Gundam Seed/Destiny © Bandai, Sunrise—Matsuo Fukuda and team

Tidak ada keuntungan material yang didapat dari cerita ini

LITTLE WIND © 2017 Vereinigte Autoren


SECARA garis besar, Athrun berhasil menyeimbangkan kehidupannya. Atau, dengan kata lain, menyeimbangkan perannya. Di satu sisi, ia siswa SMA berusia tujuh belas tahun di Kaguya; di sisi lain, ia penulis yang dituntut oleh editornya untuk menyetor naskah baru sebelum tanggal dua belas setiap bulannya. Biasanya, ia mendapati ada cukup waktu dalam seminggu untuk menjalani dua kehidupan itu. Tetapi kedatangan seorang gadis berusia enam tahun yang memanggilnya dengan sebutan 'paman', membuat kehidupannya menjadi semakin padat—semakin penuh.

Dan itu belum termasuk bagian anehnya.

Pada hari Senin, ia sedang mengerjakan tugas presentasi untuk kelas biologi ketika mendengar Lacus mengucapkan kata-kata yang tidak dikenalnya. Ia sempat menduga gadis itu hanya menirukan apa yang didengarnya dari tv. Namun sewaktu keluar kamar untuk mengambil minum, yang ia lihat hanyalah Lacus yang sedang menggambar di meja kopi sambil menyanyikan lagu dalam bahasa asing, sementara tv-nya sama sekali tidak menyala.

Ia pun memutuskan untuk bertanya pada Lacus mengenai lagu yang dinyanyikannya dan terkejut saat gadis itu menjawab—dengan santai, seolah-olah itu adalah hal paling normal di dunia—bahwa dia tadi hanya menyanyikan Brother Kubo. Keterkejutan itu bertambah parah setelah Athrun kembali ke kamar dan menemukan—melalui pencarian di internet—bahwa Brother Kubo atau Bratře Kubo adalah sebuah lagu anak-anak berbahasa Ceko.

Selasa: bahasa Arab. Athrun menjemput Lacus dari Day Care—dimana gadis itu kelihatan agak murung karena Kira tidak datang, sesuatu yang sebenarnya sudah ia dengar dari Cagalli di sekolah; tentang pengawasan ketat orangtuanya setelah kejadian fantastis sebelumnya—dan Nona Ericson memuji Lacus yang membantu menenangkan seorang balita asal Maroko sampai ibunya datang untuk menanganinya.

Rabu: bahasa Prancis. Mereka—Athrun dan Lacus—sedang makan es krim di toko parfait yang baru buka dekat apartemen ketika dua orang asing masuk ke toko, mengucapkan sesuatu dalam bahasa asing pada pramusaji yang sepertinya tidak tahu apa artinya dan Lacus melihatnya, kemudian menjadi penerjemah mereka secara sukarela. Meski pada akhirnya sang pramusaji memberinya satu scoop es krim mint fudge gratis sebagai tanda terima kasih.

Kamis: bahasa Rusia. Murrue-san bercerita kalau Lacus berpapasan dengan seorang turis dari Kiev ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman, dan ia nyaris terkena serangan jantung mendapati gadis itu membalas permohonan maaf si turis dengan fasih dan mereka sempat mengobrol bertiga. Murrue mengatakan dirinya beruntung pernah mengambil satu semester di St. Petersburg ketika masih kuliah, atau dia akan benar-benar tertinggal dalam pembicaraan itu.

Jumat: bahasa Thailand. Ini yang paling aneh—menurut Athrun setelah memperhatikan si keponakan selama seminggu penuh bahasa-bahasa asing. Ia mengajak Lacus mampir ke perpustakaan kota sebelum pulang dan gadis itu menyetujuinya. Lalu mereka tenggelam dalam urusan masing-masing. Athrun mengerjakan laporan untuk kelas sastranya—yang membuatnya bergidik karena teringat pada ujiannya minggu lalu—sementara Lacus asyik membaca seri lengkap The Tale of Peter Rabbit* yang ditemukannya di seksi anak-anak.

Awalnya Athrun mengira minggu bahasa asingnya telah berakhir, tapi kemudian seorang bocah perempuan bermata sipit datang dan mengatakan sesuatu dalam bahasa asing pada Lacus dan gadis itu membalasnya dengan bahasa yang sama. Ia menginterogasi Lacus begitu mereka tiba di rumah dan gadis itu menjawab—dengan santai, lagi, seperti sebelumnya—bahwa gadis di perpustakaan tadi hanya bertanya apakah ada orang yang duduk di sampingnya, dalam bahasa Thailand.


