Eyeshield 21 RIICHIRO INAGAKI & YUSUKE MURATA

Warning! OC, TYPO, OOC (kemungkinan pasti ada)

I Believe…

SMU Deimon tempat Mamori bersekolah sudah mulai sunyi karena memang sudah memasuki waktu pelajaran. Keadaan kelas begitu tertib mendengarkan penjelasan guru mereka. Tapi tidak semuanya memperhatikan guru mereka, coba lihat saja keadaan kelas Mamori.

"Kira-kira siapa?"

"Yang benar?"

"Bla.. bla.. bla.. bla.."

Dan percakapan lainnya. Mamori yang melihat sekilas juga penasaran apa yang sedang dibicarakan teman - teman sekelasnya sampai - sampai tidak fokus pada penjelasan guru mereka yang sedang mencorat - coret papan tulis.

'Mereka sedang membicarakan apa ya?' Mamori bertanya pada dirinya sendiri.
'Sebaiknya aku tanya kan saja sendiri,' Mamori baru saja mau bertanya pada salah satu sahabatnya dia sudah dipanggil gurunya.

"Anezaki san bisa minta bantuanmu? Tolong ke perpustakaan sebentar, ambil kan aku sebuah buku matematika yang bersampul warna biru," kata guru tersebut.

"Baik sensei," Mamori langsung bangkit dari kursinya dan segera menuju perpustakaan.

…..

"Aku penasaran bagaimana orangnya?"

"Aku juga. Nanti kita juga tahu ya,"

Percakapan 2 orang gadis yang berpapasan dengan Mamori di koridor membuatnya tambah penasaran.

"Ada apa dengan semuanya ya? Hm," Mamori hanya mengangkat kedua bahunya.

"Halo.. Anezaki san. Bisa kubantu kau mau mencari buku apa?" Sapa sekaligus tanya penjaga perpustakaan dengan senyum ramahnya.

"Halo.. Kana san. Aku mau mencari buku matematika bersampul biru, tidak perlu diambilkan aku bisa ambil sendiri kok," Mamori tersenyum ramah.

"Baiklah. Kalau kesulitan mencari bilang padaku saja ya," kata Kana.

"Baik,"

Mamori mulai menjelajahi buku – buku yang tertata rapi di rak buku perpustakaan.

"Matematika.. Biru.. Matematika.. Biru.."

Kata – kata itu terus terucap oleh Mamori selama mencari keberadaan buku yang di cari.

"Itu dia!" Mamori senang telah menemukan buku itu. Tapi bagaimana Mamori bisa mengambil buku itu? Sedangkan letak buku tersebut di rak yang lumayan tinggi.

"Bagaimana cara mengambilnya?" Mamori berpikir dan dia segera menemukan ide bagaimana dia akan mengambil buku itu.

Dia mengambil kursi yang tak jauh dari tempat dia berdiri. Mamori sudah berdiri diatas kursi itu dan mencoba meraih buku itu.

"Sedikit lagi… Sedikit lagi… Aku dapat!" Mamori mendapatkan buku itu tapi…

"EH?" Mamori terkejut karena keseimbangannya mulai goyah dan siap jatuh kebawah.

Dengan adegan gerak lambat sebentar lagi Mamori akan membentur lantai. Tapi…..

'Lho? Kenapa tubuhku tidak merasa sakit?' Mamori masih berpikir dalam otaknya.

"Hei, bisa cepat buka matamu dan berdiri sendiri?"

"Eh? Akaba kun!" Mamori terkejut melihat orang yang ternyata membopongnya ala bridal style.
'Pantas aku tidak merasa sakit saat jatuh tadi' Mamori masih berpikir lagi.

"Halo… Kau tidak mengalami shock berat kan? Hanya karena jatuh dari kursi?"

"Te.. Tentu saja tidak," Mamori segera bangkit berdiri.

"Baguslah. Hmm.. jadi ini sekolahmu ya," Akaba memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

"Iya" jawab Mamori sekenanya.
"Tunggu! kenapa kau ada disini? Dan kenapa kau juga memakai seragam sekolahku? Jangan – jangan kau…." Mamori mulai menyadari keberadaan Akaba yang 'tidak biasa' berada di sekolahnya.

"Murid pindahan," jawaban singkat Akaba menjawab semua pertanyaan Mamori.

"HEH! Jadi yang dari tadi murid lain bicarakan itu kau ya? Ah, aku hampir lupa tujuanku kesini. Sudah dulu aku harus segera kembali ke kelasku," baru saja Mamori melangkah beberapa langkah panggilan Akaba langsung menghentikan langkahnya.

"Tunggu! Kau tahu kelas 2 – A dimana?" (saya lupa kelas Mamori tuh berapa. Maaf readers sekalian.. hehe)

"2 - A? Itu kelasku!" Mamori lagi-lagi terkejut.

