Hari-hari berjalan seperti biasanya. Suasana sekolah juga berjalan seperti biasanya. Seperti yang terjadi di kelas Sehun saat ini, hanya ada siswa yang terlihat jengah – bahkan di antara mereka ada yang diam-diam sudah tertidur, suara spidol mendecit di atas papan tulis, rentetan soal Sejarah yang menyebalkan di depan sana, dan beberapa siswa yang dihukum di depan kelas karena ketahuan tidur di kelas.
Hey, kenapa? Itu hal yang biasa, bukan? Tertidur di kelas Sejarah tepat saat jam terakhir sebelum waktu pulang tiba. Kau juga pasti pernah mengalaminya jika memiliki jam kelas Sejarah yang seperti ini.
Oh, aku paham. Ada hal yang tidak biasa di sini. Dan itu adalah sosok Sehun yang sedang tersenyum-senyum sambil mendengarkan penjelasan dari Kwon ssaem. Maksudku, yang aneh itu bukan dalam bagian 'mendengarkan penjelasan Kwon ssaem' sementara pikiran teman-temannya yang lain sudah lari ke rumah. Yang aneh itu adalah pada 'dengan seksama'.
Sehun memang mendengarkan penjelasan dari Kwon ssaem tentang dinasti Joseon. Tapi penjelasan itu sama sekali tidak meresap di dalam otaknya. Bagaimana tidak? Jongin tengah memenuhi isi kepalanya dan itu membuat semuanya terasa kosong. Ah, Sehun ingin sekali melihat Jongin. Rasanya ingin sekali menghentikan waktu dan berlari ke kelas Jongin untuk menatap wajah cantik gadis itu. Atau setidaknya mempercepat waktu agar bisa pulang bersama dengan gadis itu.
Senyuman Sehun semakin lebar saat memikirkan tentang itu. Maksudku, memikirkan tentang dirinya yang akan pulang bersama Jongin. Mengantar gadis itu ke depan pintu rumahnya sebelum akhirnya berbalik pulang ke rumahnya sendiri.
Itu membuat teman-temannya yang dihukum di depan sana mengernyit heran. Hey, jangankan tersenyum lebar seperti itu, bahkan tersenyum tipis saja jarang Sehun lakukan. Mereka jadi menerka-nerka apa yang ada di dalam pikiran Sehun. Yang sudah pasti itu adalah hal yang baik. Ah, entahlah. Pikiran Sehun berbeda dengan pikiran mereka. Intinya, bagi mereka, hal terbaik saat ini adalah pulang dan menggerutui hukuman mereka kali ini.
Persetan dengan pelajaran Sejarah atau penjelasan Kwon ssaem yang berbelit-belit. Sehun sangat tahu inti dari semuanya. Itu sama saja dengan cerita yang dulu pernah diceritakan oleh ayahnya, atau penjelasan dari guru SMP-nya. Lagipula, Sehun bisa membaca itu nanti. Apa gunanya buku, perpustakaan dan internet?
Bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Kwon ssaem segera membereskan peralatannya dan beranjak ke luar kelas. Para siswa menghela nafas lega dan segera membereskan barang mereka untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Sehun! Ayo kita bermain basket sepulang sekolah" ajak teman sebangkunya – Tao.
"Maaf, tapi aku tidak bisa. Mungkin lain kali" jawab Sehun sambil memakai ranselnya.
"Baiklah. Sampai jumpa" ucap Tao sebelum akhirnya Sehun berlari ke luar kelas.
…
Jongin berjalan pelan menuju ke gerbang sekolah. Matanya sibuk mengawasi siwa-siswi yang berlalu lalang. Sebelum akhirnya pandangannya berhenti pada seseorang yang sedang berdiri di depan gerbang. Jongin nyaris memekik senang sebelum akhirnya berusaha berjalan dengan normal.
Namun Jongin terpaksa menghela nafas sebal saat beberapa orang siswi terlihat mengelili orang itu. Kalau kondisinya seperti ini, Sehun tak akan melihatnya. Namun sepertinya rasa sebal itu harus menghilang karena kemudian siswi-siswi itu pulang dan mata Sehun beralih ke arahnya.
Mata itu menyipit dengan sudut bibir yang terangkat ke atas. Ah, Jongin suka sekali dengan pemilik mata itu. Apalagi jika dia tersenyum pada Jongin.
"Mau pulang bersama? Motorku masih diperbaiki" ujar Sehun saat langkah Jongin berhenti tepat di depannya.