Chapter 3 : Magnolia


"Bagaimana seorang anak yang membaca saja belum lancar bisa fasih berbahasa asing?"

Dari cara Cagalli menatapnya—mata yang bergerak naik-turun memperhatikannya seolah ia benda asing, alis yang terangkat sebelah ke atas dengan tajam, dan mulut terbuka—Athrun tahu kalau gadis itu sama herannya dengan dirinya. Tetapi tak lama Cagalli bergumam pelan. "Ah," ia mengangguk-angguk pelan, seolah mengerti. "Lacus..." dan ia memang mengerti.

Cagalli berdeham dan mengulum senyum. "Memangnya ada apa lagi dengan keponakanmu itu?"

Athrun menghela napas panjang. Lalu, bukannya menjawab pertanyaan Cagalli, ia malah balik bertanya. "Apa aku boleh bicara pada sepupumu?"

"Kira?" Cagalli menebak. Caranya berbicara menampakkan kesan seolah ia menyesali sesuatu. "Maafkan aku, Ath. Tapi jawabannya tidak. Paman dan Bibiku mengawasi Kira dengan ketat setelah kejadian tempo hari. Aku bahkan ragu mereka akan membiarkan Kira kemari."

"Ukh," Athrun meringis, "aku tak bisa membayangkannya."

"Aku juga, sebenarnya," Cagalli berkesah pelan. Ia terdengar seperti orang yang terkena vonis penyakit mematikan dan hanya punya beberapa bulan untuk hidup. "Dan yang paling buruk adalah kenyataan bahwa semua ini terjadi karena aku melaporkannya. Kira bahkan tidak mau lagi bicara padaku terakhir aku meneleponnya."

"Oh," kata Athrun. "Itu buruk," tiba-tiba ia merasa beruntung tidak berada di posisi Cagalli. Namun sedihnya, ia tak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini pada Lacus di rumah nanti.

"Tapi aku akan coba menanyainya," Cagalli berkata dengan mendadak. Athrun sempat kehilangan pegangan mengenai apa maksudnya sebelum ingat bagaimana pembicaraan ini bermula. "Barangkali dengan begini dia mau berbicara lagi padaku."

Ada keheningan sesaat dimana Cagalli tidak meneruskan dan Athrun tidak mengatakan apapun karena menyadari kekasihnya belum selesai berbicara. Benar saja, Cagalli kembali mengatakan sesuatu tak sampai semenit kemudian. "Boleh kan?"

Athrun tersenyum. Senyum yang entah kenapa terasa dipaksakan dan ia berharap Cagalli tidak menyadarinya. Mengendikkan bahu, ia berujar, "Tentu saja. Aku mengandalkanmu."

Sayangnya hubungan antara dirinya dan Cagalli tidak akan dimasukkan dalam kategori serius bila gadis itu bisa ditipu dengan mudah, atau percaya pada senyum palsu. "Oke, bicaralah. Pasti ada hal lain yang mengganjal di pikiranmu."

Mereka sedang berada di atap sekolah, memakan menu pesanan masing-masing di tempat yang sejak setahun terakhir merupakan lokasi terfavorit mereka untuk bersantap sambil menceritakan masalah satu sama lain. Tidak ada orang selain mereka di tempat ini. Itu saja sudah lebih dari cukup bagi keduanya.

Athrun menarik napas dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan udara berbau musim semi yang khas dan sebenarnya agak lebih menyenangkan dibanding udara musim dingin yang beku. "Aku tak tahu, Cagalli. Seminggu ini aku berusaha menghubungi Meer,"—ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan angka 5672 di samping nama MEER C. yang semuanya bertanda panggilan keluar—"dan hasilnya nihil. Aku juga sudah menghubungi orangtua Meer—barangkali mereka tahu sesuatu tentang anaknya—dan hasilnya sama, tak ada jawaban. Lalu aku bertanya pada ibuku..."

Cagalli menginterupsi. "Ibumu?"

"Ya, ibuku. Meer itu sepupu dari pihak ibu. Kalau sepupu dari ayah, aku tidak perlu repot-repot menelepon ke sana-sini untuk tahu kabar mereka. Hanya ada tiga kabar: mati, hilang, atau diamputasi dan tidak bisa lagi aktif sebagai prajurit. Ada pertanyaan lain?"

