A/N: Maaf update lama, thx buat yang udah riview dan juga nge-fave fict ini. Umn... di chap ini temanya seneng-seneng, ya sekali-sekali ngasih kebahagian ke semua tokoh di chap ini, kan kasian tiap hari kerjanya merena terus. Dan di chap. Ini lebih panjang dari biasanya so... happy reading dan jangan lupa Riview lagi...^3^... Oh iya buat yang bingung soal penggantian karakter Sakura, ingetin aja sifat asli Sakura tuh yang pesimis, pelupa, sering bertanya-tanya tentang segala sesuatu, sering berangan-angan, pengetahuannya luas, tukang tidur, hobinya membaca. Soal keahlian dia hanya bisa menggambar,jadi keahliannya yang lain dia dapat dari ego yang lain.
Hei Tuhan, saat ini kamu tidak sedang tidur bukan?
Boleh aku bertanya sesuatu padamu?
Hhh, kau tidak menjawab.
Oke aku langsung saja.
Kamu sayang tidak denganku?
Kalau iya kenapa kamu selalu membuat takdir mempermainkan aku?
Terus ... terus ... dan terus ...
Go on!
Chapter 3
Ayo bermain dengan takdir!
"Nee-chan, ayo turun.. Kaa-san sudah menyiapkan sarapan."
Aku mendengar suara Moegi yang sangat manis, aku pun cepat-cepat keluar dari kamarku dan menyusul Moegi yang sudah ke bawah duluan. Sesampainya di meja makan aku langsung berkata "Ohayou minna-san!" dengan penuh semangat. Lalu aku duduk di sebuah kursi makan yan letaknya berhadapan dengan Moegi.
"Masakan Kaa-san enak sekali," seruku sambil mengunyah makanan.
"Tapi kamu tidak perlu makan terburu-buru seperti itu, kalau tersedak bagaimana?"
"Nee-chan suka apa rakus sih?"
"Haffa-haffaan fiihh?...Uhuk.. uhuk.."
"Makanya jangan bicara sambil makan, ayo minum." Tou-san ku memberi segelas air putih dan menepuk-nepuk punggungku.
"Gomen~.." kataku dengan volume yang dikecilkan.
"Sudah tidak apa-apa, lain kali jangan diulang ya.." Kaa-san ku mengelus rambut merah muda yang biasa aku gerai. Tiba-tiba ...
'CTEK'
"Matikan LCD-nya sekarang, sekarang bukan saatnya menonton film." Aku seperti mendengar suara Asuma-sensei.
'Tunggu dulu.. Asuma-sensei? Kenapa dia ada di rumahku? LCD? LCD apanya?'
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku, menggeleng-gelengkan kepalaku, dan memukul pelan pipi putihku. Setelah kesadaranku kembali pulih seutuhnya, aku melihat sekelilingku. Aku melihat Kankuro si jangkung sedang mematikan proyektor yang dari tadi di gunakan untuk memutar video dari komputer kelas. Video? Ternyata itu hanya mimpi. Lagi pula hal itu sangatlah tidak mungkin. Walaupun aku selalu beranggapan tidak ada yang tidak penting, tapi kalau yang satu ini lain.
Kami-sama, kenapa kau membangunkan aku? Kau tak tahu betapa lelahnya diriku di dunia nyata? Baru kali ini aku mendapatkan mimpi seindah itu. Apa kau tidak menyukaiku Kami-sama?
'Apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku lebam-lebam begini? Kenapa semua orang terlihat takut melihatku? Apa yang terjadi?'
Pertanyaan-pertanyaan yang sejenis terus menggema di dalam pikiranku. Semua mata tertuju padaku, seperti slogan iklan sebuah produk. Andai saja mereka melihatku seperti itu aku sih akan merasa senang, tapi kalau tatapannya seperti ini sih serasa menjadi preman yang ditakuti orang-orang.
Moegi pagi ini juga aneh, badannya dipenuhi perban dan ada beberapa luka di wajahnya, apa yang terjadi padanya? Pasti bukan Ayah dan Ibu yang membuatnya menjadi seperti itu. Gak mungkin banget deh, lalu apa? Tatapan matanya ketika melihatku penuh ketakutan dan juga kebencian.
Sudahlah Sakura, jangan terlalu memikirkan hal itu.
Ting ... Tong ... Ting ... Tong ...
