.
.
THE TRAP GENDER (END)
.
.
Disclaimer : Mashashi Kishimoto
Akhirnya FF ini tamat juga sekarang tinggal melanjutkan FF yang lain. FF ini konfliknya aku buat sederhana nggak berat karena ini chapternya pendek kalau panjang mungkin agak berat dikit. Perlu diketahui, aku orangnya kalau buat FF moodnya cenderung pilih FF yang mana jadi ya itu yang paling aku kebut. Mumpung moodku cocoknya ma FF ini jadi aku kebut biar TAMAT dan nggak gantung plus nggak diprotes reader hehe.
.
Terima kasih untuk semua pembaca baik yang sudah meninggalkan jejak maupun Silent reader atas apresiasinya. Semoga FF ini tak mengecewakan endingnya.
.
.
Cahaya lampu yang mencolok membuat pupil Hinata merespon pancaran lampu kamarnya. Alis Hinata mulai bergerak-gerak, tak lama kemudian kelopak matanya mulai bergerak dan membuka secara perlahan. Samar-samar Hinata melihat Sakura dan Naruto berada tepat di depannya. Bola mata Hinata begitu fokus ke Naruto. Perempuan tampan yang tadi menciumnya. Mengingat kejadian itu Hinata tersentak, ia segera menjauh dari Naruto. Wajahnya kembali memerah akibat jarak antara keduanya begitu dekat.
"Hinata kau sudah sadar. Syukurlah," ujar Naruto penuh kelegaan.
"Hah, rasanya lega sekali. Kenapa kau tiba-tiba pingsan Hinata-chan. Apa kau tadi tak enak badan?" tanya Sakura penuh perhatian. Gadis cantik itu tak menjawab ia hanya tersenyum pada Sakura.
Untuk malam ini Hinata ingin sendiri. Ia tak ingin ada orang yang mengganggunya. Hinata hanya ingin merenung mememikirkan kejadian hari ini. Ciumannya dengan Naruto memberikan dampak besar baginya. Goncangan psikologis namun juga kepuasaan batin. Psikisnya terguncang karena ia menikmati ciuman dari seorang perempuan dan ia mungkin seorang lesbian. Kepuasaan batin, karena ia menerima sebuah ciuman dari orang yang dicintainya. Tidak, ia ingin dirinya kembali normal seperti sebelum bertemu dengan Naruto.
"Sakura, Kumaqi, aku mohon kalian pulanglah. Aku tidak apa-apa," ujar Hinata dengan wajah sedikit murung.
"Kenapa kau tiba-tiba menyuruh kami pulang?" tanya Sakura bingung.
"Tidak apa-apa, aku masih ingin istirahat."
"Baiklah kalau begitu."
Sakura dan Naruto mengikuti apa yang Hinata katakan. Selama perjalanan pulang, keduanya terlarut dalam pikirannya masing-masing. Mereka merasa ada yang aneh dari Hinata. Padahal saat di Disney land, Hinata terlihat biasa saja dan tidak murung. Naruto mecoba mengingat-ingat apakah dia melakukan kesalahan saat melihat kembang api? Apa karena ciuman itu sikap Hinata jadi berubah? Sepertinya memang iya, ciuman itulah yang membuat Hinata seperti ini. Lagipula dimata Hinata, ia seorang perempuan bukan seorang laki-laki. Bodoh sekali, seharusnya ia tak melakukan hal itu. Karena suasana yang begitu romantis, Naruto jadi terbawa suasana.
"Kumaqi-chan, apa kau merasa sikap Hinata sedikit aneh?" tanya Sakura.
"Iya aku juga merasakan hal yang sama," jawab Naruto sambil menyesali perbuatannya di dalam hati.
"Aku yakin, ada suatu hal yang terjadi selama di Disney land? Menurutmu?"
