AAAAA MAAF BANGET UPDATENYA LAMA!
makasii banyak buat yang udah review, fave, follow, dan buat semua reader yang mau baca fic ini!
maaf karena author ini kurang bertanggungjawab ;w;
anyway, Enjoy! ^^
Disclaimer.
© Tadatoshi Fujimaki
"-My Beloved Snowflake-"
'.-03-.'
Perubahan cuaca yang sangat drastis dan tiba-tiba itu mengagetkan semua orang di Dunia Manusia.
Tentu saja, tidak akan ada yang menyangka bahwa perubahan itu semata-mata disebabkan oleh empat orang pemuda yang menyeberangi batas dua dunia dan tiba-tiba datang ke dunia manusia.
Keempat roh itu memiliki elemen mereka masing-masing yang sangat berpengaruh di Dunia Manusia. Jadi tentu saja kedatangan mereka memunculkan berbagai reaksi di dunia itu.
Aomine Daiki, roh air. Kise Ryouta, roh udara. Midorima Shintarou, roh tanah. Murasakibara Atsushi, roh kegelapan.
Dunia Manusia tidak sanggup menampung kekuatan keempat roh itu, sehingga mengakibatkan perubahan yang tiba-tiba.
Sama seperti salju yang turun saat Kuroko Tetsuya, sang roh salju datang ke Dunia Manusia.
Demi 'menampung' kekuatan mereka yang melimpah ruah, Roh yang datang ke Dunia Manusia harus memiliki seorang 'Kontraktor'.
Jika mereka tidak menemukannya dalam kurun waktu 3 hari, maka kekuatan mereka akan berbalik menyerang tubuh mereka. Kemungkinan terburuknya, mereka mungkin akan mati.
Jadi, walaupun Sang Raja sendiri memerintahkan mereka untuk menemukan Kuroko Tetsuya secepatnya, prioritas pertama mereka saat ini adalah berpencar dan menemukan seorang 'Kontraktor' terlebih dahulu sebelum kekuatan mereka melukai diri mereka sendiri.
-'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'-
#01: Murasakibara Atsushi~
Raksasa ungu itu berjalan dengan langkah gontai menelusuri area pertokoan. Beberapa menatapnya dengan takjub, beberapa lagi menghindarinya, takut akan bertabrakan atau tertimpa tubuh raksasa itu.
Posisinya sebagai seorang roh kegelapan membuatnya tampil dengan jubah hitam panjang yang hanya menampakkan kepalanya.
Dilihat dari segi manapun, dia memang terlihat aneh.
Setelah beberapa menit berjalan tanpa menemukan seseorang yang mungkin pantas menjadi 'Master'nya, raksasa ungu itu mulai merasa lapar.
Sesuai namanya, Roh Kegelapan tinggal di bagian tergelap Dunia Roh.
Sinar matahari yang terlalu menyilaukan di Dunia Manusia ini tentu saja lama-kelamaan membuat Murasakibara melemah. Dia perlu seorang 'Kontraktor' untuk bertahan hidup di dunia ini.
Murasakibara mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman di bawah naungan pohon rindang. Tatapannya melekat pada penjual crepe tak jauh darinya.
Tapi ia hanya bisa menahan air liur, mengingat bahwa ia dan ketiga temannya sama sekali tidak dibekali dengan mata uang Dunia Manusia.
Ia hampir saja kehilangan kesadarannya, saat tiba-tiba ia merasakan seseorang menepuk pundaknya dan mencium aroma crepe tepat di depan hidungnya.
Saat ia membuka mata, di hadapannya berdiri seorang pemuda berambut hitam dengan poni yang menutupi sebelah mata, sedang berdiri tersenyum padanya dengan segenggam crepe jumbo yang disodorkan pada Murasakibara.
"Sepertinya kau kelaparan. Makanlah." tawar pemuda itu dengan lembut.
Bagi Murasakibara Atsushi yang sedang kelaparan, sosok pemuda misterius yang tiba-tiba memberinya makanan itu seolah-olah bagaikan malaikat yang turun dari langit.
Matanya berbinar-binar melihat crepe jumbo yang benar-benar menggiurkan itu.
Ia menerimanya dengan senang hati, menghabiskannya dalam sekejap, dan langsung menggenggam kedua tangan pemuda misterius itu dengan antusias.
