Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I make no money from this—please don't sue me."

Title: Love Spring

Based on: Kaichou Wa Maid Sama by Fujiwara Hiro

Author : kurorenji aka blackorange

Rating : T

Cast: DBSK

Genre : AU, fluffy, humor, romance

Length this chapter : 14 pages MsW

.

.

.

[It's Enough]

.

.

.

"Haahhh~hhaaahh… ini… ini gila!"

"Apa dia pemain NBA?!"

"Kupikir dia akan kehabisan tenaga setelah bermain voli!"

"Dia monster!"

"Hey, Junsu! Kupikir anggota OSIS hanya sebagai 'ekstra' untuk meramaikan susana. Tapi kenapa Changmin begitu serius melakukan semua perlombaan? Rasanya sangat percuma jika monster itu ada di setiap pertandingan."

Teriakan protes dari murid kelas 2-5 yang kehabisan nafas bahkan nyaris pingsan setelah melawan kelas 2-1 terdengar ricuh di lapangan basket. Pertandingan sudah memasuki kuarter ke-empat dengan kemenangan mutlak dipegang oleh kelas Changmin yang memimpin skor 96-42. Perwakilan pemain basket dari kelas 2-5 mengatur nafas yang naik turun tidak teratur sambil menatap orang bertubuh jangkung yang berdiri di samping bendahara OSIS –Kim Junsu yang meniupkan peluit panjang menandakan bahwa pertandingan telah usai. Junsu sudah bersiap mengumumkan pemenang pertandingan basket ketika tiba-tiba saja Changmin merebut mic yang sedang di pegangnya.

"Listen to me, you little dwarfs. Peraturan nomor 3, semua murid 'WAJIB' mengikuti atau ikut berpartisipasi dalam festival olahraga. Tidak ada pengecualian untuk kelas 1, 2, 3, maupun anggota OSIS sekalipun." Changmin membacakan peraturan festival olahraga dengan lantang di depan semua teman-teman dari kelas lain yang tadi berteriak protes tidak terima.

Murid kelas 2-5 hanya bisa terdiam. Memang tidak ada yang salah dengan peraturan itu. Hanya saja, jika Changmin yang notabene sebagai anggota OSIS selaku panitia, tidak bertindak brutal untuk memenangkan perlombaan. Seharusnya peran Changmin cukup sebagai pemeran pembantu dalam setiap pertandingan, bukan sebagai pemeran utama di dalam kelasnya dan membabi buta.

Changmin menyeringai melihat semuanya kini bungkam, " –dan sebagai informasi untukmu jenius, aku –Shim Changmin adalah salah satu murid dari kelas 2-1 sekaligus anggota OSIS yang sangat antusias untuk memenangkan hadiah kupon makan gratis. Jadi, jika kalian ingin menang, try harder like there is no tomorrow!"

'TAK!'

Junsu menggeplak kepala Changmin dengan papan dada yang dibawanya, lalu merebut mic yang dipegang oleh Changmin.

"Maaf atas sikap arogansi anggota OSIS yang tidak berguna ini. Aku harap kalian tidak memasukannya ke dalam hati. Meskipun dengan berat hati aku membenarkan ucapannya. Peraturan nomor 3 memang membolehkan siapapun untuk berpatisipasi dalam festival olahraga ini sekalipun dia adalah anggota OSIS. Tapi kalian harus tetap semangat untuk menjadi pemenang meskipun lawan tanding kalian Hell Boy sekalipun, ne?" Junsu meminta maaf seraya tersenyum ala sales marketing, " –dan oh ya –selamat untuk kelas 2-1 yang memenangkan pertandingan basket. Jika ada yang dirasa kurang berkenan, silahkan datangi layanan 'complain' di stand nomor 2. Terimakasih." Lanjutnya masih tersenyum.

Changmin tidak terima dengan perlakuan Junsu padanya. Ia hendak protes, namun terhenti ketika lengannya ditarik paksa untuk menjauhi lapangan basket yang berisi aura suram dari murid-murid lain.

"Berhentilah mengatakan kalimat sarkas seperti itu, bocah!"

"Mau bagaimana lagi? Mereka hanya manusia-manusia lemah yang hanya bisa mengeluh dan protes."

"Aish! Mereka bukan dirimu yang bisa hilang kewarasan hanya untuk mendapatkan kupon makan siang gratis! Kau tahu? Kau itu benar-benar seperti monster berjubah setan!" Junsu memarahi Changmin setelah meminta maaf pada murid lain dan mengumumkan pemenang pertandingan basket di hari ke-2 festival olahraga. Kemenangan kembali dipertahankan oleh kelas 2-1 selama dua hari berturut-turut.

Pada hari pertama festival, kelas Changmin mendominasi pertandingan berbagai cabang olahraga. Mulai dari lari, basket, badminton, dodge ball, voli, dan pertandingan lainnya. Semua pertandingan ia sikat habis dengan kemenangan mutlak. Begitu juga dengan hari ini, dimana Changmin dan teman sekelasnya memenangkan berbagai pertandingan yang ada. Jika dilihat dari seluruh poin yang dikumpulkan oleh kelas 2-1, semuanya tentu saja karena kontribusi Shim Changmin yang terlalu royal menyumbangkan poin untuk kelasnya. Tenaga Changmin seperti tidak ada habisnya, membuat kelas 2-1 memimpin jauh dengan 15 poin yang terkumpul hingga hari ini. Meninggalkan kelas-kelas lain yang rata-rata hanya mendapatkan 8 poin.

"Tsk~ aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan obsesiku." Jawab Changmin sambil membuka tutup botol mineral yang ia temukan di pinggir lapangan lalu meminumya. Air mengalir dari sudut bibir dan perlahan turun ke leher jenjangnya. Meninggalkan jejak-jejak air bercampur keringat di leher. Anak perempuan tingkat satu yang melihatnya hanya bisa menjerit histeris menyadari betapa kerennya seorang Shim Changmin. Laki-laki bertubuh jangkung itu melirik adik kelasnya, lalu mengedipkan sebelah mata yang membuat murid perempuan menjerit lebih histeris lagi.

