DARE DESUKA? PART 3
Author : Nakajima Hikari
Genre : Romance, Comedy, Mystery
Cast : Yamada Ryosuke, Arioka Daiki, Inoo Kei, Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Yabu Kota
Aaaah…. aku teringat akan mimpi buruk itu lagi… tidak… keluarkan aku dari mimpi ini… aaaaaaa!
[Yamada's POV]
Aku di mana? Ini di mana? Kulihat dinding yang berwarna putih yang dihiasi jam dinding juga sebuah lukisan. Saat aku benar-benar sadar aku melihat dua sosok menunggu di ujung ranjang. Siapa? Kukedipkan mataku berkali-kali agar aku bisa melihatnya dengan jelas. Saat aku berhasil melihat dengan jelas…
"Yuto? Chinen? Mengapa kalian ada di sini?" tanyaku dengan suara yang dipaksakan.
"Kau tau? Kau membuat kami panik. Kupikir kau tertidur. Ternyata kau pingsan!" kata Chinen.
"Aaah… gomenne… maaf aku telah merepotkan kalian."
"Iie, daijoubu dayo ne, Yuto-kun?" kulihat Yuto hanya diam menatapku dengan tatapan kosong. Aku mengerti, dia sangat khawatir denganku. kenapa aku jadi percaya diri begini?
"H.. hai… Aaah sumimasen, aku harus balik. Semoga cepat sembuh kau Yama-chan." Yuto menjawabnya dengan pelan. Kulihat dia terseyum sedikit dan pergi ke arah pintu.
"Hai. Hontou ni arigatou ne, Nakayan." Kulihat dia berbalik lalu membalasnya dengan senyum dan pergi meninggalkan ruangan.
"Aaah aku juga harus pergi. Gomenne… semoga kau cepat sembuh Yama-chan. Aah Yuto tunggu aku."
"Aaah… baiklah. Doumo arigatou, Chii." Mereka pun meninggalkan ruangan UKS ini. Mereka sangat baik ya? Aku pun memandangi jendela. Teringat kembali akan mimpi buruk tadi. Akira? Mengapa dia muncul lagi? Tidak! Aku ingin melupakannya! Ini sangat pahit untuk diterima. Aku tak bisa tenang… tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Aku harus bagaimana…
Akira…
[Yuto's POV]
Aaah… sudah berapa lama sejak kejadian itu? Aku sangat ingin melupakannya. Tapi mengapa? Mengingatnya saja bagaikan ditusuk beribu pisau. Aaah Yamada… kenapa kau harus membuatku mengingatnya kembali? Akira… aku harus bagaimana?
"Kau tak apa-apa kan Yuto? Dari tadi kau hanya diam saja. Apa kau lapar? Kalau kau lapar..-"
"Tidak, aku tak apa-apa. Aku hanya ingin pulang. Jaa, aku duluan ya. Sayonara…" kutinggalkan Chinen dan segera pulang. Gomenasai Chinen, aku tak bermaksud, tapi… aku hanya tak menyangka dan mungkin iya aku juga kelelahan. Gomen…
[Chinen's POV]
Kulihat Yuto mulai menjauh. Entah mengapa aku merasa tak enak. Sepertinya ada yang mengganjal di sini. Tapi apa? Aku tak mengerti… Yuto… kuharap kau baik-baik saja. Haaah… ngomong-ngomong aku lapar. Huaah, aku sangat malas untuk pulang. Bisa-bisa aku bertemu dengan kakakku yang menyebalkan itu. Baiklah, sebaiknya aku main-main saja hoho…
[Inoo's POV]
"Kau tak apa-apa kan Yama-chan?"
"Iya aku tak apa-apa kakak."
"Hontou ni?"
"Ya aku tak apa-apa. Sudah berapa kali kau bertanya itu seharian haah? Aku capek. Aku mau istirahat."
"Haaah, yasudahlah. Sana istirahat. Apa aku perlu mengantarmu sampai ka..-"
"Tak perlu. Arigatou nii-chan."
"Ahh okay… Oyasumi" huuuh aku tak menyangka dia pingsan dihari begini. Heyy, iya bukan? Dia pingsan saat mendengar hasil ujiannya. Ya ampun, kenapa aku harus punya adik selemah dia?! Huzz… yasudahlah, tak baik bicara begini. Biar bagaimanapun dia adikku yang paling kecil. Haaah, aku hanya bisa pasrah. Yasudahlah…
Kulihat Daiki yang dari tadi hanya menonton semenjak ia bangun. Benar-benar ini anak. Sudah sudah, daripada aku marah-marah sendiri mending aku masak untuk makan siang. Yeeyy…
"Kak Inoo!" teriak Daiki dari arah ruang tamu.
