No Podras Olvidar [Don't Forget Me]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
From my fic Min Karlek, My Love at my old account
Warning: Adult situation, AU, genderbending, don't like don't read :D
.
.
.
Hari sudah larut malam pada waktu itu dan setiap orang yang ada di rumah masing-masing pasti sudah tertidur lelap. Tetapi tidak untuk dua insan yang sedang mabuk asmara ini. Mereka tidak menyadari bahwa hari sudah malam dan mereka terus saja melakukan permainan panas mereka sebagai tanda penyatuan cinta mereka.
Begitulah yang terjadi pada mereka, di liburan musim panas di bulan Juni di sebuah villa. Pada awalnya hanya sekedar untuk merayakan ulang tahun Berwald bersama Tiina tetapi yang terjadi pada akhirnya adalah mereka melangkah terlalu jauh, akibat perasaan mereka berdua yang sudah tidak terbendung lagi, yang saling menginginkan satu sama lainnya.
"Ber-nggh-," Tiina mengerang sekaligus menggeliat kegelian ketika Berwald mencium salah satu titik di tubuhnya yang paling sensitif. "Bisakah kita berhenti sebentar."
"Kurasa tidak," jawab Berwald pelan dan terus melancarkan cumbuannya kepada Tiina. "Sebelum kita berdua sama-sama mencapai titik kenikmatan."
Wajah Tiina bersemu merah. Ini bukan pertama kalinya mereka berhubungan intim seperti ini, mereka juga pernah melakukannya beberapa bulan yang lalu. Di tempat yang berbeda pastinya, tetapi tetap saja Tiina tidak terbiasa ketika mereka berhubungan intim untuk kedua kalinya. Berwald merupakan pria yang berpengalaman dibandingkan dirinya, tentu saja. Walau Berwald sudah berusia empat puluh tahun lebih sedikit, dia mempunyai vitalitas yang sangat baik, mungkin melebihi vitalitas pria berumur dua puluhan. Dan itu terkadang membuat Tiina agak kesulitan untuk mengikuti permainan cintanya.
"Mengapa wajahmu memerah?" tanya Berwald pelan dan menatap wajah Tiina dengan lembut lalu mengalihkan bibirnya yang tadi mencium titik sensitif milik Tiina ke bibir Tiina perlahan-lahan dan menggigitnya sedikit sehingga Tiina meringis pelan. "Apakah aku bermain kasar?"
Tiina melingkarkan kedua tangannya ke leher Berwald dengan erat dan menatap mata Berwald lekat-lekat selagi Berwald menciumnya. "Mhm, sedikit," katanya gugup. "Karena aku tak pernah melakukan ini sebelumnya kecuali denganmu."
"Jangan pernah mencobanya dengan pria lain selain denganku, sayang," ujar Berwald dingin dan dengan cepat kembali memandangi tubuh polos Tiina lekat-lekat. "Bagaimana kalau kita tuntaskan permainan kita sesegera mungkin?"
"Sekarang juga?" tanya Tiina gugup sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. "Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian," Berwald melanjutkan perkataannya dan memeluk Tiina dengan erat hingga tubuh mereka yang tanpa adanya sehelai benang sedikitpun saling menempel. Setelah itu, Berwald menemukan milik Tiina yang paling berharga dan masuk ke dalamnya perlahan-lahan.
"Sayang," Berwald mendesah pelan. "Bolehkah aku-"
Tiina diam saja ketika Berwald nyaris memasukinya dan mengangkat tubuhnya sebentar untuk melihat apa yang dilakukan Berwald terhadap kewanitaannya dan pipinya memerah setelah melihat apa yang dilakukan Berwald.
Tetapi tetap saja Tiina mengijinkan Berwald memasukinya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan Tiina mulai merasakan pening di kepala beberapa saat. Ada rasa nyeri terhadap miliknya tersebut, memang sudah pernah dilakukan tetapi tidak tahu kali ini mengapa Tiina merasa kesakitan seperti ini. Perlahan-lahan, air mata Tiina tumpah sedikit demi-sedikit.
Berwald menyadari bahwa kekasihnya itu kesakitan tetapi pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap diam sekaligus membiarkan Tiina terbiasa dengan miliknya bersamaan dengan titik kenikmatan yang lebih dulu dirasakan oleh Berwald.
"Ber, apa rasanya memang seperti ini? Sakit tak tertahankan-," Tiina bertanya pelan dan terus menahan rasa sakitnya.
Berwald menggangguk pelan dan mencium dahi Tiina dengan lembut. "Ya," jawabnya. "Kau akan merasa sakit jika sama sekali tidak terbiasa."
"Apakah aku memuaskanmu?" Tiina bertanya dengan nada hati-hati dan sudah mulai terjadi adanya pencapaian titik kenikmatan. Tiina mendesah pelan, nyaris tidak terdengar karena sebenarnya Tiina sendiri sudah nyaris pingsan, matanya berkunang-kunang.
"Ya, oleh karena itu aku akan membuatmu puas, istriku," Berwald berkata sambil membaringkan Tiina kembali. "Bagaimana denganmu?"
