KITCHEN IN LOVE

Genre : Romance, humor?

Author : Miyazakie Erizawa

Rate : Masih T jangan takut -_- (berkembang sesuai chapter. Hehee…)

Warning! Author baru, masih sangat hijau, many typos, BOY x BOY a.k.a SHOUNEN AI

Inspired by : Korean Drama "Pasta" and my daily life.

Flame boleh-boleh aja, tapi jangan terlalu kejam ya.. hati saya masih selembut kapas soalnya. #PLAKK


Chapter 3 : Ini yang namanya jatuh cinta? Rasanya aneh.

"Si Teme itu benar-benar mengerjaiku, Kiba!", Naruto yang tiba-tiba masuk ke ruang istirahat – sekaligus loker – melempar apronnya ke lantai.

Kiba yang menjadi sasaran pelampiasan hanya bisa tersenyum – sweatdrop – diatas bangku kayu panjang yang telah ia duduki sejak 10 menit yang lalu.

"Kemarin dia manyuruhku membersihkan chiller. Lalu besoknya dia menyuruhku membuat lima puluh telur setengah matang hanya dengan menggunakan 1 buah Teflon berukuran 10 centi! Dan hari ini dia menyuruhku membersihkan seluruh kompor, oven, steamer, dan tempat penyimpanan bumbu!", Naruto mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Aku ini apperentie, Bukan Squidward!", Naruto protes – sewot.

Kiba sweatdrop, "Steward, Naru.."

"Apalah itu !", pemuda pirang itu menghentak-hentakkan kakinya, kesal. "Kenapa orang seperti itu bisa bekerja di tempat seperti ini sih. Jadi executive chef pu – …"

"Orang seperti apa maksudmu, Dobe?"

.

GLEK.

.

Tiba-tiba kerongkongan Naruto mengering. Mau berbalik, gak berani ah, pandangan Sasuke pasti sedang berada pada level 'aku-akan-membunuhmu-dengan-tatapanku'.

Teme pantat ayam memang selalu muncul seperti hantu.

"T-tidak ada chef, eheheh…", Naruto yang membelakangi Sasuke melangkah maju – perlahan – menjauh sebisanya dari sang executive.

Sasuke melepaskan topi tingginya, lalu menggulungnya. Memukulkannya pelan ke puncak kepala Naruto – menghentikan Naruto sebelum semakin menjauh. "Kau sedang mengalami training, Dobe. Ini baru hari ketiga dan kau sudah mengeluh? Tsk.", Sasuke merapikan topi dan pakaiannya, dan berjalan kearah pintu keluar loker. "Ikut aku, akan kutunjukkan tugas-tugasmu sebagai Apperentie commis 3." Sasuke membuka pintu dan meninggalkan Kiba dan Naruto disana.

Kiba hanya dapat memandang punggung Naruto – yang mematung sesaat setelah ditinggal Sasuke. Mau tak mau itu membuatnya mulai mengkhawatirkan pemuda manis bertubuh mungil itu. Kiba perlahan berdiri dari bangkunya, berjalan ke arah Naruto – berniat menepuk bahunya. Apa jangan-jangan Naruto kesurupan nih? Di loker ini kan banyak cerita-cerita horror yang beredar. Hii~…

"N-Naru?", Kiba manggunakan jari telunjuknnya mengguncangkan bahu Naruto.

Gak ampuh.
kali ini Kiba menggunakan kelima ujung jarinya menggoyang-goyangkan bahun Naruto, "N-Nar—…"

"KAU DENGAR ITU. KIBA?!", sontak Naru meloncat – berbalik. Kiba yang tepat dibelakang Naruto terjatuh dengan bokong dahulu yang menyentuh tanah. Apa Naruto kesurupan arwah kuda lumping? Kenapa dia loncat-loncat?

Kiba menatap Naruto – horror – yang dibalas Naruto dengan guncangan di kedua bahu Kiba, "Kau dengar? Dia akan menunjukkan tugas-tugasku yang asli! Dia akan berhenti mempermainkanku, Kiba! Yaaay~", Naruto melompat – meninju udara, lalu – membuka pintu- meninggalkan Kiba sendirian untuk mengejar Sasuke.

