A/N: Fic ini merupakan sekuel dari serial utama "Chronicle Parabellum" yang belum selesai Ane publis. Adapun kemiripan plot yang dimiliki oleh Fic ini merupakan murni penyesuaian. Sedangkan untuk even-even yang terjadi di Fic ini merupakan ide dari Ane. Selebihnya merupakan sumber referensi yang Ane gunakan untuk kepentingan Fic ini.

.

.

.

The Royal High Centurion Palace, Pentograd

Kota metrogigalopolis, [Pentograd], adalah sebuah kota industri maharaksasa dan pusat pemerintahan [Novaya Krisna]. Kota ini memiliki desain futuristis dan canggih dengan struktur yang maju. Bangunan yang berdiri pun sudah memenuhi standar bangunan masa depan dan dibangun berdasarkan tata kota yang efisien. Kota ini adalah surga bagi semua penikmat teknologi dan bagi pemimpin masa depan.

[Pentograd] terbagi menjadi empat bagian. Tiga bagiannya bertingkat satu sama lain seperti piring raksasa yang bertumpuk-tumpuk. Setiap satu piring menunjukkan satu bagian dari kota. Bagian keempat adalah poros dari semua piringan itu, berupa tonggak raksasa yang berdiri menghujam tanah dan menembus langit.

Tingkat terbawah [Pentograd] adalah Metro Underground Place (MUP), daerah ini dikhususkan untuk pembangunan industri dan pengadaan energi bagi kota. Di sini terdapat pabrik-pabrik raksasa dan reaktor-reaktor raksasa. Tingkat kedua adalah Civilian Centre (CC). Daerah ini merupakan tempat penduduk sipil tinggal. Daerah ini dipenuhi gedung perkantoran milik perusahaan-perusahaan di [Pentograd], perumahan penduduk, sekolah-sekolah, pusat hiburan, dan pusat perbelanjaan. Tingkat ketiga adalah Governmental Centre (GC). Disinilah pusat pemerintahan senate dan majelis berada. Selain itu di sini juga menjadi tempat tinggal orang-orang pemerintah dan kompleks perumahan elit bagi mereka yang memiliki pengaruh. Juga ada pusat perbelanjaan dan hiburan yang mewah dan berkelas.

Di tingkat keempat Istana Kepresidenan, The Royal High Centurion Palace, berada. Istana maharaksasa ini dibangun tepat di titik pusat kota. The Royal High Centurion Palace dibangun dari bahan khusus yang membuat dirinya tampak seperti kaca kristal bening mengkilap bila dilihat dari luar. Bangunan ini memiliki kurang lebih lima ribu tingkat mulai dari dasar yang tertanam di GC sampai puncaknya yang menghujam langit. Setiap tingkat adalah ruang khusus untuk suatu kegiatan tertentu. Ruang-ruang itu disebut dengan kubah seperti misalnya [Kubah Emas] ruang tempat tinggal putra-putri Presiden, [Kubah Sutera] tempat pertemuan para tamu negara, dan [Kubah Permata] untuk tempat pertemuan khusus para petinggi negara.

Malam itu, bulan [Neia] bersinar terang di atas balkon kembar [Kubah Emas] di Istana Kepresidenan, tepat di atas kepala sang puteri republic, Hinata Grigorevna Hyuuga, menerangi gadis cantik berkulit putih dengan rambut hitam kebiruan panjangnya yang terurai dalam kesunyian. Gadis itu tengah duduk termenung memandang bulan yang terang benderang. Balkon itu terasa sejuk di malam hari, dengan langit bersih di atasnya dan lautan cahaya di bawahnya, tanda-tanda kesibukan yang tiada henti dari daerah CC dan GC. Bintang-bintang tampak jelas di cakrawala sana, membentuk berbagai model rasi bintang yang bermacam-macam.

Kedua matanya yang indah sedikit terusik oleh sebuah papan iklan airship yang sedang melayang di atas ibukota [Pentograd].

[Kalo Nggak Review, Follow, sama Favorit, Nanti Malem Mimpinya Digentayangi sama Papa Pocong & Mama Kunti!]

Konsentrasi Hinata menjadi buyar. Ia bingung, mengapa ada iklan aneh di atas sana…?

Sejenak kemudian, Hinata kembali memandang foto yang ada di telapak tangan kanannya. Foto seorang perwira tegap dengan wajah kaku serta luka di pipi kirinya. Pria itu memiliki mata biru yang dingin dan indah yang membuat Hinata terpesona. Pria itulah yang memperkenalkan Hinata kepada cinta. Dia yang mengisi hari-hari dan malam-malamnya dengan perasaan yang membara. Dia yang membuat jantungnya berdegup kencang. Dia yang telah mencuri hatinya. Hinata telah jatuh cinta pada pria dalam foto ini.