"Aku Murasakibara Atsushi. Maukah kau menjadi Masterku?" tanyanya tanpa basa-basi.
Diluar dugaan, bukannya terkejut, pemuda misterius itu hanya tersenyum dan menjawab,
"Aku Himuro Tatsuya. 'Menjadi Master'mu itu maksudnya seperti apa?"
"Kau hanya perlu berjanji untuk merawatku dan memberiku makan. Itu saja, Muro-chin."
Himuro tertawa dan menjawab,
"Sepertinya menarik. Baiklah. Aku akan menjadi Mastermu, Atsushi."
-Success!-
Murasakibara Atsushi dan Himuro Tatsuya.
Singkat dan sederhana.
...
#02: Kise Ryouta~
Diberkatilah siapapun yang bersedia menjadi Master seorang Kise Ryouta, karena mereka pasti memerlukan tingkat kesabaran yang sangat tinggi.
Ya, seseorang yang sangat-SANGAT sabar menghadapi ocehan tanpa henti dari seorang Kise Ryouta yang kadang menyebalkan.
Misalnya seperti seorang pemuda berambut hitam bernama 'Kasamatsu Yukio' yang terus diikuti Kise sejak kira-kira 30 menit yang lalu.
Sebenarnya ia orang pertama yang tahan mendengar ocehan Kise selama 30 menit tanpa menampar, menjitak, ataupun melakukan hal-hal berbau kekerasan lainnya terhadap Kise.
Saat sedang berkeliling di kota mencoba menemukan Kontraktor yang tepat, Kise ceroboh dan hampir ditabrak oleh mobil yang sedang melaju kencang.
Satu-satunya orang yang menyelamatkannya saat itu adalah Kasamatsu Yukio, murid SMA Kaijo yang kebetulan lewat dan sedang mau menyeberang.
Hanya dengan alasan sederhana seperti itu, Kise langsung memutuskan bahwa Kasamatsu HARUS menjadi Kontraktornya, mau bagaimanapun caranya.
Karena itulah dari tadi ia mengikuti pemuda itu, berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama.
"Kasamatsucchi~ Jadilah Masterku-ssu~"
"Yukiocchi~"
"Master~ Master~ Kasamatsucchi harus menjalin kontrak denganku-ssu~"
"Kasamatsucchi, kau dengar? Kau bersedia menjadi Masterku, kan? Iya kan? Iya ya? Ya? Yaaaa?"
"Ayolah, Yukicchi~!"
Berbagai nama panggilan asal diucapkannya, dan ia terus berputar-putar di sekitar Kasamatsu.
Beberapa kalimat itu hanyalah sedikit contoh kalimat-kalimat yang diucapkan Kise. Dan setiap kalimat itu hanya dibalas dengan keheningan dari pemuda yang dituju.
Masalahnya, saat ini Kasamatsu sedang buru-buru ke sekolah untuk pertandingan basket, dan ia tidak mau konsentrasinya buyar hanya karena seorang pria kuning menjengkelkan yang terus mengusiknya dari tadi.
Hingga akhirnya, Kise mulai menarik-narik baju Kasamatsu, benar-benar berusaha menarik perhatiannya.
Kasamatsu yang mulai kesal dengan tingkahnya akhirnya menyerah.
"DIAM, KISE!"
"Terserahmu. Kalau aku bilang aku mau menjadi Mastermu, apa kau bisa diam dan berhenti mengoceh?!"
Kise yang terlalu bodoh untuk menyadari nada sinis dibalik kalimat itu hanya bisa menatap Kasamatsu dengan mata berbinar dan mengangguk-angguk antusias.
"Iya! Iya! Aku janji aku akan diam!"
Kasamatsu mendesah lega dan berkata,
"Baiklah. Aku akan menjadi Mastermu. Puas sekarang?"
Kise mengangguk-angguk senang dan mulai berjalan dalam diam di belakang Kasamatsu. Bagaikan anak anjing yang mengikuti tuannya.
-success..?-
Kise Ryouta dan Kasamatsu Yukio.
Berisik dan merepotkan.
...
#03: Midorima Shintarou~
Satu hal yang pasti dari seorang Midorima Shintarou adalah bahwa dia merupakan seorang tsundere maniak horoscope.
Lelah mencari selama hampir setengah jam, Midorima memutuskan untuk beristirahat sejenak. Di antara bangunan-bangunan pertokoan, sebuah toko barang antik mencuri perhatiannya.
