Chapter 1 Pt. 2


Satu hal sudah jelas bagi Elsword saat ini: ia sangat membenci teleportasi. Tentu, penggunaan Teleportasi sangat efisien dalam menghemat waktu saat melakukan perjalanan yang jauh (dan sangat berguna untuk menghindari serangan musuh, seperti yang biasa Aisha lakukan), tapi efek samping yang ditimbulkan bagi seseorang yang non-mage sangat menyebalkan. Pertama, rasa pusing. Kedua, mual. Untunglah dia sudah sering dibawa kesana kemari dengan layanan perjalanan antar benua dari perusahaan Cobo, jadi dia sudah agak toleran. Tapi teleportasi kali ini sangat berbeda. Perasaan yang ia rasakan sama seperti saat ia memasuki Gerbang Kegelapan untuk pertama kalinya. Disekelilingnya, teman-temannya dan para tentara Velder tidak sadarkan diri.

Dengan kedua mata tertutup, si Lord Knight itu menarik napas kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Kedua manik merahnya kembali terbuka.

"Udaranya berbeda dari Elrios." Gumam Elsword sambil mengedarkan pandangannya. Langit biru? Cek. Hamparan rumput yang luas? Mungkin ini di Ruben jadi, cek. Menara yang menjulang tinggi di kejauhan? Er, mungkin ini di Elder…cek. Glitter Pounder, Glitter Rider, Glitter Defender, dan Glitter Commander yang berkerumun di depan bangunan bermenara itu? Elsword memicingkan matanya.

"Mereka tidak pernah belajar." Ucap Elsword. monster-monster itu sudah sering ia hajar tapi mereka sama sekali tidak belajar dari kesalahan mereka. Baru saja Elsword mengambil langkah pertamanya, sesuatu menangkap perhatian sang Lord Knight. Dari balik dinding yang mengitari menara itu, nampak sesosok manusia yang terbang cepat ke udara. Mage – satu kata itu saja sudah mendeskripsikan apa yang ada dipikiran Elsword saat melihat kejadian itu.

"Artinya ada penduduk disana." Gumamnya. Elsword mulai memandangi pasukan Glitter itu dan sebuah pertimbangan muncul di kepalanya. Matanya melayang kearah sekumpulan Glitter Rider.

'Kebanyakan Glitter Rider ada disana. Mengingat seberapa lamanya membaca mantra, kecepatan serangan Glitter Rider itu lebih unggul dari mage,' matanya kemudian menyisir pasukan Glitter yang lain, 'aku sama sekali tidak melihat Glitter Necromancer.'

Kalau boleh jujur, Elsword sangat lemah apabila melawan pengguna sihir manapun. Latihan tarung yang sering ia lakukan bersama Aisha sudah membuktikannya. Tentu, serangan mereka lambat, namun mantra mereka selalu bisa mengejar target (ngomong-ngomong, Aisha selalu melatihnya untuk mencoba menghindari serangan seperti itu dengan menembakan Magic Missile padanya. Hasilnya selalu Epic Fail) dan mereka sama sekali tidak peduli dengan rekan mereka. Para Glitter Necromancer itu membiarkan rekan mereka mati agar mereka bisa mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan serangan mereka. Tapi setelah mengkonfirmasi bahwa pasukan glitter khusus mage tidak ada, Elsword-pun mencapai sebuah keputusan. Ia memungut great-sword yang tetap setia di sampingnya selama teleportasi kemudian berlari menuju kawanan Glitter itu.

Jarak antara tempat ia sadarkan diri dengan pasukan Glitter itu tidak terlalu jauh, jadi hanya dengan sekali lari dan sebuah lompatan, Elsword sudah berada di tengah sepasukan Glitter Rider.

"Seorang musisi pengelana Velder pernah mengatakan padaku," Elsword mengangkat pedangnya, "sebelum menjatuhkan musuh, jatuhkan dulu Cockatigle mereka."

Elsword melakukan sebuah kibasan yang penuh dengan kekuatannya. Pedangnya seakan diselimuti aura berwarna merah. Mega Slash, teknik pedang yang diajarkan oleh kakaknya, membuat berat pedangnya seakan bertambah saat diayunkan sekuat tenaga pada musuh. Elsword mengayunkan pedangnya dan melakukan putaran 360 derajat, melukai kaki Cockatigle yang mengelilinginya dan menjatuhkan pengendaranya.

