Summary : Jangan pernah menangisi takdir. Karena sekalipun air matamu menjadi darah, takdir tidak akan pernah berubah…
Discalimer : Tite Kubo. Sumpah deh, kalo Bleach milikku, Ulquiorra tak perlu mati. Apa lagi dengan cara kejam begitu.
Warning : AU (tidak ada Espada atau pun Shinigami), OOC, abal, typo, gaje, nista.. Jika terjadi kebetean tidak ditanggung.-plakk-
Rate : T
Pair : UlquiHime (so pasti), GrimmNel (slight, beneran dikiitt banget..*digampar bolak balik sama grimmnel fc*).
A/N : Fuah…akhirnya bisa update lagi.. Hmm..terimakasih saya tak pernah ucapkan buat semua yang udah ripyu. Ripyu dari readers semua yang menjadi penyemangat saya dalam mengetik..(well, bener2 dalam mengetik. Karena buat saya lebih susah ngetik daripada menulis..)
Chapter ketiga nih. Chapter depan udah tamat kayaknya. Nggak ada niat untuk buat lebih panjang dari 5 chapter sih. Yosh, daripada kelamaan, met baca aja deh. Semoga lebih bagus dari chapter kemarin. Hiksss…
Apartemen Putih
by
Relya Schiffer
Mata emerald itu menyipit melihat kenyataan yang terhampar jelas yang dilihatnya sungguh bukan pemandangan bagus yang semestinya ia lihat. Pemuda berambut hitam itu berusaha mengerti apa yang sedang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Tapi tetap saja, apa yang ia lihat tetap tidak berubah. Dan yang terngiang di dalam benaknya hanya satu kata : pengkhianatan!
"Apa yang kalian lakukan?"
Pertanyaan bernada datar itu membuat dua tubuh yang saling merekat seketika melepaskan diri. Perempuan muda berambut hijau toska itu terbelalak melihat seorang pemuda berambut hitam sedang menatap ke arahnya. Oh, bukan hanya ke arahnya. Tapi juga kearah pemuda berambut biru langit yang sedang bersamanya. Ya, ke arah mereka yang tertangkap basah tengah berciuman mesra.
"Siapa yang mau menjelaskan?"
Perempuan bernama Neliel itu menundukkan kepala. Sedangkan pemuda berambut biru tampak cuek. Tapi di matanya yang berwarna senada dengan rambutnya tampak seberkas rasa bersalah. Apalagi saat ia melihat tatapan di mata emerald yang sangat terluka itu.
"Tak ada yang mau memberi ku penjelasan?" pemuda berambut hitam itu bertanya lagi. Dia menatap perempuan itu dengan tatapan datar. "Neliel Tu Oderschvank?" cecarnya dingin.
Perempuan itu tak menjawab. Hanya menundukkan kepala dan menggigit bibirnya. Ia tampak menyesal. Tapi bagi pemilik mata emerald, penyesalan itu tak ada gunanya.
Pemuda berambut hitam itu mengalihkan tatapannya ke arah pemuda berambut biru yang juga tak mengatakan apapun.
"Kau mau menjelaskan, Grimmjow Jeagerjaques?" tanyanya lagi, kali ini dengan tatapan tajam.
Tetap tak ada yang bersuara.
Pemuda berkulit pucat itu masih terdiam, menanti jawaban dari kekasihnya atau sahabatnya itu. Dan saat ia tak juga mendengar suara apa pun, pemuda itu pun mengakhiri sikap diplomatisnya. Sambil mengepalkan tangannya yang sejak tadi telah mengeras, ia berkata singkat.
"Terima kasih atas semuanya!"
"Ulquiorra…!" Neliel berusaha memanggil. Tapi yang dipanggil tak mendengar dan terus melangkah. Air mata perempuan itu pun menetes. "Ulquiorraaa…!" kali ini ia setengah menjerit.
"Sudahlah,Nel.." Grimmjow langsung memeluk tubuh Neliel yang menggelosor lemah di lantai. "Kita memang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ini. Dia memang harus tahu. Sudahlah..." bujuknya pelan.
Neliel masih menangis. Tetesan cairang bening mengalir di pipi putihnya yang lembut. Berada dalam pelukan Grimmjow justru menambah rasa bersalah yang ia rasakan. Perempuan itu pun menangis lebih keras. Sebuah tangisan yang jelas-jelas tak bisa didengar oleh orang yang amat ia harapkan bisa mendengarnya…
Ulquiorra Scchiffer.