"Sudah-tuntas-," kata Tiina dengan nada terbata-bata dan menyadari bahwa tadi kekasihnya menyebutnya sebagai 'istri', entah itu akan benar-benar menjadi kenyataan atau hanya rayuan semata. Tetapi di saat yang bersamaan, kesadarannya semakin hilang. "Tampaknya- aku-akan-"
Tiina tidak sempat melanjutkan perkataannya lagi karena kini dia sudah jatuh pingsan di tempat tidur dengan wajah lelah sekaligus damai. Seolah-olah beban yang ada di dalam dirinya sudah meluap jauh entah kemana. Sebagai akhir dari permainan mereka, Berwald menatap wajah Tiina yang pingsan tersebut dengan penuh kebahagiaan dan kelembutan. Bersyukur bahwa Tuhan mengirimkan Tiina untuknya. Berjuta-juta kata tidak mampu diucapkannya, betapa bahagianya Berwald memiliki Tiina, jauh bila dibandingkan ketika dia bersama Halldora.
"Selamat tidur dan mimpi indah, sayangku," Berwald berbisik di telinga Tiina perlahan-lahan agar tidak membangunkan gadis itu.
.
.
"Pagi," bisik Berwald di telinga Tiina. Tiina awalnya tidak bergeming sama sekali tetapi setelah Berwald mencium bibir Tiina sekaligus memasuki bibirnya, Tiina terbangun dan mendapati Berwald berada di sampingnya.
"Pa-pagi-," kata Tiina gugup sambil menatap dirinya yang sudah mengenakan gaun tidur dan begitu juga dengan Berwald yang sudah mengenakan piyama. Wajahnya memerah mengingat percintaan mereka kemarin yang membuatnya salah tingkah. "Hari yang cerah bukan?"
Berwald tidak menjawab pertanyaan Tiina dan memeluk Tiina dengan lembut lalu berkata," Tidurlah lagi, kau masih sakit bukan?"
"Eh? Bukankah sudah siang?" tanya Tiina cemas tanpa memperhatikan sekelilingnya. Berwald hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Tiina sehingga Tiina merasa gemas terhadap Berwald. "Mengapa tersenyum seperti itu? Kau yang membangunkanku tetapi kau yang menyuruhku tidur lagi."
"Ini baru pukul setengah lima pagi," ujar Berwald sambil membelai rambut Tiina perlahan. "Istirahatlah dahulu dan aku cuma iseng ketika membangunkanmu. Hanya untuk memastikan apakah kau masih hidup."
"Huh, dasar. Terkadang kau memang sulit dimengerti," kata Tiina sambil tersenyum lembut. "Tapi apa benar semalam kau menyebutku dengan kata 'istriku"?"
"Ya, dan aku berharap itu adalah kenyataan," kata Berwald sambil menatap mata ungu milik Tiina dengan penuh damba.
"Aku juga sama," jawab Tiina pelan dan perlahan-lahan matanya terpejam kembali. Hari itu merupakan malam terindah bagi Tiina dan di alam bawah sadarnya, Berwald berada di mimpinya.
.
.
.
"Ber, kalau kau sedang tidak pakai kacamata. Kau tampak menarik, " Tiina bergumam sambil memandangi Berwald yang saat itu tidak memakai kacamata. "Mengapa tidak pakai soft lens saja?"
"Aku tidak suka soft lens," Berwald menjawab pelan. "Ribet."
"Tapi terlihat lebih muda kalau seperti ini," Tiina melanjutkan perkataannya. "Ah lupakan saja, bagaimana kabar Halldora?"
Mendengar pertanyaan Tiina yang terakhir, Berwald langsung mengeluarkan death glare-nya dan sukses membuat Tiina bersembunyi di belakang sofa. "Penasaran?"
"Ah-maksudku," Tiina tergagap. "Maksudku adalah aku sudah berbaikan dengan Mrs. Kohler dan kami menjadi teman baik-"
"Lalu?" tanya Berwald penasaran. "Apa hubungannya denganku-"
"Tidak apa-apa," jawab Tiina sambil menghela nafas lega. "Dan bagaimana dengan Dr. Kohler?"
"Dia tetap gila seperti biasa," gumam Berwald dengan nada menggerutu. "Sayang kamu sudah lulus jadi tidak bisa melihat kegilaannya terhadap mahasiswa baru."
Tiina tertawa sambil memeluk Berwald dari belakang. "Yah tapi keuntungannya adalah aku bisa bebas bertemu denganmu tanpa harus sembunyi-sembunyi."
"Dan kau sudah memberitahukan hubungan kita kepada teman-temanmu?"
"Beberapa. Tidak semuanya. Karena suatu hubungan tidak perlu disebar-sebarkan bukan? Hanya untuk beberapa teman saya, biarkan saja mereka tahu sendiri," ujar Tiina sambil tertawa. "Bukannya aku malu padamu."