Sang Lord Knight menendang salah satu Glitter yang mendekatinya hingga jatuh, kemudian berputar 180 derajat untuk menyerang Glitter yang bermaksud menyerangnya dari belakang. Salah satu Glitter Pounder mendekatinya dan mengayunkan palu gigantisnya pada Elsword, sementara Lord Knight itu berguling ke samping dan menyerang abdomen monster itu. Sebuah anak panah mendesing menembus udara dan Elsword dengan sigap menjadikan pedang gigantisnya itu sebagai tameng. Terdengar mudah, tapi Elsword tidak menyadari Glitter Archer lain yang ada di belakangnya. Namun Glitter Archer itu sudah lebih dulu hangus terbakar.

"Kau seharusnya tidak membiarkan punggungmu terbuka, Elsword."

Pemuda berambut merah jabrik itu menoleh dan seulas senyum muncul di wajahnya saat ia melihat Raven dengan tangan nasodnya yang memerah karena panas. Senyumnya makin melebar saat beberapa Glitter terlempar ke udara setelah terkena ayunan sebuah bazooka silver milik temannya yang lain.

"Raven, Chung!" ujar Elsword sambil menebas dua Glitter sekaligus dan melempar kedua monster itu menjauh.

"Mana yang lain? Apa mereka baik-baik saja?"

"Ya," jawab Raven yang melempar bom kecilnya ke tengah pasukan Glitter Pounder, "mereka sedang memastikan semuanya dalam keadaan baik."

"Hah baguslah," Elsword menahan serangansalah satu Glitter kemudian menendangnya jauh, "aku lega mendengarnya."

"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan terlalu lega," tukas Chung sambil menembak Glitter yang mendekatinya dengan Silver Shooter, "Aisha dan Elesis benar-benar murka saat tahu kau pergi sendiri."

"*gulp*A-ahaha, aku akan bicara dengan mereka nanti…tapi Eve tidak ikutan marah kan?"

Chung dan Raven tertawa mendengar pertanyaan Elsword, tapi itu sama sekali bukan pertanda bagus untuk Elsword. Sementara mereka berbincang, pasukan Glitter yang mengitari mereka makin banyak. Kali ini, Elsword memutuskan untuk segera mengakhiri ini. Mengalirkan Manna ke pedangnya, ia menutupi pedangnya dengan aura merah yang besar.

"Armagedon Blade!"

Dan dengan itu, Elsword bersama Chung dan Raven, mulai menghajar Glitter-Glitter itu.


-Kembali Ke Akademi Tristain-

Old Osmond tadinya berada di kantornya, menghisap pipa tembakaunya sambil memperhatikan langit biru di luar jendela – setidaknya, itulah yang sebelumnya ia lakukan sebelum pipanya diambil sekretarisnya, Miss Longueville. Awalnya ia ingin menggoda Miss Longueville lagi seperti biasanya, tapi cahaya yang muncul di luar jendelanya lebih menarik.

Sebagai kepala sekolah, tentu saja ia bertanggung jawab atas kondisi murid-muridnya dan karena itulah, ia segera terbang keluar dari jendelanya dan muncul di lapangan tempat semua murid tahun kedua memulai ritual pemanggilan mereka. Saat itulah Old Osmond menyaksikan sesuatu yang baru di umurnya yang senja itu.

Setelah mendapat laporan tentang adanya sepasukan monster di luar akademi, Osmond segera merapalkan mantra Levitation dan pergi untuk membuktikannya dengan kedua matanya sendiri. Bersama dengan Tabitha, ia tidak hanya melihat sepasukan mosnter seperti yang ia dengar, namun juga sesosok pemuda berambut merah yang bertarung melawan monster-monster itu.

"Ini…benar-benar mengejutkan." Komentar Osmond yang ditanggapi dengan anggukan singkat dari Tabitha. Selama ia hidup, ia sudah melihat berbagai macam teknik berpedang. Meski begitu, ia belum pernah sekalipun melihat teknik pedang seperti yang digunakan pemuda berambut merah itu.

