Gue murid SMA!

Vocaloid © Yamaha Corp.

Genre: Campur aduk! Bisa friendship, bisa romance, bisa parody, tapi kayaknya nggak termasuk humor karna takut garing krenyes-krenyes

Warning: (hint) romance dengan pair random (terutama LenMiku tapi bisa juga harem! Miku), bahasa gue-elu, setting indonesia, miss typos, dan sejenisnya

*) Cerita ini mengandung 75% real story dan 25% imajinasi


[51! Ann(a)]

"Dari dulu bapak penasaran―"

Semua murid kelas sepuluh MIPA 4 langsung memusatkan perhatiannya pada sang guru.

"―kenapa kalian memanggil Ann dengan Anna? Kalian kebanyakan nonton Frozen, ya?"

―Murid kelas sepuluh MIPA 4, dengan rata-rata murid berumur 15 tahun, Frozen lovers.


[52! Pr]

"Curang!"

Teto menatap tidak terima begitu melihat buku kimia Miku.

"Apanya yang curang sih?"

"Lu dikasih pr cuman lima soal, sementara gua dikasihnya sepuluh soal. Nggak adil banget!"

"Makanya, dapet kelas tuh MIPA 4 ―kelas tengah yang dibilang pinter nggak, dibilang baka juga nggak."

―Hatsune Miku, 15 tahun, murid dari MIPA 4.


[53! Sebuah Saran]

"Kayaknya dapetin Megurine-senpai itu susah banget deh."

Yuuma menatap galau langit biru. Disebelahnya, ada Akaito yang setia menemani Yuuma curhat.

"Kalau begitu, lu pacarin aja si Luki. Mukanya sebelas dua belas sama Megurine-senpai, kan?"

―Shion Akaito, 15 tahun, memang pemberi saran terbaik.


[54! Sebuah Jalan]

"Miku, anterin gua pliss ke toko cosplay deket rumah lu~"

Miku menatap jijik Big Al yang mulai pasang muka melas, walau sejujurnya Miku juga doki-doki lihat muka imut Lui ikut-ikutan melas.

"Kamu tahu Pasar A, kan?"

"Gua nggak tahu, Mik. Gua kan bukan anak kabupaten macam lu."

"Ya elah ... perasaan kamu sering nongkrong di Cluster B deh."

"Ya ... emang gua sering nongkrong disitu, Mik. Terus apa hubungannya?"

"Kalau kamu tahu Cluster B, kenapa nggak tahu Pasar A? Pasar A kan disampingnya Cluster B. Malah pasar itu pasang barner gede-gede tulisannya 'Pasar A' pula. Matamu kamu taruh mana sih waktu nongkrong disana?"

―Stein Allen (alias Big Al), 15 tahun, tidak tahu jalan.


[55! Nama Panggilan]

Mari kita kembalikan setting ke awal pertemuan klub Jepang.

"Nah, nama kamu siapa?"

Seorang kakak kelas bertanya lembut pada Miku.

"Hatsune Miku, kak."

"Berarti kakak manggil kamu Miku ya?"

"Kakak panggil aku ohime-sama juga nggak apa-apa kok."

―Hatsune Miku, 15 tahun, ingin banget dipanggil ohime-sama.


[56! Sebenarnya Gua ...]

SMAN 102 nampak aman, tentram, dan damai. Tak lupa dengan semilir angin sepoi-sepoi yang begitu menyejukkan. Pada saat ini, mari kita mengintip ke halaman belakang sekolah. Tempat dimana dua gadis ABG saling bertatap mata.

"Jadi, lu mau ngomong apa ke gua, Miki? Lu nggak mungkin ngajak gua face-to-face di tempat sepi untuk ngomongin hal yang nggak penting."

Lily melipat kedua tangannya. Iris kebiruannya memandang lurus gadis bersurai cherry yang ada dihadapannya.

"Iya, gua ingin ngomong sesuatu sama lu."

