Cast : Yunjaeyoosumin n other

Pairing : YunJae, Yoosu , Jaejoong x Caroline

Author : Andrea


Waktu cepat berputar. . .

Hari demi hari berganti dengan cepat. . .

Yang tadinya asing dengan cepat berubah dekat. . .

Cinta sudah tumbuh tanpa keraguan lagi. . .

kedekatan dan perasaan cinta Jaejoong pada Yunho semakin nyata. Dia tak bisa menutupi gejolak dalam dadanya saat sedang bersama yunho. Terlalu manis untuk diungkapkan. Kebetulan yang membawanya pada kebahagiaan. Mereka menghabiskan waktu bersama, setiap hari hanya berdua di tempat sepi itu. Jaejoong bahkan seperti tak ingat lagi dengan gadis yang beberapa minggu lalu masih hinggap di pikirannya. Saat ini dia sudah memantapkan seluruh perasaannya pada Jung Yunho.

"Yunho, kau benar-benar tak mengenal aku sebelumnya?" Tanya Jaejoong . Dia memang masih penasaran sejak malam pertama Yunho datang ke dalam hidupnya, dan pria ini mengaku tak mengenal siapa Jaejoong. Bukannya Jaejoong menyombongkan diri, wajah tampannya ini ada di mana-mana, menghiasi tv dan papan-papan iklan di Seoul. Dia sangat kecewa mengetahui ada orang yang tak tahu siapa dia.

"namamu Kim Jaejoong kan?" Sahut Yunho. Pria tampan ini berjalan mendekati Jaejoong yang sudah lebih dulu berada di balkon kamar.

"Maksudku, pekerjaanku?"

"model" Yunho menyahut lagi tanpa penekanan berarti.

"kau bilang tak mengenalku.."

Yunho sudah berdiri tepat di belakang Jaejoong saat pria itu bertanya barusan. Tangan besarnya langsung melingkari pinggang Jaejoong, memberi kehangatan pada tubuh yang lebih kecil darinya itu. Jaejoong memutar kepalanya ke kiri – melihat wajah tampan Yunho begitu dekat dengan sisi wajahnya. Hembusan napas Yunho sangat terasa di permukaan kulitnya yang agak sensitive. Membuat hawa yang tadinya dingin menjadi berubah hangat dan mendebarkan dadanya.

"Jaejoongie, seandainya aku seorang penjahat, apa kau akan membenciku?"Tanya yunho setelah bibirnya berhasil menempeli pipi halus Jaejoong. Kecupan mesrah terjadi dan Jaejoong sangat menyukai itu.

"Huh?" Dibalik wajah meronanya tadi, Kim Jaejoong tampak tak mengerti maksud perkataan Yunho. Dia membalikkan tubuhnya sehingga mereka jadi berhadapan. Wajah Yunho berubah menjadi serius – menatap lekat-lekat ke dalam mata besar Jaejoong. Jujur saja Jaejoong merasa lucu dengan pertanyaan Yunho yang seperti itu. Pria ini mengulas senyuman di bibirnya, dan kemudian cepat berubah menjadi tawa.

"kalau kau seorang penjahat? Aku tak akan takut padamu"katanya masih dengan tawa yang seperti tertahan.

"Kau akan membenciku?"

"Yah, jangan terus bertanya hal lucu seperti ini. Kau membuatku tertawa, tentu saja kau bukan seorang penjahat. Seorang penjahat tak akan membuat hatiku luluh"

Yunho kembali menghelas napas panjang. Dia meraih tubuh Jaejoong dalam pelukannya, kemudian membenamkan wajahnya di lekukan leher Jaejoong. Dekapan tubuhnya juga terasa semakin erat. Tubuh Jaejoong yang tak lebih besar darinya, dan pinggang Jaejoong yang kecil, rasanya akan remuk. Tapi ini yang Jaejoong sukai dari yunho, pelukan posesifnya menandakan dirinya hanya milik Jung Yunho, begitupun sebaliknya. Jaejoong jadi sangat mencintai pria ini, sangat mencintainya.

Kemudian yang terdengar hanya suara keluhan tertahan dari bibir masing-masing. Tak ada yang mampu bicara lagi dalam situasi hangat seperti ini. Hanya desahan dan keluhan yang saling bersahutan menambah suasana makin romatis. Dengan sengaja, yunho sudah membaringkan tubuh Jaejoong ke ranjang kemudian dengan sengaja juga membuat tubuhnya jatuh menimpa tubuh Jaejoong. Keluhan tadi semakin nyata dan kuat. Ini memang yang selalu mereka inginkan dan butuhkan. Dekapan dan tubuh yang saling menempel tanpa jarak, seolah membuat perasaan besar dalam hati masing-masing tersalur begitu saja.