Itulah nama pemuda yang sekarang hamper tiap waktu diajak Orihime untuk bersenang-senang. Tentu bersenang-senang versinya sendiri. Awalnya Ulquiorra tidak mau. Pemilik mata emerald itu bahkan menyebut semua yang dilakukan Orihime sangat kekanak-kanakan. Tapi anehnya, ia selalu menemani kemana pun gadis itu bergerak dengan tatapan datarnya.
Termasuk saat ini. Orihime sibuk melompati batu-batu dengan childish-nya. Senyum cerah yang terukir di wajahnya menandakan bahwa ia benar-benar bahagia. Ulquiorra hanya mengamati sambil duduk di bawah pohon yang tak jauh dari tempat Orihime terlarut oleh kegiatan 'kecil'nya itu.
Sudah hamper tiga jam mereka bermain di taman apartemen, membandel dari larangan petugas apartemen yang menyuruh mereka untuk beristirahat. Sampai waktu makan siang pun terlewat.
Sekali lagi Orihime melompati sebuah batu kecil. Kemudian ia berputar-putar sejenak dan akhirnya berlari ke arah Ulquiorra, duduk di sebelah pemuda itu dengan nafas seperti mau habis. Ia tertawa kecil, membuat Ulquiorra menatapnya heran.
"Apa yang kau tertawakan,Onn-Orihime?"
Senyum tipis menggantikan tawa gadis berambut orange kecoklatan itu. Ulquiorra sudah tidak memanggilnya 'onna' lagi. Ini pasti merupakan awal yang baik.
"Bukan apa- apa kok. Hanya tertawa. Tidak ada salahnya, bukan?" Orihime memandang Ulquiorra dengan puppy eyes-nya.
" Orang aneh!"cibir Ulquiorra pelan seraya memalingkan mata. Ia menatap datar ke arah danau yang ada di hadapannya. Sepasang mata emeraldnya membuat Orihime terpaku. Gadis manis itu bbisa melihat kekosongan berbalut luka dalam tatapan itu. Dan ia yakin, kekosongan itu bukan karena apartemen putih. Ada hal lain yang tersembunyi di balik wajah Ulquiorra yang selalu tampak stoic itu.
"Ada apa, Ulquiorra?" tanya Orihime, mencoba untuk membuat pemuda itu sedikit terbuka tentang dirinya.
"Tidak." jawab Ulquiorra singkat tanpa menatap Orihime sedikit pun.
"Jika ada yang mengganjal di hati mu, katakana saja. Itu akan membuat mu merasa lebih baik." bujuk Orihime.
"Aku baik-baik saja." Ulquiorra tetap bertahan dengan sikap tertutupnya.
Orihime sadar bahwa ia tidak boleh memaksakan kehendaknya, sekali pun itu dengan tujuan menolong. Permata kelabu gadis itu pun teralih dari sosok Ulquiorra dan tertuju pada bola besar di langit yang berwarna orange seperti rambutnya. Senja mulai nampak dengan tersirnya lembayung di seluruh langit.
Orihime menghela nafas. Ia membuka mulutnya untuk bersuara, tapi suara lain telah mendahuluinya.
"Sudah sore.." desis pemilik suara itu. Orihime menoleh, hanya untuk mendapati rambut hitam yang membikai wajah tampan itu bergerak-gerak tertiup angin."Tiga hari disini..rasanya seperti tiga abad.."
Beberapa detik lamanya Orihime terpesona dengan keindahan yang tersaji tepat di depan matanya. Cahaya kemerah-merahan yang menembus sela-sela rambut Ulquiorra membuat pemuda itu tampak lebih menawan. Sadar akan keheningan yang mulai merambat, Orihime segera memalingkan wajah. Ia yakin seratus persen bahwa semburat merah sekarang telah terlukis di kulit putihnya saat gadis itu merasakan wajahnya yang memanas. Apakah dia…blushing? Hanya dengan memandang Ulquiorra di bawah siraman cahaya keemasan senja?
"Pasti terasa membosankan."demi menutupi keadaanya yang masih 'memerah' seperti langit, Orihime membuka suara. "Tak ada satu orang pun di dunia ini yang mau terkurung dan kehilangan kebebasan, Ulquiorra."
