Disclaimer: Sengoku Basara from Capcom.
Yukimura dan Sasuke pun sudah berada di depan pintu depan UKS. Mereka masuk pelan-pelan dan menemukan Tenkai yang sedang membedah dengan seekor ikan fugu. Yukimura memberanikan diri untuk memanggilnya, "—Pak Tenkai."
Tenkai menganggkat kepalanya dan melihat Yukimura. "Oh, Sanada dan Sarutobi. Silahkan, silahkan masuk," ucap salamnya dengan ramah. Yukimura dan Sasuke berkeringat dingin. Takut dengan guru satu ini.
Melangkahkan kaki mereka dengan berat dan rasa takut. "—Kami ke sini diperintahkan oleh kak Hanbei untuk menyelamatkan nona Oichi bersama pak Tenkai," kata Yukimura.
Tenkai melebarkan kelopak matanya, "Penyelamatan?!"
Yukimura melanjutkan kembali. Namun suaranya ditegaskan agar tidak terlihat canggung, "Iya. Kami tidak bisa membiarkan kelompok Tokugawa melakukan hal aneh terhadap nona Oichi."
Tenkai menundukkan kepalanya. Tawa kecil mungkin sudah tergambar dibalik masker besinya itu. Dia mengangkat wajahnya kembali, "Dengan senang hati, aku sangat bersyukur bahwa kalian begitu perhatian terhadap nona Oichi," kata Tenkai.
Yukimura dan Sasuke merasa lega dengan jawaban Tenkai. Tenkai menutupi mayat ikan fugu itu dengan tabung kaca anti kedap udara dan membersihkan kedua tangannya di wastafel.
Tenkai membalikkan tubuhnya dan menghadap mereka berdua, "Baiklah. Kita akan menjemput nona Oichi saat tengah malam. Saya tahu tempat di mana nona Oichi disekap."
Chosokabe berada di halaman belakang untuk menemui Shimazu Yoshihiro. Bukan pertemuan yang ramah bagi Chosokabe. Shimazu dan Chosokabe bertarung dengan ganas. Shimazu memakai tongkat penutup pedangnya sedangkan Chosokabe memakai tongkat kayu baseball yang penuh dengan paku.
"Tak kusangka, saat kembali kerja aku kedatangan murid yang rindu denganku. Tapi mengejutkan sekali, yang datang adalah si Iblis dari klub mekanik," kata Shimazu. Shimazu menahan tongkat baseball Chosokabe.
"Kau banyak dipanggil dikalangan murib sebagai guru Iblis Shimazu dan aku... jadi, siapa yang pantas menyandang nama Iblis di sekolah ini, huh?" tanya Chosokabe.
"Datang untuk meminta tolong, tapi tiba-tiba malah menyerang dari belakang. Apakah kau selalu begitu jika meminta tolong dengan orang lain?" balas Shimazu.
"Menurutku, dengan cara seperti ini anda pasti mudah mengerti dengan apa yang kumaksud, kan. Jadi, apakah pak guru mempertimbangkan untuk masuk ke dalam kelompok barat?" tanya Chosokabe.
Gelak tawa Shimazu. "Anak-anak dari klub mekanik benar-benar menarik."
Chosokabe dan Shimazu pun memisahkan senjata mereka dengan bersamaan. Chosokabe menyerang Shimazu dari atas dan ditangkis oleh penutup pedang milik Shimazu. "Apa alasanmu sampai ikut ke dalam kelompoknya, huh?" tanya Shimazu.
"Mereka juga sama denganku, sama-sama menghancurkan Ieyasu, si Sialan," Chosokabe melompat tinggi dan menyerang kembali Shimazu dari atas. Shimazu menghindar dari serangan tersebut dan melambungkan senjatanya ke arah belakang. Namun Chosokabe berhasil menghindar dengan menundukkan punggungnya.
"Hoh?"