"Entahlah," jawab Naruto singkat. Tak mungkin ia mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya pada Sakura. Ia tak ingin Sakura menganggapnya yang bukan-bukan. Mungkin saja Hinata sekarang membencinya karena ciuman itu.
ooOOoo
Ke esokan harinya Sakura memutuskan untuk menjenguk Hinata. Sepertinya Hinata dalam keadaan gawat karena sejak kejadian tadi malam Hinata tak masuk sekokah. Hinata tak pernah seperti ini sebelumnya, seberat apapun masalahnya ia masih terlihat ceria dan masih masuk sekolah. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu?. Saat sampai ke rumah Hinata, Sakura diantar oleh ibu Hinata ke kamar Hinata yang ada di lantai dua. Sakura menghembuskan nafas panjang, ia berharap kedatangannya kali ini membuahkan hasil. Sakura mengetuk pintu Hinata berkali-kali namun tidak ada tanda-tanda Hinata akan membukakan pintu.
"Hinata, buka pintu. Ini aku Sakura, kau di dalam kan? Apa kau baik-baik saja. Jangan membuatku khawatir. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya seberat apapun masalahmu," ucap Sakura sedih melihat sahabatnya yang bersikap aneh selama dua hari ini.
Clek, daun pintu kamar Hinata berputar dan terbuka. Sakura terkejut melihat penampilan Hinata yang sedikit menyeramkan. Rambut panjangnya acak-acakan, matanya membengkak dengan kantung mata yang mulai mengitam. Hinata seperti zombie yang berkeliaran di pusat kota. Sakura menelan ludah, sepertinya masalah Hinata lebih serius daripada masalah-masalah yang sebelumnya. Cara berjalan Hinata pun berubah lambat, benar-benar mirip zombie. Sahabatnya itu duduk tak berdaya diatas ranjang. Sakura begitu prihatin melihatnya.
"Hinata sebenarnya apa yang terjadi denganmu? tidak biasanya kau seperti ini," tanya Sakura prihatin.
"Sepertinya aku dilahirkan untuk menjadi wanita menyimpang," ucap Hinata sedih mengingat masa depannya yang sepertinya akan suram.
"Wanita menyimpang. Apa maksudmu Hinata?"
"Sakura, apa kau masih ingat dulu aku pernah mengatakan padamu kalau aku mencintai Kumaqi-chan?" Sakura mengangguk mendengar pertanyaan Hinata. "Itu, aku memang mencintanya bukan karena aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu."
"Apaaaa?! Ka-kau, mencintai, Qi-chan?! Apa kau sudah gila?! Hinata dia itu…. ."
"Perempuan aku tahu. Tapi saat Qi-chan menciumku di festival kembang api tanabata, bukan rasa jijik yang aku rasakan tapi perasaan bahagia yang luar biasa. Melayang tinggi, bagaikan seorang cupid yang telah menemukan kekasihnya. Sakura, aku mohon tolong aku. Kembalikan aku seperti semula!" rengek Hinata pada Sakura.
"Tentu aku akan membantumu. Tapi kenapa Qi-chan menciummu?" tanya Sakura penasaran tingkat akut.
"Aku sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan itu," jawab Hinata frustasi dan depresi.
"Astaga, jangan-jangan, Qi-chan seorang lesbian!" ucap Sakura shock.
"Huaaaaa…..huaaaa….huaaaa…. ."
Tangis Hinata pecah mendengar kata lesbian dari Sakura. Ia tak ingin berada di dalam dunia gelap yang menyimpang. Tidak ia tidak mau membuat orang tuanya kecewa, bagaimanapun juga jika sudah dewasa nanti ia harus menikah dengan seorang laki-laki dan memiliki keturunan yang lucu. Bukan seorang perempuan. Sakura juga tak menyangka gadis secantik Hinata dan bisa mendapatkan laki-laki macam apapun dengan mudah jika ia mau, ternyata seorang lesbian. Ia tak ingin sahabatnya ini memiliki perilaku yang menyimpang. Sakura mengeluarkan ponselnya dan mencari nama seseorang di internet. Ia ingat jika Hinata adalah penggemar berat salah satu aktor muda Jepang.