Pemuda berambut merah itu mengayunkan pedangnya dan membuat beberapa monster terpental, sementara dua orang lainnya menghabisi sisa-sisa yang selamat dari serangan pemuda itu. Gerakan mereka terorganisir, mereka bahu membahu memangkas pasukan monster itu; saat si pemuda merah selesai menjatuhkan pasukan paling depan, pemuda dengan sepasang musket akan menggantikannya dan menjatuhkan monster yang ada di belakang pasukan depan dengan beberapa tembakan. Setelah itu, pemuda dengan rambut hitam akan menyerang monster yang ada di barisan paling belakang dengan apinya. Serangan mereka seakan mengupas lapisan pasukan monster itu dengan tiga serangan sekaligus.

Meski terlihat muda, Osmond sangat yakin mereka sudah ditempa dengan sedemikian rupa hingga sekuat ini. Osmond sangat sibuk memperhatikan ketiga pemuda itu bertarung hingga akhirnya ia menyadari bahwa beberapa monster sudah berhasil memasuki akademi dari arah yang berlawanan.

"Oh ini gawat," gumam Old Osmond saat melihat monster-monster itu menyebar ke dua arah, "nak Tabitha, bisakah kau melindungi teman sekelasmu dengan Colbert? Aku akan mengurus arah yang satunya."

Lagi-lagi dengan sebuah anggukan kecil sebagai respon, Tabitha menyetujui perkataan Osmond kemudian terbang mendekati teman-temannya. Sylphid – familiarnya – nampak senang saat tuannya kembali. Tabitha mengelus kepala mahluk itu sebentar kemudian mengatakan apa yang diperintahkan Osmond kepada Colbert-sensei. Mendengar penjelasan Tabitha, tentu saja membuat murid yang lain ketakutan.

"Begitu ya," gumam Colbert-sensei, "ini akan sangat berbahaya, apa kau yakin mau membantuku?"

Tabitha mengangguk kemudian menoleh kearah Kirche. Si pengguna api dari Germania itu tidak sempat mengalihkan matanya saat Tabitha memintanya bergabung. Meski hanya dengan tatapan mata, Kirche sudah bisa menebak apa maksud dari tatapan Tabitha.

"Iya, iya! Akan kubantu juga!" tukas Kirche dan menyiapkan tongkat sihirnya. Wanita Zerbst itu kemudian mengacungkan tongkatnya pada anak dari jendral Gramont.

"Kami butuh pertahanan tanah, kau harus ikut Guiche!"

"Eh? Aku?" Guiche Gramont menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. Sebelum pemuda ini sempat protes, teman-temannya sudah mendorongnya ke depan.

"Berjuanglah Guiche!"

"Oi! Serius nih!?"

"Semuanya, tolong segera masuk ke dalam gedung. Bawa serta miss Valliere dan rawat dia," perintah Colbert-sensei, kedua matanya menajam, "kami tidak akan membiarkan monster-monster ini lewat selama kalian kabur."

Tak butuh waktu lama, monster-monster itu sudah berlari kearah mereka. Beberapa sosok monster, dengan kepala yang menyerupai kadal mengelilingi mereka di lapangan. Semuanya memakai armor dan masing-masing membawa senjata, dari panah hingga halberd, dan beberapa ada yang menunggangi semacam unggas – setidaknya, paruh dan sayap tunggangan monster itu membuatnya terlihat seperti unggas. Colbert-sensei bersiap merapal mantra, staff yang ia pegang teracung ke depan. Dari sudut matanya, Colbert-sensei dapat melihat kalau Kirche dan Tabitha juga sudah maju dengan tongkat siap di tangan. Yang lebih mengejutkan lagi, Guiche mengambil inisiatif dengan membuat beberapa golem.

Monster-monster itu nampaknya menyadari keberadaan manusia di dekat mereka, karena saat Colbert-sensei bersama Kirche dan Tabitha yang nampak mengancam bagi mereka. Monster yang membawa Halberd mengacungkan ujung senjata mereka, menghancurkan golem-golem Guiche dengan mudah, sementara yang membawa panah menembakkan panah mereka yang dengan segera ditahan sebuah perisai angin dari Tabitha.

Guiche panik, "Mereka menghancurkan golemku dengan mudah!?"

Mengabaikan Guiche, Kirche dan Colbert-sensei merapalkan beberapa bait mantera kemudian menembakkan bola-bola api kearah beberapa monster yang membawa Halberd itu, namun serangan mereka sama sekali tidak menghentikan pergerakan monster-monster itu.