"Teserah padamu saja. Kau sudah pernah bertemu dengan orangtuaku dan bagaimana kalau aku juga bertemu dengan ibumu?" Berwald bertanya pelan.
Jantung Tiina berdegup kencang. Mau tak mau Tiina menyadari bahwa suatu saat Berwald akan memintanya mengenalkan ibunya kepadanya. Ibunya dan Berwald memang nyaris seumur, bukan karena cemburu melainkan karena tidak yakin ibunya akan menerima pilihannya dan Tiina tidak berani berkomunikasi pada ibunya. Dan juga karena Tiina memutuskan untuk putus hubungan dengan ibunya walau tidak diutarakan secara langsung.
"Kenapa? Ada masalah dengan itu?" tanya Berwald khawatir melihat Tiina yang terlihat tegang.
Tiina menggeleng-geleng kepalanya seraya menguatkan wajahnya agar tidak terlihat tegang. "Ibuku itu seorang wanita karir, jadi tiga bulan saja bisa tidak pulang ke rumah."
"Baiklah kalau itu aku tidak akan memaksa. Bagaimana sifat ibumu kalau aku boleh tahu?"
"Galak!" sahut Tiina. "Sejak kecil aku dilarang dekat dengan pria sekalipun hanya berteman saja. Kalau itu terjadi ibu akan memarahiku habis-habisan."
"Loh? Begitu?" kata Berwald terkejut. "Asal bisa menjaga diri sepertimu tidak apa-apa bukan."
"Ibuku pernah marah ketika Alfred, Arthur datang ke rumah mengantar modul ketika awal semester. Padahal tidak ngapa-ngapain," Tiina berkata dengan nada berapi-api. "Lucu kan?"
Berwald tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar perkataan Tiina. "Ada-ada saja."
"Aku tidak mengerti?"
"Itu artinya dia begitu menyayangimu bukan?"
"Hah?"
"Karena kamu anak tunggal kan?"
Tiina mengangguk lemah. Mungkin ada benarnya bahwa ibunya sebenarnya menyayanginya tetapi rasa bencinya terhadap ibunya sama sekali tidak bisa dibendung akibat sesuatu yang dilakukan oleh ibunya. Ingin rasanya Tiina berkata yang sebenarnya kepada Berwald teapi niat itu selalu diurungkan karena bila Berwald tahu, ada kemungkinan Berwald akan meninggalkannya.
"Hei," Berwald menepuk wajah Tiina. "Ada kata-kataku yang salah?"
"Tidak," jawab Tiina pelan. "Hanya teringat dengan ibuku sedikit."
"Tenang saja, kalau ibumu ada waktu kosong kau bisa mengenalkan ibumu kepadaku."
"Iya," Tiina menjawab pelan dan tersenyum lembut. Walau Tiina merasa cemas di hatinya. Apakah ibunya akan menginjinkan hubungannya dengan Berwald atau menolak habis-habisan.
.
.
.
"Mama," panggil Tiina kepada ibunya yang sedang asyik menonton televisi. Mrs. Vainamoinen tidak menyahut sedikit, masih terfokus dengan televisinya.
Tiina mencoba memanggil Mrs. Vainamoinen sekali lagi, tetapi tetap saja ibunya tidak peduli sampai akhirnya Tiina merebut remote televisi yang dipegang Mrs. Vainamoinen.
"Kau-," geram Mrs. Vainamoinen. "Kapan kau pulang?"
"Sudah sejak tadi," jawab Tiina kesal. "Aku juga sejak tadi sudah memanggilmu."
"Aku tidak dengar," bantah Mrs. Vainamoninen kesal. "Bahkan aku tidak tahu bahwa kamu sudah pulang."
Tiina menghela nafas. "Yah, pada dasarnya ibu juga tidak peduli padaku kan."
"Jaga mulutmu, anak bodoh!" bentaknya. "Kau pikir demi siapa aku harus bekerja keras. Kau itu mirip dengan ayahmu. Menyebalkan!"
Tiina memutuskan untuk diam saja mendengar perkataan ibunya. Lagipula kalau membantah seperti waktu itu, akan terjadi sesuatu yang buruk seperti kejadian beberapa bulan yang lalu atau masa kecil yang kelam akan terulang kembali. "Aku ingin mengatakan sesuatu, yang penting."
"Soal apa?" tanya Mrs. Vainamoinen kesal. "Aku sedang tidak ada banyak waktu."
"Aku sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Sudah sekitar dua tahun lebih," Tiina akhirnya berkata.
"Lalu?"
"Kekasihku ingin bertemu dengan ibu dan aku juga sudah bertemu dengan orang tua kekasihku. Maukah ibu meluangkan waktu untuk bertemu dengan kekasihku?"
"Aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal-hal remeh seperti itu. Itu urusanmu, bukan urusanku," Mrs. Vainamoinen berkata dengan nada dingin. "Kau sudah dewasa, jangan bergantung padaku karena aku tidak pernah mengganggapmu sebagai seorang anak."
"Teserah padamu saja, aku sudah terbiasa," Tiina berkata dengan penuh ketegaran. Dalam hati Tiina, pupuslah sudah harapannya untuk memperbaiki hubungannya dengan ibunya.
