yang sudah mencarimu atau setidaknya menanyakan kabarmu setelah diusir dari Seoul?"
Mingyu terdiam.
"Karena itu yang seharusnya dilakukan jika kau memang memiliki teman Kim!" Wonwoo pun beranjak dari tempatnya meninggalkan Mingyu yang masih terdiam karena tak ada satupun nama yang terbersit di otaknya.
.
.
"Hyung, maafkan aku!" itu suara Seokmin memohon pada Wonwoo yang ada disebelahnya.
Mereka berdua sedang duduk menikmati jam makan siang di salah satu taman terbuka yang ada di lantai 2 rumah sakit. Tadi Wonwoo sengaja langsung menarik Seokmin setelah ia selesai bertugas, meminta penjelasan soal surat pindah yang Seokmin terima. Setelah dimarahi dan dibujuk berulang kali, barulah Seokmin mau jujur pada Wonwoo.
Wonwoo membuang napas lelah, "Bodoh, kau tak seharusnya menyembunyikan ini dariku! Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama. Masih ada waktu kan?"
Seokmin menatap wajah hyungnya, "Hyung tidak akan bertindak aneh-aneh?" Wonwoo menggeleng. "Masih ada 3 hari lagi hyung."
Wonwoo terlihat berfikir, "Tenang saja, kau tak akan pindah kemana-mana!"
"Hyung kumohon jangan bertindak gegabah lagi!"
Wonwoo hanya tertawa mendengar itu, "Heeii jangan khawatir! Lebih baik kau pikirkan nasib anakmu yang hilang itu!"
Raut muka Seokmin langsung berubah drastis, "Aku bukan ayahnya hyung! Kau tahu kita sudah mencarinya sampai ke kota kan? Dan aku benar-benar jengkel menemukan dia sudah tertidur dikamarnya kemarin sore."
"Hah? Bagaimana bisa?"
"Dia pergi kencan dengan pacarnya hyung, disaat aku hampir gila mencarinya kemana-mana!" Seokmin bersungut mengundang tawa dari Wonwoo.
"Kau iri karena pasien itu berkencan?"
"Hyuuuungg!"
Seokmin yang cerewet membuat Wonwoo yakin jika lelaki itu baik-baik saja dan Wonwoo berjanji pada dirinya sendiri –di antara tawa yang ia keluarkan– bahwa ia akan melindungi orang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Mereka terus berbagi cerita dan tawa siang itu tanpa menyadari ada makhluk lain yang terus memperhatikan mereka tepat di belakang jendela yang berada satu lantai di atas taman.
.
.
Mingyu menatap lekat kedua sosok yang sedang bercengkrama di taman itu. Mereka terlihat sangat akrab bahkan masih bisa tertawa disaat ada masalah yang harus mereka selesaikan. Diperhatikannya lagi salah satu sosok dari kedua orang yang ada disana, kenapa Wonwoo bisa tertawa seperti itu dengan Seokmin sedangkan dengan Mingyu tidak bisa?
Teman? Ah tentu saja mereka bisa seperti itu karena hubungan per'teman'an seperti yang Wonwoo katakan tempo hari.
Tapi apakah dengan alasan itu Wonwoo bisa seenaknya pada Mingyu. Kenapa Wonwoo selalu menyebalkan jika didepan Mingyu, membuat emosinya jadi naik turun. Apakah yang Mingyu lakukan saat di klinik tidak cukup membuat Wonwoo sedikit melunak padanya. Mingyu akui ia memang sedikit berlebihan di awal. Namun ia sadar, hidup di desa seperti sekarang –dengan kondisi kakeknya sendiri yang mengusir– maka mencari musuh bukanlah tindakan yang tepat.
Bahkan Mingyu sendiri bingung apa yang sebenarnya harus ia cari dari desa ini, kenapa haraboeji mengirimnya kemari dan bagaimana ia bisa kembali jika satupun dari keluarga tak ada yang menghubunginya. Apa Mingyu separah itu hingga ia dibuang kemari?
Mingyu meremat rambutnya kasar.
Sebenarnya Mingyu ingin tidak peduli, tidak ikut campur dengan permasalahan mereka berdua, tapi ada sebagian dari hati kecilnya yang mendorong Mingyu untuk bergerak. Bergerak untuk melakukan sesuatu.