Saat di dalam, berbagai macam barang-barang antik yang tak ada di Dunia Roh membuat Midorima mengutuk Sang Raja karena tidak membekali ia dan rekan-rekannya dengan sepeser pun mata uang Dunia Manusia.
Alhasil, Midorima hanya bisa berkeliling, mengamati setiap barang-barang unik dalam toko itu.
Midorima 'cukup bisa' menahan diri untuk tidak mengikuti kata hatinya dan 'mencuri' barang-barang antik itu. Tapi, sebuah strap ponsel di sudut toko menarik perhatiannya lebih dari semua barang lainnya.
Sebuah strap hitam dengan gantungan bola basket oranye di ujungnya.
Sederhana, memang. Tapi yang benar-benar menarik perhatian Midorima adalah brosur kecil yang tergantung di raknya.
'Limited Edition!'
'Pakai ini dan keberuntunganmu akan berlipat ganda selama seminggu!'
Entah benar-atau tidak, yang jelas kata-kata itu benar-benar melekat di pikiran Midorima.
Tanpa pikir panjang, ia menarik strap itu dari raknya, melihat kanan-kiri, dan secara diam-diam bermaksud langsung memasukkannya ke dalam sakunya, saat…
"Ah!"
…Seorang pemuda berambut hitam tiba-tiba muncul dan memergokinya melakukan 'itu'.
Midorima membeku di tempat, tak tau harus bagaimana lagi.
Saat pemuda itu mulai berjalan mendekatinya, Midorima mulai salah tingkah, terbata-bata mencoba mencari alasan atas aktivitas mencurigakannya.
"A-Anu.. I-Itu.. A-Aku.. B-Bukan.. K-Kau.. S-Salah.. I-Ini.. T-Tidak.."
Saat pemuda itu tepat berdiri di hadapannya, ia menepuk bahu Midorima,
…Dan tertawa terbahak-bahak…
Midorima hanya bisa diam. Berbagai tanda tanya melayang-layang di kepalanya.
"Pfft. Kau… Kau… Apa barusan kau mau mencuri? Pfft. Mencuri barang palsu yang harganya kurang dari 100 yen? PFFT-AHAHAHAHAHAHA-"
Ia menepuk-nepuk bahu Midorima. Tawanya menggema memenuhi toko itu.
Namun, melihat wajah Midorima yang benar-benar serius, akhirnya pemuda itu sedikit meredakan tawanya.
"Hei, hei. Kau benar-benar serius? Mencuri barang palsu?"
Midorima hanya bisa mengangguk kaku.
"A-Aku tidak punya uang…" bisiknya pelan, malu.
Lagi-lagi, pemuda itu kembali tertawa.
"Ahh… Kau menarik! Baiklah, ini barang murah. Sebagai rasa terima kasihku karena sudah membuatku tertawa seperti ini, aku akan membelikannya untukmu."
Mata Midorima sekejap berbinar-binar mendengar ucapan pemuda tak dikenal itu.
Tanpa berpikir panjang, secara refleks ia berkata,
"Aku Midorima Shintarou. Kau, jadilah Masterku!"
Untuk ketiga kalinya, tawa pemuda itu kembali meledak.
"Pfftt. Master? 'MASTER'? Apa kau serius?"
"Ah, aku Takao Kazunari. Karena kau benar-benar menarik, baiklah. Biarkan aku menjadi Mastermu, Shin-chan~"
-success..?-
Midorima Shintarou dan Takao Kazunari
Sederhana namun membingungkan.
...
#04: Aomine Daiki~
Ketiga roh lainnya sudah menemukan Master mereka masing-masing. Yang tersisa hanyalah seorang Aomine Daiki, panglima perang di Dunia Roh yang sampai sekarang sama sekali belum menemukan orang yang pantas menjadi Masternya.
Masalahnya sederhana.
Aomine tidak mau tunduk pada orang yang lebih lemah darinya. Dan dari awal Ia memang tidak mau tunduk pada ras manusia yang jelas-jelas jauh lebih rendah daripada para Roh.
Jangankan mencari kandidat, hampir tidak ada seorang pun yang berani menatap mata Aomine. Pasalnya, Aomine selalu memasang tampang sangar seolah-olah Ia siap membunuh siapa saja yang berani menatapnya.
Sudah dua jam berlalu sejak ia sampai di Dunia Manusia.