Suara bel istirahat hari ini terdengar lebih nyaring, apa istirahat ini akan ada sesuatu yang menyenangkan? Gak mungkin, Tuhan kan senang sekali mempermainkan takdirku, kejadian menyenangkan sesaat hanya dapat melukai hatiku saja.
Lagi-lagi tatapan yang sama kembali muncul. Argh! aku benci berjalan melewati koridor ini! Aku mempercepat langkahku, tolong catat baik-baik aku sangat benci diperhatikan orang seperti ini.
Kubuka pintu besi yang memberikanku jalan menuju atap sekolah. Bukan atap kotor dengan sampah yang melainkan atap sekolah dengan beberapa bangku dan juga bunga warna-warni di sekelilingnya. Untuk sekolah dengan harga yang murah fasilitas ini sangat luar biasa, sayangnya banyak murid yang lebih suka duduk di bawah pohon daripada ke atap. Tapi ini menjadi keuntungan tersendiri untukku, semakin sepi semakin senang aku.
Aku langsung menempati spot favoritku dan mulai merebahkan tubuhku di atas bangku taman. Oh iya aku juga membawa buku untuk dibaca atau untuk penutup mukaku saat aku tidur nanti.
Buku yang kali ini aku baca tentang Issac Newton, tau kan yang terkenal gara-gara teori apel jatuh dari atas pohon. Hanya karena hal yang sepele otaknya bisa mencerna hal kecil itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang hebat. Apa ini juga berlaku padaku? Apa jika aku menggunakan otakku untuk mengubah diriku menjadi hebat seperti otak Newton yang membuat sebuah apel menjadi sesuatu yang berharga? Atau seperti pemilik perusahaan Apple yang membuat kata Apple menjadi begitu terkenal dan sangat di incar.
15 menit kemudian.
Praanngg..
"Heh?" Aku terbangun dari tidurku, padahal aku baru saja mendapat mimpi yang indah.
"Mengganggu saja, apa-apaan sih?" Aku berjalan mendekati sumber suara.
Aku melihat seorang anak laki-laki yang sepertinya satu angkatan denganku menatap lirih sebuah biola yang saat ini berada di bawah kaki seorang kakak kelas. Ah benar-benar mengganggu, apa mereka tidak tahu beberapa hari ini aku susah tidur? Tentu saja tidak, memang mereka orang tuaku? Orang tuaku saja tidak tahu apa lagi mereka. Umn memangnya aku punya orang tua ya? Aku dari tadi bertanya dengan siapa sih?
"STOP!" aku berteriak kesal, bukan karena mereka yang ada di hadapanku sekarang melainkan suara-suara yang dari tadi mengisi pikiranku.
"Eh lu ngapain dateng-dateng teriak begitu! Mau gua hajar?" Kata si gendut.
"Gendut aja belagu.." sepertinya saat ini kata-kata yang keluar dari mulutku tidak bisa dikontrol.
"Apa lu bilang?"
"Hati-hati bos, dia anak kemarin yang ngalahin Yuka, Reiko, dan Mikan." Kata si cungkring yang ada di sebelahnya.
"Hah siapa? Ngalahin?" Aku malah kebingungan sendiri.
"Gak usah sok cupu deh!" Si gendut mengarahkan sebuah tonjokkan ke arah mukaku, sayangnya aku dengan mudahnya menghindar. Saat aku menghindar laki-laki yang dari tadi diam menarik tanganku sambil membawa biola di tangan kanannya.
Sekitar 10 menit kita berlari, dan sekarang kami bersembunyi di dalam gudang.
"Hei kenapa kita harus lari sih?" Aku mengeluh, bukan karena tidak terbiasa berlari tapi karena luka di kakiku—yang aku tidak ketahui apa penyebabnya.
"Dari pada kita harus berurusan dengan mereka, lagi pula berantem tuh gak baik."
"Sok alim."
"Hn,"
Ia diam dan melihat ke arah biolanya sedangkan aku meratapi kakiku yang mulai mengeluarkan darah perlahan-lahan, memangnya tadi kakiku terkena apa sampai-sampai berdarah seperti ini? Argh, lagi-lagi lupa. Untungnya bukuku masih berada di tanganku, dari pada mendengar suara jangkrik atau suara angin aku lebih memilih membaca atau berbicara sendiri di dalam otakku.
"Hei kakimu berdarah.." Aku mendengar suaranya.
"Biar saja, Cuma darah. Darah gak akan memakanmu." Aku tidak peduli dengan hal itu, tatapanku masih lurus ke arah buku.