"Oh.. Ya sudah sekalian saja," Akaba menarik tangan Mamori yang masih shock.

"Anezaki san, akhirnya datang juga. Mana bukunya? Lho? Disampingmu itu kalau tidak salah murid pindahan hari ini kan?" Guru itu mendekati Mamori dan Akaba.

"Anda benar sensei. Ini bukunya, boleh aku duduk sekarang?" Mamori memberikan buku kepada gurunya.

"Oh.. Iya silahkan.. silahkan.." Guru itu mempersilahkan Mamori.
"Nah, kau bisa perkenalkan dirimu pada teman-temanmu dulu. Mari ikut aku," Guru itu mengarahkan Akaba ke depan kelas.

"Murid-murid sekalian, di depan kalian ini adalah teman baru kalian. Bisa perkenalkan dirimu?" pinta guru tersebut dengan cepat hampir semua murid memperhatikan Akaba.

Akaba mengangguk kecil lalu mulai memperkenalkan dirinya.
"Namaku Akaba Hayato. Mohon bimbingan kalian semua," Akaba merunduk sedikit.

"Baiklah, Akaba san kau bisa duduk di tempat yang kosong," guru itu mempersilahkan Akaba untuk duduk.

"Baik, terima kasih sensei," Akaba mulai berjalan ketempat duduknya.

"Wah dia keren,"

"Wow…"

"Kerennya…"

Hampir semua gadis menggagumi Akaba.

"Ehem.. anak – anak," guru didepan coba menenangkan suasana kelas tapi sepertinya tidak dihiraukan muridnya yang terus menatap kagum pada Akaba.

TENG TENG TENG

Bel istirahat akhirnya berbunyi.

"Hah… anak – anak sampai disini dulu pelajaran kita hari ini," Guru itu keluar dari kelas.

Semua murid juga sudah mulai berhamburan kelas menuju kantin sekolah hanya menyisakan beberapa yang berada dikelas.

"Fuh, kebetulan sekali kita bisa satu sekolah bahkan sekelas," Akaba berkata sambil mulai memainkan gitarnya dengan nada-nada yang sangat kecil.

"Yeah… Akaba kun kau tidak ke kantin untuk membeli makanan?" tanya Mamori mengeluarkan bekalnya.

"Fuh, aku malas mengantri bahkan berdesak-desakan di tempat itu," jawab Akaba.

"Kalau tidak ke kantin bagaimana kau makan? Kau bawa bekal?" tanya Mamori

"Tidak. Memangnya aku sepertimu, seperti anak kecil saja membawa bekal," Akaba tersenyum kecil mengejek Mamori.

"Kau! Biar saja," Mamori menghiraukan Akaba dan mulai berkumpul dengan 2 sahabatnya untuk makan bersama di bangku sahabatnya itu.

"Hey, Mamo chan kau terlihat akrab dengan Akaba kun. Kalian sudah saling kenal?" tanya salah satu sahabat Mamori.

"Bukan hanya saling kenal dia bahkan tetangga baruku," Mamori mulai memakan bekalnya.

"HEH!" 2 sahabat mamori agak terkejut.

"Beruntung sekali kau Mamo chan," kata Ako.

"Iya benar. Kau beruntung Mamo.. bla bla bla…" kata sahabat Mamori yang satunya lagi.

Tapi Mamori tidak terlalu fokus dengan apa perkataan teman mereka, dia sendiri malah melirik ke arah Akaba yang sedang memainkan gitarnya.

'Akaba kun benar tidak ke kantin. Aku tidak tega juga kalo tidak berbagi makanan dengannya, padahal dia juga tetanggaku. Hah…' batin Mamori yang melirik sedikit kearah Akaba yang terus berkutat dengan gitarnya.

"Ini untukmu. Kebetulan aku bawa terlalu banyak. Bisa kita makan bersama-sama," Mamori menghampiri Akaba.

"Hm? Tidak perlu," Akaba terus berkutat dengan gitarnya.

SET
Mamori mengambil gitar Akaba dan meletakkan gitar itu dimeja Akaba lalu menaruh kotak bekalnya ke tangan Akaba.

"Hey!" Akaba protes.

"Makan itu baru main kan gitarmu lagi," Mamori pergi keluar kelas.

"Hah? Apa-apaan dia itu. Fuh, ya sudah," Akaba membuka kotak bekal itu dan mulai memakannya.
'Hm.. enak juga makanannya' kata akaba dalam hati.