Junsu memutar kedua bola matanya muak melihat betapa tengilnya Changmin yang bersikap sok artis.

"Memangnya apa obsesimu? Pelajaran? Nah, aku rasa bukan itu meskipun kau cukup pintar. Seorang gadis? Hhah~ Bahkan hal itu tidak pernah terlintas di dalam benakku. Aku tidak tahu apa obsesimu selain.. tentu saja makanan." Ucap Junsu dengan nada meledek Changmin.

"Maaf yah, sebagai informasi untukmu Kim Junsu. Peringkat ketiga di sekolah ini adalah aku, jadi jangan iri hati dengan mengatakan aku cukup pintar. Seharusnya aku yang mengatakan kalau kau cukup pintar untuk tahu apa yang menjadi obsesiku."

Jika ada battbaseball digenggaman tangannya, Junsu tidak akan ragu untuk memukul wajah arogan –luar –biasa –Changmin. Sayangnya, hanya ada peluit merah yang tergantung manis di leher dan sebuah papan dada yang tidak akan membuat Junsu puas hati.

"Tsk~ kenapa tidak sekalian saja kau menikah dengan makanan-makanan itu dan memperbanyak keturunan?" ledek Junsu lagi membalas ucapan arogan Changmin.

Laki-laki jangkung itu menolehkan kepala menatap Junsu dari sudut matanya lalu tersenyum menyeringai. "Aku sudah merencakanannya, kau tidak perlu khawatir. Mungkin aku akan mengundangmu untuk menjadi best man." Jawaban asal Changmin membuat Junsu menggelengkan kepala takjub luar biasa.

"Wow~ that's sweet."

"Jadi, selanjutnya pertandingan apa lagi?" tanya Changmin mengalihkan topik pembicaraan sambil menyeka keringat yang mengalir dari pelipis hingga dagunya dengan handuk merah marun yang tergantung dileher. Junsu membaca kertas yang ia bawa dan mengecek pertandingan yang masih tersisa di hari ke-2. Masih ada 15 pertandingan yang tersisa. Namun pertandingan yang bisa di ikuti kelas Changmin untuk saat ini adalah..

"Dodge ball."

"Hohoho~ aku sangat suka olahraga itu." Ucap Changmin semakin menyeringai.

Wahai kelas 2-1, bersyukurlah kalian memiliki Shim Changmin.

~.~.~.~.~.~

"Kau serius Junsu?!" tanya Jaejoong tidak percaya ketika Junsu menunjukkan hasil laporan perolehan poin sementara. Ketua OSIS membelalakan mata melihat kelas 2-1 memiliki poin terbanyak dengan semua cabang olahraga yang semuanya hampir dimenangkan oleh kelas Changmin. Ia mendongakan kepala menatap laki-laki bertubuh jangkung –Shim Changmin yang sedang melakukan pemanasan untuk pertandingan berikutnya. Dodge ball.

"Is he really a monster food or something?" tanya Jaejoong masih tidak percaya dengan kesungguhan dan tekad bulat Changmin untuk mendapatkan kupon makan siang gratis selama sebulan di kantin sambil kembali menolehkan kepalanya menatap kertas laporan, lalu menatap Junsu. Takjub.

"Oh, bukan sesuatu yang baru jika dia memang monster." Komentar Junsu acuh sambil menyiapkan bola untuk pertandingan dodge ball.

Jaejoong hanya berdecak pelan sambil menggelengkan kepala dan kembali memeriksa hasil laporan sementara pertandingan festival olahraga. Ia tersenyum puas melihat peserta yang masih tidak kehilangan semangatnya di hari ke-2. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, festival olahraga ini sangat diminati. Mungkin karena sekarang adanya partisipasi dari murid perempuan dan juga hadiah yang sangat menggoda. Sekali lagi Jaejoong harus mengakuinya kalau ide duo trouble makers memang brilian. Rasa percaya diri semakin tumbuh di dalam dirinya ketika perasaan yakin bahwa festival olahraga ini akan mencetak rekor menjadi festival olahraga tersukses sepanjang sejarah Dong Bang High School.

"Yunho-yah~~~ kau harus membantu kelas untuk bisa mendapatkan poin lebih banyak lagi~! Changmin.. oh dia sangat menyeramkan!"

Laki-laki bersurai hitam itu menolehkan kepalanya secara reflek ketika seseorang menyebut nama Yunho. Telinganya begitu sensitif ketika nama Yunho masuk ke dalam gendang telinga. Entah hal itu disadari Jaejoong atau tidak, tapi secara reflek, ia selalu mencari sosok Yunho ketika namanya terdengar.

Yunho berdiri di tengah-tengah teman sekelasnya yang mengerubungi seperti lalat buah di samping lapangan basket dimana pertandingan dodge ball akan berlangsung. Tubuhnya yang jangkung membuat Jaejoong dengan cepat menemukannya. Seperti biasanya, sebatang permen lolipop terselip di kedua bibirnya. Permen lolipop yang Jaejoong yakini rasa strawberry yang selalu menjadi ciri khasnya.

Laki-laki bermata coklat itu hanya memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sedang memohon-mohon dengan tatapan datar. Entah bagaimana ceritanya ia bisa tertangkap oleh teman sekelasnya lalu terseret kesini untuk membantu kelas mendapatkan poin lebih banyak lagi. Yunho hanya menghela nafas bosan sambil mengulum permen lolipop. Suara-suara yang memanggil namanya berulang kali dengan nada frustasi terdengar seperti kaset rusak baginya.