"Hinata, lihat ini. Diantara dua foto ini kau lebih memilih mana, Yui atau Yamazaki Kento? Siapa yang menurutmu lebih menarik?" tanya Sakura dan harap-harap cemas menunggu jawaban Hinata. Jika ia seorang lesbian tentunya ia akan memilih Yui.
"Apa kau gila?! tentu saja Yamazaki Kento lebih menarik dan tampan. Dia laki-laki sempurna, aku pernah bermimpi ingin menikahinya dan hidup bahagia selamanya bersama Kento-kun. Kau tahu sendiri aku penggemar beratnya."
Oke, untuk sementara jawaban Hinata seperti wanita normal pada umumnya. Menurut Sakura, hanya gadis menyimpang saja yang tidak menyukai Yamazaki Kento. Sakura kembali berkutat di ponselnya, ia memilih salah satu foto seseorang untuk dibandingkan dengan Yamazaki Kento. Sakura melihatkan ponselnya tepat di depan mata Hinata.
"Hinata, lihat, siapa yang lebih tampan dan lebih kau suka, Yamazaki Kento atau KumaQi-chan?" Sakura memperlihatkan foto paling tampan antara keduanya. Foto Naruto berpenampilan sehari-sehari layaknya seorang laki-laki. Hinata menelan ludah, ini pertanyaan yang sulit. "Hinata, jawab saja seperti yang ada di pikiranmu!"
"K… Ku… Kumaqi-chan," jawab Hinata sedih padahal dia sendiri yang memilih nya. Sakura meringis, ternyata temannya ini benar-benar menyimpang. Hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja.
"Sudah kuduga. Baik, kalau begitu. Hinata, ambil kertas dan bolpoin," perintah Sakura.
"Untuk apa?" tanya Hinata bingung.
"Ambil saja, nanti kau juga tahu." Hinata mengikuti apa yang Sakura perintahkan. Ia mengambil sebuah buku dan tempat pensilnya dari meja belajar dan kembali duduk dihadapan Sakura. "Sekarang tuliskan tiga hal setiap satu baris. Aku bukan lesbi, lesbi itu menjijikan dan aku suka laki-laki. Tulis kalimat itu sebanyak seribu kali."
"Heeee, kau menyiksaku Sakura. Seribu kali itu banyak sekali," protes Hinata.
"Aku tidak menyiksamu. Aku ini menyelamatkanmu dari kegelapan. Ingat selain menulis, kau juga harus paham apa yang kau tulis. Bertekatlah kau akan sembuh dan tidak menjadi lesbian lagi." Hinata tak mengatakan apapun, wajahnya memelas mengharap keringanan dari Sakura. "Kenapa diam saja, ayo lakukan."
"Hai," jawab Hinata sedikit ketakutan. Temannya itu jika marah wajahnya yang cantik berubah menjadi monster. Hinata mulai menulis seperti yang sakura perintahkan.
"Aku bukan lesbi, lesbi itu menjijikan dan aku suka laki-laki. Tulis kalimat itu sebanyak seribu kali," tulis Hinata sambil bergumam.
Dua jam, tiga jam berlalu. Akhirnya Hinata bisa menyelesaikan perintah Sakura. Tangannya seakan mau lepas dari bahunya. Gadis bermata lavender itu tersenyum puas, ia bertekad untuk merubah dirinya. Semoga usahanya membuahkan hasil. Ia juga berusaha untuk menghilangkan perasaannya pada KumaQi.
"Sakura, aku sudah selesai. Aku berhasil menyelesaikannya. Aku akan menulis hal ini setiap harinya," ucap Hinata gembira. Sakura tersenyum senang, melihat tekad sahabatnya yang ingin sekali sembuh. "Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
"Kau benar-benar bersemangat ya Hinata-chan," tanya Sakura bangga, Hinata pun mengangguk. "Sekarang, tempelkan semua poster Yamazaki Kento milikmu diseluruh dinding kamarmu."