Naruto Minatovich Kozlov.

Sayangnya, Naruto tidak tahu betapa Hinata mencintainya dengan sepenuh hati. Meskipun Hinata memiliki perasaan yang begitu menggebu-gebu kepadanya, tetapi dia tidak mampu mengutarakan isi hatinya kepada pria pujaannya itu. Hinata tidak berani. Hinata takut bila dia menyatakan cinta, Hinata akan kehilangan dia. Hinata takut kebersamaannya dengan Naruto selama ini akan terenggut. Lebih baik dia tidak mengutarakannya, toh Naruto masih terus menemaninya dan bersamanya. Lebih baik dia diam.

Dia mengenang pertemuan pertama mereka, tiga tahun yang lalu. Saat itu, ketika Naruto diminta oleh Grigor untuk menjadi bodyguard Hinata. Itulah saat pertemuan mereka berdua. Berhari-hari Hinata melalui waktu bersamanya, awalnya dia sangat tidak nyaman didampingi oleh pria kaku dan dingin. Tetapi ternyata di balik wajahnya yang kaku dan matanya yang dingin, Naruto adalah seorang pria yang baik dan lembut. Hinata yang sebelumnya tidak menyukainya berubah menjadi Hinata yang berusaha melewati hari-harinya untuk terus dekat bersamanya. Hinata merasa nyaman dan terlindungi di sampingnya. Hinata begitu bahagia bersamanya.

Tapi sayang, tugas negara membuat Naruto tidak lagi bersamanya. Dia dikirim ke tempat yang jauh, tempat yang berbahaya di ujung timur sana, tempat yang penuh kekacauan dan kehancuran, demi suatu invasi, demi memenuhi ambisi ayahnya. Sejak kepergiannya, Hinata sangat kehilangan dia. Dia benar-benar sangat terpukul dengan apa yang terjadi. Naruto pergi dan tidak tahu apa dia akan kembali. Naruto dengan senyum manisnya di balik matanya yang dingin, takkan pernah lagi dia jumpai di pagi-pagi harinya. Hampir setiap malam Hinata lalui dengan kesedihan dan kerinduan. Hari-hari yang dulu penuh kebahagiaan sekarang menjadi kegalauan yang tak berujung. Hinata mengkhawatirkan keselamatannya. Takut pria itu tak kembali. Takut Hinata takkan bertemu lagi dengannya. Berhari-hari Hinata selalu menunggu kabar darinya. Dia selalu menyempatkan diri menguping pembicaraan ayahnya dengan para jendral tinggi untuk mengetahui kabarnya, dan untunglah hingga saat ini kabar tentang dia baik-baik saja.

Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Bulan kedua [Noah], [Rhaon], dengan ukurannya yang besar muncul di ufuk timur. Warnanya tampak kemerah-merahan tertimpa bayangan sinar matahari. Sementara itu [Neia] mulai jatuh ke barat, tenggelam ke dalam pelukan [Noah]. Hinata beranjak dari balkon. Ditaruhnya foto Naruto di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Dinyalakannya wekernya. Dia mulai beranjak tidur. Tiba-tiba pintu diketuk. Ada sosok mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.

"Ojou-sama…"

Hinata menoleh. Dia tahu siapa yang memanggilnya. Pelayan pribadinya, Hiashi.

"Masuklah, ada apa?"

Hiashi masuk ke dalam ruangan mewah itu. Hinata langsung berdiri saat melihat wajah pucat Hiashi.

"Ada pertemuan…"

Lift A3 adalah salah satu dari lima belas lift utama yang berada di istana ini. Hinata bersama Hiashi memasuki lift itu. Kinerja lift ini menggunakan sistem transporter, yaitu berpindah tempat dalam sekejap dari satu terminal lift ke terminal yang dituju. Tujuan mereka adalah [Kubah Permata], salah satu tempat di istana dimana para jendral dan presiden biasa berdiskusi mengenai masalah invasi.

Hinata berlari kencang menuju kubah itu, melalui jalur rahasia yang ditunjukkan Hiashi kepadanya untuk menghindari pengawasan dari kamera dan prajurit penjaga. Sementara itu, Hiashi terus membuntuti dari belakangnya. Hiashi, pria tua berusia 46 tahun, sudah menganggap Hinata sebagai putrinya sendiri. Dia sangat menyayangi gadis itu. Dia rela melakukan apa saja untuk Hinata. Dia tahu hanya dirinya dan gadis itu yang mengetahui seberapa dalam cinta Hinata kepada Naruto. Dia akan mengusahakan apapun demi kebahagiaan dan senyum manis Hinata.

