Pandora Hearts © Mochizuki Jun
I Love you© Nanami 'Yuuki' Vessalius
Rated : T
Chapter : 3
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Warning! : OOC, Miss-Typo, GAJE, Hancur, kurang romantis, de el el =A=''
Enjoy!
.
.
.
.
"B...Break...?" Ucap Sharon, rasanya dia tidak percaya pria yang didepannya adalah pria yang selama dia sukai.
"Kau sudah kenal dengannya, Sharon?" Tanya Nenek Cherly lembut, Sharon mengangguk pelan sambil terus menatap Break, Break hanya tersenyum kecil.
"Baguslah.. Kalian bicara saja dulu. Nenek masih ada pekerjaan" Nenek Cherly meninggalkan Sharon dan Break berduaan di ruang tamu. Sharon mendekati Break, lalu memegang kedua tangan Break.
"Kenapa kau tidak memberiku kabar selama 2 bulan? Kau tau.. Aku merindukanmu Break.. sungguh aku rindu padamu.. Aku sering lari dari mansion hanya untuk mencarimu, tapi ternyata kau sendiri yang datang padaku.." Ucap Sharon, perlahan air mata Sharon mengalir. Break melepas genggaman tangan Sharon dan menyeka air mata Sharon.
"Maaf membuat Nona khawatir.." Ucap Break. Sharon tersenyum dan memeluk Break, Break hanya diam saat Sharon memeluknya, ya meskipun Break juga ingin menangis, tapi tidak mungkin dia menangis dihadapan Nonanya itu. Dari balik pintu, ada seseorang dengan rambut raven yang mengintip mereka atau bisa kita sebut—Gilbert. Hatinya memanas melihat kemesraan Sharon dan Break, lalu Gilbert keluar dengan hati geram.
'Lihat saja Break.. Kau akan menyesal karena berusaha mendekati kekasihku!' Ucap Gilbert dalam hati, lalu pergi ke suatu tempat sendirian.
.
.
.
Sementara itu, setelah asyik berbincang, Sharon dan Break pergi ke toko gaun yang ada dikota, Sharon mengajak Break untuk naik kereta kuda keluarga Rainsworth.
"Umm.. Break.. bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ucap Sharon saat menaiki kereta kuda yang dia dan Break naiki. Break menutup pintu dan duduk di depan Sharon.
"Apapun nona..Asalkan saya bisa menjawabnya" Break menganggukan kepalanya.
"Apakah orang yang kemarin sore aku lihat dibukit itu adalah kau.. Break?" Tanya Sharon. Break agak kaget karena Sharon tau itu dia, tapi Break berusaha menyembunyikan ekspresinya.
"Maaf Nona.. Tapi saya benar-benar tidak tau, selama 2 bulan ini saya mengembara dan berlatih menggunakan pedang" Jawab Break, sebenarnya dia tidak enak membohongi Nonanya, karena dia tidak ingin Sharon tau tempat tingalnya sekarang. Sharon mengangguk pelan lalu menghela nafas.
"Begitu ya... Maaf menanyakan hal yang aneh,Break" Break hanya diam, tidak memberikan respon apa-apa, Sharon sedih namun dia tidak ingin Break melihat ekspresinya, jadi Sharon memilih untuk tersenyum meskipun dia hanya tersenyum kecil.
Kereta kuda berhenti. Break membuka pintu kereta dan Sharon segera turun dari kereta itu. Sharon segera masuk ke toko gaun itu, di ikuti oleh Break yang berjalan dibelakangnya.
"Hey Break! Bagaimana menurutmu dengan gaun ini? Apa cocok untukku?" Tanya Sharon sambil menunjukan sebuah gaun berwarna hijau tua dengan hiasan yang unik.
"Maafkan aku Nona..tapi menurutku itu terlalu mencolok" Jawab Break sambil mengunyah permen yang dia bawa disaku bajunya. Sharon lalu mengambil sebuah gaun ungu dengan motiv yang sanagt menarik.
"Bagaimana dengan ini,Break?" Tanya Sharon lagi. Break menganggukan kepalanya pertanda setuju, Sharon segera membeli gaun tadi dan pulang ke mansion Rainsworth.
"Untuk apa gaun ini Nona?" Tanya Break kepada Sharon. Sharon menaikan sebelah alisnya, tidak biasanya Break menanyakan barang yang dibelinya.
"Ini untuk acara makan malamku dengan Gil.." Jawab Sharon lesu. Senyuman yang terukir diwajah Sharon tiba-tiba menghilang saat menjawab pertanyaan Break tadi. Break jadi merasa bersalah karena menanyakan hal itu.
"Maafkan aku,Nona..." Ucap Break. Sharon hanya memandang Break dan tersenyum kecil lalu memainkan sehelai rambutnya dengan jarinya.