"Ayolah Yunho~"

Tiba-tiba saja, Yunho bisa merasakan ada seseorang yang sedang menatapnya. Manik mata coklat almondnya bergulir menatap seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Senyum seringaian terlihat di bibir penuhnya ketika menyadari Ketua OSIS sedang menatapnya dengan tatapan penasaran.

"Aku tidak tertarik." Jawab Yunho datar yang membuat teman sekelasnya mengerang kecewa.

"Wae Yunho? Waeeeee~~?" tanya salah satu dari mereka gemas sambil mengguncang-guncang tubuh Yunho. Segala daya dan upaya sudah dilakukan kelas 2-3 untuk bisa mengejar ketertinggalan poin dari kelas 2-1. Kelas dimana Shim Changmin Si Monster Food berada. Sejak festival ini berlangsung dari kemarin, Yunho tidak pernah mengikuti satupun perlombaan yang ada –membuat teman-teman sekelasnya kini hanya bisa berharap banyak pada murid nomor wahid di bidang olahraga –Jung Yunho. Hingga saat ini kelas 2-3 baru mendapatkan 10 poin. Kurang 5 poin untuk bisa menyeimbangkan poin dengan kelas Changmin. Satu-satunya harapan adalah, Yunho membantu mereka.

Hopeless. Desperated. Frustrated.

"Hanya membuang-buang waktuku." jawab Yunho sambil mengulum permen lolipop di sisi kanan hingga pipinya terlihat menggembung seperti bocah. Teman-temannya hanya bisa gigit jari.

"Apa kau tidak ingin mendapatkan hadiah kupon makan siang gratis?! Kupon makan siang gratis selama satu bulan di kantin, Yunho-yah~~" tanya temannya lagi mencoba menjinakkan Yunho agar mau membantu kelas dan mendapatkan poin lebih banyak lagi karena untuk saat ini posisi kelas mereka berada di posisi ke-2 setelah kelas 2-1.

Yunho menatap wajah teman-teman sekelasnya yang terlihat begitu menyedihkan, lalu ia menolehkan kepalanya lagi menatap Jaejoong yang ternyata masih menatapnya. Senyum seringaian lagi-lagi bisa terlihat di wajah tampannya.

"Kalau hadiahnya kupon 'makan' gratis Ketua OSIS, aku akan mengikuti semua pertandingan yang ada tanpa kalian suruh sekalipun." Ucap Yunho cukup keras agar laki-laki bersurai hitam itu dapat mendengarnya tanpa melepaskan tatapan matanya ke dalam mata hitam Jaejoong.

Jaejoong terkejut ketika ia mendengar perkataan Yunho. Wajahnya langsung memerah ketika menyadari kalau Yunho ternyata sedang menatapnya juga dengan senyum seringaian terlukis di wajahnya. Jantung di balik tulang rusuknya mulai berdebar tidak karuan. Melompat-lompat seperti ribuan kelinci berlompatan di dalamnya. Jaejoong hanya bisa menggigit bibir bawahnya salah tingkah. Ia benci hal ini.

'Bisa-bisanya Yunho berkata seperti itu dengan raut wajah yang begitu serius?! Terkutuk kau, Jung Yunho!' pikir Jaejoong kesal sambil berbalik dan mengalihkan perhatiannya pada Junsu yang sedang bersiap menjadi wasit pertandingan dodge ball.

"Ha?" teman sekelas Yunho hanya melongo tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Yunho kembali menolehkan kepala menatap teman-teman sekelasnya lalu tersenyum.

"Well then, good luck~" ucap Yunho sambil mengelus puncak kepala salah satu temannya dan berjalan mendekati Jaejoong, meninggalkan teman-teman sekelasnya yang masih memasang wajah bingung tidak mengerti.

Jaejoong yang menyadari derap langkah Yunho yang semakin mendekatinya menjadi panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya terasa semakin menghangat. Ia mulai terkena sindrom salah tingkah.

Damn it.

Manik mata hitam Jaejoong bergerak-gerak liar mencari cara untuk bisa lari dari situasi yang sedang tidak menguntungkannya. Ia menatap Junsu yang sedang berjalan menuju lapangan basket. Dengan sangat cepat, ia berlari mengejar Junsu.

"Biar aku saja yang jadi wasit!" ucap Jaejoong setengah berteriak sambil merebut bola putih di tangan Junsu. Junsu yang sudah bersiap memasuki lapangan basket terkejut ketika tiba-tiba saja Ketua OSIS merebut bola putih di tangannya. Kening Junsu sampai mengerut bingung melihat wajah Jaejoong yang memerah.

"Tapi hyung –"

" –kau urus pertandingan yang lain saja! Duckky!" teriak Jaejoong jadi uring-uringan karena salah tingkah ketika menyadari Yunho masih menatap di balik punggungnya. Junsu mengerucutkan bibirnya sebal.

"Ara~ tapi kau tidak perlu berteriak seperti itu padaku, hyung. Apa kau sedang dalam masa periodmu, ohng? Wajahmu bahkan terlihat sangat memerah seperti akan meledak saja. KABOOM~" ucap Junsu bermaksud meledek. Namun tatapan tajam dari Jaejoong membuat Junsu hanya bisa nyengir lebar ketika merasakan hawa pembunuh darinya.

"Ok~ok~ aku akan pergi." ucap Junsu langsung berlari menuju lapangan indoor untuk mengurusi pertandingan di sana.

Jaejoong menatap punggung Junsu yang berlari menuju lapangan indoor lalu menghela nafas sambil menutup bibir dengan punggung tangan kirinya. Menutupi wajahnya –yang kata Junsu memerah.