Gadis bermata ambar itu mengerjap-ngerjap dan mengangguk. Barangkali karena nada tajam dan sengit yang ia gunakan sewaktu menjelaskan tentang keluarga ayahnya. Butuh lima belas detik keheningan sebelum dia berujar lagi, "Oke. Tidak, teruskan."

Athrun kembali menghela napas. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya. "Sampai dimana kita tadi?"

Cagalli mencoba mengingat-ingat. "Mmm... ibumu?"

"Ah," Athrun mengangguk. "Oke. Jadi aku bertanya pada ibuku dan mendapat jawaban yang sebenarnya agak menganggu. Menurut ibuku, ayah Meer, kakaknya, sedang berbulan madu—bersama istri yang ke-28, ohya dia kawin-cerai dengan berbeda wanita setiap tahun—termasuk ibu Meer, ngomong-ngomong—ke Paris."

"Hah?"

Athrun tertawa dengan tiba-tiba. Tawa yang tidak terencana dan mengalir begitu saja. Oh, dan tentu saja itu menular.

"Paris... astaga!" kata Cagalli di sela-sela derai tawanya. Athrun mencoba berhenti untuk menjawab tapi kesulitan karena tawa Cagalli memancing keinginan untuk tertawa dalam dirinya sendiri.

"Oh, ya... Paris," Athrun masih kesulitan untuk berhenti. Dan begitulah percakapan itu berakhir. Bel tanda istirahat bergema di seluruh penjuru sekolah dan memaksa Athrun serta Cagalli mengakhiri pembicaraan mereka lalu kembali ke kelas masing-masing. Kembali, dan menanti bel penanda pulang berbunyi dengan sabar agar mereka bisa meneruskan pembicaraan yang terhenti itu.


Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Athrun membereskan mejanya dengan cepat—kelas terakhirnya, kelas Puppetry, yang diikutinya demi mendapatkan signature yang kuat untuk karakter utama dalam buku barunya—dan sudah berada di birai pintu kelas ketika ponselnya bergetar dalam tas selempangnya. Ia menghela napas, mengambil ponsel dari saku tas, dan melihat nama pemanggilnya. Alisnya terangkat dengan gaya curiga, tidak ada nama di layar ponselnya. Yang ada hanya sederetan angkat, nomor tak dikenal.

Sambil berjalan, Athrun memikirkan apa ia harus menerima panggilan itu atau tidak. Ia tidak pernah suka panggilan tak bernama. Apalagi karena terakhir kali panggilan seperti itu datang dan ia menerimanya, kabar yang didengarnya adalah berita kematian sepupu terdekatnya dari keluarga ayah. Satu-satunya orang yang menurutnya masih punya cukup toleransi pada keputusannya untuk tidak mengikuti tradisi keluarga Zala dengan memilih pindah ke ORB dan masuk SMA alih-alih Akademi Militer. Ia kembali menatap deretan angka di layar ponselnya, dan merasa begitu lelah, lalu memilih untuk mematikan jaringan datanya. Setidaknya dengan begini penelepon itu tidak akan bisa meneleponnya.

Lalu, sambil menunggu Cagalli di parkiran sekolah—Athrun yang tidak bisa menggunakan internet karena membuka jaringan sama dengan membiarkan si penelepon menghubunginya—mencoba melihat foto dirinya bersama keluarga besar ibunya yang diambil pada acara ulangtahun sang nenek tujuh tahun yang lalu. Senyumnya mengembang menyaksikan betapa polos wajah para sepupunya pada saat itu, ketika mereka masih lebih muda dan belum mengenal hal-hal seperti make-up dan operasi plastik. Dahinya mengerut begitu matanya menangkap sosok familier di antara foto para sepupu yang berjajar dalam pose formal.

Ini... batinnya tersentak.

Pintu mobil terbuka. "Maaf membuatmu menunggu," kata Cagalli sembari menyamankan diri di kursi penumpang samping Athrun. Sebelah alis gadis itu kembali terangkat begitu telinganya menyadari ketiadaan respon dari sang kekasih.

"Athrun?"

Pemuda itu mengerjap. Kedua matanya masih membelalak horor saat ia menoleh pada Cagalli. Perlahan, ia menyodorkan ponselnya. "Aku sedang melihat-lihat foto lama, Cags. Dan aku menemukan ini..."

Masih dengan alis terangkat sebelah, Cagalli mencondongkan tubuhnya ke samping dan ikut melihat foto yang disodorkan Athrun di ponselnya. Karena takut salah fokus—mengingat yang menjadi pusat perhatiannya pasti foto anak laki-laki berambut biru tua pendek yang tak lain adalah Athrun sendiri—Cagalli bertanya, "Mana yang harus kulihat?"