"Ahh…"

Desahan Jaejoong semakin menjadi. Kecupan beruntun yang Yunho lakukan pada bagian dada sampai perutnya, semakin jelas memberi Jaejoong sensasi lain yang tak bisa diungkapkan. Tubuhnya bergerak-gerak, seperti tak bisa menunggu lagi untuk Yunho lebih menguasai seluruh tubuhnya. Yunho berhenti dengan kecupannya, kemudian mengangkat kepalanya melihat Jaejoong yang juga dengan susah paya mengangkat kepalanya untuk melihat padanya. Sesaat saling melempar senyuman dan aura menggoda – sampai Yunho menyentuh daerah paling sensitifnya yang masih terbalut dengan celana menggunakan bibirnya. Jaejoong mengeluh sambil memejamkan matanya. Ini begitu memabukkan dan tak ingin diakhiri.

Dan akhirnya tubuh mereka benar-benar polos, saling memberi dan saling menerima kehangatan. Hawa dingin, panas bercampur aduk jadi satu dalam ruang tidur itu. Tak ada yang bisa menjabarkan apa yang mereka rasakan sekarang. Jaejoong sendiri memejamkan matanya kuat-kuat, begitu juga dengan dekapannya di tubuh Yunho semakin erat disetiap hentakkan yang tercipta di atasnya. Seperti semakin memojokkannya di ranjang, tapi jelas tak membuatnya kesakitan – dia sungguh menikmatinya. Semakin kuat dan bertenaga gerakan tubuh di atasnya justru semakin membuatnya melayang dengan desahan-desahan tak mau berhenti keluar dari bibir seksinya. Dia tak mau tahu dan tak mau perduli dengan suara berisik bel pintu di luar.

"Ngghh..Yunhh…ahh.."


Caroline jadi ragu untuk menekan bel lagi, sudah berkali-kali dan tak ada jawaban dari dalam sana. Hari ini tepat dua minggu Jaejoong tak menemuinya, juga tak memberinya kabar atau apapun yang dapat menenangkan hatinya. Gadis cantik ini mengelurkan ponselnya dari dalam tas kemudian mendial angka 1 – menghubungi Jaejoong. Tiga kali tak ada respon sama sekali, tak mungkin Jika kekasihnya itu tak ada di rumah. Dia bisa melihat mobil Jaejoong terparkir tepat di depan rumah. Jaejoong tak pernah mengabaikan panggilannya selama ini, dia merasa pria itu mulai berubah. Perhatian, dan kata-kata manis Jaejoong tak lagi dia rasakan dan dengar sejak Jaejoong menempati rumah barunya ini. Tak tahu ada apa dengan Jaejoong. Jujur saja perasaannya jadi tak enak.


8 pm….

Semakin banyak yang dikerahkan untuk menangkap kawanan penjahat itu. Kepolisian distrik Seoul memang menginginkan kasus ini segera tuntas dengan hasil yang tak mengecewakan seperti sebelumnya. Belum sempat melancarkan aksi pencarian mereka, pemberitahuan diberbagai terlevisi tentang badai salju yang akan terhadi – membuat pencarian jadi tertunda. Walau keinginan menggebu-gebu untuk mendapatkan keempat pemuda itu, namun cuaca yang tak bersahabat tentu tak bisa mereka terjang. Itu akan membahayakan mereka jika memaksakan diri.

Sudah seminggu lebih dan mereka tak mendapatkan hasil baik dari pencarian yang mereka lakukan. Malah semakin mengecewakan karena tak bisa menemukan keberadaan orang-orang itu. Belum lagi banyak kasus serupa yang terus terjadi – menambah pusing dan menambah padat pekerjaan mereka. Dan seharusnya mereka lebih pekah dan teliti dengan apa saja. Mungkin sikap mereka yang tak mengekspos gambar-gambar pemuda-pemuda itu salah. Jika saja mereka menyebarkannya, mungkin saja tak ada kasus melarikan diri seperti ini. Dengan mudah semua akan menjadi kabar baik.


Kesibukan Jaejoong dimulai. Hari ini dia harus menjalalani pemotretan lagi, dan itu berarti dia akan berhadapan dengan Caroline. Jaejoong bukannya tak mau lagi bertemu dengan gadis cantik itu. Hanya saja dia merasa tak yakin harus mengatakan semuanya dengan cara bagaimana.