Haaahh~… ternyata Naruto Cuma kegirangan karena akan melakukan tugas pertamanya sebagai seorang commis 3. Kadang ia tak mengerti dengan si pirang yang tiga hari ini telah menjadi rekan kerjanya

Kiba menggeleng-gelengkan kepalanya, berjalan ke arah bangku kayu panjang yang sedari tadi ia duduki – menyamankan dirinya. Setelah hampir 5 jam berdiri, ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk istirahat.

"Kalau begini ceritanya, siapa yang tidak curiga, ne, Shika?"

Pria yang dipanggil Shika itu muncul dari salah satu bilik kamar mandi – sedang menghisap rokoknya. "Mendokusai na~!".

Shika membuang rokoknya, lalu melangkahkan kakinya mendekati Kiba, duduk disampingnya, menurunkan kepalanya – menyamankannya di pangkuan Kiba.

Kiba mengusap perlahan rambut sang Sous-Chef. "Akhirnya Sasuke tertarik juga pada seseorang, ne?", ia meletakkan tangannya di rambut depan Shikamaru – mengusap dahi Shikamaru perlahan, dengan ibu jarinya, lalu menatap langit-langit seperti sedang membayangkan sesuatu. "Naruto adalah satu-satunya yang diajari langsung oleh Sasuke. Dia pasti memang benar-benar istimewa.". Tiba-tiba Kiba menepuk-nepuk dahi Shikamaru – geram. "aku jadi ingat semua cara-caramu untuk menarik perhatianku saat aku masih menjadi apperentie seperti Naruto dulu. Kurang lebih sama seperti yang dilakukan Sasuke sekarang. Hahahah! Kau dan Sasuke memang sahabat.", Kiba tertawa lepas.

"Ittai baka~!", Shikamaru menangkap pergelangan tangan Kiba – yang tadi memukul keningnya. Memangnya dahinya mirip sandsack tinju apa, "Kau mau membuat kinerja otakku menurun ya?! Astaga…", Shika memandang tajam pemuda bertato segitiga terbalik dibawah kedua matanya itu.

"Hehehe… maaf ne, Shika-kun? Terbawa suasana.", Kiba hanya tersenyum miris, memandang lurus ke mata kuaci Shikamaru.

Shika yang melihat senyum Kiba, mau tak mau ikut tersenyum. Shika mencium punggung tangan Kiba yang sedari tadi digenggamnya. "Suki da yo, Kiba".

Senyum Kiba memudar, digantikan dengan mata yang membulat dan pipi yang memerah. "K-kenapa tiba-tiba? Kau ini!", Kiba menolehkan wajahnya kesamping – menyembunyikan wajahnya yang memerah. ini memalukaan!
Shikamaru tersenyum tipis, mengangkat tangan kirinya – menggapai tengkuk Kiba dan menarik wajah itu turun mendekat. Kiba yang terkejut akhirnya hanya bisa mengikuti arah tarikan tangan Shikamaru.

Pandangan mereka bertemu. Sangat dekat.

Shika memandang lekat sosok pria pecinta anjing itu.

Sudah satu tahun lamanya mareka menjadi sepasang kekasih. Sudah satu tahun lamanya pria bertato segitiga terbalik itu menemaninya dalam suka maupun duka selama bekerja di dapur Grand Space International Hotel – hingga ia menjadi seperti sekarang ini.

Kiba mengembangkan senyum tulusnya kepada pria didepannya – yang biasanya selalu memasang wajah bosan dan mata mengantuk, kali ini berbeda.

Pandangan mata yang ditatapnya saat ini, kedua mata yang tak berkedip memandangnya dalam diam – adalah satu-satunya yang Kiba syukuri.

Pandangan yang lembut ini, menatapnya seperti takut kehilangan.

Dan Kiba menyadari, dimata sang sous-chef. Dia sangat berarti.

Shikamaru yang melihat Kiba memejamkan matanya, semakin menarik tengkuk Kiba mendekat kearahnya. Memperhatikan lengkungan benda lembut yang sedari tadi memberikan senyuman manisnya. Mengeliminasi jarak sedikit demi sedikit sehingga—….
.

PLAKK!
.