Manik mata Jaejoong bergerak ke arah kiri. Mata hitamnya menangkap sosok Yunho yang sudah menyenderkan bahu kanannya di samping ring basket sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sebuah batang permen lolipop masih terselip di kedua bibirnya. Mata coklat Yunho jelas-jelas sedang menatapnya. Jaejoong semakin kesal karena debaran di dalam dadanya semakin tidak terkontrol saat sepasang mata coklat almond Yunho menatapnya dengan tatapan seperti itu. Tatapan yang sesungguhnya sulit untuk diungkapkan secara verbal, namun dapat dirasakan oleh seluruh tubuhnya. Setelah pengakuan tidak terduga dari Yunho kemarin, tentu saja Jaejoong merasa sedikit kesulitan untuk menata perasaannya yang ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.

"Apa kau akan ikut bertanding, Jung Yunho?!" Tanya Jaejoong sedikit ketus. Entah ia sadari atau tidak, ia jadi berteriak seperti itu karena gugup.

Yunho hanya berdecak pelan melihat Jaejoong yang terlihat begitu gugup.

"Nah, don't mind me." Jawab Yunho sambil menggeser permen lolipop di dalam mulut ke samping kiri yang membuat pipi kirinya kini terlihat menggembung karena permen bulat itu.

"Then get out from here." Desis Jaejoong yang membuat Yunho memasang wajah kecewa.

"Kenapa? Padahal aku mendapatkan spot bagus untuk melihat kecantikanmu yang bermandikan cahaya matahari musim semi~"

"I said get out from here, you idiot!" ucap Jaejoong sambil melemparkan bola putih yang ada di tangan kanannya pada Yunho. Laki-laki bersurai hitam kecoklatan itu menghindari bola dan menangkapnya. Ia terkekeh ketika melihat wajah memerah Jaejoong yang terlihat sangat jelas di kulitnya yang putih.

"Baiklah~ baiklah~ aku akan menuruti permintaan Si.. Nomor 2." Ucap Yunho sambil melemparkan kembali bola putih pada Jaejoong untuk ditangkap, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum berjalan meninggalkan lapangan basket. Jaejoong menggertakkan giginya menahan emosi.

"Berhenti memanggilku Si Nomor 2!" teriak Jaejoong kesal. Kepalanya sampai berdenyut sakit serasa akan meledak karena emosi yang meluap-luap hingga terasa sampai ubun-ubun. Jung Yunho mengatakan kata-kata 'kotor' itu lagi

Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang perlahan.

Yunho hanya tertawa setelah berhasil menggoda Jaejoong sambil berjalan meninggalkan lapangan basket untuk memberikan space pada Jaejoong agar Ketua OSIS tercinta bisa berkonsentrasi. Ia sangat suka jika melihat wajah putih Jaejoong memerah karenanya. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Suara teriakan dan kutukan Jaejoong padanya bahkan masih terdengar dari arah lapangan basket. Yunho yakin, Jaejoong sangat kesal padanya sekarang.

"Hey, sepertinya Ketua OSIS yang menjadi wasit pertandingan dodge ball hari ini."

Yunho mendengar suara seseorang yang berjalan melewatinya. Langkah kakinya terhenti seketika. Kepalanya menoleh ke samping. Dari sudut matanya yang tajam, ia bisa melihat sosok seseorang berbadan besar dengan seseorang berbadan kurus di balik punggungnya. Ia membalikkan badan lalu menatap tajam punggung Shindong dan Donghae.

"Wah! Ini kesempatan bagus! Tepat pada saat kelas kita mendapat giliran pertandingan dodge ball. Kajja!" Ucap Donghae sambil menarik Shindong mendekati lapangan basket. Yunho masih menatap tajam dua orang yang berlari menjauhinya.

'KLUK!'

Lagi-lagi tanpa sadar Yunho menggigit permen bulat di dalam mulut yang membuatnya jadi hancur berkeping-keping. Manik mata coklatnya menatap sosok Jaejoong yang berdiri di samping lapangan basket dan bersiap untuk menjadi wasit dodge ball. Manik matanya bergulir menatap Shindong dan Donghae yang kini sudah sudah berada di dalam lapangan basket.

"Ssshh~ such troublesome." Desis Yunho sambil membuang batang lolipop di dalam mulut ke atas tanah lalu menginjaknya.

~.~.~.~.~.~

'PRII~~IITT!'

Jaejoong meniup peluitnya menandakan pertandingan dodge ball telah dimulai dengan dua tim yang berada di kanan kirinya dan garis tengah lapangan basket sebagai pembatasnya. Tim kiri adalah dari kelas 3-2. Sedangkan tim kanan adalah kelas 2-1. Tim kelas 3-2 mendapatkan kesempatan pertama untuk melemparkan bola putih dan menyingkirkan satu persatu tim lawan.

"Ayo tunjukkan semangat kalian!" teriak Jaejoong menyemangati kedua tim. Salah satu anggota tim kelas 3-2 mengambil ancang-ancang dan bersiap melemparkan bolanya.

"Waaaaaa!" bola di lempar oleh tim kelas 3-2 dan mengenai 3 orang tim kelas 2-1 sekaligus. Jaejoong meniup peluit dan menyuruh 3 orang yang terkena bola untuk keluar dari lapangan. Bola putih kini berada di dalam daerah tim kelas 2-1. Seseorang memungut bola putih itu.

"Fufufu~ aku yang akan memenangkan pertandingan ini." Changmin terkekeh sambil memegang bola putih dengan hanya satu tangan. Sekarang bola putih sudah berada di tangan Changmin. Jaejoong menghembuskan nafas ketika melihat wajah seriusnya.

"Hey Min, jangan berlebihan menggunakan tenaga –" ucapan Jaejoong terhenti ketika tim kelas 3-2 berteriak dan menjerit histeris, " –mu." Bahkan Jaejoong tidak sempat melihat Changmin melemparkan bola putih itu. Terlalu cepat.

"Waahh! Langsung 10 orang?! Yang benar saja!" teriak ketua kelas 3-2 melihat anggota timnya langsung tereliminasi 10 orang. Shindong dan Donghae menelan ludah melihat betapa brutalnya Changmin.