Pintu ruang ganti itu terbuka. Caroline berdiri di ambang pintu. Matanya terarah pada Jaejoong yang sedang merapikan penampilannya di cermin dibantu oleh asistennya. Caroline berjalan masuk – mendekati Jaejoong kemudian berdiri tepat di belakang model tampan itu. Asistennya itu mundur dari hadapan mereka – memberikannya dan Jaejoong keleluasaan untuk bicara. Sementara Jaejoong bisa merasakan aura lain di sini, buka sesuatu yang sangat menakutkan, Jujur saja dia bingung untuk memulai percakapan atau interaksinya dengan Caroline setelah selama hampir dua minggu ini dia seperti mengabaikan gadis itu.

"Jaejoong – ah, kenapa jadi seperti ini, huh? Apa aku berbuat salah padamu? Kau seperti sedang menjaga jarak denganku" Caroline langsung bertanya sesuai intinya. Selama dua minggu ini, sejak Jaejoong tinggal di rumah baru itu, sejak itu pula dia tak lagi berkomunikasi dengan Jaejoong. Seingatnya terakhir kali bertemu saat makan malam di rumahnya, mereka baik-baik saja. Bahkan terlalu baik. Mereka juga sudah memperjelaskan kedekatan selama ini dengan sebuah komitmen – berpacaran. Tapi kenyataannya lain, Jaejoong seperti tak ingin menemuinya.

Jaejoong tersentak dengan pertanyaan Caroline. Dia menghentikan gerakannya di depan cermin, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Caroline. Terus terang dia merasa bersalah pada gadis ini. Bagaimana pun sikapnya melukai gadis ini. Perasaaanya memang tak seperti dulu lagi. Jaejoong yang dulu meyakini bahwa hatinya hanya untuk Caroline, sekarang mulai menyadari hatinya tak seperti itu. Sejak Yunho datang dalam kehidupannya, perlahan semua yang berkaitan dengan gadis ini hilang, berganti dengan rasa cinta yang besar untuk pria itu. Jaejoong menyadari sekarang, sejak malam itu dia melupakan Caroline. Apa yang dia rasakan untuk gadis cantik ini hanyalah perasaan seorang teman, patner kerja, seperti yang dia rasakan pada yang teman-temannya yang lain. Tak ada yang istimewa lagi.

"Caroline, mianhae" Tak ada kata yang lebih pantas selain minta maaf.

"Aku tak bisa bersamamu lagi. Aku mencintai orang lain" katanya, jujur tanpa ditutup-tutupi. Saat ini dia harus berkata jujur agar tak terus membohongi Caroline.

Designer cantik di depannya sempat terkejut tapi dengan cepat membuat wajah cantiknya tak benar-benar terlihat sedang kecewa. Jaejoong tahu Caroline menyembunyikan kesedihannya. Mungkin gadis ini tak ingin memamerkan

airmata yang sebenarnya sudah mendesak untuk keluar.

"Jaejoong –ah.. Kau membuatku irih dengan seseorang yang bersamamu saat ini. Dia sudah mencuri perhatianmu dariku. Dia pasti gadis yang sangat cantik, bukan? "

Dengan suara bergetar, Caroline mencoba bicara dan mencoba membuat wajahnya setenang mungkin. Tapi semuanya justru semakin membuatnya memperlihatkan kekecewaan yang dalam. Jaejoong bisa melihat genangan air yang mulai jatuh dari mata gadis itu. Langsung saja Jaejoong meraih tubuh Caroline dalam pelukannya. Walau tak ada lagi perasaan cinta untuk gadis ini, tapi melihatnya menangis sesuatu dalam hati Jaejoong tersentuh. Kim Jaejoong hanyalah seorang pria, pria yang tak ingin melihat perempuan menangis. Caroline balas memeluk tubuh Jaejoong dengan erat, rasanya dia tak ingin melepaskan pria ini. Gadis semampai ini hanya tak menyangkah semua terjadi begitu cepat, apa yang tak pernah dia bayangkan.

"Dia laki-laki"

Jaejoong bisa merasakan pelukan Caroline mulai merenggang, dan perlahan benar-benar lepas dari tubuhnya. Gadis ini mengusap airmata dari pipinya, perlahan mengangkat wajahnya menatap Jaejoong. Sebuah senyuman dipaksakan terulas di bibirnya.