Maafkan aku, Ber. Mungkin kamu harus menunggu lama untuk bertemu dengan sama sekali tidak ingin bertemu denganmu.
-o00o-
Tiina merasakan ada kekecewaan di hatinya dan rasa sakit di hatinya membuncah. Biasanya Tiina menganggap perkataan ibunya tersebut adalah omong kosong belaka tetapi ibunya tadi mengatakan sesuatu yang menancap hatinya. Yang merupakan sesuatu yang sering diucapkan ibunya ketika Tiina masih anak-anak. Perkataan yang seharusnya tidak boleh diucapkan lagi. Yang menyebabkan Tiina menjadi sosok yang kurang percaya diri semasa sekolah walau Tiina memiliki banyak teman yang menyemangatinya.
Kau seharusnya tidak usah dilahirkan saja.
Setelah pertengkaran sengit dengan ibunya tersebut, Tiina buru-buru ke kamarnya dan merenungkan apa yang terjadi barusan dan juga apa yang dikatakan ibunya. Dia memang jarang berbicara apapun kepada ibunya sejak dulu karena Tiina tidak mau memancing keributan apapun dengan ibunya. Dan sekarang, Tiina nyaris saja memancing keributan yang lebih parah dan bisa saja kejadian di masa kecil terulang kembali.
"Ibu memang tidak peduli padaku," gumam Tiina dengan nada sedih. "Kurasa dia memang benar-benar ingin membunuhku ketika aku kecil."
Setelah Tiina bergumam seperti itu, lalu dia membaringkan diri di tempat tidurnya perlahan-lahan sambil memasang musik dari ponselnya untuk menenangkan pikirannya. Tetapi pikirannya juga tidak bisa tenang sepenuhnya karena Tiina merasa bingung bagaimana bisa menghadapi ibunya dengan baik-baik tanpa ada pihak yang saling menekan satu sama lain.
Seandainya ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semuanya. Tiina sudah lelah menghadapi ini semua, baik waktu, tenaga maupun pikiran. Tiina tidak mau bila pada akhirnya bernasib sama dengan ibunya, hidup dalam kebencian.
TUT..TUT..
Musik dalam ponsel Tiina terhenti sejenak dan Tiina melihat ada pesan masuk. Buru-buru Tiina mematikan musiknya dan mencabut headsetnya. "Loh, dari siapa ya malam-malam begini?" Tiina bertanya dengan penasaran sambil membuka pesan masuknya.
From: Ber
Number: XXXX
Message: Besok temui aku di taman yang biasa kita sering bertemu. Jangan sampai telat. Penting. Jangan lupa pakai baju yang bagus.
Tiina tergelak membaca pesan masuk dari Berwald. Seperti mengancam orang saja, pikir Tiina geli. Kekasihnya itu tampaknya sulit untuk membuat kata-kata yang lebih indah dan Tiina terkadang merasa kesal sekaligus geli karenanya. Dengan cepat Tiina langsung membalas pesan masuknya.
To: Ber
Number :XXXX
Message: Memangnya ada apa #pasang tampang imut.# . Memangnya benar-benar pentingkah? Kau sedang apa sekarang malam ini. Aku rindu kepadamu walau baru beberapa jam saja tidak bertemu.
Tiina membaca ulang lagi pesan yang akan dikirimkan kepada Berwald sambil tersenyum dan dengan cepat mengirimkan pesan masuk tersebut. Tak berapa lama Tiina tertidur dengan lelap sambil memegang ponselnya dengan wajah tersenyum seakan-akan lupa akan kejadian yang menyebalkan yang terjadi padanya.
.
.
.
Pagi-pagi buta Tiina terbangun, entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya terbangun. Diliriknya ponsel miliknya yang masih menyala. Ada dua pesan masuk yang belum dibuka. Tiina baru sadar bahwa semalam Berwald membalas pesannya, dua kali malah. Buru-buru Tiina membuka pesan masuknya, siapa tahu ada hal penting yang ingin dikatakannya hingga ada dua pesan masuk yang dikirimkan kepadanya.
From: Ber
Number: XXXX
Message: Kau itu lucu sekali #tertawa kecil#
Aku sedang beristirahat sambil membaca buku-buku interior. Ya itu merupakan sesuatu yang sangat penting jadi kau harus datang. Kalau tidak aku akan menghantuimu seumur hidup. Bercanda.
Aku juga rindu padamu, min kärlek.
Mata Tiina yang tadi setengah tertidur perlahan-lahan terbuka setelah membaca pesan masuk yang pertama. Kamu memang tidak jago bercanda tapi kau memang selalu membuatku tergelak akan semua usahamu untuk menyenangkanku, gumam Tiina di dalam hatinya. Setelah itu, Tiina membuka pesannya yang kedua.
From: Ber
Number: XXXX
Message: Mengapa tidak membalas pesanku? Kau takut ya? Ah, aku tahu! Mungkin kau sudah tidur barangkali. Ya sudah, selamat tidur, min kärlek. Selamat mimpi indah.