"Bukan masalah memakan atau nggaknya, kalau gak dibersihin bisa bahaya." Ia mengatakannya dengan nada khawatir, dasar ciri-ciri anak PMR.
"Urus saja biolamu, jangan pedulikan kakiku, hooamm.." Aku menguap.
"Argh.. biolaku juga mengerti tahu.." aku melirik ke arahnya dan melihat ia mengambil sapu tangan dari kantungnya. Ia menghapus darah di kakiku. Setelah bersih, ia mengambil plester dari kantungnya dan menempelkannya di kakiku. Aku hanya diam, dan akhirnya aku teringat kata-kata anak perempuan saat aku melewati lorong sekolah.
Flasback
"Eh, masa kemarin Psychonyerang kakak kelas loh!" kata si A.
"Tau dari mana?"
"Gue denger dari anak kelas E. Kemarin ada anak kelas E di gencet sama kakak kelas, terus katanya Psychonolongin dia."
"Masa sih? Gue gak ngira dia bisa begitu."
"Ssssttt...Eh ngomongnya pelan-pelan, orangnya lewat tuh."
Aku hanya berjalan tanpa menghiraukan perkataan mereka. Suara mereka terlalu besar tentu saja aku bisa mendengarnya, karena tidak penting jadi kuabaikan saja.
End flashback
'Ternyata itu, dasar ego bodoh. Kenapa kau harus melakukan hal itu sih?'
0o0o0
"Anak PMR?" Aku bertanya padanya saat ia sedang memasang plester di kakiku.
"Hn,"
"Terima kasih sudah melakukan hal yang tidak berguna."
"Apa katamu sajalah..." Sepertinya dia sudah pasrah, anak baik.
"Kenapa mau aja menolong orang asing?"
"Moto hidup yang isinya menolong setiap manusia yang terluka kenal maupun tidak kenal."
"Boleh aku lihat biolamu?"
"Hn," ia memberikan biolanya kepadaku.
"Biola yang kuat, hanya string-nya saja yang rusak." Aku memperhatikan biola itu, lalu mengeluarkan string yang ada di leherku yang ku bentuk sebagai kalung.
"Hh?" ia sepertinya merasa aneh melihat orang menggunakan string sebagai kalung.
"Pekerjaan sambilan, reparasi alat musik string. Aku malas mengambil string dari lemari, lebih baik begini kan."
"Oh.."
"Mungkin hanya ini cara untuk membalas kebaikan orang asing," tidak lama setelah itu biola itu sudah terlihat kembali seperti semula, aku memberikan biola itu kembali padanya.
"Mau lagu apa?" tanyanya kepadaku.
"Bach – Prelude from Suite No.1 in G major for Cello bisa gak versi biolanya?" aku memang kurang menyukai biola, aku lebih memilih cello.
"Untung saja aku pernah memainkannya sebelum ini." Ia bersiap untuk bermain. Cara ia memegang bow dan biola sangat unik, aku penasaran suara seperti apa yang akan dihasilkannya.
Entah kenapa dipertengahan permainanya sebuah senyum terukir di wajahku, suaranya begitu lembut. Detak jantungku dibuatnya seirama dengan gesekkan bownya.
Indah sangat indah, sudah sering aku melihat orang-orang bermain biola tetap permainannyabenar-benar berbeda, unik dan akan selalu teringat. Saat ia mengakhiri permainannya satu patah kata yang keluar dariku,
"Keren..." Mataku menatapya kagum.
"Benarkah?" sepertinya ia merasa senang mendengar pujianku.
"Benar kok, suaranya bagus, teknik juga, ekspresimu saat bermain juga keren, dan di bagian terakhir yang paling keren! Memangnya belum pernah ada yang bilang?" Ya bagian terakhir saat ia tersenyum puas setelah memainkan lagu itu.
"Keluargaku tidak pernah berkomentar, dan ini pertama kalinya aku tampil di hadapan orang lain selain mereka."
"Well, kalau begitu aku adalah orang pertama yang memujimu kan tuan tanpa nama?"
"Benar sih, tanpa nama?"
"Memangnya kamu sudah memberi tahu namamu?"
"Maaf aku belum memperkenalkan diriku, aku Uchiha Sasuke dan kamu?"
"Aku?"
'Nama, siapa namaku? Aku LUPA?'
"Kamu tidak tahu namamu sendiri?" dia terlihat bingung.
"Tunggu," aku mengambil bukuku dan melihat namaku tertulis di halaman depan.