"Kita harus melakukannya sebelum Si Monster Food itu membunuh kita dengan bolanya." Bisik Donghae pada Shindong. Shindong menganggukkan kepalanya mengerti.

"Aku harap dengan ini kita bisa melukai Ketua OSIS." Balas Shindong sambil melirik Jaejoong yang berdiri di samping lapangan.

"Aku tahu lemparanku sangat mengagumkan. Tapi hey, mana bunyi peluitnya, wasit?" tanya Changmin sambil menunjuk Jaejoong dengan telunjuk kanannya. Senyum kemenangan terlihat mengembang dibibirnya. Jaejoong tersadar ia belum meniupkan peluit tanda seseorang tereliminasi karena lemparan Changmin. Manik hitamnya bergulir menatap tajam satu-satunya laki-laki bertubuh jangkung di lapangan.

"Ya! Mana sopan santunmu?!" teriak Jaejoong sambil melemparkan bola cadangan padanya. Changmin menghindarinya yang membuat bola itu keluar dari lapangan basket. Jaejoong menggerutu kesal karena bolanya tidak mengenai bocah itu.

Jaejoong lalu meniup peluitnya dan menyuruh 10 orang dari kelas 3-2 untuk keluar dari lapangan. Ia meniup peluitnya lagi menandakan pertandingan di mulai kembali.

.

.

.

Tim dari kelas 2-1 dan kelas 3-2 bertanding dengan sangat sengit selama 5 menit lamanya hingga menyisakan 6 orang di kelas 2-1 dan 5 orang di kelas 3-2. Jumlah yang cukup seimbang.

"Ini akan semakin sulit! Tunjukkan semangat kalian!" Jaejoong menyemangati kedua tim sambil membunyikan peluitnya.

Changmin yang memegang bola memperhatikan pergerakan tim lawan. Ia menyiapkan bolanya seperti akan melempar, tapi tehehe~ itu hanya tipuan. Manik matanya bergerak-gerak mencari kesempatan. Matanya menangkap Shindong yang berlari menuju samping lapangan mendekati Jaejoong. Changmin menyeringai melihat ruang gerak Shindong yang terbatas lalu mengunci targetnya. Ia melemparkan bolanya pada Shindong dengan tenaga penuh.

"Take that!"

Shindong menghindari bola yang dilempar Changmin padanya. Ia menghindari bola dengan berlari mendekati Jaejoong. Jaejoong yang tidak menyangka kalau Shindong berlari semakin mendekatinya, tidak sempat berbuat apa-apa ketika tubuh besar Shindong menabraknya dengan sangat keras hingga membuat tubuh ramping Jaejoong tertabrak dan terjatuh.

'THUD!'

"Omo!" teriak Changmin panik sendiri melihat Jaejoong terjatuh karena bertabrakan dengan tubuh besar Shindong yang menghindari lemparan bolanya.

Pasal satu: Ketua selalu benar. Pasal dua: Anggota selalu salah. Pasal tiga: Jika ketua salah, maka kembali ke pasal satu.

Intinya, jika terjadi sesuatu pada Jaejoong, maka penyebabnya adalah Changmin yang melempar bola pada Shindong, yang artinya: yang bersalah di sini adalah Changmin.

"…"

"Haaahh~~ tepat pada waktunya." Ucap seseorang bawah tubuh Jaejoong yang melindungi tubuh ramping itu dari kerasnya semen lapangan basket.

Jaejoong perlahan membuka matanya. Seketika itu juga ia melihat wajah tampan Yunho berada tepat di hadapannya. Tubuh Jaejoong membeku kaku. Ia bisa merasakan kedua lengan kekar itu melingkar di punggungnya.

"Waa –apa yang kau lakukan Yunho?!" tanya Jaejoong sambil bangkit dari atas tubuh Yunho. Namun pergerakannya terhenti ketika Yunho menarik tubuhnya lagi hingga membuat dada Jaejoong berbenturan kembali dengan dadanya. Senyum seringian itu terlihat di bibir penuh Yunho.

Jantung Jaejoong berdetak liar ketika ia menyadari posisi mereka yang sungguh mengundang tanya dan rasa keingintahuan orang lain. Ia tidak bisa berkata apapun. Lidahnya seolah keseleo atau bahkan ia lupa bagaimana caranya berbicara. Stuck. Ia merasa stuck tidak bisa mengatakan apapun saat sepasang mata coklat almond yang sungguh sangat mempesona itu lagi-lagi menatapnya dengan tatapan yang hanya tubuhnya yang bisa mengartikan tatapan itu. Entah Yunho menyadari debaran jantung Jaejoong yang berdetak tidak karuan atau tidak, namun ia hanya bisa berharap Yunho tidak menyadarinya atau lebih baik ia hilang ditelan bumi.

"Menyelamatkanmu dari kecerobohan seseorang~" jawab Yunho masih dengan senyum seringaiannya. Tangan kanannya perlahan turun lalu menyentuh bokong Jaejoong. Jaejoong terkejut bukan main dengan apa yang dilakukan Yunho padanya.

"Ya kau pikir apa yang kau sentuh hah, pervert!" teriak Jaejoong sambil menjitak kepala Yunho dan bangkit dari atas tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat memerah seperti terbakar.

Yunho mengaduh pelan sambil bangkit dari posisi terlentangnya. Ia masih dalam posisi duduk dengan kedua tangan yang mengusap ubun-ubun kepala yang tadi di pukul Jaejoong. Well, meskipun kepala menjadi korban, setidaknya Jaejoong bisa kembali bersikap seperti 'biasa'nya. Ia tidak ingin membuat Jaejoong-nya yang manis menjadi kaku seperti tadi.