Semilir angin makin berhembus, menambah efek-efek diantara mereka berdua.

"Ngomong apa?"

Lily semakin tidak sabaran.

"Sebenarnya gua itu―"

Lily mendadak menahan nafas. Sebuah obrolan tentang Miki itu yuri muncul di otak emasnya yang telah berkarat. Hatinya mulai was-was, ia belum siap mental buat ditembak cewek.

"Miki, gua minta maaf. Gua nggak bisa nerima lu ..."

Miki cengo.

"Lu ngomongin apa sih, Li? Gua itu mau minta nope-nya si Kaito, Li! Kaito! Kalau bisa sama foto-foto ketjehnya juga."

―Furukawa Miki, 15 tahun, positif normal.


[57! Jangan Ikut Gua, Pliss]

"Lily, main yuk!"

Miku berseru kencang. Memanggil nama tetangga sekaligus sahabatnya itu.

"Sori, Mik. Gua lagi ada acara sama temen sekelas dan gebetan gua."

Miku mendengus. Si Lily udah punya gebetan rupanya.

"Yaudah, aku ikut ya! Sekalian kepoin muka gebetanmu kayak gimana."

"Ya elah, Mik. Yang ada si doi malah kepicut sama ke-loli-an lu. Udah, lu pulang aja gih! Hush, hush!"

―Kozakora Lily, 15 tahun, baru saja mengusir sahabatnya sendiri.


[58! Nggak Punya Hape]

Kesalnya nggak punya ponsel waktu SMA itu cuman satu.

"Nah, anak-anak. Coba kalian cari di internet soal blablabla ..."

Hati Miku seketika tertusuk panah.

"Bu, saya nggak punya hape. Gimana dong?"

―Hatsune Miku, 15 tahun, nggak punya hape.


[59! Angin yang Berlalu]

"Kok lu ngambek sih?"

IO bertanya pada Miku dengan nada cemas. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja gadis bersurai teal itu ngambek dan memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok sendirian.

"Gimana nggak mau ngambek? Aku aja nggak dianggap sama mereka!"

―Violette IO, 15 tahun, mencoba memahami teman sekelasnya.


[60! Sang Pemburu Cinta]

"Gua kepo deh, Al."

Leon menyikut siku Big Al.

"Kepo kenapa?"

"Katanya lu udah 'belok', tapi kok ngincer harem di klub teater?"

"Ya ... biar ada 'cadangan' gitu."

―Stein Allen (alias Big Al), seorang pemburu cinta.


[61! Percuma]

"Kata gua sih, Al. Lu percuma deh ngincer harem di klub teater."

Tiba-tiba saja, si Akaito ikut-ikutan nimbrung dalam obrolan Leon dan Big Al.

"Kok bisa?"

Seketika Big Al memandang Akaito dengan pandangan tidak suka.

"Ya ... skill lu ngomong sama cewek aja masih kurang, apalagi ngajak jadian. Udah, lu nggak usah sok-sok ngincer harem."

―Shion Akaito, 15 tahun, minta ditonjok Big Al.


[62! Melihat]

"Kenapa sih lu ngeliatin gua mulu?"

Miku yang lagi asik-asik liat pemandangan lewat jendela yang ada di samping IO langsung menatap heran. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan.

"Oi, Miku!"

"Kamu ngomong ke aku?"

"Iyalah! Siapa lagi?"

"Yaelah, IO! Aku liatnya pemandangan, bukannya kamu. Ge-er banget sih!"

―Violette IO, 15 tahun, gampang ge-er.


[63! Kenalin dong!]

"Miku, Miku."

Kini, Miku dan Lily lagi di kafe. Kali ini mereka bayar sendiri-sendiri. Si Miku pesan hamburger plus vanilla milkshake sementara si Lily pesan pancake cokelat plus chocolate milkshake.

"Apaan?"

"Di sekolah lu ada yang cakep-cakep apa imut-imut nggak?"

