MASK'S STORY
Part 3
Pair : Kageyama Tobio x Fem!Hinata Shouyou
Original Story : Haikyuu! By Furudate Haruichi
.
.
.
primroselin
.
.
enjoy
Kageyama datang ke apartemen tempat tinggal Hinata jam 8 pagi dengan menenteng beberapa bubur instan untuk sarapan Hinata. Gadis itu ijin dari kerja karena kakinya tak mampu digunakan untuk berjalan dengan benar. Hinata mengambil dalih kalau dia terkilir karena jatuh dari sepeda (karena kurang lebih memang itu yang terjadi). Nampaknya dia masih bersikeras untuk tidak memberitahukannya pada orang lain. Hanya pada Kageyama-lah dia bersedia membuka semuanya.
Semalam, Hinata sudah menceritakan semuanya. Gadis itu memikul sebuah hutang yang ditinggalkan oleh ayahnya yang kini menghilang tanpa bekas. Lima juta yen, itu sama sekali bukan nominal yang kecil. Pegawai kantoran saja butuh hampir dua tahun untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Apa yang membuat sang Ayah sampai berhutang sebesar itu masih tak ingin diungkapkan oleh Hinata. Itu adalah aib keluarga yang tak ingin ia buka pada siapapun.
Hinata tinggal jauh dengan keluarganya. Dia mempunyai seorang ibu dan adik perempuan yang kini masih SMA bernama Natsu. Sang ibu sudah bekerja untuk sekolah Natsu dan keseharian keduanya, tak mungkin bagi Hinata untuk membebankan semua padanya. Jadi Hinata-lah yang bertugas membayarkan hutang itu.
"Kemana kau membayarkannya?"
"Kau ingat orang-orang yang ada di jalan sewaktu kita berjalan pulang bersama waktu itu?" Kageyama mengangguk, "Pada mereka. Aku harus membayarkan setengah hasil kerjaku sehari pada mereka secara langsung."
Di sini Kageyama baru tahu kalau Karasuno punya sistem gaji perhari,"Memangnya mereka siapa? Yang memberi ayahmu pinjaman uang?"
Hinata menggeleng frantik sambil mengelap matanya yang masih sedikit basah dengan tissu, "Orang suruhan."
"Lalu apa yang terjadi padamu tadi?"
"Aku bermaksud mengurangi jumlah pertemuan kami. Aku bisa membayar dua atau tiga hari gajiku sekali, bukan? Karena itu aku mencari teman. Mereka menakutkan. Mereka sama sekali tidak ragu untuk melukaiku."
"Lalu?"
"Aku pernah mencobanya, dulu. Aku lewat jalur Wakano 3 Chome. Meski jauh, kupikir akan aman. Tapi ternyata tidak."
Kageyama menaikkan sebelas alisnya. Hinata melihat itu dan melanjutkan, "Di hari ke tiga mereka menemukanku. Mereka menuduhku kabur. Dan mereka melukaiku habis-habisan sampai aku tidak bisa berjalan selama tiga hari selanjutnya."
Tenggorokkan Kageyama tercekat. Ia ingat, Hinata memang pernah ijin selama tiga hari. Itu masih sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Dia bertanya pada Sugawara katanya Hinata ijin pulang ke Iwate, kampung halamannya. Kini dia mengetahui alasan sebenarnya. Hati Kageyama teriris sakit.
"Lalu kemarin saat bersamamu, aku tidak mendatangi mereka. Dan mereka melakukannya lagi padaku." Hinata menunduk, "Aku takut, Kageyama."
Raut wajah Hinata saat ini begitu menyedihkan, mengingat Hinata yang biasanya selalu cerah seperti matahari membuat Kageyama merasa seperti melihat sisi Hinata yang tak pernah dilihat oleh orang lain.
"Dan setelah semua selesai, aku ingin segera pulang. Semua badanku sakit, aku takut. Aku bersepeda terlalu kencang dan aku jatuh. Lalu kau datang dan menolongku."
Keduanya berpandangan. Hinata tersenyum tipis, "Terima kasih, Kageyama."
Kageyama mengangguk kikuk. Sedikit salah tingkah. Jarang ada yang memberinya terima kasih untuk sesuatu yang tak dibayar.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Gyudon tadi?"