"Hm? Baiklah" jawab Jongin sekenanya. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Jongin jadi gugup sekali. Oh Tuhan, jangan sampai Sehun kesal dengan jawaban singkatnya barusan. Aduh, Jongin jadi benci pada jantungnya ini. Jika saja jantungnya tidak berdegup begini kencang, jika saja Jogin tidak gugup,mungkin jawabannya tak akan sesingkat itu.
…
Bus berhenti tepat di depan halte kompleks perumahan Jongin. Jongin dan Sehun bergegas turun dari bus yang membawa mereka ke sana. Kemudian keduanya berjalan menyusuri jalanan perumahan sambil sesekali tertawa bersama.
Sehun suka sekali mengusuk kepala Jongin. Dan Jongin suka sekali menggerutu dengan itu – walau sebenarnya Jongin berteriak girang di dalam hati. Rambut gadis itu tergerai lurus dan terasa begitu lembut di permukaan tangan Sehun. Rambutnya beraroma sangatmanis. Dan aroma itu menyeruak masuk ke dalam paru-paru Sehun, membuat sebuah sensasi hangat yang sangat disukainya.
"Ehm, Sehun-ssi~" panggil Jongin saat langkah mereka memasuki blok C.
"Ya, ada apa?" jawab Sehun tanpa mengalihkan perhatiannya dari Jongin. Gadis itu terlihat begitu cantik di matanya. Tak hanya cantik, tapi juga manis, menggemaskan, membuat Sehun tak ingin jauh darinya. Ha! Joonmyeon bilang ini adalah cinta, dan sepertinya Sehun mulai mempercayai ucapan ketua OSIS itu.
"Eng~ bolehkah aku bertanya?"
Sehun tertawa pelan. Kemudian kembali mengusuk kepala Jongin. Membelai rambut itu dengan lembut. "Tanyakan saja. Aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan"
"Apapun?"
"Kalau aku tahu jawabannya, aku pasti akan menjawabnya"
"Janji?" Jongin mengancungkan jari kelingkingnya ke depan Sehun.
"Janji!" dan Sehun menyambut jari kelingking itu dengan kelingkingnya yang terlihat lebih besar dari milik Jongin. Membuat senyuman di bibirnya tak dapat ditahan lagi.
"Kau mau bertanya apa?" tanya Sehun sesaat seelah tautan jari mereka terputus.
"Eum~ itu~ eum.. tidak jadi" jawab Jongin gugup. Rasa gugupnya menjalar hingga ke telinganya sehingga membuat telinganya itu memerah padam.
"Eh? Kenapa?" tanya Sehun heran.
"Eum.. tidak apa-apa" jawab Jongin sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna krem. Itu rumahnya. "Sampai jumpa besok" sahut Jongin lalu melambaikan tangannya.
"Ya, sampai jumpa besok" jawab Sehun sambil tersenyum lebar. "Eum.. sepertinya nanti sore motorku sudah selesai. Bagaimana menurutmu kalau.. eum.. maksudku, besok, bolehkah aku menjemputmu?"
"Ya.. tentu saja" jawab Jongin sambil menunduk.
"Eum.. kalau begitu.. sampai jumpa besok pagi" sahut Sehun sambil melambaikan tangannya pelan.
"Ya, sampai besok pagi. Aku.. masuk dulu"
"Okay"
Jongin melangkah menuju ke pintu depan rumahnya. Kemudian masuk dan melambai sesaat sebelum akhirnya menutup pintu.
Sehun menghela nafasnya. Rasanya agak berat untuk membiarkan Jongin masuk ke dalam rumahnya. Ah, Sehun tak bermaksud melarang Jongin masuk ke rumahnya sendiri. Sehun hanya masih sangat ingin menatap Jongin. Menghabiskan waktunya untuk menatap keindahan wajah Jongin. Jongin begitu cantik. dan Sehun tak dapat menahan peson kuat seorang Kim Jongin.
Jujur saja, Jongin itu adalah gadis yang sangat mempesona. Siapapun akan jatuh pada kecantikannya. Hanya saja Jongin terlalu merendah. Bahkan Jongin terlihat tidak menyadari puluhan mata di sekolah yang suka mengamatinya. Jongin juga tak pernah menyadari anak-anak populer di sekolah ini harus menahan decakan kagum saat melihatnya. Contohnya saja, Yifan si kapten basket, Joonmyeon si ketua OSIS, Jongdae si ketua klub vocal, Hyunwoo si ketua klub teater, Chanyeol sang bassis band sekolah, Myungsoo yang sebentar lagi akan–
Argh! Sehun benci ini. Terlalu banyak – bahkan sepertinya semua – anak laki-laki di sekolah yang telah menyadari pesona Jongin. Ini memang bukan salah Jongin, tapi Sehun tak menyukai ini. Sehun juga sangat suka dengan Jongin yang sangat cantik. Tapi Sehun takut. Bagaimanapun, banyak anak laki-laki keren yang populer di sekolah yang juga menyukai Jongin – walau Jongin tak pernah sadar dengan itu.