Miku tersenyum maklum. Biarpun Lily udah punya gebetan atau pacar, gadis itu suka lirik-lirik cowok lain. Macam Yamanaka Ino gitu.

"Ada. Si Yuuma lumayan ketjeh, si Luki juga lumayan. Terus si Lui imut-imut gimana gitu. Lalu ada juga si IO yang tampangnya seme tapi sifatnya macam uke gitu. Ya ... pokoknya banyaklah."

"Kenalin dong!"

"Yang ada kamu bisa gila kalau udah tahu sifat mereka, Li."

―Hatsune Miku, 15 tahun, punya temen yang bisa bikin gila.


[64! 'Girlfriend']

Ada dua macam pacar cewek yang bisa kalian temui di SMA. Yang pertama:

"Ah, iya sayang. Aku baik-baik saja disini."

―Aria IA, 15 tahun, ciri pacar normal.

Terus yang kedua:

"AN―PIIIP― INI GIM NYESELIN BANGET SIH! BARU PACARAN ENAM BULAN SI HERO-NYA UDAH MINTA PUTUS AJA! NGAJAK RIBUT BANGET! FIX-LAH AKU BAKALAN BIKIN KAMU TERGILA-GILA PADAKU. BERSIAP-SIAPLAH ARASHI!"

―Hatsune Miku, 15 tahun, ciri pacar karakter otome game.


[65! Bicara Soal Masa Lalu]

"Masa lalu (maksudnya masa-masa SMP) gua mah suram. Udah sering di-PHP-in sama gebetan. Terus sering putus nyambung sama mantan pula!"

Miku yang mendengar si Big Al cuman tersenyum mengejek.

"Masa lalu aku nggak suram dong!"

"Gimana mau suram? Lu aja nggak pernah punya pacar, Mik!"

―Hatsune Miku, 15 tahun, nggak pernah punya pacar.


[66! Ada Apa Kau dengan Dia?]

"Mik, lu kok lagi deket ya sama si Big Al?"

Miku menatap heran Teto. Gadis ABG itu tak mengerti maksud Teto mengatakan hal tersebut.

"Ya ... emangnya kenapa?"

"Lu pacaran sama Big Al? Atau lagi TTM-an?"

"Idih, ngapain pacaran sama Big Al? Nggak level, cuih!"

―Stein Allen (alias Big Al), 15 tahun, mendadak hatinya terasa remuk setelah tidak sengaja mendengar percakapan antara Teto dan Miku.


[67! Oleh-Oleh]

K. L. : Mik, gua lagi study tour. Lu mau oleh-oleh apa?

Miku-Miku: Kamu pulang dengan selamat juga udah cukup :"v

K. L. : Anjay! Gua nggak bakalan nge-fly, Mik

―Kagamine Len, 15 tahun, (nggak) bakalan nge-fly.


[68! Oleh-Oleh 2]

K. L. : Gua serius, Mik. Lu mau gua kasih apaan?

Miku-Miku: Snapback aja deh. Snapback aku ilang soalnya :v

K. L. : Snapback kemahalan, Mik

Miku-Miku: Katanya mau beliin aku oleh-oleh, kok bilang kemahalan sih?

K. L. : Uang gua tinggal dikit soalnya

―Kagamine Len, 15 tahun, sedang mengalami krisi uang.


[69! Stress]

Miku-Miku: Tapi perasaan kamu kok study tour mulu ya?

K. L. : Nggak juga kok

Miku-Miku: Tapi dua minggu yang lalu kamu bilang kamu di Kampung Inggris. Sekarang kamu di Gunung Bromo. Kamu nggak ngerasain dapet banyak pr ya?

K. L. : Ya ... gua disini juga belajar, Mik

Miku-Miku: Tapi kamu enak bisa sekalian refreshing. Lah, aku? PR-KU BANYAK LEN! BANYAK! BISA-BISA OTAKKU STRESS, LEN!

―Hatsune Miku, 15 tahun, stress karena kebanyak pr.