"Namaku Sakura,"
"Sering lupa?"
"Sepertinya begitu, tapi aku lupa seberapa sering aku melupakan sesuatu."
"Sepertinya sering sekali, hei sepertinya sekarang istirahat sudah selesai. Lebih baik kita kembali."
"Kembali?"
"Jangan-jangan kamu lupa kelasmu yang mana?"
"Hehe, kan ada ini.." aku menunjukan tulisan kelasku yang tertera di bukuku.
"Jangan sampai nyasar ya.."
"Iya teman asing baru."
"Secepat itukah kamu melupakan namaku?"
"Maaf.."
"Sudahlah cepat kembali ke kelasmu,"
"ya.."
Aku berjalan ke arah kelasku, tapi sepertinya aku tidak memiliki niat sama sekali untuk belajar sekarang. Lebih baik aku balik ke atap di sana aku bisa tidur sepuasnya di bandingkan tinggal di kelas mendengar guru BK berbicara hal-hal yang menurutku sih gak penting. Hanya satu jam pelajaran saja kok..
Sampai di atap aku langsung tidur lagi di spot yang biasanya, kututup wajahku dengan buku yang dari tadi aku bawa.
'"Zzzz.."
4 jam kemudian
Ting ... tong ... ting ... tong ...
Selalu saja begini, lagi-lagi aku ketiduran sampai bel pulang sekolah berbunyi. Kenapa coba? Padahal aku kan tidak melakukan hal-hal yang melelahkan. Hh, jangan-jangan salah satu dari mereka.
Aku mengehela nafas dan bangun dari posisiku. Catatan, kalau mau bolos atau tidur di atap lagi tas harus dibawa juga. Aku menuju kelasku sambil berlari, lebih cepat lebih baik bukan? Apa lagi aku ada kerja sambilan sepulang sekolah di sebuah toko dekat stasiun. Aku bekerja di sana baru beberapa bulan, sepertinya hampir setahun. Aku bekerja sebagi pembuat biola dan seperti yang sudah aku katakan aku, bisa dibilang tukang reparasi alat musik gesek. Untungnya dulu aku pernah tinggal selama dua tahun bersama kakekku yang memiliki profesi sama denganku, kalau tidak dari mana aku bisa mendapat uang untuk biaya internet dan kebutuhan sekunderku? Kalau soal kebutuhan primer seperti sekolah, makan, dan pakaian sih—orang yang ngakunya—orang tuaku yang membiayai.
Jangan salah loh, walaupun baru beberapa bulan aku bekerja uang yang aku hasilkan bisa dibilang cukup banyak. Satu biola yang ku buat haragnya lumayan loh, apa lagi sekarang sudah jarang biola buatan tangan. Kata pemiliki toko, Chiyo-san, suara biola yang ku buat bagus, apa mungkin aku memiliki bakat?
Setelah tasku sudah kudapatkan, aku langsung pergi menuju toko musik tempatku bekerja. Jaraknya tak terlalu jauh dari sekolah tetapi jauh dari rumahku. Semakin jauh dari rumah, semakin jauh dari kesengsaraan. Oh iya, orang-orang rumahku tidak tahu kalau aku bekerja sebagai pembuat biola, lebih baik begini kan...
TRINGG
Suara lonceng pada pintu berbunyi seakan-akan menyambut kehadiranku di toko itu. Aku melangkah masuk dan menyapa wanita berumur 40 tahun yang tersenyum ke arahku.
"Selamat datang Sakura-chan, tumben sekali kamu telat.."
"Maaf, Chiyo-san..." Aku membungkukkan badanku.
"Tidak apa-apa, setelah kamu mengganti pakaian jangan masuk dulu ke ruangan kerjamu aku ingin memperkenalkanmu kepada karyawan baru."
"Hai ..." Aku langsung bergegas masuk ke ruang ganti. Karyawan baru? Perempuan atau laki-laki ya? Apa masih muda sepertiku atau sudah berumur 20-an? Ayo cepat Sakura, semakin cepat kau mengganti pakaian, semakin cepat juga kau mendapatkan jawaban.
Yap, akhirnya aku selesai mengganti pakaian dan kembali ke tempat Chiyo-san berada. Sepertinya dia yang akan menjadi partnerku, gadis bersurai indigo dengan kulit begitu pucat dan iris lavender yang unik. Cantik, itu kesan pertamaku ketika melihatnya dari jarak yang agak jauh.