"Kau tidak apa-apa Ketua OSIS? Maaf aku menabrakmu karena terlalu fokus pada bola yang menuju kearahku jadi tidak melihatmu berdiri di sana." Ucap Shindong meminta maaf. Jaejoong menolehkan kepalanya menatap Shindong.

"Aniya~ tidak apa-apa Shindong hyung. Aku baik-baik saja." Jawab Jaejoong pada kakak kelasnya sambil tersenyum ramah. Yunho berdecih pelan lalu menatap tajam Shindong dari sudut matanya.

" –apa hyung terluka?" tanya Jaejoong mengkhawatirkan Shindong. Dirinya memang tidak terluka, tapi ia khawatir jika kakak kelasnya yang justru terluka. Shindong menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu tertawa kaku.

"Aniya, aku baik-baik saja. Aku minta maaf, Ketua OSIS." Jawab Shindong sambil membungkukkan tubuhnya meminta maaf. Jaejoong jadi merasa tidak enak karena kakak kelasnya membungkuk seperti itu padanya. Ia sudah akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba saja suara Yunho menghentikannya.

"Aku penasaran, apa yang membuatmu begitu lama untuk melakukan itu?" desis Yunho sambil berdiri dan menepuk-nepuk celana training olahraganya dari debu yang menempel. Manik coklatnya bergulir menatap Shindong yang berdiri di hadapan Jaejoong, lalu berdecih jengkel.

Pertanyaan Yunho membuat Shindong membelalakan matanya terkejut. Ia menolehkan kepala menatap Yunho yang berdiri di belakang Jaejoong. Bulu kuduknya meremang saat melihat tatapan tajam yang dingin dan tidak bersahabat itu.

"Apa yang kau katakan, Yunho?" tanya Jaejoong pada Yunho karena tiba-tiba saja ia menanyakan hal yang tidak beralasan seperti itu. Seolah Shindong memang melakukannya dengan sengaja. Yunho hanya berdecih, lalu terkekeh.

"I'm watching you, Shindong hyung." Ucap Yunho menyeringai tanpa menjawab pertanyaan Jaejoong kemudian berbalik dan meninggalkan lapangan basket.

"Ya Jung Yunho! Kenapa kau bersikap seperti itu? Dimana sopan santunmu?! YA!" panggil Jaejoong pada Yunho yang sudah berjalan meninggalkan lapangan basket. Namun Yunho menghiraukan panggilannya, bahkan sekedar untuk menolehkan kepala saja tidak. Jaejoong mengacak rambut hitamnya, " –aish!"

Shindong masih membeku ditempatnya. Manik matanya bergerak menatap punggung Yunho sambil mengeratkan kepalan tangannya.

~.~.~.~.~.~

"Huhuhu~ Yunho yah~ sungguh~ kau harus membantu kami." mohon teman sekelas Yunho yang belum menyerah dan begitu frustasi dengan pertandingan festival yang seluruhnya di kuasai oleh kelas 2-1.

Yunho hanya berbaring santai di atas rumput taman sekolah di bawah rindangnya pohon dengan sebuah buku yang menutupi wajah tampannya. Melindungi dari silaunya berkas-beras cahaya matahari yang berhasil menembus dedaunan yang lebat. Ia bergeming di tempat ketika temannya itu mulai mengguncang-guncang tubuhnya.

"Aish~! Bisakah kau berhenti menggangguku, Kangin?" tanya Yunho tanpa repot-repot memindahkan buku yang menutupi wajahnya.

"Kau harapan terakhir kami. Hanya ada 5 pertandingan lagi yang tersisa dan kelas kita masih ada di posisi kedua setelah kelas Changmin. Kita butuh 3 poin lagi untuk bisa menyusulnya. Ayolah Yunho-yah~~ hanya 5 pertandingan saja~" bujuk Kangin masih belum menyerah.

"…."

"Kau nanti boleh meminjam PSP ku." Tawar Kangin.

"I don't want."

"Aku akan mentraktirmu karaoke?" Kangin mencoba menawarkan tawaran yang lebih menarik.

"I woooont~~" jawab Yunho malas. Kangin hanya bisa menggaruk kepalanya frustasi.

"Bagaimana kalau aku –"

'KLANG!'

Suara besi yang terjatuh dan berbenturan dengan lantai semen begitu terdengar memekakan telinga. Suaranya bahkan sampai bergema ke setiap penjuru sekolah. Yunho bangkit dari posisi berbaring dan melepaskan buku yang menutupi wajah tampannya. Manik matanya menatap salah satu stand yang rubuh.

"Wah! Apa itu?" tanya Kangin sambil menatap stand yang rubuh. Yunho tak menggubris Kangin sama sekali. Manik mata coklat Yunho terus menatapnya dengan seksama.

"Ketua! Apa kau baik-baik saja?!"

Teriakan panik orang-orang membuat Yunho tersadar dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya membelalak lebar. Ia bangkit berdiri dan langsung berlari mendekati stand yang rubuh dengan perasaan cemas luar biasa yang begitu menyelimuti. Meninggalkan Kangin di taman sekolah yang masih kebingungan.

"Ya Yunho! Kau mau kemana?" tanya Kangin yang ditinggal olehnya begitu saja.

Yunho berusaha menyelinap di kerumunan orang-orang yang mengelilingi tempat kejadian karena ingin melihat lebih dekat dengan apa yang terjadi. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Kepanikan mulai menyelimuti. Telinganya mulai berdengung bising ketika orang-orang disekelilingnya mulai berbisik perihal orang yang tertimpa stand yang rubuh.

Yunho menggeser orang-orang yang menghalangi jalannya. Ia membelalakan mata ketika melihat Jaejoong yang melindungi seorang murid perempuan dari stand yang rubuh. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari orang yang mencurigakan. Mata coklatnya menangkap sosok Heechul yang berjalan menjauhi tempat kejadian. Ia menggertakkan giginya sambil mengepalkan kedua tangan menahan emosi.