"Itu…." Hinata sedikit ragu menjawabnya, "Sebenarnya aku hanya ingin menanyaimu apa kau akan ke daerah ini lagi atau tidak. Tapi aku tidak punya alasan untuk ke studiomu. Jadi aku pura-pura saja bilang kau pesan Gyudon pada yang lain."
"Kau yang bayar?"
"Memangnya siapa lagi?"
Si kepala hitam menggaruk leher. Dia jadi agak sungkan pada Hinata. Dia harus menggantinya lain kali.
Selanjutnya, Kageyama mengantarnya pulang dengan memboncengnya. Hinata yang terkilir tak mungkin memaksakan diri mengayuh sepedanya sendirian. Gadis itu benar-benar kelelahan. Dia menaruh kepalanya di punggung Kageyama saat keduanya di atas sepeda. Kageyama sempat khawatir Hinata akan tertidur dan jatuh, tapi di saat yang sama dia tak ingin mengganggu istirahatnya.
Dan hari ini, Hinata ijin dari kerja. Kageyama mengambil ponselnya begitu sampai di depan pintu apartemen Hinata.
"Kageyama, ya?" terdengar suara Hinata dari telepon.
"Iya. Kuncinya mana?"
"Ada pot di ujung lorong kan? Tadi aku minta Yachi-san untuk menaruhnya di sana. Kau masuklah."
Kageyama ingat Yachi-san, tetangga apartemen Hinata yang berwujud gadis mungil berambut kuning pendek dengan tali kuncir berbentuk bintang, yang semalam langsung gemetaran saat melihat Hinata yang penuh luka dipapah oleh Kageyama berdiri di depan pintunya. Gadis itu tampak tidak terlalu bisa diandalkan, tapi Hinata sangat mempercayai Yachi. Kageyama pun mengiyakan.
Si pemuda bongsor masuk dan menemukan Hinata di ruang tengah. Dan penampilan Hinata cukup membuat Kageyama pangling. Bila selama ini dia hanya melihat Hinata dengan seragam Karasuno-nya, kini gadis itu hanya memakai kaos rumahan biasa. Dia memakai kaos longgar berwarna biru muda dan celana pendek sepaha berwarna hitam. Rambut cerah mataharinya yang terurai terlihat kontras dengan kaosnya. Kageyama baru sadar kalau rambut Hinata lebih panjang dari pada yang dia duga. Tapi ia menyukai penampilan Hinata saat ini. Dia tampak lebih manis dan lebih dewasa di saat yang sama.
Hinata membuat lekukan senyum dibibir, "Kau masih terlihat mengantuk. Aku tak pernah melihat wajahmu tapi aku yakin kau sedang lebih jelek dari biasanya."
Kageyama berdecak, "Paling tidak ucapkan selamat pagi atau apa, aku bangun lebih pagi dari biasanya untukmu, boke."
Hinata menggembungkan pipi kesal, "Kau ini memang menyebalkan sekali ya? Belum ada lima menit di sini kau sudah mengatai pemilik rumah dengan sebutan 'boke'."
"Cuman padamu aku begini, karena kau duluan yang cari gara-gara." Kageyama menaruh sup Miso instan ke meja dan duduk berhadapan dengan Hinata. "Bagaimana lukamu?"
"Aku sudah mengganti perbannya, lumayan sudah membaik." Hinata tampak senang menerima sup Miso itu dan segera berusaha berdiri, "Terima kasih. Aku lapar jadi akan kumasak dulu."
Kageyama sedikit takut saat melihat Hinata berjalan dengan tertatih. Tapi gadis itu mencegahnya membantunya.
"Jangan, biar aku sendiri."
"Tapi kakimu masih begitu, bodoh. Kalau kau jatuh bagaimana?"
"Aku bisa melakukannya, Kageyama. Kau tidurlah lagi, tidak apa-apa. Tidur saja di sofa itu. Atau kau bisa pakai kamarku kalau mau."
Kageyama diam sejenak, mempertimbangkan. Hingga akhirnya ia kembali duduk. "Kalau kau butuh bantuan langsung bangunkan aku, mengerti?"
Si rambut jeruk mengangguk mantap, "Tentu. Terima kasih."
