Sky Song
Disclaimer: Boboiboy © Monsta. Lagu nya adalah 'Sora no Uta'nya SPLAY. It's beautiful :')
Warning: Biasalah, typo, bahasa indo yang kaku dan angst yang cheesy :^D
A/N: Maaf ya karena versi Bahasa Indonesia-nya lama baru keluar. Writerblock-nya parah, padahal dah tinggal nerjemahin doang, entah kenapa :/ Anyway, 'enjoy' the story~
Dia seharusnya tidak boleh ke tempat ini. Benar-benar tidak boleh.
Tapi
Di atap rumah tua berhantu, duduk tak jauh darinya, memeluk gitar kecil yang disukainya. Pemuda itu memainkan beberapa lagu, bernyanyi dengan ekspresi aneh yang dianggap sebagai 'mengkhayati lagu dengan sepenuh jiwa'. Tapi, sungguh, Boboiboy menganggap itu hanyalah ekspresi aneh. Ekspresi yang jujur di balik sifat macho-nya.
Boboiboy merindukan ini.
"In this world without you, even now
the empty days keep passing
making an ordinary expression
Today as well, to preserve any warmness left,
I'll go to that place where the sky is near enough to look at
To that place you love
Not inside a rectangular photograph
nor inside a deceitful mirror
I want to see your real smile
So today too, I'll sing as I look at the sky
— Huwah! Sedang apa kau di situ?!" Fang tersentak, bola mata melebar oleh rasa terkejut dan panik saat akhirnya dia menyadari Boboiboy ada di sana, menontonnya. "Yang lebih penting, sejak kapan kau ada di situ?!"
Boboiboy menutup mata dan mengusap wajahnya sendiri, hati berdesir. Ia tidak bisa menghentikan senyum yang mengembang di mulutnya saat nostalgia menghantamnya seperti ombak yang ganas, hampir menenggelamnya. "Suaramu jelek, seperti biasa." Desis Boboiboy pelan, lalu tertawa. Konyol.
"D-Diam kau!" Saat Boboiboy kembali membuka matanya, Fang terlihat kesal meski dengan wajah merah hingga hingga kulitnya seperti terbakar. Ekspresi jujur lainnya, ingat Boboiboy. "Oy, mau apa kau?! Jangan malah duduk, sana pergi!" seru Fang saat Boboiboy mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kalo dipikir-pikir, kenapa kau teriak begitu? Malu ya?" canda Boboiboy, tidak memperdulikan ledakan Fang. Fang hanya mendengus kesal, bukannya dia bisa melakukan hal lain sih. Kemudian sunyi mengisi. Boboiboy seharusnya mengatakan sesuatu, tapi dia memilih untuk menikmati ketenangan ini, sekali-sekali.
Boboiboy memperhatikan sekelilingnya. Matahari bersinar, namun terasa hangat tak seperti biasanya. Awan putih melayang pelan, namun tidak membawa hujan. Angin berhembus lembut, menyegarkan udara. Hari yang benar-benar sempurna, Boboiboy tidak mau ini berakhir. Dia ingin berada di sini selamanya, merasa damai dan tenang… sempurna.
Tapi, tentu saja dengan kehidupan seperti miliknya, itu hampir mustahil. Hari seperti ini hanyalah singgahan atau jeda… sebelum kejadian besar terjadi; menangkap penjahat, mencegah invasi makhluk luar angkasa, mengalahkan alien pendendam, menantang maut di depan mata dan lolos darinya (hampir). Bukannya Boboiboy tidak menikmatinya. Dia suka menolong orang lain, menyelamatkan dunia dan melindungi teman-temannya. Selalu ada kepuasan saat mendengar kata 'terima kasih' dan melihat senyum mereka.
Meskipun begitu, dia tidaklah abadi. Dia bukan pembuat keajaiban. Di satu titik, dia akan gagal. Dia akan merasakan pahitnya kekalahan.
Bulu kuduknya merinding saat memikirkan hal itu. Tak pernah terbesit dalam pikirannya, pada awalnya, hal seperti itu akan terjadi. Tapi kemudian Boboiboy menatap Fang dan hatinya bergetar. Ternyata Fang sedang memperhatikannya sejak tadi dengan ekspresi datar.
"Lagu itu untuk teman-temanku yang sudah tiada." Ucap Fang tanpa ditanya. Atau tidak.
"Aku tau." Desis Boboiboy lemah. Dia menarik dan mendekap kedua kakinya ke dadanya. Kepalanya bersandar di atas lututnya, namun pandangan tidak lepas dari sosok Fang yang kembali menoleh ke langit. Tatapan itu berbeda dari yang biasa di kelas; cemberut seperti dia tidak sudi berada di kelas, seperti dia punya hal lain yang lebih penting untuk di kerjakan. Bukan. Kali ini wajahnya lebih lembut dan sayu, seakan sedang menatap jauh melewati langit menuju luar angkasa. Tatapan itu membuatnya terlihat lebih muda, sesuai dengan umurnya.