"Tidak papa Break.. Jika kau ingin menanyakan sesuatu lagi tanyakan saja padaku" Jawab Sharon. Break hanya menganggukan kepalanya seolah-olah ada yang memainkan kepalanya.
.
.
.
.
Sementara itu, Gilbert sedang pergi ke suatu tempat bersama salah seorang servantnya. Kereta kudanya berjalan menuju sebuah mansion, mansion yang besar dan sungguh indah—Mansion Vessalius. Gilbert turun dari kereta kudanya dan menemukan seorang pemuda yang sedang duduk di taman mansion itu sambil memandangi mawar-mawarnya.
"Oz.!" Panggil Gilbert. Pemuda tadi menoleh lalu melambaikan tangannya.
"Haha.. lama tidak jumpa, Gil" Kata Oz lalu menyuruh Gilbert duduk. Gilbert duduk di sebuah kursi yang berada di depan Oz dan memulai topik.
"Aku hanya ingin bertanya... dimana kau membeli ramuan cinta waktu itu?" Ucap Gilbert dengan agak terbata-bata.
"Ra..ramuan cinta.? Kapan aku mengatakan itu..." Jawab Oz sambil bersweetdrop ria mendengar perkataan Gilbert tadi.
"Bukannya kau bilang itu kemarin padaku?" Kata Gilbert. Oz menggelengkan kepalanya, lalu menepuk kepalanya.
"Ya ampun, Gil... Yang bilang kepadamu ramuan cinta itu Jack! Bukan aku!" Protes Oz sambil memegang kepalanya. Gilbert langsung diam mendengar perkataan Oz tadi.
"Jadi... Mana Jack?" Tanya Gilbert. Oz mendesah lalu berteriak memanggil Jack, tiba-tiba Jack sudah ada di sampingnya.
"Aduh aduh Oz... Tidak perlu berteriak begitu kenapa sih!" Protes Jack, Oz menunjuk Gil lalu masuk ke kamarnya. Jack duduk di kursi yang di duduki oleh Oz tadi.
"Jadi sebenarnya ada apa?" Tanya Jack. Gilbert lalu menjelaskan apa maksud dia mencarinya. Jack mengangguk-anggukan kepalanya saat Gil selesai menjelaskan penjelasannya.
"Hehe... Kau juga menginginkan ramuan itu? Aku mendapatkannya dari seorang penyihir cantik yang tinggal di perbatasan kota ini" Jawab Jack lalu memakan biskuit yang tersaji di atas meja dengan rapi.
"Penyihir Cantik..? Aku pikir semua penyihir itu adalah seorang nenek-nenek tua seperti Cherly"
"Hahaha.. Aku tidak bercanda, Gilbert.. Penyihir itu masih muda dan cantik!" Kata Jack, membuat Gilbert semakin penasaran dengan penyihir itu.
"Jadi.. Apakah ramuan itu benar-benar berhasil?" Tanya Gilbert lagi. Jack menganggukan kepalanya.
"Ya.! Buktinya hubunganku dengan Lottie semakin erat" Setelah selesai mengumpulkan informasi, Gilbert segera pulang dengan kereta kudanya. Oz lalu turun dari kamarnya dan mendekati Jack.
"Untuk siapa ramuan itu?" Tanya Oz dengan perasaan agak curiga kepada Gilbert.
"Siapa lagi kalau bukan Sharon.." Jawab Jack dengan santainya. Oz mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya memang untuk Sharon. Jika bukan Sharon mungkin saja untuk selingkuhannya –slapped-.
.
.
.
.
Gilbert POV
Aku pergi ke tempat yang dimaksud Jack tadi bersama seorang servantku. Aku melihat sebuah rumah yang ada di pinggir kota, aku melihat ke jendelanya, banyak sekali peralatan sihir dan buku-buku tentang sihir disana dan aku yakin pasti ini rumahnya. Aku mengetuk pintu rumahnya dan tampak seorang gadis membuka pintu itu.
"Ahh~! Akhirnya ada yang datang! Silahkan masuk!" Sambut penyihir cantik itu. Aku segera masuk sedangkan servantnya hanya asyik menunggu di luar.
"Jadi apa yang kau inginkan?" Tanya penyihir cantik itu sambil menyuruh Aku duduk di sebuah kursi yang ada diruangan itu.
"Umm... Aku menginginkan ramuan..ramuan cinta,nona.." Jawabku. Penyihir itu mengangguk, lalu mengambil sebuah ramuan yang tersimpan di dalam rak tempat menyimpan ramuannya.
"Ini! Dan..tolong panggil aku Eida" Eida memberikan sebuah ramuan berwarna merah muda kepadaku, aku mengambilnya dan berterima kasih.