Diambilnya ponsel dari kantong jasnya dan menelfon seseorang. Ia yakinkan pada diri sendiri bahwa tindakan inilah yang paling benar.
"Ha.. halo?" terdengar jawaban setelah bunyi tut-tut panjang. "Haraboeji?"
.
.
Wonwoo berjalan tergesa di sepanjang lorong rumah sakit. Ini masih pagi tapi ia yakin orang yang ia cari sudah berada di ruangannya. Ia harus membuat perhitungan.
"Kau! Apa yang sudah kau lakukan hah?!" terjang Wonwoo pada sosok yang ada di depannya.
"Aku tak melakukan apapun!" Mingyu menjawab cepat. Ia cukup kaget mendapat kunjungan dadakan dari Wonwoo sepagi ini. Kunjungan yang sedikit tidak sopan karena pintu ruangannya menjadi korban kekasaran Wonwoo.
"Jangan pura-pura bodoh!" Wonwoo berujar nyalang. "Apa yang kau lakukan pada Seokmin?"
"Ohh masalah itu. Aku hanya ingin membantu," Mingyu menjawab santai.
Wonwoo mendecih tak percaya, "Cih, kami tak membutuhkan bantuan darimu Kim Mingyu!"
"Ya, kalian membutuhkannya," Mingyu menyela cepat.
"Dengan membuat Seokmin di skors selama 1 bulan?!" Wonwoo meremat tangannya sendiri. "Itu yang kau maksud dengan bantuan Kim?!"
"Masih lebih baik daripada ia harus pindah ke rumah sakit lain!"
Wonwoo menetralkan napas, jujur ia cukup emosi sekarang. Pagi tadi ia mencari Seokmin dan mendapati kenyataan jika adiknya itu di skors selama 1 bulan dari rumah sakit. Orang inilah penyebab semuanya.
"Dan mengirim Bong Sun ke rumah sakit milikmu?"
Mingyu sedikit terkejut dengan pertanyaan barusan, bagaimana Wonwoo bisa tahu?
"Itu pertukaran yang cukup setimpal," Mingyu menjawab.
"Cih aku mengerti sekarang. Kalian orang-orang berkuasa memang suka seenaknya sendiri dan selalu mempermainkan hidup kami!" Wonwoo menatap nyalang pada Mingyu yang didepannya. "Ternyata kau sama saja seperti mereka!"
Mingyu datang menerjang kerah kemeja Wonwoo, ia tidak terima dengan kalimat Wonwoo barusan. "Kau mengatakan itu setelah bantuan yang kuberikan?!"
Wonwoo balas menatap tajam pada hitam kelam milik Mingyu, dihentaknya kasar kedua tangan Mingyu yang meremat kemejanya. "Kau! Kenapa kau melakukannya huh?! Manusia sepertimu tidak akan peduli pada Seokmin sampai seperti ini! Kau pasti melakukan ini untuk dirimu sendiri kan?! Kau mengambil.."
"BENAR!" Mingyu memotong ucapan Wonwoo geram. "AKU TIDAK PEDULI PADA SEOKMIN SEDIKITPUN TAPI AKU PEDULI PADAMU!"
Mingyu membuang napas kasar, menetralkan emosinya. Ditatapnya Wonwoo yang berdiri terpatung didepannya, "Aku memang tidak peduli pada Seokmin, tapi aku peduli padamu. Aku tidak mengambil keuntungan dari permasalahan kalian. Sedikitpun tidak pernah terfikir olehku untuk melakukan itu!"
Digenggamnya kedua lengan milik Wonwoo, "Karena ucapanmu tempo hari membuatku sadar bahwa selama ini aku sendiri, cukup menyakitkan ketika bahkan satu nama pun tak terlintas didalam otakku untuk menjawab pertanyaanmu."
"Aku ingin melakukan sesuatu seperti yang biasa kau lakukan dan kau malah menuduhku yang tidak-tidak. Aku melakukan ini agar kau tidak mendapat masalah lagi dengan direktur!" lanjut Mingyu.
"Aku lelah dengan semua ini. Bisakah kita berhenti bertengkar dan menjadi teman seperti yang kau maksudkan?" Mingyu menatap dalam mata kecoklatan milik Wonwoo.
Wonwoo mengerjapkan matanya dan mendengus kasar, "Tidak!"