[70! Ikut OSIS]

"Lu jadi ikut OSIS, Mik?"

Yukari bertanya pada Miku dengan pandangan penasaran.

"Ikut sih. Tapi nggak tahu deh lolos seleksi apa kagak."

"Kalau gua sih nggak jadi, Mik."

"OSIS kan kegiatannya banyak ... entar yang ada gua tambah stress karena pr sekolah nggak kalah banyak. Ah, pokoknya aku kagak pengen jadi OSIS. Titik."

―Yuzuki Yukari, 15 tahun, menarik kata-katanya di awal.


[71! Case hape]

"Kenapa orang-orang kebanyakan case hape-nya menara Eiffel? Memangnya Paris itu harus identik dengan menara Eiffel, ya?"

Kokone bertanya sambil menatap heran case hape teman sebangkunya.

"Nggak tahu deh. Kalau aku punya hape ... mungkin case-nya bakalan roti prancis yang suka dimakan Teto."

Miku menjawab pertanyaan Kokone sambil melirik ponsel yang Kokone putar-putar.

"Anti mainstream juga. Tapi entah mengapa karena kebanyakan ngeliat case hape bergambar menara Eiffel rasanya―"

"Rasanya apa, Ne?"

"Menara Eiffel jadi identik sama tante-tante norak yang sok glamour."

―Sakurai Kokone, 15 tahun, bosan melihat menara Eiffel.


[72! Nonton di Pojok]

"Kalian ngapain sih?"

Miku menatap kepo. Bagaimana tidak? Di pojok kelas anak laki-laki pada ngerumunin sebuah laptop.

"Ah, elah kayak nggak tahu cowok aja lu, Mik―"

Si IO menyahut.

"―anak cowok kalau udah ponjok pasti nonton adengan 'gulat'."

"Gulat?"

"Iya, 'gulat' di ranjang."

―Hatsune Miku, 15 tahun, masih gagal paham bagaimana cara melakukan gulat di ranjang.


[73! Ketika...]

Perubahan jadwal mendadak itu emang kadang-kadang bikin kesel. Apalagi kalau harusnya ulangan Kimia malah berubah menjadi ulangan Pkn secara mendadak.

"Bu, saya capek. Ulangannya mendadak banget! CCTV-nya dimana, bu? Saya mau melambaikan tangan."

―Yuuki Rana, 15 tahun, sudah capek.


[74! Masa' si Yohio―]

"Eh, lu tahu kagak?"

Si SeeU bertanya. Membuat Miku dan Gumi yang menatap heran SeeU.

"Apa?"

"Masa' katanya si Yohio nyaris kencing di celana tahu gegara bu Pkn melototin dia selama ulangan mendadak tadi."

―Kim SeeU, 15 tahun, buka aib teman semejanya.


[75! Orang Pacaran]

Sekarang, saatnya pulang sekolah. Di tengah perjalan, Miku nyeletuk begini:

"Itu orang banyak gaya banget dateng ke rumah pacarnya sambil bawa mobil."

Ibu Miku yang tengah menyetir motor menyahut,

"Namanya juga anak muda, Mik. Wajar aja kan ngapelin pacarnya?"

"Maksudku bukan itu, bu."

"Terus apa?"

"Mobilnya menuh-menuhin jalan. Udah tahu jalan ini sempitnya kayak apaan tahu."

―Hatsune Miku, 15 tahun, kesal.


To be Continue


A/N:

Ada yang kangen again sama cerita ini? Well, kalau nggak ada sih yaudah *guling-guling diatas kasur*

Betewe, saya agak terharu gimana gituuuu. Pas dibilang cerita ini makin lucu. Serius deh, perasaan saya ngetik kagak ngerasa cerita ini lucu-lucu banget.

Dan soal rating, saya sengaja naikkin jadi T. Soalnya saya mikir begini, inikan cerita anak SMA, masa' dikasih rate-nya K+ (rate untuk usia sembilan tahunan)?

Oke, sampai bertemu minggu depan~