Belum ada tanda-tanda kelemahan yang muncul bagi sang roh air, mengingat bahwa di Dunia Manusia ada air dimana-mana.
Lelah dan bosan berkeliling tanpa tujuan, lapangan basket di sebuah taman pinggir jalan menarik perhatiannya.
Tanpa pikir panjang, kakinya langsung berjalan, membawanya mendekat.
Hanya karena dunia mereka berbeda, bukan berarti para Roh tidak bisa memainkan olahraga para Manusia.
Basket, misalnya.
Ups, tapi jangan pikir kalau Basket yang mereka mainkan itu adalah permainan basket biasa.
Bisa dibilang, 'permainan Basket' mereka lebih menyerupai 'perang'.
Kenapa?
Tentu saja karena mereka memakai kekuatan Roh mereka. Air, angin, tanah, api, berbagai elemen digunakan hanya untuk menggiring bola dan memasukkannya ke ring lawan. Tak jarang mereka menghancurkan lapangan itu sendiri.
Aomine adalah pemain basket kedua terbaik di Dunia Roh.
Yang pertama? Tentu saja Sang Raja, Akashi.
Berharap dapat mendapat lawan yang kuat dalam basket, Aomine langsung menyapa para pemain street-ball di lapangan itu, tak mempedulikan 'pakaian' yang sedang dipakainya saat ini.
"Oi! Siapa berani one-on-one melawanku?" tanyanya.
Ke-5 pemain di situ berhenti sejenak, menoleh memperhatikan Aomine, lalu tertawa.
"Hah? Kau siapa?"
"Hei, disini bukan tempat untuk cosplayer sepertimu! Pergi sana!"
"Kau berani menantang kami? Memangnya kau bisa apa, hah?"
Sekedar informasi, pakaian yang dikenakan Aomine saat ini menyerupai pakaian 'Kir*to' dari 'S*O', hanya saja yang ini berwarna biru gelap.
Merasa kesal karena diremehkan, Aomine menanggalkan jubahnya, dan dengan kecepatan melebihi manusia — dia memang bukan manusia — Ia mengambil bola dari tangan seorang pemain yang sedang men-dribble, dan dalam hitungan detik, Aomine melompat dan melakukan dunk sempurna ke ring basket.
Dengan sebuah seringai, Ia menoleh pada para pemain yang hanya bisa diam, takjub akan kecepatannya.
"Kalian meremehkanku, hah?"
"Sekali lagi kutanya, siapa yang berani one-on-one melawanku?"
-'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'-
…Tak lama kemudian, kelima pemain tadi kalah telak melawan Aomine. Bahkan saat mereka berlima maju serentak, mereka tetap kalah.
Takut akan kekuatan Aomine, kelima pemain itu melarikan diri, meninggalkan Aomine sendiri di lapangan itu.
"Tch. Payah."
Aomine melemparkan bola basket di tangannya sembarangan, namun bola itu tetap mendarat mulus melewati ring.
Saat ia bermaksud memungut kembali jubahnya dan pergi dari situ, sebuah suara menghentikan pergerakannya.
"Hei, kau! Mau one-on-one denganku?"
Suara itu terdengar begitu semangat dan antusias, membuat Aomine tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum. Sangat jarang ada orang yang berani menantangnya dengan penuh rasa percaya diri seperti itu. Terutama karena ini di Dunia Manusia.
Aomine membalikkan badannya, dan menoleh pada orang yang memanggilnya.
Seorang pemuda jangkung berambut merah yang tingginya hampir sama dengan Aomine berdiri di pinggir lapangan dengan bola basket di tangannya dan senyuman lebar di bibirnya.
Dengan penuh rasa percaya diri, Aomine membalas,
"Aku hanya mau bermain denganmu kalau kau bisa berjanji untuk menghiburku… Sebelum aku mengalahkanmu."
Awalnya pemuda itu terlihat kaget, tapi kemudian balas menyeringai. Ia berjalan mendekati Aomine dan mengulurkan sebelah tangannya.
"Aku Kagami."
"Kupastikan kau tidak akan bosan!"
Aomine menerima uluran tangan Kagami dan balas menjawab.
"Aomine."
"Jangan mengecewakanku, Kagami."
-'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'-
…
..
.
..