"Jeongmal Mianhae" Jaejoong meminta maaf lagi. Walau dia tahu permintaan maafnya tak akan membuat hati Caroline berubah gembira dan merelahkan semuanya.

"Arraso.. Sebaiknya kau bersiap, sebentar lagi pemotretan?" Kata Caroline, berusaha meyakinkan kalau dia baik-baik saja padahal hatinya serasa hancur tertimpa benda besar dan membuat lubang cukup besar di sana. Senyuman yang dia paksakan tadi terus perlihatkan. Gadis ini harus bersiap mengawali hari-hari berbeda tanpa apapun yang biasa mereka lakukan. Dia akan lebih tersiksa lagi karena kerjasama mereka masih berlangsung dan jadi agak lain karena hubungan mereka yang tak seperti dulu lagi.


"Kalian bertengkar?" Siwon langsung bertanya begitu dia mendapati Jaejoong di dalam ruang ganti. Pria ini memang berpapasan dengan Caroline saat di lorong apartmen tadi. Gadis itu tak bercerita apa-apa padanya, hanya dari raut wajah dan matanya yang sembab membuat Siwon dapat menilai sesuatu yang serius sudah terjadi.

"Aku mengakhiri hubungan kami"

"Mwo? Kalian putus?"

Siwon membesarkan matanya, jujur saja ia cukup terkejut dengan jawaban Jaejoong. Bukankah selama ini mereka sangat baik? Jaejoong juga selalu mengatakan tentang bagaimana perasaannya pada Caroline. " Apa yang terjadi? Kau berselingkuh, Kim Jaejoong ?" Siwon mulai menebak. Dia duduk ikut duduk di sebelah Jaejoong, menunggu apa yang akan di katakan Jaejoong.

"Aku bertemu dengan orang lain, dan jatuh cinta pada orang itu"

"Kau melakukan hal benar. Lebih baik berkata jujur daripada menyembunyikan dan pada akhirnya membuat Caroline lebih terluka" kata Siwon memberi komentar. Dia memang tak menyangkah Jaejoong yang dia tahu selama ini hanya mencintai Caroline, dan sekarang jatuh cinta pada orang lain. Tapi dia tak menyalahkan Jaejoong, sahabatnya ini sudah melakukan hal yang tepat. Hidup memang penuh dengan kejutan, tak ada yang tahu apa yang terjadi besok. Hari ini kau mengatakan dengan bersemangat tentang bagaimana perasaanmu pada orang itu, tapi besok dengan bersemangat juga kau akan mengatakan bagaiaman perasaanmu pada orang lain. Seperti halnya dengan yang Jaejoong jalani, sepertinya baru kemarin mengobarkan api cintanya untuk gadis bernama Caroline itu, tapi sekarang dengan mudah mengakhiri segalanya.

" Dia lebih cantik dari Caroline…?"

"Pertanyaanmu sama dengan yang Caroline tanyakan"

"Aku mengajaknya tinggal bersama di rumah itu"

Siwon membelalakkan mata kecilnya. Kali ini ia sangat terkejut. Ini pertama kalinya Jaejoong mengajak pacarnya tinggal bersama. Mungkin sahabatnya ini sangat serius dengan cinta yang dia rasakan kali ini.

"Aku mengerti mengapa kau tak ingin Caroline datang ke sana. Tapi aku tak bisa terima kau juga melarangku"

"Mianhae. Aku pasti akan mengenalkannya padamu"


Beberapa saat kemudian, bunyi serta kilatan cahaya kamera memenuhi seisi ruangan apartmen itu. Seharusnya pemotretan kali ini sudah selesai dari sejak dua minggu yang lalu. Tapi kasus pembunuhan yang terjadi di basement itu – membuat mereka sepakat agar menundah pekerjaan juga mengganti tempat pemotretannya. Untungnya pengambilan gambar di luar sudah dilakukan sehari sebelum kasus itu terjadi.

Di depan jendela besar itu, Kim Jaejoong berdiri menyimpan kedua lengannya ke sisi badannya menekan pada kaca. Tubuhnya terlihat lebih sempurna dengan busana musim dingin yang melekat. Sorot mata yang tajam, serta pencitraan mimic keras – semakin memperlihatkan sisi seksi dari model ini. Pothografer dan kru lainnya menganggukan kepala, terkesima dengan objek di depan mereka.