"Apa? ibuku pasti akan memarahiku karena ini. Poster tidak boleh ditempel karena akan merusak cat dinding."
"Tidak apa-apa, yang penting kau sembuh. Jika ibumu memarahimu, dengar saja jangan membantah. Setelah marah pasti akan baik lagi."
Hinata menangguk, ia berdiri dan mengambil koleksi poster Yamazaki Kento yang ia simpan di lemari. Hinata dan Sakura membantu memasangkan poster-poster itu hampir diseluruh dinding kamar Hinata. Keduanya bekerja keras. Hinata memiliki berbagai macam jenis poster idolanya itu. Mulai dari yang terkecil sampai dengan Jumbo. Khusus yang berukuran Jumbo, Sakura sengaja meletakkannya tepat dihadapan ranjang Hinata. Hal ini dilakukan agar Hinata mengingat kembali bahwa yang ia sukai adalah pria seperti Yamazaki Kento sebelum ia tidur.
Mereka berdua berbaring setelah menyelesaikan semuanya. Memasang poster diseluruh dinding memang cukup melelahkan. Hinata menerawang poster Yamazaki Kento yang berukuran super besar. Ia terdiam sambil memikirkan sesuatu. Benar, laki-laki seperti Yamazaki Kentolah yang ia suka. Dari dulu, ia ingin menikah dengan orang yang mirip dengan pria ini.
"Hinata, mulai sekarang jangan bertemu pernah lagi dengan KumaQi. Jika ia menghubungimu, abaikan saja. Menjauhlah, aku yakin dengan begitu kau akan melupakan perasaanmu padanya.
"Ehmm, aku mengerti. Sakura-chan," ucap Hinata penuh semangat.
"Hinata-chan, Ganbatte."
Hinata tersenyum lebar pada Sakura. Sakura juga tersenyum senang. Sebagai seorang sahabat, Sakura tak inging melihat Hinata sedih dan merasa terbuang, Ia ingin memberi semangat kepada Hinata untuk menghadapi masalah ini.
ooOOoo
Tiga minggu berlalu, selama itu pula Naruto tak bisa menghubungi Hinata. Nomor Hinata tak lagi aktif. Sepertinya Hinata mengubah nomer ponselnya. Sudah berkali-kali Naruto berusaha bertemu dengan Hinata baik di sekolah maupun di rumah, namun gadis itu selalu menjauh darinya. Naruto menyerah dan sudah dua minggu ini ia tak pernah lagi berusaha bertemu atau pun menghubungi Hinata. Jujur, Naruto begitu merindukan gadis itu. Dadanya terasa sesak setiap kali memikirkannya. Ini semua karena kesalahannya. Ciuman itu membuat Hinata berubah dan tak mau menyapanya lagi. Waktu itu ia terbawa suasana, Naruto lupa jika ia adalah seorang perempuan dimata Hinata. Tentu saja, gadis itu akan berpikir yang macam-macam tentangnya. Naruto melihat dirinya sendiri dalam kaca kamar mandi. Hidupnya terasa hampa tanpa Hinata. Ia mencintainya.
Ting tong ting tong ting tong
Bel rumah Naruto berbunyi berkali-kali tanpa aturan. Terdengar berisik dan begitu menyebalkan. Siapa orang yang memencet bel pagi-pagi seperti ini? Naruto keluar dari kamar mandi, emosinya tersulut oleh orang yang seenaknya memencet bel rumah orang tanpa sopan santun. Tangan Naruto yang halus memutar daun pintu lalu kemudian membukanya. Naruto menelan ludah, ia tampak shock melihat Sakura berdiri didepan rumahnya. Sakura melongo, bibirnya terbuka melihat Naruto bertelanjang dada dan hanya mengenakan trining hitam.