'Tidak. Dia memang lebih muda,' pikir Boboiboy.
"Kubaca di buku, orang-orang yang meninggal di Bumi akan dikubur dalam tanah. Keluarganya mendirikan nisan di atasnya kemudian mengunjunginya." Jelas Fang perlahan, seperti berusaha mengingat fakta aneh tapi nyata. " Tapi alien berbeda. Uh, paling tidak spesies ku, mungkin." Lanjutnya, dan Boboiboy hanya mendengarkan, tidak bisa melepaskan pandangannya. "Saat kami mati, tubuh kami tidak bisa bertahan. Tak lama, tergantung individu, tubuh kami akan terpecah sampai level inti sel dan tersebar ke luar angkasa. Tidak akan ada fisik yang tersisa."
Dada Boboiboy terasa sesak sekarang. "Kau akan menghilang."
"Yah, kami akan melihat setiap momen saat itu terjadi. Kami tidak akan bisa melihat mereka lagi, dan luar angkasa sangat gelap, luas dan tanpa batas… jadi kami akan mengiringi kepergian mereka." Fang tersenyum kaku, akhirnya mengalihkan pandangannya dari langit dan menatapnya. "H-hei, jangan menatapku begitu! Jangan nangis, aku belum mati tau!"
"Tapi…" Kata-kata tersangkut di tenggorokannya, setiap kali Boboiboy memikirkan hal itu.
"Jangan naif, Boboiboy. Kita beruntung sejauh ini kita hanya cedera ringan. Nanti kita akhirnya akan menghadapinya, kematian akan terjadi." Jelas Fang berapi-api, sebelum menambahkan "..uh, bukannya aku ingin salah satu dari kita mati… Aku hanya berpikir realistis. Kita harus siap" dengan suara pelan.
"Aku tau," bisik Boboiboy. Boboiboy menarik napas tajam, kata-kata 'itu tidak akan terjadi. Kita akan selalu bersama karena aku akan melindungi kalian semua. Aku akan melindungimu' tersangkut di tenggorokannya. Dia tidak bisa. "Aku tau." Ulangnya, untuk meyakinkan diri sendiri.
Fang menghela napas, menggeleng kepala pasrah. Tapi kemudian tersenyum sinis, setelah jeda yang lama, dengan ekspresi meremehkan. "Kamu? Melindungiku? Heh, aku lebih kuat darimu tau."
Boboiboy diam, tidak mempercayai suaranya sendiri.
Fang menatapnya heran, sebelum menghela napas lagi. "Jangan bilang begitu. Itu bukan tugasmu… yah, paling tidak gak sendiri. Kamu bisa mengandalkanku juga, aku ada disini." Kata Fang tulus dengan senyum kecil yang hampir Boboiboy lewatkan, atau dia hanya berimajinasi.
"Bisa nyanyikan sisa dari lagu tadi?" tanya Boboiboy tanpa pikir panjang, sebelum berpikir betapa anehnya dia menanyakan hal itu. Tentu saja Fang akan menyanyikannya diakhir.
Fang mengerjap, sekali, dua kali, kemudian lagi, alis terangkat. "… Katamu suaraku jelek…" gerutunya pelan, tapi tangan mengambil kembali gitar tadi dan berfokus pada itu.
"Oh, jadi aku benar ya?"
"Diam atau aku batal nyanyi!"
"Heh, aku tau kamu akan melakukannya." Kata Boboiboy. Toh Fang tidak akan menjawab lagi. Sang alien muda pasang posisi, memainkan beberapa nada dan melanjutkan lagu Yang tadi terputus.
"In this desolated room, the wind blows
bringing your scent back
Not inside locked up memories
nor inside faded dreams
I feel like I can really touch you
That's why I'll sing as I look at the sky
If I could just react to what happened," Boboiboy ikut bernyanyi, tentu saja Fang tidak merasa terganggu.
"Every time I remembered, there were nothing but tears.
If I could be reborn again, if that came true
once again, I want to meet you."
Boboiboy terdiam, sementara Fang tidak terhenti. Matanya terasa panas. Ingatan terputar dalam kepalanya. Hari-hari itu terasa berat; penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah. Dia memohon untuk kesempatan kedua, kesempatan untuk membuat semua ini kembali seperti sedia kala. Dia ingin memperbaikinya.
Bahkan sampai saat ini…
"Not inside a rectangular photograph
nor inside a deceitful mirror
I want to see your real smile
Stronger than ever, I keep singing as I look at the sky."