"Jangan coba-coba mengambil kesempatan dariku, rusa mesum!". Kiba yang baru saja menjitak kepala sang sous-chef, menyumpah serapah kepada kekasihnya yang selalu mencari kesempatan mencuri ciumannya.

Oke, ciuman itu gak masalah. Mereka kekasih dan itu wajar.

Yang tidak wajar itu, Shika tidak tau tempat. Kadang-kadang saat Kiba lengah, ia sudah di tarik ke salah satu bilik kamar mandi dan harus bekerja dengan bokong yang sakit. GRRR!

Kiba pun pergi – memabanting pintu – sembari mengumpar dengan kesal, meninggalkan Shikamaru dengan benjolan berasap dikepalanya.

Kasihan, sous-chef.

.

.

.

"Aku siap memasak, Chef!", Naruto yang tadi berlari mengejar Sasuke, langsung berceloteh – mengepalkan kedua tangannya di depan dada – saat menemukan Sasuke yang sedang berdiri menyadar di meja prepare hot kitchen – sekaligus Chiller tiga pintu.

"Huh?", Sasuke tersenyum mengejek, "Memasak? jangan bermimpi, Dobe?"

Aura Naruto berubah merah. Terbakar. 'Awaaas kau, Temeeeeeeeeeeee!", Batin Naruto, Murka.

Sasuke menahan senyumnya, menggoda si dobe satu ini memang menjadi hobbynya akhir-akhir ini.

"Kau kira apperentie sepertimu sudah diizinkan memasak hidangan untuk customer? Kau akan mulai dari vegetable cutter, Do-be.", Sasuke tersenyum keji – menggeser badannya hingga sesuatu yang sedaritadi tersembunyi dibelakang punggungnya terlihat.

JREEEENNG!

Tumpukan sayuran sebanyak dua serving dish menggunung di atas meja prepare pun terlihat. Naruto terduduk lemas di lantai hot kitchen. Monster pantat ayam ini benar-benar ingin membunuhnya!

"I-itu untuk apa, C-chef?", telunjuk Naruto bergetar menunjuk tumpukan aneka macan sayur-mayur tersebut.

Sasuke menaikkan sebelah bibirnya – tersenyum setan. "untuk kau potong, Dobe.", Lalu ia pun berjalan ke arah Serving stand – dan mengambil Chopping knife serta kertas yang menggantung di samping pintu in-out Hot kitchen. "Dan di kertas ini", Sasuke meletakkan beberapa kertas yang dilaminating tersebut diatas kepala Naruto yang terduduk di atas lantai, "adalah menu hotel, baik a'la carte, maupun room service. Dan juga menu breakfast untuk 8 hari. "

Naruto mengambil kertas tersebut diatas kepalanya, lalu menggaruk garuk belakang kepalanya – bingung. "Lalu aku harus mulai dari mana, chef?"

Sasuke menganalisa ketajaman chopping knife dengan menggesek-gesekkan ruas pertama jari tengah dan telunjuknya di sisi tajam pisau besar itu, lalu menyerahkannya ke hadapan Naruto. Namun chopping knife ditarik kembali sesaat setelah Naruto mengulurkan tangannya ingin menyentuh gagang pisau itu. Maunya apa sih si teme ini! – author kesal.

Naruto mengerucutkan bibirnya sehingga pipinya terlihat menggembung.

'Manis", Sasuke tersenyum lembut – tanpa disadari olehnya sendiri. 'Eh. Apa yang baru saja ku pikirkan!'

Deg! Deg! Deg!

Sasuke menolehkan wajahnya, memegang dahinya yang terasa berat, detak jantung ini mengganggunya. Apa dia demam? Atau ternyata ia sakit usus buntu? Lalu apa hubungannya sama jantung, Sas?

"Chef?", Naruto – yang telah menemukan kembali kekuatannya untuk berdiri – mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah adik daru Uchiha Itachi itu.