Hinata berlanjut ke dapur. Kageyama segera menaruh kepalanya yang terasa berat ke sandaran sofa. Sebenarnya dia ingin tempat tidur yang lebih nyaman, setelah semalam hampir tidak tidur karena memikirkan solusi untuk Hinata. Hinata memang sudah menawarkan kamarnya, tapi Kageyama merasa tidak sopan kalau dia memakai kamar tidur seorang teman perempuan begitu saja. Dan hanya dalam waktu kurang dari lima menit, dia sudah tertidur lelap.
.
.
.
.
.
Waktu sudah berjalan sekitar dua setengah jam begitu ia terbangun. Begitu Kageyama bangkit dan berkeliling, sudah ada mangkuk bekas pakai dan gelas di bak cucian piring. Hinata ada di kamar mandi. Terdengar asyik dengan showernya sambil bernyanyi. Gadis yang kemarin menangis di pelukkannya seakan menghilang tanpa bekas. Sudah berganti Hinata yang selalu ditemuinya di kedai. Mungkin ini lah yang membuat masalahnya hampir tak kentara selama ini. Entah sudah jadi sifatnya, atau memang dia pandai menyembunyikannya.
Hinata menyusul Kageyama ke ruang tamu dengan handuk yang masih tergantung di leher. Meski sedikit pincang, dia masih bisa membuat senyum yang lebih lebar dari lapangan basket. Dan satu hal yang Kageyama sadari saat itu: ini adalah senyum lebar pertama yang ditunjukkan padanya (karena selama ini mereka terus bermusuhan). Dan hati Kageyama menghangat tanpa disadarinya.
"Ada yang ingin kubicarakan." Celetuknya setelah gadis itu duduk di sampingnya.
Hinata mengangkat muka, "Apa itu?"
Kageyama berdiri sejenak, mengeluarkan sesuatu yang sudah dipersiapkannya dari tadi. Tidak, bahkan dari kemarin setelah pulang mengantarkan Hinata.
"Kau kemarin bilang hutangmu tersisa satu juta yen, bukan?"
Mata dan rahang Hinata membuka lebar melihat setumpuk uang terikat karet yang diletakkan di depannya. Setelah otaknya menangkap maksud Kageyama dengan lambat, gadis itu langsung menjawab dengan buru-buru.
"Tu-tunggu, Kageyama. Ini-"
"Pakailah itu untuk melunasinya."
"Tapi Kageyama, kau 'kan juga butuh uang ini?" Hinata bahkan tampak takut untuk memegangnya. Matanya terus melihat pada Kageyama seakan ingin meyakinkan dirinya kalau Kageyama tidak serius.
"Aku tidak butuh untuk sekarang. Aku masih belum berniat membeli apapun."
"Tapi, aku merepotkanmu-"
"Tidak, boke. Sekarang, mana yang lebih baik, membayar hutang pada mereka atau padaku?"
"Tapi, tapi-"
"Pakai uang ini."
"Tapi Kageyama-"
"Pakai uang ini, Hinata."
"Aku-"
"HINATA." Kageyama mengatakan namanya dengan mantap. Gadis itu membeku, pandangan mereka beradu satu sama lain. Ia meraih tangan Hinata dan menaruh uang itu ke telapaknya. "Pakai. Uang. Ini."
Untuk beberapa saat, si kepala jeruk hanya menatap uang itu.
"Pakai…..uang ini?"
"Iya."
"…..boleh?"
Kageyama mengendus. Mulai lelah, "Aku yang menyuruhmu, boke."
Hinata terdiam. Perlahan, setipis air mulai menggenang di kelopak matanya. Mukanya bersemu kemerahan karena bahagia. Tangannya terlihat mengenggam uang itu erat. Mendekatkannya pada bibirnya seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Badannya mengguncang senang. Lalu tanpa Kageyama duga, gadis itu langsung memeluknya.
"Terima kasih! Terima kasih, Kageyama! Terima kasih!" Gadis itu terisak di atas pundaknya. Kageyama berusaha menahan senyum. Bahkan hampir kelepasan tertawa. Ia ikut bahagia tapi tak ingin Hinata mengetahuinya.
Kageyama membiarkan tangannya bergerak membalas pelukan itu. Biasanya Kageyama bukan tipe orang yang nyaman dengan kontak fisik. Tapi kali ini, perasaannya bisa menerima Hinata menyentuhnya.
.
.
.
.
.
"Hei."