"Sakura-chan, cepatlah!" Chiyo-san terlihat tidak sabar ingin memperkenalkan karyawan barunya padaku.
"Hai!" Aku mempercepat langkahku, dan ketika sampai aku melihat sepasang bola mata lavender yang sangat menenangkan menatap malu ke arahku.
"Nah, Sakura-chan dia Hinata Hyuuga umurnya sama denganmu dia sekolah di Rakuo Gakuen. Dia akan menggantikanku kalau aku tidak ada, atau akan menjadi partnermu."
"Aku Haruno Sakura dari Konoha Gakuen, salam kenal Hyuuga-san." Aku tersenyum ke arahnya, kata salah satu artikel yang pernah ku baca, kesan pertama itu penting dan tersenyum hangat akan memberikan kesan pertama yang perfect.
"S-salam kenal, p-panggil aku Hinata saja.." tipe pemalu, ok aku catat baik-baik. Baru pertama kali aku berbicara pada orang seperti ini. Tentu saja, orang yang pernah aku ajak bicara sepertinya hanya sekitar delapan orang, Kakashi-sensei, perawat UKS—yang saat ini aku lupa siapa namanya—, Chiyo-san, Kakekku, Uchiha-kun, dan sisanya ketiga orang menyebalkan itu.
"Sakura-chan, Hinata-chan aku harus pergi dan sepertinya aku pulang malam. Kalau bisa kalian menjaga toko sampai aku pulang ya! Soal makanan pasti aku bawakan, hati-hati ya! Sakura-chan jaga Hinata-chan ya!" Chiyo-san terlihat buru-buru.
"Hai.." Aku dan Hinata menjawab bersamaan.
Setelah Chiyo-san pergi aku mengaligkan pandanganku ke arah Hinata yang dari tadi diam saja.
"Aku ke belakang dulu ya. Kalau membutuhkan bantuan panggil saja aku."
"H-hai..." sebenarnya dia gagap atau malu sih? Dari tadi ia berkata tersendat-sendat begitu.
Aku berjalan ke belakang toko yang merupakan ruang kerjaku, kurang lebih halaman belakang lah. Aku lebih senang mengerjakan pekerjaan ku di sini, dari pada di dalam ruangan pada hari cerah. Chiyo-san juga tidak keberatan, asal aku mengerjakan pekerjaanku dengan baik. Setibanya di sana, sebuah biola sudah menungguku untuk diperbaiki. Ternyata retak, kasihan sekali kamu biola. Hanya tinggal membuka bagian-bagiannya, menggantinya dengan yang baru lalu di rekatkan kembali. Aku mulai melepaskan bagian-bagiannya secara perlahan, takut melukai bagian yang lain. Untungnya hanya retak sedikit, kalau begini hanya butuh waktu 2 jam saja. Oh iya, selain retak beberapa stringnya juga putus. Setelah retakakan-nya sudah ditutup, aku merekatkan bagian itu. Aku menaruhnya ke ruangan untuk menunggunya kering, dan akan melanjutkannya besok. Karena hanya satu saja, berarti aku akan membantu Hinata. Kira-kira apa yang sedang ia lakukan ya?
TING
Bunyi singkat yang dihasilkan ponselku membuat tanganku reflek mengambil ponsel pada kantung celanaku. Postingan baru dari La-chan, kira-kira kali ini tentang apa ya?
Langkah kecil menuju sebuah perubahan
Bertemu dengan orang-orang baru di dimensi yang berbeda
Apa aku bisa maju
Atau hanya di tempat?
Aku harus maju, karena aku tak mau kebaikan dan senyuman mereka menjadi sia-sia
Akhirnya aku bertemu dengan mereka
Orang-orang dari dunia nyata yang melihatku apa adanya
Tersenyum kepadaku dan berkata ramah padaku
Walaupun kita baru pertama kali bertemu
Wah sepertinya dia sedang senang, sebuah perubahan? Yang ku tahu La-chan di dunia nyata pendiam dan karakternya berbeda dengan dia yang di dunia maya, dia pernah berkata begitu di salah satu postingannya.
Fleurs de cerisier :Ayo La-chan! You can do it! Boleh tau siapa yang senyum ke La-chan gak? Jangan-jangan cowok ya? Mereka? Berarti dua dong! Wah La-chan, Fle-chan gak nyangka kalau La-chan banyak yang suka.
Masih di ruangan yang sama aku tidak memasukkan ponselku melainkan berdiri di dekat pintu sambi menyandarkan punggungku padda tembok. Sepertinya nanti saja aku melihat keadaan Hinata, aku penasaran dengan balasan La-chan.