"Sa-Sakura-chan," ucap Naruto terbata-bata.
"Qi-chan... ." Sakura mengalihkan pandangannya di dada Naruto yang terlihat agak bidang dan sedikit kekar. Dadanya rata dan tak ada bejolan. Glek, Sakura penasaran, apakah matanya yang mungkin bermasalah. Pleek, Sakura meletakkan kedua tangannya di dada Naruto yang rata. "Rata, benar-benar rata." Merasa malu dengan perbuatan Sakura, Naruto segera melepaskan tangan Sakura dari dadanya.
"Sakura apa yang kau lakukan?!" tanya Naruto malu.
"Qi-chan, kenapa dadamu tidak ada benjolannya? Ra-rata… ?"
"Heh?" Naruto beralih melihat dadanya. Ahh dia paham, selama ini Sakura menganggapnya seorang perempuan seperti Hinata. Jadi wajar kalau dia terkejut melihat kenyataan yang sebenarnya. "Ahh, ternyata seperti itu."
"Bagaimana mungkin seorang perempuan dadanya rata seperti itu?" tanya Sakura bingung.
"Dari lahir dadaku memang rata," jawab Naruto asal. Sakura melongo, ia tak paham dengan arah pembicaraan Naruto. "Aku laki-laki tentu saja dadaku rata," ucap Naruto kesal.
"Heeeeh, a-apa? kau bilang apa? laki-laki," tanya Sakura tak percaya.
"Masuklah."
ooOOoo
Sakura menyeruput teh hangat buatan Naruto. Niat awal dia datang ke rumah Naruto alias KumaQi untuk memarahinya habis-habisan. Ia tak tahan melihat Hinata yang tampak tertekan. Ia berpikir, melupakan KumaQi adalah cara yang tepat dan solusi terbaik tapi ternyata Hinata semakin galau bahkan sering menangis karena merindukan orang ini. Setidaknya, sekarang Sakura lega mengetahui bahwa KumaQi adalah seorang laki-laki sejati. Ia juga baru tahu kalau seorang cosplayer bernama samaran KumaQi ini adalah seorang atlet basket putra di Sekolahnya. Sakura melirik Naruto sejenak, pria itu memakai kaos putih polos dan trining hitam. Penampilannya begitu santai, ia baru menyadari bahwa pria ini terlalu tampan. Pantas saja Hinata jatuh cinta padanya.
"Ada perlu apa, Sakura-chan?" tanya Naruto santai.
"Sebelumnya aku minta maaf telah menganggapmu seorang perempuan. Aku sama sekali tak menyangka jika kau laki-laki."
"Hal itu sudah biasa, jadi aku tak terkejut sama sekali," jawab Naruto ramah.
"Lalu untuk apa kau mengaku bahwa kau perempuan di dunia maya?"
"Jika para penggemarku benar-benar menyukaiku secara tulus, mereka tentu tak mempersalahkan apa genderku. Mereka menyukaiku bukan karena semata-mata ketampananku tapi menyukaiku karena karyaku. Bukankah seru jika mereka masih menerka-nerka apa genderku yang sebenarnya? Hehehe."
Tak bisa dipercaya, ia membuat pengakuan seperti itu dihadapan para penggemarnya hanya karena ingin melihat mereka sibuk berdebat tentang gendernya. Gara-gara tingkah konyolnya itu membuat sahabatnya hampir gila dan ketakutan setengah mati jika ia seorang lesbian. Sakura mengambil bantal di sofa dan memukul kepala Naruto berkali-kali.
"Aduh, Sakura-chan, sa-sakit!" rengek Naruto kesakitan. Sakura menghentikan pukulannya dengan amarah yang membara. "Kenapa kau memukulku?!"
"Gara-gara kau Hinata hampir gila. Gara-gara dia mencintaimu, ia selalu berpikir dirinya seorang lesbian dan pergi ke pskiater. Semakin ia berusaha melupakanmu semakin besar ia merindukanmu!" teriak Sakura penuh amarah.