"Ini," Athrun menunjuk foto seorang gadis berambut abu-abu, panjang, lurus, dan bermata coklat. Ia dapat melihat di mata Cagalli bahwa gadis itu tidak mengenalinya. Jelas. Sudah lama sekali sejak foto itu diambil, dan sudah banyak yang terjadi sejak saat itu. Tetapi sorot di mata ambar itu juga menyatakan hal yang selalu bisa membuatnya kagum, yaitu kejelian yang menyatakan bahwa baginya, sosok itu familier.

"Siapa dia?" tanya Cagalli, suaranya mengambang tanpa keyakinan. "Aku sepertinya..."

Tersenyum, Athrun menyelanya dengan kesimpulan. "Pernah melihatnya di suatu tempat?" katanya, yang direspon Cagalli dengan anggukan pelan. "Ya, Cagalli. Kau pernah melihatnya, karena gadis di foto ini adalah Meer Campbell."

Athrun berdeham, membetulkan posisi, dan mengembalikan ponselnya ke saku sebelum berkata, "Itu adalah Meer Campbell sebelum dia mengenal make-up dan operasi plastik."

"Kau bercanda," kata Cagalli. Nadanya se-skeptis tatapan matanya. Usahanya untuk menyangkal sesuatu yang sayangnya adalah kenyataan.

Athrun menggeleng. "Oh, I wish," ia berkata pelan, kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. "Tapi nyatanya tidak. Aku tidak berbohong, apalagi bercanda. Gadis itu benar-benar Meer."

"Kalau begitu Lacus..." Cagalli tidak meneruskan kata-katanya.

Athrun mengangkat bahu. "Tergantung Auel, dia bisa jadi anak Meer, bisa juga bukan."

Kemudian Cagalli menarik napas terkesiap, "Kapan foto itu diambil?"

Gantian Athrun yang menaikkan sebelah alis. "Tujuh tahun yang lalu, kenapa?"

"Lacus berumur enam tahun, Athrun," kata Cagalli. "Umur segitu, ditambah masa mengandung, maka..."

Sebuah fakta menghantam seperti pukulan tak kasatmata menuju inti dirinya dan Athrun menyadarinya. Kapan semua ini bermula...

"Tujuh tahun. Semua ini kembali ke masa tujuh tahun yang lalu." Ia menyimpulkan.


"Apa sebenarnya yang terjadi tujuh tahun yang lalu?"

"Ibuku mengandungku."

"Aku tidak bertanya padamu."

"Lalu pada siapa?" Lacus memasang wajah bingung dengan kepala yang dimiringkan sambil duduk di meja makan sementara Athrun memasak steak dan sausnya untuk makan malam mereka. Gadis itu lalu melayangkan lirikan pada seseorang di seberang lain dapur. "Bibi Cagalli?"

Cagalli memotong-motong sayuran dengan canggung. Tipikal Nona Muda Athha, adalah hinaan favorit Athrun kalau mereka sedang memasak seperti ini. Dibesarkan oleh ayah tunggal yang seorang pemimpin negara—sekelas Raja—Cagalli memang tidak pernah menyentuh dapur sebelum ia resmi menjadi kekasih Athrun Zala tahun lalu. Dan untuk itu ia cukup bersyukur, meski sebagai efek samping, sebagian besar masakan yang dikuasainya adalah kuliner bergaya Eropa Timur—Rusia dan sekitarnya—yang merupakan daerah kelahiran Lenore Zala, ibu Athrun.

"Hah? Apa?" ia terkejut mendengar namanya disebut-sebut.

"Bukan apa-apa," sahut Athrun dan Lacus nyaris bersamaan.

Oh, Cagalli merasakan persekongkolan itu. "Hei!" protesnya.

Lacus tersenyum. "Sungguh, bukan apa-apa kok," ia berkata polos, "tadi Paman Athrun hanya bertanya 'apa sebenarnya yang terjadi tujuh tahun yang lalu?', Bibi Cagalli. Kami tidak bersekongkol atau apapun."

"Terima kasih atas penjelasannya, Lacus," Athrun menyahut tanpa menoleh. Steak-nya bisa gosong kalau tidak diperhatikan, jadi ia memilih tidak mengalihkan pandangan dari masakannya.

Tatapan Cagalli menajam dan ia bisa merasakannya. Maka itu Athrun menghela napas, panjang dan pelan. "Apa? Benar kok!"