"Kau tidak apa-apa, Suzy-ah?" tanya Jaejoong pada Suzy yang terlihat masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Wajah ketakutan Suzy tidak dapat disembunyikan. Gadis cantik itu sangat terkejut ketika ia berjalan menuju stand untuk mengambil ikat kepala untuk kelasnya, tiba-tiba saja stand yang ia datangi rubuh hingga penyangga besi hampir saja mengenai tubuhnya jika tidak ada Ketua OSIS yang kebetulan berada disana melindunginya. Kejadiannya begitu cepat. Bahkan terlalu cepat untuk menyadari Ketua OSIS sudah berdiri di hadapannya dan melindunginya.

Suzy mengerjapkan matanya berkali-kali ketika ia tersadar dari rasa terkejutnya. Ia menatap Jaejoong yang masih ada di atas tubuhnya karena melindungi dirinya dari besi penyangga stand yang rubuh. Jaejoong menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Aku –aku tidak apa-apa." Jawab Suzy dengan suara yang terdengar bergetar. Ia membelalakan matanya ketika melihat darah mengalir perlahan di pelipis Jaejoong. "Omo oppa, kau berdarah!" jerit Suzy panik.

Jaejoong menyentuh pelipis dengan tangan kirinya. Manik hitamnya menatap darah yang menempel di jari-jari tangan. Ia menatap wajah panik Suzy yang seperti akan menangis. Jaejoong hanya tersenyum berusaha menenangkan Suzy.

"Aku bersyukur kau baik-baik saja." Ucap Jaejoong pelan nyaris seperti bisikan sebelum akhirnya tubuh ramping itu limbung kesamping. Seseorang menahan tubuh Jaejoong yang akan membentur kerasnya lantai semen tepat pada waktunya. Ia menatap Jaejoong yang tak sadarkan diri.

"Idiot." Ucap Yunho sambil menggendong Jaejoong yang tak sadarkan diri dengan bridal style menuju ruang UKS. Meninggalkan kekacauan yang sudah tidak ia pedulikan lagi.

~.~.~.~.~.~

Jaejoong membuka kelopak matanya dengan perlahan. Kepalanya berdenyut luar biasa ketika ia tersadar dari pingsannya. Ia bisa merasakan hembusan angin yang perlahan membelai lembut wajah dan rambut hitamnya. Ia berusaha bangkit dari posisi berbaring yang membuat rasa sakit di kepalanya semakin parah. Tangan kanannya perlahan terangkat dan menyentuh kepala yang berdenyut sakit seperti dihantam benda tumpul. Permukaannya jari-jarinya mersakan lembut serat kain yang melilit di kepalanya.

"You're awake."

Suara baritone rendah yang sudah Jaejoong hapal betul siapa pemiliknya –membuat ia menolehkan kepala menatap ke sumber suara. Ia melihat Yunho yang duduk di kursi di samping jendela yang terbuka lebar –membuat cahaya matahari sore yang berwarna jingga kemerahan menyorotkan sinarnya langsung ke wajah tampan Yunho. Telapak tangan kanan Yunho menopang dagu dengan sikut tangan kanan bertumpu pada kusen jendela dan menatap Jaejoong dengan mata coklat almond nya. Hembusan angin sore perlahan berhembus kembali dan menghempaskan rambut hitam kecoklatan Yunho.

Jaejoong hanya bisa mengerutkan keningnya samar.

"Kenapa aku ada di.." ia menggantungkan kalimatnya seraya memperhatikan sekeliling untuk mengetahui dimana sekarang dirinya berada, " –UKS?" lanjutnya sambil kembali menolehkan kepala menatap Yunho.

Yunho masih menatap Jaejoong tanpa berkomentar apapun. Tiba-tiba saja Jaejoong teringat sesuatu dan langsung turun dari ranjang UKS. Namun karena cedera di kepala yang mengakibatkan rasa pusing membuat Jaejoong hilang keseimbangan.

"Kau harus istirahat, Jaejoong-ah." Ucap Yunho langsung berdiri dari kursinya ketika ia melihat Jaejoong yang terburu-buru turun dari tempat tidur. Kedua lengannya menopang tubuh Jaejoong yang limbung begitu saja. Laki-laki bersurai hitam itu bisa merasakan lengan kekar Yunho yang menahan perutnya. Perlahan, Jaejoong melepaskan lengan Yunho.

"Aku baik-baik saja. Aku harus memantau festival." Jawab Jaejoong sambil berjalan perlahan. Namun Yunho menarik lengannya kembali dan mengembalikan Jaejoong ke tempat tidur. Jaejoong terkejut bukan main ketika Yunho menahan kedua tangannya di tempat tidur tepat di samping kepalanya. Wajah Yunho bahkan kini berada sangat dekat dengan wajahnya. Aroma strawberry begitu tercium ketika hembusan nafas Yunho menggelitik perlahan hidung Jaejoong yang mancung.

"Apa kau tidak tahu kau sedang terluka, Kim Jaejoong? Apa kau tidak tahu ada orang yang ingin menyakitimu di luar sana?!" desis Yunho tanpa melepaskan cengkramannya di kedua lengan Jaejoong. Jaejoong menatap Yunho kesal karena tiba-tiba saja Yunho berkata seperti itu padanya. Seolah-olah Yunho menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa dirinya.

"Aku sudah bilang 'kan, aku tidak apa-apa. Sekarang lepaskan aku! Kau menyakitiku" ucap Jaejoong sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Yunho. Yunho hanya menatap Jaejoong dengan tatapan tajam. Jaejoong balik menatap mata coklat almond Yunho yang terlihat begitu marah, kesal, kecewa, khawatir, dan.. terluka. Tatapannya terlihat begitu berbeda dengan tatapan yang selama ini ia lihat dari sorot mata Jung Yunho. Belum pernah ia melihat Yunho menatapnya dengan tatapan dingin tak bersahabat seperti itu. Banyak emosi yang bisa terlihat di dalam mata coklat yang sedang menatap ke dalam matanya.