"Apa? Hinata mencintaiku?" tanya Naruto tak percaya.
ooOOoo
Hinata termenung menatap poster jumbo Yamazaki Kento yang ada dikamarnya. Mata lavendernya melihat seluruh dinding kamarnya yang penuh dengan wajah tampan aktor kesayangannya ini. Beribu ekspresi tampan Kento, tak membuat Hinata bisa melupakan dan menghilangkan perasaanya terhadap Naruto. Berpuluh lembar kertas ia habiskan untuk terapi sugesti dirinya sendiri dan menulis dia bukan lesbian, tetap saja hatinya hanya untuk Naruto. Seberapapun ia berusaha untuk menghindarinya, menjauhinya dan melupakannya semakin kuat pula rasa cintannya. Hinata tak tahu apa yang harus ia lakukan, mungkin dia memang di takdirkan oleh Tuhan sebagai seorang perempuan yang menyimpang dari kodrat. Ponselnya tiba-tiba berdering membuyarkan lamunanya. Hinata menerima sebuah pesan dari Sakura.
Hinata-chan, temui aku aku dilapangan basket terdekat. Aku ingin kau menemaniku. Aku bosan sendirian.
Hinata tersenyum manis setiap membaca pesan dari Sakura. Gadis itu selalu saja bisa membuatnya tertawa, menghiburnya saat sedih dan menyemangatinya setiap kali ia terpuruk. Hinata beranjak dari ranjangnya, ia mengambil jaket dari belakang pintunya lalu pergi keluar. Lagu Utada Hikaru – First Love, menemani jalan Hinata dalam kesunyian malam. Hinata tersenyum ketika ia melihat seseorang asyik bermain basket sendirian dari kejauhan. Hinata bertanya-tanya, sejak kapan temannya bisa bermain basket. Tanpa ragu Hinata melangkahkan kakinya dan mendekati Sakura.
"Sakura chan…. ," intonasi suara Hinata berubah ketika ia tahu bahwa sosok itu bukan Sakura tapi Naruto. Hinata diam, tubuhnya tak bisa digerakkan seperti patung. Ia ingin segera pergi dari sini tapi tatapan tajam Naruto membuat kakinya tak bisa bergerak.
"Hinata-chan," sapa Naruto sambil tersenyum.
"Dimana Sakura?" tanya Hinata gugup sambil melepas earphone dari telinganya.
"Sakura, tidak pernah kesini. Aku yang menyuruhnya untuk mengirim pesan padamu. Jika tidak begitu, aku tidak bisa bertemu denganmu," ucap Naruto sambil melempar bola basket kedalam ring. Masuk dan ia mendapatkan tiga poin.
KumaQi dari segi apapun dia memang seperti laki-laki, tampan dan Hinata baru tahu jika ia bisa bermain basket. Naruto tersenyum, ia pun kemudian berjalan mendekat kearah Hinata. Gadis cantik itu menunduku karena jarak wajahnya dan wajah Naruto begitu dekat. Ia teralalu gugup dan mundur dua langkah untuk menjaga jarak. Naruto hanya tersenyum melihat Hinata yang mencoba menghindarinya.
"Hinata, kenapa kau menjauhiku?" tanya Naruto tanpa basa-basi. Hinata tak langsung menjawab, ia bingung harus mengatakan apa. Tak mungkin jika ia mengatakan yang sebenarnya.
"Aku ingin fokus dengan sekolahku. Sebentar lagi akan diadakan ujian masuk universitas. Aku harus belajar dengan giat agar orang tuaku bahagia. Jadi, maafkan aku," ucap Hinata bohong.
"Benarkah tapi aku lihat kau selalu bersama Sakura dan banyak menghabiskan waktu bersamanya," bantah Naruto dengan tatapan tajam.
"KumaQi-chan itu aku dan Sakura…. ."