Cagalli masih mendesak. "Sungguh?" ujarnya dengan nada suara yang membuatnya terdengar seperti pembunuh bayaran yang sedang menginterogasi alih-alih pacar yang sedang curiga.

Athrun mematikan kompor—bagian steak maupun sausnya—dan berbalik. Raut wajahnya mengesankan kesungguhan. "Sungguh."

Gadis itu menurunkan pisaunya. Ia memiringkan tubuh dan melihat api di kompor sudah dipadamkan semua. "Ah, gantian," ia merujuk pada sayuran yang sudah terpotong-potong dan siap ditumis.

Athrun mengambil panci berisi saus dan meletakkannya di konter. "Silahkan," katanya sambil mengangkat steak dari wajan dan meletakkannya di piring. "Lacus," panggilnya. "Medium rare?"**

"Tidak. Aku medium well," sahut Lacus, "Kata ibu medium rare itu makanan orang dewasa."

"Dan para werewolf," timpal Cagalli sambil masak. Karena hanya sayuran, tidak butuh waktu sama sampai ia selesai dan bisa ikut bergabung di meja makan, menata-letakkan masakannya di piring.

Athrun bersungut-sungut, tidak tahu mau marah duluan atau menyanggah duluan. Ia tidak setuju kalau dikatakan medium rare itu makanan orang dewasa atau werewolf. Sebab, kalau ada hal yang membuatnya bisa cocok dengan ayahnya, itu adalah kesukaan mereka pada medium rare steak. Hanya itu. Dan mendengar komentar kedua gadis itu membuatnya jengkel.

Ia memilih menyanggah duluan. "Siapa bilang? Aku pertama kali makan medium rare steak waktu tujuh tahun."

Lacus dan Cagalli tampaknya tertarik pada arah pembicaraan ini. "Yang benar!?" tanya mereka nyaris serempak.

"Oh," katanya, berdecak sebal. "Lihat siapa yang bersekongkol sekarang."

Cagalli dan Lacus bertukar pandang sebentar, mata mereka sama-sama dipenuhi tanda tanya. Kemudian mereka sama-sama berpaling ke arahnya. "Kami tidak bersekongkol!"

Athrun menaikkan sebelah alis. "Dan hanya kebetulan kalian bicara secara bersamaan, lagi?"

Lacus terdiam dan berpaling. Rautnya menampakkan keresahan. Di sisi lain, Cagalli tampaknya berusaha untuk mengatakan sesuatu, tapi selalu gagal. Sampai akhirnya Athrun berkesah dan memutuskan untuk tidak meneruskan permasalahan ini. "Ya... sudahlah. Lupakan. Lebih baik kita makan sekarang, aku sudah lapar sekali."

Cagalli mengembuskan napas dengan keras. "Ya, kau benar. Ayo."

Sementara si keponakan kecil hanya mengangguk pelan. Keresahan masih tampak di sorot matanya meski kepalanya tertunduk.

Mereka makan dengan tenang—terlalu tenang, malahan—dan Athrun terjebak antara dua pilihan; mengakhiri kecanggungan, atau membiarkannya. Ia memilih membiarkannya, berpikir kalau dengan begini Lacus akan lebih mudah disuruh tidur agar ia dan Cagalli bisa meneruskan pembicaraan—dan penyelidikan—mengenai sepupu-gila-tapi-ibu-yang-baiknya, Meer Campbell.


Pukul delapan malam, Lacus masuk kamar setelah selesai mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian dengan piyama. Athrun mengikutinya, memastikan gadis kecil itu tidur, sebelum kembali keluar untuk menemui Cagalli yang ternyata sedang menelepon.

"Ya, Manna-san," ia mendengar Cagalli berbicara di beranda. Manna-san—kata Cagalli—adalah pengasuhnya sejak kecil. Orang pertama yang didatanginya kalau ia butuh saran mengenai segala hal. Cagalli sering mengatakan dirinya menganggap Manna sudah seperti ibunya sendiri. Sesuatu yang membuat Athrun bertanya-tanya: kalau memang begitu, kenapa tidak menyuruh ayahmu menikahinya saja? Tetapi ia tidak pernah menyuarakan pertanyaan itu. Terlalu berisiko. Cagalli bisa saja marah atau mengamuk, dan antara dua pilihan itu... tidak ada yang bagus.