Ah.. Sehun hanya takut. Takut jika Jongin tak melihatnya. Sehun bisa saja kalah dengan kepopuleran anak laki-laki lainnya. Sehun hanyalah seorang anak laki-laki yang populer karna permainan basketnya dan sikapnya yang cool terhadap orang-orang. Wajahnya memang cukup tampan, tapi tak dapat dipungkiri anak laki-laki di sekolahnya memang tampan semua.
Argh~ Sehun sama sekali tak mengerti dengan dirinya. Sehun tak begitu suka jika ada anak perempuan yang mendekatinya. Bukan apa-apa, Sehun hanya merasa anak perempuan itu terlalu perasa. Mereka akan menganggap perhatian kecil dari Sehun sebagai sesuatu yang besar. Dan jujur saja, Sehun sama sekali tidak berpikiran apapun tentang perhatian itu.
Tapi jika itu Jongin, ini jadi berbeda. Sehun ingin sekali Jongin memperhatikan perhatian-perhatian kecil yang diberikannya. Walaupun itu sangat kecil sekalipun. Sehun ingin Jongin senang karenanya. Sehun ingin melihat senyuman manis Jongin yang dibuatnya. Sehun ingin Jongin kagum padanya. Sehun ingin Jongin melihatnya.
Sehun tertawa kecil. Menertawakan kebodohannya yang benar-benar bodoh. Ugh, Sehun sangat sadar bahwa dirinya benar-benar bodoh. Kemudian Sehun membalikkan badannya. Dan melangkah menjauhi rumah Jongin. Melangkah menjauhi komplek rumah Jongin. Ah, apa aku sudah mengatakan padamu? Sehun berbohong. Rumahnya sama sekali tidak searah dengan rumah Jongin. Ada dua alasan mengapa Sehun berbohong. Yang pertama, Sehun ingin tahu dimana rumah Jongin. Yang kedua, Sehun ingin memastikan Jongin pulang dengan selamat ke rumahnya. Bukankah Sehun bodoh? Bahkan Sehun membohongi orang yang sangat disukainya. Astaga.. Sehun tak menyangka dirinya sudah begini bodoh.
…
Festival sekolah akan diadakan dua bulan lagi. Siswa SMA Inha makin sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari dekorasi ruangan, persiapan penampilan, struktur acara, pelatihan MC, dan banyak persiapan lainnya.
Para siswa memang mempersiapkan segalanya dengan sangat baik. Mereka ingin festival sekolahnya ini berlangsung maksimal. Bagaimanapun, ini akan mengangkat nama sekolah mereka. Seperti yang terjadi saat ini, para siswa yang tergabung ke dalam klub dance sedang berlatih dengan serius di ruang auditorium. Beberapa siswa lainnya terlihat sedang mengukur ukuran jendela untuk membuat gorden yang baru.
Jongin melangkahkan kakinya untuk masuk. Jongin tahu ini ide yang buruk. Apapun alasannya, mengganggu latihan orang lain itu tidak baik. Tapi Chanyeol memaksanya memanggil Sehun. Chanyeol memang ketua divisi mereka. Kenapa bukan Chanyeol saja yang memanggil Sehun? Ah.. Chanyeol memang tampan, keren, baik hati dan ramah dan itu yang membuatnya populer, namun sayang sekali, terkadang Chanyeol terlihat menyebalkan bagi Jongin. Contohnya seperti saat ini.
Jongin berhenti beberapa langkah di depan panggung. Sekalipun diperintahkan untuk memanggil Sehun, Jongin tak akan melakukannya jika Sehun sedang berlatih seperti itu. Jongin lebih memilih untuk menunggu sampai mereka istirahat saja. Jongin hanya tak ingin mengganggu. Ngomong-ngomong, mereka keren sekali. Ada beberapa siswa kelas dua dan kelas tiga serta satu orang anak kelas satu yang berdiri di tengah panggung. Sisnya hanya jadi backdancer saja. Jongin merasa sangat bangga saat menemukan Sehun ada di antara siswa yang menari di tengah panggung. Itu artinya Sehun yang memimpin semuanya.