Ulquiorra terdiam lagi. Ia mendesah berat dan memejamkan mata. Batang pohon yang besar menjadi tumpuannya untuk bersandar.
"Apakah kebebasan…memperbolehkan seseorang untuk berkhianat?"
Suara lemah itu membuat Orihime kembali menoleh. Sepasang alisnya berkerut bingung
"Berkhianat?" ulangnya tak mengerti.
"Kebebasan itu memperbolehkan seseorang melakukan apa yang mereka mau, benarkan? Apakah juga termasuk berkhianat?"
Ada yang aneh. Ada sesuatu dibalik pertanyaan itu.
"Apa maksudmu, Ulquiorra?"
Kelopak mata Ulquiorra terbuka. Perlahan ia menolehkan wajahnya, membuat permata emeraldnya bertatapan langsung dengan permata kelabu milik Orihime. Pemuda itu tak mengerti. Ia bisa melihat sesuattu di dalam permata kelabu itu yang tak pernah ia temui di mata orang lain. Penasaran mungkin adalah hal yang lumrah. Tapi yang menarik perhatiannya adalah kesungguhan yang tampak jelas di sepasang mata gadis itu
Kesungguhan untuk mendengarkan. Kesungguhan untuk memberi perhatian. Kesungguhan untuk berteman. Kesungguhan untuk memberikan segalanya atas dasar ketulusan. Apa-apan ini? Mana ada orang yang begitu baik seperti ini?
Keheningan yang terbangun diantara dua orang itu terpecahkan oleh satu kalimat yang diucapkan dengan suara pelan.
"Aku dikhianati!"
Angin sore berhembus perlahan. Menyusupkan dingin yang menggigit ke seluruh pori-pori kulit
"Mereka mengkhianati ku…orang yang sangat ku cintai dan orang yang sangat aku percaya…!"
Air danau pelangi meriak deras. Seperti mewakili perasaan marah yang hampir meluap.
"Mereka mengkhianati ku di depan mata ku sendiri! Aku-"
Kata-kata Ulquiorra terputus ketika sepasang lengan mungil melingkar di bahunya, memeluk tubuhnya dengan erat. Warna orange membias di hadapan emerald hijau itu begitu jelas. Bukan warna senja, bukan warna langit. Ulquiorra terbelalak sejenak. Apakah gadis ini berusaha untuk menenangkannya? Hingga ia mampu menguasai diri dan kembali memejamkan mata. Ia memang butuh perhatian. Lalu sosok yang sedang memeluknya sekarang ini muncul untuk memberikan apa yang ia butuhkan.
Dan entah atas dasar apa, detik berikutnya Ulquiorra membalas pelukan itu sekalipun tidak dengan keeratan yang sama. Sekedar menghargai.
"Kamu tidak sendirian,Ulquiorra.." ucap Orihime pelan. "Tidak ada yang meninggalkanmu. Kami disini akan tetap menemanimu. Jangan khawatir!"
Ulquiorra bisa merasakan tangan mungil yang membelai punggungnya dengan lembut. Membuatnya merasa tenang dan ingin segera meluapkan apa yang selama ini membebaninya. Tapi ia bukan orang seperti itu. Ia bukan orang yang dengan mudahnya bergantung pada orang lain demi ketenangan sesaat.
"Mereka yang telah pergi tak mungkin kembali, Orihime.." dengan gerakan pelan, Ulquiorra mendorong tubuh Orihime menjauh. Pemuda berambut hitam itu mengabaikan sorot mata yang tertuju padanya dan justru kembali menatap ke arah danau pelangi.
"Yang tersisa disini tak lebih dari belas kasihan. Kau harus tahu itu!" ucapnya dingin. Sebisa mungkin dilupakannya ketenangan yang tadi sempat ia rasakan. Ketenangan semu.
Orihime terdiam menatap sosok hampa dihadapannya. Ia sadar bahwa Ulquiorra masih membutuhkan waktu. Lagipula ia juga bisa merasakan perasaan pemuda itu saat ditinggalkan dalam keadaan terpuruk. Orihime jadi teringat, ini hari kelima sejak ia mendapatkan 'tiket' dari petugas apartemen. Dua hari lagi ia harus pergi. Tapi ia tidak mungkin meninggalkan Ulquiorra dalam keadaan seperti ini.