"Ada apa?"
"Aku lapar! Mana makanannya?!" berisik benar ini anak.
"Iya sabar. Baru juga aku mau masak. Sebaiknya kau mandi dulu sana. Dari tadi kau hanya menonton seenakmu."
"Aku malas! Ayolah kak, aku lapar sekali!"
"Mandi dulu atau tak kumasakkan makanan?" berisiknya ini anak. Kalau tak kuginikan dia tak akan mandi seharian!
"Aaah, janganlah kak. Baiklah aku mandi, aku mandi!" dasar anak itu. Ngomong-ngomong kapan nee-chan akan pulang ya? Nee-chan, tasukete! Bisa-bisa aku gila karena adik-adikmu ini!
[Yuto's POV]
Malam hari pun datang, aku sangat tak bersemangat. Kulihat jam di dinding, pukul 8 malam. Aku bingung harus bagaimana. Haaah, aku lelah. Aku ingin tidur, tapi tak bisa. Aku masih saja memikirkan kejadian tadi. Kenapa dia harus mengungkit-ungkit lagi kejadian yang teramat pahit itu? Aku bahkan tak mau mengingatnya lagi, tapi tak bisa! Dengan malas aku pun beranjak dari tempat tidurku, aku lapar. Apa ibu sudah pulang? Aku pun turun ke lantai bawah. Kulihat rumah sangat sepi. Haah, kurasa aku harus mencari makanan di luar sana. Baiklah, yosshh… ittekimasu.
Kupakai syal berwarna merah gelap yang tergantung di dekat pintu dan memakai jaket panjang. Mungkin di luar sana dingin, jadi sebaiknya aku mempersiapkannya sebelum aku kedinginan. Yaah seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan.
Aku pun mengunci pintu dan beranjak keluar dari rumah. Kulihat orang-orang tampak berpergian malam ini walaupun hawa di sekitar memang sangat dingin daripada di rumah tadi. Wajar saja, rumahku berada di kawasan yang sangat ramai dikunjungi kaum remaja, biasanya mereka bersama pasangannya. Haah, sudahlah. Lupakan…
Selangkah demi selangkah kulewati trotoar ini. Lampu-lampu di jalan menemaniku di malam yang gelap ini. Dingin… yaah untung aku memakai baju yang tebal, kalau tidak mungkin aku bisa mati beku di sini. Akhirnya aku sampai di supermarket dekat rumahku. Lumayan lah, mungkih dibutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke supermarket di depan sana. Aku pun segera masuk ke supermarket tersebut.
"Enaknya makan apa ya?" aku berbicara pada diriku sendiri. Kuambil 3 buah mie instan di bagian makanan ringan dan mungkin beberapa cemilan dan susu lumayan juga. Saat selesai mengambil barang-barang yang akan di beli aku pun beranjak menuju kasir. Tanpa sadar aku…
Brukk…
"Aaah… gomenasai…" ucapku.
"Ahh,iie… gomen. Harusnya aku yang minta maaf, aku tak melihatmu. Mari kubantu?"
"Ahh, arigatou." Dengan segera aku memungut barang-barangku yang jatuh. Kulihat dompet orang itu juga jatuh dan kartu namanya keluar dari dalam dompet.
"Yabu Kota?" aah, sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Tapi di mana? Aah sudah sudah. Tak baik melihat isi dompet orang lebih lama. Ku kembalikan kartu nama dan dompetnya.
"Ini dompetnya. Berhati-hatilah pak." Jawabku dengan polos.
"Haha, aku masih muda. Umurku baru saja 22 tahun."
"Aah, gomenasai. Maaf aku telah lancang."
"Mou ii yo, daijoubu. Hontou ni gomenasai. Arigatou."
"Iie… douitashimashite." Kubungkukkan badanku dan segera menuju kasir untuk membayar dan segera pulang.
Saat aku selesai membayarnya aku pun segera pulang. Dalam perjalanan pulang kulalui lagi jalan yang sama saat aku pergi tadi. Jalanan masih saja ramai. Heran, seperti malam minggu saja. Aku jadi kepikiran dengan orang yang kutemui tadi saat di supermarket. Yabu Kota? Sepertinya aku pernah mendengarnya. Tapi aku sedikit lupa. Siapa dia? Aaah… apa aku pernah mendengarnya di suatu tempat? Aku lupa… haah sudahlah, daripada aku bergelut dengan hatiku sendiri mending aku segera pulang dan makan. Aku sudah lapar sekali…