"Huh, Ber ini!" sungut Tiina dengan wajah memerah. "Tahu saja dia kalau aku sudah tidur."
To: Ber
Number: XXX
Message: Aku mau kok dihantui olehmu seumur hidup. Makin aku mengenalmu aku malah sadar kau tidak sekaku yang kubayangkan. Ya aku sudah tidur sejak semalam. Maaf ya aku tak tahan tidur malam-malam. Aku baru saja terbangun di pagi-pagi buta. Aku mau tidur lagi.
Salam sayang, kekasihmu.
.
.
.
Siang hari, Tiina datang ke tempat yang ditentukan oleh Berwald. Hari itu, Tiina mengenakan baju terusan berwarna pink cerah. Entah mengapa Tiina merasakan ada firasat bahwa Berwald akan melamarnya.
"Ah, tidak mungkin," Tiina memukul-mukul kepalanya sendiri. "Khayalanku terlalu berlebihan."
"Apa yang kau pikirkan?" tanya seseorang sambil menepuk bahu Tiina dari belakang. Tiina menoleh dan mendapati sesosok pria berwajah seram dengan rambut yang sedikit berantakan tetapi sangat tampan . Pria itu memakai jas bewarna putih sambil membawakan satu buket bunga lily yang sangat indah. Sosok itu begitu familiar karena pria tersebut memiliki mata bewarna biru kehijau-hijauan dan mirip dengan kekasihnya, tetapi anehnya Tiina tidak mengenali siapa orang tersebut. Yang dilakukan Tiina adalah menjerit keras-keras sehingga membuat orang lain ketakutan.
"Kau siapa?" tanya Tiina ngeri sambil bersembunyi di balik pohon yang berada di taman tersebut.
Pria itu bergumam kesal," Kau kejam sekali dengan kekasihmu!"
Tiina keluar dari persembunyiannya dan perlahan-lahan mendekati pria tersebut sambil menatap pria tersebut dari atas ke bawah. Mendadak Tiina merasa malu sendiri karena di hadapannya adalah Berwald yang berbeda dari biasanya.
"K-kau Berwald kan?" Tiina bertanya untuk memastikan.
Berwald bergumam kesal. "Sudah berusaha menarik perhatianmu eh malah diteriaki."
"Maaf," kata Tiina, merasa bersalah sekaligus kagum karena bila dipikirkan, Berwald terlihat sangat tampan dengan penampilan tersebut . "Dan mengapa kamu berdandan seperti itu? Rasanya bukan sifatmu."
Berwald meraih tangan Tiina dan mencium tangan Tiina dengan lembut. "Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Ini benar-benar penting."
Tiina salah tingkah, Berwald memang benar-benar bersikap aneh hari ini. "Kau tidak sedang mabuk atau salah minum obat kan?"
"Tidak," jawab Berwald datar.
"Tapi apa? Dan kau berbeda dari biasanya. Kau kan dingin dan jarang berdandan seperti ini."
Berwald mengulurkan satu buket bunga lily putih yang dibawanya sejak tadi sambil berlutut ke arah Tiina. "Kommer du gifta dig med mig?"
Dugaan Tiina benar, Berwald sedang mencoba melamarnya. Tiina sudah menunggu hari itu sejak lama dan sekarang sudah menjadi kenyataan. Wajah Tiina sekarang penuh luapan bahagia yang mendalam dan meraih satu buket bunga lily tersebut dengan perlahan-lahan sebagai tanda Tiina menerima lamarannya.
"Terima kasih, tapi-" Tiina bertanya dengan ragu-ragu. "Apa kau serius dengan perkataanmu?"
"Amat sangat," Berwald menjawab sambil berdiri.
"Kau yakin?"
"Seratus persen aku yakin."
Tiina memeluk Berwald dengan erat dan menatap mata Berwald dengan tatapan intens. "Kalau begitu aku mau jadi istrimu. Ini hari terindah yang pernah kurasakan seumur hidupku."
"Benarkah?" kali ini Berwald yang ganti bertanya.
"Ya," jawab Tiina mantap. "Tanggal berapa kita mau melangsungkan pernikahan?"
"Teserah padamu saja."
"Kau masih saja dingin," sungut Tiina. "Tapi itu yang kusuka darimu."
"Hari ulang tahunmu saja, tanggal 6 Desember. Sekaligus hadiah ulang tahunmu yang bisa kuberikan padamu."
"Eh-kau serius? Tidak apa-apa?" tanya Tiina tidak percaya. "Apa kau benar-benar mau?"
"Untuk istriku, apa yang tidak."
Tiina mencubit pipi Berwald. "Sejak kapan kau pintar merayu!"
"Sejak aku bertemu denganmu," Berwald menjawab dengan ekspresi datar.
"Oh kau," gumam Tiina sambil tertawa. "Kau terlihat tampan dengan penampilan seperti ini tapi aku lebih suka penampilanmu yang sebelumnya."