Walau ada Eunhyuk-sunbae dan Taemin-sunbae yang lebih mendominasi, namun Jongin hanya melihat Sehun. Bagi Jongin, Sehun terlihat lebih memukau dibanding yang lainnya. Ah.. Jongin jadi ingin menonton pertunjukan dance nanti. Pasti Sehun terlihat sangat keren. Jongin jadi makin menyukai festival sekolah ini. Rasanya tidak sabar untuk menunggu.
"Jongin? Ada apa?" tanya Eunhyuk-sunbae saat latihan mereka berakhir dan mereka beristirahat.
"Ah.. tidak apa-apa sunbae, Chanyeol megatakan padaku untuk memanggil Sehun, kami ada rapat untuk bazaar nanti" jawab Jongin sambil agak menunduk.
Asal kau tahu saja, Eunhyuk ini sangat tampan. Dia sangat populer sabagai salah satu dancer terbaik di sekolah. Eunhyuk pernah memenangkan kompetisi dance se-Korea Selatan. Dan mendapat pujian dari dancer-dancer terkenal seperti Jung Yunho, Greg S. Hwang bahkan Tony Testa. Jongin pernah bilang bahwa dia hanyalah seorang siswi biasa. Apapun yang dimilikinya hanyalah hal biasa. Jadi ini hanya akan menjadi biasa saat Jongin menunduk ketika Eunhyuk menatapnya seperti itu.
"Oh.. begitu? Bagaimana latihan kami tadi, keren tidak?"
"Tentu saja keren. Kalian sangat menakjubkan, sunbae" jawab Jongin dengan mata berbinar. Wajahnya mulai sedikit terangkat ke atas namun kembali menunduk saat melihat EUnhyuk tersenyum padanya.
"Jongin? Ada apa?" tanya Sehun yang sedari tadi hanya diam di sudut panggung. Sebenarnya Sehun ingin sekali menghampiri Jongin daritadi. Tapi Sehun menahan dirinya. Namun sekarang Sehun tak dapat lagi menahan diri saat melihat Eunhyuk tersenyum seperti itu pada Jongin.
"A-ah.. Sehun-ah.. Chanyeol memintaku memanggilmu. Chanyeol bilang kita akan rapat" jawab Jongin sambil tergagap. Wajahnya masih menunduk sambil menatap Sehun takut-takut.
"Geurae? Kajja" jawab Sehun sambil menarik tangan Jongin menjauh dari Eunhyuk. "Hyung.. aku izin dulu, ya?" tanya Sehun yang dijawab oleh anggukan dari Eunhyuk.
Kemudian Sehun membawa Jongin melangkah keluar dari ruang auditorium. Dengan tangan Sehun yang masih menggenggam tangan Jongin dengan erat. Dengan Jongin yang menunduk dengan wajah memerahnya. Dengan detakan jantung mereka yang bersatu membentuk sebuah melodi yang indah.
"Jongin cantik sekali, ya?" gumam Eunhyuk sambil menatap punggung gadis itu. "Tapi sepertinya Sehun menyukainya" katanya lagi lalu tertawa.
"Ya, mereka cocok" jawab Taemin yang tiba-tiba ada di dekatnya.
"Tapi Sehun itu bodoh sekali. Bagaimana menurutmu? Apa mereka bisa pacaran?" tanya Eunhyuk tanpa mengalihkan pandangannya.
"Entahlah. Menurutmu?"
"Tidak bisa. Karna akulah yang akan pacaran dengan Jongin duluan" jawab Eunhyuk lalu tertawa lebar.
"Hey, bagaimana dengan Donghae?"
"Astaga! Aku lupa! Donghae akan marah jika aku tak menemuinya sekarang!" gumam Eunhyuk lalu berlari ke ruang auditorium menuju ke kelas kekasihnya, Lee Donghae.
Taemin hanya dapat menggelengkan kepalanya heran melihat kelakuan dancer hebat konyol yang satu itu.
TBC
Ottokhae? Ini emang gak kilat, tapi aku udah berusaha secepat yang aku mampu^^
Semoga kalian suka^^
Don't forget review, maaf yang reviewnya belum sempat kubalas, soalnya setelah baca review, aku semangat banget nyiapin fanficnya dan cepet-cepet ngepost, sampe lupa balas deh, hehe..
Makasih banget sama dukungan kalian semua^^
Saranghaeyo~
- Allhearts -