"Hm?"
"Aku tidak pernah melihat wajahmu."
Keesok harinya, Hinata masih beristirahat dirumah. Dia masih belum sanggup mengayuh sepeda dengan kondisi kakinya yang sekarang. Dan keduanya sepakat Hinata juga tak akan sanggup melayani pembeli dengan baik dengan kondisi seperti itu.
Seperti kemarin, Kageyama mengantarkan makanan untuknya. Kali ini bubur ayam instan. Beruntung mulut Hinata seperti vacuum cleaner jadi tidak akan masalah bagi Kageyama untuk membawa makanan seperti apapun. Karena gadis itu menerimanya dengan girang seperti anak kecil yang diberi setumpuk permen lollipop rasa coklat, walau makanan itu hanya berupa bubur instan.
Dan setelah kedekatan mereka akhir-akhir ini, sepertinya Hinata mulai berani menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini. Wajah Kageyama.
Kageyama memandang Hinata, yang ternyata juga sedang mengawasinya.
"Oh, benar. Kau baru datang setelah aku mulai pakai masker." Katanya pura-pura lupa. "Yang lain sudah melihatnya."
"Eh? Semua?"
Kageyama mengangguk pelan sambil menaikkan maskernya. "Kau pegawai paling junior, bukan? Beberapa waktu dulu aku sempat membiarkannya, lalu aku mulai risih dengan pandangan orang-orang. Sekitar dua atau tiga bulan sejak aku mulai memutuskan untuk memakai masker, kau datang."
"Memangnya kenapa sih kau menyembunyikannya sampai seperti ini? Kau punya luka atau sesuatu?"
"Tidak."
"Lalu?"
Kageyama terdiam, Hinata mengkerutkan kening karena Kageyama lama merespon. Kepalanya melongok sedikit mengintip wajah Kageyama.
"Nanti kau akan tahu sendiri." Katanya final. Dengan nada yang mengutarakan bahwa dia ingin mengakhiri topik itu. Tapi si gadis bukan orang yang bisa dihentikan dengan hal tersebut.
Hinata memanyunkan bibirnya, "Jadi kau tidak mau memperlihatkannya padaku?"
"Kalau sudah tiba saatnya, akan kubuka sendiri untukmu."
Keheningan mengambang di udara. Ada maksud tersembunyi dari kata-kata Kageyama. Hinata masih memandangnya tapi dia tak berkata apa-apa. Sepertinya ia berusaha menangkap maksud tersembunyi itu. Matanya terlihat sedang mengartikan. Selang beberapa saat, ada tanda-tanda dia berhasil. Bibirnya membuka kecil, lalu kembali menunduk dengan senyum yang ditahan-tahan.
Ya,bila sudah saatnya, maka disitu lah Kageyama akan membuka dirinya pada Hinata. Di mana Hinata telah menjadi spesial di matanya, dan dia menginginkan sebuah hubungan tertentu di antara mereka berdua.
"Uhm, … baik. Akan kutunggu."
Dan sepertinya, dia sudah mendapatkan lampu hijau.
.
.
.
.
.
Kageyama masuk ke kedai dan mendapati Hinata sedang membersihkan meja di bagian depan.
"Bagaimana kakimu?"
Yang diajak bicara sedikit kaget dan langsung menoleh, "Oh, Kageyama."
Hari ketiga, kondisi Hinata sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia memutuskan untuk masuk kerja. Nampaknya dia juga ingin segera melunasi hutang dengan uang pinjaman dari Kageyama. Memangnya siapa yang tak ingin segera menyelesaikan semua bila ada di posisi Hinata? Kageyama dan Yachi mengerti itu dan memberinya ijin. Walaupun sewaktu di apartemen, Yachi masih sering melarang-larang Hinata melakukan ini - itu, tapi nampaknya dia paham apa yang ada dalam pikiran Hinata.
"Sudah mendingan." Sebuah senyum terbentuk di pipinya yang berwarna pink buah peach.
"Jangan paksakan diri. Mengerti?"
"Iya, iya. Aku tahu." Hinata menerima mangkok yang disodorkan Kageyama padanya.
"Kau pulang sendirian?"
"Mau bagaimana lagi?"
"Apa Yachi-san ada di apartemen nanti saat kau pulang?"