"Armor mereka terlalu tebal! Kalau seperti ini, kita tidak akan bisa melukai mereka!" ujar Kirche sambil terus menembakkan beberapa api kecil untuk memperlambat pergerakan monster-monster tersebut.

"Mata." Gumam Tabitha yang merapalkan sebuah mantera angin. Kirche memicingkan matanya.

"Aku sudah mencoba, tapi helm mereka menghalangiku untuk mengincar mata mereka!"

Mendengar perkataan Kirche, Tabitha segera menambahkan mantera angin dan menggabungkannya dengan mantera air. Cahaya berwarna kebiruan berkumpul di ujung staff Tabitha. Gadis berkacamata itu kemudian mengarahkan ujung staff-nya ke salah satu monster itu.

"Ice Javelin."

Setelah mengatakan dua kata tersebut, udara di atas kepala Tabitha mulai berputar membentuk silinder, kemudian membeku dan terlempar menembus armor monster yang ia bidik barusan. Melihat serangannya yang efektif, Tabitha melanjutkan serangannya yang kedua dengan menancapkan staff-nya ke tanah.

"Ice Spike."

Gelombang demi gelombang es tajam mulai keluar dari bawah tanah, menembus lebih banyak lagi monster tersebut. Serangan itu akan bertahan lama kalau saja Tabitha lebih memperhatikan sekitarnya dengan lebih baik. Sebuah bola ungu terbang kearahnya dan mengenai staffnya, membuat benda itu terlepas dari genggamannya dan otomatis menghentikan mantera Ice Spike-nya. Tabitha memegangi tangannya sambil berdecih saat ia menyadari monster-monster ini memiliki mage di antara mereka.

Monster-monster yang selamat dari serangan Tabitha dan berhasil menghindari lidah api Kirche dan Colbert-sensei saat ini sudah berada di dekat mereka. Cukup dekat hingga mereka dapat menggunakan Halberd mereka untuk memenggal Tabitha dan yang lainnya.

"Triple Geyser!"

Sebuah teriakan menarik perhatian Colbert-sensei, Guiche, Kirche, dan Tabitha. Seakan jatuh dari langit (dan memang begitu yang terjadi), muncul seorang laki-laki yang agak lebih muda dari mereka, menghantam tanah tepat di depan kaki monster itu dengan pedang gigantisnya. Berikutnya, tiga geyser api muncul tepat di bawah monster-monster itu, membakar mereka dan beberapa terlempar karena imbas ledakannya.

"Huf, nyaris," gumamnya kemudian berbalik kepada Tabitha dan lainnya, "kalian tidak apa-apa?"

Semua yang ada disitu langsung menatap laki-laki itu terkejut, khususnya Tabitha. Bagaimana tidak? Dia adalah pemuda yang sama yang ia lihat diudara bersama Old Osmond tadi. Mereka (termasuk Tabitha) sempat menganggap bahwa laki-laki ini adalah kerabat Kirche – karena rambut merah miliknya dan juga karena serangannya barusan yang sudah pasti adalah serangan elemen api. Tapi melihat ekspresi kaget Kirche, nampaknya mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun.

Melihat musuh baru yang muncul, sisa dari monster itu kembali berlari ke arah mereka. Entah mengapa tapi Tabitha sangat yakin kalau monster-monster itu menerima perintah dari satu monster yang mengenakan setelan komandan. Laki-laki jabrik merah disampingnya nampak menyadari arah pandangan Tabitha.

"Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanya laki-laki itu yang Tabitha jawab dengan sebuah anggukan. Sebuah senyum muncul di wajah laki-laki tersebut.

"Senang mengetahuinya." gumam laki-laki itu dan mulai mengambil posisi bertarung, "tolong bersiap memberikan bantuan."

Salah satu monster yang berlari kearah mereka mengarahkan Halberd-nya ke wajah laki-laki itu. tanpa gentar, laki-laki itu juga berlari kearah monster itu. saat Halberd tersebut nyaris mengenainya, sebuah suara tembakan terdengar.

"Kita tepat waktu." Ucap seorang pemuda pengguna musket dengan salah satu moncong pistol-nya mengeluarkan asap, monster yang hendak menyerang pemuda berambut merah tadi jatuh tersungkur dengan kepala berlubang.