"Benar. Aku menginap di tempat Asagi. Iya, iya, dia sedang ada masalah dengan pacarnya dan tidak bisa ditinggal," kata Cagalli beralasan. Bohong, tentu saja. Karena Cagalli bahkan tidak ada di tempat Asagi, dia ada di sini. Athrun memilih untuk duduk di sofa, menunggu Cagalli selesai sambil berusaha menahan tawa. Sudah berapa kali ia mendengar percakapan semacam ini terjadi antara Manna-san dan Cagalli? Ia tidak tahu. Dan setiap kali alasannya selalu saja Asagi, Asagi, dan Asagi. Athrun pernah bertanya mengapa Asagi, dan Cagalli memberinya penjelasan panjang-lebar: Karena dia anak kenalan ayahku, dan dia sangat labil. Oh, dan satu lagi. Sifat labilnya sudah pernah dibuktikan dengan jelas dan Ayah serta Manna-san melihatnya langsung. Aku pernah mengundang Asagi ke rumah untuk merayakan ulangtahunku dan dia menangis meraung-raung waktu melihat foto almarhumah ibuku.

Pembicaraan itu berakhir dengan. "Aku khawatir dia bisa bunuh diri, Manna-san." Sebelum Cagalli mengucapkan salam penutup dan menyudahi panggilannya.

Dahi gadis itu mengerut mendapati Athrun melemparkan selayang lirikan padanya. "Apa?" tanyanya dengan suara geram. Athrun menggeleng dan mengangkat bahu untuk meresponnya, kemudian mengisyaratkan agar dia ikut duduk bersama di sofa depan tv. Cagalli menghela napas dan menyetujuinya.

Athrun melingkarkan lengannya di bahu gadis itu dan menariknya mendekat. Cagalli membalas pelukan itu dengan gerakan yang kurang-lebih sama dan mereka bertahan dalam posisi itu untuk beberapa lama. Keheningan yang tercipta di antara keduanya tidak mengurangi rasa nyaman yang sudah lebih dulu ada di sana.

Athrun-lah yang memulai. Ia menyandarkan kepala Cagalli ke bahunya dan mengecup puncak kepala gadis itu sebelum berujar, "Menurutmu kita harus memulainya dari mana?"

Cagalli mengeratkan pelukannya, bibirnya menampakkan senyum lembut. "Dari awal, tentu saja. Apa yang kau ingat tentang Meer tujuh tahun yang lalu?"

Athrun menyandarkan dagunya ke kepala Cagalli sementara matanya tertuju ke langit-langit apartemen dan ia mencoba menggali ingatan jauhnya.

Tujuh tahun yang lalu ia masih seorang bocah berusia sepuluh tahun, salah satu anak paling kecil di keluarga ibunya. Meer berumur enam belas, dan kalau ada yang bisa disimpulkan dari kedua fakta itu adalah bahwa bahkan saat itu mereka tidak dekat. Meer dan Magnolia-nya—clique yang berisi para sepupu cewek—lebih suka membicarakan cowok tampan, gosip para artis, atau merk apa yang lagi sale besar-besaran, dan dimana; daripada realita atau mimpi yang konkrit. Athrun hanya pernah satu kali terjebak dalam lingkaran setan cewek-cewek ini dan berakhir dengan kebenciannya pada tipe pesolek manja yang masih akut sampai sekarang.

"Tidak ada," ia mengucapkan dengan lemas. Seakan-akan pemikiran itu membebaninya begitu berat. "Aku tidak bisa mengingat apapun yang relevan."

"Tidak relevan pun tak masalah, Athrun," Cagalli membelai punggung kekasihnya dengan tangan yang memang berada di sana. "Coba ceritakan."

"Oke," Athrun tidak suka ide ini, tapi memilih untuk tidak menentang. Mungkin Cagalli—dengan otak brilian, kebijaksanaan, dan sudut pandang lainnya—bisa menemukan kaitan yang tidak bisa ia temukan sendirian. "Di pesta ulangtahun Nenek saat itu, Meer datang bersama pacarnya. Seorang pria yang sepertinya dua atau tiga tahun lebih tua dari Meer, tinggi, berambut gelap, dan memiliki wajah karismatik—anehnya. Aku ingat Meer memperkenalkannya pada Nenek, dan kelihatannya Nenek menyukainya."

"Namanya," Cagalli menyela dengan nada lembut. "Apakah itu Auel?"

Athrun menggeleng cepat. "Bukan," katanya tegas. "Aku tidak ingat namanya, tapi sepertinya bukan Auel."

"Baiklah," gadis itu menghela napas. "Bukan Auel."

Athrun mengerang frustasi. "Ini tidak ada gunanya, Cagalli."