Kini Jaejoong sudah duduk di sofa. Satu kakinya menindih kakinya yang lain. Tarikan yang terjadi dikedua ujung biirnya membuat setiap mata di ruangan itu terhipnotis. Mulut kru-kru wanita menganga bagai melihat tumpukan berlian berkilauan. Sesekali saat dia menjilati bibir bawahnya, serasa jantung wanita-wanita itu mau copot saja. Sungguh sempurna dan tiada bandingannya.

Sementara di sudut belakang, designer cantik itu hanya memandangi modelnya tanpa berkedip. Bukan karena dia terpanah, tapi kekecewaan dan perasaan sakit yang melubangi dadanya sangat nyata terasa. Mungkin saat dia mengedipkan matanya, airmata langsung jatuh bercucuran. Baru dua minggu yang lalu saat mereka masih baik-baik, senyuman dan kekaguman tak habis dia tunjukkan untuk Jaejoong. Sekarang hanya tumpukan kesedihan yang menemaninya. Terlepas dari semua itu, dia harus tetap bersikap professional.


Sudah beberapa hari ini sengaja berlatih memasak. Aku tak ingin setiap hari hanya Jaejoong yang menyiapkan makanan untuk kami. Sedangkan aku seharian tak melakukan apa-apa selain menunggunya pulang. Rasanya aku seperti seorang istri di sini. Istri yang menunggu suaminya pulang sehabis bekerja. Tentu saja itu tidak mungkin. Aku kembali membuka halaman demi halaman di buku latihan milik Jaejoong, menentukan makanan apa yang ingin aku pelajari untuk kumasak sebagai makan malam nanti.

Kesibukanku agar terhenti saat bunyi lain di luar sana terdengar. Deru mesin mobil yang baru saja dihentikan. Mungkinkah itu Jaejoong? Aku melirik jam yang bertengger di dinging. Baru 10 menit lalu Jaejoong meneleponku, dan tak mungkin dia sudah sampai sekarang. Siapapun di luar sana tak boleh membuatku takut dan merasa khawatir. Mungkin hanya…. Ah, tak ada rumah lain yang bertetangga dekat dengan tempat ini.

Aku menyibakkan sedikit kain penutup Jendela, kemudian melihat ada apa di luar. Ternyata rasa takut langsung menyerangku dengan tiba-tiba. Yang diluar sana tentu berkaitan denganku. Dan yang aku takutkan adalah saat Jaejoong bertemu mereka. Entah apa yang akan terjadi..


Kim Jaejoong segera meninggalkan tempat itu setelah pemotretan selesai dan sukses seperti yang sudah-sudah. Tadinya mereka berencana ingin merayakannya dengan makan malam di restoran, tapi Jaejoong enggan untuk menyetujui. Dia tentu merasa sedang ditunggui seseorang di rumah. Dan makan malan di rumah bersama orang itu jauh lebih menarik baginya. Tak ada perasaan aneh dalam pikirannya saat ini, meski tadi dia sudah mengambil keputusan yang cukup berat – mengakhiri hubungan dengan Caroline. Apa yang dia lakukan berdasarkan kata hati sebagai seorang laki-laki, seorang laki-laki yang tak ingin mengecewakan seorang gadis lebh jauh lagi. Dia sadar perasaannya selama ini pada Caroline bukanlah cinta, hanya sebuah ketertarikan dan itu sesaat. Orang yang saat ini berada di rumahnya, sudah membuka cara pandangannya tentang cinta. Pertemuan pertamanya dengan pria asing yang kini jadi pria paling berarti dalam hidupnya, adalah cinta yang sebenarnya.

Dia agak memelankan laju mobilnya saat kedua mata besarnya melihat sebuah mobil polisi terparkir dekat rumahnya. Ini pertama kalinya sejak dia tinggal di situ dan polisi mendatangi rumahnya. Tak ada yang bermasalah padanya, dan juga dia tak merasa memanggil mereka datang.

"Apa yang mereka lakukan?" gumamnya.

Perlahan Jaejoong turun dari mobilnya bersamaan dengan dua orang polisi yang juga turun dari mobil mereka. Sesaat saling pandang. Dua orang dengan setelan celana jeans dan jaket kulit hitam itu agak terkejut mendapati seorang model terkenal berada di dekat mereka sekarang.

"Oh, Kim Jaejoong ssi…" Sapa keduanya nyaris bersamaan. Jaejoong membalasnya dengan senyuman tapi agak dipaksakan. Pria tampan ini belum mengerti ada apa mereka di kawasan tempat tinggalnya. Di sini tak ada rumah lain kecuali miliknya, beberapa rumah berjarak 200 meter dari tempat itu.