"Oh?", Sasuke terkejut. Apa itu? Baru saja ia memasang tampang bodoh di depan Naruto. Astaga! Sasuke sweatdrop sendiri. Sasuke pun kembali memasang wajah stoicnya. "Sebelumnya aku ingin memberitahumu. Semua peralatan di dapur ini merupakan alat yang sudah sesuai dengan standart hotel international.", Sasuke mengangkat tangan kirinya yang memegang chopping knife. "Seperti Chopping knife ini, beratnya hampir 1- 2 kilogram karena dibuat dengan besi asli. Kalau kau menggunakannya dengan asal-asalan, kau bisa menggeser syaraf-syaraf tangan kurcacimu itu.", Sasuke tertawa dalam hati. Memandang wajah kesal Naruto benar-benar menghiburnya. "Dan juga peralatan masak. Wok, sauce pan, dan lain sebagainya paling tidak memiliki berat 3 – 7 kilogram. Kau yakin mampu?", Tanya Sasuke – tau lebih tepatnya menghina. Namun tersirat sedikit kekhawatiran disana.

"Jangan remehkan aku, Pak Executive Chef! Aku ini benar-benar kuat!", Naruto menaikkan tangan kirinya membentuk sudut siku-siku, mengepalkan tangannya dan memegang ototnya dengan tangan kanan. Menatap Sasuke dengan pandangan menantang.

"Benarkah? Aku tak yakin.", Sasuke bersandar di meja prepare – melipat tangannya. "Kau lebih mirip anak perempuan, Dobe.", Sasuke tersenyum menghina. Hahaha! Pasti Naruto kesal sekali sekarang. Dia kan paling anti dibilang mirip perempuan.

Naruto yang mendengar sindiran Sasuke langsung saja mengambil Wok terdekat yang berdiameter 1,5 meter seberat 7 kilogram – berniat menghadiahi kepala sang Executive chef. "TEEEMMMMEEE~!",

Kaget?

Tentu saja.

Naruto mengangkat Wok itu dengan satu tangan. Tenaganya benar-benar tidak bisa diragukan. "B-Baiklah. A-aku percaya.", Sasuke menelan ludah – tenggorokannya terasa kering. Hampir saja ia mati terpukul wok. Kematian yang tidak bergaya. Mungkin kalau masuk Koran judulnya akan aneh, "seorang executive chef hotel international tewas setelah dihajar menggunakan wajan". Hah!

Naruto mengembalikan wok pada tempatnya semula, mengambil chopping knife yang agak bergetar di tangan sang chef. "Tak ku sangka, kau bisa bergetar hanya karena ancaman seorang pe-rem-pu-an, Chef. Hohohoh.", Naruto tertawa kecil dengan mulut membentuk huruf o dan punggung tangan yang menutupi setengah bibirnya.

Sasuke hanya terdiam – melihat lurus kearah Naruto. Lain kali mungkin dia akan berpikir dua kali jika ingin bermain-main dengan si pirang manis bertubuh mungil – namun menyimpan tenaga seperti Hulk. Haaah~ , "Baiklah. Hari ini breakfast dengan menu 6, maka besok adalah menu 7.", Sasuke mengambil kertas laminating yang tadi diberikannya kepada Naruto. "Untuk Japanesse breakfast ada Nasi, ikan panggang, miso dan natto. Side dishnya Unagi dan Brocolli Garlic sauce. Lalu untuk American egg station ada Ommelete, scramble egg, dan French fries. Lalu ada Salt veggie dan senmaizuke sebagai Tsukemono-nya.", Sasuke meletakkan kertas itu diatas meja prepare, menyenderkan kembali pinggangnya di sisi meja prepare dan memangku tangannya di depan dada. " Kau tau apa yang harus kau lakukan?". Sasuke memandang wajah Naruto – menyelidik – apakah ada keraguan yang terbesit diwajahnya saat menjawab pertanyaan Sasuke. Tes Kemampuan.

"Untuk Rice hanya perlu condiment berupa green onion dan nori kering kan?", Naruto menggerakkan jari-jemarinya – menghitung. "Ikan panggang dan unagi itu tugas Butcher. Miso hanya berupa taofu, green onion dan wakame. Brocolli garlic, broccoli dan garlic. Untuk Ommelete condimentnya berupa tomat, cabe besar, paprika hijau, bawang Bombay, daun bawang, jamur kancing. Scramble – susu dan telur.", Naruto memandang langit-langit – berpikir. "Lalu bagaimana dengan French Fries dan tsukemono?"