Lavender Girl :Makasih buat support-nya...
Cowok? Orang perempuan kok! Kalau cowok yang begitu sekarang aku udah ada di rumah sakit Fle-chan...Ngomong-ngomong dimanakah si Cocktail?
Cocktail, benar juga dia kemana aja ya? Udah lama gak ngebaca ocehan dia. Aku membalas sambil berjalan ke tempat Hinata, aku harus melakukan amanat Chiyo-san untuk menjaga Hinata. Apa lagi dari tadi dia gak bersuara kalau dia di culik bagaimana? Gak, gak... jangan berpikir negatif Sakura.
Fleurs de cerisier :Sama-sama, kirain cowok. Hahaha.. dasar, Cocktail? Umn, gak tau juga biasanya dia langsung datang tiba-tiba kalau kita buat posting-an. Mungkin lagi marahin orang.
Aku melihat ke arah Hinata, ia sepertinya sedang sibuk bersama ponselnya. Tidak apa-apa sih, lagi pula sedang tidak ada pengunjung dan lagi toko mau tutup. Aku berjalan mendekatinya, dan menyapanya.
"Hinata-chan, bagaimana pekerjaanmu?"
"Ah, a-aku sudah merapikan barang-baranga dan tadi ada beberapa pengunjung yang datang." Dia mengalihkan perhatiannya ari ponselnya dan melihat ke arahku.
"Chiyo-san sudah memberi tahumu tempat barang-barang?"
"Iya, tadi saat Sakura-chan sedang mengganti pakaian.."
"Owh..." aku mengangguk.
TING
Ponsel kami berdua berbunyi dan kami melihat ke layar ponsel kami masing-masing bersamaan. Postingan baru lagi, bukan dari La-chan tapi dari Cocktail. Aku langsung mengecek apa isinya, dan saat membaca judulnya aku tidak tahan menahan tawa. First sight, First ecounter, First Love maybe?Itu dia judulnya, aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tawa. Lalu aku melihat ke arah Hinata, wajahnya memerah dan menunduk, apa sms dari pacarnya ya?
Apa kalian percaya pada kesan pertama?
Apa kalian percaya pada cinta pada pandangan yang pertama?
Atau kalian tahu apa itu cinta?
Senyumnya saat mengatakkan kata-kata itu entah kenapa membuatku ingin membalas senyumnya
Senyuman yang sudah lama terukir di wajahku kini datang kembali
Saat aku melihatnya terluka
Entah kenapa tanganku bergerak sendiri untuk mengobatinya
Apa ini cinta?
Apa pertemuan yang berikutnya aku bisa melihat senyumnya lagi?
Apa bisa?
Fleurs de cerisier :HUWWWAAA! Cocktail? Kamu jatuh cinta? Kok bisa? Sama siapa?
Pandangan pertama lagi, aku gak kuat nahan ketawa!
Lavender Girl :Romanticbanget! Pasti Cocktail seneng banget nih? Siapa cewek yang beruntung yang telah mengembalikan senyum Cocktail? La-chan pasti dukung Cocktail kok!
Fle-chan : Kok di ketawain sih?
Setelah mengirim postingan dan juga membaca komen milik La-chan aku langsung memulai percakapan lagi dengan Hinata.
"Hinata-chan tadi itu dari pacar kamu?" Aku yang penasaran langsung bertanya padanya.
"P-pacar? B-bukan, Cuma teman... Aku tidak memiliki pacar."
"Aku kira pacar, habis wajahmu memerah saat membuka melihat layar poselmu."
"Memerah?" Ia memegang pipinya, "Kalau Sakura-chan, kenapa seperti menahan tawa? Ada sesuatu yang lucu?"
"Ah tidak, hanya ada salah seorang temanku yang menulis sesuatu yang sama sekali bukan dia."
"Ah... begitu, Sakura-chan, toko tutup jam 7 ya?" tanyanya.
"Iya, sebentar lagi. Ayo kita beres-beres."
Kami berdua merapikan toko dan mematikan semua lampu di lantai 1. Saat ini kami sedang berada di lantai dua. Kami duduk berhadapan di sebuah meja dengan ponsel masing-masing di tangan kanan dengan secangkir teh sebagai pelengkap.
Cocktail :Kalian ini..==v Memangnya salah? Eh Keris ngapain ketawa? Apa dia bisa merasakannya ya? Merasakan perasaanku kepadanya? Apa dia akan mebalas perasaanku? Apa iya?