Berwald tersenyum, tampaknya rencana untuk menjadikan Tiina istrinya berjalan sukses. "Bagaimana kalau kita pergi ke restoran mahal? Sayang sudah berdandan secantik ini tidak pergi ke sana."
"Kau mulai lagi," ujar Tiina sambil menggandeng tangan Berwald dengan erat.
.
.
.
Sebulan sebelum pernikahan mereka, mereka sudah bersiap-siap dalam mempersiapkan semuanya. Tanggal sudah ditentukan sejak awal. Tinggal yang harus dipersiapkan adalah gedung yang akan digunakan sebagai tempat resepsi, properti, dan segala macamnya.
"Kau sudah tidak sabar?" tanya Berwald sambil memeluk Tiina dengan erat.
"Sedikit," Tiina bergumam. "Masih lama."
"Bersabarlah sekitar dua minggu lagi."
"Iya, aku akan bersabar."
Berwald mengelus kepala Tiina dengan lembut. "Anak baik."
"Aku bukan anak kecil lagi!" ujar Tiina kesal karena terkadang Berwald menganggap Tiina anak kecil.
"Apa ibumu tahu akan pernikahan kita nanti?" Berwald bertanya.
Tiina menjawab dengan gugup. "Aku tidak tahu, dia selalu sibuk."
"Usahakan agar ibumu bisa datang," kata Berwald.
Tiina tersadar bahwa dia lupa memberitahukan rencana pernikahannya dengan Berwald pada ibunya. Entah kapan lagi Tiina harus benar-benar membicarakannya pada ibunya. Tiina berjanji di dalam hatinya bila ibunya sudah pulang, Tiina akan langsung membicarakannya pada ibunya. Suka atau tidak suka.
.
.
Seminggu menjelang pernikahan mereka, Mrs. Vainamoinen baru saja pulang dari dinas dan Tiina mendapati bahwa ibunya sedang mencuci piringnya. Tiina mendekati ibunya perlahan-lahan.
"Mama, aku mau membicarakan sesuatu," Tiina akhirnya berkata. Mrs. Vainamoinen mengacuhkannya.
Tiina mencoba sekali lagi untuk berkata sesuatu pada ibunya. "Mama, aku mau membicarakan sesuatu?"
Mrs. Vainamoinen menjawab tanpa sedikitpun menghadap ke arah Tiina. "Katakan saja."
"Aku akan melangsungkan pernikahan tanggal 6 besok dengan Berwald Oxenstierna, kekasihku dua setengah tahun terakhir ini. Apakah ibu mengijinkanku?" tanya Tiina pelan.
"Teserah kau saja," ujar Mrs. Vainamoinen cuek.
"Dan maukah ibu bertemu dengan kekasihku?" Tiina bertanya penuh harap.
"Nanti saja ketika di hari pernikahan kalian," Mrs. Vainamoinen menjawab tidak sabar. "Pergi dan jangan ganggu ibu!"
Tiina berbalik dan meninggalkan ibunya agar Tiina tidak merasa stress. Tidak ada waktu untuk sedih hanya karena masalah ibunya, yang Tiina pikirkan adalah bagaimana dia bisa menjadi istri yang baik untuk Berwald dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Lalu Tiina membayangkan anak-anak mereka di masa depan nanti.
Mendadak wajah Tiina memerah, baru saja dia membayangkan sesosok anak perempuan berambut pirang albino yang memiliki warna mata biru kehijau-hijauan dan juga memiliki wajah yang kaku, seperti calon suaminya. Tanpa sadar Tiina mengelus bagian perutnya.
Ya Tuhan! Apa yang kupikirkan sih?
Tiina terkejut dan menyadari satu hal, bisa jadi dirinya sedang mengandung atau hanya sekedar kekenyangan semata. Tiina berpikir seperti itu sampai pada akhirnya, Tiina berlari ke toilet untuk memuntahkan sesuatu, perutnya terasa mual sekali.
"Kok aku mual-mual terus-," gumam Tiina sambil memuntahkan sesuatu di wastafel. "Rasanya tidak mungkin kalau aku sedang ha-"
Kata-katanya terhenti sejenak. Tiina menyadari sesuatu, bahwa dia benar-benar sedang mengandung. Anak Berwald ada di perutnya.
.
.
.
Tiina mengaduk-aduk satu gelas es krim sundae dengan tatapan mual. Biasanya Tiina menyukai segala sesuatu yang berbau manis-manis dan langsung dimakannya dalam hitungan detik. Tetapi sejak Tiina mual-mual dua hari lalu, ingin rasanya Tiina sedikit menjauh dari makanan manis. Memakan makanan semacam itu sedikit saja sudah membuatnya mual-mual . Tidak ada yang tahu pasti mengapa.
"Aku tidak mau makan ini," keluh Tiina. "Tidak enak."
Berwald memperhatikan bahwa Tiina tampak seperti orang gelisah karena Tiina tidak memakannya sama sekali dan itu merupakan hal yang langka bagi Berwald. Bila tadi Berwald tidak memergokinya diam-diam bahwa dia berlari ke wastafel untuk memuntahkan sesuatu, mungkin Berwald akan menduga bahwa Tiina sedang terkena PMS atau masuk angin biasa.