Cagalli bangkit dengan mendadak. Kedua tangannya berpindah dari pinggang sang pemuda ke pipinya. Ditangkupnya wajah sang kekasih dan ia membawa wajahnya mendekat lalu menatap matanya lekat-lekat. "Hei," ujarnya lirih. Suaranya terdengar seperti campuran aneh antara kesedihan dan amarah yang ditahan. "Ini ada gunanya, Athrun. Dan kau tahu itu. Ini seperti pencarian petunjuk dalam seri detektif yang kau tulis, tapi tidak sepenuhnya sama. Bedanya, di dunia nyata kita tidak bisa langsung mendapatkan petunjuk yang jelas, atau bantuan dari ahli..."

Athrun mengernyitkan dahinya. "Bantuan dari ahli?"

Cagalli memberinya tatapan bertanya-tanya.

"Trims, Cags," ujarnya sambil menepuk pelan kedua bahu Cagalli dan mendaratkan kecupan di dahinya. Membuat gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali. "Berkat dirimu aku jadi tahu apa yang harus kita lakukan."

"Apa?" Cagalli bertanya clueless.

"Bantuan dari ahli, Cags! Kita bisa mendapatkannya kalau kita bertanya pada orang yang tepat. Dan aku tahu siapa orangnya."

Masih dengan wajah bertanya-tanya, Cagalli kembali menyuarakan apa yang melintas di benaknya. "Siapa?"

"Magnolia," Athrun tersenyum—tampak bangga dengan hasil pemikirannya—dan binar matanya tampak berubah 180 derajat dari sebelumnya. Bila tadi ia terlihat seperti penulis yang kena writer block, sekarang ia kelihatan seperti penulis yang baru mendapatkan inspirasi. "Tujuh tahun yang lalu, Meer yang berumur enam belas merupakan bagian dari sebuah clique bernama Magnolia. Jika ada yang bisa memberitahu kita mengenai Meer, merekalah orangnya."

Ada jeda, kemudian. "Lusa, apa kau ada waktu?"

Cagalli masih separuh clueless, tapi ia mulai mendapat gambaran dan tularan semangat dari si pacar. "Ada... sepertinya?"

"Bagus," kata Athrun, kemudian ia mengumumkan. "Kita akan menemui salah satu anggota Magnolia, aku ingat ada satu yang sekarang tinggal di Pulau Onogoro."


"Apa aku benar-benar tidak boleh ikut?"

"Apa kau bercanda?"

Lacus tidak tahu kenapa Paman Athrun mengira ia sedang bercanda ketika sebenarnya tidak. Ia tidak mengerti. Mencoba menanyakan—lagi, kalau boleh jujur. Ia sudah mencoba dua kali dan orang-orang bilang yang ketiga seringnya berhasil, ternyata tidak—apakah ia boleh ikut pergi bersama pamannya adalah sesuatu yang benar-benar masuk akal, pikirnya. Yang tidak masuk akal adalah fakta yang mengikutinya, bahwa ia tidak boleh ikut dan akan dititipkan di tempat Murrue-san—lagi—kalau ia boleh menambahkan.

Dua malam yang lalu, ketika Paman Athrun menyuruhnya tidur setelah mereka makan steak paling enak se-dunia—menurut Lacus, yang hanya pernah makan steak dua kali sebelumnya dan berpendapat kalau kedua restoran itu perlu belajar cara memasak steak medium well yang benar pada pamannya—bersama Bibi Cagalli, pacar pamannya, ia tahu kalau sebenarnya kedua orang dewasa itu menggunakan perintah tidur padanya karena mereka perlu membicarakan pembicaraan 'orang dewasa' seperti ayah dan ibunya kemarin-kemarin. Jadilah, ia berpura-pura tidur—dengan teknik yang diajarkan ibunya kalau sedang kesal pada ayahnya—lalu duduk di atas tempat tidur dan menajamkan pendengaran seperti yang selalu dilakukannya setiap ia penasaran pada pembicaraan serius orangtuanya.

Pembicaraan serius orang dewasa itu rumit, pikirnya. Ia telah mendengarkan seluruh pembicaraan serius orangtuanya sejak berumur empat tahun, dan tidak mengerti sepatah kata pun; sepertinya ada penggalan yang hilang entah dimana. Dan ia tidak pernah berhasil menemukannya. Jika ayah atau ibunya melakukan pembicaraan serius padanya, selalu terdengar penggalan-penggalan penting: terlalu besar, terlalu kecil, terlalu banyak, tidak cocok untukmu, tidak baik untuk gigimu, tidak ada gizinya, dan lain-lain. Tapi jika ayah dan ibunya yang melakukan pembicaraan serius, hal itu bisa berlangsung selama berjam-jam dan ia masih tidak bisa memahami permasalahannya. Seolah-olah ada yang memerintahkan mereka untuk berbicara dan keduanya langsung mulai melontarkan apa pun yang terpikir oleh mereka saat itu.