"Jangan bohong, bukan itu kan alasanmu yang sebenarnya. Aku yakin bukan itu. Apa karena aku menciummu saat festival tanabata, lalu kau begitu marah padaku? Aku minta maaf jika memang hal itu membuatmu marah. Aku hanya terbawa suasana."
"Apa kau bilang? Terbawa suasana katamu. Lalu karena terbawa suasana kau seenaknya saja mencium orang lain. Kau pikir aku apa?! Kau pikir perbuatanmu waras! Kau perempuan, kenapa kau menciumku?! Apa kau pikir aku laki-laki! Perempuan mencium perempuan apa itu wajar!" ucap Hinata berapi-api.
"Jadi benar kau marah denganku karena aku menciummu. Kau menghindariku karena hal itu," tanya Naruto datar.
"Bukan, bukan itu alasan sebenarnya," gumam Hinata.
"Lalu apa alasannya?"
"Percuma, aku mengatakan hal ini semuanya percuma. Aku hanya ingin kembali menjadi gadis normal sebelum mengenalmu. Aku menghindarimu karena aku ingin diriku yang dulu kembali. Aku tahu hubunganku dan denganmu ini mustahil maka dari itu aku menjauhimu. Ini semua salahmu kenapa kau terlalu baik padaku dan menciumku. Kembalikan diriku yang dulu!" emosi Hinata memuncak. Cairan bening mulai mengalir ke pipinya. Ia tak tahan lagi untuk tidak menunjukan perasaan dan kekesalannya.
"Apa aku salah mencium seorang gadis yang aku cintai?" tanya Naruto, matanya yang biru menatap tajam ke arah mata lavender Hinata.
"Kau gila, kau benar-benar gila. KumaQi-chan kau memang benar-benar gila!" teriak Hinata. "Kau itu perempuan seharusnya kau mencintai laki-laki bukan aku. Kau tak tahu kalau aku perempuan. Apa kau buta?! Kau membuatku gila, kau telah membuatku menjadi seorang lesbian. Apa kau tahu betapa depresinya aku ketika aku sadar mencintai perempuan sepertimu!"
Naruto terdiam, ia tak mengatakan apapun. Ia ingin Hinata mengatakan semua yang ia rasakan. Ia tahu Hinata begitu tertekan dan frustasi karena menganggap dirinya seorang lesbian. Naruto hanya bisa melihat Hinata yang menangis sepuasnya. Dengan begini hatinya akan jauh lebih baik.
"Perempuan. Cihhh, siapa bilang aku perempuan? Hinata apa kau benar-benar bodoh sehingga kau tak bisa membedakan fisik, suara, tingkah, sikap antara perempuan dan laki-laki," tanya Naruto blak-blakkan. Ia begitu gemas dengan Hinata.
"Apa maksdmu itu Qi-Chan?" tanya Hinata polos.
"Aku tidak menyangka kau akan semudah itu mempercayai artikel yang bertebaran di Internet tentang diriku. Aku diam saja karena aku ingin kau tahu dengan sendirinya siapa aku sebenarnya."
"Apa, aku sama sekali tak mengerti Qi-chan?"
"Nama asliku Uzumaki Naruto dan aku… ." Naruto melepas jaket dan kaosnya tepat di depan Hinata. Pria tampan itu bertelanjang dada tanpa malu. "Seorang laki-laki."
Hinata tercengang, matanya yang indah melihat Naruto mulai dari atas sampai bawah. Sekarang ia fokus melihat bagian dada Naruto. Rata, tak ada benjolan dan bidang. Hinata sadar, Hinata sekarang tahu KumaQi adalah laki-laki tulen bukan perempuan. Perasaanya begitu lega dan bahagia, ternyata orang yang selama ini di cintainya adalah seorang laki-laki bukan perempuan.
"Jadi kau… ,"
"Benar Hinata-chan, aku seorang laki-laki bukan perempuan," ujar Naruto.
"Tapi bagaimana bis…."