Untuk pertama kalinya, Orihime sangat berharap waktunya bias diperpanjang. Ia sangat berharap waktunya bisa diperpanjang sebentar saja. Dia harus membuat Ulquiorra lebih tegar. Ia harus membuat permata emerald pemuda itu tidak lagi dipenuhi kekosongan.
"Aku tahu, kamu pasti sangat sedih sekarang ini, Ulquiorra." ujar Orihime. Gadis itu menatap Ulquiorra yang juga berkata lagi,
"Nanti malam datanglah ke kamar ku jam 12 tepat. Kita 'stay to heaven' bersama."
Malam sunyi di apartemen putih kembali datang. Gelap turun ke bumi. Lampu-lampu di taman apartemen bersinar. Semua lorong tampak sunyi. Pintu-pintu kamar pun tertutup rapat, seperti menyimpan rapi seluruh cerita bagi masing-masing penghuninya. Dan hampir tak ada cerita bahagia disana, semuanya dihiasi oleh air mata. Karena selalu ada tangisan pada suara-suara yang menghiasi malam dan mengiringi kesunyian di apartemen putih ini.
Ulquiorra masih berbaring di tempat tidur. Matanya tak mampu terpejam sekalipun malam telah larut. Sebentar lagi pukul 12 malam, tapi ia sama sekali belum tertarik untuk menjelajahi dunia mimpi yang belakangan ini memberinya mimoi buruk.
Bila dilihat sekilas, Ulquiorra akan tampak baik-baik saja. Tubuhnya sama seperti pemuda lain. Tak ada yang salah dengan pemuda berkulit pucat, berhidung mancung dan bermata hijau emerald serta berambut hitam itu. Sayang, semakin lama tubuh tegapnya akan habis dimakan waktu yang kian menipis.
Ulquiorra masih termenung. Sebenarnya dia ingat tentang ucapan Orihime di taman tadi sore. Tapi entah kenapa tubuhnya seperti terserang letih yang amat sangat. Lagipula ia tak mau terlalu dekat dengan orang lain. Karena pada akhirnya ia akan meninggalkan orang itu jika tidak orang itu yang meninggalkannya. Ia benar-benar tak ingi lagi terlibat dengan hal-hal seperti itu. Semakin dekat...maka semakin mungkin untuk dikhianati...
Tiba-tiba saja semua tingkah Orihime terlintas di kepala Ulquiorra. Sesuatu yang aneh juga terasa menyentuh dirinya. Masih teringat jelas ketika pertama kali dia menerima vonis itu, keterkejutan hebat tentu saja menyergapnya tanpa izin. Membuat sosok pendiam itu kehilangan semua mimpi dan harapannya. Terlebih keluarganya pun memasukkan dia ke tempat ini, ke apartemen putih ini. Bayangan kehancuran yang menghantuinya pun menjadi kenyataan. Menari-nari dalam benaknya tiap kali ia memejamkan mata.
Namun semua bayangan itu dipatahkan oleh senyum cerah Orihime. Bayangan menyedihkan tentang apartemen putih dihancurkan oleh keceriaan gadis berambut orange panjang itu. Orihime kelihatan tetap hidup di tempat suram ini. Dia tetap bersemangat. Dan senyuman manis yang selalu menghiasi wajah cantiknya benar-benar tulus, tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Seperti mendapat kekuatan baru, Ulquiorra pun langsung bangkit dari ranjang putihnya. Ia melangkah keluar kamar dan menatap pintu kamar Orihime yang berada tepat dihadapannya. Pelan, pemuda berambut hitam itu mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam.
Ulquiorra membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia tertegun sejenak dengan keadaan gelap gulita yang menyambutnya. Hanya beberapa batang lilin yang menjadi satu-satunya penerang. Cahaya lemah lilin-lilin itu memendarkan keremangan di setiap sudut ruangan.
Orihime ada di seberang lilin-lilin yang disusun dengan bentuk melingkar. Dia menyambut tamunya yang baru datang itu dengan ramah.
"Selamat datang, Ulquiorra!"
Ulquiorra menatap datar dengan kening agak berkerut.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
Orihime tersenyum, 'Stay to heaven'." jawabnya ringan. "Ayo, silahkan duduk! Kita mulai saja acara kita mala mini."