"Hej! Mengapa tidak dimakan es krimnya? Nanti meleleh!" kata Berwald kesal.
Tiina tersadar dan menatap Berwald dengan wajah memerah. "Itu karena-"
"Tingkahmu aneh sekali," gumamnya kesal. "Aneh sekali kamu tidak mau makan es krim yang kubelikan untukmu."
"Er-bolehkah aku meminta makanan lain saja?" Tiina mencoba untuk menawar.
"Hah?" Berwald terkejut mendengar perkataan kekasihnya tersebut. "Ada yang aneh denganmu."
"Aku serius," tuntut Tiina kesal.
"Baiklah," Berwald menyerah. "Jadi kamu mau apa?"
"Makanan yang asam, aku sama sekali tidak berselera," gumam Tiina. "Makanan manis membuatku mual."
"Tumben kamu sadar," Berwald berkata dan segera mengambilkan salah satu makanan asam yang ada di kulkas. "Pipimu semakin bulat karena makan makanan manis terus kan."
"HEI! Aku tidak bercanda!" Tiina menggerutu. "Sekali-kali kan tidak apa-apa. Memangnya aneh?"
"Iya," jawab Berwald dengan nada curiga. "Biar kutebak sesuatu."
"Ya. Mau menebak apa?" tanya Tiina menantang.
"Sudah berapa bulan?" tanya Berwald tanpa tedeng aling-aling.
Jantung Tiina berpacu dengan cepat dan Tiina balik bertanya pada Berwald dengan nada gugup yang amat sangat. Darimana Berwald tahu soal 'itu'. "Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?"
"Kau sedang mengandung bukan?" Berwald bertanya dengan wajah sedikit memerah, antara malu sekaligus senang. "Aku benar kan?"
Tiina tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun tetapi tidak juga membantah. Yang dilakukan Tiina hanyalah mengangguk pelan dan menyembunyikan wajahnya. Rupanya sikap Tiina yang seperti ini cukup membuat Berwald kesal karenanya.
"Mengapa disembunyikan?" kata Berwald gusar sambil mencoba melepaskan tangan Tiina dari wajah Tiina. "Aku tidak marah padamu."
"Sungguh? Kamu tidak marah?" ujar Tiina, melepaskan tangannya dari wajahnya dengan nada malu-malu. "Kukira kau-"
"Bila aku tidak ingin punya anak, begitu?" ujar Berwald kesal.
"Bukan begitu," Tiina bergumam pelan. "Aku tidak yakin akan hal ini. Apakah ini membuatmu kesal?"
"Tidak, aku senang," jawab Berwald dengan penuh cinta dan Berwald mendekati Tiina perlahan-lahan lalu mengelus perut Tiina masih terlihat rata. "Kira-kira dia laki-laki atau perempuan?"
"Apa saja boleh, yang penting anak kita lahir dengan selamat," kata Tiina lembut, rasa keibuannya keluar. "Mungkin ini hadiah ulang tahunku yang diberikan oleh Tuhan dua hari, lebih awal."
"Mungkin," sambung Berwald menyetujui. "Walaupun yang kita lakukan waktu itu sebenarnya tidak boleh."
"Iya, hehe," Tiina tertawa sambil menggelayut lengan Berwald. "Tapi aku senang."
Berwald menarik nafas panjang melihat sikap Tiina yang terkadang manja. Mungkin memang dia yang terbaik untukku karena aku mencintainya sepenuh hati, pikir Berwald.
"Ngomong-ngomong darimana kamu tahu kalau aku sedang mengandung?" tanya Tiina tiba-tiba. Dengan cepat Berwald melepaskan diri dari Tiina dan memberikan tatapan mematikannya pada Tiina tetapi Tiina hanya tersenyum-senyum saja dan berkata dengan nada sedikit mengejek. "Aku sudah terbiasa dengan tatapan menakutkanmu, jadi percuma saja menakutiku."
"Teserah kau saja, yang jelas aku tak akan mau memberitahukanmu darimana aku bisa tahu. Rahasia," Berwald berkata. Tetapi Tiina tidak mau menyerah dan berusaha untuk merajuk dengan tatapan bagaikan anak yang tidak berdosa , "Ayo katakan, atau anak kita akan sedih."
"Baiklah," Berwald akhirnya menyerah. "Akan kujelaskan asal jangan tertawa ataupun marah."
.
.
.
Sehari sebelum pernikahan mereka, kegugupan Tiina semakin menjadi-jadi. Tiina tahu bahwa dirinya sudah bukan anak kecil lagi, tetapi tetap saja Tiina merasa gugup. Bukan hanya itu saja, mendadak Tiina menjadi sosok pemalu di hadapan Berwald.
"Tidak usah gugup seperti anak-anak," kata Berwald di depan pintu gerbang rumah Tiina. "Tidak akan apa-apa."