Fleurs de cerisier :Maaf, habisnya aku masih gak percaya aja. Bisa-bisanya Cocktail begitu. Jadi rasanya jatuh cinta gimana?
Asal Cocktail terus usaha pasti dia bisa dapetin dia kok. Tapi kalau gak nyadar-nyadar bebal banget dia-nya.
Lavender Girl :Gak salah kok, Fle-chan mah kebiasaan banget begitu. Benar! Benar! Bagaimana rasanya jatuh cinta?
Aku meletakkan ponselku di atas meja, dan mengambil cangkir yang ada di hapadanku. Aku memang suka teh, semua teh aku suka asal bukan yang aneh-aneh. Hinata hanya duduk sambil melihat layar ponselnya.
TING
Lagi-lagi ponsel kami berdering bersamaan.
"So sweet..." Aku mendengar Hinata bergumam.
"Heh?" Aku bingung.
"T-tidak apa-apa..." Jawabnya.
Mungkin dia sedang membaca sesuatu yang baginya sangat manis di ponselnya. Aku langsung memusatkan perhatianku ke ponselku lagi. Dan bergumam, "Apa itu cinta?"
Cocktail :saat melihatnya tersenyum aku juga ingin tersenyum dan selalu menjaga senyumnya. Saat melihat ia terluka aku mau menghilangkan lukanya. Aku ingin melindunginya, bukan dia yang melindungiku. Aku tidak peduli apa yang mereka katakan tentangnya karena mereka tak tahu siapa dia, dan aku berharap aku bisa menjadi orang yang paling tahu tentangnya.
Menjawab pertanyaan kalian kah?
Fleurs de cerisier :Mungkin itu yang namanya cinta...
Lavender Girl :Sangat cukup...
Sepertinya Hinata mendengar gumamanku barusan.
"Cinta? Sakura-chan sedang jatuh cinta?" Dia bertanya padaku sambil meletakkan ponselnya.
"Bukan, temanku yang sedang jatuh cinta,"
"Temanku juga sedang jatuh cinta, kebetulan sekali..."
"Tidak ada yang kebetulan, aku percaya pada takdir walaupun takdir selalu mempermainkan aku." Entah kenapa itu kata-kata yang keluar dari mulutku, sebenarnya tidak nyambung dengan topik yang saat ini kita bicarakan tetapi tetap saja kata-kata itu mengalir dengan sendirinya.
Hinata POV
Familiar, kata-kata itu sangat familiar di telingaku. Bukan, sepertinya aku pernah membacanya bukan mendengarnya.
"Jangan salahkan takdir, dia tak tahu apa-apa, ia hanya dibuat oleh Tuhan dan kamu yang memanggilnya datang. Kalau saja kamu tidak memanggilnya mungkin dia tidak akan mempermainkanmu ..." Aku mengingat kata-kata yang dulu pernah aku ucapkan kepada sahabatku di dunia maya dan mengulanginya lagi sekarang.
"La-chan..." Aku mendengarnya mengatakkan sesuatu.
"Eh?"
"Bukan, bukan apa-apa hanya saja temanku dulu juga pernah mengatakkan hal yang sama padaku." Dia menjawab sambil tertawa hambar. La-chan adalah nama yang di berikannya padaku, jangan-jangan orang ini...
"Fle-chan?" aku melihatnya berhenti tertawa, dan sepertinya dia kaget mendengar jawabanku barusan.
"La-chan?" Ia balik bertanya dan aku mengangguk.
"Tunggu dulu, kenapa aku baru sadar sekarang! " Ia berbicara pada dirinya sendiri.
Benar juga kenapa aku juga baru sadar ya, namanya Sakura memiliki arti yang sama dengan nama
Fle-chan 'Fleurs de cerisier'kan artinya bunga sakura. Selain itu warna rambutnya seperti bunga sakura dan aroma tubuhnya juga. Belum lagi ponsel kami selalu berbunyi bersamaan dan postinganku denga Fle-chan juga bersamaan.
Sakura POV
"Tunggu dulu, kenapa aku baru sadar sekarang! " Akhirnya aku sadar juga. Lavender girl itu Hinata! Selain warna matanya aromanya juga aroma bunga lavender. Ponsel kami selalu berbunyi bersamaan. Belum lagi kata-katanya terdengar familiar. Soal postingannya tadi jangan-jang itu tentang ku dan Chiyo-san ...