Tanpa banyak bertanya, Ulquiorra menuruti perintah Orihime. Ia juga penasaran dengan 'stay to heaven' yang sering dibicarakan gadis itu di sela-sela waktu mereka.
Orihime yang berada dihadapan Ulquiorra mengunci mulutnya, membuat tamu nya pun berdiam tanpa suara. Sejenak Ulquiorra menatap lilin-lilin itu. Kerlip cahaya dari apai yang menari di tengah kegelapan membuat mata emeraldnya berbinar. Entah kenapa, rasanya cahaya lilin itu mampu mencapai titik terjauh di dalam dirinya, menggapai hatinya dengan sinar yang hangat. Membuatnya lupa dengan semua luka, kepedihan, serta kekecewaan atas kenyataan yanghharus ia terima. Membuatnya lebih tenang…
Ulquiorra menghela nafas pelan. Manik matanya melirik Orihime yang telah terbenam jauh dalam keheningan. Tatapan mata kelabunya penuh denganharapan yang memancar. Membuat Ulquiorra lagi-lagi mempertanyakan pada dirinya sendiri, apakah masih ada harapan bagi mereka yang telah menjadi penghuni apartemen putih ini? Apakah masih ada kesempatan untuk meraih kehidupan yang tak lagi ia miliki stelah berujung di tempat ini?
"Ulquiorra…"panggilan Orihime memupuskan semua pemikiran Ulquiorra. Membuat pemuda itu menatapnya dan menyahut singkat.
"Hn?"
"Sekarang..apa yang kamu rasakan?"
"Lebih..tenang."
"Kenapa?"
"karena lilin-lilin itu…seperti tak pernah lelah bersinar. Ruangan ini begitu gelap. Tapi mereka tak pernah putus asa dan bersama-sama bersinar. Meskipun api yang dihasilkan sangat kecil…mereka tak peduli." jelas Ulquiorra. Sesungguhnya ia terkejut. Mungkin ini adalah kalimat terpanjang yang ia ucapkan sejak menghuni aparrtemen putih ini.
"Mereka tangguh!" lanjutnya lalu terdiam.
Orihime tersenyum. Tujuannya tercapai sudah. Kemudian ia pun mengalihkan pandangannya dan menatap Ulquiorra sambil tersenyum. Senyuman yang sangat manis.
"Itulah kami, Ulquiorra…" Orihime bersuara pelan. "Semua penghuni disini seperti itu. Sekecil apapun kesempatan yang ada, kami tetap berusaha. Kami menyadari bahwa jika kami berhasil menggunakan kesempatan itu, maka semua kepedihan kami akan terbayar lunas. Semua akan berakhir dengan kerelaan. Hidup yang seperti itu lebih mudah dan juga indah,Ulquiorra! Percayalah…seharusnya kamu juga begitu!"
Ulquiorra tak menyahuti ucapan Orihime. Dia terdiam dengan terus menatap cahaya lilin yang redup. Ia bayangkan jika lilin itu adalah dirinya. Terus menyala, menerangi gelap dengan kekuatan yang ada. Walaupun hanya menghasilkan cahaya yang tak seberapa, namun tetap tak menyerah. Hingga waktu membakar habis dirinya. Seperti lilin yang terbakar setelah habis masanya untuk bersinar.
TBC
Huwaaaaaaaaaaahhhhhhhh….kelar jugaaa…..
Huffff….harus selesai sebelum tanggal 20 nieh. Soalnya tanggal 20 udah mulai masuk kuliah. Play group juga udah mulai masuk. Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..
Anak berusia 20 th sperti ku hrs menanggung beban berat...berangkat pagi pulang malam...kuliah sore demi mengejar cita-cita..hiks...hiks...-bletakkk!- *dilempar bakiak oleh readers coz lebay*
Well, bagaimana readers? Kepanjangan kah? Masih abal kah? Typo bertebaran kah? Mind to ripyu kah? Kel- *di lempar sandal sama Ulquiorra*
Me : Ulqui,,,sakit tauk!
Ulqui : Bawel! Ngapain malah curhat?
Me : Suka-suka! Aku kan authornya.
Ulqui : *pergi tanpa kata*
Me : Yah..kabur2an mulu si kalong mah..
ulqui : *tiba2 datang lagi*Ressurecion, segunda etapa…
Me : Kyaaaa…..*kaburrr*
Stop! Lupakan kegajean di atas..
Ripyu pleaseee….