"Tapi, aku senang. Besok hari bahagia kita, aku tidak sabar menunggu besok. Hari ulang tahunku dan juga hari pernikahan kita," ujar Tiina dengan wajah tertunduk karena malu.
Berwald tidak mengatakan apa-apa lagi pada Tiina dan menurunkan badannya yang tinggi tersebut agar bisa sejajar dengan Tiina. Dengan hati-hati Berwald mengangkat dagu Tiina dan menciumnya dengan lembut. "Aku juga."
Mereka cukup lama berciuman di sana. Sampai pada akhirnya seseorang memanggil mereka dan mereka buru-buru menghentikan kegiatan mereka dengan wajah memerah.
"Jangan bermesraan di sini, nanti dilihat tetangga dan ini sudah malam," ujar penjaga kompleks yang kebetulan lewat sambil tertawa.
Berwald melirik jam tangannya sambil menyentil dahi Tiina dengan keras. "Sudah pukul delapan malam. Sebaiknya kau tidur."
"Sakit tahu!" erang Tiina sambil mengusap-usap dahinya. "Baiklah, aku tidur."
"Aku menunggumu besok," kata Berwald cepat dan mencium Tiina sekali lagi. "Sampai jumpa."
Tiina memandangi punggung Berwald yang semakin menjauh. Beberapa lama kemudian, sebuah suara memanggilnya dengan keras.
"Kau tidak tidur, huh?" tanya Mrs. Vainamoinen ketus. "Dan dari tadi kamu berduaan terus dengan seorang pria yang lebih pantas menjadi suamiku daripada menjadi suamimu."
Wajah Tiina memucat, Tiina merasa kesal sekarang. Ibunya selalu saja merenggut kebahagiaannya dan kali ini sepertinya ingin merusak hubungannya dengan Berwald, walau hanya pikiran semata tetapi Tiina yakin ibunya pasti melakukannya. "Memangnya kenapa? Cinta kan tidak ada batasan umur bukan."
"Huh," Mrs. Vainamoinen mendengus. "Seleramu dalam memilih pria sangat buruk. Tidak adakah pria muda lainnya yang mau denganmu. Aku yakin tidak ada."
"DIAM!" bentak Tiina sambil berlari ke kamarnya. Tega-teganya ibu merusak hari bahagia yang besok aku jalani. Menyebalkan, aku benci ibu sampai mati. Aku tidak mau menjadi ibu yang jahat seperti dia.
.
.
.
Tiina tampak cantik sekali dalam balutan gaun pengantin yang sederhana tetapi terlihat mewah. Tetapi sayangnya Tiina masih sedikit gugup sehingga teman-temannya harus mengarahkannya.
"Aku gugup sekali," ujar Tiina dengan nada gemetar di ruang tunggu pengantin. "Aku tidak pernah menyangka kalau hari ini akan tiba."
"Tenanglah sedikit," Sey menghibur sambil menepuk pundak sahabatnya ketika di SMA dulu. "Semuanya akan baik-baik saja."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian," Elizaveta berujar sambil mendorong Tiina ke ruangan, tempat upacara pernikahan berlangsung. "Calon suamimu sudah menunggumu."
"Eh-"
Elizaveta menghela nafas. "Tanggapanmu kok begitu?"
"Aku gugup setengah mati," Tiina bergumam. "Aku belum pernah segugup ini."
"Jangan lupa bunganya," ujar Sey. "Ayo cepat atau calon suamimu malah membatalkan pernikahanmu."
"Tidak mau-"
.
.
.
"Bersediakah kamu menerima Tiina Vainamoinen sebagai istrimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan sehat maupun sakit?" sang pastur berkata.
"Ya, aku bersedia," Berwald menjawab dengan mantap sambil memandang Tiina dengan tatapan cinta. Tiina hanya tersenyum dengan penuh kelembutan.
"Bersediakah kamu menerima Berwald Oxenstierna sebagai suamimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan sehat maupun sakit?"
"Ya, saya bersedia. Sampai kapanpun," kata Tiina sambil menggengam tangan suaminya dengan erat.
"Silahkan mencium pasangan kalian."
Berwald menatap wajah Tiina dengan lembut dan menciumnya perlahan. "Jag alskar dig, min karlek. Kau cantik sekali hari ini. Aku beruntung mendapatkanmu"
Tiina membalas ciuman suaminya dengan lembut. "Aku juga sama, perasaanku tidak akan berubah."
Tepukan tangan dari para undangan membahana. Lalu Berwald menggendong Tiina ke arah pintu keluar sambil melambai-lambaikan tangan ke arah para undangan yang hadir. Tiina tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupnya. Mengapa harus tidak bahagia jika dia memiliki suami yang baik dan juga calon anak yang bisa dia besarkan bersama-sama.
"Kau bahagia?" bisik Berwald di telinga Tiina.
Tiina memeluk suaminya di dalam gendongannya sambil mendekatkan hidungnya dengan hidung Berwald perlahan. "Amat sangat, aku pasti hidup bahagia jika bersamamu selamanya. Karena aku tahu kau tercipta untukku."
FIN