"Chung, kita selalu tepat waktu," kata seorang pria yang nampak menyarungkan kembali rapier-nya, "bocah El itulah yang terlalu cepat."

"Er," Guiche mulai bicara, "kalian siapa?"

"Kita bicarakan itu nanti. Fokuskan pandanganmu pada musuh." Ucap pemuda berambut hitam dengan tangan kiri yang aneh. Tangannya mengeluarkan bunyi bergemeletuk beberapa kali. Pemuda dengan rambut pirang mulai menyimpan kedua senjata jarak jauhnya dan memegang pipa aneh yang tadinya ia bawa dipunggungnya.

"Maaf, kalian mage kan?" tanya pemuda pirang itu yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Colbert dan Tabitha. Pemuda itu nampak menarik beberapa tuas pada pipa itu dan menyebabkan beberapa bunyi bergemeletak.

"Tolong beri kami bantuan dari jarak jauh. Kami petarung dengan serangan fisik, jadi kalau hanya kami masalah ini tidak akan selesai dengan cepat."

Mendengar permintaannya, Colbert dan Tabitha mengangguk sementara Kirche mengedipkan sebelah matanya dengan gerakan tubuh yang provokatif sebagai respon (dalam bahasa Kirche, itu artinya antara 'Baiklah, aku mengerti.' Atau 'Lakukan sesukamu.') dan Guiche mengangguk dengan cepat sambil menciptakan sepasukan golem lagi. Setelah mendapatkan konfirmasi, pemuda itu tersenyum kemudian berlari kearah sayap kanan pasukan monster itu, kedua tangannya mengangkat pipa aneh yang terlihat berat itu dengan mudah. Di belakangnya, pemuda dengan rambut hitam juga telah berlari kearah sayap kiri formasi pasukan monster itu.

Tabitha mulai merapal mantera dan membentuk perisai angin disekeliling pemuda dengan rambut pirang, tepat saat beberapa monster itu menembakkan panah mereka bersamaan. Pemuda itu tersenyum. Ia melompat dan menekan sesuatu di gagang pipa yang kemudian menembakkan sesuatu. Tembakan itu memberinya tenaga untuk terangkat sedikit lebih tinggi lagi di udara. Dengan gerakan yang halus, ia kemudian mengangkat pipa aneh itu diudara dan membiarkan gravitasi membuat dirinya dan benda itu menghantam ke tanah. Kecurigaan Tabitha tentang berat benda itu terjawab saat ia merasakan getaran yang disebabkan hantaman benda itu pada tanah.

Disisi lain, Kirche merapalkan sebuah mantra penguat. Ia memutuskan untuk tidak menggunakan elemen terbaiknya saat ada yang bertarung di depannya. Jadi, ia memutuskan untuk menggunakan mantra penguat. Kenapa? Karena saat si pemuda pirang menghantam tanah dengan pipa anehnya, si rambut hitam mengibaskan pedangnya dan menyebabkan kobaran api menjalar dipermukaan tanah. Kirche menguatkan api ini hingga mencapai ukuran yang sangat besar.

Yang tersisa adalah pemuda dengan rambut merah yang bertarung dengan pedang gigantis berselimut aura merah miliknya. Setelah melakukan serangan beberapa kali, ia tersenyum lebar. Tabitha bertanya-tanya tentang apa yang membuatnya tersenyum seperti itu. Lalu, gadis berkacamata itu sadar. Kedua rekannya menyerang dari sisi yang berbeda sehingga mengumpulkan sisa pasukan monster itu ke tengah. Dengan pedangnya, maka ia bisa menyerang mereka sekaligus.

"Windmill!" ujar si rambut merah itu kemudian berputar bersama pedangnya.

Karena jarak jangkauan serangannya bertambah karena aura merah yang menyelimuti pedangnya, monster-monster yang terkumpul itu dibasmi secara sekejap saat pemuda itu berputar dengan ujung pedangnya teracung. Semenit yang lalu, Tabitha sebenarnya agak ragu dengan permintaan Old Osmond. Monster-monster yang muncul secara tiba-tiba itu sama sekali belum pernah ia lihat, jadi gadis berkacamata itu tidak yakin apakah dia dapat berhasil atau tidak. Lalu semenit berikutnya, mereka mendapatkan bantuan dari tiga orang asing dengan kemampuan bertarung yang benar-benar asing baginya.