Chosokabe menyerang dan Shimazu menahan senjatanya dengan penutup pedangnya tersebut. Shimazu menyingkirkan Chosokabe dengan mendorong tongkatnya dengan kuat sehingga Chosokabe terhempas dalam jarak yang cukup jauh. Chosokabe berlari kembali dan melayangkan kembali baseballnya ke arah Shimazu.
"Aku bahkan melihat ada anak buah Takeda, Yukimura Sanada yang bergabung dengan mereka dan juga ikut menghancurkan Ieyasu," kata Chosokabe dengan serangannya.
Shimazu menahan serangan tersebut sekali lagi dan terkejut saat Chosokabe menyebut nama anak buah Takeda, "Apa!? Si harimau kecil juga ikut bergabung?"
"Kau mengenalnya?" tanya Chosokabe.
"Hmph... sepertinya akan menarik. Aku akan ikut bergabung," kata Shimazu. Shimazu menurunkan senjatanya dan senjata Chosokabe dan menghentikan duel tersebut.
.
.
.
.
.
Mouri mengunjungi klub drama musical, Otomo Sorin. Ia menemui banyak murid-murid mengenakan baju serba hitam dan memegang al-kitab. Yah, pada jam begini mereka selalu berdoa. Sorin yang melihat Mouri di depan pintu pun berlari.
"Terima kasih telah datang ke sini, tuan Mour...i," kata Tachibana. Sorin menyingkirkan Tachibana dan menggenggam tangan Mouri.
"Ah~ Si Ahli Taktik, senang rasanya melihat anda ingin bergabung kembali di sini. Bukan, Sunday Mouri," seru Sorin.
Mouri menatap bingung ke arah Sorin. "Sunday?" gumamnya.
"Tidak mungkin, Sunday Mouri hilang ingatan!? Oh Tuan Xavi yang Agung, apakah anda memberi cobaan untukku supaya membawa ingatan Sunday Mouri yang suci ini kembali?" kata Sorin.
'Ah... pasti tuan Mouri menganggap kita gila,' pikir Tachibana.
"Bisakah percakapan ini selesai? Aku mulai resah jika berlama-lama di sini," kata Mouri datar. Mouri meninggalkan Sorin dan Tachibana.
.
.
.
.
.
Di kelas Kuroda Kanbee, Kuroda duduk menyendiri di tempat duduknya yang paling belakang. Chosokabe mendekat dan berbicara dengannya.
"Bergabung dengan kelompok barat, huh. TIDAK AKAN!" bentak Kanbee.
"Aku dulu seorang anggota kelompok Toyotomi yang paling teladan setelah Otani dan menjadi ahli siasat yang baik. Dan kemudian, Otani sengaja bermain denganku dengan belenggu ini dan menghilangkan kuncinya," geram Kanbee.
"Hoh, begitu. Gawat, yang satu ini agak sulit," gumam Chosokabe.
"Kau lihat ini. Selama aku seperti ini selalu saja nasib buruk menimpaku," kata Kanbee yang perlihatkan kedua tangannya yang terbelenggu.
"Huh, kau benar-benar dibuat menderita ya," kata Chosokabe.
Kanbee tersenyum senang. "Hoh... ternyata kau pengertian juga."
Mata Chosokabe pun mengarah ke Kanbee dengan kejut. Dia berpikir sebentar dan melanjutkan pembicaraan, "Oh ya, aku kenal gadis yang bersama Magoichi si guru penembak jitu. Dia mungkin tahu di mana kunci belenggumu berada," saran Chosokabe.
"Benarkah!? Bisakah kau mempertemukanku dengannya?" pinta Kanbee.
"Bisa saja, asal kau mau ikut bergabung dengan kelompokku. Bagaimana?" Chosokabe meluruskan tangan kanannya di hadapan Kanbee.
Kanbee menggertakkan gigi dengan kesal, "Tch... tidak ada pilihan lain selain ini. Baiklah aku akan ikut!"