Naruto menyambar begitu saja bibir Hinata yang mungil. Ia mencium Hinata dengan sepenuh jiwanya. Ciumannya begitu lembut selaras dengan perasaannya untuk Hinata. Gadis bersurai ungu itu sekarang mengerti jika Naruto itu laki-laki bukan perempuan. Hinata tak lagi ragu membalas ciuman panas dari Naruto. Keduanya saling berpagut, Naruto melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hinata. Sedangkan Hinata memeluk bahkan membelai rambut Naruto dengan tangannya. Saat keduanya mengakhiri ciuman panas mereka. Keduanya tertawa mengingat kesalahpaham yang terlah terjadi antara mereka berdua.
"Kau bukan seorang lesbian, kau gadis normal karena mencintai laki-laki," goda Naruto sambil mengacak-acak rambut Hinata.
"Kau ini memang pembuat masalah. Apa kau tahu betapa sulitnya menghadapi kenyataan bahwa aku mencintai seorang perempuan?"
"Hahaha, iya aku tahu dan aku mengerti."
"Tapi benarkah kau seorang laki-laki?" tanya Hinata polos dan ingin sedikit menggoda Naruto.
"Apa perlu kita mandi bersama agar kau tahu bagaimana milikku?" Naruto membalas godaan Hinata secara vulgar. Hinata tak melanjutkan kata-katanya, wajahnya memerah, ia begitu malu mendengar kalimat seperti itu. "Ha..ha…hachiiimmm."
"Naruto kau kenapa?" tanya Hinata bingung.
"Sepertinya aku terserang flu. Ha…Hachuimmm."
"Kau ini memang bodoh, siapa suruh kau membuka baju disaat cuaca dingin seperti ini," omel Hinata.
"Kalau aku tidak melakukan hal ini, sampai kapan pun kau tak akan percaya kalau aku laki-laki," Naruto tak terima Hinata memarahinya karena membuka baju dicuaca dingin seperti ini. Lagi pula dia melakukan semua ini demi Hinata.
"Naruto-kun, Daisuki da (aku sangat menyukaimu)"
Naruto tersenyum senang mendengar Hinata mengatakan hal semacam itu padanya. Ia juga menyukai gadis ini. Ia berjanji akan selalu membahagiakan Hinata sampai kapanpun.
"Hinata, Zettai ni shiawase ni suru kara (Aku berjanji akan membahagiakanmu)."
Mendengar janji Naruto, Hinata tak bisa berkata banyak. Ia memeluk Naruto erat. Ia tak ingin Naruto meninggalkannya untuk yang kedua kalinya. Berpisah dengannya walau cuma hitungan minggu rasanya begitu berat. Ia juga berjanji akan membahagiakan Naruto selama hidupnya.
"Hinata-chan, apa kau masih ingat, kau pernah telanjang bulat di depanku?" goda Naruto. Kepala Hinata seperti dipukul seseorang secara bertubi-tubi. Benar, dia ingat dia pernah tanpa rasa malu bertelanjang ria di depan Naruto. Itu sungguh memalukan, bagaimana bisa ia bertelanjang ria di depan seorang pria. Hinata tak bisa mengatakan apapun, ia terlalu shock. Wajahnya yang putih pun memerah seperti kepiting rebus. "Saat itu, kau terlihat sangat seksi hehehe," bisik Naruto manja.
"Naruto-kun!" teriak Hinata menahan rasa malu. Pria berambut pirang itu berlari menjauhi Hinata. Hinata tak terima, ia berusaha mengejar Naruto dan menyumpal mulutnya. "Awas kau ya, jangan meledekku seperti itu!"
THE END
Yang penasaran siapa Yamazaki Kento, cari saja di google. Aku sekarang lagi fangirlingan ke dia dan perlu kalian ketahui Yamazaki Kento adalah aktor jepang yang bisa membuatku Move On dari Kumaqi. #gagpenting :v