Sasuke tersenyum, ia tidak menemukan sedikitpun keraguan dari jawaban Naruto. Cemerlang sekali. Seperti yang ia harapkan dari lulusan CIA. Sasuke tersenyum lembut untuk kesekian kalinya hari ini. Pemuda pirang ini benar-benar membuatnya OOC berkali-kali. "French fries dan tsukemono ada di market lantai bawah. Kau bisa mengajak Kiba berbelanja – jika tidak menemukannya di walk in chiller."

"Un, Baiklah.", Naruto mulai mendekati meja prepare yang telah tersedia cutting board besar berwarna cream di atasnya. Mengambil Paprika dan memotongnya dengan kecepatan penuh.

Sasuke melihat dengan kagum. Tangan yang kecil dan kurus itu tampak lihai menggunakan Chopping knife yang 3 kali lipat lebih besar dari tangannya. Mungkin suatu saat nanti ia akan lebih hebat dari Sasuke.

"Berjuanglah."

"Eh?", Naruto berbalik badan, memandang Sasuke yang berada dibelakangnya. Sepertinya tadi Sasuke mengatakan sesuatu.

Sasuke memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, "Dalam waktu dekat ini akan ada ujian kenaikan pangkat dari Grand Space International. Berlatihlah masakan yang paling kau kuasai dan berkemungkinan besar untuk menarik perhatian juri.", Sasuke mengacak rambut pemuda yang lebih pendek 15 centi darinya itu, "Aku yakin kau pasti bisa."

Deg! Deg! Deg!

Ini tidak normal! Kenapa jantung Naruto berdetak begini cepat hanya karena si teme mengacak rambutnya dan memberinya semangat begitu. Astaga..

Naruto – menggelengkan kepalanya – berusaha menghilangkan pikiran aneh dan detakan jantung yang bergemuruh – seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.

Sasuke yang merasa aneh dengan diamnya si berisik itu sedikit membungkukkan badannya untuk melihat apa yang terjadi dengan wajah Naruto yang menunduk.

Wajah yang memerah, mata yang membulat, nafas yang tak teratur, dan tangan kanan Naruto yang meremas baju kokinya – di bagian dada sebelah kiri.

Deg! Deg! Deg!

'R-raut wajah macam apa itu? K-kenapa jantungku—oh Tuhan, apakah diusia segini aku sudah menderita penyakit jantung?'

Naruto – dengan wajahnya yang masih memerah – melihat kearah Sasuke, memergoki sang Executive Chef yang memandangnya lekat.

Pandangan mereka bertemu.

Selama beberapa waktu, tidak ada yang berinisiatif untuk mengalihkan pandangnya. Mereka menikmati setiap detik yang ada menyelami kedua bola mata yang berbeda warna itu – bagaikan langit siang dan langit malam.

Perlahan Sasuke mulai melangkahkan kakinya mendekati pria yang kini pipinya memerah sempurna, menaikkan tangannya – menyentuh pipi tan dengan tiga garis horizontal menghiasinya. Matanya melihat bola mata sebiru lautan itu dalam-dalam. Benar-benar sangat indah. Naruto terlihat berkali-kali lebih cantik dari jarak sedekat ini.

Detakan jantung mereka layaknya lagu yang mengiringi romansa mereka saat ini.

Sasuke menggerakkan ibu jarinya menyentuh benda mungil kemerahan yang sedari tadi mencuri perhatiannya – bibir Naruto. Betapa ia ingin menyentuh pemuda ini dari awal mereka bertemu. Dalam sosoknya yang terlihat lemah dan patut dilindungi, Naruto mempunyai kekuatan dan semangat yang membuat Uchiha Sasuke – sang pangerean es pembantai wanita – terjerat akan pesonanya. Terjerat pada birunya samudra di kedua pelupuk matanya yang kini tengah tertutp – menikmati kehangatan yang tersalurkan dari tangan sang executive chef berperangai dingin – yang ternyata sentuhannya bisa membuat Naruto merasa nyaman dan menginginkan lebih.

Sasuke menatap Naruto yang tengah terpejam, sedikit demi sedikit mulai mendekatkan wajahnya, mengeliminasi jarak antara bibir mereka.