"Ada kok, jangan khawatir. Aku pulang lebih malam dari dia. Dia pasti ada untuk membantuku."
"Ada sesuatu di antara mereka." Tiba-tiba terdengar bisikkan yang lolos ke pendengaran Kageyama.
"Sejak kapan mereka seakrab ini? Kau tahu apa yang terjadi?"
"Tidak. Aku malah baru lihat ini pertama kali."
"Sama, aku juga."
Kageyama dan Hinata secara konstan menoleh bersamaan. Di jarak sekitar 6 atau 7 meter dari mereka ada Sugawara, Ennoshita dan Asahi sedang berbisik-bisik sambil melirik curiga. Bahkan ada si pemilik kedai, Sawamura-san yang biasanya selalu absen, ada di antara mereka dan ikut mengkerutkan kening sambil memandang keduanya.
Baik muka Kageyama dan Hinata segera melepuh seperti kepiting rebus. Keduanya sempat salah tingkah beberapa waktu sampai akhirnya Hinata berhasil menguasai diri. Ia berjalan cepat menjauhinya dan segera memberikan uang kembalian (Saat begini kaki Hinata mendadak bisa berfungsi dengan baik). Si pendek mendorongnya pergi. Kageyama menurut dan mengelap mukanya yang masih terasa memanas karena malu. Sementara Sugawara dan yang lain masih memandang jelas tingkah kikuk mereka sampai Kageyama keluar dari sana.
Tak lama kemudian terdengar Hinata berteriak dari dalam, "Mou! Berhentilah memandangku seperti itu! Tidak ada apa-apa kok di antara kami!"
Kageyama merapatkan bibirnya kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
.
.
.
"Sudah." Kageyama menyelesaikan tattoo terakhirnya hari ini.
Gadis yang sedang ditattoo-nya tersenyum lebar, tampak puas dengan lukisan 3 bunga Peony yang baru saja terpasang di lengannya.
"Bagus sekali! Ini lebih bagus dari dugaanku." Katanya sambil melihat refleksi dirinya di cermin.
"Senang mendengarnya."
"Akan kurekomendasikan tempat ini pada teman-temanku nanti."
Kageyama tersenyum, tapi bibirnya tertutup oleh masker. Jadi dia sengaja melebarkan senyumnya agar matanya masih tetap memperlihatkan kalau dia menghargai kalimat si gadis.
"Saya sangat berterima kasih."
Setelah gadis itu membayar dan pergi, Kageyama segera membereskan perlengkapannya. Ia melirik jam. Setengah sepuluh malam. Kedai Karasuno sudah tutup. Hinata pasti sudah selesai dengan masalahnya. Tapi kenapa anak itu tidak memberi kabar padanya? Kageyama merasa Hinata tipe yang akan langsung memberitahunya setelah masalahnya selesai.
Tepat bersamaan dengan tangannya yang bergerak menjangkau, ponselnya mengeluarkan dering pesan. Kageyama mengkerutkan kening saat pesan itu datang empat kali berturut-turut. Semuanya dari Hinata. Hampir saja dia mengendus lega saat membuka pesan tersebut.
Kosong. Tidak ada pesan yang tertulis sama sekali. Tangannya bergerak membuka semuanya dan mereka kosong melompong. Hanya tercantumkan nomor Hinata dan jam saat itu.
Apa ini?
Batinnya mendadak terasa tidak enak. Ia menunggu beberapa saat kalau-kalau saja Hinata terlalu senang hingga akhirnya salah memencet sana sini. Tapi setelah cukup waktu, pesan selanjutnya tak lagi datang.
Dengan ragu ia mencoba menghubungi Hinata.
Satu kali. Tidak ada yang mengangkat.
Dua kali. Tidak ada yang mengangkat.
Dan yang ketiga, telponnya mendadak terputus.
Kageyama mulai ketakutan. Cepat-cepat ia menelpon kembali, berharap Hinata sedang mengerjainya dan menjawab telepon sambil cekikikan seperti biasa.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
Seluruh isi kepala Kageyama hilang tanpa bekas. Tanpa ia sadari kakinya sudah berlari kencang mengejar Hinata. Sebuah ketakutan besar merayap dan menggerogoti tubuh sampai ke ubun-ubun. Hinata dalam bahaya. Hinata dalam bahaya. Hinata dalam bahaya. Hanya itu yang ada di kepalanya. Dia sudah tak mampu berpikir lagi dan dia tak akan peduli walau Hinata ternyata sedang mengerjainya. Ia ingin melihat Hinata baik-baik saja. Lalu sambil diam-diam lega, ia akan mengumpat pada Hinata keras-keras, seperti biasa. Dan demi melihat itu, dia tak membiarkan dirinya berhenti meskipun nafasnya mulai beranjak ke ambang batas.