"Apa hanya keadaan orang lain yang selalu menjadi prioritas utamamu, hah?!" tanya Yunho semakin geram dengan sifat Jaejoong yang selalu memprioritaskan keselamatan orang lain dibanding keselamatan dirinya sendiri.

"Sebagai Ketua OSIS aku harus bisa melindungi semua siswa yang ada disini!" jawab Jaejoong sambil meronta-ronta. Namun Yunho semakin erat menahan Jaejoong di atas tempat tidur. Ia menggertakkan giginya.

"Kau pikir dewan OSIS hanya kau saja, huh?! Kau selalu mengerjakan semuanya sendiri! Apa kau tahu apa gunanya anggota-anggota OSIS lainnya?!"

"Aku sebagai Ketua OSIS bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi di sini! Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja!" jawab Jaejoong jadi terbawa emosi yang diciptakan oleh Yunho. Meskipun selama ini Jaejoong menganggapnya sebagai 'musuh', namun belum pernah sekalipun mereka berargumen dengan sebegitu hebatnya. Ini untuk pertama kalinya ia melihat Yunho yang begitu... marah.

Yunho semakin menggertakkan giginya kesal dengan sifat Jaejoong yang sangat keras kepala.

"That President Council title is just fuckin bullshit!"

"Shut up! That's none of your business! Let me go! It hurts!" teriak Jaejoong ketika tangannya terasa kebas karena Yunho mencengkramnya terlalu erat.

Yunho tersadar dengan apa yang sedang dilakukannya pada Jaejoong. Ia mengerjapkan matanya dan menatap mata hitam dan besar Jaejoong yang sedang menatapnya dengan tatapan marah. Ia melepaskan lengan Jaejoong lalu bangkit berdiri di samping tempat tidur. Mata coklatnya menatap Jaejoong yang kini bangkit dari posisi berbaringnya sambil memegang lengan yang terlihat sangat memerah akibat cengkramannya. Yunho mengulum lidah sambil menatap keluar jendela. Menatap orang-orang yang masih ada di lapangan basket yang bermandikan cahaya matahari sore berwarna jingga kemerahan. Festival hari ke dua sudah berakhir, dan besok adalah hari terakhir festival dimana grand prize utama yang menjadi incaran seluruh siswa akan diperebutkan. Yunho mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

"Fine. Kalau begitu lakukan apapun yang ingin kau lakukan, Ketua OSIS –yang –sangat –membanggakan." desis Yunho sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruang UKS tanpa menatap Jaejoong sedikitpun. Meninggalkan Jaejoong dalam kekesalan dan kebingungannya. Manik hitam Jaejoong menatap pintu yang dibanting ketika Yunho keluar dari UKS.

Sebagian dari hatinya merasa kesal dan marah karena Yunho mencengkram erat lengannya hingga memerah seperti itu dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang pekerjaannya sebagai Ketua OSIS. Tapi, sebagian dari hatinya terasa begitu sakit dan terluka ketika Yunho pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meluruskan masalah mereka dan tanpa sedikitpun menolehkan kepala untuk menatapnya.

"Idiot." Gumam Jaejoong sambil membaringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur dan menata perasaan yang selama ini terasa sangat ambigu baginya. Kepalanya semakin berdenyut sakit.

Tangan kanan Jaejoong perlahan terangkat dan menyentuh perban yang melilit di kepalanya. Jari-jarinya menelusuri kain kasa putih yang melilit dengan rapi di kepala. Jari telunjuknya menyentuh simpul perban itu. Ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas perlahan ketika menyadari bahwa Yunho lah yang melilitkan perban di kepalanya dan bahkan mungkin menunggunya tersadar dari pingsan hampir tiga jam lamanya. Bentuk simpul yang sudah ia hapal betul siapa yang melakukannya, membuat dada Jaejoong terasa sakit. Bahkan rasa sakit itu kini menjalar hingga ke tenggerokon ketika ia mengingat sosok Yunho yang selalu ada untuknya kapanpun dan dimanapun. Membuatnya sulit untuk bernafas dengan normal. Kini kedua matanya terasa panas.

"Damn it!" maki Jaejoong sambil menghapus air mata yang nyaris keluar dari sudut matanya.

— TBC —–

P.S1: hollaaaaaa~ maap yah baru apdet tengah malem ^^ nampaknya niat untuk apdet sehari satu sulit direalisasikan mengingat agak padatnya jadwal (senin, selasa, kamis ada les ampe jam set 9 mlm, rabu pagi2 ada senam di kantor yg bikin pulang ngantor tepar tak berdaya, jumat saatnya TGIF! Jadi baru bisa edit2 lg hari ini :) maaf yah klo ga bisa apdet sehari satu)

P.S2: ini konfliknya ringan kok :) bentar lg jg tamat~~ maaf jg klo plotnya aneh, maklum ff lawas yg ga mutu :') jd nya bnyk error plot here n there, tp udh dibenerin dikit2 jg sih td *meskipun tetep ancur* -,.- semoga masih berkenan dan 'edible' untuk dibaca :D

P.S3: I warn you, please do not bashing all characters in here. Aku tau kok kalian ga maksud nge bash salah satu chara disini, tp tolong hargai keputusan author untuk menggunakan character itu di ff ini. Semua pasti ada alasannya, lagipula, ini cuma ff yg hanya berdasarkan khayalan seseorang dan bukan kisah nyata. Jadi, pliiiiiiiiiiiss bgt, jgn ngomong yg aneh2 yah ^^ udh 2015 loh ini~

P.S4: makasih buat smua yg udh baca~~~ ditunggu apdetannya lagi yah :) *nampaknya bls review satu2 sekalian di ending aja deh* ._.