"Jadi berapa harga ramuan ini?" Tanyaku lagi. Eida tersenyum manistapi kelihatan menyeramkan.
"Kau hanya perlu memberikanku setetes darah~" Jawab Eida. Aku langsung merinding ketakutan mendengar perkataannya tadi. Tapi tiba-tiba Eida mendekatiku dan membisikan sesuatu padaku.
"A-Apaa! Bulu kucing!" Teriakku. Eida mengangguk, mendengar kata 'kucing' saja sudah hampir membuatku menangis apalagi harus mengambil sehelai bulunya saja.
"Ba-baiklah.. Jadi ramuan ini sampai kapan akan bertahan...?"
"Ramuan ini akan bertahan selamanya, tapi jika ada seseorang yang menciumnya selain dirimu maka ramuan itu akan hilang" Jawab Eida. Aku mengangguk dan berpamitan kepadanya.
"Hahaha Break! Sekarang kau tidak bisa merebutnya lagi dariku"
.
.
.
.
Normal POV
Malamnya, seluruh maid dan butler sedang sibuk mempersiapkan acara untuk makan malam nanti. Break berjalan-jalan di koridor mansion itu, tampak para maid maupun butler yang sedang bolak-balik untuk mempersiapkan acara makan malam, Break tidak peduli dan terus berjalan sampai matanya tertuju kepada seorang pemuda di jendela atau bisa di bilang di luar mansion Rainsworth, pemuda itu melambaikan tangannya. Break sudah mengenal siapa pemuda itu—Oz Vessalius. Break segera turun dan keluar dari mansion yang besar itu.
"Hei Break!" Sapa Oz.
"Hei... apa yang kau lakukan disini,bocah?" Tanya Break. Oz tersenyum lalu mengajak Break ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari mansion Rainsworth.
"Kau tau? Tadi kepala rumput laut ke mansionku" Kata Oz. Break hanya diam, namun dalam hatinya dia penasaran kenapa Gilbert ke mansion Oz.
"Haha.. sepertinya kau tertular Alice memanggil Gilbert dengan sebutan itu.. Jadi apa yang dia lakukan?" Tanya Break. Oz membenarkan posisi topinya.
"Sepertinya begitu.. Hahahaa... baik kembali ke topik sebelumnya!" Oz menepuk tangannya dan melanjutkan perkataannya tadi.
"Oke oke~" Kata Break dengan simpelnya.
"Gilbert menanyakan ramuan pada Jack.." Ucap Oz. Break terkejut, Break berpikir mungkin saja itu ramuan untuk membunuhnya atau ramuan untuk tidak takut kepada kucing lagi? Tidak mungkin! Apa mungkin... ramuan... Cinta ?
"Ramuan apa?" Tanya Break penasaran.
"Ramuan...Cinta " Break menepuk tangannya karena perkiraannya betul lalu pergi meninggalkan Oz. Oz tersenyum karena bisa menolong temannya itu lalu dia ikut pergi sebelum di marahi oleh pamannya.
.
.
.
.
Saat Break sedang dalam perjalanan menuju mansion, tiba-tiba ada beberapa orang yang memukulinya dan menonjok perutnya sehingga membuat Break pingsan, orang yang memukuli Break tadi segera mengurung Break di suatu tempat yang tidak di ketahuinya.
'Maafkan aku... Nona' Bisik Break dalam hatinya.
.
.
.Sharon yang sejak awal merasa aneh menjadi tidak enak dengan acara ini, apalagi dia tidak melihat servantnya setelah pulang belanja tadi. Gilbert mendekati Sharon.
"Mau minum?" Tawar Gilbert. Sharon menggelengkan kepalanya. Gilbert mencoba untuk bersabar untuk mengahadapi gadis cantik di depannya itu.
'Break...Dimana kau..?'
TBC
Nanami : "Selesai! Selesai! *loncat" GAJE* Udah 3 bulan nih cerita ada di flashdick dan baru di upload xDD
Oz : "Authornya pemalas,sih.."
Nanami : "Ozu... O/O saya memang pemalas xDD
Sharon : "Author ngaku!"
Nanami : "Emang :p"
Gilbert : "Apa! Ramuan cinta? Kenapa peranku begitu aneh di fanfic author gila ini =A=''
Nanami :"Entahlah..mungkin karena authornya yang gila xD
Jack : "Jadi kapan update lagi mba?"
Nanami : "Entahlah.. aku gak jamin update kilat... Oke... kalian balaskan reviewnya ya :p
Jack : oke mba =A=''
Sharon : "Hahaa..Katanya sang auhor mau bikin cinta segidelapan lo Yosukegalih xD
Gilbert : Huee..! gara-gara author dodol ini jadi benci ma aku!
Nanami : Resiko anda..puahahaa!
R&R Please... TT^TT