Di tempat terpencil, terdapat rumah kayu tua dan seluruh rumahnya tertempel kertas-kertas jimat yang dapat menetralkan kutukan.
Suara rintihan, tangisan, dan juga suara tawa terdengar jelas dari luar rumah tersebut. Suara tersebut berasal dari adik Oda Nobunaga, Oichi.
"Ieyasu, aku menemukan bagian lehernya yang penuh dengan lubang kecil," kata Sakai.
Ieyasu yang dari tadi memandangi Oichi yang tertunduk sedih di balik bayangan, "Apa yang terjadi pada nona Oichi?" tanya Ieyasu.
Sakai mengambil satu langkah maju, "Aku tidak tahu. Selama mengajar di sekolah, aku tidak pernah melihatnya seperti ini," kata Sakai.
Ieyasu melihat Oichi yang terbelenggu kuat di dinding.
"Hi hi hi hi hi … hyahah haha ha ha ha ha," tawa Oichi kecil.
"Dia seperti orang gila," gumam Sakai.
Ieyasu menatap mata Oichi yang merah dan tajam, "Mungkin cuma firasatku saja, sepertinya dia selalu diberi obat penenang oleh seseorang," kata Ieyasu. Sakai menoleh ke Ieyasu dan terkejut dengan perkataannya.
Sakai menoleh ke Ieyasu dengan kejut. "—Obat penenang?"
"Semacam suntikan yang memberinya efek tenang. Seperti obat narkotika," kata Ieyasu. Tangan-tangan hitam mulai muncul dari lantai dan menyerang Ieyasu dan Sakai.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha," kekeh Oichi.
"Sialan," geram Sakai. Sakai mengambil tombak namun dihenti oleh Ieyasu.
"Jangan. Bagaimana pun juga, dia tetap manusia," kata Ieyasu. Sakai menurunkan tombaknya.
"Hu hu hu hu hu hu hu hu… na ni na… na ni na… kakak akan segera menyemput… Oichi…"
"—Aku sangat prihatin padanya," gumam Sakai.
Jam dua belas tengah malam, Akechi menyiapkan barang-barang untuk menyelamatkan Oichi. Yukimura dan Sasuke sudah siap, dan mereka ditemani oleh ninja lain yaitu Kasuga.
"Terima kasih telah menjadi sukarela, Kasuga," ucap Sasuke.
"Sebenarnya ini semua dari perintah tuan Kenshin," kata Kasuga.
"Oh, iya aku tahu. Tapi kamu seperti sukarelawan yang mau diperintah apa saja," canda Sasuke.
"Enak saja, memangnya aku manusia apaan. Sukarela itu ada batasnya, ya," ketus Kasuga.
Yukimura hanya berdiam diri mendengar perdebatan antara Kasuga dan Sasuke. Di ruang yang gelap tempat Tenkai berada, Tenkai menusukkan suntikan ke leher seseorang. Orang itu membukakan matanya. Matanya pun memerah. Tenkai menutupi wajah orang itu dengan masker seperti miliknya. Tenkai keluar dari ruangan dan membawa orang itu.
"Maaf membuat kalian menunggu. Ah, perkenalkan dia Shinobiku," ucap Tenkai yang memperkenalkan shinobinya.
Yukimura, Sasuke, dan Kasuga menatap shinobi itu. Tatapan kosong, memakai masker yang mirip dengan masker Tenkai dan memakai baju ninja yang serba hitam.
"Ayo, masuk ke dalam mobilku."
Yukimura, Sasuke, dan Kasuga agak canggung. Mereka masuk ke dalam mobil. Tenkai menyalakan mobilnya dan membawa mereka ke tempat tujuan.
.
.
.
.
.
Misi penyelamatan Oichi akan segera dilaksanakan. Apakah mereka akan mendapatkan Oichi yang sedang tertidur lelap diantara kegelapan?
To be Continued.