"Kenapa tidak?"
Dihentaknya kasar kedua tangan Mingyu yang ada di lengannya, "Karena kau adalah Kim Mingyu dan aku benar-benar membencimu!"
Blaamm
Dan Wonwoo pergi meninggalkan Mingyu dengan sejuta pertanyaan yang tersemat di otak cerdasnya.
Apa yang salah dengan Kim Mingyu?
.
.
Flashback
"Ha.. halo? Haraboeji?"
Tuan Kim di seberang kursi memberikan gesture untuk menyuruh sekretarisnya diam. Lelaki yang menjabat sebagai sekretaris keluarga Kim itupun paham apa yang dimaksud atasannya itu, oleh karenanya dengan cepat ia menekan tombol loudspeaker pada ponselnya.
"Kim sajangnim sedang meeting sekarang, ada yang bisa dibantu tuan muda?"
Terdengar deheman ringan dari ujung telepon, "Emm ada sesuatu ahjussi. Apakah aku boleh mengirim seseorang untuk belajar di rumah sakit Baejung?"
Keduanya saling menatap heran, ini aneh karena Mingyu tak pernah sekalipun meminta apa-apa dari kakeknya. "Nanti akan saya tanyakan pada sajangnim tuan muda! Apakah terjadi sesuatu?"
"Ahh tidak—tidak terjadi apapun. Akan segera kukirim data orangnya pada ahjussi, dia cukup berbakat disini. Aku mohon ahjussi bisa membujuk haraboeji untuk menerimanya!"
Sekretaris itu menatap tuan Kim di depannya dan dibalas dengan anggukan, "Baik tuan muda tenang saja, akan saya urus disini. Apakah ada alasan khusus kenapa tuan muda mengirimnya kemari?"
Orang diseberang telepon terdiam cukup lama, mungkin sedang berfikir. "Ha..Hanya ingin membantu seorang teman ahjussi!"
Kedua makhluk di dalam ruangan itu tambah mengernyit heran, "Tuan muda memiliki teman disana? Apakah orang yang dikirim ini…"
"Ya!" sela Mingyu. "Ah bukan, maksudku dia bukan orang yang kumaksud. Cukup rumit untuk dijelaskan ahjussi. Aku hanya ingin membantu seseorang!"
"Seorang teman?"
Terdengar bunyi hembusan napas kasar dari Mingyu yang ada di seberang, "Bukan! hanya sesorang yang ingin kujadikan teman, ahjussi."
Tuan Kim mengangguk paham setelah sambungan telepon itu terputus, ia pun mulai tersenyum penuh arti. "Diumur segitu dan dia baru sadar tak memiliki siapapun di hidupnya."
Sekretaris itu terkekeh pelan, "Mungkin tuan muda terlalu sibuk pada dirinya sendiri hingga lupa dengan orang di sekitarnya sajangnim."
Tuan Kim ikut tertawa pelan. "Ini kesalahanku hingga membuat Mingyu hidup seperti robot selama bertahun-tahun!"
"Tidak sajangnim! Tuan muda hanya kurang menikmati hidup seperti orang kebanyakan. Bukankah itu alasan sajangnim mengirim Tuan Muda Kim keluar dari sangkarnya? Dan sekarang kita sudah melihat kemajuannya sajangnim, Tuan muda tak pernah meminta sesuatu demi orang lain dan ternyata barusan dia melakukannya!"
Tuan Kim semakin tersenyum mendengarnya, "Kau benar, dan aku akan berterimakasih pada orang yang berhasil membuat Mingyu seperti itu!"
.
.
TBC
.
.
Yeaay ini chapter 3 udah kelar..
Semoga kalian g bosan yaa bacanya, maklum author ini masih belajar buat nulis ff.
Terimakasih buat yang udah mampir apalagi yang meninggalkan jejak. Udah author baca berkali-kali review dari kalian. Thankyou so much :)
Oiyaa maaf g bisa balas satu-satu, tapi 1 hal yang harus kalian tahu. Jejak yg kalian tinggalkan juga membekas di hati author hehee..
Btw kalo ada request bilang aja yaa nnti bisa dipertimbangkan buat next chapt biar g terlalu membosankan, author terbuka untuk segala masukan dari kalian semua..
Thankyou and bye-byee...