…
-'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'.'-
Waktu berlalu, dan tanpa sadar kini Aomine dan Kagami terbaring di tengah lapangan. Keringat mengucur dari tubuh keduanya, napas mereka terengah-engah, dan sebuah senyuman puas menghiasi kedua wajah pemain basket itu.
Aomine memejamkan matanya, dan di sela-sela napasnya ia berkata,
"Kau… Kau hebat, Kagami…"
Kagami ikut memejamkan matanya, mencoba mengatur napasnya.
"Kau juga… Aomine…"
…Ini pertama kalinya Aomine mendapat lawan yang seimbang dengannya, yang dapat dilawannya dengan segenap hati tanpa harus menahan diri.
…Ini juga pertama kalinya Kagami bertanding dengan lawan sehebat Aomine, yang dapat mengeluarkan potensi dalam diri Kagami yang selama ini ditahannya.
Keduanya sama-sama merasa puas, meskipun tidak diketahui siapa yang menang.
Setelah napasnya mulai kembali normal, Aomine mulai bisa berpikir jernih.
Saat ini dia membutuhkan seorang Master untuk dapat bertahan di Dunia Manusia.
Satu-satunya syarat adalah bahwa orang itu harus dapat menyaingi kekuatannya.
Dan sejauh ini, satu-satunya manusia yang memenuhi persyaratan itu adalah seorang pemuda bernama Kagami yang baru saja bertemu dengannya.
'Kalau Masterku Kagami… Aku sama sekali tidak keberatan…' pikir Aomine.
Jadi, masih dalam posisi berbaring, Aomine bertanya,
"Kagami… Kau mau menjadi Masterku?"
Kagami sedikit terperanjat mendengar pertanyaan Aomine. Entah kenapa pikirannya tiba-tiba melayang pada sosok Kuroko.
"A-Apa ma—"
-bruk-
Suara barang jatuh mengalihkan perhatian mereka berdua…
…Pada sosok Kuroko Tetsuya yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku-buku berserakan di kakinya. Mukanya berubah pucat saat melihat sosok Aomine.
"A-Ao… Aomine… Aomine-kun…?"
Mata Aomine melebar saat menyadari bahwa targetnya kini berada di hadapannya.
"TETSU!"
Aomine langsung bangkit berdiri, tapi Ia kalah cepat oleh Kagami yang langsung berlari menghampiri Kuroko dan memungut buku-buku yang berserakan di kakinya.
"Kuroko! Kau baik-baik saja? Mukamu benar-benar pucat. Apa kau sakit?"
Kuroko tersadar dari kekagetannya dan menoleh pada Kagami.
"A-Aku… Aku… B-Baik-baik saja…"
"K-Ka-Kagami-kun… Ayo pulang…"
Suara Kuroko bergetar, dan Kagami tau kalau ada yang tidak beres disini.
"Kau… Kau benar-benar tidak apa-apa?"
Kuroko hanya bisa mengangguk dan menundukkan kepalanya sambil menarik lengan baju Kagami.
Bahkan tangannya gemetaran.
Kagami berusaha memprotes, khawatir dengan keadaan Kuroko. Tapi melihat kondisinya yang nampak 'ketakutan' seperti itu, Kagami menelan kembali kata-katanya dan memutuskan untuk membawa Kuroko pulang.
"Baiklah. Ayo pulang."
Sebelum mereka pergi dari lapangan itu, Kagami menoleh sejenak pada Aomine dan melambaikan tangannya.
"Maaf, Aomine! Aku akan menemuimu lagi besok disini!"
…Dan dengan itu mereka pun pergi, meninggalkan Aomine yang berdiri di tengah lapangan, masih heran dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tetsu… dan Kagami…?"
"Ah… Begitu rupanya… Pantas saja dia bisa bertahan…"
"Jadi Master Tetsu itu… Kagami?"
Aomine memungut jubahnya dan pergi dari situ. Sebuah seringai terbentuk di bibirnya saat membayangkan sosok Kagami saat melawannya tadi.
"Heh. Ini menarik."
"Kau tidak akan bisa menang dariku, Tetsu…"
"Aku akan merebut Kagami darimu…"
...
'.-End of Chapter 03-.'
sekian chapter tiga~
maaf, padahal updatenya lama, tapi isinya malah singkat kayak gini -.-
yak, ada yang bisa nebak lanjutan chapter 4 nanti? ^^
kritik-saran plus komentar silahkan ketik di kotak review :D