.
.
.
.
.
Kageyama tahu benar harapannya tak terwujud saat ia melihat sepeda putih Hinata tergeletak di pinggir jalan. Sepeda itu roboh. Sang pemilik tak terlihat di mana pun. Ketakutannya semakin menjadi. Kageyama menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari si gadis dengan nafas yang masih terputus-putus.
"Hinata?!"
"Hinata!"
"Kau di mana?!"
Sebuah suara jeritan perempuan yang tipis berhasil ditangkap telinganya.
Kageyama membeku. Menajamkan telinganya kuat-kuat mencari sumber suara.
"Hinata?"
Suara jeritan itu datang lagi. Kali ini dibarengi oleh berisik beberapa orang lain dan seperti suara tong yang terguling. Itu memang benar – benar jeritan Hinata.
Kageyama berlari mendekati sumber suara.
"Hinata!"
Dan apa yang ditemukan Kageyama membuat hatinya remuk bukan main.
Ada Hinata di sana. Di sebuah gang sempit yang berisikan beberapa tong sampah. Gadis itu terduduk di lantai dengan bibir berdarah dan beberapa memar di mukanya. Rambutnya berantakan. Air mukanya menunjukkan ketakutan yang menyesakkan dada Kageyama. Seragam Karasunonya robek dan memperlihatkan pakaian dalam sampai setengah badan.
Ada tiga orang di depannya. Tiga laki-laki yang sama dengan yang dilihat Kageyama sebelumnya. Salah tau dari mereka sedang mencengkram kerah Hinata dan berusaha berobek baju gadis itu.
Kageyama tak pernah merasa marah lebih dari ini. Tanpa pikir panjang lagi ia melayangkan satu pukulan ke pipi pria itu hingga dia terjembab jatuh. Kedua temannya yang gagal menghentikannya segera mendatangi pria itu.
"Kageyama?!"
Spontan Kageyama memeluk Hinata. Ia segera melepas jaketnya dan memakaikannya pada si gadis.
"Kau tidak apa-apa?!" Tanya Kageyama meski tahu itu pertanyaan bodoh. Dan si gadis masih mengangguk.
"Oh, jangan-jangan ini pemuda yang memberikan uang itu padamu, nona?"
Keduanya menoleh. Si pria yang kini sudah terluka bibirnya berdiri dan tersenyum licik sambil memandang mereka. Si pria mengelap mulutnya yang berdarah dan meludah ke samping. Melihat bekas yang ditinggalkannya, Kageyama tahu dia tidak akan dibiarkan lolos begitu saja. Tiga lawan satu. Rugi besar di sisi Kageyama. Kepalanya berpikir cepat.
"Dia sudah membayar hutangnya, bukan?! Lalu apa masalah kalian?!"
"Masalahnya?" Si pria menoleh ke arah rekannya dan tersenyum lagi,"Masalahnya karena ia membayar hutangnya dengan hutang."
Pelukan Hinata padanya mengerat. Gadis itu gemetaran.
"Memangnya kenapa dengan itu?! Bukan urusan kalian dari mana dia mendapatkan uangnya! Yang penting dia sudah melunasinya, dan semuanya tuntas!"
"Tapi kami tidak terima." Pria itu tertawa, "Kami adalah laki-laki yang tidak terima diperlakukan seorang gadis seperti itu. Harga diri kami sakit. Apalagi karena yang membayarkan hutangnya adalah pemuda yang sepertinya adalah kekasih tercintanya."
Ketiganya kembali tertawa kencang. Kageyama mengeratkan genggamannya pada Hinata. Ia menggunakan kesempatan itu untuk sepelan mungkin berbisik pada si gadis.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kalau aku sudah memberimu tanda, cepat lari dan cari bantuan. Mengerti?"
Kepala jeruk mendelik, "Tapi, Kageyama, bagaimana denganmu?!"