Di akhir lagu, perasaan itu kembali meluap ke tenggorokannya, mencekiknya. Tapi Boboiboy tau, percuma saja melawan. Air mata jatuh dan napas tersengal… Boboiboy menyerah.
Meskipun dengan keadaannya sekarang, Boboiboy masih bisa membayang reaksi Fang dalam pikirannya. Fang akan bernapas puas dan meletakkan gitarnya.
"Lagu yang bagus, kan?" Boboiboy bahkan bisa melihat senyum itu dalam ingatannya. "Lagu ini membuatku merasa kuat, membuatku belajar untuk melepas mereka." Jeda, kemudian helaan napas. "Meskipun tidak bisa mengunjungi makam mereka, atau bahkan mengetahui di mana mereka pergi, aku cukup menatap langit. Karena di mana pun kau berada di alam semesta ini, kita dihubungkan oleh langit. Berada di bawah langit yang sama." Fang tersenyum simpul. Senyum itu dipenuhi dengan kesedihan, namun juga terlihat tenang. Boboiboy tidak bisa mengerti makna dari senyum itu.
"Tidak… Lagu ini tidak bisa membantuku, Fang… Aku tidak akan pernah bisa melepasmu... Tidak akan…" desis Boboiboy tercekat. "Maafkan aku, Fang… Maaf…"
"Kau tidak perlu merasa begitu." Fang hanya mengangkat bahu, seperti itu bukan apa-apa. "Sudah ah! Terlalu banyak drama untuk satu hari." Fang mendengus sebelum melompat turun dari atap dengan mudah. Boboiboy mengusap air matanya, namun tidak bergerak seinchi pun. Dia tidak mau. Pemuda itu hanya memandang punggung Fang yang perlahan menjauh sambil asyik berbicara dengan sosok Boboiboy yang lain; sosok dirinya di masa lalu yang masih naif dan bodoh. Juga belum hancur seperti sekarang.
…
Ciciko memasuki ruang komando dengan tablet misi di tangannya untuk mendapati Yaya dan Ying yang sedang sibuk mengoperasikan kapal dan Gopal sedang mengorok di kursi miliknya. Mencoba menahan kemarahannya pada prajurit muda itu, Ciciko mendekatinya.
"Ahem."
Yaya dan Ying, yang segera menyadari kehadirannya, berbalik dan memberi hormat. Gadis-gadis muda ini memang punya sopan santun dan rasa tanggung jawab. Tak seperti teman mereka… Bahkan setelah 3 tahun menjadi komandan mereka, sikap teledor ini masih belum berubah juga.
"Sssttt! Gopal! Bangun!" bisik Yaya nyaring namun lembut. Tapi sayangnya sang kawan menjawab dengan igauan '5 menit lagi'. Syukurlah Laksamana Tarung sedang keluar.
Ciciko baru akan memukul bangun Gopal saat tiba-tiba sang tukang tidur meringis kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya. "AW! Siapa yang barusan memukulku?!"
Ciciko melirik ke arah Ying yang terlihat mencurigakan dengan senyuman tidak bersalahnya. Tidak perlu sampai segitunya juga, tapi yang penting Gopal sudah bangun sekarang.
"Kubilang sia— Wha! Ko-Komandan!" Kekesalan berubah menjadi kepanikan. "I-Ini gak seperti kelihatannya, aku... aku hanya, ehm… hanya sedang menghangatkan tempat duduknya! Betul!" Gopal tersenyum canggung seraya berusaha berdiri, setelah terpeleset karena panik sih.. Ciciko mendesah pasrah. Sikap ini harus ditindak, nanti.
"Di mana Boboiboy?" tanya Ciciko, tidak memperdulikan penjelasan Gopal. Dia bisa mengurus itu nanti, sekarang dia punya urusan dengan sang ketua tim. Ada beberapa hal yang harus diklarifikasi berkaitan dengan misi yang dilakukannya. Namun pertanyaannya dijawab oleh kesunyian. Wajah Gopal menjadi murung seketika. Tidah hanya si prajurit muda, namun kedua kopral muda nya juga. Ciciko menghela napas, tidak perlu penjelasan lebih jauh dan jelas.
Boboiboy pergi ke ruang hologram. Lagi.
Yang ini juga harus segera ditindak-lanjuti. Segera.
..
..
A/N: Iya, Fang udah mati :/ Moga kalian suka ya. Kasih tau pendapat kalian di review ok?
Btw, mungkin mulai sekarang beberapa fic bakalan di-post dalam Bahasa inggris. Mengingat untuk nge-post chapter ini aja butuh 1 bulan dari versi English-nya, kalo ada yang mau nerjemahin silahkan~ kemampuan Bahasa Indonesia-ku udah karatan T.T hiks.
Don't forget to RnR! XD *peace out*