Dan diantara detak jantung yang bergemuruh, rasa khawatir yang kerap singgah dan keinginan untuk selalu melindungi.

Terselip sebuah pertanyaan besar di benak Sasuke.

"Tuhan, apa aku jatuh cinta?"

.

.

.

Sasuke merebahkan dirinya disebuah kursi hitam – di kantornya – menyenderkan punggungnya, frustasi. Kejadian beberapa menit yang lalu mengganggu jalan pikirannya.

.

.

.

"EHEM!"

Sasuke yang sedang mengeliminasi jarak antara dirinya dan Naruto pun menghentikan pergerakannya, dan menoleh menuju suara yang berasal dari pintu hot kitchen.

"Maaf mengganggu, Chef Uchiha. Tapi sepertinya Kurenai-san membutuhkan anda untuk event minggu depan.", Pria bersurai merah bata – memiliki tattoo kanji Ai di dahi kirinya – berjalan medekati Naruto dan menjauhkannya dari Sasuke dan merangkul bahunya – protektif. Memandang Uchiha dengan pandangan menantang.

Naruto yang sadar posisinya berubah, membuka matanya dan melihat orang yang merangkulnya dari samping, "Gaara Nii?"

"Ya Naru?", Gaara tersenyum lembut.

"Chef?", Naruto menolehkan kepalanya mencari pria yang tadi membagi kehangatan dengannya. Sasuke berada di belakang mereka, memandang Naruto sekejap, lalu berbalik pergi meninggalkan Gaara dan Naruto berdua di Hot Kitchen.

.

.

.

'Sial! Apa hubungan panda itu dengan Naru?', Sasuke menghentakkan tinjunya ke atas meja. Pria panda itu selalu menghancurkan suasana!

"Frustasi karena cinta, eh?"

Sasuke melayangkan pandangannya pada sebuah suara yang menginterupsi kekesalannya. Pria tak berpupil itu bersander pada kusen pintu sembari memangku tangannya di depan dada.

"Aku tidak menyuruhmu mencampuri urusanku, Hyuuga Neji.", Sasuke menggeram – kesal, kedatangan pemuda stoic lainnya benar-benar membuat kekesalannya sampai ke ubun-ubun.

"Maa~ maa~… Aku hanya menawarkan diri. Mungkin saja Chef membutuhkan teman untuk berbagi penderitaan, hm?", Neji tersenyum tak ikhlas. Memandang dengan tatapan – yang menurut Sasuke menyebalkan.

Sasuke yang saat ini emosinya sulit dikontrol memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan melangkah – ingin keluar dari officenya – sebelum tangan Neji menutup akses untuk Sasuke keluar dengan tangan kirinya yang membentang horizontal – memegang kusen pintu lainnya yang tak disandarinya.

"Kalau kau ingin mendapatkannya, kau harus lebih agresif, chef.", Neji mempersempit jaraknya dengan Sasuke. Memenjarakan sang Executive Chef – yang sama tinggi dengannya – di dalam kedua lengannya. "Kau harus membuatnya menyadari bahwa dia menyukaimu secepat mungkin", Neji mendekatkan wajahnya kea rah wajah Sasuke sehingga hidung mereka hampir bersentuhan, "atau dia akan direbut oleh orang lain."

.

BRUKK!

.

Suara buku yang terjatuh membuat Neji dan Sasuke langsung menatap ke asal suara tersebut.

Terlihat Sakura – sang receptionist – dengan beberapa buku tamu yang berserak dibawah kakinya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya membelalak terkejut. Ini adegan yaoi LIVE! Tapi kenapa harus Neji dan Sasuke? Kenapa bukan SasuNaru? Kalo Neji sama Sasuke, siapa yang Uke? Keduanya bermental Seme. Astaga! Ini berat sekali – Sakura galau ala Fujoshi.

"Sakura ini tak seperti yang kau—….", Sasuke menepis tangan Neji yang menghambat jalan keluarnya, dan bermaksud menjelaskannya pada Sakura.