"Aku akan membereskan mereka semampuku. Cari orang untuk membantu, di mana pun itu."
"Tidak-." Hinata menggeleng frantik. "Tidak, Kageyama! Mereka tiga orang! Mereka akan menghabisimu!"
"Aku tahu, bodoh."Kageyama menggigit bibir, "Tapi tidak ada jalan lain."
"Tapi-"
"Hei, hei!" Sebuah suara dari ketiganya memotong pembicaraan mereka, "Bermesraannya nanti saja. Kami ada di sini."
Kageyama melepas Hinata dan berniat berdiri. Hinata sempat menahannya, masih tampak tidak setuju dengan keputusan Kageyama. Tapi Kageyama memaksa, diam-diam memberitahunya kalau dia sudah mampu berpikir lagi, Hinata mau tak mau menyetujuinya.
"Maafkan aku telah melukaimu. Kau sudah menyentuh gadisku seenaknya. Bagaimana kalau kita berdamai? Berapa tambahan yang kalian inginkan agar kalian mau melepasnya?"
Alis si pria di tengah naik, "Wah. Kau banyak uang ya, tuan pacar?"
"Akan kuberikan berapapun yang kalian mau, tapi lepaskan dia."
"Hmm…. Tawaran yang menarik."
Dari ujung matanya, Kageyama melihat Hinata bergerak menepi. Belum, kurang sedikit lagi.
"Berapapun yang kalian minta."
"Berapapun?"
"Berapapun."
Si pria di tengah membuka senyum lebar dan tertawa pada teman-temannya.
"Godaan yang bagus, teman. Aku suka caramu. Tapi penampilanmu tidak menunjukkan kau punya uang sebanyak itu."
Yang benar saja, memang tak mungkin ia punya uang sebanyak itu. Tapi jelas Hinata sudah berhasil menepi cukup jauh tanpa mereka sadari.
"Kalian menilai orang dari penampilan. Hati-hati dengan itu, sobat. Bisa-bisa kalian mudah dibohongi orang." Kageyama menaikkan pundaknya, menghela nafas seakan pasrah "Baiklah. Apa boleh buat. Akan kuberikan kalian kartu nama orang tuaku. Mereka cukup ternama di sini karena bisnis mereka yang maju, kalian pasti kenal mereka."
Ketiganya mengkerutkan kening. Sekali lagi mereka mulai tertarik. Pandangan mereka kini terlepas dari Hinata sepenuhnya. Dan saat Kageyama bergerak berpura-pura mengambil dompetnya,
"SEKARANG!"
Hinata melesat secara tiba-tiba. Terlalu tiba-tiba hingga ketiganya terperanjat. Sesaat seseorang di kiri secara refleks berniat menangkapnya. Dan adalah hal yang tak akan dibiarkan oleh Kageyama. Sebelum Hinata berhasil diraihnya, dia mencengkram tangan pria itu dan memukul dengan sekuat tenaga. Pria itu terpental ke belakang menabrak yang lain hingga ketiganya roboh terguling. Kepalan tangannya terasa sakit karena sepertinya dia menghantamkan pukulannya pada tempat yang salah. Tapi dia berhasil memperdayai mereka.
Hinata sudah mencari bantuan, artinya mereka berhasil lolos. Wajah tampan pemuda tattoo berumur 24 tahun itu tersenyum puas dibalik maskernya yang berwarna hitam pekat.
"Maaf saja ya, sobat. Kalau aku punya uang sebanyak itu, sudah kulamar Hinata dari kemarin!"
.
.
.
.
.
To be continued
Author's note :
Next chapter prim bakal pake sudut pandang Hinata ya~
Tinggal 1 chapter lagi, berjuanglah diriku :'D
UPDATE SORRY
aduh gini deh ya, kesel asli.
jadi sebelum upload di doc manager, prim nulis ini di word. Dan tiap ngopas, pasti ada kalimat yg kepotong sendiri. Ilang gitu. Padahal di word prim tetep kok. Nggak ada perubahan.
Apa kalian juga ngalamin ini?
Jadi kalo kalian ngerasa ada kalimat yng aneh, Prim minta maaf. Mungkin itu ilang, diilangin sama sistemnya. dan salah prim juga ga ngecek ilang pas disave.
Terima kasih~~