-skip waktu sekolah-

Warna orange menghiasi langit sore hari ini. Suara teriakan para pemain amefuto Deimon juga menjadi pelengkap sore ini. Rutinitas sore hari yang menjadi kebiasaan tim Deimon Devil Bats yaitu latihan neraka sore *dibom Hiruma*

"Bunuh! Hancurkan! Bunuh! Hancurkan!" teriakan semangat dari bagian linebacker.

"Catch! Catch! Catch! Catch max!" Monta menangkap terus bola-bola yang terus mengarah kepadanya.

"YAHA! Lari terus cebol sialan!" Hiruma berlari di belakang Sena yang kewalahan menghindari peluru-peluru AK 47 Hiruma yang terus mengarah ke padanya.

Dan kegiatan anggota lain yang mereka lakukan saat berlatih.
Suzuna dan Mamori sedang berada dipinggir lapangan.

"Mamo nee.. Mamo nee.." panggil Suzuna.

"Ya, ada apa Suzuna chan?" jawab Mamori.

"Aku dapat info kalau nanti ada anggota baru yang akan bergabung dengan tim kita lho," kata Suzuna.

"Benarkah? Siapa?" Mamori mulai penasaran.

"Aku tidak tahu pasti dia siapa. Aku hanya tahu kalau akan ada anggota baru di tim kita,"

"Begitu.. Suzuna chan kau tahu darimana kalau di tim kita nanti akan ada anggota baru?" Mamori bertanya.

"fufufu… jangan remehkan jaringan informasiku ya Mamo nee," tawa Suzuna menyerupai Hiruma.

'Astaga.. aku baru tahu, kalau sifat iblis Hiruma bisa menyebar,' batin Mamori tidak lupa dengan ekspresi sweetdrop.

"Hey! Kalian berdua! Jangan hanya mengobrol! Cepat ambilkan minum!" teriakan super(?) Hiruma membuat Mamori dan Suzuna cepat-cepat membagikan minuman dan handuk bagi semua anggota.

"Cih, dasar wanita," kata Hiruma.

"Dasar tidak sabaran. Bisa kan tidak berteriak? Aku dan Suzuna tidak tuli tahu," Mamori mengelembungkan pipinya tanda kesal pada Hiruma.

"ya ya ya terserah ya Manager sialan. Kau bisa bicara nanti setelah aku memberikan pengumuman pada teri-teri sialan ini," Hiruma duduk dan mulai mengelap AK 47 nya.

"Dengar teri-teri sialan, tim kita akan merekrut 1 anggota lagi-"

"Ya! Benarkan apa kataku! Akan ada anggota baru!" Suzuna berteriak bangga(?)

'Suzuna! Jangan cari mati!' batin Sena.

'Bosan-'

'hidup-'

'rupanya anak ini.' pasti kalian tahulah siapa yang selalu kompak dalam keadaan apa pun.

'fugo fugo,' bahasa kuat, siapa lagi kalau bukan Komusubi.

CEKREK

"Aku tidak akan segan menembak kepalamu jika kau memotong pembicaraanku lagi cheers sialan," kata Hiruma dengan 4 sudut tanda ke kesalan di kepalanya dan sudah menempatkan moncong AK 47 nya tepat dikening Suzuna.

"a.. ampun you nii," Suzuna gemetar ketakutan.

"Setidaknya dia memiliki kemampuan yang lumayan. Hm.. itu dia ada dibelakang kalian," Hiruma mengakhiri pengumumannya.

Semua anggota langsung menoleh kebelakang melihat orang yang sudah resmi direkrut Hiruma.

"HEEEEEEHHHHH?" Semua anggota Deimon Devil Bats berteriak (kecuali: Hiruma dan Musashi).

To be continue…

Akane: "akhirnya update juga chapter 3. Maaf lama menunggu readers.. yak! Langsung saja, balasan review. Pertama dari siapa Fumiki nee?"

Fumiki: "Dari Sasoyouichi, wah pengemar pair HiruMamo? Author gaje satu ini (nunjuk Akane) juga pengemar pair HiruMamo cuma kata dia lagi dapet inspirasi cerita dan jatuh karakternya ke AkaMamo. Sarannya juga terima kasih banyak. Chapter 3 sudah di update mohon review lagi ya,"

Akane : "Wah terima kasih ya atas reviewnya Sasoyouichi. Aku juga pengemar pair HiruMamo lho! *semangat 45*. Ok! review yang kedua dari Hana-chan kirei, arigatou atas sambutannya *merunduk*. Hwee! Masih sangat banyak kesalahan ya ternyata ceritaku. Saran-saran dan pemberitahuannya sangat sangat sangat sang- *PLAK* berguna lho Hana-chan. Terus beri saran dan beri kesalahan mana lagi dalam cerita saya ya Hana-chan. Chapter 3 sudah update mohon di review lagi ya Hana-chan,"

Fumiki+Akane: "REVIEW PLEASE…."