"Tenang saja, Chef. Aku tak akan mengatakannya pada siapapun", Sakura memotong kalimat Sasuke, sesegera mungkin menyusun buku tamu yang tadi ia jatuhkan, dan terburu-buru pergi meninggalkan Sasuke dan Neji – maksudnya sih takut mengganggu.

"Haah~", Sasuke menghela nafas berat. Ia tak yakin Sakura si biang gossip tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain.

Mungkin Sasuke harus menyiapkan diri menghadapi gossip yang akan beredar besok.

.

.

.

_Tsuzuku_


Footnote:

Apron : Celemek

Serving dish. Mangkuk persegi panjang dengan panjang sekitar 1 meter, lebat 25 cm dan kedalaman 10 centi. Digunakan untuk meletakkan makanan yang telah siap untuk disajikan, bisa pula digunakan untuk persiapan sebelum memasak.

Serving stand : kumpulan dari barang-barang dapur siap pakai yang diperlukan oleh Koki.

Chopping knife : pisau besar layaknya golok.

Wok : wajan

Salt veggir : asinan sayuran. Biasanya sawi putih.

Senmaizuke : asinan Lobah putih.

Tsukemono : Asinan

Green onion : daun bawang

Wakame : potongan panjang rumput laut.


a/n :

hiaaahh~ Miya mengalami kemalasan yang luar biasa. Ini dikarenakan Quote dari Meme comic Shikamaru : Kemalasan itu adalah ibu dari segala macam tindakan buruk. Tapi mau tak mau harus dihargai karena dia adalah seorang ibu. Jadi sekarang Miya lagi menghargai kemalasan *aaleesaaaannnn #plakk XD
Thanks anyway busway buat yang setia nge-review fic abal Miya ini. Miya selalu berusaha memberikan yang terbaik yang Miya punya kedalam fic ini, terima kasih banyak-banyak ya :D

Daaaan~… Miya memutuskan akan menghentikan fic ini sampai siap lebaran, kenapa? Karena semua story board Miya tinggal Lemonan aja. Miya gak nemu ide cerita lain untuk ditulis. Gak mungkin kan Miya apload sekarang juga -_-. Karena menurut Miya yang polos ini (uhuk!), lemonnya udah asem banget sampe buat merinding disko. Dan ini masih bulan puasa (inget!).

Jadi Miya mengucapkan selamat berjumpa lagi di bulan depan ne~… :D

ini balasan review buat yang gak log-in ^_^

Terima kasih banyak-banyak untuk Guest,, Azure'czar,,
Aristy : hihihi~ terima kasih ya Aristy-san. Miya juga berusaha memberikan yang terbaik semampu Miya untuk reader-san :D oke, terimakasih doanya ;)
Yunaucii : walah, masa iya makin seru? Hahah… iya nih, idenya tinggal lemonnya aja. Bisa bisa bisa… tapi Miya mogok dulu ya, ntar abis lebaran langsung update 4 chapter lemon semua, gimana? *wink wink
Guest : aduuh, pasti kesal banget ya udah ngetik panjang-panjang trus kehapus. Miya juga jadi penasaran apa tuh reviewnya kok bisa panjang banget gitu

Ehehehe. Gaara memang salah satu penganggu buat hubungan SasuNaru. Tapi dalam Story board Miya, ada lagi seseorang musuh paling besar yang bakal mengganggu hubungan mereka. Miya juga gak tau sih kenapa kepikiran "cowo" itu. Setelah miya cari di pairing FFn, ternyata belum banyak yang buat Naru berpasangan dengan dia (atau malah gak ada). Hihihi. Penasaran kan? Dia bakal keluar sekitar di chapter 8 :3
Yuki Uchiha : waah~ Miya jadi serasa kaisar gitu dikagum-kagumin *apasih XD*

Ho? Siapa tuh yang ngintip? Kasi tau gak yaaa.. hohoho :p
LadysaphireBlue : wow~ hahah iya nih. Miya juga aneh nyebut mama papa buat Minato dan Kushina. Tapi entah kenapa, Miya agak suka denger Naru-chan manggil "Papa Minato" dengan suaranya yang serak-serak membahan badai gitu. Hihi….

after all, Miya Say Thank you so much for appreciate me so much.

bagus? Jelek?

Mind to review?