"Eit," pemuda berambut merah itu mengatur keseimbangan pedangnya yang kembali normal, "satu lagi masalah terselesaikan."

Setelah mengatakan hal itu, suara sorakan terdengar di lapangan itu. Tabitha melihat sekeliling dan menyadari bahwa selama pertarungan, murid-murid akademi itu menyaksikan semuanya dari jendela akademi. Ketiga orang asing itu nampak kaget mendengar sorakan itu. Pemuda berambut merah hanya melambaikan tangannya rendah dengan ragu, si pirang menggaruk salah satu pipinya dengan gugup, dan yang berambut hitam dengan tenang menyarungkan pedangnya kembali, seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Murid-murid akademi itu – khususnya para siswi – segera berhamburan keluar dan mengerumuni ketiga orang itu.

"Kalian kuat sekali!"

"Monster apa itu tadi?"

"Apa kalian bangsawan?"

"Gaya bertarung kalian keren sekali! Darimana kalian mempelajari itu?"

"Kyaaa~! Tampan!"

Ketiga orang itu tampak kewalahan (minus yang berambut hitam) saat dikerumuni seperti itu. Kirche entah kapan sudah bergabung dengan kerumunan itu, sementara Guiche saat ini sedang diperiksa oleh Montmorency. Lama kelamaan, kerumunan itu makin bertambah dan ketiga orang asing itu mulai tidak bisa mengatasinya (plus yang berambut hitam). Baru saja Tabitha akan membantu mengangkat mereka dari tengah kerumunan itu menggunakan angin, sebuah cahaya berdurasi 1 detik tertangkap mata gadis berkacamata itu, seakan sesuatu berkedip di tengah kerumunan itu.

"Duh, baru saja sebentar dan kau melakukan hal yang biasa kau lakukan lagi."

Tabitha menoleh dan melihat ketiga orang asing itu sudah berada di sampingnya, dengan tambahan seorang perempuan dengan pakaian khas penyihir. Murid dari Galia itu menaikan salah satu alisnya. Bagaimana bisa mereka pindah ke sampingnya? Para siswi yang tadinya mengerumuni mereka bertiga juga baru sadar bahwa pemanis mata mereka telah berpindah ke tempat lain.

"Um, 'Hal yang biasanya kulakukan', apa maksudmu saat aku melakukan sesuatu yang hebat?"

"Tidak," perempuan itu menyentil kening pemuda berambut merah itu, "maksudku kelakuanmu yang sok pahlawan dan membantu siapapun yang dalam kesulitan."

"Ahem, itu sesuatu yang hebat, kau harus akui itu."

"Terserah," perempuan berambut ungu itu mengayunkan tangannya, "yang penting, aku ingin bicara dengan yang berwajib disini."

"Um," Colbert mengangkat salah satu tangannya, "aku yakin Old Osmond adalah orang yang tepat."

"Begitukah? Kalau begitu akan sangat menyenangkan apabila aku bisa bicara dengannya segera."

Tabitha hampir lupa tentang itu. Apakah kepala sekolah baik-baik saja? Tadi ia pergi sendiri menghadapi monster yang masuk ke bagian lain akademi. Tapi apa yang membuat orang asing ini ingin bertemu Old Osmond? Seakan menyuarakan pertanyaannya, pemuda berambut merah bertanya pada perempuan itu.

"Memangnya kenapa Aisha?"

Perempuan yang dipanggil Aisha itu menoleh pada rekannya dan menjawab pertanyaan si rambut merah itu dengan nada serius.

"Ini bukan Elrios, Elsword. Kita – dungeon, field, kota, semuanya – dipindahkan ke tempat ini."

Pemuda berambut merah itu – yang diketahui bernama Elsword – membelalakan matanya secara tiba-tiba. Namun dengan segera ekspresinya itu berubah menjadi sangat serius.

"Ada yang kau tidak sebutkan padaku Aisha. Tolong katakan."

Aisha menggigit bibir bawahnya, "Kekuatan El Tree melemah di tempat ini. Dan apabila kita tidak menemukan jalan kembali…aku takut, cepat atau lambat, El Tree akan menghilang."


-To Be Continued-