"Jangan-jangan tadi pipimu memerah karena membaca postingan Cocktail?" Aku membuat asumsi.
"Uh-huh, tadi Sakura-chan seperti menahan tawa karena membaca postingan Cocktail juga?"
"Hn, berarti maksudmu teman yang sedang jatuh cinta, juga Cocktail kan?" Aku meminum tehku.
"Yup, Sakura-chan cemburu?"
"Uhuk, uhuk," Aku tersedak, "Cemburu? Tentu saja tidak, lagi pula untuk apa? Dan kenapa Hinata-chan berpikir seperti itu?"
"Habis kalian berdua terlihat dekat, dan menurutku kalian itu cocok."
"Gak kok, kita Cuma teman doang lagi pula kita juga belum pernah bertemu... Eh Cocktail bales..." Aku langsung menatap layar ponselku.
Normal POV
Cocktail :Mungkin, kalian kemana aja? Biasanya ngerumpi berdua, kok malah ngilang?
Fleurs de cerisier :Cocktail! Kita punya kabar gembira!
Cocktail :Apa?
Lavender Girl :Aku dan Fle-chan kerja sambilan di tempat yang sama loh!
Cocktail :Kok bisa?
Fleurs de cerisier :Ya bisa dong, kan dunia tuh sempit...
Lavender Girl :Kita baru sadar barusan, aku baru di toko ini dan ini hari pertamaku.
Cocktail :Enak dong, sekarang berarti lagi ngebales komen bareng nih?
Fleurs de cerisier :Iya!
Cocktail :Setelah dipikir-pikir sepertinya dia bakal sadar lama deh,
Fleurs de cerisier :Kok gitu ?
Lavender Girl :Iya kok gitu?
Cocktail :Dia cuek, belum lagi suka lupa, pasti bakalan lama!
Lavender Girl :Padahal baru ketemu, bisa aja dia ngasih kesan seperti itu kesetiap orang yang bari dia kenal.
Fleurs de cerisier :Bener-bener, kalau kenal lebih deket bisa jadi dia orangnya perhatian.
Cocktail :Okeh, besok kalau ada perkembangan aku kasih tau! Mata Ashita...
Fleurs de cerisier :Di tunggu! Mata Ashita...
Lavender Girl :Sering-sering update ya! Mata Ashita...
"Heehehe..." Sakura tertawa geli.
"Orang jatuh cinta..." Gumam Hinata, sikap Hinata mulai kelihatan sama dengan karakternya di dunia maya.
"Betul, betul! Kita tunggu perkembangannya!" Sakura masih saja tertawa.
"Iya, ngomong-ngomong Chiyo-san kemana ya? Sekarang sidah pukul 9." Hinata terlihat khawatir.
"Entahlah, kenapa tidak menginap saja di sini ada dua kamar loh, satu punya Chiyo-san dan satunya lagi biasa kupakai untuk menginap. Besok kan libur, lagi pula kamu tinggal sendiri kan?"
"Iya juga, Sakura-chan apa Chiyo-san tahu tentang keadaanmu?" Hinata bertanya dengan hati-hati.
"Hn, dia tahu. Ayo kita tidur saja, aku sudah mengantuk." Sakura menguap dan bangun dari tempat duduknya.
"Ayo tidur..." Hinata mengikuti Sakura dari belakang.
A/N : Nah segitu dulu ya, pasti pada nebak-nebak siapa si cocktail!(Sotoy banget). Dan seperti yang udah dibilang di atas, keahlian Sakura yang bisa benerin biola tuh bukan punya dia tetapi egonya. Egonya punya kakek yang bisa ngebuat biola, nanti deh UQ buatin daftar ego-egonya Sakura beserta sejarahnya. Umn... buat chap selanjutnya UQ kasih spoiler deh. Nanti akan ada penghuni tiga penghuni baru di fanfic ini, yang pertama sunshine si romantis dan ramah lingkungan yang kerjanya buat postingan yang isinya seperti pujian untuk seseorang yang ia suka atau ia kagumi. Yang kedua, Naruto temen satu sekolahnya Hinata yang penampilannya super acak-acakkan. Yang keempat mau masukin OC UQ, namanya Aidou Yuukihara murid baru di kelas Sakura. Selain itu cocktail makin sering buat postingan bertema Cinta. Soal siapa cocktail sebenarnya belum di ungkapin di chap selanjutnya, yang jelas cocktail bukan orang yang diduga-duga, hehehe...