"Disini, Ojou-sama." Hiashi menunjuk suatu tempat tersembunyi di salah satu balkon di atas ruang pertemuan itu. Di bawah mereka, duduk di sebuah meja oval panjang, Presiden Grigor bersama sepuluh jendral tingkat lima, para pemimpin tertinggi perang di negeri ini.

"Apa yang terjadi sampai kalian membangunkanku dini hari begini?" ucap Grigor memulai pembicaraan. Wajahnya suntuk. Dia mengenakan piyama coklat dengan rambut berantakan.

"Maafkan kelancangan kami, Pak Presiden. Tetapi kami baru saja mendapat berita gawat." Ucap seorang jenderal tertua yang duduk di sisi kanannya.

"Lima belas kamp garis depan kita yang menyebar di lima belas titik strategis di perbatasan [Asura] hancur lebur Pak. Semuanya lenyap seperti habis dihancurkan oleh bom Komet kita. Tak ada yang tersisa. Pertahanan garis depan kita terpaksa mundur kembali ke Meruh."

"AP… APA !" Grigor terkejut. Matanya membelalak seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang menakutkan di depannya. Hinata dan Hiashi yang sedang menguping ikut terkejut mendengar berita itu.

"TIDAK MUNGKIN ! Ba… bagaimana bisa ini terjadi?" Grigor berbicara dengan nada tinggi.

Seisi ruangan itu terdiam.

"Bagaimana…."

Presiden tak mampu berkata-kata lagi. Dia terduduk. Tampangnya menunjukkan dia tengah mengalami pukulan batin yang luar biasa.

Setelah agak lama, jenderal tua itu kembali angkat bicara, "[Asura] menyerang kamp kita dengan pasukan monster. Beberapa saksi mata yang selamat menuturkan monster itu seperti ksatria berkuda jaman dulu. Monster itu tak bisa dibunuh dan kekuatan penghancurannya mengerikan. Data intel kami menunjukkan monster itu adalah [Drifter]."

"Apa itu?" gumam Presiden lirih. Dia berusaha mengendalikan dirinya kembali. Seorang pemimpin tidak boleh terpukul dan terjatuh terlalu lama. Dia harus bisa bangkit lagi.

"Dari semua referensi yang kami pelajari kami menyimpulkan bahwa [Drifter] adalah semacam monster yang dipanggil oleh para [Dietre]. Monster itu berasal dari dimensi lain, dipanggil dengan upacara tertentu, dan dapat memenuhi keinginan pemanggilnya."

Presiden menatap jendral tua itu.

"[Drifter]… semacam makhluk summon ya… aku baru tahu [Asura] bisa melakukan ini. Selama invasi, kita belum pernah berhadapan dengan makhluk itu…"

"Memang Pak Presiden. Baru pada penyerangan dadakan kemarin [Asura] menggunakan makhluk ini. Tampaknya [Asura] telah meminta bantuan Kaballah untuk mengusir kita dari wilayahnya"

"Jadi [Dietre] itu…"

"Betul Pak Presiden. Mereka adalah orang-orang Kaballah. Kumpulan orang suci yang juga berperan sebagai pemimpin tertinggi pendoa di Kaballah atau High-Imam. Konon menurut legenda, mereka adalah keturunan dari bangsa kuno yang selamat dari bencana massal, seribu tahun yang lalu."

Presiden menghembuskan nafas panjang.

"Ada satu lagi yang lebih penting Pak Presiden."

Presiden menatapnya.

"Kita telah kehilangan banyak perwira penting kita dalam serbuan [Drifter] kemarin. [Asura] menyerang tepat saat para perwira terbaik kita tiba di kamp bersama kiriman logistik. Mereka adalah para pimpinan garis depan yang telah berjasa selama invasi kita."

Presiden kembali terkejut, "APA! Maksudmu kita kehilangan semua pemimpin perang kita?! SEMUA ORANG TERBAIK KITA ?!"

Jendral mengangguk. Hinata terkesiap mendengar berita itu. Jangan-jangan…

"Benar Pak Presiden, kita kehilangan mereka. Kolonel Jackson, Kolonel Gerald, Kolonel Lambert, Kolonel Lafies, Letnan Davon, Letnan Ruid…"

"Dan Naruto… Naruto Minatovich Kozlov?"

Jendral mengangguk lemas.

"Dia juga gugur…"

Hinata dan Hiashi terkejut. Hinata merasa tubuhnya melemas. Dia sangat shock. Pria yang dicintainya telah pergi. Hinata merasa kepalanya sangat berat dan pandangannya menjadi kabur. Dia pingsan.