"Aku melihat mobil kalian di halaman rumahku. Mmm, apa ada masalah?" tanyanya ragu-ragu.

"Kau tinggal di sini?" Salah satu polisi bertanya dengan wajah terkejut kemudian memandangi tempat itu. Begitu sepih, sangat mengherankan seorang model terkenal seperti Jaejoong tinggal di tempat sesepi ini.

Jaejoong menganggukan kepala. " begitulah, sudah beberapa minggu ini"

"Apa ada sesuatu yang bisa kubantu?" Dia bertanya lagi, masih penasaran dengan kehadiran dua polisi paru baya ini.

"Begini Jaejoong ssi, mungkin kau sudah dengar berita tentang pembunuhan di BigEast apartmen" Salah satu polisi mulai menjelaskan maksud kedatangan mereka ke tempat tinggal Jaejoong. Model tampan ini mengernyitkan keningnya masih tak mengerti, kemudian menganggukkan kepalanya baru menyadari penjelasan tadi. Dia mengingat pembunuhan yang terjadi beberapa minggu lalu di apartmen yang sempat mereka gunakan untuk pemotretan.

"Kami sudah menemukan para pelakunya, tapi sayang mereka melarikan diri sebelum ditangkap" sambung polisi tadi, wajahnya agak memendam rasa kecewa. Rencana yang sudah mereka susun ternyata tak mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan.

Jaejoong membesarkan mata bulatnya. Dia jadi terkejut mendengar penjelasan polisi tadi. Memang bukan hal baru mengetahui para penjahat yang melarikan diri. " Lalu?" tanyanya kemudian. Terus terang dia masih tak mengerti dengan hubungan polisi ini ada di kawasan tempat tinggalnya.

"Kami terus mencari mereka. Mungkin saja mereka bersembunyi di tempat-tempat sepi seperti ini"

Jaejoong menganggukkan kepalanya lagi. Membenarkan perkataan polisi itu. Tempat sepi memang paling banyak ditujui para buronan untuk menghilangkan jejak mereka dari pengejaran polisi.

"Jadi kalian berpikir mereka ada di sini?"

"Tentu tidak di tempatmu Jaejoong ssi.. " sahut polisi itu dengan tersenyum. Jaejoong juga tersenyum, sangat konyol jika kawanan penjahat berada di tempat tinggalnya.

"Kau harus hati-hati Jaejoong ssi. Di sini kau tinggal sendirian. Apa kau sudah melihat wajah mereka di media?"

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. Selama dua minggu ini dia tak sering melihat program berita, dia lebih banyak menonton film-film yang dia bawah.

"Oh, ini foto-foto mereka. Mungkin saja kau pernah melihat salah satu dari mereka" setelah berkata, salah satu polisi mengambil sebuah amplop yang di dalamnya berisi beberapa foto pelaku pembunuhan di BigEast apartmen. Jaejoong tak menolaknya, dia meraih amplop itu kemudian mengambil lembaran-lembaran bergambar itu.

Foto pertama – Max,

Foto kedua – Micky,

Foto ketiga – Xiah,

Jaejoong tak mengenali orang-orang ini..

Tapi…

Saat matanya melihat lembaran keempat. Satu wajah yang sangat familiar, wajah yang beberapa minggu ini bersama dengannya di rumahnya. Berbagi segalanya, cinta, kehangatan, dan apapun yang dapat mereka bagi berdua. Tenggorokkannya serasa tercekat, dia seperti tak mampu berdiri menahan tubuhnya yang semakin melemah. Ini bukan yang dia harapkan, pikirkan. Tak pernah sedetikpun isi otaknya mengalun pikiran yang seperti ini. Tetapi kenyataan membuktikan sesuatu yang sepertinya tak mungkin bisa menjadi mungkin.

"Jaejoong ssi…." Polisi itu memanggil namanya karena sedari tadi Jaejoong hanya diam seraya memegang lembaran terakhir itu. Jaejoong tersadar dan buru-bubur menyimpan foto-foto itu ke dalam amplop lagi. Matanya juga menangkap sebuah nama yang terterah di foto itu, U-know.

"Aku tak mengenal mereka"

Kau bisa membantuku? Mereka sedang mengejarku..

Jaejoongie.. seandainya aku seorang penjahat, apa kau akan membenciku?

Segala rasa bercampur aduk. Antara rasa kecewa, sedih, cinta, benci, marah, bodoh - menumpuk dipegunungan hatinya.

Bohong jika dia tak merasakan semua itu.

TBC….

thank you so much yng da reviews di chap 2 3