Kali ini pun tidak ada bedanya. Ia sudah mendengarkan pembicaraan itu sejak awal dan belum mengerti sepatah kata pun. Paman Athrun dan Bibi Cagalli mengucapkan nama ibunya beberapa kali, lalu nama ayahnya, kata 'tujuh tahun yang lalu', dan magnolia. Magnolia. Ia sepertinya pernah mendengar kata itu di suatu tempat. Tapi kapan?

Lacus mencoba mencari kata itu ingatannya—yang mana tidak terlalu banyak—sambil duduk bersila di atas tempat tidur dan menyilangkan tangan di dada. Ekspresinya serius luar biasa. Tapi ia menyerah dengan cepat. Mencoba menemukan sesuatu dalam ruang ingatannya tanpa keterangan yang spesifik—seperti tanggal, bulan, tahun, jam, dan tempat—ibarat mencari jarum di tumpukan jarum, sulit dan hanya menyia-nyiakan waktu.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika ia mendengar Paman Athrun dan Bibi Cagalli saling mengucapkan selamat tidur. Panik, ia langsung merebah, merapatkan selimut, dan memejamkan mata—berusaha untuk tidur. Seseorang ikut rebahan di sampingnya dan ia lega mendapati orang itu adalah Bibi Cagalli, karena kalau orang itu adalah Paman Athrun maka ia pasti ditanya kenapa belum tidur dan sebagainya; dan tidak tahu bagaimana cara menjawabnya tanpa mengatakan yang sebenarnya.

Berdiri di birai pintu apartemen Murrue-san yang masih ditutup, Lacus melihat sang paman menekan bel di samping pintu dan memutuskan untuk mencoba sesuatu. "Kalau begitu antarkan aku ke rumah Kira."

Hening.

Lalu ia mendengar suara—"coming"—teredam dari balik pintu sementara pamannya mendengus, memutar bola mata, dan berkata dengan datar, "Tidak."

"Kenapa?"

"Karena itu jauh," pamannya berkata, "dan karena dia hanya anak sembilan tahun—bukan orang dewasa—yang oleh ibumu disuruh menjagamu."

"Tapi dia temanku."

"Walaupun dia temanmu."

Pintu terbuka dan Murrue-san menatap mereka dengan wajah ceria. "Ah! Lacus! Athrun! Masuk, masuk."

Athrun berpaling pada Murrue, "Maaf aku tak bisa lama-lama, harus ke stasiun," ujarnya sambil tersenyum simpati. "Dan maaf kalau aku merepotkanmu lagi, Murrue-san. Tapi bolehkah aku menitipkan Lacus di sini—lagi—sampai aku kembali?"

"Oh," Murrue kelihatan sedikit terkejut, tapi senyum ceria tetap bertahan di wajahnya. "Tentu saja, lagipula hari ini juga aku sedang tidak ada niat pergi kemana-mana," ia berganti menatap Lacus, "ayo masuk."

Lacus bisa merasakan dorongan kecil di punggungnya—tanda keputusan sudah dibuat, dan tanda kekalahannya. Tersenyum—dengan terpaksa, ia mengangguk. "Oke," ia melangkah ke sisi Murrue dan memutar tumit lalu melambai pada pamannya—meski tatapannya kosong, "sampai nanti Paman Athrun."

Kemudian Athrun membalas lambaiannya, "Sampai nanti Lacus."


Glossary:

*The Tale of Peter Rabbit: Judul buku dongeng anak-anak klasik yang dikarang Beatrix Potter.

**Medium rare: Tingkat kematangan steak. I wrote this just in case, untuk keterangan selengkapnya silahkan browsing di g**gle.


A/N:

Thanks so much, especially to Lenora Jime dan tenrisakura who continuously read and review this fic. Words fail to convey how much it mean for us.

By the way, since it was a blind Multichapter collaboration, I can't tell what my partner-in-crime would wrote or where this story goes to as it continue. I'm almost at the same page as you, my dear readers. So stay with us, okay? Pretty please...

Anyways, have a nice day people!